Warning : Crack (SingaporexMyanmar), cuma parodi iseng di malam minggu.

Disclaimer : Hetalia bukan milik saya.


DRAMA SIANG

by Antichthon

.

HORROR MOVIE: MONSTER KILLER


.

.

.

Di pagi hari sebelum ia dikutuk dan dikejar-kejar setan, Singapura bermonolog sambil melihat langit dari luar jendela kelas. Bangkunya memang tepat berada di samping jendela, di tengah agak ke belakang barisan. Posisi strategis agar tokoh utama bisa melamun melihat langit sambil bermonolog tentang betapa hidupnya membosankan, tanpa harus terkena lemparan kapur gurunya. Kamera zoom in dari luar kelas menuju sosok Singapura di samping jendela.

Aaah, sungguh hidup ini membosankan, pikirnya dalam hati, tanpa tahu bahwa itu adalah monolog yang menjadi penanda dimulainya tragedi.

Namaku Singapura, 15 tahun. Aku hanya anak SMA biasa. Keluargaku pun biasa, dengan orang tua, kedua kakak laki-laki, dan seorang adik laki-laki. Andaikan saja ada yang menarik dalam hidupku ini…

Tidak sopan mengganggu monolog tokoh utama, jadi setelah Singapura selesai bermonolog tentang perkenalan dirinya, kesehariannya, dan kenyataan kalau hidup membosankan, barulah bel tanda kelas selesai berbunyi.

.

"Halo, cantik~" goda Myanmar di jam istirahat sekolah.

"Huh, apa sih!" Singapura cuek dan jutek sambil mendorong cowok tersebut.

Dan sepuluh menit disia-siakan untuk menunjukan adegan dorong-dorongan yang komikal tapi romantis, lengkap dengan sfx jantung berdebar ketika Myanmar menangkap Singapura yang kepeleset.

Adegan selama 1/12 bagian film berdurasi dua jam ini bertujuan agar penonton tahu bahwa tokoh utama akan punya pacar.

.

.

.

Indonesia, Malaysia, dan Singapura tengah berada di dalam suatu gudang gelap yang lembab di sudut sekolah. Ada satu alasan mereka di sana: menguji nyali untuk mengecek suatu peti harta. Peti harta itu konon menyimpan kutukan dan monster menakutkan.

Sebagai para tokoh utama para cerita horror, ketiga orang remaja ini melakukan apa yang seharusnya tidak dilakukan: mau membuka peti tersebut.

"Ngomong-ngomong, kenapa kita mau membuka peti harta ini?" Malaysia penasaran.

Kenapa tiba-tiba mereka melakukan uji nyali? Kenapa harus repot-repot kembali ke sekolah di malam hari, padahal kalau mau uji nyali juga bisa langsung ke kuburan?

Dan lagi kenapa mereka bisa menyelinap dan menemukan kunci gudang dengan begitu mudahnya? Kemanakah perginya satpam sekolah ketika tugasnya adalah menjaga? Mungkin karena tuntutan plot.

"Karena kita remaja dalam cerita horror." Indonesia menjawab sambil membuka gembok dengan perkakas yang secara kebetulan sekali berada di dekat situ. "Remaja dalam cerita horror itu semuanya merasa bosan dengan hidup, serba ingin tahu, dan cari mati. Padahal jelas-jelas suatu hal dilarang karena punya alasan."

Benar. Padahal mereka sudah dilarang oleh banyak orang agar jangan mendekati gudang ini. Bahkan kakek-kakek misterius yang muncul di jalan pun memperingatkan mereka akan hal ini. Tapi yang namanya remaja dalam cerita horror misteri, mereka semua maso dan kepo, dan baru akan menyesal di pertengahan cerita kalau sudah masuk bagian kejar-kejaran.

"Lebih baik kita berhenti saja." Sebagai tokoh utama, Singapura bersikap menentang.

"Sudah, tidak apa-apa." Sebagai tokoh yang nantinya akan mati paling pertama di antara bertiga, Indonesia bersikap bodoh.

"Siap?"

Indonesia membuka kotak, dan… tidak terjadi apa-apa. Kotak itu kosong.

Lalu pulanglah mereka tanpa dosa telah mengeluarkan prahara. Setelah mereka pulang, barulah di gudang itu ada suara aneh.

.

.

.

Untuk menunjukkan keganasan monster pembunuh, seorang figuran bernama Monaco yang mana dosanya hanyalah kebetulan pergi ke sekolah paling pagi, terbunuh dengan cara yang sadis. Tentu saja dia tidak langsung dibunuh.

Dia berkejar-kejaran dulu semenit-dua menit dengan sang monster dilatari music JENGJENGJENGJENGJENG, berteriak minta tolong, tapi tidak ada yang menolong karena takdirnya sudah digariskan untuk mati demi menunjukkan seberapa brutal film ini untuk pertama kali.

"Tolooong!" Monaco berteriak di koridor sekolah yang tak berujung. "Kenapa aku yang mati!? Apa karena aku figuran yang bahkan tidak disebutkan namanya dalam film?" ratapnya. Benar-benar tidak ada siapapun di sekolah itu, seekor kucingpun tidak.

Ia lalu terpeleset menuju ajal di saat yang tepat.

Tentu saja monster bersangkutan tidak terlihat jelas sosoknya, hanya sepotong-sepotong. Misalnya giginya, cakarnya, atau matanya saja. Bahkan cara pembunuhan sang figuran dilakukan di balik layar, hanya diperlihatkan percikan darah dan sound effect yang bersaing dengan kerasnya teriakan sang figuran dan suara JENGJENGJENGJENG.

Yang menemukannya adalah satpam sekolah yang baru lewat ketika almarhumah sudah mati.

.

.

.

Beberapa korban figuran lain berjatuhan dengan kondisi yang makin mengenaskan di lokasi berbeda-beda, termasuk kamar mandi, karena setiap film horor pasti ada adegan darah di kamar mandi. Polisi tak berguna karena ini bukan perbuatan manusia. Atas tuntutan adiknya yang menyalahkannya, Indonesia harus memeriksa kembali gudang tersebut untuk mengecek peti. Diam-diam, karena takut dimarahi. Sendirian malam-malam, karena ini film horror yang selalu menempatkan tokohnya dalam setting seseram dan segelap mungkin.

Ketika memeriksa peti harta di gudang, seorang kakek-kakek misterius yang beberapa adegan sebelumnya sudah muncul berjalan dari kegelapan dan memperingatinya.

"KAU AKAN MATIII…" Dan sebelum sempat bertanya dari mana sang kakek muncul, kakek tersebut sudah hilang. Hanya meninggalkan petunjuk bagi penonton bahwa tokoh tersebut bukan hanya kakek random yang kebetulan lewat melainkan terhubung langsung dengan monster dalam peti. Sebagai seorang tokoh malang yang bertendensi bodoh, dia hanya mengangkat bahu dan mengecek peti, seakan disumpahi akan mati oleh orang asing itu hal biasa.

Untuk memperseram suasana, senter Indonesia mati. "Wah kok mati padahal masih baru…"

Untuk memperseram suasana, ada suara krieeet pintu. "Wah kok ada suara pintu padahal tadi kututup rapat…"

Untuk memperseram suasana, ada suara geraman.

"GRAAAAA."

Indonesia terdiam. "Wah, seperti suara kalau monster akan muncul dalam film."

Indonesia menengok. Lalu muncullah sosok sang monster secara utuh untuk pertama kalinya.

.

"TIDAAAK!"

Indonesia lari menaiki tangga ke atap sekolah, dikejar-kejar monster tersebut. Padahal sudah jelas kalau lari ke atap tidak ada jalan keluar. Entah kenapa, para karakter cerita horror punya tendensi lari ke atas dan bukannya ke bawah.

"BODOH KENAPA AKU KE ATAP! SEKARANG AKU BENAR-BENAR AKAN MATI! MEMANG AKU DISETTING MATI TAPI TIDAK KUSANGKA SECEPAT INI!" Indonesia baru ingat bahwa atap di film horror adalah tempat orang dibunuh atau bunuh diri.

Dan benar saja, ia pun terbunuh. Setelah menghindari monster dalam suatu adegan penuh ketegangan di ujung atap sekolah, lengkap dengan bergelantungan di atap sekolah, Indon pun jatuh dari atap. Kepala mayatnya secara ajaib tidak pecah berhamburan, tapi masih utuh dengan darah di tanah. Hujan turun dengan dramatis dan membasahi mayatnya, hingga darah mengalir ke selokan.

.

.

.

Singapura menangisi jasad kakaknya ketika akan dimakamkan. Hujan masih turun karena ini adegan pemakaman. Semua orang berdatangan, termasuk Myanmar sebagai calon pendamping tokoh utama.

"SINGAPURA! INI SALAHMU KARENA MENYURUH INDON PERGI SENDIRIAN!" Malaysia tiba-tiba menuduh Singapura, padahal dia juga membiarkan saudaranya pergi sendirian. Tapi untuk memunculkan sub-plot drama antar saudara, ia pun langsung marah-marah seperti itu dan menolak bersikap rasional. Dia bahkan menitikkan air mata, persetan dengan karakter realistis dan sikap tak peduli yang dia tunjukkan sebelumnya.

Iapun menampar Singapura. Padahal tamparannya tidak sekeras itu, tapi Singapura sampai terpuruk ke lantai, karena tuntutan naskah yang mengharuskan reaksi apapun terjadi secara berlebihan.

"AKU TIDAK TAHU AKAN TERJADI HAL SEPERTI INI…!" Singapura histeris. "Kalau saja kalian tidak pergi membuka peti tersebut…!"

"Heh, kau mau menimpakan kesalahan pada Indon ya!?" Malaysia murka. Ekstra air mata. "Biar kuberitahu saja… Walaupun sama sekali tidak diberi petunjuk apapun dalam film, tapi demi memperbesar drama dan biar pertengkaran kita semakin dramatis, akan kuberitahu kalau kau CUMA ANAK ANGKAT!"

Jeger. Petir di siang bolong. Dunia Singapura hancur dan kata-kata kakaknya membuatnya hampir pingsan. Tapi tenang saja, ada Myanmar yang sigap menonjok Malaysia karena menyakiti perempuan yang dia cintai. Tawuran pun terjadi. Adik laki-laki Singapura dan Malaysia, Brunei, menengahi (dan cuma muncul satu adegan itu saja).

.

.

.

Singapura memutuskan bahwa ia muak dengan semua ini dan akan mengakhiri segalanya. Hanya berbekal keberanian dan tekad, dan senter yang nantinya akan mati beberapa waktu kemudian, ia pun pergi ke sekolah di malam hari. Niat ingin mengakhiri, tapi jangankan rencana, senjata pun ia tak bawa. Karena berkejar-kejaran lebih seru jika korban tak berdaya.

Ia tengah menyusuri koridor gelap dengan senter (satpam sudah mati beberapa adegan yang lalu) ketika suara kakek-kakek misterius terdengar.

"Jangan menengok."

Dari belakang, terdengar suara lirih tak dikenal.

Singapura menengok, padahal sudah diperingatkan oleh monster/hantu/pembunuh/apapun itu untuk tidak melakukan hal tersebut. Akibatnya, ia dikejar. Ia berlari dari kelas ke kelas, ke koridor, bahkan sempat menyemprot monster tersebut dengan pemadam api dalam pergulatan yang sangat seru. Tapi apa daya, ia hanyalah gadis biasa yang perlawanannya cuma seadanya.

Barulah Myanmar sang penyelamat datang, sengaja datang ke sekolah karena tahu gadis itu menyelinap malam-malam. Kenapa ia baru muncul sekarang? Karena jagoan baru boleh muncul ketika suasana genting.

"Myanmar!"

"Halo cantik!" Myanmar sempat ngaceng setelah memukul monster tersebut dengan kursi kayu. Agar memberi waktu bagi sepasang remaja itu untuk memajukan hubungan mereka. "Aku melihatmu keluar dari rumah dan menuju ke sekolah."

"Kamu mengikutiku…? Kenapa?"

"Aku selalu memperhatikanmu."

Bukannya seram karena Myanmar positif stalker, Singapura malah terpesona. Bahkan mereka sempat tatap-tatapan penuh arti, dan Myanmar sempat mengulurkan tangan ingin menarik gadisnya itu, sebelum monster itu bangkit dan mengejar kembali mereka berdua.

Tentu saja, mana seru cerita jika monster bisa mati karena pukulan benda tumpul.

.

Setelah berkejar-kejaran beberapa kali, lengkap dengan adegan Singapura terpeleset di saat yang tidak tepat dan Myanmar hampir dimangsa monster, akhirnya mereka bisa bersembunyi.

Sebagai seorang gadis biasa, walau tahu ia takkan mati karena tokoh utama, Singapura tetap terguncang jiwanya. "A-Aku takut!"

"Tenang, Sing!" Myanmar mencoba menenangkan gadis itu sambil merangkulnya. Mereka tengah bersembunyi dari monster tersebut di ruangan guru. Penampilan mereka sudah berantakan dengan darah, sobek, dan tanah. Punggung pemuda itu bahkan sudah robek terkena cakaran monster, tapi yang bersangkutan sepertinya sudah lupa ia terluka. Kalau berpikir positif, pacuan adrenalin memang membuat manusia lupa rasa sakit.

"B-Bagaimana ini? Kita pasti mati." seguk. "Kita akan mati seperti Abang Indo!"

"Sing!" Pemuda itu mencengkram kedua bahu sang gadis. Mereka saling bertatapan. Sinar rembulan masuk dari jendela. Musik latar berubah jadi piano instrumental. Wajah Myanmar yang berdarah dan kotor mendadak jadi lebih tampan beberapa lapis. "Aku pasti akan melindungimu, Sing."

"Myanmar…"

Memang tidak ada yang paling mudah dimodusin selain gadis remaja yang ketakutan. Walau dikejar monster, adegan romantis tetap harus ada, seberapapun tidak tepat waktunya ia dilakukan. Barulah ketika mereka hampir berciuman, suara monster menandakan ia ada di depan pintu ruangan.

.

"Kyaaa!"

"Awas, Sing!" Mereka bertiga (Singapura, Myanmar, monster) berkejaran dalam adegan yang sekarang mulai redundan sehingga di antara para penonton mungkin sudah ada yang mengecek Facebook lewat handphonenya. Adegan kejar-kejaran ini kadang diselipi kejutan-kejutan seram, biasanya close up monster secara tiba-tiba atau sfx yang volumenya dibesarkan mendadak.

"Kyaaaaa!" Singapura diujung tanduk. Secara harafiah. Tanduk si monster bergegas meluncur menuju dirinya. Dan dalam sepersekian detik, lengkap dengan sfx CRAASSS, ada yang menjadikan dirinya tameng. Dia adalah… Malaysia. Yang entah muncul dari mana. Tanpa peringatan, tanpa pemberitahuan. Beberapa penonton terkejut, yang lainnya memasang wajah WTF.

Myanmar memukuli monster itu dengan kursi hingga pingsan. Bukannya memanfaatkan momen ini dan membunuh si monster entah dengan apa, ia dan Singapura malah melarikan Malaysia yang tertusuk tanduk di dada ke tempat aman.

"Kak Malay! Jangan mati!"Singapura yang histeris melihat kakaknya bersimbah darah, mengguncang tubuh kakaknya. Padahal siapapun tahu bahwa tidak baik mengguncang orang yang sedang cidera berat.

"Sing…Maafkan aku, Sing…" Malaysia menggenggam tangan adiknya. Di belakang Singapura, Myanmar hanya melihat dalam diam. Dia tidak punya dialog karena sekarang adalah momen menyentuh yang memperlihatkan betapa dalamnya persaudaraan kedua kakak-adik tersebut dan betapa Myanmar menyesali perbuatannya menampar Singapura yang memang sangat out of character. Buktinya, monster tersebut tiba-tiba sudah tidak mencari mereka lagi padahal sedari tadi ketiganya dikejar monster bersangkutan. Mungkin masih pingsan off-screen.

"Maafkan Kakak tidak bisa menolongmu Sing… Ohok!" Muntah darah dramatis.

"Kak Malay!" Singapura menangis, hancur. Air matanya dengan tepat mengenai wajah berdarah Malaysia. Lalu ia mengeluarkan kalimat klise ketika ajal seseorang sudah dekat: "Jangan berkata apa-apa, Kak…"

"Sing… Dengarkan aku… Waktuku muncul sudah habis… Ending film ini sudah dekat..." Matanya menerawang. "… Aku harus mati agar penonton sedih…"

"Kakak!"

"Walaupun bukan saudara… Aku sayang padamu." Lalu iapun mati dengan hanya meninggalkan kata-kata maut. Berdarah-darah, tapi wajahnya tenang karena saat itu adegannya mengharukan, beda dengan Indonesia yang matinya tragis sampai kehujanan. Singapura menangis histeris, masa bodoh kalau monster tersebut mungkin bisa mendengarnya.

Setelah menangis-nangis ria, baik sambil merangkul jenazah almarhum Malaysia maupun sambil memeluk Myanmar, Singapura bangkit dan memutuskan untuk mengakhiri semua ini.

.

Mereka memutuskan untuk membakar habis monster tersebut. Karena waktu dua jam durasi film sudah hampir habis, mereka bisa menemukan korek api dan jirigen berisi bensin di lingkungan sekolah dengan mudah. Setelah berkejar-kejaran lagi, ditambah beberapa luka di sana-sini dan musik JENGJENGJENGJENG volume maksimal, dan kata-kata dramatis yang menggambarkan cinta berkembang Singapura-Myanmar, barulah monster berhasil dibakar di lapangan.

Pada akhirnya, walau monster tersebut sudah ditumpas, semuanya terlanjur mati kecuali Singapura dan Myanmar. Singapura menangis di pelukan Myanmar dilatari monster yang terbakar.

Singapura ciuman dengan Myanmar dilatari monster yang terbakar.

Singapura jadian dengan Myanmar dilatari monster yang terbakar.

.

.

.

.

.

Epilog

Tiba-tiba, beberapa waktu sudah berlalu. Bisa berbulan-bulan, bisa bertahun-tahun. Singapura dengan rambut yang lebih panjang (untuk menandakan bahwa ini epilog) menaruh karangan bunga di kedua makam kakaknya.

Tiga tahun sejak kejadian itu…

Ia pun bermonolog sendiri menceritakan kehidupannya setelah kejadian tersebut. Kalau dia sudah sekolah lagi dan sudah pacaran dengan Myanmar. Bahwa ia merindukan kedua kakaknya. Bagaimana dengan adiknya? Tidak diceritakan.

Di belakang, ada Myanmar.

Lalu angin berhembus.

.

Dari suatu tempat, terdengar suara familiar yang selalu muncul ketika monster itu datang ditambah pemunculan kakek misterius yang mengamati Singapura dari semua orang yang menonton akan sadar bahwa semua ini belum berakhir. Atau lebih tepatnya, asal-usul peti harta, monster, maupun si kakek lupa diceritakan sehingga harus disambung ke film selanjutnya.

.

.

THE END