Chapter 2 : Dreams and Reality


"Phantom Skye... Akulah sang pencuri bayangan..."

Aku menahan napas. Kuulangi kata-kata itu dalam pikiranku.

Skye. Pencuri. Pencuri. Pencuri!!!

"Pencuri???" kataku setengah tersentak. Aku langsung berdiri dan menjauh darinya. Pencuri itu hanya tersenyum mendengarnya. Kotak bekalku masih di tangannya.

"Kalau aku boleh bertanya... Mengapa seorang gadis sepertimu ada di luar pada jam seperti ini?" kemudian ia melihat ke kotak bekal di tangannya. "Dengan membawa bekal... Piknik?" katanya lagi, sepertinya ada nada kegelian pada kata terakhir.

"Me-memangnya salah kalau aku mau piknik? Terserah padaku, kan!" kataku dengan nada seperti anak yang sedang ngambek. Tunggu. Tak biasanya aku seperti ini...

"Hahaha, oke, aku mengerti, gadis..."

"Claire. Namaku Claire," kataku memotong kalimatnya. Lalu aku melihat kotak bekalku, yang masih di tangannya. "Kembalikan bekalku." Skye tersenyum. Senyum misterius itu lagi. Dasar pencuri.

Lalu tiba-tiba ia menghilang dari hadapanku.

"Hei!!!" baru sekejap mata, tahu-tahu sudah tak ada!

Dia tak muncul lagi. Menghilang begitu saja di tengah gelapnya bayangan...

Tinggallah aku sendirian disini. Aku melihat jam tanganku, waktu menunjukkan pukul 03.00. Aku berangkat sekitar pukul 02.30. Masih ada waktu untuk membuat makanan lagi (yah, aku masih lapar! Bekalku dicuri pula!) dan tidur...

Phantom Skye... Suatu kebetulan yang sangat tak terduga. Siapa sangka rencana piknik (mendadak) ku di tengah malam ini, jadi ajang pertemuan dengan pencuri legendaris yang misterius itu...?

* * *

Akhirnya setelah itu aku tak dapat tidur. Sesampainya di rumah, aku membuat nasi goreng sederhana dan susu cokelat hangat. Setelah makan (eh, makan malam atau sarapan nih jadinya???), aku tak merasa mengantuk. Waktu sudah menunjukkan pukul 04.00, dan matahari sebentar lagi terbit. Aku memutuskan untuk langsung bekerja saja.

Seperti biasa, aku memulai pekerjaanku dengan menyiram tanamanku, membersihkan rumput liar dan mengumpulkan kayu ranting di kebunku. Kulanjutkan dengan mengurus peliharaanku, mulai dari ayam-ayam, sapi, domba, kuda, sampai anjingku, Choro.

Tak terasa hari mulai siang. Aku memutuskan untuk makan siang di Inn. Di perjalanan, aku merasa kepalaku sakit. Mungkin karena tidak tidur lagi...

"Selamat siang, hari ini mau pesan apa?" kata Ann ceria, menanyakan pesananku. Aku melihat menunya sekilas, kemudian aku memutuskan untuk memesan yang praktis saja.

"Aku pesan satu Lunch Set saja..." Ann langsung mengambil kembali menunya dari tanganku, lalu beranjak meninggalkan mejaku sambil berseru, "Satu Lunch Set, segera datang!"

Beberapa menit kemudian, pesananku datang, dan aku segera menghabiskannya. Tapi kepalaku masih saja sedikit pusing, meski sudah makan. Aku putuskan untuk pergi ke klinik setelah membayar pesananku.

* * *

"Ada yang bisa dibantu?" kata Elli, sang suster yang umurnya sebaya denganku, menyapaku ramah ketika aku masuk ke klinik.

"Aku ingin periksa..." kataku pelan.

"Ah, baiklah. Silahkan langsung menemui dokter!" jawab Elli ramah, menunjuk ke bilik dimana Dr. Trent biasa melakukan pemeriksaan. Aku mengangguk pada Elli, lalu beranjak menuju bilik tersebut.

"Hmm, apa yang bisa kubantu kali ini?" kata Dr. Trent datar, seperti biasanya. Aku duduk di kursi di hadapannya, sedangkan Dr. Trent terlihat masih asyik menulis sesuatu yang tak dapat kubaca dengan mudah. Tulisan dokter? Hmm...

"Kepalaku sedikit pusing. Sebenarnya aku hanya ingin minta obat sakit kepala..."

"Kau sudah makan?" tanya Dr. Trent tanpa berhenti menulis.

"Sudah." Dr. Trent melihatku sejenak, kemudian kembali fokus pada apa yang ditulisnya.

"Tidur berapa jam?" tangannya masih juga menulis.

"Eerh... Sejak jam 2 pagi aku belum tidur lagi..." aku mengerling ke arah jam dinding, jarum pendeknya menunjuk ke angka 3.

"Hmm. Sepertinya kau hanya anemia karena tidur yang kurang teratur. Kuberi obat sakit kepala dan penambah darah, tapi setelah ini kau harus istirahat." Katanya padaku, tangannya sudah berhenti menulis. Ia memberikan secarik kertas berisi resep (yang entah kapan ditulisnya -- atau jangan-jangan ia sudah tahu apa yang akan aku katakan tadi?).

"Oke, terimakasih Dr. Trent."

"Sama-sama," katanya, lalu membalikkan badannya. Aku langsung keluar dari klinik setelah mengambil obat yang diberikan.

Sampai di rumah, sakit kepalaku makin menjadi. Kuminum obat sakit kepala dan penambah darah, lalu aku berbaring di tempat tidurku...

Aku kembali memikirkan kejadian pagi tadi.

Phantom Skye... Apa dia selalu muncul dan menghilang tiba-tiba seperti itu? Aku belum mengetahui apapun tentangnya... Apa aku bisa menemuinya lagi, ya?

Hmm, seorang pencuri biasanya bekerja sendirian... Apa ia juga merasa kesepian? Apakah di balik senyumannya itu, ia menyimpan suatu kesedihan? Apakah ia merasakan hal yang sama denganku, perasaan hampa karena tak ada seorang pun yang mengerti perasaanku...?

Aku ingin menanyakannya! Apakah ia merasakan hal ini juga...?

Tapi, apa kami bisa bertemu lagi?

Akh, pasti akan bertemu!

Lagipula, kotak bekalku masih ada padanya!

Tapi, kenapa ia mencuri bekalku saat itu? Oh, ya... Ia sempat bilang kalau ia suka kare...

Mungkin aku bisa bertemu dengannya jika aku membawa kare lagi seperti kemarin.

Anyway, kare yang disukainya seperti apa ya?

Kare pelangi? Kare sejati? Kare putih? Kare hitam? Kare super pedas?

Akhirnya pikiranku berputar-putar tentang berbagai jenis kare dan membayangkan kare mana yang paling disukai Skye, lalu entah kapan, tanpa kusadari mataku mulai terpejam...

* * *

"Phantom Skye! Tunjukkan dirimu!" aku berteriak lantang, menantang Skye untuk keluar dan menampakkan dirinya. Dari ranselku, kukeluarkan berbagai jenis kare.

"Aku membawa kare kesukaanmu! Tinggal kau pilih saja, dari kare biasa, kare pelangi, sampai kare sejati!!!"

Kemudian angin kencang bertiup entah darimana, dan kudengar suara orang tertawa sayup-sayup mulai kudengar.

"Hahahaha... Jadi kau, Claire, ingin menantangku dengan membawakanku Kare???" kata suara itu, entah darimana arah asalnya suara itu aku tak tahu. Yang jelas, itu memang suara Skye!

"Kalau kau memang seorang lelaki, tunjukkan dirimu!" teriakku lagi.

"Aah, Claire, kau memang gadis yang tidak biasa... Menantangku keluar dari persembunyianku..."

"Aku ingin menanyakan sesuatu padamu!"

"Datanglah kemari..." sahut suara Skye, dari balik pintu bambu. Kutinggalkan kare-kare itu disana dan membuka pintu tersebut.

Kabut putih menyeruak keluar. Tunggu, kabut? Bukan! Ini... Uap?!

"Kenapa, aku takut, Claire...?" kata suara di balik uap itu. "Ini hanya pemandian air panas, bukankah kau biasa menggunakannya tiap malam setelah lelah bekerja...?" kata suara itu lagi, dengan nada menggoda. Tunggu, skenario seperti ini... Sepertinya aku tahu akan berujung seperti apa...

Aku melangkah perlahan ke dalam uap tersebut, hingga akhirnya aku sampai di pinggir kolam air panas. Uap mulai menipis, dan aku dapat melihat sesosok pria, sedang berendam di dalam kolam. Punggung itu... Sesosok pemuda berambut perak sedang berendam, membelakangiku, sehingga aku dapat melihat punggungnya yang tidak ditutupi kemeja itu...

Berusaha untuk tidak memikirkan bahwa orang yang berendam di pemandian itu (jelas-jelas) tidak memakai busana, aku memfokuskan pandanganku kearah kepalanya. Jangan lihat ke bawah... Jangan lihat ke bawah...

"Aku ingin bertanya sesuatu padamu," kataku. Pemuda itu masih saja memunggungiku. Kesal, aku menepukkan telapak tanganku keras. "Hey! Lihat orang yang sedang bicara, dong!!!"

"Oh, baiklah, Claire..." kata Skye pelan.

Perlahan, ia membalikkan badannya...

Dan ketika aku melihat ke arah wajahnya...

"!!!"

WAJAHNYA RATA!!!

"GYAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA!!!!!!"

* * *

"GYAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA!!!!!!"

GABRUKK!!!

Aduh! Apa yang...?

Mimpi...?

Aku baru saja jatuh dari tempat tidurku; cara bangun dari mimpi yang sangat tidak menyenangkan. Mimpi yang aneh. Benar-benar aneh. Kenapa ada pemandian air panasnya segala?

Aku mengusap-usap punggungku yang terbentur lantai, sambil melihat ke arah jam lagi.

Pukul 23.00. Ukh, jam tidurku mulai kacau, nih...

Segera aku menuju kamar mandi, mencuci muka dan berkumur. Kemudian, menuju dapur untuk mengambil makanan dan memasukkannya ke dalam ranselku.

Ya, hari ini pun aku ingin keluar malam. Sudah terlanjur, aku tak bisa tidur lagi... Aku mengambil sweaterku, menyiapkan bekal - dua buah roti kare dan sebotol teh hijau - mengambil fishing pole-ku lalu berangkat menuju tempat kemarin, air terjun Harvest Godess di sebelah Hot Spring.

Sesampainya di sana, aku duduk di pinggir sungai. Kuambil fishing pole, kupasangkan umpan dan aku mulai memancing.

Memancing memang butuh kesabaran, dan waktu yang banyak. Sambil menunggu umpanku kena, aku mengambil sebuah roti dan memakannya dalam diam.

Di tengah alam seperti ini, Claire, kau sendirian, menunggu umpan kena sambil makan roti... Di tengah suara jangkrik yang berbunyi pelan, bersahut-sahutan. Suara gemericik air dari air terjun Harvest Godess, air sungai yang berkilauan ditimpa cahaya bulan... Menyedihkan atau bagaimana ya? Heh.

Aku larut dalam pikiranku sendiri, sambil menatap aliran sungai yang tidak deras di hadapanku.

"Ah, umpannya kena, tuh!" kata seseorang membuyarkan lamunanku.

"Akh, benar juga!" aku langsung meraih fishing pole-ku dan menariknya sekuat tenaga. Eh? Suara itu... Tanganku berhenti menarik.

Kailnya langsung terlepas karena aku berhenti menariknya.

"Aah, sayang sekali!" kata suara itu lagi. Aku menoleh ke samping, dan tahu-tahu seorang pemuda berambut perak itu sedang berdiri di sebelahku. Ia menoleh padaku, lalu tersenyum. "Hai, kita bertemu lagi, gadis cantik..." katanya sedikit genit.

"Skye!" kataku, memanggil namanya tak percaya. Kukira ia tak akan datang malam ini!

"Ya, Claire?" katanya lagi, menyunggingkan senyum menawannya padaku. "Oh, ya. Aku harus mengembalikan sesuatu padamu..." tangannya mengambil sesuatu di balik punggungnya, kemudian menyerahkannya ke hadapanku. "Kotak bekalmu."

Aku mengambil kotak itu ragu-ragu. "Terimakasih..." kataku padanya. Skye hanya tersenyum, jemari tangannya menyisirkan rambut peraknya ke samping.

"Silahkan dibuka, Mi amor..." katanya lagi, menunjuk ke arah kotak yang tadi diserahkannya padaku. Penasaran, aku pun membukanya.

Kotak itu penuh kelopak mawar yang masih segar. Aku dapat mencium aroma segarnya... Kemudian angin bertiup, menerbangkan seluruh kelopak mawar itu keluar dari kotak dan akhirnya terjatuh di sungai yang mengalir pelan...

"Tanda terimakasih atas kare yang sangat enak kemarin," katanya sambil menyematkan setangkai mawar tanpa duri - yang entah muncul darimana - ke telingaku.

Aku merasa pipiku menghangat. Tersipu malu...? Aku jadi teringat mimpi anehku barusan...

Tunggu. Ini bukan saatnya untuk tersipu malu! Ini bukan mimpi! Ini kenyataan!

"Skye!" kataku lagi, membuat pemuda berambut perak di hadapanku itu menaikkan alisnya heran. "Aku ingin bertanya sesuatu padamu!"

* * *

Uh-oh-uh! Betapa tidak jelasnya chappie yang satu ini! T^T

Maafkan saia, semuanya! Mungkin Chapter ini benar-benar aneh... Note, BENAR-BENAR aneh! Strukturnya nggak jelas, intinya apa juga nggak jelas! Ceritanya nggak jelas, apalagi authornya!

Buat yang sudah me-review prologue 'n chapter 1, saia ucapkan terimakasih banyak! Maaf saia belum bisa respon karena belum sempat online dengan bebas... :P Maklum, selama ini online dengan waktu terbatas...

Oh, ya, mungkin setelah ini update-nya bakal makan waktu sangat lama... Kegiatan mulai banyak dan inspirasi yang 'menggetarkan' belum datang... Harap sabar, yah... =(

Yak! Untuk chapter 2 ini, silahkan di-review, dikritik habis-habisan, di-flame juga boleh! Saia tunggu~~! Sampai ketemu~!

Best regards, Shiramiu