Harvest Moon is copyrighted by Natsume.


Kesepian. Perasaan yang sangat menyiksa.

Perasaan yang muncul ketika eksistensi-mu tak disadari oleh siapapun.

Perasaan yang bisa membuatmu merasa tidak berarti.

Perasaan yang bisa membuatmu merasa seperti seorang yang tak berdaya; bahkan di tengah suasana yang ramai sekalipun.

Perasaan yang bahkan dapat membunuh seseorang.

Hei, Pencuri Bayangan. Tidakkah kau takut dengan perasaan yang mengerikan ini?


"Kesepian?" kata pemuda itu, dengan sedikit rasa geli pada jawabannya yang merupakan pertanyaan kembali pada sang gadis.

"..." sang gadis terdiam, menunggu jawaban dari pemuda berambut perak di hadapannya. Matanya menatap lurus, langsung menunju kedua mata sang pencuri bayangan. Tatapan mata yang serius, menandakan bahwa ia sangat ingin mengetahui apa jawaban dari lelaki di hadapannya itu.

Claire, gadis petani berambut pirang dari Mineral Town. Sudah sekian lama tinggal di kota kecil tersebut, belum pernah merasakan apa yang disebut dengan 'persahabatan' sejati, ataupun cinta kasih di lingkungannya. Ya, ia melihat segenap cinta kasih itu ada di sekitarnya, namun tak pernah untuknya.

Siapa yang pernah peduli padanya saat ia pingsan di tengah perkebunannya? Siapa yang peduli padanya, saat ternaknya mati karena anjing liar yang berhasil menerobos kandang? Bukannya simpati, apa yang didapat hanya omelan dari Rick karena menganggapnya tak becus memelihara ternak.

Siapa yang peduli kalau ia tak ikut festival? Toh, tak seorang pun menyadari kalau ia ada di sana. Semua asyik pada dunianya sendiri. Dan ia tak dapat memasuki lingkaran solid yang mereka bangun. Lingkaran yang entah mengapa sangat sulit ditembus, seolah tak ada celah bagi orang luar untuk memasukinya.

Kini gadis itu berdiri di hadapan seorang pemuda yang selalu berkelana seorang diri; yang mungkin saja merasakan apa yang ia rasakan juga.

Di tengah angin malam yang dingin, gadis itu telah memberanikan diri untuk bertanya satu kalimat itu.

"Apa kau pernah merasa kesepian?"

Hening. Tak ada suara yang keluar dari bibir siapapun.

Hanya suara angin yang menerpa pepohonan di sekitar mereka dan gemericik riak sungai yang berhulu di Mother's Hill yang terdengar. Sesekali, suara serangga ikut meramaikan suasana malam.

Namun sang gadis, bersikeras pada sikapnya. Diam seribu bahasa, menatap lurus pada kedua mata sang pemuda, menanti jawaban yang pasti.

Pemuda berambut perak itu akhirnya memejamkan matanya, dan menghela napasnya panjang.

"Kau belum bisa berbaur dengan penduduk kota, bukan?" katanya tenang. Seolah ada sesuatu yang menerjang hatinya, sang gadis sedikit goyah dari pertahanannya. Sikapnya yang tadi begitu kokoh bagai tambok besar, kini mulai terlihat sedikit retak.

"... Bagaimana kau bisa... Tahu...?" tanya Claire pelan, tak lagi memiliki kepercayaan diri untuk menatap Skye langsung di matanya. Perlahan ia menunduk. Pertahanannya bagai runtuh sedikit demi sedikit. Hanya dengan satu kalimat... Bagaimana pemuda itu bisa meruntuhkan keberanianku tadi?

Berusaha membangun kembali pertahanannya, Claire mengambil nafas panjang.

"Memangnya apa saja yang kau lakukan selama ini? Menyendiri di peternakanmu?" kata sang pemuda lagi, memiringkan kepalanya 45 derajat ke kiri, dengan senyuman di wajahnya.

Kata-kata itu sepertinya menusuk lumayan dalam di hati Claire. Gadis itu pun kini hanya bisa menunduk, memejamkan matanya seolah tak ingin mendengarkan apapun lagi.

Bukan, bukan itu maksudku! Aku hanya... Aku...

Begitu ia berusaha menyangkal kata-kata Skye, Claire kembali teringat akan peristiwa yang mengawali semuanya...


8 Spring, hari dilaksanakannya Spring Goddess Festival. Setelah pada pagi buta ia dibangunkan oleh Gotz yang memberikannya sebuah gaun yang sudah tak lagi dipakai siapa pun, akhirnya Claire bisa ikut berpartisipasi dalam festival pertama di awal tahun itu.

Festival dimulai pukul 10 AM. Namun karena pekerjaannya yang menumpuk, Claire baru bisa bergegas menuju Rose Square 30 menit sesudahnya.

Dengan gaun merah muda dihiasi bunga-bunga khas musim semi, gadis itu berjalan secepat yang ia bisa; karena tak mungkin berlari dengan gaun panjang itu. Dengan penuh harap dan ekspektasi akan suasana festival yang meriah dan menyenangkan, Claire mempercepat langkah kakinya.

Namun apa yang ia lihat begitu tiba disana?

Seluruh gadis di Mineral Town yang telah didandani dan tampak seperti bidadari itu kini tengah menari diiringi alunan musik waltz yang menjadi khas festival Spring Goddess. Karen, Popuri, Ann, Elli bahkan Mary, semuanya ada di sana. Menari dengan anggun sesuai irama yang lembut, dengan semua mata memandang ke arah mereka.

Festival telah dimulai; tanpa Claire yang telah berusaha sedemikian rupa agar bisa ikut dalam festival itu...

Saat itulah, gadis berambut pirang itu menyadarinya.

Tak ada seorang pun yang peduli akan keberadaannya di kota ini...


"Perasaan yang begitu menyiksa. Secara harafiah, perasaan kesepian itu adalah sesuatu yang bisa dirasakan saat seorang manusia hanya sendirian, dan tak ada seorang pun di sekitarnya," kata Skye tiba-tiba, memecah keheningan. Claire mengangkat wajahnya perlahan, heran dengan sang pemuda yang tiba-tiba menjelaskan arti kata 'kesepian' tersebut.

Mata Skye berkilat, di bibirnya tersungging senyuman tipis yang misterius. Berjalan mendekati Claire, menyentuh ujung rambutnya dengan ujung jarinya dan menciumnya.
Jarak di antara mereka kini hanya sejengkal. Mata emerald gelap sang pemuda beradu pandang dengan kristal safir biru milik sang gadis.

"Perasaan yang menyedihkan, kini bahkan bisa diderita seseorang yang dikelilingi banyak orang di sekitarnya," lanjut Skye lagi, mengangkat tangannya lalu membelai pipi Claire yang hanya bisa diam terpaku. "Perasaan yang begitu memprihatinkan..." Perlahan, pemuda berambut pirang itu mendekatkan wajahnya ke salah satu indera pendengaran sang gadis dan berbisik pelan.

"... Seperti apa yang tengah kau rasakan sekarang, bukan?"

Claire tak dapat menahan airmatanya begitu mendengar bisikan sang pemuda. Dengan sekuat tenaga, kedua tangannya mendorong pemuda itu, kemudian salah satu tangannya mengayun dan mendaratkan telapaknya di pipi sang pemuda.

PLAKK!

Pemuda berambut perak itu terhuyung ke belakang karenanya, namun cukup kuat untuk tidak kehilangan keseimbangan ataupun jatuh terjerembab.

"Cukup," kata Claire, nafasnya tersengal-sengal, dengan air mata yang mengalir dari kedua matanya menatap pemuda yang ada di depannya. "Jangan sembarangan bicara..." kata sang gadis di tengah isak tangisnya.

Skye menyentuh pipi kirinya yang masih panas terkena tamparan dari gadis di depannya, kemudian tersenyum kembali menatap pada Claire.

Menatap dengan sorot mata yang berbeda dari sebelumnya.

Bukan sorot mata mencemooh yang biasa ia tunjukkan pada semua targetnya.

Bukan pula sorot mata dinginnya yang biasa meluluhkan hati sejuta wanita yang pernah ditemuinya.

Melainkan sorot mata yang penuh kesedihan. Sorot mata yang tak dapat diungkapkan dengan air mata.

Sorot mata yang seolah telah menampung seluruh air mata hingga kering dan tak dapat dikeluarkan lagi.

Dengan sorot mata seperti itu pun, sang pemuda tetap tersenyum.

Sayup-sayup terdengar kata-kata terakhir sang pemuda sebelum menghilang di kegelapan malam itu.

"...Kau belum tahu bagaimana rasanya 'kesepian' yang sesungguhnya..."


Author's note:

Apdet pertama di tahun 2011! Dibuat secepat kilat yang hanya memuat (sangat) sedikit cerita lanjutan dari chapter sebelumnya...

Kapan ya terakhir chapter 2 di-publish? Tahun lalu?

Ah, produktivitas saya dalam menulis fict harus diragukan; pantaskah saya terus menulis di FHMI yang mulai menumbuhkan bibit-bibit baru yang lebih berkualitas – jauh lebih baik dibandingkan saya?

Saya hanya author yang tak lama mampir di FHMI, namun sudah merasakan FHMI sebagai 'rumah' di seluruh Fanfiction(dot)net ini.

Tapi apa saya masih pantas ada di sini?

Untuk Teacupz-san dan semua yang menantikan lanjutan cerita ini, saya mohon maaf karena grade penulisannya menurun drastis; mungkin sebaiknya anda tak membacanya dan menganggap LaH ini terhenti hingga chapter 2 saja... T^T

Cerita ini sepertinya DISCONTINUED;

Menunggu saatnya inspirasi datang (saat insomnia lain datang) dan mood menulis yang mantap. Semoga saja akan ada Chapter 4 nantinya ^^;

Atau mungkin saja tak akan pernah ada lanjutannya? :)

Mohon review, mau flame silahkan...

Best Regards,

Shiramiu

And sayounara.