SEQUEL

of

~Konya Mo Nemurenai~

::SasuNaru Version::

Rated:

T+ aja dulu hehehe

Pairing:

Sasuke X Naruto,

Disclaimer:

Naruto milik Masashi Kishimoto,

Konya Mo Nemurenai by Yamamoto Kotetsuko

Genre:

Romance, Hurt/Comfort, Supranatural, Mistery,

Warning:

Shounen Ai, BL, Yaoi, Slash, Non-Canon, AU, OOC sangat, Badfic, Many Typo (s) maybe, , dll….

NB: sooo~ ini sequelnya dari fic sebelumnya, selamat menikmati~

That's night I can't sleep

~Sequel~

"Sial!"

PRANG!

Tubuh yang masih berbalut kulit itu masih terlihat kaku. Terbaring diatas pembaringan beralaskan kain putih.

Dibawah pembaringan itu, terlihat beberapa buku serta botol-botol kecil berserakan. Pecah sebagian hingga hancur tak berbentuk.

Tak jauh dari tempat pembaringan itu, terlihat seorang pemuda bersurai raven tengah mengaduk-aduk sesuatu dalam kuali besar.

Sesekali terlihat ia mengumpat. Wajah yang biasanya tanpa ekspresi itu menunjukkan roman muka yang serius.

"Sial!"

"Sial!"

"SIAL!"

Sebuah benda berukuran sedang melayang membentur dinding. Menimbulkan suara yang memilukan pendengaran.

"Dobe…. Apa lagi yang harus aku lakukan?" bisiknya lirih ditengah kehampaan.

"Apakah aku tidak akan pernah bisa lagi melihatmu?"

"Betapa kejamnya…."

"Naru…"

"Aku sungguh sangat merindukanmu…"

"Kembalilah….Kembali…"

"Aku mohon…"

S.N

Tahun 2070….

Setengah abad lebih telah terlewati.

Sekian musim pun telah terlewati.

Namun, pencarian serta usahanya masih belum membuahkan hasil.

.

"Phuaaahhh~"

"Segar sekaliiii!" teriaknya sambil mengacungkan tangan keatas.

"Tenang sedikit bisa tidak, bodoh?!" kesal sahabatnya.

Ia merenggut, memajukan bibirnya beberapa senti kedepan,"Mana bisa aku santai Kiba, kalau aku akan berkunjung ke rumah lama orang tuaku dulu,"

"Haa… ya ya, terserahlah…" sahabatnya yang dipanggil kiba melangkah mendahuluinya.

"Ehh… tunggu kiba!" ia berlari kecil mengejar sang sahabat.

"Cepatlah bodoh!" tanpa menghentikan langkah kakinya.

"Kau sahabatku yang paling jahat kiba!" teriaknya masih kesal karena tak terima ditinggal dibelakang begitu saja.

"Haaa…." Sang sahabat hanya memutar bola mata.

.

"Uwoooo~ jadi ini kediaman orang tuaku?!" ia terpesona dengan sebuah rumah yang cukup besar itu.

"Berhentilah berteriak bodoh! Dan cepat angkat kopermu!" suruh sang sahabat yang lebih dulu meninggalkannya di depan gerbang rumah.

"Yess! Sirr!" dengan menegakkan tubuhnya kearah sang sahabat, ia mengambil koper berwarna coklat yang berukuran kecil itu, menyeretnya memasuki rumah orang tuanya.

'Naruto…..'

"Lho?" ia menolehkan kepalanya ke kiri dan ke kanan. Mencari suara yang memanggil namanya.

Namun, yang dilihatnya hanya hamparan rumuput hijau dengan bunga dan beberapa pohon yang menghiasi halaman rumah itu. Tak ada seorang pun disana kecuali dirinya.

"Naruto! Kenapa kau bengong seperti kambing congek disitu huh?!" teriak sang sahabat yang telah berada jauh di depan. Menunggunya sambil melihat kesal kearahnya.

Segera ia berlari menghampiri sang sahabat, "Mungkin cuma halusinasiku saja, hahahaha~" batinnya.

.

.

.

Hoaaaa~ jadi ini kamarku Kiba?!"" teriakan untuk yang kesekian kalinya hari ini.

Sang sahabat mengangguk,"Dan kamarku tepat berada di sebelah kamarmu, Naru," ia membalikkan badan, hendak meninggalkan sahabatnya.

"Istirahatlah, nanti akan kupanggil ketika makan malam sudah disiapkan," setelahnya hanya terdengar suara pintu yang tertutup pelan.

"Aku tak menyangkan keluargaku adalah orang kaya," ia mengitari satu persatu barang-barang yang ada di kamar itu.

"Tapi kenapa mereka meninggalkanku dipanti ya?" ia nampak berpikir.

"Ah, sudahlah," kemudian ia menuju ke arah kasur dan berusaha merebahkan tubuhnya.

'Naru…..'

Suara itu lagi.

Ia langsung membuka kelopak matanya, mencari ke sekeliling ruangan. Suara yang tadi di halaman ia dengar. Dan sekarang suara itu begitu jelas masuk ke pendengarannya. Memanggil namanya. Dengan getaran yang… yang… sangat berbeda.

Niatnya untuk tidur ia urungkan. Perlahan dengan gerakan sangat slow motion. Ia melangkah menuju ke arah pintu, tempat ia menduga suara itu datang.

"Si..si—apa?" matanya tetap awas melihat kesekeliling. Walaupun tangan dan kakinya bergetar, ia tetap merasa sangat—sangat—sangat penasaran.

'Naru…. Tolong aku…'

Suara itu terdengar dengan sangat jelas.

"Si—siapa kau?" matanya semakin sibuk menoleh kesana-sini, mencari sosok yang memanggilnya.

"H—hei, siapa pun kau, hantu kek, iblis kek, setan kek, tunjukkan dirimu jangan cuma bisa main petak umpet, aku tak takut," ujarnya. Tapi, pada kenyataannya, tubuhnya semakin bergetar dengan hebat. Matanya masih mencari-cari sosok yang memiliki suara itu.

'Aku mohon tolong aku, naru…'

Balas suara itu lagi.

Kali ini bukan takut yang menghampirinya, namun rasa kesal merasa di permainkan."Hei! Siapapun kau tunjukkan wujudmu sialan!" umpatnya kesal. Tubuhnya yang gemetar tiba-tiba menegak. Ia acungkan tangannya ke udara, menuding-nuding ruangan hampa itu.

'Naru… Tolong…'

"Sialan hantu ini, mau ngajakin berantem kali ya?" ujarnya dengan suara kecil.

Menghela nafas panjang, "Terserah, kalau kau tak mau menunjukkan wujudmu, maaf saja ya, aku tak akan membantumu," menutup mata dan menggedikkan bahunya.

'…..'

Dari celah ekor matanya, ia mengintip sedikit. Merasa tak ada tanda dari si suara misterius, ia pun menghela nafas, "Ok, aku tak akan membantu—"

Kedua safir itu membelalak lebar, mulutnya menganga.

Kini dihadapannya—tepat sekali dihadapannya, jaraknya mungkin hanya 10 cm dari wajahnya.

Sosok transparan, mengenakan pakaian putih, melayang-layang di hadapannya.

"AAAA! Kkkkk—kkaa—kkaa—kaakkk—kkkkaau?!" ia mundur dengan cepat hingga menabrak pintu dengan keras. Terkejut tentu saja. Sangat malah.

Sesosok makhluk transparan, dengan wajah mengenaskan, memakai pakaian putih tanpa kaki, dan melayang. Oh, bisa kau bayangkan?! Dan dengan tidak tahu malu ia menampakkan wajah buruk rupa itu tepat didepan hidungnya! Ya, tepat sekali berada di hadapan kedua safir itu! oh, malangnya nasib penglihatanmu nak!

'Maaf mengagetkanmu, Naru…' sosok itu perlahan mundur. Mendudukkan tubuh transparannya diatas ranjang.

"…" ia masih shock tingkat tinggi, hampir kehilangan kesadaran ketika dirasa sesuatu yang hangat mengalir dari selangkangannya.

"OH, SHIT!" rutuknya dalam hati. Tanpa pikir panjang, dan tanpa memperhatikan objek yang telah membuatnya seperti itu, ia berlari ke arah kamar mandi, menyelesaikan masalahnya tentu saja.

Dan, si objek pembuat keonaran masih tetap diam di tempat. Menatap bingung kearah kamar mandi.

.

"Ok, bisa kau jelaskan padaku kenapa ka uterus memanggil namaku? Dan bisakah kau ubah wajahmu? Jujur aku merinding melihatnya, hiii…" Ia bergidik ngeri…

'Terima kasih, baiklah, maaf jika tadi aku mengagetkanmu, naru…' balas sosok transparan itu. ia kemudian mengubah wajahnya dengan sekejap. Dan kali ini ia tak kalah terkejut ketika mendapat sosok dihadapannya itu berwajah sama dengan dirinya. Ya, sama persis! Surai pirang, mata safir, kulit tan, dan tiga kumis yang menghiasi pipi….

"Kau?!" pekiknya untuk yang kesekian kali juga hari ini.

'Ya, ini sosokku ketika aku masih hidup naru,'

"Oh, my god! Apa-apaan semua ini?!" ia meremat surai dikepalanya, pusing dengan kejadian yang tiba-tiba menghampirinya saat ini.

'Bisa aku menjelaskannya?' ia hanya menatap sosok itu bingung.

"Ah, ya, sebaiknya kau jelaskan dengan baik, jelas, dan dengan kata-kata yang mudah kumengerti," ia mengambil sebuah bangku di dekat meja nakas.

"Oh, ya, sebaiknya yang singkat saja, karna aku tak suka mendengar yang panjang lebar,"

Sosok itu mengangguk mengerti.

'Pertama, rumah ini dibangun diatas rumah kecil yang dulu kutempati semasa hidup'

Ia nampak serius mendengarkan.

'Dulu, aku membuat suatu kessalahan,'

Ia mengernyit bingung.

'Aku mencintai seseorang yang tak harusnya ku cintai,'

'Aku mencintai seorang demon'

'…'

'Ya, orang yang aku cintai adalah seorang demon. Aku yang manusia tak seharusnya memendam perasaan seperti itu. Tapi, aku tak bisa menahannya.' Sosok itu terlihat sangat sedih dan rapuh, seperti ingin menangis.

"Mmm, aku sungguh tak mengerti, demon? Bukankah itu hanya ada di negeri dongeng sana?" ia menyandarkan dagunya keatas tumpukan kedua tangannya diatas kursi.

'Itu juga yang kupikirkan ketika pertama kali bertemu dengannya.

Aku tahu kau tak akan mudah mempercayainya, apalagi di zaman yang sekarang ini. namun, itulah kenyataan yang aku alami, naru….'

"Ohh, aku akan coba mengerti perlahan." Ujarnya berusaha menerima perkataan sosok itu.

"Lalu, apa yang terjadi?" rasa ingin tahu membuncah dalam dirinya.

'Aku mengkhianatinya' satu kalimat yang membuat safir hidup itu terbelalak.

"Apa yang kau lakukan? Apa kau meninggalkannya?" ia menegakkan tubuhnya.

'Aku membuat ia melupakanku, kemudian memulangkannya ke dunianya' sosok itu tertunduk, sebuah rasa sedih dan kecewa menjalar di hatinya.

"Kenapa?" hanya satu kata yang keluar darinya.

'Aku lakukan itu demi kebaikannya,'

'Aku memang orang yang sangat bodoh, merelakan kebahagianku dengan kebahagiaannya, yang ternyata hanya membuatnya terluka. Meninggalkannya dengan segala penyesalan. Seandainya saja aku tak mempunyai rasa cinta itu, mungkin aku tak akan terluka seperti ini,'

"….." ia hanya menatap sosok itu sendu.

'Naru, aku tahu aku salah… aku telah menghempaskannya kedalam kegelapan yang sangat dalam… tubuhku sudah tak ada lagi di dunia ini, hanya rasa penyesalanku yang bergentayangan saat ini… aku mohon tolong aku, bantu aku menyelamatkannya, hanya kau… hanya kau yang bisa membantuku naru…'

"Memang apa yang bisa aku lakukan huh? aku hanya manusia biasa…."

'Ada, dan itu adalah kau. Karna yang sekarang ia butuhkan adalah dirimu, bukan diriku yang sudah tiada, hanya kau naru….'

"Aku tahu, aku mempunyai wajah yang sama denganmu, tapi ini tak mungkin kulakukan. Percuma," ia menggeleng dengan sangat keras.

'Aku mohon…. Aku mohon… hanya ini satu-satunya cara naru…'

"Haa~ kau memang hantu yang mengesalkan!" ia merenggut menampu dagunya dengan sebelah tangan. Memalingkan wajah dari sang hantu.

'Aku hanya ingin menyelamatkannya….' Lirih sosok transparan itu

Hening sejenak. Keduanya terdiam. Tak ada yang mengeluarkan suara. Menyelami pikiran masing-masing.

"Jadi, kau ingin menggunakanku untuk menyelamatkan 'kekasihmu' itu begitu maksudmu?" Ia bangun dari duduknya, berdiri menghadapkan tubuh kecilnya ke arah sang hantu.

Sang hantu mengangguk perlahan.

"Lalu caranya?" ia melipat kedua tangannya diatas dada.

Si hantu menggeleng, pertanda tidak tahu.

Ia menatap cengo. "APA?! lalu bagaimana aku bisa menolongnya kalau kau saja tak tahu caranya?" ia berteriak dihadapan sang hantu. Kesal akan kebodohan sang hantu yang berada di tingkat superior itu.

'Maaf… aku tidak tahu…' si hantu menunduk sedih.

"Ck, pantas saja, walaupun aku tergolong juga dalam kalangan orang bodoh, tapi kali ini aku menemukan ada yang jauh lebih bodoh dari ku. Oh Tuhan…." Ia berjalan mondar-mandir di depan sang hantu.

"Sekarang dengarkan aku, terakhir kali kau ingat berada dimana?" ia mendudukkan kembali pantatnya diatas ranjang.

'Mmmmmm….' Si hantu nampak berusaha mengingat-ingat.

5 menit kemudian…. Ia masih memandang si hantu dengan tak sabar.

15 menit kemudian…. Masih memandang si hantu, namun kali nampak kerutan di dahinya.

20 menit kemudian… Ia berhenti memandangi si hantu, kerutan di dahinya semakin bertambah, sebuah persimpangan segi empat terlihat di pelipisnya.

25 menit kemudiannn…..

"DASAR HANTU BODOH!" ia berdiri kembali mengumpati sosok transparan itu. kesabarannya sudah menipis rupanya.

'Hiiiiieeee…' sosok itu menatap ngeri ke arah Naruto.

"Sudah hampir 30 menit tapi kau tak kunjung menjawab pertanyaanku! Kau lupa heh?!" teriaknya tepat di hadapan wajah si hantu.

Si hantu mengangguk takut-takut, merasa lebih menyeramkan Naruto dari pada dirinya.

"ARGHHH!" ia menjambaki surai pirangnya.

"Oh Tuhan, kenapa kau pertemukan aku dengan makhluk dengan kapasitas 0,05 byte Tuhan? Dosa apa aku?" ia meratapi nasibnya yang malang.

'Ummm…. Maaf ne Naruto… akan aku coba mengingatnya…' ujar sosok itu.

"…." Sudut bibirnya tertarik keatas, hanya sebelah, seperti membentuk sebuah seringaian.

"Baiklah, sembari kau mengingat aku akan coba mencari informasi lewat jaringan internet…" ia melangkahkan kakinya, mengambil smartphone tipis setipis kertas itu, membuka fiturnya kemudian mencari ikon bergambar bola dunia berwarna biru. Ia meletakkan ponselnya di dekat kaca setelah menekan ikon tersebut. Di kaca itu muncullah sebuah kotak pencarian. Ia menyentuh tombol-tombol qwerty yang muncul di kaca. Setelah selesai ia menekan tombol ok. Dalam sekejap munculah hasil pencarian dari kata kunci yang telah diketiknya. Ia memilih hasil pencarian pertama dan ketiga. Membukanya di tab baru, kemudian mulai membacanya sekilas.

Si sosok transparan yang melihatnya tengah sibuk dengan kaca yang menampilkan berbagai macam gambar transparan seperti dirinya mendekat kearahnya.

'Anooo…' suara rendah itu rupanya mengagetkannya. Ia tersentak. Hampir terjatuh.

"Bisa tidak kau memberi tanda yang lebih bagus jika sedang berada di belakangku huh?!" serunya kesal pada sosok transparan itu.

'Ah, maaf….'

'Aku ingat, terakhir kali aku berada adalah di sebuah ruangan gelap, tapi bukan rumahku, karena bau serta ukurannya berbeda dengan rumah yang kutempati sebelum orang tuamu mengubahnya menjadi bangunan megah ini,' jelasnya.

"Lalu, apalagi yang kau ingat?" ia menghentikkan pencarian melalui jaringan internet. Membalikkan tubuhnya kemudian menghadap kearah si hantu.

'Bau ramuan obat-obatan'

"Selain itu?"

'Tidak ada, diruangan itu hanya ada tubuhku dengan balutan kain putih diatas sebuah batu besar yang menjadi pembaringanku, dan disana ada dia..'

"Dia yang kau maksud, kekasihmu?"

Si hantu mengangguk.

"Hmm, ruangan gelap dengan ukuran yang kecil, bau obat-obatan, serta batu besar? kira-kira dimana itu?" gumamnya memikirkan.

"Oh ya, bagaimana kau bisa berakhir disini, jika terakhir kali kau mengingat keberadaanmu di sebuah ruangan yang bukan rumahmu?"

'Entahlah, aku hanya merasa sebuah tarikan besar hingga sampai di sini, itupun terjadinya hari ini' ujarnya juga merasa bingung.

"Tunggu dulu, kau merasa ada sesuatu yang menarikmu ke sini begitu?"

Si hantu mengangguk untuk membenarkan jawabannya.

"Dan itu terjadi hari ini?"

Si hantu mengangguk lagi.

"Sepertinya ada yang janggal disini,"

Ia berdiri, melangkah ke sebuah laci di dekat tempat tidurnya, mencari kertas dan bolpoint.

"Coba kita susun,"

"Pertama, aku datang sekitar pukul 09.00 di kota ini,"

"Kedua, aku sampai satu jam kemudian di rumah ini,"

"Ketiga, aku mendengar kau memanggilku ketika melangkah di halaman rumah ini,"

"Keempat, aku mendengarmu lagi ketika aku berada di kamar ini,"

"Sekarang giliranmu,"

"Pertama, apa kau berada di sini pada pagi hari ketika aku baru tiba di kota ini atau ketika aku baru memasuki rumah ini?"

'Aku rasa mulai dari pagi hari ketika kau di kota ini, karena aku merasakan tarikan yang kuat setelahnya'

"Ok, berarti saat aku berada di kota ini kau merasakan sesuatu yang kuat menarikmu keluar begitu?"

Si hantu menganggukkan kepalanya.

"Baiklah, jawabannya ku kunci, kemudian, saat pertama kau di sini apa yang kau lihat?"

'Taman. Aku melihat taman di depan rumahmu, saat itulah aku memanggilmu,'

"Ok, itu bisa menjadi jawaban atas pertanyaanku yang ketiga. Jadi, pertama kau ditarik ketika aku ada di kota ini, kedua, kau muncul pertama kali ditaman ini, ketiga, kau langsung memanggil namaku…"

"Tapi ada satu yang terlewat, dari mana kau bisa tau namaku Naruto?"

'Entahlah, namamu begitu saja terbersit di kepalaku,'

"Hmm, ini aneh…"

"Oh ya, dulu semasa kau masih hidup apa kau ingat ada suatu tempat seperti itu? dimanapun itu, aku yakin tempat itu tak jauh dari kota ini—ah, lebih tepatnya rumah ini,"

'Hmmm… aku rasa ada, kalau tak salah dekat dengan rumahku ada sebuah sumur tak terpakai,'

"Ok, tunjukkan jalannya padaku, kita kesana sekarang," ia melangkah menuju lemari, mengambil coat berwarna coklat tua, dan sebuah syal berwarna merah, serta topi untuk menghangatkan tubuhnya.

Kemudian ia keluar bersama sang hantu, mencari sebuah sumur tua yang kini telah berubah menjadi ruang bawah tanah.

"Hei, kau yakin ini tempatnya?" teriaknya ketika ia hanya mendapati sebuah rumah kecil mirip paviliun.

'Um, aku yakin, dulu disini sumurnya tepat di sebelah rumahku'

"Tapi kau lihat sendiri, ini bukan sumur melainkan nampak seperti gudang bagiku,"

'Mungkin sumurnya di kubur dan dijadikan gudang?' ujar si hantu.

"Aku akan mengecek kedalam!" serunya lagi. Ia segera menurunkan kayu besar sebagai pengganjal pintu, kemudian memasuki ruangan yang sangat gelap dan berdebu, untung saja ia sempatkan membawa sebuah senter sebelum meninggalkan kamarnya yang hangat.

'Kurasa kita harus hati-hati…'

"Yeaah aku tahu, hantu pirang," balasnya sambil mmeutar bola matanya.

Ia mengarahkan senternya ke sekeliling gudang, yang ia temukan hanya tumpukan kardus-kardus serta barang bekas lainnya. Debu, jarring laba-laba, kecoa, tikus, lalat, ia temui.

TUK

Sesuatu membentur kakinya.

Ia menunduk menolehkan kepalanya kearah bawa searah senter yang ia pegang.

Dan ia menemukan sebuah pintu kayu.

"Sepertinya aku menemukan ruang rahasia," gumammnya.

Ia berjongkok, membersihkan debu diatas pintu kayu itu.

"Ada tulisannya," ia melirik kearah si hantu.

'Kurasa aku bisa membantumu membacanya,'

Ia pun mengangguk, mengiyakan tawaran si hantu.

'Semakin kau melangkah untuk mencari tahu, rahasia itu akan semakin jauh untuk kau gapai. Namun, jika keteguhan hatimu lah yang menuntunmu, rahasia itu akan terbuka. Kesempatan hanya sekali, jangan pernah tertipu oleh kata-kata ini. Jika, hidupmu tak ingin berakhir dengan tragis. Salam: SUN'

"Hei, apa maksudnya itu?!"

Si hantu menggeleng.

'Apa kau ingin melanjutkannya naru?'

"Tentu saja bodoh, tinggal sedikit lagi," ia kemudian membuka pintu kayu itu. suara decitan nyaring terdengar.

Setelah terbuka sepenuhnya, ia berdiri.

"Aku akan masuk sekarang,"

Si hantu mengangguk, walaupun rasa takut membayanginya.

Ia sempat mendengar si hantu mengucapkan kata, 'hati-hati' untuknya.

Dengan perlahan ia melangkahkan kakinya menuju ke ruangan di bawah pintu kayu itu. Ia arahkan senternya ke tangga lapuk yang kini ia pijak. Gelap. Ia tak bisa melihat apapun didalam sana. Tangan kanan yang tak memegang apapun menempel ke tembok yang terasa kasar, mungkin puluhan ribu bakteri akan mengumpul di tangannya nanti, 'Sepertinya aku harus mandi susu nanti,' pikirnya dalam hati.

Ia semakin dalam memasuki ruangan itu.

TAP

Kali ini ia berpijak di lantai ruangan. Tak ada tangga lagi. Lantai itu bertekstur kasar, dengan banyak lubang di sana sini. Hanya di lapisi paving, tanah yang berwarna coklat pekat masih bisa terlihat dari beberapa lubang yang berada di sekitarnya.

"Ini ruang bawah tanah…" ujarnya pelan.

'Aku merasa taka sing dengan tempat ini naru,'

Sang hantu melayaang kesana-kemari, meneliti tiap sudut ditempat itu.

Ia berusaha melihat apa yang tengah ada di dalam ruangan itu. Cahaya dari senternya tak banyak dapat membantu. Hanya sepersekian bias cahaya yang dapat membantu melihat sedikitnya kondisi ruangan yang telah ia pijak saat ini.

"Aku rasa ini hanya ruangan kosong," ujarnya lagi. Ia arahkan senter itu ke tiap sudut ruangan yang sangat kecil, tak ada barang apapun disana, kecuali sebuah batu yang berukuran cukup besar dan panjang.

Dengan perlahan ia mendekat kearah batu itu. Dengan bantuan senter kecilnya, ia berusaha melihat batu apa itu.

' Aku pernah melihat batu ini,'

Ia memandang penuh tanya kearah sosok transparan itu.

Ia bisa melihat batu yang berukuran setengah dari ukuran badannya itu berdiri tegak. Dengan debu-debu yang menghiasnya.

Ia melangkah lebih dekat ke batu tersebut. Mengarahkan cahaya senternya secara penuh, ia mengusap permukaan batu yang ternyata tak rata itu.

Tunggu—ada seseuatu yang tertulis disana.

Disipitkan sedikit matanya agar bisa membaca dengan lebih jelas tulisan yang tertera disana.

"Kekasihku Tercinta Namikaze Naruto"

Your Demon SU

Ia melirik ke arah sosok transparan itu.

"Jadi namamu Namikaze Naruto?" dan si hantu itu menganggukkan kepalanya, 'Ia' sosok itu memandang sendu ke arah batu bertuliskan namanya itu.

"Aku rasa batu ini memiliki petunjuk," ia kemudian mengarahkan senternya untuk memeriksa batu besar itu.

Namun, beberapa kali ia meneliti batu itu, tak ada hal yang bisa ia jadikan petunjuk.

"Kita menemui jalan buntu, Namikaze," ujarnya. Ia tak ingin memanggil sosok di hadapannya dengan 'Naruto', ia merasa tak nyaman. Merinding geli lebih tepatnya.

'Kurasa…..' lagi sosok itu menatap sedih ke arah batu yang berada tepat disampingnya.

"Aku sedikit terkejut, nama ku dan namamu sama-sama Naruto, hanya berbeda marga," ia menyandarkan tubuhnya ke tembok dibelakangnya.

'Kurasa ini yang namanya takdir, mungkin…'

"…" menerawang sejenak.

"Mungkin…." Jawaban lirih dan sedih terdengar darinya.

"Tapi ku—" entah apa yang ia senggol atau injak, yang pasti batu besar itu bergeser ke kanan, dan membuat sebuah pintu di belakangnya terbuka. Ya, pintu batu yang otomatis.

Untungnya ia bisa menyeimbangkan tubuhnya dengan baik, ketika tembok yang ia gunakan sebagai sandaran bergerak.

'Kau tak apa-apa?' cemas sang hantu. Ia mengangguk kecil, menepuk-nepuk pundaknya yang tertutupi banyak debu.

"Kita lihat apa yang ada di dalam," ia membenarkan pegangan pada senternya, mengarahkan ke depan. Sosok transparan itu mengikuti dengan diam. Sebenarnya, sosoknya yang sudah transparan, kini terlihat semakin transparan, sayangnya ia ataupun sosok itu tak menyadari perubahan itu. Kurangnya pencahayaan adalah faktor utamanya.

"Ck, ruangan ini lebih gelap dari yang tadi," ujarnya.

Kali ini ia memasuki ruangan yang lebih besar dari yang tadi, hanya saja, gelapnya lebih gelap dari ruangan tadi. Tak hayal beberapa kali kakinya membentur sesuatu dalam ruangan itu.

"OUCH!" pekiknya sakit ketika ia membentur sesuatu yang mirip sebuah kaki meja.

'Kau tak apa-apa naru?' si hantu terbang melayang ke sampingnya. Ia mengangguk sebagai jawaban ia. Ia hanya meringis menahan sakit.

Ingin mengetahui apa yang ia tabrak tadi, ia mengarahkan cahaya senternya ke dekat kakinya.

"Apa itu?" ujarnya pelan.

Cahaya senternya menyorot ke sesuatu yang mirip dengan batu, namun warnanya bukan hitam ataupun abu-abu, ini seperti batu namun berwarna biru. Biru yang terlihat kusam. Penasaran, ia menaikkan cahaya senter dengan perlahan.

"AAAKKKKHHH!" teriaknya kencang, senter ditangannya terjatuh.

Disana tak jauh dari tempatnya berdiri, terdapat sesosok tengkorak, dengan keseluruhan pakain berwarna putih, compang-camping serta dibawahnya berserakan banyak botol-botol, buku-buku serta tulang belulang. Ia takut sekaligus ngeri. Ternyata ada tempat seperti ini di bekas rumah orang tuanya.

"I—i—iitu, disana, ada tu—tubuhmu," ujarnya dengan nafas memburu takut.

"…."

Hening tak ada sahutan dari sosok transparan itu.

"O—oi, namikaze…." Ia mengedarkan pandangan ke sekelilingnya.

Sunyi.

"O—oi, jangan bercanda! Keluar kau namikaze!" teriaknya kalut, takut, ngeri.

Ia terus berteriak. Namun, suara yang bisa di dengarnya kini menghilang.

"Kau, brengsek, keluar kau!" teriakan putus asa di tengah rasa takut yang menghampiri.

'Naru, aku disini… tepat disebelahmu… kenapa? Kenapa kau tak melihatku, kenapa kau tak mendengarku naru? Aku disini' sosok itu tidak menghilang—belum. Hanya saja, ia tak bisa melihat dan mendengar lagi suara itu. Mungkin kerena sosok itu tepat berada di hadapannya. Atau mungkin juga batas waktunya di dunia ini akan segera habis.

Mereka sama-sama berteriak, memanggil nama masing-masing. Namun, suara itu tetap tak sampai. Tak ia dengar.

"Kau kejam! Kenapa kau meninggalkanku disini sendiri hah?!" teriaknya. Tubuhnya semakin bergetar. Menggigil ketakutan. Senter yang tadi ia pegang menghilang entah kemana. Kini hanya gelap menyelimuti, di temani dengan sosok mayat yang hanya tinggal tulang tengkorak di atas pembaringan itu.

"Hiks… hiks… siapapun tolong aku…."

"Kaasan… tousan…."

"Kiba….."

"Hikss… tolong aku, aku takut… hiks… hiks…"

"Na—ru—to…" suara baritone terdengar mengalun lembut di telinganya.

Ia mendongak, namun tak melihat siapapun disana. Hanya gelap.

"Kau kah itu dobe?" lagi, suara baritone itu mengalun lembut.

"Si—siapa kau?!" teriaknya takut, ia menutup wajahnya sambil berteriak.

WUSHHHHH—

Dalam sekejap ruangan itu terang. Api menyala di setiap obor yang tertanam di dinding ruangan.

Rasa hangat yang menerpa wajahnya, membuatnya membuka tangannya, memberikan celah wajahnya untuk melihat apa yang telah terjadi.

"Kenapa, bisa terang?" gumamnya begitu melihat ruangan yang bercahaya. Ia seakan lupa dengan apa yang telah terjadi dan telah ia lihat beberapa menit lalu.

"Do—be!" suara baritone itu kembali terdengar.

"Siapa disana!" teriaknya takut. Ia melihat ke sekeliling namun tak menemukan wujud si pemilik suara. Sekejap ia teringat dengan sosok tengkorak yang terbaring, ruangan gelap, dan sendirian. Takut kembali menjalar.

Begitu melihat pintu yang tadi ia masuki sedikit terbuka, ia melesat cepat kearah sana.

"Aku harus keluar!" pikirnya.

Namun, sesuatu tak kasat mata menghalangi langkahnya. Tinggal sedikit lagi ia mencapai pintu itu, tapi tiba-tiba, ruangan itu berubah.

Pijakan yang kasar dan tak beraturan berubah menjadi datar, ruangan yang gelap dan sempit berubah menjadi ruangan besar dengan pencahayaan yang maksimalis. Ini bukan ruangan tempatnya tadi berdiri.

"Dimana aku?!" ujarnya rendah.

"Aku sangat merindukanmu, dobe," hembusan nafas hangat serta rangkulan dari belakang membuatnya jantungan.

Tangan alabaster yang kini merangkul perutnya dengan erat, tak membiarkan sedikit pun ruangan yang tercipta.

"Lepp—pass—kannnn!" ia berusaha melepaskan rangkulan tangan itu. Susah. Bagaikan mengangkat beribu-ribu ton batu.

"Aku tak akan melepasmu lagi, sekian lama aku menunggumu, bagaimana mungkin aku melepasmu…" nada sedih terdengar. Membuatnya merasa sakit.

"Aku tak mengenalmu. Jadi lepas!" masih keukeuh berusaha melepaskan diri. Ia memukul-mukul lengan itu dengan sekuat tenaga.

"Lepaskan aku brengsek! Aku bukan orang yang kau cari!" masih memukul-mukul tangan kekar yang melingkar apik di pinggang rampingnya.

"Pukulah, karena aku akan menerima apapun yang kau lakukan pada tubuhku, tapi satu hal aku tak akan melepasmu…" ujar lelaki yang tengah merangkulnya.

"Baik, jika itu yang kau mau," ujarnya menghentikan pukulan yang ia layangkan ke tangan alabaster itu.

"Aku akan menggigit lidahku sampai mati!" ujarnya. Lelaki yang memeluk tubuhnya terkejut. Lelaki itu dengan cepat membalikkan tubuhnya. Ia yang tengah memejamkan mata sambil menggigit lidahnya juga terkejut dengan perlakuan si lelaki itu. Jari-jemari si lelaki menekan pipinya dengan tekanan yang cukup keras. Ia yang masih memejamkan mata menolak untuk melihat kearah si lelaki.

"Jangan. Pernah. Kau. Lakukan. Itu!" suara dingin yang menekan membawa hawa yang mencekam.

"…" tapi, ia terlalu keras kepala. Masih tak mau melepaskan gigitan pada lidahnya.

"Berhenti menggigiti lidahmu dobe!" perintahnya.

Ia menggeleng sebagai jawaban 'tidak'.

"Cepat lepaskan!" si lelaki masih bersikeukeuh untuk menyuruhnya melepaskan lidah itu dari gigitan gigi-giginya.

Lagi, ia menggeleng.

Nampaknya si lelaki sudah tak tahan dengan sikap keras kepalanya. Lelaki itu kemudian melepaskan cengkeraman dari pipinya. Dengan cepat, lelaki itu menempelkan bibirnya ke bibir dihadapannya. Ia terkejut, safir itu terbuka lebar. Bibirnya dilumat dengan ganas oleh si lelaki. Kesal. Ia pun berontak. Menggeleng-gelengkan kepalanya ke kiri dan kanan. Berusaha melepaskan bibirnya dari bibir si lelaki. Namun, sebuah cengkeraman di sisi pipi kanan dan kirinya membuat ia tak dapat bergerak, hal itu membuat mulutny sedikit terbuka. Dengan sukses, lidah si lelakipun menelusup kedalam gua hangat berlendir itu. Bunyi kecipak terdengar cukup keras. Ia yang tadinya melakukan segala cara agar terlepas dari si lelaki, kini lumer seperti jelly. Tangan dan kakinya lemas. Untung saja tangan kekar di pinggangnya membuat ia masih tetap berdiri. Matanya kini sayu, darah akibat gigitan dari giginya sudah bersih disapu oleh lidah si lelaki. Luka bekas gigitan itu pun kini telah hilang. Entah, mungkin efek French kiss dengan si lelaki tanpa nama.

"Nggggg~" lenguhan terdengar dari sela-sela ciuman yang masih berlangsung.

Si lelaki menghentikan kegiatan itu dengan sepihak, untaian saliva terlihat ketika ia memutus ciuman itu,"Rasamu tak berubah dobe," si lelaki menatap intens kearahnya, wajah sayu, semburat merah di pipi, bibir merah yang membengkak, sedikit air mata di pelupuk matanya. Penampilan yang kacau, seandainya si lelaki kehilangan kerasionalannya mungkin detik itu juga ia akan menggagahi tubuh yang sudah sangat di rindukannya. Tubuh sang kekasih hatinya.

"Tidurlah, aku akan menjagamu…" setelahnya, safir itu menutup dengan perlahan. Si lelaki menegcup keningnya dengan lembut. Mengucapkan selamat malam.

Si lelaki menatap rindu ke wajahnya, mengusapnya pelan.

"Kali ini aku tak akan meninggalkanmu, dobe."

Perlahan, kedua sosok itu menghilang. Begitu juga dengan sosok tranparan yang lebih dulu menghilang ketika ia berteriak memanggil si hantu. Ruangan itu kembali ke bentuk semula. Gelap dan pengap. Tubuh yang berada di pembaringan itu perlahan melebur, menjadi abu, bersamaan dengan menghilangnya sosok transparan yang dahulu berada dalam tubuh itu.

Dan, malam pun datang menjemput.

Ruangan itu telah terkubur. Kali ini tak akan ada yang bisa memasukinya lagi.

Seperti sosok transparan yang menghilang, ruangan itu pun menghilang. Tak meninggalkan jejak satupun. Seolah ditelan bumi. Hanya, sebuah batu yang berdiri tegak. Sebagai pertanda bahwa dulu, ruangan itu pernah ada. Begitu juga kisah pemilik nama dalam batu itu. Yang kini dilanjutkan oleh keturunannya.

'Uzumaki Naruto'

.

.

.

The End (?)

Hoaaaaa, akhirnya, ini sequelnya… hahaha, maaf kalau jadi gaje gini ceritanya heheheheh….

O ya walaupun telat, merry christmast n happy new year all~

Thanks buat yang udah ngereview ya, maaf belum bisa balas atu-atu.. maklum lagi crodit hehehe..

O ia, ini fic emang terlalu cepet, coz perasaan ku terlalu menggebu-gebu ketika buatnya jadi ampe ga nyadar kalo alurnya kecepetan hahaha….

.

.

.

Psssttt… ini masih belum end lho~ hehehe, kalian kena tipu~ pftttttt…. :3 gomenne….

Jaa, matte kudasai ne~