Let's Marry
Don't like don't read
.
.
.
Akashi Seijuuro memijat bagian di antara pelipisnya pelan. Kepalanya terasa pening. Setelah 'insiden' kemarin dia jadi terkena insomnia. Telat pergi ke kantor dan lupa tidak sarapan. Dan sekarang dia sedang menghadapi baku hantam antara rekan bisnisnya. Yang satu pendapatnya seperti ini, yang satu seperti itu.
Kruyuk~
Oh Dear
Perutnya sudah menyanyikan melodi cempreng minta diisi. Dia melihat sekelilingnya.
"Harusnya kita meluncurkan produk baru dengan fasilitas blablabla"
"Tidak itu sudah terlalu mainstream seharusnya dengan blablabla"
"Blablablablah"
"Ulululululu"
"Wowowowowowowo"
"Aaaaauuuuuuuu"
Oke kini kepalanya serasa mau pecah. Meeting yang baru dimulai 30 menit lalu menjadi liar dan tidak terkendali. Akashi bukanlah pawangnya. Dia berpikir bagaimana ini bisa selesai secepatnya. Dia tidak mau jika harus istirahat dan melanjutkan baku hantam ini lagi. Karena hasilnya akan sama.
Liar dan tidak terkendali
"Tuan-tuan" Akashi mulai bersuara. Tidak ada satupun yang menggubris. Akashi mulai kesal, dia meraih kotak yang ada di bawah meja rapat dekat kakinya. Membuka kotak itu yang ternyata berisi gunting berjejer dengan rapi.
Tangannya mengambil dua gunting, yah setidaknya untuk ultimatum cukup dua saja.
SLAP
Kedua gunting Akashi itu melakukan lepas landas. Rekan bisnisnya yang semula jambak-jambakan dan cubit-cubitan serta memukul manja satu sama lain kini mulai berhenti.
"Bagaimana kalau kita mengambil jalan tengahnya saja?" Pria 25 tahun itu berdiri dari duduknya menjelaskan ide yang terlintas dalam kepalanya yang masih bisa diajak kompromi.
Sebelum jam makan siang, meeting tadi bisa diselesaikan dengan damai dan tentu saja terbilang sukses.
"Begadang jangan begadang kalau tiada artinya"
Ringtone dangdut itu menggema di cafetaria yang lumayan sepi karena belum saatnya jam makan siang. Akashi hanya mengisi perutnya yang sudah bernyanyi sedari pagi. Dan telepon yang dia letakkan di atas meja kaca itu bergetar dan menyuarakan lagu dangdut.
Oh Shit!
Siapa yang berani mengganti ringtone generalnya. Ini pasti kerjaan dari Reo sekretaris nya itu. Sejak meeting tadi Akashi memang menitipkan teleponnya kepada Reo.
Tergesa mengangkat telepon karena malu dilihati beberapa pekerja yang kebetulan mengabiskan waktu luang di sana.
"Moshi-moshi?"
"Ah, Sei-chan. Aku sudah mencarikan maid untukmu. Beliau Oba-san yang juga merupakan tetanggaku. Beliau sudah kuberitahu apa yang harus dilakukan. Siang ini Oba-san langsung ke apartemenmu"
"Hm. Arigatou. Tapi itu tidak terlalu membebaninya bukan?"
"Beliau bilang tidak. Beliau mengatakan masih kuat untuk bekerja"
"Hm, kau sudah memberitahunya password apartemen dan alamatnya bukan?"
"Sudah bos" Terdengar suara tawa kecil di seberang sana
"Kalau begitu sudah dulu ya. Masih ada yang harus kuselesaikan"
"Ha'i. Bye bye"
Tanpa membalas kalimat terakhir Irene, Akashi secepat mungkin menuju pengaturan smartphone nya. Mengganti ringtone menjadi seperti biasa. "Awas saja kau sekretaris laknat" Ancam Akashi kepada sekretarisnya yang entah sekarang sedang dimana.
.
.
.
"Haah" Napas lelah dan bosan terdengar dari bibir seorang gadis yang lumayan manis di tengah ruangan yang kosong. Ukuran yang cukup besar dan sepi membuat helaan napas yang sebenarnya lirih itu menyebar ke penjuru ruangan.
Mukanya terlihat jengkel. Bagaimana tidak jengkel? Dia hampir menunggu di ruangan kelasnya hampir selama 4 jam dan sang dosen tidak kunjung masuk. Dari jam 8 pagi dan sekarang sudah jam 12 siang. Perutnya juga sudah berbunyi beberapa kali.
Dia bingung, memilih meninggalkan kelas atau tetap menunggu? Teman-temannya sudah pergi dari 2 jam yang lalu. Dia adalah gadis dengan tipe penyabar, walaupun sekarang kadar kesabarannya sudah berada di ujung jurang yang curam.
Melirik jam tangan yang melingkar manis di pergelangan tangan kirinya, dia bangkit dan perlahan meninggalkan ruangan itu.
Kiriha Yuki
Gadis berusia 18 tahun itu medudukkan dirinya di salah satu bangku taman. Setelah membolos atau lebih tepatnya mendapat 'kebebasan' dari dosennya, dia langsung menuju reastaurant fast food langganannya.
Dan secara kebetulan juga bertemu dengan teman SMA dan menjadikan dia mengadakan arisan dadakan selama hampir 2 jam. Sekarang telah menunjukkan pukul 14.00, dia masih terlalu malas untuk pulang ke rumah.
Melihat orang-orang yang berlalu lalang sepertinya bukan hal yang buruk.
"Hei kau tahu Momoi-nyaan~? Sekarang dia telah memulai debutnya ke dalam dunia musik lho"
"Oh, iya aku tahu. Wajar sih suaranya memang lembut"
"Tapi, menurut gosip yang beredar dia menyukai Akashi Seijuurou"
"Oh! Pengusaha kaya itu?"
"Iya, aku sempat patah hati mendengarya"
"Hmm, Sabar ya kawan"
Yuki hanya mengangguk-angguk mendengar percakapan kedua remaja SMA yang baru saja lewat. Siapa sih yang tidak kenal degan Satsuki Momoi? Model seksi kelas internasional dan yang akhir-akhir ini namanya bertambah naik karena memulai debut di dunia musik.
Mungkin memang pantas jika bersanding dengan pemimpin Akashi Group. Dia mengalihkan bayangannya. Fans selalu begitu, terlalu peduli dengan idolannya sampai patah hati segala. Saat Kise Ryouta terungkap menjalin hubungan dengan model luar negri dia juga menangis 7 hari 5 malam.
Yah, itu semua bukan urusannya lah. Dia terlalu malas menanggapi masalah orang lain. Tak terasa waktu sudah sore. Jarum jam menunjukkan pukul 17.00. Meregangkan otot-ototnya yang sudah duduk dalam waktu yang cukup lama itu.
Melangkahkan kakinya untuk pulang ke rumah. Ketika hendak menyebrang, dia melihat lampu zebra cross dahulu. Menunjukkan warna hijau setelah beberapa menit, kakinya kembali melanjutkan perjalanan.
TIIIN
Suara klakson mobil itu mengagetkan Yuki, mau tidak mau dia menoleh ke arah sumber suara, dia melihat mobil warna hitam melaju kearahnya yang sedang menyebrang dan baru sampai setengan jalan.
Sialnya hanya dia sendiri di jalan itu. Tidak ada yang bisa menyelamatkannya. Kakinya terlalu kaku untuk berlari ke sebrang jalan yang jaraknya tinggal setengah. Seakan ada es yang membekukan kakinya. Tanpa tahu harus berbuat apa, dia reflek merubah posisi berdirinya menjadi jongkok serta menutupi kedua telinganya dengan tangannya sendiri.
Rasa ketakutan menyelimuti. Seluruh tubuhnya mengeluarkan keringat dan tangannya bergetar. Tanpa dia sadari air mata ketakutan sudah keluar dari kedua ujung matanya. Entah kenapa waktu terasa lama. Dia bingung kenapa mobil yang melaju ke arahnya tidak kunjung sampai. Padahal jarak mereka mungkin hanya 3 meter.
Memberanikan diri membuka mata perlahan, ternyata mobil hitam itu berhenti tepat di depan wajahnya, mungkin hanya berjarak 30 cm. Jantungnya serasa berhenti kala itu juga. Pandangannya terlihat buram, dia masih sempat melihat seorang pria berambut merah turun dari mobil itu dan menghampirinya. Setelah itu, hanya gelap yang ia lihat.
.
.
.
TBC
A/N:
Makasih banget buat yang udah baca, ripiu, nge fav dan follow. makasih buat koreksinya ya. Sering-sering koreksi author ini ya. see you next chap
Ditunggu ripiu, saran, dan kritiknya ^_^
#ByeBye~
