LESS SUGAR, PLEASE!
.
Copyright
©Mayonice08
2014
A Haeyuk Fic
.
Special Request from #takbolehdisebutnamanya#
serta
mbak Desul, si eonnie yang cerewet :*
.
AU, YAOI, OOC
a/n: penuh dengan deskripsi. Karena karakter pemeran utama disini yang irit omong. Xd
.
OST. Fic ini = Goodbye My Love by Ailee
(tak ada sangkut pautnya dengan jalan cerita, tapi lagu itu kuputar selama menulis ini)
.
.
"Bukankah itu kekasih Siwon?" celetukan seorang gadis terdengar tak jauh dari mereka.
"Mana-mana?" sahut gadis yang lain.
"Itu, yang tengah gandengan dengan pemuda berkacamata. Itu pacar Siwon, kan?" Kumpulan gadis yang sempat dilewati Hyukjae dan Donghae berbincang heboh.
"Iya! Benar-benar. Kurus, putih, rambut dan perawakannya juga. Itu pacar Siwon. Lalu, siapa pemuda itu? Jangan-jangan selingkuhannya?" terka gadis lain. Mereka semakin heboh membicarakan Hyukjae dan Donghae yang sudah berjalan cukup jauh.
.
.
PART 3
LAST PART
.
.
"Seoul sepenuhnya sudah memasuki musim gugur," ucap Hyukjae memandangi dedaunan kering yang berterbangan di tiup sang bayu. Ia menatap takjub kala dedaunan berwarna coklat kejinggaan itu terbang indah sebelum tergeletak bebas di atas tanah.
Pandangan hazel Hyukjae tak pernah luput dari hal itu. Musim gugur memang bukan musim favoritnya, karena Hyukjae tak suka bergelung dengan pakaian tebal di bawah selimut. Tapi, setiap kali musim gugur datang. Pepohonan yang indah merekah di musim semi akan berubah warna menjadi coklat dan dengan daun kering bahkan gundul. Menakjubkan. Seperti lingkaran kehidupan. Sampai musim semi datang, mereka akan menguncup lagi. Indah berseri dengan kicauan burung berterbangan.
Musim gugur kali ini begitu menakjubkan. Ia mengulum senyum bahagia sambil mengingat hari-hari lalu. Dalam ingatan Hyukjae, tercetak jelas ketika di bawah temaram lampu penerangan jalan, seorang pemuda berkacamata dengan kaos dan celana jins belel menyusup ke dalam saraf-saraf otaknya tanpa sadar. Ketampanan pemuda itu saat wajahnya pias dengan cahaya temaram lampu, membuat sesuatu di dalam dadanya menghangat. Kala musim gugur berawal Hyukjae mengenal pemuda kaku di sampingnya.
Donghae menggeleng melirik pemuda manis di sampingnya. Setelah menghabiskan semangkuk eskrim lagi, kali ini di kedai kedua, pemuda itu masih bisa menyeretnya berkeliling. Mereka sempat mengunjungi coffee shop untuk memenuhi keinginan Donghae tentang dahaganya akan kopi. Donghae pikir, Hyukjae takkan memesan lagi, tapi coklat panas yang tengah dipegang pemuda itu membuat Donghae tak percaya dengan nafsu makan Hyukjae. Sangat kontras dengan tubuh kurusnya.
"Kalau kau bengong melihat pohon seperti itu terus, coklatmu akan dingin," Donghae mengingatkan. Pemuda kaku itu menyeruput gelas plastik berisi kopi hitamnya. Donghae menyadarkan punggungnya di kursi kayu itu, ia terlihat menikmati suasana taman kota yang cukup sepi.
Hyukjae menoleh kepadanya. "Iya-iya. Lama-lama aku merasa Donghae semakin cerewet," gerutu Hyukjae mulai menyesap coklat panasnya.
Donghae memandang pada pemuda kurus tersebut. "Apa kau tahu Paris?"
Binar di mata Hyukjae berkilat ceria. Ia mengerjap sambil membayangkan salah satu kota yang begitu terkenal di dunia ini. Dia mengangguk semangat. "Hm, aku tahu~ suatu saat aku pasti akan menginjakkan kaki ke sana," ujarnya penuh harap.
Donghae terkekeh pelan. "Diantara empat musim lainnya. Paris lebih indah ketika musim gugur," katanya.
"Donghae pernah kesana?" tanya Hyukjae penasaran.
Anggukan pelan itu menjawab pertanyaan Hyukjae. "Iya."
"Benarkah? Kenapa tak pernah cerita? uh, aku ingin sekali kesana. Tabunganku bertahun-tahun rasanya tak cukup untuk membeli tiket dan menyewa penginapan disana," bibir merah jambu itu mencebik imut.
"Aku besar di Paris. Hampir separuh hidupku, kuhabiskan di Paris,"jelas Donghae menatap ke depan seolah menerawang.
Agak terkaget Hyukjae menelengkan kepala memandang Donghae. Hal yang tak pernah bosan ia lakukan. Mematri wajah tampan itu dalam kotak ingatan di otaknya. "Sejak kapan Donghae tinggal di Paris? Aku tak menyangka kau besar disana, aku tak pernah mendengarmu bicara dengan bahasa Perancis pula."
"Ayah dan Ibu asli orang Korea. Kami pindah karena Ayah ditugaskan ke Paris saat aku berumur empat tahun," cerita Donghae. Ia menyeruput kopi hitamnya lagi. Memejamkan maniknya sambil meresapi pekatnya kopi itu menyerang indera perasanya.
"Kenapa Donghae pindah?" Rasa ingin tahu Hyukjae mulai muncul. Pemuda manis itu merasa ia tak pernah bosan untuk mengorek informasi dari kehidupan Donghae. Baginya, mengetahui detail kecil dari pemuda kaku itu sangat menarik.
"Haruskah aku menjawab?" Tipikal Donghae. Bertanya balik ketika ditanya.
"Donghae selalu suka seenaknya," Hyukjae menggerutu sebal.
"Kau benar-benar ingin ke Paris?"
Hyukjae mengangguk antusias. Ekspresi kesalnya berubah seratus delapan puluh derajat sekarang. "Sangat ingin."
"Suatu saat aku bisa mengajakmu," tutur Donghae.
Hazel itu menatapnya lekat, menaruh harap. 'Bolehkah kuartikan itu sebagai janji?' batin Hyukjae dalam hati.
.
.
Rumor tentang perselingkuhan Hyukjae mulai tersebar di kampusnya. Pada awalnya, Hyukjae yang tak tahu apa-apa hanya mengedikkan bahu ketika satu dua orang menatapnya tak suka. Toh, Hyukjae tak mengenal mereka.
Hanya saja, ketika beberapa teman sekelasmu berbondong-bondong menghakimimu dengan tatapan sinis. Beberapa ada yang menyebut Hyukjae 'tukang selingkuh' secara terang-terangan. Ada juga yang mencerca Hyukjae sebagai 'lelaki murahan'. Ya Tuhan, Hyukjae merasa terpojokkan.
Apa salah Hyukjae? Sejak kapan dia menjadi tukang selingkuh? Seingat Hyukjae, ia tak memiliki kekasih. Lalu, siapa yang ia selingkuhi? Murahan? Mereka bahkan menyebut Hyukjae lelaki murahan. Hati Hyukjae sakit mendengar bully-an verbal seperti itu.
"Ryeowook-ah," panggil Hyukjae sambil berbisik.
Pemuda pendek yang duduk di kursi depannya itu membalikkan badan. Menatap Hyukjae seolah bertanya apa.
"Kau tahu gosip yang beredar?" Hyukjae bertanya dengan suara pelan.
Ryeowook mengangguk. "Tentangmu, kan?"
Hyukjae menggigit bibirnya. "Iya, aku tak tahu apa-apa. Tapi kenapa orang-orang menatapku sinis," jujurnya.
Ryeowook membalikkan kurisnya. Mereka memang berteman akrab, tapi tak begitu dekat sampai bisa disebut sahabat. Tapi, pemuda pendek ini simpatik pada Hyukjae. Ia kenal Hyukjae seperti apa. Jika desas-desus buruk tentangnya bertebaran. Ryeowook juga merasa jengah.
"Mereka mengira kau selingkuh di belakang Siwon," ucapnya blak-blakan.
Mendengar pernyataan tersebut, manik Hyukjae membulat tak percaya. "Se-selingkuh? Di belakang Siwon? Ya Tuhan, yang benar saja," ucap Hyukjae. Ia mengerjapkan matanya masih tak percaya dengan hal yang didengar.
"Entahlah. Aku mendengar sendiri gadis-gadis tukang gosip itu bicara. Hyuk, kau tak selingkuh-kan?"
Hyukjae memandang Ryeowook sedih. Temannya ini bahkan bertanya tentang hal itu. "Tidaklah. Kau tak percaya padaku? Ryeowook-ah, aku bahkan tak pacaran dengan Siwon," Hyukjae mengelak.
"Kupikir juga begitu. Setahuku, kalian tak pacaran. Hyuk, lebih baik kau meluruskan hal ini dengan Siwon. Kau tahu, penggemar Siwon itu banyak sekali di kampus ini, mereka akan terus-terusan menghakimimu seperti ini jika kau tak bertindak," saran Ryeowook.
Hyukjae mengangguk, mengerti. Ia menyandarkan kepalanya di atas meja. "Aku bahkan tak mengerti kenapa ini terjadi?" lirihnya.
Ryeowook mengusap pelan puncak kepala temannya itu. "Sebenarnya, kau dekat dengan siapa sekarang? Kau tahu kan, takkan ada asap jika tak ada api. Tak mungkin mereka berulah kalau tak ada sesuatu kan, Hyuk?"
Hyukjae melirik Ryeowok sesaat, memejamkan maniknya setelah itu. Siapa yang dekat dengan Hyukjae? Hyukjae tahu jelas jawabannya. Ada seorang pemuda kaku yang masuk ke dalam kehidupannya. Pemuda itu diam-diam menyita perhatiannya. Memberikan semangat baru dan kebahagiaan yang belum pernah Hyukjae rasakan. Lewat perilakunya yang seenaknya, serta ekspresinya yang serius dan minim itu. Hyukjae merasakan berdebar. Hyukjae merasakan hangat tiap jemari mereka tertaut.
Yang jelas, pemuda itu bukanlah sosok Siwon. Bukan, Siwon.
.
.
Pertengahan November, Siwon berjalan di samping Hyukjae. Mengantarkan pemuda kurus itu sampai ke kelasnya. Hyukjae dan dia belum sempat membahas tentang gosip yang beredar. Hyukjae rasanya ingin bertanya dan mendengar pendapat temannya itu. Tapi, Hyukjae jengah sendiri. Ia merasa kesal sendiri sebelum mengutarakan pertanyaan.
Anehnya, Siwon tak pernah bertanya. Entah telinga pemuda itu tuli atau bagaimana, gosip tentang Hyukjae selingkuh saja semakin jelas tersebar. Tapi, Siwon masih cuek tentang hal itu.
"Semangat belajar ya, sweetie. Nanti kalau kau selesai kuliah, telpon aku. Aku akan mengantarmu pulang,"ucapan manis Siwon mengalun begitu saja tanpa ada yang singgah di hati Hyukjae.
Hyukjae mengangguk. Ia menepis tangan Siwon yang ingin mengacak rambutnya. Tiba-tiba saja Hyukjae merasa kesal dengan pemuda di hadapannya itu. Kenapa tingkahnya masih biasa saja seolah tak ada apa-apa?
"Sweetie," panggilan sayang itu terucap lagi.
Hyukjae jengah. Semakin jengah. "Aku masuk ke kelas dulu," ucapnya singkat. Hyukjae akan membalikkan badannya jika saja Siwon tak menahan lengannya.
"Kau kenapa?" tanyanya perhatian.
Hyukjae mengalihkan pandangan. Kalau Siwon ingin bermain bodoh dan berpura-pura tak tahu, okay. Hyukjae akan menyanggupi. "Tak apa. Sebaiknya kau cepat ke kelas, aku tak mau kau terlambat," tukasnya.
"Baiklah. Jangan cemberut seperti itu, kau membuatku khawatir," Siwon berucap lagi dengan nada penuh perhatian.
Kali ini, orang buta pun sepertinya bisa menangkap raut wajah Siwon yang khawatir dari nada suaranya. Rasa-rasanya, Hyukjae ingin menanyai pemuda itu. Siwon menganggap dirinya apa? Kenapa Siwon selalu memperlakukannya seperti ini padahal Hyukjae telah menolaknya? Kenapa Siwon masih lembut menyebut namanya, setelah Hyukjae menghancurkan hatinya dengan penolakan itu?
Marah kepada Siwon pun, rasanya salah. Gosip ini pun tak membuat Siwon senang, kan? Pemuda itu juga tak ada andil dalam menyebarkannya.
Definisi cinta bagi pemuda jangkung tersebut sepertinya merujuk satu hal, cinta itu bodoh. Ia tak pernah berhenti mengejar Hyukjae. Meski, Hyukjae meyakinkan cintanya bukan pada Siwon. Bodoh, kan? Memperlakukan seseorang seperti kekasih, padahal tak ada ikatan dalam hubungan kalian. Mengharap lebih, padahal sudah dijelaskan dari awal tak ada harapan. Siwon menjadi bodoh, terbutakan yang ia sebut cinta-nya pada Hyukjae.
Hyukjae selalu merasa bersalah, jika mengingat hal itu. Karena itu, kali ini ia tak menghindar saat Siwon mengusap rambutnya. "Aku ke kelas dulu, sweetie," pamitnya. Satu kecupan singkat mendarat di pipi Hyukjae. Siwon melangkahkan kakinya pergi dengan senyuman hangat, yang tak pernah menggetarkan hati Hyukjae.
Menatap Siwon yang berjalan menjauh, Hyukjae bertanya-tanya. Apa suatu hari, pemuda itu akan melakukannya? Berjalan menjauh pergi dari kehidupan Hyukjae? Jika iya, asal Siwon menemukan seseorang yang lain yang menawarkan kasih sayang untuknya. Hyukjae rela.
Egois, kan? Kalau Hyukjae saja bisa menemukan pemuda kaku itu di hidupnya. Sedang, Siwon masih berporos pada Hyukjae.
"Hyukjae," panggilan itu menarik Hyukjae dari lamunannya. Tak jauh dari tempat ia berdiri. Disana pemuda tampan dengan lengan kaos yang digulung sampai siku serta jins belel tengah memandang pada Hyukjae.
Cinta itu bodoh, definisi yang sama ketika Hyukjae dihadapkan pada pemuda kaku bernama Donghae.
.
.
"Dua kali aku melihatnya menciummu," Donghae tiba-tiba berucap. Pemuda itu menatap lurus pada pagar tinggi bercat putih.
Hyukjae menatap sendu punggung Donghae. Sepanjang perjalan sampai ke taman ini, taman belakang di fakultasnya. Donghae tak sekalipun melirik ke arahnya. Tiba-tiba, pemuda itu melayangkan pernyataan tersebut.
"Pertama kali, malam itu saat ia mengantarmu pulang. Lalu, barusaja aku melihatnya lagi," ucap Donghae. Nada sedih terdengar kentara dari suaranya.
Hyukjae tergugu tanpa suara. Ketika Donghae membalikkan tubuhnya. Dari balik kacamata itu, iris kelabunya terlihat sendu. Hyukjae merindukan pandangan teduh darinya. "Donghae," nama itu teralun lembut dari bibir Hyukjae.
Sneaker yang dikenakan Hyukjae menginjak dedaunan kering. Angin yang berhembus, membuat dedaunan itu luruh dari dahan pohon.
Donghae mendekatkan langkahnya. Satu demi satu langkahnya semakin tertuju pada Hyukjae, sampai pemuda kurus itu terperangkap diantara dirinya dan pohon oak yang menjulang.
Gerakan Donghae yang menyudutkan tubuh Hyukjae pada pohon itu, membuat daun-daun kering rontok berjatuhan. Namun, kali ini bukan pemandangan itu yang membuat Hyukjae terpaku.
Iris kelabu yang menatapnya dalam. Seolah menelanjanginya. Mematut manik hazelnya dengan pandangan sendu. Diam-diam, melukai sesuatu di dalam dada Hyukjae. Saling menatap, tanpa berucap. Sampai, Donghae melakukan pergerakan pertama kali.
Ketika bibir tipis itu menyentuhnya. Hyukjae yang tak siap dengan perlakuan tersebut semakin membatu di tempat. Terdiam bak terkena serangan petir. Ia terpaku.
Membiarkan bibir tipis berwarna merah itu menempel dengan bibir tebal miliknya. Membiarkan kedua bibir itu saling bertemu dalam kecupan manis. Aliran darah Hyukjae naik menuju wajahnya. Pipinya merona merah. Pipi tirus itu bersemu bak bunga mawar yang sedang mekar dengan warna merah menyala. Memerah sampai ke belakang telinganya pun ikut memerah.
"Maaf," lirih Donghae. Bibirnya yang masih menempel di bibir Hyukjae bergetar ketika melirihkan kata itu. Hyukjae yang bingung dan shock. Hanya pasrah saja, ketika bibir tipis itu mengecupnya pelan.
Kelopak mata Hyukjae terpejam. Ketika ia merasakan jemari Donghae menangkup dagunya. Menelengkan kepalanya sedikit. Memudahkan pemuda tersebut untuk menciumnya.
Kecupan-kecupan lembut di bibir tebalnya. Bibir Donghae yang menekan bibirnya. Bergerak, mengecupnya lembut. Pelan. Sebelum Hyukjae merasakan basah menerpa bibir bawahnya. Ia merasakan lidah kecil itu menjilatnya perlahan. Hyukjae mengangkat kedua tangannya ke arah baju Donghae. Meremas baju milik pemuda itu, ketika Hyukjae membiarkan celah di bibirnya. Ketika lidah itu mengecupinya. Menyentuh lidah pink miliknya untuk saling bertaut. Atau ketika bibir Donghae menggigit bibirnya sensual.
Entahlah. Hyukjae bergerak sesuai instingnya. Ia menggerakan bibirnya seirama dengan Donghae. Membiarkan kedua bibir itu berbagi manis dalam kecupan. Membiarkan aliran saliva itu teraduk menjadi satu.
Hyukjae merasakan lemas. Seluruh energinya seolah berpusat pada bibir dan pikirannya. Ia merasakan kakinya lama-lama lemas. Ia tak peduli ketika dadanya terasa sesak sekaligus menghangat karena sentuhan Donghae. Ia tak peduli. Pemuda ini, nyaris membuat Hyukjae menggila. Gila karena sentuhan dan gejolak aneh pada Hyukjae.
Namun, sayang. Tak lama, keduanya harus memisahkan tautan bibir mereka. Pasokan udara menjadi salah satu alasan kecupan itu terhenti.
Manik Hyukjae segera terbuka kala Donghae berhenti mengecupinya yang membuat tubuhnya melemas itu. Ia segera mencari tahu apa yang dipikirkan Donghae lewat mata indah lelaki itu. Manik indah yang biasanya dibingkai oleh kacamata.
Dahi Donghae menyentuh dahinya. Bibir tipis yang menciuminya itu memerah, mengkilat basah, terlihat sensual dan membengkak. Ya Tuhan, bibir itu baru saja menyentuh bibirnya dan mengecupinya. Hyukjae rasanya ingin berteriak senang.
Hyukjae menunggu sambil menenangkan deru nafasnya.
"Maaf, Hyukjae-ah." Kalimat itulah yang pertama keluar dari mulut Donghae. Terucap ketika manik kelam Donghae memandangnya lekat.
"Maaf," lirih Donghae sekali lagi. Sebelum ia menurunkan usapannya pada dagu Hyukjae.
'Maaf untuk apa?' batin Hyukjae, karena lidahnya kelu untuk berucap.
"Sebaiknya, kita tak usah bertemu lagi setelah ini. Kembali ke kehidupan masing-masing, lupakan semua yang terjadi," jelas Donghae. Ia melepaskan cengkraman Hyukjae pada bajunya. Meremas sebentar genggaman tangan Hyukjae. Lalu, langkah kakinya berjalan mundur. Mundur. Mundur.
Berbalik. Membiarkan punggungnya menghadap Hyukjae. Ia tak menoleh sekalipun. Tak berbalik sekalipun. Meninggalkan pemuda manis itu, menitik air mata. Untuk pertama kali. Karenanya. Karena Donghae.
.
.
Flat-nya sunyi.
Langkah kaki Hyukjae berjalan menuju tempat itu setelah Donghae meninggalkannya. Ia tak tahu, menuju kelas rasanya tak sanggup. Hyukjae hanya berpikir segera bergelung di atas ranjangnya, lalu menutup mata. Melupakan semua yang barusan Donghae katakan. Terbangun, dan semua baik-baik saja.
Terduduk di atas lantai kayu flat-nya. Hyukjae menerawang. Dalam pikiran Hyukjae banyak hal yang menari-nari.
Hyukjae teringat satu adegan dalam novel kesayangannya. Ia melirik cover novel yang tengah ia pegang. Cover berwarnakan sendu dengan gambar sepasang lelaki dan perempuan yang tengah duduk di bawah pohon. Dedaunan coklat kering jatuh berserakan di paving. Novel tersedih yang pernah Hyukjae baca.
Paris. Salah satu baris kata yang membekas di judul. Lalu, autumn. Musim gugur. Kata itu membuat Hyukjae menggigit bibirnya keras saat melafalkan judulnya. Autumn in Paris. Novel terjemahan ke dalam bahasa Korea yang menjadi koleksi Hyukjae ketika Junsu menghadiahkannya sebagai kado ulang tahun ke tujuh belas pemuda itu.
Paris.
Pembicaraan Hyukjae dengan Donghae pernah berputar tentang kota itu. Paris yang indah dan menawan ketika musim gugur tiba. Paris dan musim gugur, bagi Donghae perpaduan yang sangat apik dan jauh lebih indah dari musim lainnya.
Semenjak Hyukjae mendengar Donghae berkata suatu saat akan mengajak Hyukjae kesana. Pemuda manis itu menaruh harap. Melambungkan angannya akan hal itu. Hal yang bagi Hyukjae ia anggap sebagai sebuah janji.
Hyukjae berkhayal jauh, tentang Paris dan musim gugur yang dingin. Melewati jalanan kota Paris dengan lampu termaram bersama Donghae dengan tangan saling bertaut. Mengunjungi museum yang tertera dalam cerita dalam novel itu. Berdiri di puncak Arc de Triomphe, memandangi keindahan kota Paris dalam ketinggian. Menyesap coklat panas untuknya dan kopi hitam di cangkir Donghae sambil terduduk di taman kota, memandangi daun yang luruh berjatuhan. Hyukjae ingin melakukan itu. Membagi sukanya, bersama pemuda kaku itu.
Sayangnya, seperti kisah Tara dalam novel, yang harus berpisah dengan Tatsuya. Semua hal itu hanyalah angan. Hyukjae merasakan hatinya tercabik-cabik. Merasakan sakit yang sangat dalam di dalam sana.
Novel yang tengah Hyukjae pegang terjatuh begitu saja. Tangan kiri Hyukjae melayang ke atas. Menempel pada bibirnya yang basah. Masih jelas dalam ingatan, sehangat dan selembut apa ciumannya dengan Donghae. Memabukkan hingga Hyukjae merasakan ngilu di dalam dadanya.
Kali ini, Hyukjae meletakkan tangannya di depan dada. Menempelkan telapak tangannya tepat di dada. Menekan dadanya agar rasa sakit dan sesak itu berhenti dan menghilang. Sakit.
Sakit sekali.
.
.
Pandangan khawatir Junsu tak lenyap begitu saja. Pemuda imut itu menatap Hyukjae yang tengah duduk di depan TV flat-nya. Setoples biskuit coklat tengah Hyukjae nikmati sambil tertawa renyah menatap acara TV.
Semalam, sahabatnya itu menghubunginya. Menanyakan apakah dia ada di flat. Junsu yang baru saja menjawab iya, semakin terkaget ketika mendapati Hyukjae sudah berada di depan pintunya.
Pemuda kurus itu menerjangnya dalam pelukan. Lalu, melayangkan senyum yang dibuat-buat sambil berkeliling flatnya seolah mencari sesuatu yang hilang. Hingga, tubuh kurusnya terkapar di sofa kecil milik Junsu.
Malam berlalu, Junsu terdiam saja memandangi Hyukjae yang tak beranjak dari sofa. Tubuhnya meringkuk di atas sofa itu. Maniknya yang indah tersembunyi di bawah kelopak matanya yang mengatup.
Junsu sempat mengira Hyukjae sudah tertidur. Namun, suara tangis sesengukan itu terdengar lirih. Menjadi alunan pada malam itu sampai tengah malam. Junsu tak berani bertanya. Ia memeluk pinggang Hyukjae, menguatkannya. Hingga Hyukjae tertidur karena kelelahan menangis.
Ada banyak hal yang ingin Junsu tanyakan. Termasuk ketidakberadaan Siwon yang selalu mengantar Hyukjae ke tempatnya. Kemana lelaki itu? Apa ada hubungannya dengan kesedihan yang dialami Hyukjae saat ini? Junsu menyimpan pertanyaan-pertanyaan itu untuk nanti. Menenangkan Hyukjae lebih diperlukan, daripada menyudutkan sahabatnya itu.
Junsu memilih absent hari ini. Meninggalkan Hyukjae yang tengah kacau di flatnya sendirian rasanya menakutkan. Ia membuat secangkir coklat panas untuk sahabatnya itu. Junsu duduk di samping Hyukjae yang masih menatap lurus ke arah TV.
"Minumlah," kata Junsu menyodorkan cangkir tersebut.
Hyukjae meletakkan toples biskuit di atas meja. Meraih cangkir yang diberikan Junsu. Maniknya melirik coklat panas dengan uap mengepul. Iris hazelnya berkilat sendu setelah bayangan seseorang menyusup dalam ingatannya.
"Ia suka kopi hitam," kata Hyukjae lirih.
Junsu menaikkan sebelah alisnya, mengernyit. Pemuda itu seksama mendengarkan Hyukjae. Ia tahu jelas setelah ini, Hyukjae akan menceritakan semuanya. Lengan Junsu mengalung di pinggang Hyukjae, mendekapnya.
"Bahkan ia pernah memaksaku untuk meminumnya. Aku sangat tak suka kopi hitam, tapi ketika ia menatapku dengan senyuman seperti saat itu. Lidahku seperti mati rasa, membiarkan kopi menjijikan itu masuk. Aku bahkan meminta lagi. Dia membuatku terlihat bodoh, kan?"
Junsu tak menjawab. Membiarkan Hyukjae melanjutkannya.
"Dia kaku. Jarang tersenyum, selalu memasang ekspresi serius. Tapi, dia pendengar yang baik, dia tak memarahiku jika aku banyak bicara. Tapi, aku tak suka jika dia berbuat seenaknya. Dia suka sekali menjawab pertanyaanku dengan pertanyaan, itu membuatku kesal. Dia pintar memasak, memang hanya satu kali dia memasak untukku. Pastanya sangat enak, aku memujinya berulang-ulang, tapi karena dia sedang marah padaku. Dia tak menggubrisnya. Aku tak suka saat dia mendiamiku, rasanya ada yang sakit di dalam sini. Aku suka ketika berjalan bersamanya, dia tak akan menepis lenganku. Dia membiarkan lengan kami bergandengan. Dia sangat hangat, usapannya di lenganku membuatku hangat dan nyaman. Aku suka saat dia menautkan jemari kami. Aku suka saat dia tersenyum kaku, atau terkekeh pelan. Ada banyak hal yang membuatku menyukainya," terang Hyukjae. Ia menoleh pada Junsu. Menyandarkan kepalanya di bahu sahabatnya.
"Dia bilang ... dia ingin aku melupakan semua ini. Kenapa? Kenapa dia mengatakan itu?" tanya Hyukjae. Tangisnya yang telah pecah semalaman, kini mulai terdengar lagi. Ia menangis lagi.
"Apa dia tak mengerti kalau aku sangat menyukainya? Apa Donghae tak sadar persaanku? Kenapa dia menyuruhku melupakannya? Donghae bahkan menciumku dan meminta maaf sebelum mengatakannya? Apa yang harus kulakukan, Su? Kenapa harus begini?"
Bola mata Junsu membulat. Telinganya tak salah dengar kan? Sedari tadi Hyukjae tak menyebut nama Siwon. Sahabatnya itu malah menyebut satu nama berawalan huruf D. Jelas sekali itu bukan Siwon. Hyukjae mengenal orang lain, dan terjatuh pada orang itu begitu dalam. Alasan kekacauan Hyukjae.
"Rasanya sakit, Su," lirih Hyukjae. Membalas pelukan Junsu. Ia mengabaikan cangkir beiri coklat panas yang terjatuh di lantai. Ia mengabaikan kulit kakinya yang terciprat coklat panas tersebut. Sakit di kulitnya, tak sesakit di hatinya.
.
.
Memasuki akhir November. Seminggu berlalu setelah kejadian dengan Donghae. Hyukjae menjauhi Siwon. Ia belum tahu harus bicara apa pada pemuda itu. Lalu, pada Donghae. Pemuda itu seolah hilang dari kehidupannya. Hyukjae tak melihatnya barang sedetik. Menyisakan rasa rindu yang menumpuk, di atas rasa sakit hatinya yang masih menganga.
Hyukjae barusaja melewati parkiran, saat tangannya di cekal oleh Siwon. Ia membalikkan badan. Menemukan pemuda jangkung tersebut menatapnya khawatir.
"Hyuk-ah, bisa kita bicara?" tanyanya.
Hyukjae ingin menolak. Ia belum siap, tapi kalau begini. Bukan hanya ia saja yang berlarut dalam sedih. Pemuda di depannya juga.
"Baiklah," jawab Hyukjae.
"Ikut aku," titah Siwon. Pemuda itu akan menuntun Hyukjae ke arah mobilnya yang tak terparkir jauh.
"Bisa lepaskan tanganku, aku bisa berjalan sendiri," ucap Hyukjae. Siwon memandangi jemari Hyukjae yang erat ia genggam. Melepaskannya perlahan.
Keduanya memasuki mobil Siwon yang terparkir. Siwon segera memiringkan tubuhnya untuk menatap Hyukjae.
"Hyuk-ah, sweetie, ada apa? Katakan ada apa?" Raut khawatir itu muncul lagi. Hyukjae sedih melihatnya. Tangan Hyukjae terangkat mengusap pipi Siwon. Hyukjae menatap dalam pada pemuda tersebut.
"Siwon-ah, berhentilah mengkhawatirkanku. Kau sudah cukup tersiksa dengan perasaan itu, berhenti saja."
"Hyuk ..."
"Rasanya sesakit ini, kan? Kenapa kau bisa bertahan begitu lama, Siwon-ah? Aku ingin mati saja merasakan sakit ini, kenapa kau bisa bertahan denganku begitu lama?"
Sebulir air mata jatuh, membasahi pipi pucat Hyukjae. Manik Hyukjae mengerjap, membuat buliran air mata lain jatuh kembali.
"Memang, Hyuk. Rasanya sakit saat kau menolakku. Rasanya, hampir membuat hatiku remuk. Tapi, melihat wajahmu setiap hari. Masih berada di dekatmu, itu terasa cukup daripada mengkhawatirkan perasaanku sendiri," pemuda jangkung itu berucap.
"Berhentilah Siwon-ah. Aku tak ingin kau menyakiti dirimu terus."
"Tapi, Hyuk..."
"Suatu saat, kau akan menemukan orang lain yang begitu hebat. Seseorang yang memukaumu, seseorang yang akan membuat hatimu berdebar. Bukan hanya itu, tapi orang tersebut akan menatapmu seolah kau adalah suatu hal yang paling berharga di dunia ini. Aku ingin kau merasakan hal itu, Siwon-ah. Jika kau terus berada disisiku, kau hanya akan melukaimu sendiri. Sekarang, aku mengerti bagaimana rasanya, aku tak ingin kau melanjutkan hal ini, Siwon-ah," terang Hyukjae.
"Hyuk, aku tak bisa," elak Siwon. Ia begitu mencintai pemuda di hadapannya. Cinta bodohnya yang mendalam.
Hyukjae menatapnya sendu. "Aku sendiri tak tahu butuh berapa lama, melupakan sakit ini. Tapi, semua takkan ada yang tahu sampai kita mencoba, kan?"
Siwon tahu. Ada orang lain yang menetap di hati Hyukjae. Siwon bukan orang bodoh seperti cinta bodohnya yang ia agung-agungkan pada Hyukjae. Siwon tak tuli, ia pun tak buta, Siwon tahu siapa pemuda di balik kesedihan Hyukjae. Beberapa kali, Siwon mendapati mereka berdua tengah menghabiskan waktu di kedai coffee atau di tempat lain. Siwon hanya berpura-pura tak tahu apa-apa. Ternyata, pemuda itu berhasil merebut hati Hyukjae. Hal yang tak pernah berhasil Siwon lakukan.
"Siwon-ah, terima kasih untuk segalanya, kau begitu baik terhadapku. Suatu saat nanti, orang yang tepat untukmu pasti datang."
"Aku takkan bisa, Hyuk. Kau tahu, kan? Aku tak bisa, sekeras apapun kau menolakku, aku takkan bisa," elak Siwon lagi. Sejujurnya, ia belum pernah mencoba untuk melupakan perasaannya pada Hyukjae. Rasa cintanya terlalu mendalam, sayangnya kepada pemuda kurus itu, selalu menghadirkan keraguan di hati Siwon. Siwon takut, jika dirinya berpaling. Ia tak mampu menemukan orang lain yang akan ia cintai sebesar cintanya kepada Hyukjae.
Hyukjae mendekat ke arahnya. Pelukan hangat itu melingkari tubuhnya. Pemuda kurus itu mendekapnya. "Siwon-ah, terima kasih. Kumohon, lepaskan aku dari hatimu," pinta Hyukjae. Permintaan telak tersebut, begitu membekas di pikiran dan hati Siwon.
.
.
Beberapa gadis yang berada di tempat itu memekik keras. Mengatupkan kelopak mata mereka saat adegan kekerasan tersebut terjadi. Pukulan keras itu menghantam pipi Donghae. Bukan hanya satu pukulan, bertubi-tubi lagi melayang. Tinju keras tersebut. Donghae tak menghindar. Tubuhnya jatuh terhuyung, terduduk di lantai.
Di hadapannya, Siwon berdiri dengan wajah marah, kecewa dan sedih. Pemuda yang sekelas dengannya itu menatap Donghae sedih.
"Pukulan saja takkan mampu membayar semua kesalahanmu. Kau pecundang. Beraninya membuat dia menangis,"desisnya.
Donghae masih tergolek di lantai kelasnya. Menatap Siwon tak percaya. Pemuda jangkung tersebut berjongkok di depannya. Tinjunya teracung di udara. Donghae tak berniat menghindar lagi kali ini. Ia memejamkan matanya saat tinju itu akan terayun ke wajahnya.
Brak.
Tak ada rasa sakit lagi. Tinju tersebut melayang tepat di dinding belakang Donghae. Seketika, iris kelabu Donghae menatap Siwon.
Siwon, pemuda ramah dan baik hati, tak pernah berperilaku kasar seperti ini. Tapi, Donghae tahu pasti alasannya. Donghae tahu kesalahan apa yang telah diperbuat hingga menyulut emosi Siwon.
Kerah bajunya terangkat. Siwon menariknya. Menghunuskan tatapan nyalang padanya. "Jika kau benar mencintainya. Kau takkan jadi orang bodoh seperti ini. Jadilah bodoh, untuk membahagiakan orang yang kau cintai, bukan bertindak bodoh untuk menyakiti orang yang kau cintai," ucapnya sebelum melepaskan Donghae. Menjatuhkan tubuh Donghae kembali ke lantai.
Meringkuk di lantai kelasnya, kali itu Donghae merasa pukulan di wajahnya tersebut seperti menghantam otaknya. Membuat Donghae bisa mengerti dengan jelas. Perbuatannya bodoh sekali.
Cinta itu bodoh, definisi yang sama bagi Donghae pada pemuda manis dengan senyum gusi tersebut. Tapi, sikap bodohnya itu membuat Donghae menyakitinya. Seharusnya, cinta bodoh yang ia miliki, menempatkan kebahagiaan Hyukjae menjadi nomor satu. Bukan menyakitinya seperti ini. Ia paham satu hal. Dirinya bodoh.
Donghae bodoh.
.
.
Musim gugur nyaris berakhir. November bergulir hingga tanpa sadar Desember sudah datang. Donghae masih terjebak dalam tindakan bodohnya, ketika mengusir jauh pemuda manis itu.
Cinta itu sederhana.
Perasaan sederhana yang dianugerahkan Tuhan untuk tiap umatnya. Bersyukurlah, kalau kau pernah merasakan cinta itu. Menikmati degupan kencang dalam hatimu, dan semacam perasaan lain itu.
Dibalik cinta. Ada satu hal lagi. Patah hati.
Patah hati itu tak sederhana.
Kondisi ketika hatimu remuk, terasa sakit. Untuk bernafas saja susah sekali. Karena pikiranmu sudah terlalu penuh tentang orang lain. Karena itu, air matamu lolos menangisi rasa sakit yang sedang menerpamu.
Patah hati pun, akan terobati untuk sebagian orang. Sebagian orang yang optimis menemukan seorang lain yang tepat untuknya. Namun, untuk sebagian orang lain yang terbayangi kenangan itu, akan tetap diam di tempat merasakan sakitnya patah hati. Saat ini, Donghae berada di fase patah hati, akibat kebodohannya sendiri. Rasanya sakit.
.
.
Hyukjae tersenyum sopan pada petugas yang berada di balik meja kasir. Ia mengambil kantong belanjaannya sebelum beranjak pergi. Hyukjae membuka pintu minimarket dengan sebelah tangannya.
"Aku bodoh," kalimat itu dilontarkan Donghae ketika Hyukjae akan melangkah meninggalkan minimarket.
Pemuda kurus tersebut tersentak kaget. Kantong belanjaannya terjatuh saat pandangan matanya menangkap sosok tampan di depannya. Begitu terkejut dengan apa yang ia lihat. Sejak kapan Donghae berdiri disini?
Sudah berapa lama waktu berlalu? Ia pikir Desember baru saja datang, tapi seperti jam yang bergulir cepat. Rasa-rasanya, sudah bertahun-tahun ia tak memandang wajah tampan di hadapannya. Rasa rindu yang sempat merekah, dan tertimbun di hatinya setiap hari untuk pemuda itu rasanya ingin meledak.
"Donghae," lirih Hyukjae. Ia ingin mengalihkan pandangan, apapun asal tak menatap langsung pada manik teduh itu. tapi, iris hazelnya seperti tertempel magnet. Selalu tertarik menuju manik kelabu tersebut.
Kantong belanjaan tersebut terlupakan. Hyukjae maju satu langkah untuk meyakinkan pandangannya jika pemuda di depannya adalah Donghae.
Trotoar yang lenggang di bulan Desember. Keduanya yang berdiri saling berhadapan itu masih bertaut memandang.
"Aku begitu bodoh, kan Hyukjae?" tanya Donghae.
Posisinya saat ini mengingatkan Hyukjae pada pertemuan ketiga mereka. Donghae yang berdiri di bawah termaram lampu jalanan. Angin gugur masih terasa, karena sepenuhnya musim belum berganti menjadi musim dingin, belum ada butiran salju putih jatuh ke bumi. Pohon coklat kering tak berdaun yang tampak menakutkan, namun kokoh tak terjatuh ketika diterpa angin. Menjadi background dimana pemuda itu tengah berdiri.
Tatapan mereka terputus. Kala Donghae menundukkan wajahnya. Berganti menatap sandal rumah yang ia kenakan.
Hyukjae bertanya-tanya dalam hati. Belakangan ini, Hyukjae menjauh. Baik menjauh dari Siwon maupun Donghae. Bukankah yang Donghae ucapkan kali itu, agar mereka tak bertemu kembali, dan ia melupakan semuanya? Hyukjae berusaha mengabulkan permintaan Donghae. Untuk tak bertemu Donghae, Hyukjae mampu menahan dirinya. Namun, untuk melupakan Donghae, Hyukjae butuh waktu. Ia tak mudah melakukannya. Sungguh, itu sulit.
"Donghae..."
"Hyukjae, apa kau masih mau mendengarkanku?" tanya Donghae, lebih seperti memohon.
Hyukjae tak menjawab. Ia melangkah dua kali lebih mendekat. Ia tak peduli akan tatapan beberapa orang yang melewati trotoar ini.
Melangkah menuju Donghae yang tengah memandanginya sendu. Hyukjae ingin menghapus ekspresi serius dan binar sedih itu dari wajahnya. Menggantikannya dengan tatapan teduh yang begitu Hyukjae rindukan.
"Bicaralah," sahutnya lirih. Ia sendiri ragu. Apa jika Donghae bicara, segalanya akan lebih baik? Atau sakit di hatinya semakin mendalam?
"Suatu pagi, aku bertemu pemuda manis yang menyita perhatianku pertama kali di coffee shop. Ia terlihat cuek, mengenakan sendal rumah dan celana piyama. Tak memperdulikan pandangan orang lain. Ia mengomel marah ketika pelayan kedai kopi itu, sengaja menukarkan pesanan kami. Lalu, kali kedua aku bertemu dengannya saat aku mengetahui kebenaran siapa pemuda itu. Siang itu, aku baru tahu jika pemuda manis pembenci kopi hitam itu adalah kekasih teman sekelasku. Bertemu dengannya lagi, membuatku kesal dan kecewa. Karena, aku sadar aku tak punya kesempatan untuk mendekatinya," Donghae berkata. Satu demi satu kalimat itu membuat Hyukjae ingin limbung. Bukankah sosok Hyukjae yang tengah Donghae bicarakan?
"Kupikir, aku takkan bertemu lagi dengannya. Takdir berkata lain. Di mini market ini, aku menemukannya yang tengah berdiri bingung dengan keranjang belanja. Aku bahkan bersembunyi di balik rak agar tak tertangkap mengamatinya. Aku berani mendekat, entahlah. Malam itu aku mendekatinya. Bertanya tentang apa yang terjadi padanya. Membantu ia membayar belanjaannya. Kupikir, malam itu aku sudah cukup bersyukur bisa bertemu lagi dengannya. Tapi, dia menawarkan minum kopi bersama di flat. Aku tak naif, langsung saja kukatakan iya. Wajahnya terlihat lucu saat terkaget. Ketika malam itu, jika takdir mempertemukan kami kembali. Aku akan berani mendekatinya. Lantas, beberapa hari berselang. Di koridor kampus itu, aku bertemu dengannya lagi. Kali ini, ia mengajaku makan siang. Dia tak tahu, kalau aku menahan nafas ketika dia menatapku penuh harap untuk mengatakan iya. Aku berakhir menghabiskan sore bersamanya. Hal yang tak pernah kuduga akan terjadi," Donghae memberikan jeda dalam ucapannya.
Iris kelabunya menyapu wajah Hyukjae yang merengut sedih. Manik Hyukjae yang berkaca-kaca itu, menahan air mata yang siap jatuh. Air mata itu telah menggenang di pelupuk matanya.
Kali ini, Donghae lah yang mengambil langkah mendekat. Satu langkah. Hanya satu langkah. "Selanjutnya, kami sering menghabiskan waktu bersama. Aku suka ketika melihat dia memakan es krimnya seperti anak kecil. Belepotan, meleber kemana-mana. Aku suka ketika menangkap basah maniknya yang tengah mencuri pandang ke arahku. Aku juga suka saat aku memaksanya minum minuman yang tak ia sukai. Saat itu ia tersenyum dengan lelehan kopi hitam di sudut bibir, menjadikan alasan untukku agar bisa mengusap sudut bibirnya."
Satu langkah lagi. "Aku begitu terpesona olehnya, hingga aku melupakan satu hal. Ia telah memiliki kekasih. Seorang pemuda yang jauh lebih tampan dan memiliki segalanya dibanding denganku. Hal itu, membuatku ingin mengubur perasaan yang semakin tumbuh terhadapnya. Tapi, ketika malam kami dipertemukan kembali di mini market itu. Aku tak berkutik saat dia memintaku untuk memasakkan untuknya. Dia takkan tahu, betapa aku ingin memeluknya saat dia bertanya berulangkali jika aku marah padanya. Dia takkan tahu, betapa aku ingin mendekapnya, saat ia menyandarkan kepalanya dan meraih lenganku. Dia takkan tahu, betapa aku mengaguminya yang tengah tertidur pulas dalam dekapanku. Dia takkan tahu, betapa aku memohon pada Tuhan untuk menjadikannya milikku."
"Donghae," Hyukjae menggigit bibirnya menahan tangisnya yang ingin pecah. Dadanya menyesak. Tapi, perasaan sakit yang biasanya meremas hatinya. Kali ini, berubah menjadi rasa lain.
Satu langkah sekali lagi. "Kau tahu hal terbodoh apa yang kulakukan? Ketika aku mendengar gosip itu menyebar. Satu sisi dalam hatiku merasa senang. Ada orang lain yang mengetahui keberadaanku di hidupnya. Tapi aku salah. Aku tak ingin menjadi sosok ketiga yang hadir dalam hubungannya dengan pemuda itu. Jika aku bersamanya, dia harus sepenuhnya menjadi milikku. Maka, kuputuskan untuk menjauh dan melupakannya. Mengubur perasaan ini. Bodoh, kan?"
Iris kelabu Donghae basah. Kacamata yang biasa bertengger di atas hidungnya kini absent. Membuat manik jernih itu terlihat jelas tengah berkaca-kaca.
"Bodoh," sahut Hyukjae. Setelahnya suara isakannya terdengar. Hyukjae melangkah cepat mendekati Donghae. Pemuda manis mengayunkan kepalan tangannya pada Donghae. Ia memukul Donghae tepat di rahangnya. Pukulannya tak terlalu keras, namun cukup membuat sudut bibir Donghae berdarah.
Donghae meringis sakit. Ia menatap tak percaya saat Hyukjae bergerak begitu cepat.
"Ya! Bodoh, bodoh, bodoh, bodoh," Hyukjae meracau. Kali ini kepalan tangannya juga mengayun ke arah Donghae. Bukan wajah Donghae yang menjadi sasaran, namun dada bidang Donghae ia pukul terus-menerus.
Isakan Hyukjae mengeras. Ia menjatuhkan lengannya yang tiba-tiba terasa lemas. Hyukjae ingin merutuki pemuda di depannya. "Donghae bodoh!" Ia mencengekram kaos yang Donghae kenakan di bagian dada. Merasa lelah menahan tubuhnya, Hyukjae menyandarkan tubuhnya pada Donghae. Membiarkan beban tubuhnya di tahan pemuda itu.
"Hyuk..." Kenapa pukulan Hyukjae jauh lebih sakit dibanding pukulan yang dilayangkan Siwon? Padahal Donghae ingat jelas, Siwon memukulnya bertubi-tubi. Wajahnya bahkan lebam sampai berhari-hari. Sedangkan, pukulan Hyukjae tak sekeras Siwon. Tapi, pukulan itu tepat sasaran. Mengacu pada hatinya. Pukulan itu merupakan bentuk ungkapan betapa Hyukja tersakiti akan perbuatan bodoh Donghae.
"Kau tahu, Donghae-ah? Ada yang salah dari ceritamu. Aku tak memiliki kekasih, karena aku dan Siwon tak pernah berpacaran," tukas Hyukjae. Ia menyamankan diri ketika lengan Donghae memeluknya, sehingga malu-malu ia membalas pelukan tersebut dengan melingkarkan lengannya pada tubuh Donghae.
"Kau tak pacaran dengan dia? Kupikir... Hyuk, kenapa kau tak pernah bilang?" Dongha terkaget.
"Kau tak pernah bertanya, kan? Tuan pecinta kopi hitam," goda Hyukjae. Ia baru menyadari jika sakit hatinya itu berawal dari kesalahpahaman saja. Rasanya menggelikan. Berminggu-minggu Hyukjae bersedih dan menangis terus-terusan.
"Kupikir―," Donghae tak melanjutkan ucapannya. Terlalu bahagia karena pemuda yang tengah ia dekap.
Hyukjae mendongakkan wajah. Ia menatap sudut bibir Donghae yang membiru dan sedikit darah merembas dari sana. "Sakit?" tanyanya khawatir.
Donghae menggeleng. Sungguh, ia tak lagi merasakan sakit. Bebannya yang menumpuk, menyakitkan di dada rasanya lenyap dalam hitungan detik.
Hyukjae memajukan wajahnya. Semua bergerak begitu cepat. Di bawah cahaya lampu jalanan, Hyukjae menelengkan kepala untuk mengecup bibir tipis itu. Ia memejamkan maniknya, saat kedua bibir itu bertemu sayang. Donghae yang lagi-lagi dikagetkan dengan tindakan Hyukjae mengerjapkan matanya tak percaya.
Kening mereka bersentuhan. Hyukjae menarik tubuh Donghae untuk sedikit merunduk. Senyum gusi Hyukjae tertampil cantik. Dengan binar ceria terlihat jelas dari sorot maniknya.
"Aku mencintaimu, tuan pecinta kopi hitam yang bodoh," aku Hyukjae masih dengan senyuman.
Donghae memejamkan matanya. Membiarkan angin mendayu-dayu, membisikkan kalimat yang diucapkan Hyukjae itu hingga hinggap di telinganya. Pernyataan itu begitu magical. Seharusnya, terdengar begitu klise. Tapi, sangat pas mengungkapkan perasaan di hati mereka.
"Aku juga mencintaimu, Hyukjae-ah," aku Donghae kali ini. Bibirnya membentuk bulan sabit terbalik. Mengukir senyuman bahagianya.
Donghae menatap teduh pada pemuda di depannya. Membiarkan bias-bias cahaya lampu jalanan menerangi wajah manisnya yang mempesona. Membiarkan angin musim gugur yang berisik, mengayunkan ungkapan cinta mereka lewat udara.
Karena, ketika cinta itu datang ke hidupanmu. Akan ada satu definisi di dalamnya. Cinta itu bodoh, definisi yang Donghae dan Hyukjae rasakan untuk satu sama lain.
.
.
END
.
Special thanks to:
Rani. gaem. 1, ShinJiwoon920202, dekdes, haehyuk86, RianaTrieEdge, liaya13, TakanOnodera, kakimulusheenim, nurul. P. Putri, Lee Haerieun, yhajewell, Cique, FN, eunhyukuke, yayarara, HHSHelviJjang, mifta, haehyukpennis, jewELF, Rillakumalili, Hyukpeniss, dwi, Fitri, Meyla Rahma, ren, han seo ae, Haehyuk546, cho. w. Lee .794 .
.
.
Terima kasih untuk semua yang telah memberi dukungan pada ff ini. akhirnya, END juga. Semoga ceritanya memuaskan kalian maaf untuk typo yang ditemukan di ff ini ^^
Komen?
