Disclaimer : Masashi Kishimoto

Warning : AU, OOC,…

Don't Like Don't Read

.

.

.

.

.

Lembayung senja terlihat menakjubkan, dengan garis kemerahan yang membentang di ufuk barat. Semilir angin terasa menyejukkan setelah melewati hari yang sibuk. Beberapa daun kering yang entah darimana beterbangan terbawa arus angin. Terlihat pula, sekawanan burung terbang pulang menuju sarang mereka.

Di sebuah balkon yang tembok pembatasnya berjejer beberapa pot bunga, seorang pemuda tengah memejamkan matanya menikmati suasana sore yang menenangkan. Ditemani secangkir ocha dan sebuah buku tebal di tangannya.

Membuka matanya, Sasuke meraih ocha di atas meja kayu di depannya, lalu menyeruputnya perlahan. Merasa cukup, ia kembali menaruh cangkir porselen tersebut ke tempat semula, tepat di samping sebuah figura yang menampilkan sosok gadis yang sangat dicintainya.

Menghela napas berat, Sasuke memijit pangkal hidungnya. Sudah beberapa hari ini, pikirannya kacau semenjak malam itu. Sasuke sudah mencoba membuat dirinya percaya tentang apa yang dilihatnya malam itu hanyalah halusinasinya saja. Namun, hati kecilnya menolak. Jauh di dalam sanubarinya, Sasuke benar-benar berharap gadis yang dilihatnya itu adalah nyata. Meski ia tahu Sakura sudah meninggal, tetapi pemuda itu masih terus berharap untuk bertemu kembali dengan Sakura. Dan Sasuke percaya, karena hatinya berkata demikian.

"Sakura…" gumamnya menerawang.

Rasa kehilangan dan kesepian terlihat jelas di pancaran onyx-nya. Ibu jarinya mengusap lembut wajah gadis manis yang tengah tersenyum lebar di figura. Sorot mata pemuda itu langsung berubah sendu, dan tanpa sadar ia menggigit bibir bawahnya. Selalu saja seperti ini, jika dirinya tengah mengingat Sakura.

Sudah seringkali, ibunya menyuruh Sasuke untuk mencoba menjalin hubungan dengan gadis lain. Bahkan, Mikoto pernah berencana untuk menjodohkannya. Namun Sasuke bersikeras menolak semuanya. Ia tidak akan pernah bisa memiliki perasaan dengan gadis manapun. Tidak akan pernah.

Yeah, Sasuke tidak ingin dan tidak akan bisa.

Drrrrttt…

Ponsel hitam Sasuke yang bergetar dan diikuti sebuah alunan musik membuat pemuda itu tersentak dari lamunannya. Ia mengambil ponselnya dengan malas, dan melihat id si penelpon. Pemuda itu bergumam tidak jelas sebelum menjawab telepon.

"Hn, apa Dobe!" tanyanya dengan nada malas.

"Aku akan kerumahmu," ujar si penelpon.

"Aku melarangmu," balas Sasuke. Sungguh, sekarang ia benar-benar ingin sendirian. Tidak ingin bertemu dengan siapapun. Karena itulah, seharian ini Sasuke mengurung diri di kamar, bahkan bolos kuliah.

Namun sepertinya, pemuda itu tidak dapat menolak kedatangan Naruto.

"Aku tidak peduli, dan sekarang aku sudah masuk ke kamarmu," kekeh Naruto.

Mendengus, Sasuke langsung mematikan benda hitam tersebut dan menaruhnya kembali di atas meja.

Dan beberapa saat setelahnya, muncullah Naruto dengan senyum seribu watt-nya.

"Yo, Teme! Aku merindukanmu," kekeh Naruto sembari merangkul pundak sahabatnya. "Padahal baru sehari kita tidak bertemu."

Sasuke langsung melepas paksa rangkulan Naruto, "Ck, mengganggu saja," dengusnya memutar matanya bosan.

"Aku memang senang mengganggumu, Sasu-chan," ujar Naruto dengan seringai jahilnya.

Sasuke langsung mendelik tidak suka, ia kemudian berdiri dan masuk kedalam kamarnya dengan foto Sakura di dekapannya.

Di balkon, Naruto mencak-mencak tidak jelas karena kesal dengan sikap menyebalkan Sasuke. "Kenapa aku bisa berteman dengannya?" gerutunya. Meskipun begitu, Naruto tetap mengikuti Sasuke yang masuk ke dalam kamarnya. Dan ia langsung melemparkan diri di atas kasur, tidak mengindahkan tatapan tajam Sasuke yang diarahkan untuknya.

"Oyasumi," gumam Naruto lalu terlelap dalam sekejap.

Sedangkan Sasuke hanya bisa menggerutu kesal dan masuk ke dalam kamar mandi.

.

.

.

.

"Apa obat yang kuminta, sudah ada?"

Seorang pria terlihat tengah berbicara dengan seseorang melalui ponselnya. ia mengambil sebuah kertas dan memeriksanya, lalu mencoret sesukanya.

"Bisa kau antarkan ke rumahku, sepertinya aku sangat sibuk mengurus hasil pekerjaan boca-bocah itu," pintanya memberikan alasan. Memang, hari ini Orochimaru sudah memberikan tugas langsung kepada anak didiknya, dan sekarang ia tengah mengoreksi hasil pekerjaan mereka.

Mematikan ponselnya, pria berkulit pucat menaruh ponselnya di atas meja kaca. Ia kembali menenggelamkan diri dalam pekerjaanya.

Namun, suara pintu yang terbuka keras membuatnya mengalihkan perhatiannya pada seorang gadis yang tengah tersenyum manis ke arahnya. Kedua alisnya bertautan, bingung dengan penampilan putrinya yang terlihat sangat berantakan.

Baju putihnya penuh dengan noda yang entah karena apa. Begitu juga dengan wajahnya yang terlihat sedikit kehitaman dan merah, serta rambut merah jambunya yang sedikit memutih.

"Apa yang sudah kau lakukan, Sakura?" Orochimaru melihat penampilan putrinya dari atas kepala sampai kakinya yang hanya menggunakan sandal yang cuma sebelah.

Sakura hanya cengengesan mendengar pertanyaan ayahnya. "Aku akan segera kembali!" serunya sembari keluar dari ruang kerja Orochimaru.

Orochimaru hanya bisa menggeleng pelan melihat tingkah aneh Sakura.

Dan tidak lama setelahnya, Sakura kembali dengan sebuah piring dan segelas air. Mengabaikan tatapan bingung ayahnya, Sakura langsung menaruh piring tersebut di atas meja kerja ayahnya setelah terlebih dahulu menyingkirkan kertas-kertas yang berserakan.

"Apa itu, Sakura?" Orochimaru mengernyit bingung, pasalnya ia benar-benar tidak tahu benda kecoklatan di atas piring yang dibawa Sakura.

Sakura tersenyum lebar hingga matanya menyipit, ia kemudian mengambil kursi lipat dan duduk di depan ayahnya. "Cobalah," pintanya sembari menyodorkan piring tersebut. Sakura juga merampas kertas yang di pegang ayahnya, menggantikannya dengan sendok. "Ini masakan pertamaku, jadi aku ingin ayah yang mencobanya pertamakali," terangnya riang.

Orochimaru menatap masam piring Sakura, susah payah ia menelan ludahnya. Ia tahu, putrinya pasti akan memaksa hingga dirinya memakan makanan tidak berbentuk itu. lagipula, pria tidak ingin membuat Sakura ngambek jika tidak mencobanya.

Orochimaru mengambil satu sendok dan memasukkannya ke dalam mulut. Keningnya langsung mengernyit dengan rasa aneh yang dikecap lidahnya. Meskipun ia ingin memuntahkannya, tetapi ditahannya tatkala melihat raut antusias putrinya. Dan dengan susah payah ia menelan makanan tersebut dan mengganjalnya dengan air.

"Bagaimana?" tanya Sakura. Gadis itu sangat berharap ayahnya memberikan pendapat yang bagus.

"Pahit, asam, pedas dan asin. Rasanya aneh dan tidak layak dimakan," kata Orochimaru jujur. Sungguh, ia tidak ingin berbohong, meski putrinya sudah berusaha keras untuk membuat makanan yang entah apa namanya itu.

Sakura langsung menunduk lesu. "Hah, padahal aku sudah melakukan semua intruksi yang ada di buku," lirihnya.

Orochimaru kemudian berdiri, lalu menghampiri putrinya dan menepuk sayang pucuk kepala gadis itu. "Jangan menyerah hanya kerena gagal sekali," nasehatnya. "Kalau kau mau, aku bisa mencarikanmu tempat kursus memasak. Bagaimana, hm?"

Sakura langsung berbinar, raut wajahnya langsung berubah drastis. "Benarkah?" tanyanya antusias.

Orochimaru mengangguk, lalu Sakura berdiri dan memeluk tubuh kekar ayahnya.

"Arigato," ungkapnya senang.

Orochimaru tersenyum tipis, ia membalas pelukan Sakura.

"Apapun untukmu," gumamnya.

Putrinya yang hilang, kini telah kembali.

.

.

.

.

.

Sasuke memutar-mutar pulpen hitam yang dijepit diantara ibu jari dan telunjuknya. Manik kelamnya menatap bosan jalan raya yang dipadati kendaraan. Suara keras Naruto dan Suigetsu yang tengah berdebat membuat pemuda itu menggeram kesal. "Tutup mulut bodoh kalian!" desisnya.

Suigetsu yang tengah memukul Naruto dengan sebuah buku tebal langsung menghentikan aksinya. Pun juga Naruto, pemuda itu langsung menutup mulutnya yang tengah menyumpahi Suigetsu. Mereka serentak melihat ke arah Sasuke dengan tatapan penasaran. Pasalnya, semenjak pagi, pemuda Uchiha itu sudah dalam suasan hati yang buruk.

"Ada apa denganmu, teme?" Naruto mewakili pertanyaan Suigetsu.

Sasuke hanya diam, tidak menggubris Naruto.

Sugetsu lalu menghampiri Sasuke di tempat duduknya, lengan kirinya merangkul pundak lebar pemuda itu. "Bagaimana kalau kau ikut denganku ke klub nanti malam?" tawarnya, "kau bisa me-refreshing kepalamu," imbuhnya menyeringai.

Sasuke langsung menepis lengan Suigetsu, lalu menatap tajam pemuda berambut putih itu. "Aku bukan mahluk nokturnal," dengusnya.

Di belakang, Naruto hanya tertawa mendengar penolakan Sasuke dan kembali mengejek Suigetsu.

"Apa yang kau tertawakan?" kesal Suigetsu, menatap tajam Naruto.

Naruto menyeringai mengejek, "Tidak ada," kekehnya.

"Sialan kau!" teriak Suigetsu, langsung berlari ke arah Naruto yang terlebih dahulu keluar kelas.

Sasuke hanya mendengus melihat tingkah dua pemuda bodoh yang masih bersifat kekanakan tersebut.

.

.

.

.

"Paman…"

Kabuto melirik gadis merah jambu yang tengah menampilkan wajah cemberutnya. Bibir mungil itu tidak henti-hentinya berkomat kamit tidak jelas.

"Kau terlihat seperti ikan koi, Saku," kekeh Kabuto. Pria itu sama sekali tidak terpengaruh oleh rengekan dan desakan gadis itu.

"Paman nyebelin, ih," gerutunya.

"Kau juga," balas pria itu dengan pandangan tetap fokus menuju jalanan.

Sakura mendelik, ia langsung memukul lengan pamannya dengan komik yang tengah di pegangnya.

Tidak lama setelah mereka berdebat, mobil hitam yang mereka tumpangi berhenti di sebuah parkiran luas di depan bangunan besar yang selalu ramai.

"Ayo, Sakura," titah Kabuto menyuruh sembari membukakan pintu mobil.

Sakura merengut, dan keluar dengan wajah ditekuk. Gadis itu benar-benar sangat malas jika sudah datang ke tempat ini. Menghentakkan kakinya, gadis itu berjalan mengekori kemanapun langkah pamannya yang menyebalkan itu.

Sedangkan Kabuto, pria itu mengambil smartphone-nya dan mengirim sebuah pesan kepada seseorang. Tidak lama, ia langsung mendapat balasan dan tersenyum tipis. Ia kemudian melirik Sakura yang berjalan di sampingnya dengan wajah kusut.

"Berhentilah memasang wajah jelek seperti itu," ujar Kabuto.

Sakura terus berjalan dengan muka masam, tidak mengindahkan perkataan pamannya.

Pria kepercayaan Orochimaru itu hanya menggeleng melihat tingkah Sakura.

.

.

.

.

"Tidak pulang, Sasuke?"

"Hn," balas Sasuke pendek.

Naruto berdecak, ia langsung mengambil ranselnya dan menyampirkannya di bahu. "Aku duluan," pamitnya lalu keluar dari kelas. Hari ini, pemuda itu memiliki janji yang sangat penting, karena itulah ia buru-buru pulang.

Sasuke menatap punggung Naruto yang sudah menghilang di balik pintu. Lalu netranya kembali menatap keluar jendela. Kemudian Sasuke tersentak, ia lupa kalau hari ini dirinya harus mengumpulkan tugas yang diberikan oleh Orochimari kemarin ketika ia membolos. Sasuke tahu, bagaimana kejamnya dosennya yang satu itu. Sekali saja tidak mengumpulkan tugas, dipastikan nilainya maksimal D. Bagaimana bisa manusia sekejam itu bisa menjadi dosen? Entahlah.

Beranjak dari kursinya, Sasuke langsung berlari keluar kelas dengan sebuah makalah bersampul biru di tangannya. Untung saja ia jenius, meski tidak mengikuti pelajaran kemarin, tetapi pemuda itu bisa mengerjakan tugas dengan lancar.

.

.

"Kira-kira, kapan beliau akan kembali?"

"Mungkin nanti, sekitar jam lima sore," jelas seorang wanita. Terlihat sedikit rona merah di wajah putih wanita itu tatkala Sasuke menatapnya.

"Terima kasih," ujar Sasuke lalu keluar dari ruangan. Pemuda itu mendengus setelah keluar dari pintu. Hari ini ia benar-benar sial, sensei menyeramkan itu ternyata tidak ada di ruangnnya, dan dirinya harus menunggu. Jika tidak, ia tidak akan bisa mengumpulkasn tugasnya karena batasnya adalah hari ini.

Pemuda itu mengacak pelan rambutnya, sehingga terlihat sedikit berantakan. Ia mendengus tatkala ada beberapa mahasiswi yang tengah lewat mengerling ke arahnya. Melirik jam tangannya, Sasuke langsung menyipit melihat waktu baru menunjukkan jam tiga sore. Yang artinya, ia akan menunggu selama dua jam. Dan pemuda itu terlalu malas untuk pulang dan kembali lagi ke kampus, karena itu ia memilih untuk menunggu di café kampusnya saja.

.

.

.

.

.

"Akhirnya~" desah Sakura lega. Ia langsung melemparkan tubuhnya di atas ranjang empuk miliknya. Hari ini ai benar-benar lelah, setelah melakukan chek up selama lima jam lebih. Gadis itu mengusap wajahnya, kemudian memijit pelipisnya. Sakura tidak habis pikir, kenapa ia harus rutin chek up tiap dua minggu sekali jika kondisi tubuhnya baik-baik saja. Apa mungkin ayah dan pamannya terlalu khawatir padanya, padahal dokter yang memeriksanya mengatakan tidak ada yang perlu dikhawatirkan dengan kondisinya.

Tidak ingin mengambil pusing, gadis itu duduk dan beranjak dari kasur nyamannya. Ia membuka sweater yang dikenakannya dan melemparkannya ke atas ranjang. Sepertinya ia butuh mandi, pikirnya.

Tidak lama, setelah gadis itu masuk ke kamar mandi. Terdengar suara air mengalir ai dalamnya dan lantunan lagu yang nyanyikan oleh Sakura dengan suaranya yang pas-pasan.

.

.

Mengenakan rok lipat selutut berwarna turquise dan kaos pink lengan panjang, Sakura keluar dari kamarnya. Memegang secarik kertas putih, Sakura langsung menuju dapur dan membuka kulkas. Kali ini, gadis itu berniat untuk kembali belajar memasak dengan mengikti sebuah resep yang ia dapatkan dari sebuah blog khusus. Meletakkan kertas yang digenggamnya di atas meja, Sakura langsung mengambil bahan-bahan yang tersedia dan menaruhnya di atas meja.

Dan dalam sekejap, dapur yang tadinya sangat rapi dan bersi itu menjadi berantakan. Tepung berserakan di atas meja dan jatuh ke lantai. Dan tanpa sengaja, Sakura menyenggol susu cair yang ia lupa untuk menutupya kembali. Sakura sedikit kelabakan, gadis itu langsung mengambil serbet untuk membersihkan meja. Karamel yang ada di atas kompor juga gosong, karena gadis itu lupa mematikan apinya.

Sakura mendesah berat, kenapa bisa berantakan seperti ini, pikirnya. Namun, gadis itu pantang menyerah. Ia kembali mengambil bahan-bahan baru dan mulai membuatnya dari awal.

"Kali ini, aku akan berhati-hati," gumamnya semangat.

.

.

Setelah menempuh perjuangan yang begitu hebat, akhirnya kue yang dibikin Sakura berhasil masuk ke dalam oven. Setelah mengatur timer dan suhunya, gadis itu mulai membersihkan kekacauan yang ditimbulkannya. Melirik jam yang menempel di dinding, Sakura bergegas karena satu jam lagi ayahnya akan pulang.

Dan tidak terasa, waktu yang dibutuhan gadis itu untuk membuat dapurnya kembali seperti semula hampir satu jam. Sakura kemudian teringat dengan kuenya, dan langsung mengeluarkannya dari oven. Kue-kue itu terlihat sempurna, tidak gosong dan terlihat lezat. Senyum di wajah gadis itu mengembang, ia ingin menunjukkan kue hasil buatannya kepada ayahnya.

Kemudian, suara bel pintu membuat Sakura melompat kegirangan. "Itu pasti ayah," pekiknya senang. Dengan terburu-buru, Sakura memindahkan kue-kue yang masih panas ke sebuah piring cantik. Setelah dirasanya cukup, gadis itu langsung berlari kecil dengan kue di tangannya, menuju pintu depan untuk menyambut sang ayah tercinta.

.

.

.

.

.

Sasuke berdecak kesal, matanya menyipit melihat pintu tertutup di depannya. Padahal ia sudah memencet beberapa kali, namun masih tidak mendapat jawaban. Sepertinya kesabarannya tengah diuji kali ini. Kembali, ia memencet tombol putih yang terletak tidak jauh dari pintu besar di hadapannya. Namun sama saja, nihil.

Mendesah bosan, Sasuke menatap jam tangannya yang sudah menunjukkan pukul sembilan malam. Bayangkan saja, ia menunggu dosen menyebalkan itu lebih dari lima jam di kampusnya. Karena itulah, pemuda bermarga Uchiha itu memilih untuk mendatangi langsung rumah sang dosen tercinta.

Untuk yang kelima kalinya, Sasuke kembali memencet bel.

Dan akhirnya, pintupun terbuka lebar.

"Konbanwa, Orochi—"

Ucapan Sasuke terhenti sampai disitu. Pupilnya melebar tatkala melihat sosok gadis yang tengah berdiri di hadapannya. Bibirnya kelu, tubuhnya kaku dan jantungnya bertalu. Sasuke hanya bisa menatap tidak percaya dengan sosok gadis yang tengah bengong dengan sepiring kue di tangannya.

Manik kelamnya menatap intens, sepasang permata hijau bening yang sangat dirindukannya. Sasuke ingin memeluknya, dan berkata betapa ia merindukannya. Namun sayang, saraf-sarafnya masih belum terkoordinasi dengan sempurna karena masih shock.

"Sakura," gumam Sasuke merapalkan nama gadis yang amat dikasihinya itu. Namun, tubuhnya masih belum bisa digerakkan.

Sasuke tidak menaydari, di belakangnya telah berdiri seorang pria dengan mata menyipit dan rahang mengeras.

"Apa yang kau lakukan di rumahku, Uchiha-san!"

.

.

.

Tbc…

.

.

.

Yosh, fast update xD #tumben

Argghhh, scene sasusaku ketemunya kurang gregett…lagi buntu ide soalnya xD

Oy, terima kasih untuk salah satu riviewer yang bilang kalau dulu Naruto satu sekolah dengan mereka. Saya memang mau mengedit yang bagian itu, tapi lupa mulu, tapi sekarang udah kok. Jadi, mereka belum saling mengenal oke :D

Gomen juga untuk typo(s), dan plot hole disana sini.

Terima kasih banyak untuk riviewers, readers yang masih bersedia membaca fic ini…sekali lagi maaf, tidak bisa membalas ripiu kalian saat ini.

Please leave your thoughts for this chapter xD