Chapter 1 : The First Sight
"Aku tak akan percaya kalau Gray bisa menyukai orang lain selain kamu, Mary!" kata seorang gadis berambut oranye dengan ceria.
"Y-yah... Aku harap ia memang suka... P-pada...ku..." sahut seorang gadis berkacamata dan berambut hitam yang diajak bicara itu malu-malu.
"Yaah, kalau menurutku sih, siapa juga yang mau mengincar pemuda tempramental seperti itu? Hahah. Kalau aku sih, lebih suka yang kalem, seperti Rick, contohnya," kata seorang gadis sambil meneguk segelas wine kesukaannya sampai habis. "Lagipula, Rick itu gampang dikontrol. Heheheh."
"Ckckck, itu sih karena Karen yang memang otoriter..." kata gadis berambut pink dengan nada manja. "Padahal kakak selalu saja marah-marah padaku, apalagi kalau sudah menyangkut masalah Kai..." lanjutnya. "Kalau Dr. Trent, sudah pasti Elli yang punya, yah?"
"Huah. Jangan ditanya deh. Menurutmu bagaimana kalau kau tinggal seatap dengan seorang laki-laki yang selalu berkerja bersama denganmu bertahun-tahun? Mana mungkin tidak ada apa-apa..." kata Karen yang sudah mulai mabuk. Aku hanya bisa tersenyum melihatnya, yang kini sudah menuangkan wine di gelasnya untuk keempatbelas kalinya.
"Karen sudah mabuk deh..." kata Ann tersenyum prihatin, pada Karen yang setelah meneguk winenya langsung jatuh tertidur dengan kepala di atas meja.
"Lalu, Ann, kalau kamu, sudah pasti Cliff, kan???" tanya Popuri manja. "Ayolah, kau juga secara teknis tinggal seatap dengannya, kan???" kata Popuri genit, menyikut Ann pelan untuk menggodanya.
"Eeh... hehehe... Begitulah..." jawab Ann jadi malu juga. "Mary, kau juga....."
Dan pembicaraan para gadis terus berlanjut, minus Karen yang sedang tertidur pulas dan Elli yang tinggal di klinik.
Aku memang berada di Inn, bersama gadis-gadis lainnya, Ann, Mary, Popuri, dan Karen, kumpul-kumpul untuk saling bercerita seperti biasa.
Saling bercerita? Yah. Mungkin untuk mereka. Aku kebanyakan hanya diam, mendengarkan. Sesekali menyeletuk singkat. Meski aku kurang pandai bercerita, bukan artinya aku tak suka curhat. Tapi tak ada yang pernah menyadari kalau aku juga ingin bercerita.
Tak ada yang pernah benar-benar menanyakan ceritaku.
Kalaupun ditanyakan, saat aku mulai bercerita, mereka akan memulai cerita baru tentang mereka sendiri dan aku kembali hanya menjadi 'pendengar yang baik'. Aku juga sudah terlalu malas untuk berusaha bisa didengarkan.
Bukan malas. Lelah.
Tak ada yang benar-benar peduli padaku.
Aku pun beranjak pergi dari inn, tanpa disadari oleh teman-temanku. Kemudian kuputuskan untuk kembali ke rumah untuk istirahat saja.
* * *
Aku terbangun dari tidurku tiba-tiba. Sudah berapa lama aku tertidur?
Aku mulai berbaring di tempat tidurku sejak sore tadi, dan sekarang... Aku melihat jam besar di sebelah TV.
Pukul 02.00??? Yang benar saja! Aku tidur terlalu lama!!!
Yah, mungkin karena kemarin aku bekerja sampai tengah malam dan hanya dapat istirahat 4 jam...
(whew, gak tau juga sih gimana perhitungannya. Yang jelas, anggap aja si Claire ini di hari sebelumnya kerja keras sampe capek banget, hehehe :D )
Aku duduk di tempat tidurku. Mataku tak bisa terpejam lagi. I'm totally awake, dan aku tak tahu apa yang harus kulakukan. Tapi teryata perutku punya jawabannya, dengan membunyikan alarm yang menandakan bahwa aku lapar! Sejak sore aku memang belum makan apapun...
Akhirnya, aku beranjak menuju kulkas, menuangkan segelas air dingin dan meminumnya. Karena lapar, aku mengambil bahan-bahan untuk dimasak dan tahu-tahu aku sudah membuat nasi kare.
Kemudian sebuah ide yang tak biasa muncul di benakku.
Aku pun bergegas memakai sweater (daritadi aku tertidur dengan overall-ku), memakai sepatu, memasukkan kotak berisi nasi kare hangat dan sebotol jus jeruk ke dalam ranselku kemudian keluar rumah.
Aku berjalan hingga air terjun dekat hot spring. Tempat terdekat dari peternakanku yang tak kalah indahnya dengan pemandangan di Mother's Hill.
Air terjunnya bersinar keperakan, memantulkan cahaya bulan yang malam ini muncul dengan wujud separuh. Suara gemericik airnya, dan suara serangga-serangga malam bersahut-sahutan bagai orkestra alam yang sangat merdu...
Akhirnya aku duduk di atas rumput yang sedikit basah oleh embun, bersandar di sebuah batu besar di pinggir sungai. Kemudian, aku merogoh ranselku dan mengeluarkan bekalku. Piknik di malam hari.
Benar-benar suatu aktivitas yang sepertinya hanya dilakukan oleh seseorang yang kesepian... Seperti aku...
Aku membuka kotak berisi nasi kare yang baru saja aku buat. Masih hangat. Aromanya langsung menyeruak keluar, membuat perutku makin lapar.
Tiba-tiba terdengar suara gemerisik dari arah pepohonan bambu di dekat Hot Spring. Aku menghentikan gerakanku, menatap ke arah pohon-pohon bambu. Tak ada suara lagi. Barangkali hanya angin.
Kemudian aku teringat kalau harus memakai sendok untuk memakan bekalku, dan untungnya aku tidak lupa membawanya. Hanya saja aku belum mengeluarkannya. Kuletakkan kotak bekalku di atas rerumputan di depanku, dan aku pun merogoh ranselku, mencari sendok di dalamnya. Karena cahayanya kurang, aku sedikit kesulitan menemukannya.
Ketika aku akhirnya menemukan sendokku, aku meletakkan ranselku kembali di sebelahku, dan mengambil kotak bekalku. Lalu aku melihat sosok seseorang di hadapanku.
Seorang pemuda dengan rambutnya yang keperakan diterangi cahaya bulan yang temaram, memakai kemeja bermotif totol-totol hitam, duduk di depanku, tersenyum misterius.
"Selamat malam, gadis..." katanya pelan, dengan suaranya yang lembut. "Sungguh suatu keberuntungan bisa bertemu dua hal yang aku sukai di tengah malam seperti ini..." katanya lagi, kali ini mengulurkan tangannya, meraih kotak bekalku dari tanganku yang tak dapat bereaksi... "Hmm... Kare..." katanya sambil menghirup aroma kare buatanku. Tangannya satu lagi, membelai pipiku -membuatku bergidik merinding- dan akhirnya menopang daguku dengan jarinya, kemudian mendekatkan wajahnya.
"Dan gadis cantik..." katanya pelan, dengan sorot mata yang bagaikan menusuk hatiku, membuatku berdebar-debar karena terkejut, takut, sekaligus terpesona dengan ketampanannya dari jarak dekat.
Aku tak dapat berkata apa-apa saking terkejutnya. Aku menatap pemuda itu lekat-lekat. Yah, hanya memastikan, kalau dia benar-benar manusia atau bukan. Seperti bisa mambaca pikiranku, pemuda itu tertawa, kemudian melepaskan tangannya dari daguku, dan menjauhkan wajahnya lagi.
"Hahaha... Jangan takut seperti itu. Aku ini manusia..." katanya lagi. "Tapi aku memang makhluk malam..."
"K-Kau siapa...?" aku yang daritadi terdiam, membuka mulutku untuk berbicara, walaupun suara yang keluar tak sesuai keiginanku...
Pemuda berambut perak itu tersenyum. Lalu dengan suaranya yang memabukkan itu, ia menyebutkan namanya...
"Phantom Skye... Akulah Sang Pencuri Bayangan..."
* * *
Yup! Selesailah fic ini!!!
*dilempar ransel sama Claire*
Claire : Belum ada apa-apa juga!!!
Miu: Eh? Jadi Claire mau ada apa-apa?
Claire : *blushing* B-bukannya gitu! Dasar author gebleg!!! *lempar cangkul, celurit, palu n kapak terus kabur*
Miu: *K.O*
Okay, tenang aja, fic ini belum selesai... Hehe, maaf terhenti disini untuk sementara... Waktu sudah menunjukkan pukul 02.30 WIB dan inspirasi time-nya sudah habis...
Jadi dilanjutkan lain kali... =_=;
Anyway, ini fic bersambung saya yang pertama... Jadi rada nervous nih... xD Mohon kritik dan sarannya yah... Review~!!!
Best regards, Shiramiu
