Disclaimer : Masashi Kishimoto

Warning : AU, OOC, Typo(s), dll…

Don't Like Don't Read


.

.

.

.

"Masih marah sama ayah?"

Sakura mengerucutkan bibirnya, irisnya masih setia menatap layar televisi seolah-olah itu adalah hal yang paling menarik saat ini, meski yang tengah tayang adalah iklan. "Menurut Ayah?" kesalnya, tanpa menengok pada pria berambut panjang yang duduk di sampingnya.

Orochimaru mendesah melihat tingkah putrinya yang kadang bisa sangat keras kepala. "Itu juga demi kebaikanmu, Saku," bujuknya, berharap putri tercintanya berhenti merajuk.

"Ayah selalu bilang begitu, aku juga ingin keluar jalan-jalan dengan Sasame dan teman-teman lainnya," gerutunya menekuk wajahnya.

Orochimaru mengusap sayang helaian merah jambu Sakura. "Kau bisa pergi nanti dengan paman Kabuto," tawarnya.

Sakura merengut, ia langsung menepis pelan tangan ayahnya. "Aku bosan dengan paman terus," protesnya. "Aku juga ingin kelua dengan teman-temanku," rajuknya menampilkan wajah sesedih mungkin. "Ayah jahat," imbuhnya. Sudut matanya mulai mengeluarkan cairan bening yang mulai membasahi pipinya.

Pria awal lima puluhan itu tidak bisa berkutik lagi jika putrinya sudah mengeluarkan jutsu andalannya. Dia benar-benar tidak tega melihat gadis yang sangat di sayanginya mengeluarkan air mata. Meski Orochimaru tahu, Sakura hanya tengah mencoba untuk membujuknya untuk mengikuti keinginan putrinya. Namun, naluri seorang ayah langsung menendangnya melihat putrinya yang tengah menangis. Siapa sangka, dosen yang dikenal killer di kampus, ternyata berhati lembek jika sudah berhadapan dengan gadis pink yang sekarang tengah sesenggukan.

Sakura memang kelemahannya, sekaligus menjadi kekuatannya.

Mengakui kekalahannya, pria yang dulu sempat bekerja di sebuah rumah sakit Konoha itu menangkup pipi chubby putrinya. Dengan kedua ibu jarinya, ia mengusap pelan jejak air mata Sakura. "Baiklah, ayah izinkan," ujarnya mendesah. Pria itu langsung menyunggingkan senyum melihat raut wajah putrinya yang langsung semangat. Apalagi iris hijau beningnya berbinar bahagia.

"Benarkah?" tanya Sakura antusias. Ia ingin memastikan apa yang dikatakan ayahnya ini memang benar.

Orochimaru mengangguk, ia mengusap pelan pucuk kepala putrinya. "Tapi, tidak boleh lebih dari jam sepuluh. Dan aku akan menyuruh Kabuto menjemputmu, bagaimana?"

Sakura mengangguk cepat, "Baik!" serunya kegirangan. Ia lalu memeluk ayahnya sebagai ungkapan terima kasih. "Ayah adalah ayah yang terbaik," sanjungnya, "meski menyebalkan," lanjutnya dengan cengiran.

Gadis itu langsung kabur ke kemarnya dengan melompat kegirangan, saat melihat gelagat ayahnya yang hendak protes dengan kata terakhirnya.

Melihat tingkah putrinya yang menggemaskan seperti itu, Orochimaru hanya bisa tersenyum. Dan ia terkekeh tatkala mendengar lengkingan suara Sakura yang tengah berbicara dengan temannya melalui telepon.

"SASAME! AYAHKU YANG MENYEBALKAN YANG AKU SANGAT SAYANGI ITU MENGIZINKAKU PERGI!" teriak Sakura kegirangan.

Bisa dipastikan, gadis yang bernama Sasame itu akan berjengit kaget dan melindungi telinganya dari lengkingan Sakura.

"Dasar," gumam Orochimaru. Kemudian, mengambil ponselnya dan men -dial sebuah nomor.

Setelah nomor yang dituju tersambung, Orochimaru menunggu beberapa detik sebelum teleponya diangkat.

"Kau kesini nanti malam, ada yang ingin kubicarakan."

Seseorang dari seberang telepon menyanggupi permintaan Orochimaru yang terkesan lebih seperti sebuah perintah.

"Aku akan menunggumu jam delapan," jelasnya. Ia lalu mematikan ponselnya dan menaruhnya di atas meja yang penuh dengan cemilan Sakura.

"Anak itu, selalu makan makanan yang tidak sehat," komentarnya melihat jenis-jenis junk food favorit putrinya. Namun anehnya, Orochimaru malah mengambil sebuah snack dan langsung melahapnya sebagai teman menonton pertandingan olahraga.

.

.

.

.

.

Sasuke menguap bosan, sedari tadi ia tidak henti-hentinya mengganti-ganti saluran televisinya. Sudah sepuluh menit lebih, namun ia masih belum menemukan siaran televisi yang menurutnya menarik. Mendesah bosan, pemuda itu melemparkan remote berwarna hitam tersebut di atas karpet berbulu di bawahnya.

Tidak tahu apa yang harus dilakukan, Sasuke memilih untuk kembali ke kamarnya. Pemuda yang memiliki paras rupawan itu memilih untuk berbaring di kasur king size-nya. Manik kelamnya terpejam, dengan sebelah tangannya yang terlipat menjadi bantal.

Kalau sudah seperti ini, hanya satu yang ada di pikiran Sasuke.

"Sakura…" gumamnya.

Kemudian, manik kelamnya kembali terlihat tatkala ada telepon masuk di smartphone-nya. Dengan malas, Sasuke beranjak dari kasurnya dan mengambil benda berwarna hitam yang berada di atas rak buku. Ia kemudian menyipit melihata nama "Naruto-dobe" tertera di layar lima inchi tersebut.

"Hn, apa Dobe? Kalau ada yang tidak penting, aku matikan." Sasuke langsung berbicara sinis pada pemuda berisik yang entah bagaimana bisa menjadi sahabatnya.

"Sepertinya, seseorang dalam suasana hati yang kurang bagus," kekeh Naruto dari seberang telepon. "Dan kebetulan, aku punya ide untuk menghilangkan kesuntukanmu, Teme," imbuhnya antusias.

Sedangkan Sasuke, pemuda itu hanya mendengus sebagai jawaban. "Tidak," tolak Sasuke.

Dari seberang, Naruto terdengar mencibir. "Kau tidak asik, Teme!" gerutu Naruto, "tapi aku akan tetap menjemputmu jam delapan, jaa!"

Tuuut…tuut

"Ck, Dobe!" Sasuke menyipit melihat smart phone-nya, kemudian menaruhnya di atas nakas yang terletak di samping tempat tidurnya.

Iris kelamnya terpejam sesaat, mengambil napas panjang dan menghembuskannya perlahan. Melirik jam digital di atas nakas, waktu sudah menunjukkan jam tujuh. Sasuke kemudian membuka kaos hitam yang dikenakannya dan melemparkannya ke dalam keranjang cucian kotor, lalu melangkah ke dalam kamar mandi.

.

.

.

Satu jam kemudian, Sasuke sudah berada di dalam mobil Naruto. Pemuda itu terlalu malas untuk membawa kendaraan sendiri.

"Kita mau kemana, Dobe?" Sasuke melirik sekilas Naruto yang terlihat tengah fokus dengan jalanan di depannya.

Mendengar pertanyaan Sasuke, Naruto hanya menyeringai sok misterius. "Kita akan ke tempat yang akan menghilangkan suntukmu," terangnya tanpa menoleh bahkan melirik pada sahabatnya.

Mendengus, Sasuke menyilangkan lengannya dan memandang ke luar jendela.

Kemudian, kelap-kelip lampu berbagai macam warna menarik perhatian Sasuke. Lampu-lampu yang berasal dari sebuah menara di tengah kota Otogakure itu entah bagaimana mengingatkan dirinya akan Sakura.

.

"Hei, Sasuke-kun?"

Pemuda yang tengah sibuk dengan bukunya, hanya bergumam tidak jelas sebagai respon.

"Apa kau mau melihat Konoha dari atas menara bersamaku?" tanya gadis bersurai merah jambu sepunggung itu.

"Hn," gumam pemuda dengan style rambut emo tersebut.

Gadis di sebelahnya tersenyum senang, "Janji?" tanyanya.

"Hn," balas Sasuke.

.

Sasuke tersentak mengingat sebuah janji kecil yang disanggupinya dengan Sakura dulu. Sebuah janji yang belum sempat ia tepati. Tanpa sadar, pemuda itu menggigit bibir bawahnya. Tangannya mengepal erat menggenggam ujung jok mobil yang didudukinya. Rahangnya terlihat mengeras dengan tatapannya sendu ke arah gedung-gedung tinggi yang dilewatinya.

Naruto yang sedari tadi fokus dengan kegiatan menyetirnya, melirik ke arah Sasuke. Alisnya mengerut, bingung melihat raut aneh yang ditampilkan Sasuke. Kenapa dengannya, pikir Naruto.

Karena pada dasarnya Naruto adalah orang yang tidak bisa menahan rasa keingin tahuannya, pemuda itu memutuskan untuk bertanya. Walaupun ia yakin tidak akan mendapatkan jawaban yang memuaskan, namun Naruto tidak peduli. Yang penting, ia sudah mnegutarakan apa yang ada di pikirannya.

"Ada apa denganmu, Teme? Kau terlihat err…sedih." Naruto kembali memfokuskan pandangannya ketika menyalip sebuah mobil di depannya. Dan setelahnya, ia kembali melirik Sasuke.

Sasuke yang terjebak dalam pikirannya mengenai Sakura sedikit tersentak mendengar pertanyaan Naruto. Namun dalam sekejap, pemuda itu bisa mengendalikan dirinya dan merubah ekspresi wajahnya menjadi datar seperti biasa.

Dan Uchiha Sasuke mengabaikan pertanyaan Naruto. Memilih untuk bersikap seolah tidak pernah mendengar pertanyaan yang dilontarkan sahabatnya. Sepertinya ia terlalu terlarut memikirkan Sakura. Apalagi dengan rasa bersalah yang menghinggapi hatinya kembali. Perasaan yang Sasuke yakin tidak akan pernah sirna dalam hatinya. Sama seperti rasa cintanya pada gadis itu. Dua rasa berbeda yang terlalu kuat mengakar di relung hatinya.

"Teme, kau ini kena—"

"Tutup mulutmu dan menyetir saja, Dobe!"

Naruto sedikit kaget dengan ucapan Sasuke. ia semakin yakin ada yang salah dengan sahabatnya itu. Karena Naruto tahu, Sasuke pasti tengah tertekan atau sejenisnya jika sudah menggigit bibir seperti itu. Dan pemuda itu bertekad untuk menanyakan masalah apa yang sebenarnya tengah disembunyikan Sasuke. Entah bagaimana caranya nanti.

Karena Sasuke, orang pertama yang mau berteman dengannya tanpa mempedulikan seperti apa dia dulu.

.

.

.

.

.

.

"Bagaiamana kau bisa mendapat izin dari paman, Saku?"

"Biasa, ngambek," jawab Sakura cengengesan.

Sasame hanya bisa menggeleng mendengar jawaban dari sahabatnya itu. "Kau ini," kekehnya. Lalu, perhatiannya kembali terfokus dengan jalanan. Gadis itu tetap menjunjung tinggi pedoman safety ride yang dipesan oleh ayahnya Sakura.

Sedangkan Sakura, gadis itu terlihat sibuk memperhatikan pemandangan malam dari jendela mobil. Ia sangat menyukai pemandangan malam seperti ini.

Saking tenggelamnya dengan dunia sendiri, Sakura sampai tidak menyadari sahabatnya sudah memanggilnya beberapa kali. Bahkan ia tidak sadar, bahwa mobil yang ditumpanginya telah berhenti.

"Sakura…"

"…"

"Sakura!" teriak Sasame tepat di telinga gadis pink tersebut.

"Apa yang kau lakukan!" protes Sakura mengusap telinganya yang terasa berdengung. "Kau mau membuatku tuli, eh," gerutunya.

Sedangkan si pelaku hanya memutar matanya bosan, ia mengangkat bahu lalu keluar dari mobil hadiah dari ayahnya beberapa bulan lalu itu.

"Ayo keluar, Saku." Sasame membukakan pintu, lalu menggamit lengan Sakura dan menariknya keluar. "Jangan menampilkan wajah cemberutmu, kau terlihat seperti bocah yang tidak kebagian permen," cibirnya.

"Kau menyebalkan, Sasame," gerutu Sakura seraya keluar dari mobil.

Sasame hanya mengangkat bahu, "Kau sudah memberitahuku ribuan kali," jawabnya enteng, membuat Sakura menggerutu tidak jelas.

"Ayo," ajak Sasame. Gadis itu menggeret Sakura masuk ke dalam sebuah rumah yang cukup mewah.

.

Suara musik yang mengalun lembut langsung menyambut kedatangan dua gadis muda tersebut. Sasame tersenyum cerah ketika matanya menangkap sosok yang merupakan tuan rumah dari pesta yang didatanginya. Ia langsung menggeret Sakura menuju seorang pemuda yang tengah bercakap-cakap dengan tamu yang undangannya.

"Arashi-nii!" serunya melambaikan tangan. Gadis itu berlari kecil sembari menyeret Sakura yang terlihat menekuk wajahnya.

Melepaskan cengkramannya pada lengan Sakura, Sasame langsung melompat ke pelukan kakak sepupunya itu. "Aku kangen," ungkapnya.

Sakura hanya bisa meringis mengelus pergelangan tangannya. "Dasar menyebalkan," gerutunya melihat keantusiasan Sasame. Bahkan gadis itu sekarang tengah cekikikan, melupakan keberadaan dirinya. Karena kesal, Sakura menarik kunciran rambut Sasame sehingga membuat gadis itu sedikit terjengkang. Beruntung, ada Arashi yang menangkap sebelah tangan Sasame sehingga ia bisa kembali berdiri tegak.

"Apa yang kau lakukan?" delik Sasame tidak terima.

Sakura mengerucutkan bibirnya, mulai melancarkan aksinya. "Aku diabaikan, malangnya nasibku," lirihnya sembari menunduk.

Sasame hanya mendesah melihat tingkah kekanakan Sakura. ia kemudian pamit pada sepupunya dan mengajak Sakura ke kebun belakang rumah besar itu.

"Sudah ngambeknya?" ejek Sasame pada Sakura yang kini sudah mengangkat wajahnya.

Sakura mengangguk, lalu tersenyum polos. "Hu'um."

Sasame hanya bisa memutar matanya, sahabatnya ini benar-benar kekanak-kanakkan. Meskipun menyebalkan, tapi gadis itu menyukai sisi Sakura yang seperti itu.

.

.

Sakura tidak bisa berkedip, irisnya berbinar melihat apa yang ada di hadapannya. Ia sungguh-sungguh tidak percaya dengan apa yang dilihatnya.

Sungguh menakjubkan.

Di depannya, berderet rapi meja-meja panjang yang menyuguhkan berbagai jenis makanan. Mulai dari yang tradisional hingga modern, bahkan jenis-jenis makanan dari luar juga ada di sana. Sakura bisa merasakan air liurnya hampir menetes, dan darahnya berdesir hebat merasakan gairah membara untuk mencicipi semua jenis hidangan yang tersedia.

Dan tanpa berkata apa-apa lagi, Sakura langsung mengambil mengambil piring dan mulai menjelajah untuk mencicipi hidangan-hidangan menggugah selera yang ada.

Sasame hanya bisa menggelengkan kepalanya melihat antusiasme gadis pink itu. Ia juga mengikuti jejak Sakura, mengamil piring dan memilih hidangan yang menarik minatnya.

.

.

.

.

.

.

Sasuke merasa sangat risih tatkala beberapa gadis muda mengerling tanpa malu-malu ke arahnya. Ia hanya bisa bergidik melihat keagresifan dari gadis-gadis itu. mendesah berat, pemuda itu tetap mengikuti kemanapun langkah Naruto membawanya.

Naruto hanya bisa menahan tawanya melihat ekspresi kesal Sasuke. "Gadis-gadis akan semakin bar-bar melihat ekspresi cantikmu, Teme," gurau Naruto, sambil mencari kakak sepupunya yang mengadakan pesta ini.

"Cih, ini gara-gara kamu, bodoh!" geram Naruto.

Naruto hanya tertawa sebagai jawaban, ia kemudian melambaikan tangannya semangat saat melihat sosok yang sedari tadi dicarinya.

"Oi, Arashi!" teriaknya, membuat perhatian beberapa tamu teralih padanya. Namun Naruto sama sekali tidak peduli jika menjadi pusat perhatian dengan suara cempreng sedikit nge-bass itu.

"Yo, Naruto. Apa kabar?" sapa Arashi, memberi pelukan sahabat pada adik sepupunya itu.

"Seperti yang kau lihat," jawab Naruto. "Dan kenalkan, dia temanku," imbuh Naruto menunjuk dengan matanya.

"Selamat datang di acara kecil-kecilanku, aku Arashi," ujar pria yang mengenakan kemeja putih dengan dasi tersebut.

Melihat pria di depannya mengancungkan tangan, Sasuke lalu menjulurkan tangan kanannya menyambut tangan Arashi.

"Sasuke," katanya singkat.

Arashi tersenyum ramah, ia lalu pamit untuk menyapa tamu lain yang baru datang. "Bersenang-senanglah kalian," sarannya.

"Kami akan," balas Naruto.

Sedangkan Sasuke, ia sudah berjalan ke kebun belakang meninggalkan Naruto.

"Oi, Teme, tunggu!" kesal Naruto melihat Sasuke meninggalkannya begitu saja.

.

.

.

Sasuke tidak suka keramaian. Karena itu, ia memilih untuk menyendiri di sebuah bangku yang letaknya agak jauh dari orang-orang. Letaknya sedikit tersembunyi, di balik bonsai-bonsai dan berbagai jenis bunga.

Disanalah Sasuke, menikmati langit malam yang dihiasi bintang-bintang. Dan malam ini, langit terlihat cerah dengan awan-awan tipis menghiasinya. Ditemani suara-suara serangga malam, dan segelas jus tomat yang entah bagaimana ia mendapatkannya.

Mendongakkan kepalanya, manik kelam itu menatap langit gelap yang dihiasi kerlipan bintang-bintang. Punggungnya ia sandarkan di penyangga bangku panjang yang dicat coklat tersebut. Sayup-sayup, Sasuke bisa mendengar alunan lembut biola yang tengah mengalun indah. Pemuda itu memejamkan matanya, menyembunyikan permata onyx yang selama ini terlihat kosong. Tanpa cahaya, karena ia belum menemukan sumber cahayanya.

Dan tanpa bisa dihalaunya, sosok gadis gadis bermahkota pink meracuni pikirannya. Dan kembali perasaan itu muncul lagi. Rasa bersalah yang sangat mendalam, rasa rindu yang tak tertahankan dan kehilangan yang membuat setengah jiwanya seolah mati.

"Sakura…"

.

.

.

.

.

Plok plok plok!

"Nyamuknya nakal," gerutu Sakura. Ia lalu menaikkan kakinya ke atas bangku dan duduk bersila. Gadis itu kembali melanjutkan kegiatan menyantap makannya.

"Uhm, yang ini enak juga," gumamnya pada diri sendiri ketika mencicipi sebuah hidangan yang berbahan dasar ikan salmon.

Di sampingnya, sudah ada beberapa piring kosong bekasnya. Namun ternyata, perut gadis itu masih mampu menahan pasokan lagi. Benar-benar selera makan dan perut yang menakjubkan.

Dan di saat-saat bahagianya, ponsel Sakura berbunyi menandakan ada telepon masuk. Gadis itu kemudian menaruh piring makanannya, dan meraih ponsel yang ia taruh di saku celana pendek yang tersembunyi di balik rok selututnya.

Gadis itu mendesah tatkala melihat nama orang yang menelponnya. Ia lalu menekan sebuah tombol dan langsung menjepit benda berwarna putih tersebut di bahunya. Sementara itu, gadis itu mengambil kembali piringnya dan melanjutkan makannya.

"Ada apa, paman?" tanyanya berpura-pura. Sebenarnya ia sudah tahu kalau sekarang waktunya untuk pulang.

"Kau sudah harus di sini, lima menit," ujar sebuah suara dari seberang telepon.

Sakura hanya bisa mendengus, lalu meletakkan kembali piringnya yang masih cukup penuh dengan makanan. "Paman menyebalkan," gerutunya.

Gadis itu langsung berdiri dan meminum air mineral agar tidak tersedak nantinya. Ia kemudian beranjak dari bangku panjang tersebut, setelah sebelumnya mengirimkan pesan pada Sasame tentang kepulangannya.

Dengan berlari kecil, Sakura mengitari deretan bunga-bunga dan melewati bonsai-bonsai yang terata rapi. Mungkin karena agak remang-remang, Sakura tidak menyadari seseorang yang tengah duduk di bangku yang dilewatinya.

"Tidak ayah, tidak paman. Mereka sama-sama menyebalkan," gerutu Skaura.

.

.

.

Mendengar gerutuan seseorang, Sasuke langsung tersentak dan membuka matanya. Ia menegakkan punggungnya. Ia kemudian mengernyit bingung. Sasuke yakin, ia mendengar suara seorang gadis. Apa jangan-jangan itu adalah hantu penunggu disini, pikirnya ngawur.

Sasuke menggeleng atas pemikiran bodohnya ini. Pemuda itu lalu bediri saat dirasanya angin malam mulai terasa dingin. Lebih baik ia mencari Naruto dan menyeretnya pulang. Lagipula, Sasuke sudah bosan berada di sana.

Akhirnya, Sasuke beranjak dari bangku yang sudah satu jam lebih tempatnya menyendiri tersebut. Dan ketika ia masuk ke dalam rumah, tanpa sengaja onyx-nya menangkap siluet merah jambu di antara kerumunan.

Tubuhnya langsung membeku, seolah kakinya terpaku di lantai dan tidak bisa digerakkan. Napasnya tercekat di tenggorokan, dan mulutnya sedikit terbuka menyembut nama gadis yang begitu ia rindukan dalam jeritan bisu.

Apakah yang dilihatnya hanya sekedar halusinasi karena kerinduannya?

Atau, gadis itu memang benar-benar Sakura. Sakura-nya.

Dan setelah dapat menggerakkan tubuhnya, Sasuke langsung berlari mengikuti arah perginya gadis tersebut. Ia mengabaiakan protes dari orang-orang yang ditabraknya. Bahkan, Sasuke tidak mempedulikan teriakan Naruto padanya.

Dan sekarang, ia sudah berada di tempat parkir. Ia menyapu seluruh kawasan, tetapi di sana cukup sepi. Padahal ia yakin, gadis itu pergi ke arah sini.

"Dimana kau, Sakura," geramnya frustasi dengan napas tersengal.

Tidak menyerah, Sasuke lalu berlari menju pintu gerbang. Berharap akan menemukan apa yang dicarinya. Namun sayang, tidak ada satupun kendaraan yang keluar.

Mengacak rambutnya frustasi, Sasuke bersandar di pagar yang terbuat dari besi yang menjulang tinggi. Sedikit peluh terlihat mengalir di pelipisnya. Setelah berhasil mengatur napasnya, Sasuke mendongak menatap langit. Menutup matanya sekejap, mencoba untuk mennenagkan dirinya.

"Hoi, Teme!"

Teriakan yang sangat dikenalnya membuat Sasuke membuka matanya.

"Kau mengejar siapa, sih?" Naruto terlihat penasaran, karena sebelumnya melihat temannya berlari tidak jelas seprti tadi.

Sasuke mendesah, "Bukan apa-apa," jawabnya datar. "Kita pulang," titahnya kemudian.

"Hah, baiklah," desah Naruto.

Mereka lalu berbalik menuju parkiran.

Dan disaat itulah, sebuah mobil berwarna merah melintas dengan seorang gadis merah jambu yang terlihat tengah mengomeli seorang pria berkacamata.


.

.

.

Tbc…

.

.

.

Terima kasih banyak untuk readers dan riviewers… maaf juga karena baru apdet. RL menuntut untuk lebih diperhatikan xD

Maaf juga, karena tidak bisa membalas ripiu kalian satu persatu.

Gomen juga untuk typo(s)

Riview?