"Jadi tadi itu Min Yoongi?"

Taehyung mengangguk dan kini berjalan mendahului Jimin. Beda halnya dengan Jimin yang diam dan senyum-senyum sendiri. Pantas saja Jimin seperti melihat kakak kelasnya tadi. Memang tidak salah ternyata.

Yoongi memang sangat memesona.

"Hei, Tae! Tunggu aku!"

.

.

Let Me Know

JiminxYoongi – Chapter 2

.

.

Park Jimin namanya. Anak sulung dari Tuan dan Nyonya Park yang jenius. Tentu saja, kecerdasan Jimin diturunkan oleh sang ayah yang notabenya adalah seorang polisi yang handal memecahkan sebuah kasus. Tak hanya cerdas, Jimin juga seseorang yang friendly dan mudah memahami sosial. Berterima kasihlah kepada sang dokter psikolog, Nyonya Park.

Empat anggota keluarga itu (Jimin mempunyai adik laki-laki yang menyebalkan –menurutnya) baru saja pindah dari Busan ke kota Seoul seminggu yang lalu. Jimin sebenarnya jenuh berpindah sekolah terus dikarenakan pekerjaan ayahnya. Tapi mendengar Taehyung, sahabat lamanya, tinggal disitu ia jadi memutuskan untuk ikut dengan kedua orang tuanya.

Dan ternyata keputusan orang tua itu selalu benar.

Jimin benar-benar memasang niatnya untuk tidak pindah ke manapun kali ini. Karena ia sudah bertemu dengan seorang lelaki malaikat bagi Jimin. Kalian tahu lah, Min Yoongi. Pria seratus tujuhpuluh lima senti, kulit putih pucat, mata sayu, rambutnya yang dicat kemerahan, badannya yang lumayan ramping untuk ukuran lelaki, dan oh sungguh Jimin sangat menggemari mata sayu kecoklatan itu. Jimin sadar ia menyukai kakak kelasnya itu sejak ia pulang di hari pertama sekolahnya. Jimin benar-benar tidak main dengan perasaannya, hanya saja…

Min Yoongi itu misterius.

Bagaimana ia bisa menyandang lelaki itu sebagai kekasihnya jika… pertemuan pertama mereka saja sudah hancur?

.

.

.

.

"Bagaimana aku bisa mendekati Yoongi sunbae jika aku sudah menghancurkan imej ku di matanya saat pertama kali bertemu?"

Pertanyaan itu kembali terucap dari bibirnya. Jimin merasa seperti orang bodoh karena berbicara dengan langit-langit kamarnya. Ia masih terlentang di atas kasurnya, tak lupa dengan seragam dan kaus kaki yang belum dilepas. Rasanya begitu aneh baginya, entah mengapa Min Yoongi dan Min Yoongi terus yang terputar dalam benaknya. Memikirkannya saja sudah membuat hati Jimin bergemuruh, duh Jimin semakin menyukai rasa suka-nya terhadap kakak kelasnya itu.

Ia mungkin memang menyukai kakak kelasnya itu –ini hipotesa Jimin– tetapi seumur hidup, Jimin tidak pernah merasa sangat penasaran akan suatu hal seperti sekarang.

"Min Yoongi, ya?" gumamnya.

Jimin melirik ponselnya yang terbaring di sebelah kanannya, kemudian ia meraihnya dan membuka tombol kunci benda balok itu. Mungkin Yoongi punya akun jejaring sosial karena ayolah, siapa sih yang tidak punya akun jejaring sosial di zaman sekarang? Dengan begitu setidaknya ia bisa mendapatkan sedikit informasi.

Sayangnya, yang ia mendapatkan nol.

Jimin sudah mencari dengan kata kunci yang berbeda, Yoongi, Min Yoongi, bahkan sampai web sekolahnya ia tidak juga menemukan jejaring sosial milik pria imut itu. Satu pun. Hal itu membuat Jimin semakin yakin atas kesimpulannya mengenai Yoongi.

Yoongi itu bukan bad boy atau semacamnya. Ia hanya orang biasa yang misterius.

"Dan pasti ada alasan tersendiri mengapa ia sangat tertutup."

Jimin jadi teringat ekspresi dingin nan kesal Yoongi saat ia menatapnya. Sorotan tajam dari mata sayu yang indah itu, dan bagaimana suara ringisan merdu itu menyapu alat pendengarannya. Tidak mungkin Yoongi adalah preman atau anak berandalan, kalau begitu pasti Yoongi tidak akan menggerutu melainkan langsung menghajarnya. Lalu apa Yoongi itu misterius karena hubungan sosial?

"Jimin hyung, makan! Males. Baiklah jatahmu aku makan ya?! Oke!" Seruan dari balik pintu itu membuat Jimin cukup terlonjak dari pemikirannya.

Jimin memutar bola matanya malas mendengar seruan adik bungsu nya. Ia segera bangkit dari tidurannya lalu beranjak menuju lemari. Kebiasaan adiknya sering berbicara sendiri sebelum lawannya menjawab.

.

.

.

.

"FOR REAL?!"

Jimin baru saja ingin bangkit untuk membuang sampah sebelum suara Taehyung yang cukup melengking itu mencegatnya. Ia hanya mengangguk polos sebelum kembali melanjutkan langkahnya, meninggalkan Taehyung yang susah payah menelan roti yang masih dalam kunyahannya.

"I dunno, Jim. Tapi menyukai Yoongi sunbae sepertinya ide yang buruk," celoteh Taehyung.

Jimin tidak begitu memedulikan perkataan Taehyung. Ia masih memutar kepalanya ke setiap inci kafeteria, siapa tau ia melihat Yoongi disana.

"Kau hanya perlu membantuku, tenang saja. Aku bukan trouble maker lagi."

Taehyung menghela nafas pasrah. "Jadi apa rencanamu?"

"Aku akan meminta maaf pada Yoongi sunbae! Nanti kalau sudah baikan baru deh pendekatan, hehe," sahut Jimin riang, kemudian menyeruput susu kotaknya. Huh, dia hanya sangat antusias pada Yoongi! Ia jadi tidak sabar sendiri.

Taehyung mendadak bangkit dari duduknya. "Aku tahu siapa yang bisa membantumu. Kau mau ikut menemuinya, tidak?"

Jimin tampak menimbang-nimbang ajakan Taehyung. Baru saja ia ikut bangkit layaknya Taehyung, tetapi suara di dalam perutnya seperti bergemuruh. Ia membutuhkan 'privasi'. "Umm… duluan saja, aku ingin ke kamar kecil dulu, hehe." Tanpa mendengar respon dari Taehyung, Jimin segera memutar arahnya menuju toilet.

.

.

.

Jimin benar-benar mengutuk kafeteria yang begitu ramai, belum lagi murid-murid yang berjalan di lorong dengan bergerombol. Lagipula mengapa letaknya sedikit lebih jauh, pikirnya. Ia segera membuka pintu toilet dengan sedikit tergesa-gesa tanpa menyadari bahwa–

Bruk

Insiden kemarin terjadi lagi padanya.

Jimin benar-benar tidak tahu jika dibalik pintu yang ia dorong ternyata ada orang yang ingin menarik pintu toilet tersebut dari dalam. Dan secara tidak sengaja Jimin membentur kepala lelaki itu menggunakan pintu. Jimin jadi merasa bersalah, apalagi suara benturan itu terdengar cukup keras. Segera saja ia masuk ke dalam toilet, menutup pintu itu kembali, dan menghampiri lelaki mungil tadi yang tertunduk sambil mengelus kening dan hidungnya.

"Maafkan aku! Apakah sakit?!" tanya Jimin khawatir, tapi lawan bicaranya tetap mengeluarkan kata keluhan dan masih menunduk. "Jeosonghamnida! Sungguh aku tidak tahu jika –Y…Yoongi s-sunbae!?"

Oh! Sepertinya Dewi fortuna sedang berbaik hati padanya.

.

"Tck! Kau lagi?!" tanya Yoongi sedikit membentak.

Kenapa bisa bocah itu lagi yang membenturnya? Dan lebih menjengkelkan lagi, mengapa harus hidungnya sih yang jadi korban? Gerutunya. Yoongi segera saja pergi meninggalkan Jimin, bisa gawat jika ia berlama-lama disini. Tapi naas tangannya justru malah dicengkram oleh Jimin.

"Tunggu sunbae! Aku ingin minta maaf soal-"

"Minggir kau! Dasar sialan! Awas awas!"

Dengan susah payah Yoongi menghentakkan genggaman Jimin tetapi tak kunjung lepas juga. Jimin justru mengangkat genggamannya tepat disamping telinga Yoongi. Belum lagi lelaki yang lebih muda itu sedikit mencondongkan tubuhnya karena Yoongi yang memberontak cukup kuat, itu membuat keseimbangannya sedikit terganggu.

"T-tapi sunbae sungguh kemarin aku tidak melihatmu dan membuat hidungmu-"

.

Clek.

.

Jimin dan Yoongi diam membatu dalam posisi mereka. Namun kedua pasang mata itu tersorot para sebuah pintu bilik yang tiba-tiba terbuka. Dan parahnya lagi, lelaki yang barusan membuka pintu bilik dari dalam itu memerhatikan mereka dengan mata bulatnya dan tatapan blank.

Siapa sih yang tidak berpikiran aneh saat melihat mereka di tempat sunyi dengam posisi tangan yang saling mengait dan diangkat ke udara, belum lagi tubuh Jimin yang mencondong kedepan karena tadi mendorong Yoongi. Dan jarak wajah mereka yang… sekitar tujuh senti itu… dengan canggung lelaki tadi kembali menutup pintu bilik toilet itu, membiarkan Jimin dan Yoongi sendiri.

.

Krauk.

.

"Ah!"

Kesempatan hening itu Yoongi ambil untuk menggigit tangan kanan Jimin yang menggenggap pergelangan tangannya. Sumpah, Yoongi tidak bisa berlama-lama berada di dekat pemuda di depannya ini atau tidak hidungnya bisa saja menghilang. Uh mengingatnya Yoongi jadi semakin geram dengan bocah di depannya ini.

Duk.

Jadi Yoongi menendang tulang kering Jimin sebagai balas dendam sebelum akhirnya berlari ke ruang ganti, tak lupa masih meruntuki nasib kening dan juga hidungnya yang malang.

.

Jimin baru saja ingin mencegat Yoongi yang melarikan diri, tetapi sepertinya ia kalah cepat. Karena saat Jimin baru membuka pintu toilet itu, Yoongi baru saja berbelok hingga tak terlihat olehnya lagi. Sial, tulang keringa sakit sekali, man! Ia kira tenaga Yoongi tak akan sebesar itu. Tetapi memikirkan Yoongi…

Eh tunggu. Kelas Yoongi sunbae di sebelah sana kan? Kok beda arah?, Pikirnya.

Apa ia ingin membolos? Jadi yang Taehyung bilang itu benar?

.

.

.

.

Ingatkan Yoongi mengenai satu hal,

Bocah itu harus tercantum dalam daftar orang yang paling ia benci seumur hidup.

Padahal Yoongi sudah berharap jika semester dua di tahun keduanya ini akan berjalan dengan lancar, tanpa ada gangguan apapun. Tapi baru dua hari saja bocah tengil bantet itu sudah mendobrak dinding kesabarannya. Sudah menghancurkan moodnya, membuatnya jadi malas masuk pelajaran olahraga –Yoongi sedang jam olahraga sekarang – dan lebih parahnya bocah itu telah mem-bim-salabim hidungnya menjadi mancung ke belakang!

Bahkan Yoongi tidak tahu namanya! Astaga bisa gila dia lama-lama.

"Lho, tidak ikut basket, Yoongi hyung? Tumben." Yoongi mengangkat kepalanya malas saat mendengar pertanyaan teman sebangkunya itu.

"Gak. Males. Sana pergi!" usir Yoongi seraya mengibaskan tangannya.

Namjoon –seatmate Yoongi –mengidik ngeri. "Geez, man. Slow aja dong, ada apa dengan wajah merah padam itu?"

Dan setelah itu Namjoon secepat kilat berlari sebelum sepatu Yoongi melayang mengenainya.

Mengganggu Yoongi yang sedang badmood itu sama saja seperti membangunkan banteng!

.

.

.

.

Malangnya dirimu, Jimin.

Jimin kembali menghela nafas frustasi saat melihat note kuning ditangannya dihiasi oleh coretan tinta merah. Padahal awalnya note kuning yang ia beli dua minggu lalu itu sangat rapih dengan tulisan tangannya. Jika ingin tahu, note kuning itu adalah note khusus tentang Yoongi, lho. Dan halaman yang sedang Jimin buka merupakan 'cara meminta maaf kepada Yoongi sunbae' yang dipenuhi dengan coretan merah. Bahkan poin terakhirnya.

6. Memberi bunga permintaan maaf untuk Yoongi sunbae :) – X

Jimin mengacak rambutnya.

Ia tak mengira bahwa untuk meminta maaf saja memakan waktu dua minggu. Parahnya lagi usahanya tak menghasilkan buah sama sekali. Rasanya ia ingin sekali menangis malam ini mengingat bagaimana tajamnya ucapan yang terlontar dari bibir tipis menggemaskan itu. Semua usahanya gagal total dengan sangat mengenaskan.

Seperti poin satu…

.

.

.

Jimin menghela nafas.

Awalnya Jimin sudah mantap memasang tekadnya untuk masuk ke kelas Yoongi dan meminta maaf kepadanya secara formal sesuai dengan rencana yang telah ia buat. Tetapi saat ia mengintip dari ambang pintu kelas II-2, ternyata Yoongi sedang tidak berada di dalam. Yah gagal, keluh Jimin dalam hati. Jimin hanya bisa menghela nafas pasrah lalu berbalik. Namun…

Bruk.

"Akh ssh!"

Oh tunggu!

Jimin mengerjapkan matanya beberapa kali saat ringisan manis itu kembali menyapu telinganya. Itu Yoongi! Dengan kentang gorengnya yang berjatuhan. Jimin refleks menundukkan kepalanya dan mencoba untuk mengelus kening Yoongi yang tadi membentur dadanya.

Duh, kalau sudah begini pasti mood Yoongi sudah jelek.

Pasalnya insiden tempo hari lalu terulang lagi.

"E-eh? Yoongi sunbae? Maaf sunbae a-aku tidak sengaja! Sungguh!" Permintaan maaf Jimin justru malah ditepis keras oleh Yoongi.

Demi apapun, Yoongi itu malas sekali bertemu dengan bocah tengik di depannya ini! Sudah merusak hidungnya, sekarang kentang gorengnya jatuh di lantai, dan itu hampir setengahnya! Dengan kesal, Yoongi menghentakkan langkahnya dan masuk ke dalam kelasnya. Tapi justru langkahnya malah dicegat oleh adik kelasnya itu.

"E-eh sunbae tunggu! Aku ganti deh ya kentang gorengnya!" ujar Jimin panik.

Jimin baru saja hendak melangkah ke kafeteria jika saja Yoongi tak melempar sisa kentang gorengnya yang masih utuh ke wajah Jimin lalu masuk ke kelasnya, berjalan dengan hentakan kesal melewati Jimin yang masih membeku.

Tak lupa menyanyikan cibiran dan senggolan keras dengan bahunya.

.

.

Atau mungkin poin ketiga…

.

.

Saat itu Jimin ingin sekali menjerit senang. Rasanya seperti keberuntungan sedang berpihak padanya.

Tak jauh dari tempatnya berdiri, sekitar sepuluh meter, Jimin dapat melihat Yoongi yang sedang bersender dibawah pohon taman sekolah. Belum lagi disitu sangat sepi dan kebetulan Yoongi sedang sendiri! Jimin jadi tak sabar menyelesaikan misinya itu. Jika kalian ingin tahu, tatapan damai Yoongi saat memainkan ponselnya itu membuat Jimin semakin jatuh dalam pesonanya.

Jimin berjalan sedikit melompat ke arah Yoongi. Oh, man! Jantungnya berdetak keras sekali! Ia lalu duduk di sebelah Yoongi tanpa meminta izin.

"Eh Yoongi hyung? Ngapain disini sendirian?"

Yoongi tersentak saat mendengar panggilan 'hyung' itu tertuju padanya. Hanya Namjoon yang memanggilnya dengan sebutan itu di sekolahnya. Lalu saat ia melirik seseorang di sampingnya menggunakan layar ponselnya, si bocah tengik itu lagi, gerutu Yoongi dalam hati. Belum lagi bocah itu sok-sok akrab dengannya, lagipula siapa yang mengizinkannya memanggilnya dengan sebutan 'hyung' seperti itu? benar-benar merusak ketenangan Yoongi, syukur matanya masih tertuju pada permainannya di ponsel.

"Hyung, maafkan aku ya jika aku selalu melukaimu setiap kita bertemu. Sungguh aku benar-benar tidak sengaja! Maaf ya, hyung. Maaf banget?" Yoongi memutar bola matanya dalam diam mendengar ucapan Jimin. Meski matanya tetap tertuju pada permainannya, tetapi ucapan Jimin cukup mengalihkan fokusnya.

Kalau ingin dimaafin enyahlah kau, sialan!

"Oh iya, omong-omong, namaku Park Jimin. Kelas I-2 hehe."

Siapa juga yang ingin tau namamu! Namamu itu bocah bantet tengik sialan, tahu!

Jimin lama-lama jengkel juga dihiraukan oleh Yoongi. Belum lagi bibir tipis itu seperti menggumamkan sesuatu yang tak jelas (jimin menebaknya itu gerutuan untuknya). Jimin akhirnya memberanikan diri untuk mencondongkan tubuhnya agar bisa melihat jelas permainan Yoongi.

"Lagi main apa sih, hyung? Kok seru banget keliatannya," tanya Jimin, sedikit menaiki intonasinya.

Yoongi yang semakin risih akan kehadiran Jimin akhirnya memiringkan tubuhnya ke sisi kiri (tempat kosong sebelahnya) supaya menjauhkan Jimin dari ponselnya. Sebenarnya ingin sekali ia menoyor kepala Jimin tapi kedua ibu jarinya sibuk menekan sisi kanan dan kiri pada ponselnya, memainkan game-nya.

"Tsk! Jauhkan kepalamu, bodoh! Sana sana!"

"Tapi aku pingin lihat, hyung! Se-seru apa sih sampai mengacangiku?"

"Sialan! Minggir tidak?!" bentak Yoongi, kali ini sambil menghentakkan kakinya yang ia luruskan.

"Ih~ hyung pelit sekali, aku 'kan-"

Tonenot. You lose!

Yoongi menatap kosong layar ponselnya yang menampilkan score permainannya. Padahal satu poin lagi ia berhasil mengalahkan high score-nya! Ini semua gara-gara –Yoongi kini menatap tajam ke arah Jimin. Yoongi bersumpah, sampai bocah itu membuka mulutnya sekali lagi–

"Hehe."

Buk.

Plak.

Ia tak segan memukul wajah menyebalkan itu lalu menoyor kepalanya hingga terjeduk pohon.

.

.

.

Jimin menghela nafas untuk kesekian kalinya.

Mengingat semua insiden itu justru malah membuat semangat Jimin jadi turun. Untuk minta maaf saja susah, Jimin tidak bisa membayangkan jika ia benar-benar mendekati Yoongi nanti. Mungkin jika semua tubuh Jimin sudah remuk dan kritis, Yoongi baru akan menerimanya.

Jangan tanyakan poin terakhir.

Bunga itu tak sampai lima detik di tangan Yoongi saja sudah berujung ke kolam yang ada di taman sekolah. Dibuang tanpa dibaca sticky note-nya.

Setidaknya Jimin belajar sesuatu mengenai Yoongi. Ia tak suka hal romantis, tak suka waktu sendirinya diganggu, pokoknya tidak suka diganggu. Jimin yang tadinya bersandar ke pagar sekolah kini menegapkan tubuhnya dan memperbaiki ranselnya, hendak pergi pulang. Ia baru saja berjalan tiga langkah, sampai akhirnya telinganya menangkap suara menggema dari lorong sekolah.

Suara seseorang mendribble bola basket. Jimin memutar tubuhnya.

Oh astaga! Jerit Jimin dalam hati.

ITU YOONGI!

.

.

Yoongi sibuk mendribble bola basketnya, sesekali ia bersenandung sesuai lagu yang ia dengar melalui earphone putihnya yang hanya ia pakai sebelah. Yoongi menghentikan dribble-nya saat ia melihat sepasang sepatu yang menyapa sepatunya. Ia lalu mengangkat kepalanya, melihat siapa pemilik sepatu yang menghalangi jalannya.

Oh bocah tengik itu. Siapa namanya? Oh, Park Jimin.

Yoongi mendecak kesal lalu mengambil alih ke kiri. Tapi Jimin mengikutinya.

Yoongi berjalan ke kanan, Jimin juga mengikutinya. Dan begitu seterusnya sampai mau tak mau Yoongi harus angkat bicara.

"Maumu apa sih, tengik?" tanya Yoongi rese.

Bukannya menjawab, Jimin justru diam di depannya. Itu cukup membuat Yoongi semakin kesal dan terpaksa menatap manik Jimin yang–Yoongi membeku di tempatnya. Alis dan sudut mata Jimin yang tegas dan bola mata yang menatapnya teduh cukup menghipnotis Yoongi agar terdiam dalam posisinya. Bagaimana sepasang mata gelap itu menatapnya langsung dengan serius, bagaimana mata indah itu menyipit saat tersenyum– tunggu, INDAH?!

.

"Maafkan aku, hyung."

"Ap-Apaan sih?!" Jimin semakin mengembangkan senyumnya begitu melihat reaksi Yoongi yang begitu lucu dimatanya. Ia lalu mempersempit jarak antara mereka, membuat Yoongi sedikit terlonjak dan memundur.

"Maafan aku, hyu-"

"O-KAY OKAY AKU MAAFKAN! SEKARANG BERHENTI MENGGANGGUKU DASAR BAJINGAN BODOH!"

Jimin menahan nafasnya. Barusan Yoongi memaafkannya?

"Serius, hyung?"

Yoongi mendecak kesal. "Kau ini rese sekali, sih? Kau mau aku menarik perkataanku atau tidak?! Dasar idiot."

Yoongi menghentakkan kakinya kesal seraya melewati Jimin yang sumringan sendiri tanpa sebab. Sungguh, adik kelasnya itu benar-benar sudah gila! Erang Yoongi dalam hati. Ia segera saja berjalan cepat meninggalkan Jimin.

"Hyung!"

"Hyung!"

"Yoongi hyung!"

"Yoongi hyung!"

"Min Yoongi!"

"Yoongi hyung!"

"APA LAGI SIH?!"

Jimin terkikik geli melihat Yoongi yang membalikkan tubuhnya kesal ke arahnya. Apalagi wajah seputih susu itu kini sudah merah padam seolah menahan semburan api yang akan ia hembuskan layaknya seekor naga. Sungguh Yoongi terlihat sangan menggemaskan dimatanya saat ini. Oh tidak, setiap saat.

"Kau terlihat manis hyung jika begitu!"

"SIALAN! MATI KAU, PARK!"

Lihatlah betapa menggemaskannya kakak kelasnya itu saat merona!~ Melihat Yoongi yang merona tadi cukup memacu degup jantungnya semakin cepat. Belum lagi melihat Yoongi yang menghentakkan kakinya dan meremas bola masket yang ada di pelukannya. AH~ rasanya ia semakin cinta saja pada Yoongi.

"Hati-hati di jalan, Yoongi hyung!" serunya.

Meski Jimin tau lambaian tangannya tidak akan dilihat oleh kakak kelas manisnya itu, tapi Jimin tahu Yoongi masih dapat mendengar seruannya, bahkan Jimin dapat mendengar erangan kesal dari bibir Yoongi. Jimin jadi semakin gemas dengan Yoongi.

Selanjutnya adalah tahap pendekatan!

Oh astaga Jimin semakin berdebar saja. Sepertinya ia tak akan tidur malam ini.

Ia 'kan akan memikirkan plan-nya untuk nanti.

Khikhikhi.

.

.

TBC

.

.

HAH. Bakar dinas pendidikaaan! bakar UN! Bakar semuanyaa!

Yeay at last ini sudah di update setelah...entah berapa lama. Haha dimaklumi ya.

Oh iya Bangtan jadi menang award terus yippie! *makanin gedung bighit bareng taetae* sumpah terharu banget, ARMY You're grow up so fat /? Ada suka ada duka sih memang. Ada award ada bash, ada popularitas baru ada kasus baru, kasian sih memang tapi, yah namanya juga hidup. Mau diapain lagi, ya gak?

Okay makasih yang udah mau baca sampai sini:D maaf gabisa bales review kalian semua tapi kimmi baca semua kok

And i love you all! ;_; Yang siders juga i love you guys!

And last, mind to review? :D Jangan tanamkan budaya siders, kawan :) respect others.

Yang mau chat/whatever just PM me or liat bio kimmi!~

ARMY KEEP STROONG! BTS FIGHTING!


-Kimmidiot-