LESS SUGAR, PLEASE!

.

Copyright

©Mayonice08

2014

A Haeyuk Fic

.

Special Request from #takbolehdisebutnamanya#

serta

mbak Desul, si eonnie yang cerewet :*

.

AU, YAOI, OOC

a/n: penuh dengan deskripsi. Karena karakter pemeran utama disini yang irit omong. Xd

.

OST. Fic ini = Goodbye My Love by Ailee

(tak ada sangkut pautnya dengan jalan cerita, tapi lagu itu kuputar selama menulis ini)

.

.

"Donghae-ssi!"

"Iya?"

"Donghae-ssi. Kutunggu di depan gerbang kampus," serunya. Dibalas oleh anggukan Donghae.

Well, makan sore kali ini. Semoga bisa membuat Hyukjae mampu melihat senyum di wajah pemuda tersebut. Semoga saja.

.

.

PART 2

.

.

Keduanya sepakat untuk makan di salah satu kedai makanan cepat saji yang memiliki icon ayam itu. Mereka memilih kursi di dekat jendela kaca.

Duduk di salah satu kursi pengunjung yang terletak cukup jauh dari konter. Donghae dan Hyukjae membawa nampan makanan mereka. Menaruhnya di atas meja sambil mendudukan diri saling berhadapan.

Hyukjae menatap makanan pesanannya, meraih milkshake pesanannya. Ia menikmati minuman tersebut, menyesap larutan berperasa grape.

Donghae mengamati ulah Hyukjae. Ia sendiri mulai melahap chicken wing pesanannya. Dan segelas pepsi.

"Kau suka makanan cepat saji?" tanya Hyukjae membuka percakapan. Mulutnya kini mengunyah pinggiran burger dengan pelan.

Donghae menggeleng. "Tak begitu sih, aku jarang mampir kesini, aku lebih suka masakan rumahan," jawabnya singkat.

"Yah, kenapa tadi tidak bilang? Kan kita bisa mampir ke kedai yang lain saja tadi," gerutu Hyukjae. Ia menurunkan burger-nya. Berhenti mengunyah roti isi hum dan selapis cheese itu.

Donghae mengedikkan bahu. "Aku tak bilang tak suka kan? Hanya tak begitu suka."

"Uh, itu artinya hampir sama," timpal Hyukjae. Ia mendengus pelan. "Padahal niatnya aku ingin mentraktirmu, tapi kau tak suka makanan seperti ini."

"Aku tadi tak menolak kan? Sudahlah, kunyah lagi makananmu,"

Hyukjae merengut. Padahal dia sudah membayangkan menghabiskan waktu bersama Donghae untuk makan sore dengan nyaman. Tapi, lihat? Gara-gara kesukaannya dengan makanan cepat saji.

"Lain kali, kita makan di kedai masakan tradisional di dekat perempatan," gerutu Hyukjae. Kembali mengunyah burgernya, masih dengan wajahnya yang merengut.

"Iya," jawaban itu terdengar pelan. Tapi pelafalannya yang jelas membuat Hyukjae segera mengarahkan pandangan pada Donghae yang tengah memandangnya dengan minim ekspresinya.

Benarkah akan ada lain kali? Pertanyaan itu menggema di pikiran Hyukjae.

.

.

Makan sore bersama kali itu menjadi awal permulaan keduanya saling menghabiskan waktu untuk bersama di luar. Beberapa kali, namun masih bisa dihitung dengan jari. Hyukjae pergi bersama dengan Donghae. Sekedar menyesap kopi dan roti di salah satu coffee shop agak jauh dari kampus mereka.

Entahlah. Hyukjae tak tahu alasan pastinya. Entah kenapa, Hyukjae rasanya enggan untuk menghabiskan waktu di coffee shop tempat pertama kali mereka bertemu, tempat temannya―Sungmin dan Kyuhyun bekerja. Ia merasa nyaman bersama Donghae di tempat orang lain tak mengenal dan memperdulikan mereka.

Beberapa hari yang lalu, mereka juga sempat bertandang ke salah satu ice cream palor yang berada tak jauh dari flat Hyukjae. Hyukjae merasa nyaman ketika berada di dekat pemuda itu.

Donghae memang terkesan dingin dan minim ekspresi. Tapi, sebenarnya dia pribadi yang cukup cerewet diajak berbincang jika kau sudah mengenalnya dekat. Wajahnya yang minim ekspresi itu memang sepertinya bawaan dari lahir. Selama dekat-dekat dengan Donghae, Hyukjae nyaris tak pernah melihat pemuda itu tertawa. Tersenyum saja bisa dihitung dengan jari. Itupun senyum tipis yang akan raib dalam hitungan detik.

Donghae terbiasa memasang tampang serius. Dahi tercenung, tatapan mata tajam di balik kacamatanya. Kadang, Hyukjae ingin mengusap alis tebal itu. Mengusap dahi milik pemuda itu. Agar lipatan dahinya yang membuat ekspresi Donghae semakin serius itu menghilang. Well, Hyukjae pernah sekali akan melakukannya. Tapi saat tangannya sudah melayang, mau menyentuh wajah Donghae.

Manik hitam itu teduh menatapnya. Kikuk dan terperangkap dalam pesonanya. Hyukjae malah terdiam tanpa gerak. Sadar-sadar, ia masih dipelototi Donghae dengan tatapan penuh tanya. Ya, seperti saat ini.

"Ada sesuatu di wajahku?"

Hyukjae tergugu. Ia ingin bilang ada. Ada sesuatu. Entahlah itu apa, yang pasti membuat Hyukjae tak ingin lepas memandang wajah Donghae.

"Uh-huh, itu di dahimu ada kotoran," jawab Hyukjae asal. Entah bagaimana, dia bisa menjawab tanpa tergagap. Padahal dentuman di dadanya begitu keras, kala ia sadar betapa dekatnya wajah Donghae dan wajahnya.

"Benarkah?" Donghae mengusap dahinya asal-asalan. "Sudah hilang?" tanyanya.

Hyukjae mengangguk sembari menjauhkan badannya yang terlalu mencondong pada Donghae.

"Donghae sekelas dengan Siwon, kan?"

Pertanyaan itu melayang saat keduanya sibuk terlalu lama terdiam.

Donghae yang tengah menatap cangkir kopinya segera mendongak. Ia mengangguk pelan. "Iya." Jawaban singkat, terlalu singkat.

"Padahal kalian sekelas ya, tapi aku baru kenal Donghae beberapa minggu belakangan ini. Padahal aku sering kali ke kelas kalian, tapi kenapa kita tak pernah bertemu ya?" Hyukjae bertanya sambil menopangkan dagunya.

Donghae mengedikkan bahu. "Entahlah."

"Tapi lucu juga ya, pertama kita bertemu gara-gara secangkir kopi. Ugh, kalau ingat itu aku rasanya ingin merutuki Kyuhyun. Bocah itu selalu usil," celoteh Hyukjae. Mengingat pertemuan pertama mereka.

"Kau masih tak suka dengan kopi hitam?" tanya Donghae.

Tanpa berpikir. Hyukjae langsung menggeleng. "Iya. Kopi hitam itu ugh. Rasanya aneh, terlalu pekat. Di lidah rasanya tak enak," jawabnya jujur.

Ucapannya membuat senyum tipis tertampil di wajah Donghae. "Benarkah? Setidak enak itu? Kau mau coba kopiku?" tawarnya. Menunjuk cangkir kopi di hadapannya.

Hyukjae mengibaskan tangannya. Menolak penawaran Donghae. "No," ucapnya cepat.

"Coba satu tegukan, ya?" tawar Donghae lagi.

"Ugh, noooooooooo. Kopi hitam rasanya yuks. Aku kan tidak suka pahit," timpal Hyukjae.

Donghae yang tadi duduk di hadapan Hyukjae, kini berdiri dari kursinya. Ia mendudukan diri di kursi samping Hyukjae duduk. Lelaki itu mencondongkan tubuhnya agar dekat dengan Hyukjae. Sebalah tangannya meraih cangkir kopi miliknya.

"Ayolah coba, kau takkan mati gara-gara secangkir kopi hitam," ujar Donghae meyankinkan. Pandangan matanya berkilat ceria ketika menangkap wajah Hyukjae yang menatapnya aneh.

"Its no, Donghae-ah," seru Hyukjae lagi. Menggoyangkan jari telunjuknya di depan wajah Donghae untuk menjelaskan ungkapan tidaknya.

"Ayolah, aku memaksa," sahut Donghae cepat. Ia mengarahkan pinggiran cangkir itu ke mulut Hyukjae.

"Ugh, kubilang tidak kan. Kenapa sih memaksa?" gerutu Hyukjae. Hidungnya mengerut imut saat ia membayangkan cairan pekat dan kental itu masuk ke mulutnya.

"Bagaimana kalau aku memasakkan pasta untukmu, asal kau mau menyesap kopi ini? Kau mau?" tawar Donghae.

Entah untuk alasan apa. Si Mr. Black Coffee yang biasanya minim ekspresi dan irit omong ini begitu persistent memaksa Hyukjae merasakan kopi hitam. Sudah cukup sekali saja Hyukjae merasakan. Lelaki imut itu tak ingin menjajal untuk kali kedua.

Hanya saja, penawaran Donghae begitu menggiurkan. Ugh, pasta. Bukan masakan tradisional sih. Itu bahkan salah satu masakan khas negara di Eropa. Italia. Tapi, rasanya Hyukjae ingin mencicipi pasta buatan Donghae. Biasanya, mereka hanya menghabiskan waktu menyantap masakan tradisional id kedai sederhana, kopi, kalau tidak jajanan di pinggir jalan.

Kali ini, Donghae menawarkan untuk memasak untuknya. Oh, God. Bolehkan kalau Hyukjae mengalah untuk merasakannya?

Menggigit sudut bibirnya, Hyukjae memandang ke wajah Donghae sekali lagi. Mematut wajah rupawan itu, mendalami manik kelam yang dibingkai kacamata tengah berkilat ceria menatapnya.

"Hm, o... okay." Sejujurnya itu terdengar seperti pentanyaan daripada pernyataan. "Hanya satu teguk," timpal Hyukjae cepat.

"Baiklah," kata Donghae. Ia mendekatkan pinggiran cangkir kopinya pada Hyukjae. Mulut Hyukjae masih mengatup. "Hyukjae, buka mulutmu. Berhenti menutup matamu seperti itu, kau takkan mati karna kopi ini," ucap Donghae. Ia terkekeh pelan melihat ekspresi Hyukjae seperti orang ketakutan.

Hyukjae cemberut imut. Namun, seketika ia termenung kala sadar mendengar suara kekehan Donghae. Ya Tuhan! Ini kali pertama lelaki itu terkekeh. Harusnya tadi ia mengabadikan momen tersebut.

Tanpa sadar, senyuman Hyukjae terkembang. Gusi merah mudanya tertampil cantik bersamaan deretan gigi putihnya yang rapi. Ia pasti terlihat seperti orang bodoh dengan gummy smile lebarnya itu. Tapi, Hyukjae tak peduli. Baru saja ia mendengar Donghae terkekeh. Padahal membuat pria itu tersenyum saja sangat sulit.

Ketika pinggiran cangkir itu menempel di bibirnya. Hyukjae membuka mulutnya sedikit. Membiarkan Donghae menyuapinya. Hyukjae bahkan tak merasakan getir kopi hitam yang pahit itu. Manis senyuman Donghae yang kini ia pandangi membuat segalanya terasa manis.

"Enak, kan?" tanya Donghae. Menaruh cangkirnya di atas meja lagi.

Hyukjae mengangguk. "Manis," lirihnya pelan.

Donghae menaikkan sebelah alisnya, mengernyit bingung. Ia pikir sepertinya Hyukjae mulai berhalusinasi. Sejak kapan kopi hitam terasa manis? Dan mengapa senyuman itu tak kunjung hilang dari wajahnya?

Lelehan kopi hitam di sudut bibir merah muda Hyukjae, tampak begitu kontras dengan kulit putih bersihnya. Tiba-tiba, pemuda kaku itu mengacungkan jemarinya. Mendarat pelan pada sudut bibir Hyukjae. Mengusap pinggiran bibir itu lembut. Menyapu lelehan kopi.

Merasakan sentuhan kecil di sudut bibirnya. Hyukjae terduduk kaku. Begitu kaku, karena gerakan Donghae yang tak terduga olehnya. Irisnya tak sedetikpun melewatkan untuk memandangi pemuda tampan berkacamata tersebut.

"Kau mau lagi?" tawar Donghae dengan tatapan teduh yang memabukkan.

Hyukjae yang linglung mengangguk lagi. Ya Tuhan. Hyukjae sepertinya berubah abnormal.

.

.

Tawaran Donghae memasakkan pasta untuknya belum terlaksana meski dua minggu sudah berlalu. Hyukjae yang disibukkan dengan tugas membuat lagunya mulai sibuk kembali. Ia fokus mencari inspirasi untuk lagunya. Bukan hanya tugas utamanya itu, tumpukan makalah yang minta segera diselesaikan pun rasanya tak ingin kalah.

Setiap pagi, Siwon akan datang menjemputnya ke kampus. Lalu, mengantarnya pulang. Hyukjae tak sempat untuk menemui Donghae. Sekadar menyapa lelaki itu ke kelasnya saja ia tak sempat. Untuk makan siang saja, Siwon sekali lagi menjadi malaikat penyelamatnya. Lelaki itu datang ke kelasnya sewaktu jeda istirahat. Membawakan Hyukjae makanan untuk mereka santap berdua di kelas.

Mungkin, bagi orang yang tak tahu betul hubungan keduanya, akan mengira hal itu sangatlah romantis. Sejujurnya memang sih, Siwon penuh perhatian. Meski kenyataan berkata lain diantara keduanya.

"Siwon-ah, tugasku masih belum selesai. Sepertinya nanti aku lembur di kelas," ucap Hyukjae pada Siwon di seberang telpon.

"Kau tak sendirian, kan?" Siwon berujar khawatir.

"Tidak kok, aku mengerjakan tugas kelompok. Ada Ryeowook, Yesung dan teman-teman bersamaku. Kau pulang duluan saja ya."

Lelaki berperawakan tegap dan gagah itu segera membalas, "Kau pulang jam berapa? Biar kujemput, aku takut kalau kau berjalan sendirian malam-malam ke flat," sahutnya.

"Tak usah, aku bisa pulang sendiri," ucap Hyukjae.

"Hyuk-ah, kau tahu kan? Aku mudah khawatir kalau menyangkut tentangmu? Selesai mengerjakan tugas, kau hubungi aku secepatnya. Aku akan menjemputmu," tutur Siwon.

Menghela nafas, Hyukjae mengangguk. "Baiklah, nanti aku telpon," ucapnya singkat.

"Nah begitu, semangat sweetie, jangan lupa makan ya," kata Siwon mengingatkan.

Hyukjae tersenyum simpul, "Nde, Siwon-ah. Aku tutup ya."

"Bye, sweetie," sahut Siwon singkat sebelum sambungan telpon tersebut terputus. Hyukjae menaruh telponnya di atas meja. Ia mengedarkan pandangan pada teman-temannya yang tengah menatapnya.

"Apa?" tanya Hyukjae bingung.

Yoora, salah satu teman sekelompoknya menyunggingkan senyum. "Hyukjae-ssi benar-benar beruntung ya. Punya pacar tampan dan perhatian seperti Siwon-ssi," uacpnya ceria.

Miryoung yang juga teman sekelompok Hyukjae menyahut, "Iya. Kau tahu banyak sekali yang iri melihat kalian. Ah, seandainya saja aku punya pacar sekeren Siwon-ssi. Aku pasti akan hidup bahagia," serunya. Yoora dan Miryoung pun berkicau kembali tentang lelaki yang dikira pacar Hyukjae itu.

Hyukjae hanya mencebikkan bibirnya. Ia bosan melihat orang lain menganggap hubungannya dengan Siwon sangat spesial, lebih dari teman. Padahal kenyataan tak seperti itu.

"Ah, maaf Hyukjae-ssi, aku tak bermaksud membuatmu cemburu. Aku malah kelepasan memuji pacarmu di depanmu. Sungguh, aku tak ada niat apa-apa," sahut Miryoung cepat.

Perempuan itu salah mengartikan ekspresi Hyukjae. Hyukjae mengangguk sambil menyunggingkan senyum tipis. Tak apalah, toh Hyukjae mengelak pun bagi mereka takkan ada artinya.

.

.

"Sampai sini saja," ucap Hyukjae. Suara mesin mobil Siwon pun terhenti. Siwon menoleh pada Hyukjae sambil tersenyum.

"Benar sampai sini saja?" tanyanya.

Hyukjae mengangguk sambil meraih perlengkapannya yang berada di jok belakang. Ia mengeratkan jaketnya. Sebelah tangannya menangkup perlengkapannya di depan dada.

"Thanks Siwon-ah," kata Hyukjae. Siwon tersenyum lagi. Ia mengusap puncak kepala Hyukjae.

"Biar aku bantu," kata lelaki itu. Membuka pintu mobilnya. Segera mengitari mobilnya untuk meraih pintu mobil di jok penumpang. Membukakan pintu untuk Hyukjae.

Hyukjae terkekeh pelan. Ia segera keluar dari mobil, "Kau membuatku merasa seperti perempuan saja," gerutunya.

"Nah, bukan perempuan. Tapi seorang yang spesial yang harus mendapat perlakuan spesial," timpal Siwon.

"Terserahlah," kata Hyukjae.

"Hati-hati sweetie, apa perlu kuantar sampai ke depan pintu?" tawar Siwon.

Hyukjae menggeleng, "Tak usah Siwon-ah. Trimakasih," katanya.

Siwon mengecup pipi Hyukjae sekilas. "Bye." Setelah itu ia kembali masuk ke dalam mobilnya.

Hyukjae melambaikan tangan pada Siwon. Ia berbalik, memandang tangga panjang menuju flat-nya. Huft, terkadang di saat seperti ini. Hyukjae agak menyesal memilih menyewa flat yang harus melewati puluhan tangga untuk menuju flatnya. Seharusnya dulu, ia menyewa flat yang strategis. Tak harus berjalan kaki sampai jauh.

Bahkan mobil pun tak bisa di parkir di depan flat-nya. Mengingat tangga itu satu-satunya akses untuk menuju jalan utama. Sepertinya, kalau semua tugas semester ini telah terlewati. Sudah saatnya Hyukjae mencari flat baru yang lebih nyaman untuk ditinggali.

.

.

"Donghae," seru Hyukjae.

Ya Tuhan, ia segera tersenyum dengan gummy smile-nya. Perasaan hangat hinggap di hatinya ketika ia memandang wajah Donghae yang sudah beberapa hari ini tak pernah ia lihat. Hyukjae merasa senang.

Setelah sampai di flat beberapa menit lalu, Hyukjae segera mengambil dompet kala ingat ia kehabisan stok makanan. Sejujurnya ia tak menyangka kalau bertemu Donghae di minimarket ini lagi. Meski, diam-diam ia berdoa agar hal itu terjadi.

"Hyukjae-ssi," sapa Donghae.

"Tak kusangka bisa bertemu denganmu, bagaimana kabarmu Donghae? Err, kupikir kita sudah melewati tahap saling menyapa dengan formal," celoteh Hyukjae. Tampaknya ia terlalu senang bertemu lelaki itu.

Donghae hanya menatapnya tanpa menjawab pertanyaan yang dilontarkan Hyukjae. Pemuda itu kembali melanjutkan kegiatannya memilih barang belanjaan.

"Kau sedang belanja?" tanya Hyukjae tak penting. Toh bisa dilihat langsung jawabannya.

"Hm," jawab Donghae singkat.

Hyukjae mengernyit bingung. Kok berbeda dengan Donghae yang biasanya. Ia sih Donghae memang minim ekspresi dan dingin. Jarang sekali bicara. Tapi, dia yang sekarang terlalu err-dingin dan kaku.

Apa mungkin ini gara-gara dua minggu terakhir? Hyukjae tak pernah memberi kabar sekalipun bahkan muncul di hadapan Donghae. Apa mungkin iya karena itu? Lalu, jika benar untuk apa Donghae begitu? Ugh, Hyukjae jadi merasa bersalah.

Ia segera mengekori Donghae. Buru-buru ia mendekat pada Donghae yang berjalan menjauhinya. Hyukjae meletakkan tangannya di lengan Hyukjae.

Donghae segera membalikkan badan pada pemuda itu.

Tergugu oleh tatapan tajam Donghae. Hyukjae menggigit sudut bibirnya. Ragu untuk berucap. Namun, ia tak mungkin diam saja melihat perlakuan dingin Donghae terhadapnya.

"Donghae-ah, tawaran kemarin masih berlaku?"

Ya Tuhan, manik mereka bertemu. Terpaut saling memandang. Namun, kenapa Donghae tak mengucap sepatah kata pun? Mengapa hanya diam?

"A-aku, kau sudah berjanji memasakkan pasta untukku, kan?" tanya Hyukjae.

Sungguh, Hyukjae tak suka keheningan. Apalagi jika Donghae juga terlibat di dalamnya. Ia tak suka. Takkan suka.

.

.

Keduanya berakhir di flat Hyukjae. Donghae membeli beberapa belanjaan, salah satunya barang-barang yang ia gunakan untuk memasak pasta. Sepanjang perjalanan Hyukjae mengekor di belakangnya. Masih kikuk.

Hyukjae masuk ke dalam kamarnya sebentar. Mencopot jaketnya serta mengganti pakaiannya dengan long sleeve longgar dan celana piyama yang nyaman di tubuhnya.

"Ada yang bisa aku bantu?" tanya Hyukjae memandang Donghae yang tengah sibuk di konter dapurnya.

Donghae mendongak, "Duduk saja," ucap pemuda itu. Hyukjae menurut. Konter dapurnya menyatu dengan ruang tamu, sehingga ia leluasa untuk menatap Donghae yang serius memasak.

Hyukjae bertopang dagu sambil memandang Donghae. Pemuda itu tampak sangat tampan ketika alisnya tercenung mengolah masakan. Sedang memasak saja ia memasang ekspresi serius. Kaku. Oh, terlihat lucu sekali.

"Donghae... kau mau nonton film apa? Bagaimana kalau kita menonton film saja? Kau tak apa, kan? Berlama-lama disini," tawar Hyukjae. Ia menuju rak kaset filmnya.

Donghae yang tengah memotong beberapa bahan, hanya menimpali sesaat, "Terserah."

Hyukjae melihat-lihat kaset filmnya. Sudah lama sekali ia tak menghabiskan malam menonton film bersama seseorang. Terakhir kali, ia ingat Junsu dan dia suka menghabiskan jumat malam untuk acara bonding time persahabatan mereka. Salah satu hal yang mereka lakukan yaitu menonton film bersama dan menginap. Ia jadi rindu Junsu. Pemuda itu sekarang jarang menelponnya. Besok pagi-pagi Hyukjae akan menelpon sahabtnya itu.

Harum aroma masakan segera menguar di flat-nya. Hyukjae tak sabar untuk mencoba masakan Donghae. Hyukjae beranjak dari tempatnya setelah selesai memilih kaset. Ia menyiapkan TV dan DVD playernya. Sebelum, menghampiri Donghae.

"Baunya harum," puji Hyukjae. Ia mencuri pandang dari balik punggung Donghae. Melihat pasta yang dimasak Donghae hampir matang.

Donghae menoleh sedikit, mengingat wajah Hyukjae begitu dekat dengannya.

Hyukjae melayangkan senyum ceria. "Baunya membuatku lapar, hm... tak kusangka Donghae pintar memasak," pujinya lagi.

"Siapkan minuman, sebentar lagi pastanya matang."

"Jus? Atau kopi?" tanyanya.

"Jus saja," timpal Donghae. Hyukjae beralih pada kulas di pojok mengambil sekotak jus dan botol air mineral.

Menyiapkan piring untuk pasta. Hyukjae menaruhnya di dekat Donghae. Setelah itu, ia kembali beringsut ke depan televisi yang ada di ruang tamu. Memilih duduk di lantai kayu. Hyukjae baru teringat untuk menghidupkan pemanas ruangan.

Donghae bergabung dengannya, menaruh piring di atas meja makan yang kecil itu. Aroma pasta yang harum menyeruak di ruangan. Hyukjae mengusap telapak tangannya tak sabar mencicipi masakan di depannya.

"Sepertinya enak," ujarnya mengulas senyum.

Donghae mengangguk. "Kujadikan satu, tak apa kan?"

Hyukjae tak masalah. Makan sepiring, minum segelas, atau apalah itu. Asal dengan pemuda di depannya ini ia tak apa kok.

Hyukjae mengambil garpunya dan mulai melahap pasta. Donghae pun mulai melahapnya. "Enak sekali, Donghae-ah," puji Hyukjae. Ia menatap Donghae dengan pandangan berbinar.

Donghae hanya meliriknya tanpa mengucap apapun. Hal itu membuat Hyukjae tercenung sesaat. Garpu yang dia pegang melayang diudara. Manik Hyukjae tertumbuk pada wajah Donghae yang minim ekspresi itu.

Sedingin dan sekaku Donghae, pemuda itu tak pernah berlaku seperti ini pada Hyukjae. Kecuali awal-awal mereka bertemu, Donghae begitu kaku. Lantas kenapa sekarang pemuda itu tak bereaksi mendengar pujian yang dilontarkan Hyukjae. Malam ini juga sepertinya Donghae lebih irit omong. Bahkan Hyukjae tak mendengar Donghae menyebut namanya. Ia sedikit seklai berucap. Apa ini ada hubungannya dengan Hyukjae yang tak menghubunginya selama dua minggu? Apa Donghae marah?

"Apa kau marah?" seru Hyukjae. Donghae yang tengah menyendok pastanya melayangkan tatapan tajam pada Hyukjae.

Jika lati tak mengeluarkan suara, mata menjadi jendela ekspresi yang jelas. Hyukjae memandang sendu iris kelabu Donghae. Mengartikan tatapan Donghae yang tajam itu, entah kenapa ia rindu Donghae memandangnya dengan teduh.

Bukan tatapan teduh seperti biasa, bukan binar bahagia yang akan tampak di iris mata Donghae. Tak juga ada tatapan hangat dari iris itu. hyukjae baru menyadarinya, selama malam ini Donghae belum menatapnya seperti biasa. Tatapan Donghae yang membuat Hyukjae menghangat sampai ke ulu hati.

"Apa kau marah, Donghae?" tanyanya lagi ketika pertanyaan pertamanya tak terjawab.

Donghae masih saja diam, mematung seperti biasa. Bibir tipisnya seolah dikunci. Tak menunjukan gelagat ingin bicara. Dada Hyukjae rasanya menyesak, ia merasakan seperti ada yang mencengkeram sesuatu di dalam dadanya.

"Kau marah padaku, kan? Apa ada hubungannya dengan kejadian minggu ini? Apa karena aku tak menemuimu?" tanya Hyukjae.

Donghae masih diam. Great! Hyukjae seolah berbincang dengan patung saja.

"Donghae, katakan sesuatu. Kau marah, kan? Kau tak memanggil namaku, kau irit bicara bahkan sedari tadi kau mengalihkan pandangan saat bicara. Kau membuatku khawatir, kata―"

"Aku tadi melihatmu dan Siwon," ucapan itu terlontar dari mulut Donghae.

"Siwon mengantarku pulang. Donghae! Jangan alihkan pembicaraan, kau belum menjawab pertanyaanku. Kau marah? Kau marah padaku, huh?"

"Setiap hari Siwon mengantarmu?" Lagi-lagi Donghae bukan menjawab.

Hyukjae mengangguk. "Iya, Siwon selalu melakukannya. Donghae, jawab dulu pertanyaanku, ini tak ada kaitannya dengan Siwon. Kau marah padaku? Kalau iya, aku meminta maaf. Belakangan ini aku sangat sibuk, sampa tak ada waktu menemuimu. Donghae, kumohon. Aku tak suka kau kaku padaku, aku tak suka kau diam seperti tadi," celoteh Hyukjae. Ia sebenernya merasa aneh dengan pertanyaan Donghae. Apa hubungannya hal ini dengan Siwon? Yang menjadi fokus utama Hyukjae adalah Donghae, apa pemuda itu marah padanya?

"Donghae ... katakan sesuatu? Jangan alihkan pembicaraan lagi," pinta Hyukjae dengan pandangan memohon. Hyukjae merasakan sedih ketika pemuda di depannya mengacuhkan pertanyaannya. Pandangan Donghae terhadapnya sekarang menjadi hal yang penting bagi Hyukjae, entah ia sadar atau tidak.

Iris kelabu itu melembut memandangnya. "Cepat makan pastamu sebelum dingin,"tutur Donghae.

"Donghae ..." Hyukjae tak suka jika pembicaraan ini ditutup begitu saja. Ia ingin Donghae terus terang. Hyukjae pun akan tulus minta maaf pada pemuda itu. "Maaf," lirih Hyukjae.

"Cepat makan, apa kau mau aku benar-benar marah padamu?" tegas Donghae. Ia menyendok pastanya dengan garpu. Menyeruput mie lidi itu. Hyukjae hanya bisa menurut. Menyendok pasta itu.

Masakan yang seharusnya terasa enak di lidah tersebut, rasanya terasa hambar. Suara seruputan pasta terdengar, ketika mereka melanjutkan melahap makanannya dalam diam. Keduanya makan tanpa bicara setelah itu.

Hyukjae mengambil meja makannya lagi. Membawa piring dan gelas kotornya ke konter dapur. Ia mencucinya cepat. Sedangkan Donghae memasukkan kaset film ke dalam DVD player.

"Kubuatkan kopi dulu, jangan di putar filmnya. Tunggu aku," ucap Hyukjae. Ia melirik Donghae sekilas, masih takut jika pemuda itu mendiamkannya.

"Hyuk, ada selimut?"

Pertanyaan Donghae itu sukses mengembangkan senyum di wajah Hyukjae. Ia tak mengira Donghae akan memanggil namanya setelah pembicaraan tadi. Hyukjae jengah dengan Donghae yang mendiaminya.

"Di dalam kamar, Donghae-ah. Ambil saja di rak lemari paling bawah," sahut Hyukjae riang. Menuangkan kopi yang ia buat pada dua cangkir. "Donghae, bawakan aku boneka di atas ranjang juga," serunya lagi.

Donghae masuk ke dalam kamar Hyukjae. Mengambil dua lembar selimut tebal. Meski penghangat ruangan sudah dinyalakan, namun udara musim gugur yang tengah berganti menuju musim dingin terasa menusuk kulit.

Selembar selimut Donghae bentangkan di atas lantai kayu. Ia kemudian membentangkan selimut lagi di atas tubuhnya. Remot DVD sudah ada di tangannya. Tinggal menunggu Hyukjae bergabung, dan film siap diputar.

Hyukjae senang melihat Donghae bergerak nyaman di flatnya. Pemuda itu tampak tak canggung bergerak kesana kemari. Bahkan melihat penampakan Donghae sekarang, bergelung di balik selimut di depan TV. Ia sudah seperti pemilik flat ini sendiri. Cepat-cepat, ia bergabung bersama pemuda itu.

Donghae menekan tombol play, setelahnya layar TV mulai memunculkan gambar pembuka film. Hyukjae tersenyum senang melihat film yang dipilihnya telah tayang.

"Film apa ini?"

"Thailand, ini film kesukaanku," seru Hyukjae.

"Dari covernya seperti film percintaan, kau suka film seperti ini?" Donghae memandangnya aneh.

Hyukjae merengut. "Yang penting pemeran utamanya tampan," balasnya.

Manik Donghae tak lepas memandangnya lagi. Tetap dengan tatapan aneh. Ia mengalihkan tatapannya pada cover kaset film tersebut, disana tertera jelas judulnya 'Bangkok Traffic Love Story'. Terlihat jelaskan genre apa film yang tengah diputar.

Hyukjae bergelung di sisi kirinya. Sama halnya dengan Donghae, ia menyandarkan punggungnya pada dinding flat. Sebuah bonek teddy berukuran besar ia peluk dengan lengan kirinya. Tipikal pemandangan yang menggemaskan kalau boleh jujur.

"Donghae."

"Ya?"

"Jika ada wanita seperti itu menyukaimu, apa kau akan luluh?" tanya Hyukjae di sela film yang baru berputar separuh jalan.

Donghae tak langsung menjawab. Menatap pemeran utama wanita yang berkepribadian aneh, lalu berganti menatap Hyukjae. Dalam film itu, si wanita utama bekerja keras demi mendapatkan perhatian pereman pria. Meski dengan tingkah anehnya, ia tak putus asa begitu saja. Apakah Donghae mau jika dihadapkan dengan wanita seperti itu?

"Kalau kau, jika ada pria yang mendekatimu dengan sungguh-sungguh, apa kau akan menolaknya?"

Hyukjae cemberut. Ditanya tapi malah balik bertanya. "Aku kan tanya, kenapa Donghae malah tanya balik," gerutunya.

"Jawabanmu?" Donghae memiringkan tubuhnya. Sehingga leluasa menatap Hyukjae.

"Ehm ... entahlah, kupikir. Jikapun ada pria yang mendekatiku dengan sungguh-sungguh, tapi kalau dari awal hatiku bukan untuknya. Bisa saja aku menolak," jawab Hyukjae. Pertanyaan ini membuatnya mengingat Siwon. Pemuda yang bersungguh-sungguh memperjuangkannya. Hyukjae terkadang merasa bodoh, telah menolak Siwon. Tapi, dalam hati ia ragu dengan lelaki itu. Hatinya seolah mengatakan bukan Siwon. Ia tak bisa memaksa, kan? Toh perasaan tak bisa dipaksa.

"Aku juga, selagi hatiku tak untuknya. Apapun yang ia perbuat, takkan membuatku luluh," timpal Donghae. Mendengar peryataan tersebut, senyum terukir di wajah Hyukjae. Dalam hati ia menaruh harap, kalau ia mampu meluluhkan pemuda itu.

.

.

"Aku tak punya nomormu," gerutu Hyukjae tiba-tiba. Saat adegan pemeran wanita dalam film bersikeras mencari cara agar mempunyai nomor telpon si pria. Hyukjae teringat hal itu.

"Kau tak pernah meminta," sahut Donghae.

"Kau juga tak pernah meminta nomorku. Padahal dari dua minggu yang lalu, aku ingin mengabarimu kalau aku sibuk, mau menemuimu di kelas tapi jadwal kita beda. Beruntung tadi kita bertemu lagi," celoteh Hyukjae. Beberapa kali ia menguap pelan. Ia menyamankan diri, meringsut mendekati Donghae tanpa sadar.

"Kau sibuk?"

"Hmm, tugasku mulai menumpuk lagi. Apalagi tugas membuat lagu belum selesai. Aku pusing kalau mengingatnya, kau tak punya banyak tugas? Siwon sepertinya tak sepusing aku, sepertimu juga. Kalian terlihat senggang."

Donghae menggedikkan bahu. Bukan menjawab pertanyaan Hyukjae. Kebiasaan Donghae sepertinya. Suka sekali seenaknya.

Hyukjae menelengkan kepala. Mematut wajah Donghae dengan maniknya. Ia menguap pelan. Rasa kantuk mulai menyerangnya. "Donghae... masih marah?"

Pertanyaan itu terulang lagi. Donghae memandang Hyukjae penuh arti. Pemuda itu meletakkan sebelah tangannya di paha Hyukjae.

"Kau mengantuk?"

Tak menjawab. Malah bertanya hal lain. Tipikal Donghae. Hangat telapak tangan Donghae yang mengusap pahanya pelan membuat Hyukjae terlena. Kantuk mulai menguasai. Hyukjae lelah untuk bertanya lagi. Mungkin besok ketika ia tak selelah ini.

"Hmm... Rasanya lelah," lirih Hyukjae. Kelopak matanya sudah mulai menurun. Sebenarnya ia ingin melawan kantuknya. Hawa hangat yang menguar dari tubuh Donghae, yang ada di sampingnya. Membuat Hyukjae merasa nyaman. Ia tanpa sadar mengalungkan lengannya pada lengan Donghae.

"Aku ingin tidur, rasanya nyaman," gumamnya pelan. Sebelum mebiarkan kepalanya menyandar di bahu Donghae.

.

.

"Kau mau es krim lagi?"

Hyukjae menangkupkan tangannya di depan dada. Menatap Donghae dengan manik yang berkilat, ia mengubah ekspresinya menjadi sendu dengan mencebikkan bibirnya imut. Beberapa kali irisnya mengerjap imut. Memohon.

"Gigimu tak sakit makan eskrim terus?" pertanyaan itu terlontar dari mulut Donghae.

Hyukjae mengekorinya. Meraih lengan Donghae. "Gigiku itu kuat, tak sensitif. Mau ya? Ya? Aku ingin eksrim di kedai waktu itu. Es krim di kedai tadi kurang lembut dan manis," pintanya ceria.

"Kita mampir ke coffee shop setelah itu," ucap Donghae.

"Baiklah, asal Donghae tak memaksaku minum kopi hitam lagi," sahut Hyukjae memasang senyuman manis di wajahnya.

Mereka berjalan beriringan. Dengan lengan saling bertaut. Donghae maupun Hyukjae tak sedikitpun merasa canggung atau tak nyaman. Entah sejak kapan, tautan lengan diantara mereka menjadi gesture yang biasa mereka lakukan. Gesture sederhana yang terjadi setiap kali mereka berjalan beriringan. Selagi, Hyukjae maupun Donghae tak merasa risih dan tak nyaman dengan hal itu, keduanya dalam diam membiarkan saja lengan ataupun jemari mereka mencari satu sama lain dalam tautan.

Hyukjae tengah asik menatap toko yang berada di pinggir jalan. Langkah kakinya bergerak seirama dengan Donghae, membuat dia tak menoleh ke depan. Ia bergerak mengikuti Donghae.

Trotoar yang cukup lenggang membuat Hyukjae dan Donghae bisa berjalan pelan tanpa terburu-buru. Mereka berpapasan dengan beberapa orang, salah satunya kumpulan gadis seumuran mereka yang tengah keluar dari salah satu toko pakaian.

"Bukankah itu kekasih Siwon?" celetukan seorang gadis terdengar tak jauh dari mereka.

"Mana-mana?" sahut gadis yang lain.

"Itu, yang tengah gandengan dengan pemuda berkacamata. Itu pacar Siwon, kan?" Kumpulan gadis yang sempat dilewati Hyukjae dan Donghae berbincang heboh.

"Iya! Benar-benar. Kurus, putih, rambut dan perawakannya juga. Itu pacar Siwon. Lalu, siapa pemuda itu? Jangan-jangan selingkuhannya?" terka gadis lain. Mereka semakin heboh membicarakan Hyukjae dan Donghae yang sudah berjalan cukup jauh.

.

.

TBC

.

Special thanks to:

Dekdes, Mifta, eunhyukuke, .1 , jewELF, Rillakumalili, Hyukpeniss, TakanOnodera, Cique, dwi, Fitri, nurul. , Meyla Rahma, FN, ren, han seo ae, kakimulusheenim, Haehyuk546, haehyuk86, cho. .794, dan HHSHelviJjang.

.

.

Terima kasih atas review dan masukannya di chapter sebelumnya. Aku nggak nyangka ada yang masih mengingat eksisetensiku dulu di ffn.

Apa sejauh ini kalian menyukai cerita ini? Aku harap ceritanya tak membosankan, karena sejujurnya aku sendiri bosan ketika mengetiknya.

Nah, untuk chapter selanjutnya sekaligus terakhir akan dipublish secepatnya, mungkin besok .

Komen?