A Naruto fanfiction by Aika Umezawa
Standard disclaimer applied
Kriet.
Sakura mengangkat kepalanya dari novel yang tengah ia baca ketika ia mendengar decitan dari kursi di sebelahnya. Sampai beberapa menit yang lalu, hanya ada empat orang yang berada di dalam kelas, mengingat jam kelas pertama masih berada 30 menit dari sekarang.
Sepasang alis merah jambunya mengerut dengan iris viridian yang menatap takjub pada seseorang yang memutuskan untuk menjadi teman sebangkunya.
Sakura tidak bisa tidak bertanya. "Kau sedang apa di situ?"
Orang itu menaruh tasnya di atas meja, mengeluarkan ponselnya dari dalam kantong terluar ranselnya. "Tidak ada tempat lain," jawabnya datar.
Kali ini Sakura mendengus mendengar jawaban yang kontradiktif dengan kenyataannya. Jelas sekali banyak bangku lain yang beredar di kelas dan masih kosong, tanpa penghuni tetap. Dari sudut pandang orang awam, kau akan melihat Sakura sebagai seorang kutu buku apabila pemandangan pertama yang kau lihat saat membuka pintu kelas di pagi hari adalah sosoknya dengan buku tebal di tangannya—tipe yang biasanya akan dihindari orang lain, kecuali kau benar-benar tidak memiliki tempat lain di kelas itu.
"Seakan-akan aku akan percaya jawaban macam itu, Sasuke," ujar Sakura sembari memutar matanya. Gadis itu cukup mengerti mengapa Uchiha Sasuke, calon murid populer dari tingkat satu, memilih untuk duduk di tempatnya. Sakura mengambil pembatas buku dari mejanya, menyelipkannya pada halaman terakhir yang ia baca sebelum menutup The Odyssey di tangannya.
"Tukar tempat," ucapnya pada Sasuke yang menatapnya datar.
"Kenapa?" tanya Sasuke.
"Kau akan lebih 'aman' kalau kau duduk di dekat jendela," Sakura mengendikkan bahunya, "Setidaknya kau tidak perlu khawatir dan direpotkan gadis-gadis yang akan pura-pura menjatuhkan penghapusnya agar kau mengambilkannya."
Sasuke mendengus. Sudut bibirnya sedikit tertarik menahan senyum. "Tapi kau lebih aman apabila kau duduk di situ."
Kali ini Sakura menatapnya heran. "Kenapa?"
"Mereka yang ingin mengisengimu karena iri harus melewatiku terlebih dulu," ucap Sasuke.
Sakura tidak merespon selama beberapa saat, sampai akhirnya gadis itu terkekeh geli pada aksi heroik temannya itu. Senyum samar menyapu bibir sang Uchiha sebelum lenyap ketika pintu tergeser terbuka memunculkan sahabat idiotnya bersama Hinata. "Yo, Teme! Apakah bangku di belakangmu kosong?"
Infinite Loop
Chapter 3: Best of the Best
"...Begitulah, jadi saya akan mendampingi kalian selama satu tahun mendatang. Jadilah anak-anak baik yang tidak merepotkan," demikian perkenalan dari wali kelas 1-B, Hatake Kakashi.
Hatake-sensei, atau lebih memilih untuk dipanggil Kakashi-sensei, guru fisika yang mengajar tingkat 1 dan tingkat 3. Ia sudah mengajar selama lima tahun di Perguruan Konoha yang merupakan almamaternya. Hobinya membaca, terutama hal-hal yang membangkitkan imajinasi terdalam dari dirinya. Uh, setidaknya itulah yang ia ucapkan pada perkenalannya setelah ia menjejakkan kakinya di kelas 1-B.
Sakura mengerutkan dahi, berpikir akan genre yang membuat Kakashi gemar membaca buku, lain dengan Sasuke yang memutar matanya, bergumam "Dasar guru porno" dengan amat pelan agar gadis di sebelahnya tidak mendengar. Tidak ada yang tidak mengenal buku erotis karya Jiraiya, terlebih dengan sampul berwarna jingga mencolok—yang sudah pasti tidak luput dari pandangan orang pada umumnya.
Iris cokelatnya memandang ke seluruh kelas, memperhatikan setiap muridnya dengan saksama. Pandangannya berhenti pada sosok Sasuke, yang kembali memutar matanya imajinatif, kemudian beralih pada Sakura yang mengerjapkan mata bercincin zamrudnya dengan heran sembari sesekali melirik Sasuke dan Kakashi bergantian.
Kakashi tersenyum di balik masker yang menutupi separuh dari wajahnya lalu mengangguk-anggukan kepalanya, dan berkata, "Sepertinya kalian sudah memilih teman sebangku kalian. Selama kalian tidak berbuat ricuh, silakan tetap bersama 'pasangan' kalian." Dengan kalimat terakhir tersebut, Kakashi mengedipkan sebelah matanya jenaka pada Sasuke, yang hanya dibalas dengan dengusan dan gumaman yang tidak dapat didengar oleh pria berambut perak itu. "Hm. Baiklah, itu saja dariku. Oh, kita harus memilih ketua kelas. Kau yang di sana, kau terlihat rajin. Kau ketua kelasnya."
Tanpa pemberitahuan terlebih dulu Kakashi menunjuk siswa yang baru saja bangun dari tidur nyenyaknya ketika teman sebangkunya mencoleknya karena panggilan Kakashi. "Aku?" tunjuknya pada diri sendiri dengan nada bosan.
"Ya, kau. Semua setuju, 'kan? Nah, kau ketua kelasnya," ucap Kakashi yang bahkan sama sekali tidak menunggu jawaban dari anak-anak bimbingannya yang lain. Mereka pun tidak merasa terganggu dengan hilangnya hak suara mereka karena tidak ada yang benar-benar mau menjadi ketua kelas, yang secara terang-terangan menghela napas lega karena tidak menjadi tumbal.
Siswa yang "tertimpa tangga" itu hanya menghela napas pasrah dan menganggukan kepalanya—setengah mengiyakan, setengah mengantuk. Kakashi tersenyum puas. "Oke, siapa namamu?" tanyanya sambil mengecek daftar absen.
"Nara Shikamaru, sensei," jawab siswa itu sembari menyembunyikan kuap di balik tangan. Ia butuh tidurnya secepat mungkin.
Kakashi mengangguk. Ia menggarisbawahi nama Shikamaru dan menuliskan 'ketua kelas' di samping nama siswa itu. "Oke. Ketua kelas kita adalah Nara Shikamaru. Tepuk tangan semuanya."
Tepuk tangan yang riuh memenuhi seisi kelas, setengah lega-setengah takjub dengan terpilihnya Shikamaru sebagai ketua kelas. Kakashi mengangguk-anggukan kepalanya kemudian mengangkat tangannya.
"Oke, oke, cukup dengan selebrasi kalian. Sekarang buka buku kalian, Bab I, kuharap 15 menit cukup untuk membacanya dan setidaknya ada salah satu dari kalian yang bisa menjelaskan kembali isi dari bab tersebut. Mulai."
"MAKAN SIANG! YEAH!"
Naruto berseru riang segera setelah guru Bahasa dan Sastra Jepang, Sarutobi Asuma, meninggalkan ruang kelas setelah bel makan jam siang berbunyi. Decitan kursi dan meja yang digeser memenuhi seisi kelas. Beberapa murid dari kelas lain berdatangan membawa bekal untuk makan siang bersama teman-teman sepermainan masing-masing. Tidak sedikit pula yang pergi ke kantin untuk mengganjal isi perut mereka dengan pilihan menu yang disediakan.
Sasuke dan Sakura membalik posisi meja mereka sehingga mereka kini duduk berhadapan dengan Naruto dan Hinata, yang posisi duduk di kelas berada di belakang mereka.
"Tumben sekali kau membawa bekal," ucap Sasuke dengan sebelah alis terangkat saat Hinata dan Naruto mengeluarkan kotak bekal dari tas masing-masing. Kotak bekal berwarna jingga bertengger manis di atas meja Naruto.
Naruto menggaruk-garukkan kepalanya. "Ibuku yang menyiapkannya. Kaa-chan bilang aku tidak boleh makan ramen pada hari pertama sekolah." Ia mengucapkan kalimat terakhir dengan nada sedih, yang sama sekali tidak berhasil mendapat simpati dari Sasuke dan Sakura. Hinata pun hanya tersenyum simpul mendengar kalimat yang khas Namikaze-Uzumaki Kushina itu.
"Lebih tepatnya kau tidak boleh terlalu sering makan ramen. Sepertinya bisa dihitung berapa kali dalam seminggu kau memakan makanan selain ramen," sahut Sakura sembari mengeluarkan furoshiki bermotif kelopak bunga sakura dari laci mejanya. Ia mengeluarkan kotak plastik kecil dan shokado bento yang ia siapkan pagi tadi.
Sasuke juga mengeluarkan furoshiki berwarna hitam, kemudian mengerang saat membuka ikatan kain tersebut. Sakura melirik teman sebangkunya yang menghela napas berat, lalu beralih pada shokado bento yang dibawa pemuda tersebut—tepatnya pada setangkai mawar merah yang berada pada tutup kotak bekal tersebut.
"Wah, wah. Bekal makan siang yang disiapkan kekasih?" goda Sakura.
Sasuke mendelik pada gadis yang tengah menahan tawa itu. "Ibuku yang menyiapkannya. Tadi pagi beliau datang sebelum aku berangkat dan menyerahkan ini," jawab Sasuke.
Sakura berdecak kagum. "Oh, apa itu?" Tangannya menarik secarik kertas yang berada di bawah mawar tersebut.
"'Selamat makan, Sasu... chan?'" Sepasang zamrud mengerjap takjub dengan untaian kalimat yang ditulis bak kaligrafi tersebut, kemudian melirik jenaka pada Sasuke yang menghela napas untuk kesekian kalinya dalam beberapa menit. "'Sasu-chan?'" ulang Sakura.
"Kaa-san," gerutu Sasuke menyambar kertas tersebut dari Sakura yang kini tidak bisa menahan tawanya. Naruto pun mengikuti jejak Sakura dan terkekeh melihat tingkah ibu sahabatnya yang sangat memanjakan anaknya itu.
"Kau harus bertemu dengan Mikoto-obachan, Sakura. Beliau orang yang sangat menarik. Sepertinya kau bisa cocok dengannya," ucap Naruto mengangguk-angguk sambil tertawa sesekali. "Mungkin saja kalian bisa bekerja sama untuk membuat Sasuke repot."
"Benarkah? Ide yang bagus," timpal Sakura. Ia beralih pada Sasuke. Matanya berkilat jenaka. "Kapan kau bisa mengenalkanku dengannya?"
"Tidak kubiarkan kalian berdua bertemu," rutuk Sasuke. Ia memasukkan mawar dan kertas tersebut ke dalam tasnya dan mulai memakan bekal makan siangnya. "Kau bawa apa?"
Sakura melihat bekalnya. "Oh, bento biasa dengan ayam saus teriyaki, telur dadar, dan..." Jari Sakura mengetuk kotak plastik bening bawaannya, "...salad. Potongan selada, timun, dan tomat dengan mayonais."
Naruto menatap horor kotak tersebut. "Uh, kenapa kalian suka makanan macam itu... kau tidak sedang diet, kan, Sakura-chan?"
"Ini namanya sehat, Naruto. Kau harus mencobanya," jawab Sakura.
"Uh, tidak. Hanya maniak macam kau dan Sasu-teme saja yang suka makanan macam itu. Kalau Teme sih ingin menjaga kecantikan kulitnya..."
"Setidaknya aku tidak makan ramen setiap hari sepertimu," sahut Sakura.
"Setidaknya aku tidak bau ramen sepertimu," sambung Sasuke datar, mengabaikan komentar 'kulit cantik' dari Naruto. Ia sudah sering mendengar itu setiap kali maniak ramen itu melihatnya tengah meminum jus tomat.
Naruto memandang tidak percaya kepada kedua sahabatnya itu dengan mulut mengerucut. "Kenapa kalian jadi berkomplot untuk mengerjaiku begini—Hinata-chaaan, kenapa kau malah tertawa... huft."
"... dan salah satu temanku terpeleset di jalanan menurun yang penuh salju dan ia meluncur sampai ke bawah setelah susah payah berjalan sampai ke atas," demikian Sakura bercerita mengenai salah satu kenangannya di Kanada. Pemuda di sampingnya mendengarkan dengan saksama, sesekali mengangguk atau menanggapi dengan sedikit sekali kata.
Sudah sebulan sejak hari pertama sekolah dan sejak hari itu pula Sasuke tidak pernah absen menemani Sakura dari sekolah sampai halte bus setelah jam sekolah berakhir. Sakura berhenti bertanya-tanya mengapa ada orang yang mau direpotkan seperti itu—setidaknya Sakura pikir mengantarkan seseorang yang baru menjadi temannya dengan rutin sesungguhnya adalah hal yang merepotkan—dan ia mencapai keputusan bahwa Sasuke adalah orang yang begitu erat menjaga janji yang sudah dibuat dengan sahabatnya dan akan menjalankannya dengan sungguh-sungguh walau mulutnya tidak berkata apapun.
Oh, ya, janji yang dimaksud tentu saja janjinya dengan Naruto untuk menjaga Sakura selamat sampai halte bus—yang diucapkan pemuda rubah itu hampir setiap hari sebelum mereka berpisah di depan gerbang (walau Sasuke tidak pernah menyahutinya secara verbal, hanya berjalan meninggalkan Naruto dan Hinata dengan lambaian singkat). Uchiha Sasuke adalah orang yang seperhatian itu... ternyata.
"Kau tahu bahwa kebiasaan teman dekat itu bisa menular? Kusarankan kau hati-hati dengan langkahmu mulai sekarang, mungkin saja nanti kau terpeleset juga atau—"
Sakura meninju bahu Sasuke; wajahnya merengut. "Ih, jangan bicara sesuatu yang membawa sial seperti i—shoot!"
Tubuh Sakura terhuyung ke depan setelah kakinya terantuk celah batu trotoar; tangan kanannya refleks meraih ransel Sasuke untuk menahan dirinya agar tidak terjerembab di tanah dan tangan satunya pada tangan kiri Sasuke yang entah kapan sudah berada di depan mukanya. Jantungnya berdegup kencang—panik setelah nyaris membentur trotoar yang masih lembab setelah diguyur hujan pagi tadi. Ia menghela napas lega saat tubuhnya kembali mendapatkan keseimbangannya dan mendapati Sasuke menatapnya dengan seringai isengnya.
"Heh. Apa kubilang," komentar Sasuke.
Sakura merengut. "Sasuke, kau menyebalkan."
Sasuke mengacak rambut Sakura, dan berkata, "Kalau kau tidak lebih hati-hari mulai dari sekarang, berikutnya mungkin bukan hanya tersandung," dengan seringainya yang semakin melebar saat mendapati Sakura mendelik kesal padanya sembari merapikan surai merah mudanya.
"Sudah kubilang jangan bicara sesuatu yang membawa sial, ish!"
Sasuke mengulurkan tangannya untuk meraih kepala Sakura—yang berniat dihindari dengan cerdasnya oleh sang ceri, namun kalah cepat—dan kembali mengacak rambutnya. "Next time, be careful. Aku tidak selalu ada untuk menolongmu dari setiap kerikil—atau benda apapun yang berpotensi membuatmu tersandung."
"Terima kasih, Sasuke. Kau sungguh orang yang pengertian," ucap Sakura sarkastik disertai dengan sikutan pada rusuk Sasuke, yang dihindari pemuda itu dengan sigap dan seringai usilnya—membuat sang ceri mendengus gemas.
Cklek.
Sasuke memasuki apartemen yang baru disinggahinya selama beberapa hari. Ia melepas sepatu dan menukarnya dengan selop rumah, menatap datar pada sepasang sepatu yang bukan miliknya bertengger manis di rak teratas. Ia tengah menenggak jus tomat yang baru diambilnya dari kulkas saat seseorang datang dari arah ruang keluarga duduk di salah satu bangku bar yang menghadap langsung ke dapur.
"Sebulan pertama sekolah sudah dapat pacar, eh?" tanya orang itu dengan seringai lebar.
Sasuke menatap datar pendatang tersebut dan berkata dengan nada yang sama, "Siang-siang sudah mabuk? Semoga Kaa-san mengampunimu."
"Sepertinya dia gadis yang manis. Sayang sekali aku hanya melihatnya dari kejauhan... hm, bukan. Melihat dari ketinggian lebih tepatnya," sahut sang lawan bicara.
Sasuke menghabiskan sisa jusnya dalam sekali tenggak. Ia memercikkan sisa air di tangannya setelah mencuci gelas kepada orang tersebut dan berkata, "Bukan. Dia teman kecil Naruto."
"Bukan atau belum?"
Sasuke mendelik. "Pulang sana. Bagaimana kau bisa masuk, Itachi?"
Itachi bangkit dari duduknya menghampiri Sasuke yang bersandar pada kitchen islands dan menyentil dahi Sasuke, yang mendapatkan tatapan maut dari sang adik.
"Tentu saja dari pintu, adikku," ucap Itachi sambil lalu, berjalan kembali ke ruang keluarga yang disusul oleh Sasuke di belakangnya.
"Bagaimana kau tahu password apartemenku? Aku sudah menggantinya kemarin," rutuk Sasuke sembari mengusap dahinya yang memerah berkat sentilan Itachi barusan.
"Itu rahasia. One shouldn't share his ultimate weapon to his enemies," sahut Itachi santai.
Sasuke mendengus. "Maling."
Itachi merebahkan tubuhnya di atas sofa panjang, lalu mengaduh sakit karena Sasuke menendang kakinya turun untuk mengambil posisi duduk. Dengan cuek ia mengambil remote TV di atas meja dan menyalakan kotak magis penyedia informasi itu.
"Adik macam apa kau ini..." gerutu Itachi sembari mengurut kakinya.
"Ini tempatku. Ikuti aturanku atau kuusir," sahut Sasuke acuh. Tangannya berhenti menekan remote saat televisi 42 inci di depannya menayangkan film perang, tema film favoritnya. "Kalau kau sampai menjebol pintu apartemenku berarti kau tidak berniat pulang, 'kan? Sepertinya kau membawa cukup barang untuk malam ini dan kuliah besok."
Sasuke melirik sekilas tas olahraga jinjing yang bertengger di sofa single sebelah kanan dan MacBook milik Itachi yang sedang di-recharge di atas meja.
"Yep. Tou-san pulang cepat hari ini. Hari bersejarah ini harus dirayakan," jawab Itachi dengan kedua tangan terlipat di belakang menahan kepalanya.
"Dengan kabur dari rumah?" tanya sang adik tanpa mengalihkan mata dari layar datar di seberangnya.
"Duh, tentu saja Kaa-san yang merayakannya. Aku hanya menjadi anak berbakti dengan memberikan waktu khusus untuk kedua orang tuanya mengingat masa-masa super romantis mereka."
Sasuke menoleh pada sang kakak dan berkata dengan datar, "Kaa-san akan menelepon dan marah-marah besok," lalu kembali menatap televisi.
Seringai Itachi mewakili jawabannya. "Tapi dia juga akan berterima kasih padaku," jelasnya.
Penjelasan Itachi cukup membuat Sasuke terhibur hingga kedua sudut bibirnya membentuk seringai tipis. "Heh."
"Lalu kapan kau akan mengenalkanku pada pacar barumu itu?"
Sasuke mendelik. "Dia bukan pacarku."
Itachi mengendikkan bahu. "Ya sudah, setidaknya namanya saja. Mungkin aku bisa menjadikannya—"
"Jangan macam-macam dengannya, Itachi," ancam Sasuke.
"Kau belum mendengarkanku selesai bicara," bela Itachi. Ia menahan diri untuk tidak tertawa melihat sikap Sasuke yang mendadak protektif terhadap gadis tersebut. Momen seperti ini baru terjadi sekali dalam seumur hidup Sasuke—mengingat masa kecil adiknya itu hanya mengabaikan makhluk-makhluk bergender perempuan.
Sasuke masih tidak percaya pada kakaknya itu. Setelah memberikan tatapan terakhir sebelum kembali pada tontonannya, ia berkata, "Jangan macam-macam. Aku juga tidak akan memberitahu namanya padamu."
"Tenang saja, aku tidak akan mengambil milik adikku," sahut Itachi yang mendapat sambitan bantal sofa dari sang adik. Kali ini gelak tawa dari si sulung Uchiha tidak terhentikan.
"... Sakura, jaga dirimu baik-baik di sana. Salam untuk Naruto dan keluarga, Ino juga."
Ino menatap geli pada Sakura yang tersenyum tipis mendengar suara sang ibu yang berada ribuan kilometer dari Konoha.
"Baik, Kaasama. Akan kusampaikan salammu... ya, oyasumi, Kaa-sama," jawab Sakura.
"Kau masih menggunakan sufiks hormat itu pada keluargamu," ucap Ino setelah Sakura mengakhiri sambungan telepon dari ibunya.
Sakura hanya mengendikkan bahu. "Habit. Kau tahu benar keluarga besarku seperti apa. Sangat tradisional dan menjunjung tinggi kehormatan. Kadang aku merasa seperti hidup di era Tokugawa," jawab Sakura yang diakhiri dengan kekehan. "Salam dari ibuku."
Ino ikut terkekeh. "Ya, salam hormat dariku untuknya. Jangan-jangan aku harus memanggil 'Sakura-hime' kalau aku ikut dalam arisan keluarga klan Haruno."
Kali ini Sakura tidak bisa menahan tawanya. "Tidak, Ino. Lagipula keluargaku tidak mengadakan arisan."
Dua sahabat itu sedang berada di salah satu kafe yang berada di pusat kota Konoha. Sejak Ino memberikan nomor ponselnya pada Sakura, gadis itu tiada hentinya mengajak sahabat yang sudah lama tidak ditemuinya itu untuk bercengkerama merajut kembali jarak sepanjang lima tahun yang memisahkan mereka. Tidak peduli dengan siang yang masih sedikit dingin karena salju yang menghujani Konoha pada malam sebelumnya, mereka setuju untuk bertemu di kafe yang direkomendasikan oleh Ino.
"Bagaimana kau kenal dengan Sasuke?" tanya Ino tanpa basa-basi setelah blackforest pesanannya tiba. "Sejak kapan?"
Sakura mendengus. "Kau masih sefrontal dulu," ucapnya. "Kau percaya kalau aku baru mengenalnya pada hari pertama sekolah? Tepatnya lima menit sebelum upacara penerimaan murid baru."
Ino mengerjapkan matanya. "Serius?" yang dijawab dengan anggukan dari Sakura. Ia bertepuk tangan pelan sembari bergumam, "Waw."
"Kenapa memangnya? Dia menyenangkan," ucap Sakura sembari menyeruput hot lemon tea-nya.
"Menyenangkan? Ha. Kau tidak bisa menempatkan frasa 'menyenangkan' dengan Uchiha Sasuke dalam satu kalimat tunggal atau kalimat apapun yang menyatakan bahwa ia orang yang menyenangkan. Tidak sama sekali."
Sakura sama sekali tidak terlihat terpengaruh dengan penjelasan Ino barusan. "Kenapa? Kau pernah ditolak olehnya?" Sakura berpikir sejenak, kemudian melanjutkan, "Tidak, tidak. Kalau kasusmu, lebih tepatnya kau pernah suka padanya dan tidak sampai tahap menyatakan perasaan lalu sekarang sudah tidak karena kau sudah punya pacar namun tidak menolak pesona Sasuke yang pada dasarnya adalah magnet wanita."
Ino mengipasi wajahnya yang mendadak panas dan bergumam, "Pengamatanmu masih semengerikan dulu."
Sakura tersenyum bangga. "Aku sahabatmu. Kau pikir kita sudah berapa lama saling mengenal?" ucapnya. "Aku tidak kaget, sih. Sasuke memang benar-benar tipemu. Aku juga tidak terkejut dengan begitu banyak gadis yang tidak bisa mengalihkan pandangan mereka dari sosoknya."
"Termasuk kau?"
Ino menaikkan alis pirangnya, menantang Sakura untuk menjawab pertanyaannya. Alih-alih mendengar penolakan spontan, jawaban yang didengarnya dari Sakura cukup membuatnya tersenyum geli. "Aku tidak mengatakan 'tidak' namun aku juga tidak mengiyakan."
"Kau tahu bahwa jawaban ambigu macam itu tidak adil?"
Sakura melipat kedua tangannya. "Lalu aku harus jawab apa? Untuk saat ini memang seperti itu—"
"'Untuk saat ini?'" ulang Ino tersenyum menggoda.
"Kemungkinan itu bukannya tidak ada," sergah Sakura. "Namun tidak sekarang."
"Tapi akan?"
"Uh... tidak tahu!" seru Sakura sembari menyambar gelasnya dan menghabiskan isinya dalam sekali teguk.
Ino lantas terkekeh geli melihat sahabatnya itu salah tingkah. "Chill, Sakura," ucap Ino. "Tetapi memang sih, aura di sekitar kalian terlihat bagus, aku sampai takjub. Ini pertama kalinya aku melihat Sasuke akrab dengan perempuan. Sebelumnya sama sekali tidak pernah. Karena, well, kau tahu dia tidak suka dengan menjadi pusat atensi. Perempuan-perempuan di sekitarnya bisa semerepotkan itu."
Ino menepuk pundak Sakura, berkata dengan riang, "Mungkin saja ini pertanda kalau kalian memang jodoh. Siapa tahu."
"Aku lebih ngeri dengan kau yang berbicara tentang jodoh," gerutu Sakura namun ia tidak bisa menghentikan senyum yang perlahan mengembang di bibirnya. "Lihat saja nanti. Terlalu cepat untuk bicara tentang jodoh mengingat kami baru mengenal... hmm, sebulan. Daripada tentang itu, aku malah ingin lebih mengenalnya sebagai teman."
"Kau ingin berteman dengan Sasuke?" tanya Ino, yang dijawab dengan anggukan mantap dari Sakura. "Wew, that was new," ujar Ino. "Kau mungkin perempuan pertama yang mendekati Sasuke dengan niat menjadi temannya."
Dahi Sakura berkerut. "Apakah dia sesulit itu?"
"Untuk menjadi pacar? Sangat sulit. Untuk menjadi teman? Tidak ada yang benar-benar berani mencobanya," Ino mengendikkan bahunya. "Dia terlalu sulit untuk hanya dijadikan teman. Dengan karisma yang seperti itu, perempuan biasanya akan berpikir dua kali untuk menjadi teman dari Uchiha Sasuke."
Sakura terdiam sesaat sebelum akhirnya ia mengangguk-anggukan kepalanya. "Aku tidak berpikir seperti itu murni dariku sendiri. Kurasa Sasuke pun berpikir demikian karena dia orang pertama yang bilang 'Anggap saja teman senasib' saat Naruto meninggalkan kami berdua. Mungkin saja dia memang ingin kami berteman. Aku tidak mungkin menolak niat baik seperti itu, 'kan?" ucap Sakura mantap. "Lagipula..."
Sakura terus menjelaskan bagaimana pertemanan antara dirinya dan Sasuke adalah hal yang sangat memungkinkan, membuat Ino menghela napas mendengar pemikiran yang sangat khas sahabatnya itu. Ino mengangkat tangannya di depan Sakura, menghentikan ocehan gadis ceri itu seketika dengan raut heran terpatri di wajahnya.
"Oke, oke, aku mengerti," ujar Ino menyerah. "Aku hanya ingin satu hal."
Sakura menaikkan alisnya. "Apa itu?"
Seringai Ino tidak membuat Sakura merasa tenang. "Kalau—mungkin—suatu hari nanti kau suka padanya, kau harus bilang padaku. Oke?"
Sakura menatap Ino seolah-olah sahabatnya itu baru saja memiliki dua kepala, kemudian mendengus, "Kukira apa." Ia tidak menyangka akan mendapat titah seperti itu dari sahabat pirangnya. Raut wajah Ino tidak menunjukkan kalau gadis itu tengah bercanda, toh.
"Aku serius!" seru Ino. "Oke, tidak?"
"Tentu saja, Ino-pig," jawab sang ceri tersenyum.
Ia menatap jendela yang menampakkan Jalan Konoha Timur yang penuh orang yang berlalu lalang di akhir minggu. Sang mentari memberi kehangatan di musim semi yang sejuk, berkolaborasi dengan kelopak sakura yang berguguran diterpa angin. Pemandangan seperti ini yang tidak mungkin tergantikan, di Kanada sekalipun. Di sini, dari kafe di sudut jalan ia menikmati sesaat wajah musim semi di kota kelahirannya setelah lima tahun berlalu. Iris zamrudnya menangkap sebuah kelopak sakura yang jatuh di atas tumpukan salju sisa hujan semalam. Kelopak yang tidak takut dengan dinginnya partikel khas musim dingin yang terkadang masih meninggalkan jejak dirinya di musim semi. Pemandangan yang tidak terlihat asing dalam benak dan ingatannya. Senyum simpul mengembang di bibirnya.
"Kalau memang memungkinkan, ya."
To be continued
A/N:
Hai, saya masih hidup. Terima kasih sudah mengikuti (dan menunggu dengan sangat sabar, hiks, saya terharu :""") Infinite Loop! Merci beaucoup!
Oke, ada pertanyaan dari HazeKeiko.
Kenapa Sakura panggil keluarganya pakai sufiks –sama (hormat banget gitu)?
Jadi keluarga Haruno itu klan besar macam Hyuuga dan Uchiha, tapi masih kental nilai tradisionalnya macam Hyuuga. Sebenernya sih biar beda dan seru aja gitu maksudnya, kaya cerita-cerita zaman dulu #heh #padahalAU #plak
Di luar keabsurdan itu, semoga chemistry keduanya tetap terjaga dan terasa di dalam cerita ini (aamiin). Kalo saya jadi Sakura sih, punya temen sebangku macam Sasuke bisa menggila #plak Semoga chapter kali ini berkenan! :D
P.S.: ada yang ngga squealing/fangirling/tereak guling-guling dengan scene di chapter 699? #korban #masihBacaBerulang-ulang #omgsasukedewasatetepganteng
Special Thanks:
HazeKeiko – Subarashii Shinju – Kumada Chiyu – hanazono yuri – iya baka-san – Aeni – selenavella – Skyzhe Kenzou – Guest – Merin-chan – all silent readers
Support this story by giving your comment on the white box below. Your review, my pleasure :*
Jakarta, Jan 20th, 2015 01:23:57 GMT+7
Aika Umezawa
