A Naruto fanfiction by Aika Umezawa

Standard disclaimer applied


Sakura melirik Sasuke dari sudut matanya dengan wajah menahan tawa sejak lima menit yang lalu. Sudah ada sembilan orang gadis yang menghampirinya untuk bertukar bangku agar bisa duduk di sebelah pemuda paling tampan dalam baris keenam di Auditorium. Tidak ada bangku lain yang memungkinkan untuk para gadis duduk di sebelah Sasuke karena pemuda itu berada di bangku paling pinggir dekat tangga—yang menobatkan Sakura sebagai gadis paling beruntung karena mendapatkan kursi emas itu.

"Kau mau aku pindah?" tanya Sakura setelah gadis kesepuluh meninggalkan mereka dengan kecewa. Sang ceri sudah tahu jawabannya, entah kenapa ia hanya ingin mendengar langsung dari sang Uchiha. Sesekali pemuda itu perlu menggunakan kosakata yang sudah disediakan secara cuma-cuma oleh semesta.

Sasuke tidak menjawab selama beberapa saat, namun sudut matanya melirik gadis di sebelahnya yang mengangkat alis merah mudanya—menunggu sang Uchiha menjawab pertanyaannya.

"Hn," gumam Sasuke setelah sekian menit berlalu.

Sakura tersenyum. Ia menghempaskan tubuhnya ke punggung kursi berlapis beludru tersebut, menyamankan dirinya dengan melipat kedua tangan di depan dada dan melipat kakinya. Sang ceri berkata, "Sesekali kau perlu mengatakan 'tolong' saat kau membutuhkan bantuan, Sasuke. Bukan dengan lirikan mata. Aku bisa salah paham nanti," yang diakhiri dengan kedipan mata.

Sasuke mendelik sebal.


Infinite Loop

Chapter 2: The Beginning


Kepala Sasuke berdenyut.

Sejak keluar dari Auditorium setengah jam yang lalu, perhatian orang-orang yang dilewatinya terpusat padanya dan Sakura. Atau mungkin akan lebih tepat dibilang hanya pada dirinya, kendati tatapan yang didapatkannya sebagian besar berasal dari kaum Hawa. Kepalanya mulai berdenyut ketika kikikan pertama seorang (atau mungkin beberapa) perempuan terdengar bahkan sebelum ia melewati mereka.

"Ups. Sepertinya aku dianggap pengganggu. Apa aku harus pergi ya..."

Kehadiran Sakura pun sama sekali tidak membantu, secara figuratif. Sang ceri tidak terpengaruh dengan tatapan tajam para gadis yang mempertanyakan keberadaannya di samping Sasuke. Bahkan sepertinya gadis itu mendapatkan kesenangan sendiri pada kefrustrasian yang memuncak di balik wajah stoik sang Uchiha. Sumber lain dari sakit kepala Sasuke—ya, si nona Haruno itu. Teman masa kecil dari makhluk bernama Namikaze—Uzumaki—Naruto. Bisa-bisanya berpikir bahwa sang ceri adalah teman senasibnya karena memiliki sahabat macam Naruto. Yah, bukannya ia tidak memperhitungkan kemungkinan tersebut.

Sasuke melirik ke buku panduan yang tengah dibaca Sakura. Gadis itu terlihat saksama menatap tabel yang bertuliskan nama-nama murid tingkat satu. Sepertinya panitia sudah memasukkan susunan pembagian kelas ke dalam buku panduan agar tidak terjadi keributan apabila daftar kelas tersebut ditempel di papan pengumuman. Mungkin. Sasuke belum mengecek isinya. Ia langsung memasukkannya ke dalam tas ketika ia menerima buku tersebut dari tangan siswi senior yang sibuk menatap wajah juniornya (dan enggan melepaskan buku tersebut kepada Sasuke).

"Ah. Sasuke?"

"Hn?"

"Kita sekelas dengan Naruto."

"..."

"..."

"... Sudah kuduga."

Sasuke mendorong rambut depannya ke belakang dengan jari-jarinya. Ia mendengus, kemudian berkata, "Satu-satunya hal yang tidak pernah terjadi selama hidupku adalah tidak bersama Dobe dalam satu kelas. Sesuatu yang berhubungan dengan Dobe biasanya melawan kehendak semesta."

Sakura terkekeh. "Berarti kalian selalu satu kelas, ya. Mungkin kalian ditakdirkan untuk bersama."

Sasuke mendengus. "Not in a billion years."

"Ouch," sahut Sakura datar. Iris viridiannya kembali menelusuri nama-nama di dalamnya. "Wew. Shikamaru juga ada. Ino... Chouji... Kiba... well, doesn't it look like a big reunion, does it?"

Sasuke menatapnya heran. "Kau kenal mereka semua?"

Sakura menutup buku panduannya dan mengembalikannya ke dalam ranselnya. "Yep. Kami teman masa kecil... well, technically aku dan Ino teman sejak lahir. Aku mengenal yang lain ketika masuk sekolah dasar," jelas Sakura. "Kau tahu mereka?"

Belum sempat Sasuke membuka mulut, punggungnya tiba-tiba diterjang seseorang yang memeluknya erat dari belakang. Ia begitu kagetnya sampai tidak sempat menahan keseimbangannya hingga terdorong ke depan dan terantuk dengan kepala Sakura—cukup keras. Keduanya mengaduh dan memegang kepala masing-masing dengan kedua tangan.

"Auww..." rintih Sakura. Dahinya sedikit memerah akibat dentuman dengan kepala Sasuke. Kepalanya berdesing karena guncangan tiba-tiba tersebut. Sasuke sendiri hanya memegangi kepalanya dalam diam, terlalu syok dengan apa yang terjadi barusan. Ia mengutuk siapapun yang mendorongnya—atau tepatnya, memeluknya—walau ia sudah tahu identitas pelakunya.

"Sasuke-kun! Selamat pagi!" seru seorang gadis dengan riang, sama sekali tidak sadar dengan kejadian yang berakibat sesudahnya karena dirinya.

"Sudah kubilang jangan memelukku dari belakang..." gumam Sasuke yang sudah lebih membaik, melepaskan sepasang tangan yang melingkari lehernya. "... Ino."

Gadis yang dipanggil Ino itu merengut, lalu tiba-tiba kembali cerah. Rambut pirangnya mengayun indah, diikat dengan pita ungu membentuk kuncir tinggi. Mata safirnya berkilat jenaka dengan senyum menghiasi wajah cantiknya. "Kalau aku tidak boleh memelukmu dari belakang... dari depan boleh?"

"Tidak," sambar Sasuke cepat.

Ino memanyunkan bibirnya setelah menggumamkan dasar-Uchiha-Sasuke-tidak-bisa-diajak-bercanda dengan kedua tangan terlipat di dada. Sepasang irisnya beralih pada Sakura yang sibuk mengipasi dahinya, belum menyadari kehadiran orang lain selain dirinya dan Sasuke. Dahinya mengernyit, merasa kenal akan rambut merah jambu yang mencolok itu...

"Kaukah itu, Dekorin?" tanya Ino ragu.

"Hm?" Sakura menoleh pada gadis pirang yang terperangah, berkali-kali mengerjapkan mata safirnya. Sang ceri menautkan sebelah alisnya dan berucap dengan sedikit ragu, menyamakan gadis di depannya dengan gadis kecil dalam ingatannya. "Ino-buta?"

Ino menerjang Sakura dengan pelukan erat.

"Huwaaah! Ini benar-benar kau, Sakura! Kapan kembali? Sekarang kau tinggal di mana? Kenapa kau tidak bilang-bilang padaku kau sudah kembali ke Konoha? Ya ampun, kita satu sekolah? Apakah kita satu kelas juga? AKU KANGEN SEKALI PADAMU, DEKORIN!"

Sakura terkekeh; ia mengenal sambutan macam ini. Dua jam yang lalu orang berkepala kuning yang sama berisiknya baru saja melakukan hal yang sama. Tangan Sakura menepuk-nepuk Ino yang memeluknya erat. Sahabatnya yang ini juga masih sama seperti dulu.

"Ya, ya. Aku juga kangen padamu, Buta," canda Sakura setengah serius. Ia mendapati Sasuke tengah bersedekap dengan alis terangkat sebelah. Kemudian ia memiringkan kepalanya, bertanya dalam diam, 'Ino yang ini?' yang dibalas dengan anggukan oleh Sakura.

Ino melepaskan pelukannya, menahan Sakura dengan kedua tangan di bahunya. "Baiklah, sekarang jawab pertanyaanku sebelumnya," ucap Ino. "Kau masih ingat, 'kan? Tentu saja ingat. Dengan jidat selebar ini, kau bisa mengingat banyak hal dalam sekejap."

Sakura mendengus. "Kau ini memuji atau mencela, sih..." gumam Sakura yang hanya disahuti dengan cengiran Ino. "Aku tiba minggu lalu. Sekarang tinggal dengan Nii-sama di Leaf Apartment. Aku tidak tahu nomormu jadinya aku tidak bilang. Naruto juga baru tahu hari ini. Ya, kita satu sekolah. Jelas sekali karena kita sedang memakai seragam dari sekolah yang sama," jelas Sakura menjawab satu persatu pertanyaan Ino, "and unfortunately for me, yeah, we're classmates."

Ino meninju bahu Sakura yang tersenyum jahil setelah menjawab pertanyaan terakhir. Tidak lama keduanya tertawa bersama sebelum kemudian menyadari bahwa ada satu orang lagi bersama mereka. Ino melirik Sasuke dan Sakura bergantian, lalu bertanya, "Kau kenal orang ini?" tanya Ino sembari menunjuk Sasuke dengan mengarahkan ibu jarinya ke belakangnya tempat Sasuke berdiri.

"Kami berteman sejak hari ini," sahut Sakura. "Sampai dia bosan denganku, mungkin." Ia melirik Sasuke lalu mengerlingkan matanya, yang dibalas oleh sang Uchiha dengan memutar mata berhiaskan obsidian miliknya.

Ino mendecak. "Pada dasarnya Sasuke tidak suka manusia. Dia alien yang tersesat kemari dan terpaksa membaur dengan kita, makhluk penghuni Bumi," jelas Ino tanpa menghiraukan Sasuke yang sudah menatapnya dengan aura mengancam. "Stoik, dingin, penggerutu, tidak asik. Beruntunglah dia berwajah tampan, berotak pintar, atletis, dan..."

Ino sepertinya sadar ia sudah mulai memuji sang Uchiha kemudian berdeham pelan dan berkata, "... pokoknya begitulah. Kau harus hati-hati dengannya."

"Kuanggap kalimat sebelumnya itu pujian, Ino," ujar Sasuke dengan seringai di wajahnya, sepenuhnya sadar dengan kalimat yang dilontarkan oleh nona bermata biru.

"Sesukamulah," sahut Ino seraya memutar matanya. "Anyway, kau harus mengosongkan satu hari di minggu ini, Sakura. Kau tahu banyak sekali yang kau lewatkan selama kau bersenang-senang dengan orang Barat berkulit pucat di Kanada. Mari kita menghabiskan satu hari bersama untuk mengisi kekosongan di antara kita selama lima tahun!"

Sakura terkekeh. "Baiklah, baiklah." Sang ceri mengeluarkan ponselnya dari saku blazernya, menyapukan telunjuknya di atas layar sentuh iPhone dengan gantungan ponsel bunga sakura—hadiah kelulusan dari Sasori bulan lalu—kemudian mengopernya pada Ino. "Isi nomor ponsel dan data apapun yang menurutmu perlu kuketahui."

Ino mengangguk-angguk kecil seraya menyentuh layar ponsel Sakura dengan lihai. Gadis itu kemudian mengeluarkan ponsel yang sama, dengan case transparan bergambar bunga lavender pada bagian belakangnya. Nomor ponsel Sakura tertera pada ponselnya, yang kemudian ia simpan dalam buku kontak.

"Nih. Kalau kau tidak bosan, kau bisa meneleponku," ucap Ino sembari mengembalikan ponsel Sakura.

"Hm. Semoga aku sering bosan sehingga aku tidak perlu menghubungimu," balas Sakura.

"Lelucon yang menarik. Baiklah, aku harus kembali pada dua lelakiku itu. Kau tahu benar Chouji tidak akan bergeser kemanapun apabila dia sudah menemukan kantin dan mengenyangkan perutnya dengan segala macam makanan yang ada. Shikamaru pun masih tidak bisa diandalkan, entah dia sekarang sedang melihat awan di mana," gerutu Ino. "Sampai ketemu di kelas besok, Dekorin. Bye!"

Ino memeluk Sakura sekilas kemudian berlari memotong lapangan menuju sisi lain gedung barat. Sakura menggelengkan kepalanya melihat tingkah sahabat sehidup-sematinya itu, berubah namun juga tidak berubah sama sekali.

Sakura beralih pada Sasuke yang masih dalam posisi yang sama, berdiri dengan kedua tangan bersedekap di dadanya.

"Maaf menunggu lama, Sasuke," ujar Sakura ceria. "Kau baik sekali mau menungguku selesai mengobrol dengan Ino."

"Kalau kutinggal lalu kau tersesat sendirian, akan jauh lebih merepotkan," sahut Sasuke. "Jadi... Dekorin?"

Sakura tertawa pelan. "Ya, itu panggilan 'sayang' untukku dari Ino. Dahiku saat kanak-kanak cukup lebar..." Sakura meletakkan tangannya di dahi. "Kurasa sekarang tidak terlihat lebar lagi. Sepertinya. Aku tidak perlu menjelaskan kenapa aku memanggil Ino dengan 'buta', 'kan?"

Sasuke mendengus. "Cukup tahu."

Tawa renyah Sakura berbaur dengan kebisingan di sekitarnya. Gadis itu memiringkan kepalanya, bertanya, "Kau kenal Ino dari mana?"

"Kami satu SD dan SMP," jawab sang Uchiha. Kedua tangannya dimasukkan ke dalam saku celananya, melangkahkan kakinya dengan jejak pasti. "Kalau lima tahun yang lalu kau pindah ke Konoha, saat itu aku datang kemari."

Sakura mengangguk-anggukan kepalanya. "Mungkin Kami-sama bermaksud mendatangkanmu ke Konoha agar mereka tidak terlalu bersedih dengan kepergianku saat itu," gurau Sakura. Iris viridiannya menatap saksama wajah tampan Sasuke; dahinya sedikit berkerut. "Well... walau kau tidak terlihat seperti orang yang bisa menghibur orang lain. Apakah kau sudah sestoik ini dari kecil?"

Sasuke menoleh dengan agak menunduk pada gadis yang hanya mencapai bahunya tersebut, kemudian menyeringai.

"Tergantung. Apakah kau sudah menyebalkan seperti ini dari kecil?"


Tur keliling sekolah dimulai lebih lambat sepuluh menit dari jadwal seharusnya. Tidak ada yang mengeluhkan kelalaian tersebut, toh jam pulang tetap sama seperti jadwal—yang berarti waktu tur menjadi lebih cepat dari seharusnya. Siswa kelas X bebas berada di barisan manapun untuk mengikuti tur bersama dengan dua orang panitia yang menjadi pemandu mereka selama berkeliling Perguruan Konoha. Sampai waktunya murid tingkat satu berkumpul di lapangan, Sasuke dan Sakura masih tidak dapat menemukan orang yang membuat keduanya terus bersama sejak penyambutan di Auditorium.

Memutuskan bahwa pergi bersama lebih baik daripada berpencar, Sasuke dan Sakura kembali berada di rombongan yang sama. Setidaknya itu yang Sakura pikir sampai tur keliling sekolah itu berakhir. Kini sang ceri tengah menyandarkan kepalanya di atas meja kantin yang penuh dengan murid tingkat satu yang sudah selesai dengan rombongan tur masing-masing. Di sampingnya duduk sang Uchiha yang menatapnya datar namun sorot matanya jelas mengatakan bahwa ia terhibur.

"Kau terlihat lelah, kenapa?"

Sakura menatap tajam dengan pandangan kau-sudah-tahu-kenapa-masih-bertanya pada Sasuke, yang kemudian mendengus geli melihat tingkah gadis di sebelahnya.

Hanya berjalan keliling sekolah selama tiga puluh menit, bukan masalah besar untuk Sakura. Ia lelah secara emosional, bukan fisik. Seseorang memutuskan untuk mengambil energinya dengan mengedipkan matanya sekian kali kepada Sakura sepanjang perjalanan mengelilingi Perguruan Konoha. Kalau orang itu bukan senior dan dirinya bukan murid berumur satu hari di sekolah ini, mungkin ia sudah mengabaikan usaha senior beralis unik dalam mendekati dirinya. Itu adalah hal teraneh yang terjadi pada Sakura di hari pertama masa SMA-nya—dan selama lima belas tahun hidupnya.

Sang ceri mendelik pada Sasuke yang menyeringai dengan tampannya, usaha yang sama sekali tidak membantu Sakura dalam meredam emosinya. Sama seperti yang pemuda itu lakukan selama tur keliling sekolah berlangsung.

Di sisi lain, Sasuke tidak bisa berbohong kalau dirinya terhibur dengan Sakura. Setiap tingkah, raut wajah, dan gestur yang dimiliki oleh sang ceri memberi kesenangan tersendiri untuk pemuda yang biasanya (dan masih) bersikap dan berwajah datar itu. Mungkin karena itulah ia tidak mengusahakan apapun saat senior beralis tebal itu berusaha menarik perhatian sang ceri. Raut wajah Sakura saat itu? Priceless.

"Rupanya kalian di sini!"

Sasuke dan Sakura menoleh pada sumber suara yang sangat tidak asing bagi keduanya—siapa lagi kalau bukan orang yang mereka cari sedari tadi. Namikaze Naruto dan gadis yang disambut dengan pelukan oleh Naruto di depan Auditorium tadi pagi.

"Halo, Sakura-chan, Teme!" sapa Naruto riang, tidak peduli bahwa ia sedang berada di kantin yang tidak kosong.

Sasuke dan Sakura memutar mata masing-masing bersamaan, tidak acuh. Gestur tersebut tidak luput dari Naruto. Pemuda itu mengerang.

"Uh, Sakura-chan... aku baru meninggalkanmu sebentar bersama Teme dan kau jadi mirip dia begitu," Naruto merengut. Jari telunjuknya menuding Sasuke. "Teme, jangan ajarkan Sakura-chan yang tidak-tidak! Aku tidak mau dia mempunyai aura gelap sepertimu."

Sasuke hanya menatap datar sahabatnya dengan satu tangan memangku wajah, menggumamkan, "Idiot," yang kemudian mendapat tinju pelan di bahunya dari sang ceri. Iris obsidiannya mendelik pada Sakura, bertanya dengan sorot matanya yang hanya dibalas dengan putaran mata dari gadis tersebut.

Naruto yang sudah lupa dengan argumen singkatnya—tidak bisa dibilang argumen, karena Sasuke sama sekali tidak membuka mulutnya untuk menyahuti ucapan Naruto—beralih pada Sakura, dan dengan riang berkata, "Sakura-chan, ini Hyuuga Hinata-chan!" Tangannya merangkul bahu gadis berambut indigo dengan pipi memerah. Cengiran di wajah pemuda berambut jabrik itu menunjukkan kebahagiaan tanpa batas. "Pacarku!"


Hari pertama kegiatan siswa baru sudah selesai. Setelah apel penutupan orientasi siswa baru, siswa tingkat satu diperbolehkan pulang, demikian pula dengan siswa tingkat dua dan tingkat tiga. Hanya pada hari seperti inilah mereka mendapatkan waktu pulang yang lebih cepat dibandingkan hari-hari biasanya.

Kembali ditinggalkan Naruto untuk kedua kalinya membuat Sasuke dan Sakura kembali terjebak bersama. Mereka mendengar sesuatu yang terdengar seperti 'kencan di kedai ramen' dan memutuskan untuk tidak ikut mengganggu dua orang dimabuk asmara itu.

Lebih tepatnya dimabuk ramen, batin Sakura. Tipikal Naruto.

Sasuke dan Sakura bertolak menuju halte bus, kembali ke kehidupan masing-masing setelah setengah hari yang melelahkan di sekolah. Sasuke berjalan dengan kedua tangan dalam saku, berjalan dengan tempo yang seirama dengan langkah gadis di sampingnya. Sesekali pertanyaan diajukan dan terjawab oleh pihak lainnya, namun tak jarang pula keduanya berjalan dalam diam menikmati aroma musim semi yang masih kental di bulan April.

"Kau tinggal di mana, Sasuke? Kata Naruto di sekitar sekolah," tanya Sakura.

"Di Konoha," jawabnya singkat.

Sakura memutar bola matanya. "Yeah, aku juga tinggal di Konoha. Aku tidak tahu ternyata kita tetangga, ya," sahut Sakura sarkastik.

Sang ceri tidak mengerti kenapa Sasuke tidak bisa menjawab pertanyaannya seperti orang normal.

Sejak awal dia memang tidak normal, batin Sakura. Manusia yang paling tidak bisa ditebak. Konstipasi secara emosional, stoik tingkat kutub, luar biasa tampan... whoa, whoa! Stop sampai di situ, Haruno Sakura!

Jarak dari sekolah menuju halte bus dapat dicapai dalam tujuh menit. Melihat daftar kedatangan bus pada papan yang terpasang di kedua sisi halte, bus tujuan Sakura akan datang tiga menit dari sekarang. Benar saja, transportasi beroda empat dengan cat hijau muncul tidak lama setelah Sasuke dan Sakura tiba di halte.

"Ah. Busku datang," gumam Sakura. Ia bangkit dari duduknya, diikuti dengan Sasuke. "Terima kasih sudah mengantarku, Sasuke. Sampai besok. Dah!"

Tangan Sakura melambai di udara ketika ia meninggalkan Sasuke yang membalasnya dengan anggukan singkat.

Pintu bus tertutup dengan Sakura dan penumpang baru lain yang sudah berada di dalamnya. Sakura berjalan menuju deretan bangku belakang ketika ia melihat Sasuke berjalan menuju arah sebaliknya, sama seperti arah mereka datang dari sekolah.


Sakura tengah mengaduk kare daging yang dimasaknya untuk menu makan malam ketika sesuatu mendadak muncul di pikirannya. Ia teringat kembali dengan Sasuke yang dilihatnya berjalan kembali ke arah sekolah. Ia mengambil piring kecil dari laci, mengeduk sedikit kare yang sudah hampir jadi tersebut untuk mencicipi rasanya.

Kalau tidak salah Naruto bilang Sasuke tinggal di apartemen dekat sekolah searah halte bus, pikir Sakura sembari meniup-niup kare pada piring kecil di tangannya sebelum mengecapnya.

Tadi kami memang melewati kondominium tapi Sasuke melewatinya begitu saja. Konoha Condo atau apa begitu.

Penasaran, tangannya meraih ponsel dari saku celananya. Dengan lincah jarinya mengetikkan pesan singkat kepada seseorang yang tahu pasti jawaban dari pertanyaannya ini.

Tidak sampai satu menit setelahnya, ponsel Sakura bergetar dengan satu pesan singkat baru. Sakura membuka pesan tersebut, sebelum akhirnya mengerjapkan matanya.

Tangannya memutar kenop kompor, seketika mematikan api yang beberapa saat lalu membara. Matanya tidak beralih dari ponselnya, masih mencerna kalimat yang tertulis dalam ponselnya. Seorang pemuda berkepala merah muncul dari ambang dapur, menghampiri Sakura begitu ia mencium wangi kare yang semerbak.

"Sudah matang, belum?" tanya pemuda tersebut, menyadarkan Sakura dari lamunannya.

Sakura memasukkan ponselnya ke dalam saku celananya, menoleh dari bahunya dan berkata, "Yep, sudah!" pada sang kakak yang sudah siap dengan dua piring nasi di kedua tangannya; satu untuknya dan satu untuk Sakura. Sakura menuangkan kuah kare ke masing-masing piring, lalu mengambil dua gelas air putih dan menyusul sang kakak ke ruang makan.

"Bagaimana? Sudah dapat teman baru?" tanya sang kakak basa-basi. Adiknya sedemikian supel, tidak mengherankan apabila ia mendapat satu-dua teman baru.

"Pertanyaanmu seperti Otousama saja," sahut Sakura. "Hm, yah. Dapat. Dua orang."

Sakura cengar-cengir. "Temannya Naruto."

"Pasti mirip si rubah itu," komentar Sasori asal sembari menyuapkan karenya.

Sakura mengernyitkan dahinya. "Ih, Niisama, tidak boleh jahat begitu, tahu," cetusnya. "Mereka malah berbeda sekali dengan Naruto. Ada yang namanya Hinata, dia manis sekali. Sedikit bicara—"

"Tidak seperti kamu, ya," gumam Sasori.

Sakura pura-pura tidak mendengar komentar dari kakaknya. "—anggun—"

"Hm, sepertinya kamu harus belajar darinya," komentar Sasori, lagi.

Sekali lagi, Sakura mengabaikannya. "—manis, pintar juga—berhentilah memotong ucapanku, Niisama! Ish!" sahut Sakura, merengut.

"Apa? Aku hanya ingin memakan kareku," ucap Sasori saat ia membuka mulutnya untuk sendok di tangannya. Sakura tidak perlu tahu ia memang sempat untuk melontarkan komentar yang lain.

Sakura mendelik sebelum melanjutkan kembali penjelasannya. "Satu lagi orangnya dingin, cuek, sarkastik..." Ia mengingat kejadian hari ini, termasuk pesan singkat dari Naruto beberapa saat yang lalu. Sang ceri mendengus pelan. Senyum tipis mengembang di bibirnya. "Tapi dia lumayan baik. Menyebalkan, sih. Tapi baik."

Alis Sasori berkerut ketika mendengar ucapan dari sang adik. "Dia baik, tapi menyebalkan, tapi baik. Dasar tidak konsisten," gerutu Sasori.

Yah, peduli apa. Toh Sakura kelihatannya cukup senang dengan teman-teman barunya, terutama dengan orang kedua yang diceritakannya itu.


From: Namikaze Naruto

Konoha Exclusive Condo, Sakura-chan. Kalau kau berjalan menuju halte bus, kau akan melewatinya. Eh, eh. Bagaimana kesanmu tentang Sasuke?


To be continued


Glossary

Dekorin: forehead

Buta: pig


A/N:

ANOTHER CLIFFIE! WOO!

Tijel ngga? Tijel ngga? AAA MAAFKAN SAYA ;0;

Setelah tertelan dalam blackhole bernama tugas+worksheet+lab, saya mendapatkan secercah sinar terang yang membawa saya kepada chapter ini /abaikan

Baiklah, saya akui saya sangat susah untuk update (selain kepada tiga hal terkutuk yang saya sebutkan sebelumnya). Demi bertahan hidup di tengah-tengah dewa-dewi kampus, apalah saya ini... hanya seonggok butiran debu di padang pasir /terusgalau

Jadinya tiap ngetik chapter pasti nyicil, ngga kaya tugas yang ngga bisa dicicil huuuu

Oh ya, ada yang tanya tentang apa artinya Infinite Loop (terima kasih pertanyaannya, Sajiai Atsushi ;). Jadiii, seperti artinya, Infinite Loop itu artinya loop yang infinite /heh

Intinya adalah tanpa akhir, teruuuus berjalan ngga ada endingnya (ceritanya ngga bakal ngga ada endingnya sih, kasian juga sayanya lol). Kenapa saya pilih judul ini? Karena cocok /plak

Maksudnya sih ini cerita tentang never-ending setiap relasi yang ada di fic ini, seperti friendshipnya Sakura-Ino, Sakura-Naruto, romantic-friendship Sasuke-Sakura (?), dll. Ngga bakal statis, seneng-seneng aja kok. Berantem-berantemnya, drama, nangis (?) ada lah ya wakakakaka /evillaugh

Ada yang ngga ngerti kenapa Sakura bilang Sasuke baik? Ada ngga? Ada ngga? /plak

Jadi Sakura bilang Sasuke baik karena dia nganterin Sakura ke halte bus, nemenin sampe dapet bus padahal tempat tinggalnya udah kelewat jauh :

Gils Sasu gentle abis, ngga kaya di manga chapter terbaru *masih sebel sama Sasuke yang masih ngga tobat juga*

Yaudah, gitu deh. Semoga berkenan ceritanya, hehehe.

Terima kasih banyak kepada kalian yang sudah menyempatkan diri membaca cerita ini, uuuuu kalian mood booster banget :"3

Sampai jumpa di chapter berikutnya!

Special Thanks:

Febri Feven, ravenpink, sofi asat, Skyzhe Kenzou, , Dhita82, anike coutinho, Kumada Chiyu, iya baka-san, selenavella, Na, haruchan, akunku lupa password, Sajiai Atsushi, Nana-chan HV