Disclaimer: Masashi Kishimoto

Don't Like Don't Read

.

.

.

Sosok pemuda yang terbalut selimut biru tua menggeram rendah ketika tidur nyenyaknya terganggu oleh suara jam weker yang memekakkan telinga. Dengan malas, pemuda itu bangun dan duduk dengan kaki berselonjor. Menguap beberapa kali, ia lalu meraih jam weker yang masih berbunyi yang berada di nakas dekat ranjangnya. Setelah mematikannya, ia mengembalikan benda berbentuk tomat tersebut pada tempatnya semula.

Setelah tersadar sepenuhnya, pemuda itu mencari sebuah benda yang selalu menemaninya ketika tidur.

"Ohayou…" gumamnya dengan suara serak.

Sasuke tersenyum tipis memandangi foto sosok gadis kecil yang tengah tersenyum lebar dengan kedua jempol mungilnya yang mengacung. Gadis merah jambu yang sangat dirindukannya itu seolah tengah tersenyum ke arahnya. Sasuke ingat, foto ini memang ia ambil sendiri saat hari ulang tahunnya yang keenam dengan kamera pemberian ibunya. Dan foto inilah satu-satunya foto Sakura yang ia punya. Padahal, mereka telah menjalin persahabatan semenjak bayi bahkan hingga mereka berpacaran. Sungguh miris memang, foto itu merupakan satu-satunya kenangan yang dimilikinya (selain kartu pelajar Sakura yang selalu ia bawa di dompetnya dan jam weker berbentuk tomat yang merupakan hadiah yang diberikan Sakura saat ulang tahunnya yang keenam).

Sudah tiga tahun lebih semenjak kepergian Sakura. Namun hingga sekarang, Sasuke masih merasakan sesak di dadanya. Rasa kehilangan dan penyesalan, juga rasa rindu yang selalu menggerogoti hatinya. Tetapi, Sasuke menyimpan sebuah harapan yang selalu ia jaga dan yakini di hati kecilnya. Entah bagaimana caranya, ia berharap untuk bisa bertemu Sakura kembali. Meskipun hal itu sangat tidak mungkin, mengingat gadis itu sudah tidak di dunia ini lagi. Namun Sasuke masih menyimpan harapan itu, dan itulah yang membuatnya bisa menjalani hidup hingga sekarang. Mungkin dia akan dianggap gila, tapi hati dan pikirannya meyakini hal itu. Dan dia memang tidak pernah peduli dengan apa yang di pikirkan orang lain.

Setelah puas menatap foto berharganya, Sasuke lalu menempelkan foto berbingakai biru dengan ukiran kelopak Sakura di pinggirnya tersebut ke dadanya. Berharap gadis di foto itu tahu betapa ia merindukannya dengan setiap tarikan napas dan detak jantungnya. Foto itu memang selalu menemani tidurnya setiap malam, berharap besok paginya ia akan bangun dan pergi sekolah dan bertemu dengan gadis yang sangat dicintainya itu. Berharap kematian Sakura hanyalah sebuah mimpi buruk. Namun, ketika ia terbangun, Sasuke harus berhadapan dengan kenyataan pahit.

Sasuke mengambil napas panjang, berupaya melonggarkan rasa sesak di dadanya. Kemudian ia turun dari ranjang dan menaruh foto Sakura di atas meja belajarnya yang rapi. Setelah memberikan lirikan terakhir, Sasuke lalu melangkah menuju kamar mandi.

.

.

Tidak seperti biasanya, Sasuke merasa hari ini ia agak bersemangat untuk kuliah. Apa karena semenjak liburan ia hanya diam di rumah saja? Atau sekarang ia sudah semester lima? Entahlah. Setelah semua keperluan kuliahnya masuk di tas ranselnya, Sasuke kemudian mengecek dompetnya. Ia bukannya takut lupa membawa uang, kartu kredit, ATM, SIM, dan kartu-kartu lainya. Tapi Sasuke hanya memastikan kalau ia sudah membawa kartu pelajar milik Sakura, karena kemarin Sasuke sempat mengeluarkan kartu tersebut dari dompetnya.

"Aku mencintaimu."

Setelah mengucapkan dua kata tersebut, setelah sebelumnya memandang sendu foto Sakura, Sasuke lalu keluar dengan tas di punggungnya. Sebelum ia benar-benar menutup pintu kamarnya, pemuda itu menyempatkan diri untuk melirik foto Sakura di atas meja belajarnya untuk yang terakhir sebelum ia berangkat ke kampus.

Dengan langkah panjang, Sasuke menuju dapur untuk mengisi perutnya. Ternyata di sana, sudah duduk ayah dan ibu beserta kakaknya.

"Ohayou," sapa Sasuke singkat. Ia kemudian duduk di samping ibunya.

"Ohayou , Sasuke," balas Mikoto. Sedangkan Itachi tetap menyendok nasi goreng ke mulutnya, dan Fugaku hanya bergumam pelan sebagai balasan.

Sasuke lalu mengambil mengambil nasi goreng dan irisan tomat yang lumayan banyak. Sasuke juga menambahkan telur mata sapi dan parutan keju di atasnya. Dan tanpa segan, ia langsung melahap nasi goreng di atas piringnya.

Itachi yang sedari tadi memperhatikan Sasuke menautkan alisnya. Pasalnya, Sasuke memang kurang menyukai keju. " Tumben kau suka nasi goreng yang ditaburi keju begitu, Sasuke?" tanya Itachi penasaran.

Mikoto yang mendengar perkataan Itachi ikut melihat ke arah Sasuke. Putranya itu terlihat sangat lahap menyantap nasi goreng kejunya itu. "Sekarang kau menyukai keju, Sasuke?" tanya Mikoto. Ikutan penasaran seperti Itachi. Sedangkan Fugaku, meski nampak sibuk sendiri dengan santapannya. Ia tetap memasang telinga untuk mendengar jawaban Sasuke.

"Sakura menyukainya." Sasuke berkata singkat, namun cukup untuk menjawab pertanyaan yang diajukan Itachi dan Mikoto.

Setelah mendengar jawaban Sasuke, baik Itachi dan Mikoto langsung melanjutkan sarapan mereka dalam diam. Sedangkan Fugaku melirik putranya dengan tatapan sendu, meski sekilas. Dan keluarga Uchihapun sarapan dalam diam, yang terdengar hanyalah suara dentingan sendok dan piring yang beradu.

.

.

.

Oto University terlihat sangat ramai pagi ini. Banyak mahasiswa yang terlihat bercengkerama dengan dengan teman masing-masing melepas kangen karena tidak bertemu selama liburan. Ada juga beberapa mahasiswa yang terlihat tidak bersemangat untuk kuliah. Mungkin liburannya terasa kurang, atau mahasiswanya sendiri yang pemalas.

Contohnya saja, seorang pemuda berkuncir tidak henti-hentinya menguap karena kantuk dan bosan menunggu teman-temannya yang belum datang. Padahal ia sudah menunggu sekitar sepuluh menit di parkiran, tetapi belum menemukan batang hidung orang-orang yang dikenalnya. Sungguh merepotkan.

Namun saat mata malasnya menangkap sosok yang sangat dikenalnya, akhirnya ia bisa bernapas lega.

"Sasuke!" teriaknya memanggil teman seangkatannya itu.

Pemuda yang menjadi pusat perhatian gadis-gadis di parkiran itu menghampiri sang pemilik suara. "Mana yang lainnya?" tanya Sasuke melihat hanya Shikamaru saja.

Shikamaru mengendikkan bahu, lalu menguap lagi. "Aku mau tidur," gumamnya lalu berjalan masuk ke dalam gedung bertingkat yang merupakan fakultas mereka. Di belakangnya, Sasuke mengikuti dengan wajah risih saat mendengar beberapa gadis memanggil-manggil namanya.

"Ckk, menyebalkan," gerutunya.

.

.

Setelah memasuki ruangannya, Sasuke memilih kursi paling belakang yang terletak di samping jendela. Karena letak kelasnya berada di lantai tiga, Sasuke bisa melihat jalan raya yang tengah dipadati kendaraan. Manik kelamnya menatap bosan para mahasiswa yang terlihat berlari dari parkiran menuju gedung sebelahnya, mungkin karena terlambat. Sasuke juga melihat seorang pemuda pirang yang sangat dikenalnya berlari tergesa-gesa dengan tas ransel yang di bopongnya.

"Dobe!" gumamnya saat melihat Naruto yang menabrak seseorang. Dan setelah sosok Naruto menghilang ke dalam gedung fakultas pendidikan yang memang berada di samping fakultas kedokteran tempatnya menimba ilmu sekarang, Sasuke mengalihkan pandangannya pada Shikamaru yang ternyata sudah terlelap di depannya. "Dasar pemalas."

.

.

.

.

"Sial! Aku terlambat di hari pertama masuk kuliah. Ayah pasti akan menceramahiku, nanti," gerutu seorang gadis yang baru turun dari bus. Iris hijau beningnya berbinar cerah saat melihat salah satu seniornya yang baru datang, sepertinya ia juga terlambat. Untunglah ia tidak terlambat sendirian pagi ini.

Gadis yang memiliki surai merah jambu sebahu itu berlari keci menuju gedung fakultasnya. Tas selempangannya ia dekap di dada untuk mempermudah larinya.

Saat melihat pemuda yang merupakan kakak tingkatnya itu, gadis itu berusaha memanggilnya. Namun Naruto sama sekali tidak mendengarnya. Pemuda itu terus berlari menuju gedung yang sama dengan dirinya.

"Naruto-baka!" desisnya.

Meskipun pemuda itu adalah kakak tingkatnya, namun semenjak acara pengenalan kampus yang dibimbing oleh Naruto, mereka dengan cepat menjadi teman. Ia juga tidak pernah memanggil Naruto dengan senpai.

"Sakura!"

Gadis merah jambu itu langsung menoleh ke sumber suara. Ia lalu tersenyum lebar saat melihat teman seangkatan dan satu jurusannya tengah berlari kencang ke arahnya. Dia tidak khawatir lagi jika pagi ini akan terlambat, setidaknya ia mempunyai teman.

"Kau terlambat juga Sasame?" teriaknya melompat kegirangan.

Sedangkan Sasame yang sudah terengah-engah seperti habis lari maraton itu memandang Sakura sebal. "Sepertinya kau senang sekali melihatku terlambat," ujarnya dengan wajah agak ditekuk.

"Tentu saja," jawab Sakura cepat. "Aku jadi punya teman," imbuhnya tersenyum lebar.

Mendengar jawaban enteng Sakura, Sasame hanya mendesah panjang. Gadis itu lalu menggeret Sakura untuk masuk ke dalam gedung fakultas mereka.

"Naruto-senpai sepertinya juga terlamabat," kata Sasame pada Sakura saat melihat pemuda dengan hoodie orange yang baru masuk ke dalam gedung.

"Hu'um. Kita punya teman yang telat," jawab Sakura sambil terkekeh.

"Ya ampun," batin Sasame.

.

.

.

.

.

Sasuke mendesah berat, pikirannya tidak bisa fokus saat dosennya menjelaskan beberapa penyebab dari kanker hati. Pikirannya langsung tertuju pada Sakura, gadisnya yang sudah meninggal akibat penyakit itu.

Beberapa penyebab kanker hati hati adalah sirotis atau pengerasan hati. Hepatitis B atau C yang sangat kronis, paparan senyawa beracun aflatoksin, penyakit glikogen pada anak dan diabetes.

Samar-samar, Sasuke bisa mendengar kata-kata dosennya mengenai penyebab penyakit tersebut. Namun, ia sama sekali tidak memperhatikannya. Kini, kepalanya kembali dipenuhi oleh bayang-bayang Sakura saat detik-detik terakhirnya.

Meskipun sudah tiga tahun berlalu, namun kepergian Sakura seolah tejadi kemarin baginya. Dan hingga saat ini, Sasuke masih belum bisa menerima kepergian sahabat dan kekasih tercintanya itu. Dan karena dia juga, Sasuke nekat mengambil jurusan kedokteran di Oto University ini.

Dan tanpa bisa dibendungnya lagi, Sasuke amat sangat ingin mengunjungi makam Sakura. Memang, setelah tiga tahun ia dan keluarganya pindah ke Oto, Sasuke hanya pernah pergi sekali menjenguk gadisnya di Konoha ketika hari kelulusannya saat di SMA. Dan untuk mengobati rasa rindunya itu, Sasuke merogoh saku celanannya dan mengeluarkan dompetnya. Kemudian senyum sendu terpatri di bibirnya saat manik kelamnya menatap mendalam sosok gadis yang tersenyum tipis di kartu pelajar tersebut.

"Sakura…"

.

.

Selama dua jam Sasuke di kelasnya, tidak satupun materi yang nyangkut di kepalanya. Ia bukannya tidak berminat atau apa. Hanya saja materi tersebut mengingatkankannya pada Sakura. setelah jamnya Kabuto-sensei, Sasuke memiliki jadwal dengan dosen yang terkenal gila dan killer. Yup, Sasuke harus berhadapan dengan Orochimaru setelah ini.

Sasuke mendesah berat, memperhatikan sekelilingnya yang sudah sepi dan tinggal ia sendiri di ruangan ini. Dengan gerakan malas, Sasuke bangun dari kursinya. Tangan kirinya menyampirkan tas ransel di bahu sebelah kirinya dan melangkah keluar kelas. Sepertinya ia harus ke kelas berikutnya sendiri kali ini, karena Shikamaru sudah keluar duluan karena ada urusan dengan pacar pirang berkuncirnya. Kalau urusan pacarnya saja, Shikamaru tidak mengenal kata "merepotkan" yang menjadi trademark-nya itu.

.

.

.

.

.

Sakura mendesah pelan, bibir mungilnya berkomat kamit tidak jelas setelah menerima sebuah pesan singkat dari ayahnya. Padahal hari ini ia ingin jalan-jalan dengan Sasame, namun harus diurungkan ketika ayahnya menyuruhnya untuk langsung pulang setelah selesai jam kuliah. Sakura anaknya memang penurut, karena itu ia langsung membatalkan acaranya dengan Sasame.

"Ayah menyebalkan," gerutu Sakura.

Di sampingnya, Sasame hanya terkekeh melihat kelakukan Sakura yang tengah ngambek karena tidak mendapat ijin dari ayahnya. Kelakukannya memang terlihat kekanak-kanakan dengan wajah ditekuk dan mulut mungilnya yang tidak berhenti menggerutu tidak jelas.

"Kita bisa pergi lain kali, Sakura. Jangan ngambek begitu, kau seperti anak kecil saja." Kecil Sasame menepuk pucuk kepala Sakura yang membuat gadis merah jambu itu semakin sebal.

"Kau yang membuatku terlihat seperti anak kecil," sebal Sakura. dengan paksa, ia menyingkirkan tangan sahabatnya yang masih setia menepuk ubun-ubunnya. "Kau sama menyebalkannya dengan ayah, Sasame." Sakura melanjutkan gerutuannya. Bahkan sekarang, ia tidak hanya marah pada ayahnya, Sakura juga kesal dengan Sasame.

Sasame memutar matanya, berurusan dengan Sakura yang tengah dalam mode childish seperti ini membuatnya gemas sendiri. Dan untuk mengubah mode Sakura yang tengah begini, Sasame lalu menggeret gadis merah jambu itu keluar dari kelas. Ia tahu, satu-satunya cara membuat Sakura berhenti ngambek adalah makan. Karena itu, Sasame menggeret Sakura menuju café di belakang fakultas mereka.

.

.

.

Sasuke yang sudah bosan menunggu dosen yang tak kunjung datang, memilih untuk keluar kelas. Kalau sudah dua puluh menit Orochimaru belum juga muncul, artinya dosen gila itu tidak masuk. Satu persatu, mahasiswa di ruangan itu ikut keluar setelah Sasuke meninggalkan ruangan tersebut.

Sasuke melihat jam tangannya yang baru menunjukkan pukul setengah dua belas. Waktu makan siang masih sekitar satu jam lebih. Namun, entah kenapa perutnya sudah terasa lapar. Padahal tadi pagi ia juga sudah sarapan.

Setelah sampai di lantai dasar, Sasuke bergegas keluar dari gedung fakultasnya. Awalnya ia berniat langsung pulang, namun kakinya membawa dirinya ke café yang terletak di belakang fakultasnya. Sasuke memang sangat jarang ke café kampusnya. Pemuda itu hanya pernah beberapa kali kesana, tentunya atas paksaan Naruto. Sasuke mana tahan mendengar ocehan Naruto yang membuatnya harus pergi ke dokter THT itu.

Mengabaikan kerlingan beberapa gadis yang dilewatinya, Sasuke melangkah lebar menuju café yang menjadi tempat nongkrong favorit mahasiswa itu.

Café tersebut terlihat lebih lengang, mungkin karena belum waktunya makan siang. Ketika ia memasuki café, Sasuke mengambil meja yang terletak di sudut ruangan. Namun, belum sempat ia memesan makanan, Sasuke menerima telepon dari Shino kalau Orochimaru datang dan sekarang tengah mulai mengajar.

Menyebalkan!

Sasuke segera bangkit dari kursinya dengan menenteng tas ranselnya. Ketika melewati sebuah meja, pemuda itu tidak menyadari sosok gadis pink yang tengah menatap punggungnya yang perlahan menghilang di balik pintu café.

.

.

.

.

TBC

.

.

.

Holaa~ minna…

Gomen baru lanjutin fic ini…

Untuk chap ini, saya masih nyari feelnya. Jadi maaf kalo terkesan kaku ato gimana..

Karena saya udah ada ide untuk endingnya, jadi akan diusahakan updatenya tidak sampe berbulan-bulan xD tapi tidak bisa janji update kilat.

Terima kasih untuk kalian yang sudah membaca dan meripiu fic ini. Maaf karena tidak bisa membalas satu persatu…ripiu dari kalian menjadi penyemangat untuk melanjutkan fic terlantar ini… terimakasih banyak…

Mind to Riview?