"Hati-hati di jalan, Yoongi hyung!" serunya.
Meski Jimin tau lambaian tangannya tidak akan dilihat oleh kakak kelas manisnya itu, tapi Jimin tahu Yoongi masih dapat mendengar seruannya, bahkan Jimin dapat mendengar erangan kesal dari bibir Yoongi. Jimin jadi semakin gemas dengan Yoongi.
Selanjutnya adalah tahap pendekatan!
Oh astaga Jimin semakin berdebar saja. Sepertinya ia tak akan tidur malam ini.
Ia 'kan akan memikirkan plan-nya untuk nanti.
Khikhikhi.
.
.
Let Me Know
JiminxYoongi – Chapter 3
.
.
Bel istirahat sudah berbunyi sejak tujuh menit yang lalu.
"Yes! Akhirnya!"
Tapi Jimin masih betah duduk di singgasana kelasnya dengan buku paket dan pensil. Memasuki akhir bulan februari–sial, Jimin selalu merasa dunia semakin kesini semakin cepat–membuat tugas sudah mulai menggunung di list pekerjaan rumah, mau tak mau ia harus mengerjakan tugas rumah yang diberi oleh guru matematikanya tadi di sekolah, katanya ia ingin mengerjakannya sekarang agar nanti tidak ada yang menghadang dirinya untuk bertemu Yoongi.
Oh, iya, soal kakak kelas manisnya itu.
Ia sudah membuat semua rencananya kok, hanya saja baru dua yang ia coba–meski keduanya bisa ditebak (tentu saja gagal) olehnya–untuk mendekati Yoongi. Tetapi semakin kesini, waktunya untuk mendekati Yoongi semakin berkurang. Guru-guru dengan kejamnya menaburkan tugas seluas laut pasifik kepadanya. Rasanya itu seperti kamu dan bias lagi jalan, terus tiba-tiba fans yang lain datang ditengah-tengah kalian.
Ya, begitu.
Jimin 'kan memang hiperbola.
"Hey, bung!" Jimin menoleh saat mendapati Taehyung di ambang pintu kelasnya sembari mengunyah roti di tangan kanannya. Nampaknya Taehyung tidak sendiri, ia menggandeng seseorang di belakang punggung lebarnya.
"Kau niat diet biar keliatan seimbang dengan Yoongi sunbae, ya?" tanya nya dan langsung menyambar note kuning yang Jimin letakkan di atas meja.
Jimin memutar bola matanya jengah melihat Taehyung yang duduk di atas mejanya sambil mengunyah gigitan terakhirnya. Ia sedikit sensitif jika membahas soal berat badan dan tinggi,ekhem excuse his physic please. "Dan kau membicarakannya di depan dia?" Jimin menunjuk orang yang mengekori Taehyung dengan dagunya.
Omong-omong, Jimin seperti pernah melihat dia. Dimana ya?
"Tak usah khawatir, kawan. Waktu itu 'kan kau memaksaku untuk membantumu –ekhem jangan protes. Nah aku rasa dia bisa membantu, sangat membantu malah. Namanya Jeon Jungkook. Anak kelas sebelah."
"Yang pernah bertemu kalian di toilet." Tambah orang yang dimaksud, Jungkook.
Oh, ya. Pantas ia merasa tak asing, kejadian memalukan itu.
"Halo, aku Jimin," sapa Jimin kemudian menjabat tangan Jungkook. Jimin langsung menarik bangku milik Taehyung (Jimin dan Taehyung adalah seatmate) lalu memutar duduknya menjadi menyamping saat Jungkook sudah duduk di hadapannya, sedangkan Taehyung masih setia duduk di atas meja Jimin.
"By the way, kau tahu semua hal tentang Yoongi sunbae?" Jungkook mengangguk sekali.
Wow, ternyata ini mudah, pikir Jimin. Kalau sudah begini 'kan ia bisa tanya dimana rumah Yoongi, atau nomor telefonnya, atau mungkin perasaan Yoongi kepadanya. Duh~ dengan begitu ia dengan mudah melakukan pendekatan –tunggu, kalau pria disampingnya ini tau segalanya tentang Yoongi, apa…jangan-jangan….
"Kau…ngegebet dia juga ya jangan-jangan?" tanya Jimin hati-hati, kini matanya benar-benar menatap tajam ke arah Jungkook
Yang ditatap malah tertawa kecil. "Bukan, aku bisa membaca fikiran orang. Jadi aku tahu beberapa tentang dia, hanya saja ada yang tidak boleh aku beritahu karena itu bersifat privasi bagi Yoongi sunbae, dia sangat introvert. Aku bahkan tidak diizinkan memberi tahu letak rumahnya, well secara tidak langsung. " jelasnya.
"Wah serius? Daebak! Terus terus, menurutmu aku sama Yoongi sunbae cocok gak?"
Jungkook tampak berfikir sejenak. "Cocok sih. Kau bisa mencairkan suasana kalian, dan Yoongi bisa mengurangi kadar cerewetmu. No offence. Tapi kalian kelihatannya lucu, saling melengkapi."
Duh, senangnya Jimin sekarang.
"Oh! Oh! Jim, kau tahu bagian apa yang paling bagus?" interupsi Taehyung, pria itu dengan santai menggebrak meja Jimin.
"Apa?"
"JUNGKOOK JUGA VIP, LOH!"
"Serius!? Woah, biasnya siapa? Biasnya siapa?" –Jimin.
"GD." –Jungkook.
"YEAY! Eh kalau begitu kita bisa jadi couple GD-Taeyang fans lho!" –Jimin.
"Eh! Enak saja, dimana-mana juga adanya G-TOP, tau!" –Taehyung.
….yah, selanjutnya mereka isi dengan fanboy-ing ria. Tahu lah omongan seorang fans. Setidaknya, kedatangan Jungkook bisa mengusir kegalauan Jimin karena tugas yang melandanya.
.
.
.
.
.
Sementara itu…
Kelas II-2 nampaknya belum bubar meski bel istirahat telah berbunyi. Wanita paruh baya di depan kelas itu masih bersikukuh menatap seluruh murid didiknya satu per satu dengan heran.
"Benar tidak ada yang ingin menyerahkan makalah kalian kepada saya? Jadi satu kelas ini melupakan tugas makalah saya?"
Gelengan murid-murid membuat wanita itu berdecak dan bangkit dari duduknya.
"Seharusnya saya tidak bisa memberi toleransi lagi karena ini tugas liburan kemarin. Saya tidak mau tahu hari Jumat minggu depan pokoknya harus sudah ada di meja saya, selesai atau tidak. Dan ingat, tema makalah tidak ada yang boleh sama dan jangan mengambil dari internet. Jika ada yang sama atau mengambil dari internet, nilai kalian kosong. Sekian, terima kasih."
Setelah peringatan panjang dari guru bahasa, Yoongi langsung menjedukan kepalanya ke meja. Lagian liburan malah dikasih tugas, ya jelas tidak akan ada yang ingat, gerutunya. Sementara Namjoon mengacak isi tasnya –mencari buku dan pulpen sepertinya, Yoongi melirik teman-temannya yang kini sibuk menanyakan tentang tema makalah mereka.
"Hyung, kau sudah ada tema?" tanya Namjoon yang dijawab gelengan kepala Yoongi.
"Mau ikut nyari, gak?" Yoongi kembali menggeleng.
Yoongi itu paling malas jika sudah berurusan dengan namanya Pekerjaan Rumah.
Siapa juga yang tidak malas mengerjakannya, bahkan orang sepintar Namjoon –sialan temannya itu tak pernah membagi otaknya pada Yoongi –saja belum mengerjakannya. Bagaimana satu kelas, atau bahkan satu angkatan (karena Yoongi dengan tak ada satupun dari angkatannya yang sudah mengumpulkan tugas tersebut.)
Yoongi 'kan jadi mager. Jadi ia memilih untuk berdiam diri di kelas yang kian mulai sepi. Yoongi hampir saja berselancar ke alam mimpi sebelum suara Namjoon memecahkannya.
"Yoongi hyung, ada adik kelas tuh nyariin."
Oh, sialan. Yoongi mendecak sebal, ia tahu siapa adik kelas yang dimaksud Namjoon. Yah, siapa lagi.
"Halo, Yoongi hyung! Have a nice day, ya!" itu Park Jimin jelek.
Yoongi belum memberi tahu, ya? Akhir-akhir ini Jimin selalu mampir ke kelasnya hanya untuk sekedar menyapa, kadang ia pernah nekad masuk ke kelas yoongi dan mengajaknya ke kantin. Tapi tentu saja Yoongi menolaknya mentah-mentah, tak lupa ia selalu menutup hidung dan mulutnya jika sedang bertemu dengan Jimin. Hey, ia trauma, bung. Bisa-bisa hidungnya benar-benar akan hilang.
Dan Yoongi kembali menjedukan kepalanya saat Jimin sudah menghilang dari ambang pintu.
.
.
.
.
.
Jika biasanya sepulang sekolah Yoongi langsung pulang ke rumahnya, kali ini ia harus menunda kepulangannya demi tugas makalah sialannya. Sore itu, Yoongi berniat untuk mencari pencerahan topik makalahnya di perpustakaan sekolah. Ia sedang berada di bagian buku non-fiksi, berjalan pelan di antara dua rak buku yang cukup tinggi. Di hadapannya tertera label 'Hewan' sedangkan di belakangnya tumbuhan. Pria bersurai maroon itu berjinjit dan meluruskan tangannya keatas, mencoba menggapai sebuah buku besar yang menarik perhatiannya. Yoongi hampir saja mendapatkan buku itu dengan jurus terakhirnya –melompat kecil –tetapi seseorang telah lebih dulu mengambil buku itu dari arah yang berlawanan, seseorang di seberang rak hadapannya.
"Sial, bukunya diambil sama orang lain," dengus Yoongi sebal.
Yoongi hendak pindah ke rak buku lainnya sebelum –
"Min Yoongi?"
Eh?
.
.
.
"Yoongi hyuuuung!~"
Yoongi tersentak ke belakang saat tiba-tiba deretan buku yang tingginya setara dengan matanya menampakkan sebuah kepala dari sela-sela tumpukan buku tersebut.
Sudah suaranya cempreng, lagi sepi, belum lagi ekspresi menyebalkannya.
Wajah itu dekat sekali dengan miliknya.
Sialan si bocak Park itu.
Jangan bertanya, hanya dia dan Namjoon yang memanggilnya 'hyung' dan seumur hidup Namjoon tak pernah bersuara cempreng–harga diri katanya.
Si empu nampaknya tidak berniat meminta maaf pada Yoongi, Jimin malah menunjukkan cengirannya lalu bertanya. "Hehe, Yoongi mau pinjam buku ini tidak?"
Pria seputih susu itu mendecak. "Tsk, iya. Sini bukunya!" kemudian merebut dengan kasar buku yang Jimin sodorkan untuknya.
"Galak amat sih, hyung. Ya sudah deh, aku mau cari buku yang lain saja." Jimin mengerucutkan bibirnya (ga sih, dia hanya berpura-pura) lalu melangkah ke rak buku lainnya.
Yoongi tak begitu mempedulikannya. Siapa juga yang peduli padanya, pikir Yoongi. Setelah Jimin pergi, Yoongi lalu melihat buku yang telah ada digenggamannya. Ternyata hanya sebuah buku using dengan judul 'Dinosaurus' yang besarnya hampir setengah halaman.
Pass, tidak menarik.
Lantas ia mencari Jimin (Yoongi bersyukur Jimin telah menghilang dari hadapannya, sayangnya sekarang ia yang mencari bocah itu) yang ternyata berada di antara rak buku, membaca buku galaksi seorang diri.
"Nih." Jimin mendongak, cukup kaget saat mendapati buku yang ia cari telah berada tepat di depan matanya.
Kini ia melihat ke pria yang lebih tua. "Lho? Kok cepat banget dibalikinya?"
"Gak jadi, gak seru."
"E-eh hyung! Ini seru tahu! Baca dulu deh isinya, don't judge the book from its cover,"amanah si paling muda. Jimin menarik tangan Yoongi yang hendak beranjak pergi. Yoongi mau tak mau menunduk untuk melihat Jimin.
Shit, apa-apaan dia. Puppy eyes?
Shit, Yoongi semakin membencinya.
"Percaya deh, Yoongi hyung lagi cari tema buat makalah 'kan? Tadi ada kakak kelas dari kelas hyung bilang kalau belum ada yang memilih tema dinosaurus. Sini-sini hyung aku jelasin," paksa Jimin.
Mendengar penuturan Jimin, mau tak mau lelaki berambut maroon itu harus menyetujuinya. Yoongi merotasikan bola matanya, dengan malas ia menghempaskan pantatnya di lantai sebelah Jimin (ia masih menjaga jarak kok) lalu melipat kedua tangannya di dada, mendengar setiap penjelasan menarik Jimin.
.
.
.
Tetapi sepertinya ini tidak seburuk yang Yoongi kira.
Ya, harus ia akui Jimin membuat buku usang itu terlihat menarik.
Apalagi gestur Jimin yang berlebihan membuatnya tertawa dalam hati, dan tanpa sadar mengikis jarak diantara mereka.
"Nah kalau ini namanya Ankylosaurus! Suka banyak sih kalau di film, cuman namanya jarang dikenal. Kalau dilihat sekilas dia mirip dengan trenggiling. Dia lucu 'kan?" Jimin kembali menoleh pada Yoongi yang kini manggut-manggut, terlihat begitu imut. Sampai-sampai ia ingin sekali menggigit pipi gembil putih itu, kalau seandainya ia tak ingat Yoongi itu cukup ganas.
"Kalau dilihat-lihat kalian mirip juga ya." lanjutnya.
Yoongi langsung membolakan mata sayunya. "Enak saja! Sopan banget ya menyamakan kakak kelas dengan dinosaurus. Huh, sopan banget."
"Iya deh, maaf. Tapi bener loh hyung! Kalian mirip! Abis muka kalian sama-sama lebar sih-"
"Kurang ajar! Bilang apa kau tadi, bocah?!"
"Duh duh! Iya hyung maaf! Maaf! Muka kalian sama-sama lebar. Kalo aku mah oval gitu, kalau hyung bulet~ tuh tuh kalau sedang marah malah makin mirip. Kkk~"
"Dasar jelek! Jelek! Jelek! Jelek! Jeleeeek!"
"Adu-duh! Ampun, hyung! Ampun!"
Yoongi terkekeh dalam diam, masih memukuli Jimin yang meringis.
Dan Jimin menyadari itu.
.
.
.
Hari sudah menginjak sore, namun Jimin masih setia menjelaskan berbagai gambar yang terpampang di buku yang berada di pangkuan mereka. Sampai akhirnya Jimin mendapatkan panggilan dari handphone pintarnya dan mau tak mau ia harus mengucapkan kata perpisahan pada Yoongi, sayang sekali pemuda madu itu masih ingin di perpustakaan.
"Yah Yoongi hyung gak mau pulang bareng. Ya sudah deh, semangat hyung! Pulangnya jangan kemaleman ya!"
Yoongi memang tak membalas ucapan manis Jimin. Ia hanya memandang punggung tegap –yang sekarang terlihat seperti bocah sedang jingkrak-jingkrakan–itu menjauh sampai pintu perpustakaan ditutup, meninggalkan dirinya sendiri bersama buku dinosaurus yang dipangkunya.
Kalau boleh jujur, seru sih dijelaskan oleh Jimin. Tak seperti yang ia kira (walaupun tetap saja dia sangat cerewet) dari dulu.
Ia jadi mendapat inspirasi untuk makalahnya nanti.
Apalagi saat Jimin menyebutnya mirip Ankylosaurus.
Rasanya kayak jantung Yoongi itu bergemuruh gimana gitu. Terus imajinasinya jadi menjalar kemana-mana.
Eh, apaan sih. Kok melenceng kesitu.
Hmm, dinosaurus ya?
.
.
.
.
.
Memasuki pertengahan semester membuat Jimin disibukan oleh tugas-tugas, statusnya sebagai salah satu murid berprestasi benar-benar tak bisa diremehkan di sekolahnya. Berbagai tugas kelompok maupun individu, praktek, dan ujian membuatnya tak bisa beristirahat barang satu jam istirahat penuh.
Bahkan untuk menemui Yoongi saja Jimin perlu perjuangan.
Terakhir kali ia bertemu dengan Yoongi saat ia menyapa di depan pintu kelasnya tiga hari yang lalu. Dan itu membuatnya benar-benar frustasi. Ditambah lagi kelengahannya karena terlalu sibuk akan tugas sekolah, membuatnya jadi kurang tidur dan semakin ceroboh. Seperti hari ini, sudah bangun terlambat, tidak makan dari malam hingga siang, lupa membawa note kuning yang selalu ia bawa, belum lagi tugas kelompok yang benar-benar menguras dompetnya. Padahal ia hanya membawa uang pas-pasan.
Sial, Jimin ingin sekali mengutuk sekolah barunya.
"Jimin hyuuuuung!" itu seruan Jungkook dari ambang pintu kelas I-2.
Bel pulang memang sudah berbunyi. Disana hanya ada Jimin dan Taehyung yang tersisa (kini ditambah dengan kehadiran Jungkook tentunya). Jimin dan Taehyung sama-sama menoleh pada Jungkook yang kini berjalan ke arah mereka. "Bagaimana? Apa diterima?" tanya si paling muda.
Jimin yang sedang mengemasi tasnya menyerngit pada pemuda itu. "Diterima? Maksudmu?"
"lho? Hyung, kau tidak memberi Yoongi sunbae hadiah? Hari ini 'kan ulang tahunnya Yoongi sunbae!"
Taehyung yang mendengarnya langsung menepuk dahinya sedangkan Jimin masih mencoba mencerna perkataan Jungkook. Lho, memangnya sekarang tanggal berapa? Memangnya Yoongi hyung ulang tahunnya kapan?
…
….
…
Shit. Dan saat itu Jimin baru menyadari bayangan kertas biodata milik Yoongi.
.
[MIN YOONGI: Daegu, 9 Maret 1993. II-2]
.
Jimin langsung memekik sambil menangkup kedua pipinya kaget. "ASTAGA TUHAN, LUPA!" Lalu ia segera menyampirkan tas ranselnya dan berlari keluar kelas tanpa menghiraukan Jungkook dan teriakan melengking Taehyung.
"Jimin titip salam buat Yoongi sunbae ya!"
Tanpa pikir panjang Jimin berlari menyusuri trotoar, mencari sesuatu yang tepat untuk diberikan kepada Yoongi, dan tanpa sadar memasuki sebuah toko bunga antik tak jauh dari sekolahnya. Dengan terengah ia segera menghampiri wanita muda yang menjaga toko tersebut.
"Permisi, saya ingin mencari sebuket bunga. Apa ada? Kalau bisa yang termurah," ujar Jimin.
Sementara itu Jimin langsung menumpukan tangannya pada meja kasir dan mengatur nafasnya, sembari menunggu pesanannya. Wanita itu akhirnya datang dengan sebuket bunga mawar merah yang telah diikat dan diberi sampul. "Berapa harganya?"
"limabelas won, tuan." Sialan. Kenapa bunga bisa semahal itu ya? Atau itu karena factor dompetnya yang kosong melompong?
Jimin menggaruk tengkuknya canggung. "A-oooh, Apa…tidak ada yang lebih murah dari ini?" tanya nya sekali lagi, kali ini lebih kikuk.
Wanita itu tersenyum kemudian menggeleng. "Maaf tuan, tidak ada. Tapi kami memiliki tanaman yang lebih murah dari ini." Mendapatkan anggukan setuju dari Jimin, wanita itu lalu mengambil barang yang ia maksud. Sebuah kaktus…
Sekali lagi, kaktus…
Kaktus kecil, lebih kecil dari bola tennis malah, dengan hiasan pot putih berpita krem yang diisi tanah dan batu putih hias diatasnya.
Sial, rasanya susah sekali untuk menolak. Tapi lucu sih, menurutnya.
"Harganya dua won."
Dan itu termasuk harga yang murah.
Jadi Jimin dengan tidak rela menyerahkan selembar uang terakhirnya lalu membawa pot dan isinya ke genggamannya. Ia menyeret kakinya keluar dari toko, tentu dengan berat hati. Sigh, ia menyesal bung.
Haaah, harusnya tadi aku beli coklat saja.
.
.
.
.
Atau tidak lebih baik ia pulang dulu tadi untuk mengambil uang.
Sialan, Jimin benar-benar meruntuki kecerobohannya. Seharusnya Jimin sadar dari awal kalau ia tidak tahu apa-apa tentang Yoongi. Dan seharusnya Jimin juga sadar kalau Yoongi pasti tidak ada di sekolah, bel pulang 'kan sudah berbunyi sejak lama.
Setelah membeli bunga (tidak lebih tepatnya tanaman) Jimin segera mencari Yoongi di sekolah, sayangnya ia tidak menemukan Yoongi di salah satu titik sekolah. Taehyung dan Jungkook juga tidak ada di sekolah.
Sigh.
Ia menyesal, benar-benar menyesal.
Sekarang apa yang akan ia lakukan terhadap bunga kaktus yang ia genggam? Mau memberikan kepada Yoongi, Jimin tidak tahu kakak kelasnya itu sedang dimana. Menaruh di rumahnya, ia tidak tahu rumah Yoongi, nomor teleponnya juga tidak tahu. Masa' dibuang dan tidak mengucapkan apa-apa pada Yoongi?
Pada akhirnya, Jimin memutuskan untuk pulang ke rumah. Ia menyeret kakinya dengan lesu, matanya terfokus pada tanaman berduri bulat dengan pot putih berpita yang ia genggam. Jimin membiarkan kakinya berjalan sendiri, menuntun dirinya berjalan menelusuri trotoar yang berada di pinggir taman.
"Hah, seharusnya aku sesekali menguntit Yoongi hyung. Kalau nanya mana ada yang tahu, apalagi nanya sama orangnya. Yoongi hyung 'kan tak pernah bercerita pada siapapun," bibir tipis itu bermonolog, menghilangkan rasa galaunya terhadap Yoongi.
"Iya nih, Yoongi oppa tidak pernah cerita sama kami! Yoongi oppa jahat!"
Jimin menghentikan langkahnya. Panjang umur, tapi siapa yang baru saja mengatai gebetan –ekhem –nya?
Yoongi? Tidak, pasti ia terlalu galau sampai nama Yoongi selalu terdengar dimana-mana. Tsk, dasar alay.
Jimin kembali melanjutkan langkahnya. "Iya! Min Yoongi hyung jahat! Ayo cerita~ ceritaaa~"
Jimin tercengah.
Jimin lantas menoleh ke taman, mencari-cari seseorang yang –oh astaga.
Itu….beneran Min Yoongi gebetannya kan? Tapi…
.
.
.
.
.
TBC
.
.
A/N:
TIDAAAAAAAAAAAAAAAAAAK SELAMAT TINGGAL LIBURAN PANJANG :""( /apasih
Akhir-akhir ini kimmi lagi banyak ide buat ff baru maupun yang belum selesai. Hanya saja urusan sekolah membuat saya menjadi botak…ga ding, sakit doang wakakak. Maklum baru naik jenjang yang lebih tinggi.
…
Disitu saya merasa sedih:") masih terlalu muda untuk menjadi fangirl. Sigh ;_;
Omong-omong, Apa cuman kimmi doang yang baper BTS fanmeet di INA?;_; *kibar bendera putih gambar abs chimin*Kimmi yang statusnya pelajar bisa apa atuh:") Apa ada yang ikut? :) Sayang sekali saya gaikut.
BAIKLAH! Ini balasan review bagi yang non-login:
Damchu93: Iya:3 abis yungi kalo galak manis sih /waduh. Oke ini udah lanjut ya~ Makasih reviewnya :3
VAlien4d: Hehe, ini sudah di update ya:3 terima kasih sudah review~
Sisanya yang login sudah kimmi balas di pm :D
.
Eh satu lagi, jika kalian merasa ini kurang feel atau gimana maafkan kimmi ya, saya tahu chap ini mengecewakan. Karena kalo boleh jujur saya juga masih kurang sreg sih sama chapter ini, cuman gimana ya…. Ya gitu deh. Pingin ngomong sama kalian:3
Tapi untuk chap depan saya akan berusaha lebih maksimal deh buat kalian:3 cuman mungkin akan memakan waktu yang cukup lama (sialnya, saya masih dalam status pelajar aktif).
Makasih yang udah baca sampai sini, apalagi yang rela review, fav, follow:3 duh cinta kalian deh!~
Masih penasaran sama cerita ini? Berikan suara kalian sebanyak mungkin! XD Jangan sungkan sama kimmi~
P.S: DUH SAYA JADI MINYOON HARD SHIPPER NIH GIMANA DONG HELP TAT
Regards,
-Kimmidiot-
