Love Choices

Chapter 2: I Shouldn't Love You

Genre: Hurt/Comfort and Romance

Rated: T

Warning: OOC! Typo, Romansa alay~ Kise Ryota xOCx Kagami Taiga

Disclaimer: Tadatoshi Fujimaki own Kuroko No Basuke,

I just own my OC and this story

Reviews dari D.N.A Girlz:

Chi: Yay! Shinju onee-chan datang! *siapin sofa&meja plus teh* Silahkan onee-chan? *cling!* *nyengir*

Sie: -" Chi.. Okaylah.. Thanks for reviewnya onee-chan! Berguna banget buat si Chi author amatiran ini~

Chi: *nunduk* arigatogozaimasu, onee-chan! *nyengir 'again'* dan soal greget, tenang onee-chan! Akan chi buat jadi lebih greget lagi! Tunggu saja chapter selanjutnya hohohoho!=D Thx for review~


-Rika's POV-

Rasa aneh apa ini? Kenapa setiap aku melihatnya, perasaan itu selalu muncul? Perasaan ku yang begitu senang saat bersamanya, tapi aku begitu kesal melihatnya dikerubungi para perempuan yang merupakan fansnya. Kami hanya bisa bersama dan merasa tenang tanpa diganggu fans, saat anggota Miracle Generations dan manajer klub basket pulang bersama, sebelum pulang kami biasa makan malam bersama di restaurant, entah fast food atau family restaurant.

Oh iya, Kise benar-benar hebat. Ia berhasil masuk ke dalam team Miracle Generations, dalam waktu singkat setelah ia masuk klub basket. Walaupun kadang aku suka kesusahan untuk mengusir para fansnya yang mengerubungi GYM dan mengganggu latihan klub basket.


Hari ini, klub basket seperti biasa sedang berlatih tanding, anggota biasa hanya menjalankan rute latihan mereka. Sedangkan para Miracle Generations berlatih terus menerus sesuai jadwal yang kubuat bersama sang kantoku, adikku, Rin, dan juga Satsuki sedari tadi memperhatikan Tetsuya-kun. Dan aku, memperhatikan dirinya, Kise Ryouta, ia sedang one on one bersama Daiki-kun. Yah, aku tau Daiki-kun pasti menang, walau Kise mempunyai bakat yang setara dengannya.

Kulihat jam di tanganku, pukul 5 sore, pantas saja murid-murid lainnya sudah pulang dengan izin dari kantoku. Ah sial! Seharusnya sejak setengah jam yang lalu mereka berhenti berlatih, karena ruangan ini kan akan dikunci. Aku berdiri dari tempat duduk ku, dan melihat ke arah Rin dan Satsuki, mereka juga melihatku, aku mengangguk ke arah mereka berdua tanda waktu berlatih sudah beres. Mereka mengangguk sambil tersenyum padaku, aku membalas senyuman mereka, mereka berdiri dan segera membereskan barang-barang selama jam latihan tadi.

Aku menepuk tanganku sekali dan berteriak "Yosh! Minna, waktunya sudah habis! Cepat mandilah, ruangan ini akan segera dikunci!", Mereka semua langsung melihat ke arahku kemudian mengangguk, mengambil barang-barang mereka dan Kise bertanya padaku, "Hei, Rika! Malam ini mau makan apa?" Tanya Kise, ia sudah mulai berbaur dengan kami.

Dan kebiasaan kami yang setiap malam makan bersama di berbagai tempat lalu mengantarkan para manajer ini ke rumahnya karena kami selalu pulang lebih dari jam 6 sore saat ada kegiatan klub yang dilanjutkan dengan acara makan bersama, biasanya Daiki-kun mengantar Satsuki, sedangkan aku dan Rin diantar yang lainnya karena kebetulan rumah kami searah.

"Fast food aja, bokek nih!" Kata Daiki-kun sambil menaruh kedua tangannya di belakang kepala, Shintaro-chan menaikkan kacamata miliknya dengan jari telunjuk, "Dasar.." Katanya dingin, "Aku sih terserah kalian saja, humm, bagaimana kalau burger depan stasiun? Aku ingin makan burger dan milkshake dari tempat itu, enak banget!" Kataku memberi saran pada mereka semua, "Boleh saja" kata Kise sambil tersenyum padaku, entah kenapa aku merasa mukaku panas setiap melihat senyumannya, padahal dia selalu tersenyum pada siapa saja. Itu kan memang tugas seorang model.

Mereka semua mengangguk setuju dan langsung pergi mandi, sedangkan aku membantu Rin dan Satsuki membereskan barang-barang, seperti bola basket ataupun papan nilai, juga barang-barang pribadi kami. Mereka tidak pernah peduli jika kami membantu mereka membereskan barang-barangnya, mungkin malah berterimakasih?


10 menit kemudian mereka kembali dengan hawa panas dan wangi sabun menguar dari tubuh mereka, karena air panas yang mereka pakai selama mandi. Kise menggantungkan handuk di lehernya dan menggosokannya pada rambut pirangnya yang masih basah.

Astaga, jujur deh, dia memang keren banget. Sadar Rika! Kalau dia nggak keren nggak mungkin dia jadi seorang model kan! Ahh, rasanya sedih juga sih. Bukannya aku berharap apa-apa ya, lagipula aku tidak ingin pacaran dengan seorang model, habisnya ribet sih! Kemana-mana pasti dia di ikuti fans yang mungkin akan menjadi haters ku. Sekarang saja aku yakin fans Kise sudah ada yang membenci diriku! Oh, astaga. Aku salah apa sih? Aku kan hanya mementingkan latihan klub basket, lalu mengurus Kise itu tugas manajer kan. Lagipula aku tidak hanya mengurusinya saja kok! Anggota lain juga kuurusi.

"Oiii! Rika, mau ditinggalin?" Aku tersadar dari lamunanku sendiri karena seruan dari Aomine, astaga, ternyata semuanya sudah ada di pintu keluar GYM dan sudah siap untuk pergi, sedangkan aku ditinggalkan sendiri disini? Ogah banget deh! Aku segera mengambil tasku dengan tergesa-gesa dan mengikuti yang lainnya keluar dari GYM.


Kami berjalan ke arah stasiun dekat sekolah, dan memasuki sebuah restaurant fast food, memesan burger juga milkshake, aku memilih milkshake vanilla yang kurindukan setelah berbulan-bulan tidak meminumnya lagi. Kami memilih tempat duduk di dekat jendela, banyak orang memperhatikan kami lantaran jaket jersey berwarna biru muda dengan tulisan Teiko terpampang di belakangnya yang dipakai oleh kami, atau mungkin juga karena Kise yang berjalan bersama kami?

Tetsuya-kun duduk di antara Rin dan Satsuki, sedangkan aku duduk di sebelah Rin, entah kenapa Kise memilih untuk duduk di sebelahku, sedangkan Daiki-kun duduk di seberang Satsuki bersama Shintarou-kun, Seijuro-kun, dan Atsushi-kun. Aku segera meminum milkshake vanilla milikku, "Huwaaaa! Senangnya bisa minum milkshake ini lagi" kataku, dan entah kenapa setiap aku berkata begitu orang-orang seperti bisa melihat ada kuping kucing di kepalaku dan ekor kucing di belakangku, membuat orang-orang mengatakan bahwa aku imut.

Ah, tentu saja tidak kupedulikan kata-kata itu, bagiku aku hanya cewek biasa yang merupakan seorang manajer basket SMP Teiko. "Memang rasanya se-enak itu?" Kata Kise tiba-tiba, aku mengangguk cepat, aku menyadari sedari tadi aku cengar cengir karena begitu kesenangan seperti orang blo'on hanya karena meminum milkshake ini, aduh,baka Rika! Malu kan jadinya.

"Gimana sih rasanya?" Tiba-tiba Kise mengambil gelas milkshake milikku dan meminumnya, dan dalam sekejap aku bisa merasakan mukaku yang merah dalam sekejap seperti tomat. "Enak.." Kata Kise setelah meminumnya, wajahnya begitu bahagia.

Kenapa dia begitu bahagia? Kenapa ia tidak memperdulikan kalau itu minumku dan dengan cueknya meminumnya? "Hehh, kalian so sweet sekali ya" ledekan itu dilontarkan oleh si setan rambut merah yang merupakan ketua Miracle Generation, "Seijuro-kunnn! Apa maksudmu?" Kataku sambil memasang tampang cemberut, sedangkan yang lain menertawakan wajahku yang cemberut karena di ledek olehnya,

Daiki-kun tertawa kencang sembari menunjuk-nunjuk mukaku yang sudah merah seperti tomat "Hehehe, muka Rika seperti tomat tuh!" Alhasil semua tertawa lagi melihat mukaku yang seperti tomat, kukembungkan pipiku karena sebal di ledek, "Sudah ah, kasian tuh Rika-chan makin cemberut kan?" Kata Satsuki akhirnya menyudahi candaan mereka semua.


Udara begitu dingin. Dingin sekali rasanya, walaupun sudah mengisi perutku yang kosong tadi dan memakai jaket, tetap saja dingin banget! Entah kenapa, aku mempunyai feeling tidak enak, aku memeluk kedua lenganku dan menggosok-gosok kedua lengan atasku, "Dinginnya.." Tiba-tiba Kise menarik tanganku dan memasukannya ke dalam kantong jaketnya. "K-Kise?" Suaraku sedikit bergetar dan terdengar gugup, begitu juga dengan wajahku yang berwarna merah karena saking malunya. Ia tidak berkata apa-apa melainkan hanya tersenyum sambil melihat ke arahku, kulihat wajahnya juga merah, sama denganku, tangannya begitu besar dan hangat, juga menenangkan hatiku, menghilangkan feeling yang tidak enak tadi, aku bersyukur teman-teman yang lain tidak melihatku bersama Kise, untungnya kami berjalan agak jauh di belakang yang lainnya. Dan untungnya si Ahomine sudah pulang bersama Satsuki tadi.

Akhirnya, sampai juga di rumahku dan Rin, "Arigatou minna! Sampai jumpa besok~" kataku sambil melambaikan tangan pada mereka semua, Rin masuk lebih dulu, ia kecapean, sejak tadi ia berlari-lari di sekolah, aku menunggu mereka untuk pergi hingga menghilang di belokan, setelah memastikan mereka sudah pergi, aku berbalik badan berjalan menuju pintu gerbang rumahku hendak membukanya,

"Tunggu, Rika!" Suara itu? Kise? Aku segera berbalik dan melihat Kise berdiri di depanku, ia menutup mulutnya dengan telapak kirinya, mukanya begitu merah, "Ada apa Kise?" Tanyaku pada Kise yang terlihat gugup, yah sebenarnya hatiku berdetak begitu kencang saat ini, semoga saja ia tidak mendengarnya. "Aku.. Lupa mau ngomong sesuatu" katanya, terlihat dari wajahnya ia agak gugup mengatakannya, "Oyasumi, tidur nyenyak yah, Rika" Aku tertawa pelan melihat ekspresinya itu, "Kamu berlari ke sini hanya untuk menyampaikan itu? Aduh, dasar Kise!" Ia tiba-tiba memegang kedua tanganku, seketika menghentikan tawa kecilku,

"Panggil aku Ryota" kusadari wajahku berubah merah, aduh! Kenapa harus tersipu sih? "Eh? K-kenapa? Kita kan baru saja kenal, belum begitu lama kita berteman" Ia menatap wajahku dalam-dalam. Omaigattt rasanya aku bisa pingsan di tempat saat ini juga! "Panggil aku Ryota, aku iri melihat yang lain dipanggil dengan nama kecil mereka olehmu, bahkan Momoi pun memanggilku dengan nama kecil.. Hanya kamu yang tidak melakukannya, kenapa?" Jantungku berdetak lebih kencang dari sebelumnya, "T-tidak apa-apa! Aku hanya.. Malu?"

Saat ia membuka mulutnya untuk membalas perkataanku lagi, aku segera memotongnya, "Baiklah, Ryota-kun, sampai jumpa besok!" Ia tersenyum lebar dan mengangguk cepat, aku membalikan badanku sesudah melambaikan tangan padanya, tiba-tiba aku merasa tubuhku ditarik ke belakang, tangan Ryota-kun menyelimuti bahuku,

"Sekali lagi, oyasumi, Rika" Ryota-kun mencium belakang kepalaku, menciumi rambutku, aku bisa merasakan napasnya dari kulit kepalaku, setelah itu ia melepas tangannya dan pergi begitu saja. Dengan tergesa-gesa aku masuk ke dalam rumah, aku segera mandi dan masuk ke kamarku.

Sampai waktunya tidur pun aku masih memikirkan Ryota-kun, mengapa ia memegang tanganku? Kenapa? Kenapa ia tersipu setiap bersamaku atau disaay melihatku? Mengapa ia menciumku tadi? Aduhhh, begitu banyak pertanyaan di kepalaku. Apa artinya Kise menyukaiku?


Begitu juga hari-hari selanjutnya, setiap saat, ia begitu memperhatikanku, caranya sama dengan para cowok yang ujung-ujungnya menembak diriku. Aku malas memikirkannya, aku tidak ingin hubunganku dengan Ryota-kun menjadi hancur hanya karena itu.

"Ryota-kun, nih, handukmu" kataku memberikan handuk miliknya, ia segera menerimanya dan mengelapnya ke lehernya, sambil berkata "Thanks" senyumnya begitu keren. Setiap saat, setiap aku melihat senyumnya, aku tau ia begitu keren. Tapi, ia seorang model kan? Aku tau itu, setiap model di agency-nya masing-masing selalu memiliki peraturan seperti tidak boleh berpacaran atau apapun itu.

Aku duduk di bangku seperti biasa, ah kenapa aku jadi mempedulikannya? Aku kan tidak ingin pacaran dengannya. Ryota-kun yang sedang meminum minumannya ikut duduk di sebelahku, "Ahh.. Segarnya" aku menatapnya sambil tertawa kecil "Ada lumpur di mukamu tuh!" Mukanya berubah merah dan langsung berusaha membersihkan lumpur itu, aku semakin tertawa saat ia begitu panik membersihkan mukanya, tapi ia selalu tidak mengenai tempat lumpur itu. Tanpa sadar aku mengusap pipinya yang terkena lumpur sambil tertawa kecil menertawakannya, mukanya berubah jadi merah padam,

"Kh- T-thanks.." Katanya gagap sambil berusaha menutupi mukanya yang sudah merah padam itu, "Hehehe, sama-sama!", ia terdiam sebentar, lalu menatap mataku dalam-dalam, tatapan matanya seperti bisa melihat seluruh hatiku, matanya yang tidak dipenuhi kebohongan, membuatku terhipnotis ke dalamnya. "Rika.." Suaranya membuatku tersipu, oh gosh, wajahnya begitu dekat denganku, tiba-tiba kurasakan tangan besar miliknya menepuk kepalaku,

"Arigato.. Sudah membantuku sampai sekarang, sejak awal aku masuk ke klub basket ini! Aku tidak pernah menyesal, aku bisa menemukan seorang rival yang sempurna, juga dirimu. Aku sangat menyukaimu Rika!" 4 kata terakhir yang di ucapkannya menggema di otakku, dan dalam seketika aku bisa merasakan mukaku merah padam, astaga! Demi dewa-dewi cinta atau apapun itu! Aku tidak salah dengar kan?

Ryota sadar apa yang telah ia ucapkan dan dalam seketika mukanya memerah seperti tomat, "A-ah, aku harus latihan lagi, sampai nanti!" Ia segera berdiri, berlari pergi dan mulai berlatih lagi. Kenapa ia berbicara begitu? Dia itu seorang model! Kenapa kau berbicara begitu Ryota? Sadarlah Rika! Aku tidak boleh sampai menyukainya! Tidak boleh.. Aku menunggunya.. Aku menunggumu, sampai dirimu kembali kesini, janji yang telah kubuat bersamamu, aku harus menepatinya. Ya, aku harus menepatinya. Aku menunggumu, Kagami Taiga.


To Be Continue

M

I

N

D

T

O

R

E

V

I

E

W

S

?