Summary: Jaejoong dan Yunho sebelumnya tidak saling mengenal. Permasalahan diantara orang tua mereka membuat Yunho harus membenci Jaejoong. Tapi sikap Jaejoong membuat Yunho mulai ragu. Haruskah ia membenci Jaejoong dan menutup hatinya agar tidak tertarik pada anak dari appa tirinya?

The Untitled Story

©Kitahara Saki, 7ec4df8e

Remake from Abby Glines Story

Jung Yunho, Kim Jaejoong © their self

Marga disesuaikan untuk kepentingan cerita

Chapter 2

Aku menghapus air mataku dan memaksakan diri untuk mengambil nafas dalam. Aku tidak boleh menyerah sekarang. Aku tidak menyerah ketika aku duduk memegang tangan eommaku saat dia menghembuskan nafas terakhirnya. Aku tidak menyerah saat mereka melakukan kremasi padanya. Dan aku tidak menyerah ketika aku menjual satu-satunya rumahku. Aku tidak akan menyerah sekarang. Aku bisa melaluinya.

Aku tidak punya cukup uang untuk menyewa kamar hotel tapi aku punya trukku. Aku bisa tinggal di trukku. Mencari tempat aman untuk memarkirnya di malam hari mungkin akan menjadi satu-satunya masalahku. Gyongju kelihatannya cukup aman tapi aku sangat yakin jika truk tua ini di parkir disembarang tempat akan menarik perhatian. Aku akan melihat polisi mengetuk jendelaku bahkan sebelum aku akan menggunakan dua puluh ribu won terakhirku untuk mengisi bensin. Kemudian aku bisa mengemudikan trukku ke pusat kota dimana trukku tidak akan ketahuan di tempat parkir.

Mungkin aku bisa memarkirnya di belakang restoran dan mendapat kerja juga di sana. Aku tidak perlu bensin untuk pulang pergi ke tempat kerja. Perut keronconganku mengingatkanku kalau aku belum makan sejak pagi tadi. Aku akan menghabiskan beberapa ribu won untuk makan. Dan berdoa semoga aku akan mendapatkan kerja esok hari.

Aku akan baik baik saja. Aku memutar kepalaku untuk memeriksa di belakangku sebelum aku menghidupkan mesin truk dan mundur. Sepasang mata musang menatapku.

Sebuah teriakan kecil lolos dariku sebelum aku tahu kalau itu adalah Yunho.

Apa yang dia lakukan berdiri di luar trukku?

Apakah dia meyakinkan dirinya kalau aku telah meninggalkan rumahnya?

Aku benar-benar tidak mau berbicara lagi dengannya.

Aku mengalihkan tatapanku untuk keluar dari tempat ini sebelum dia mengangkat alis matanya padaku.

Apa maksudnya?

Kau tahu apa?

Aku benar-benar tidak peduli.

Meskipun dia terlihat sangat seksi saat melakukannya.

Aku mulai menghidupkan truk tapi tiba-tiba mesin meraung, aku mendengar bunyi klik dan senyap.

Ani, jebal jangan sekarang tuhan. Jangan sekarang. Tolong jangan sekarang.

Aku menggoncangkan kunci dan berdoa kalau aku salah. Aku tahu alat pengukur bensinku rusak tapi aku melihat alat pengukur jarak. Aku seharusnya tidak kehabisan masih punya beberapa mil lagi. Aku tahu aku bisa.

Aku menghantamkan telapak tanganku pada setir dan memanggil truk dengan beberapa pilihan nama tapi tidak terjadi apa-apa. Aku terjebak. Apakah Yunho akan menelpon polisi? Dia ingin aku keluar dari rumahnya jadi dia keluar untuk memastikan aku sudah aku tidak bisa pergi apakah dia akan membuatku ditangkap? Atau yang lebih buruk, memanggil mobil derek. Aku tidak punya uang untuk mendapatkan kembali trukku jika dia melakukannya. Paling tidak di penjara aku dapat makan dan tempat tidur.

Menelan gumpalanyang tersangkut ditenggorokanku aku membuka pintu truk dan berharap yang terbaik.

"Ada masalah?" tanya Yunho.

Aku ingin berteriak histeris dalam frustasi. Namun, aku memutuskan untuk mengangguk.

"Aku kehabisan bensin."

Yunho mendesah.

Aku tidak berbicara.

Aku memutuskan untuk menunggu keputusan yang menjadi pilihan terbaik di sini. Aku bisa saja memohon dan membela diri setelahnya.

"Berapa usiamu?"

"Nde?"

Apa? Apakah dia benar-benar bertanya usiaku? Aku terjebak di jalan masuk rumahnya, dia ingin aku pergi dan sekarang dia lebih suka membicarakan usiaku daripada pilihanku. Dasar namja aneh!

"Ah, Sembilan belas," jawabku.

Yunho mengangkat alisnya, "Benarkah?"

Aku mencoba keras tidak marah. Aku memerlukan kemurahan hati namja ini untukku. Menekan komentar sinis di ujung lidahku, aku tersenyum.

"Ya. Benar."

Yunho menyeringai dan mengangkat bahu."Mian. Kau terlihat lebih muda." Dia berhenti dan matanya menelusuri tubuhku dan kembali keatas dengan perlahan. Rasa panas tiba-tiba merayapi pipiku dengan memalukan, membuat rona merah dipipiku semakin mengembang.

"Aku tarik lagi kata-kataku. Tubuhmu sedikit seperti berusia sembilan belas tahun. Wajahmu kelihatan begitu segar dan muda. Kau tidak memakai make-up?"

Pertanyaan macam apa itu?

Apa yang dia lakukan?

Aku ingin tahu dengan segera seperti apa nasibku kedepannya, bukan membicarakan tentang kenyataan bahwa memakai make-up adalah hal mewah yang tidak bisa itu, Hyunjoong, mantan pacarku dan teman terdekatku, selalu bilang aku tidak butuh make-up untuk terlihat cantik. Apapun maksudnya itu.

"Aku kehabisan bensin. Aku hanya punya dua puluh ribu won. Appaku kabur dan meninggalkanku setelah mengatakan dia akan membantuku untuk bertahan hidup. Percayalah padaku, dia adalah orang TERAKHIR yang ingin kumintai tolong. Tidak,aku tidak pakai make-up. Aku punya masalah yang lebih besar daripada terlihat cantik. Sekarang, apakah kau akan menelpon polisi atau mobil derek? Aku lebih menyukai polisi dalam masalah ini jika aku boleh memilih," aku menutup mulutku untuk menyudahi kata-kata kasarku. Dia telah mendorongku terlalu jauh dan aku tidak bisa mengontrol mulutku. Sekarang, aku dengan bodohnya memberi dia ide bodoh tentang mobil derek. Brengsek!

Yunho mengangkat kepalanya dan mengamatiku. Kesunyian lebih dari yang bisa kuatasi. Aku hanya membagi sedikit informasi pada namja ini. Dia bisa saja membuat hidupku lebih sulit jika dia menginginkannya.

"Aku tidak suka Appamu dan dari nada bicaramu, begitu pula kau," katanya penuh pertimbangan."Ada satu kamar kosong malam ini. Kosong hingga Eommaku pulang dari liburannya. Aku tidak menyuruh asisten rumah tangga untuk tinggal di sini sementara dia berlibur. Bibi Hwang hanya datang untuk bersih-bersih seminggu sekali saat Eommaku berlibur. Kau bisa menempati kamarnya yang ada di bawah tangga. Kamarnya kecil tapi ada ranjangnya."

Dia menawariku kamar. Aku tidak akan menangis. Aku bisa melakukannya larut malam nanti. Aku tidak jadi dipenjara. Terima kasih Tuhan.

"Satu-satunya pilihanku adalah truk ini. Aku bisa menjamin apa yang kau tawarkan jauh lebih baik. Gomapta."

Yunho mengerutkan dahi beberapa saat, kemudian segera hilang dan ada senyum tipis di wajahnya. "Di mana kopermu?" tanyanya.

Aku menutup pintu truk dan berjalan ke belakang truk untuk mengeluarkannya. Sebelum aku bisa mengambilnya, sesosok tubuh hangat dengan aroma asing dan lezat meraihnya duluan. Aku membeku saat Yunho meraih koperku dan menariknya keluar.

Berbalik aku berhadapan dengan mata musangnya. Dia berkedip padaku. "Aku bisa membawakan tasmu. Aku bukanlah seorang bajingan."

"Gomawo, sekali lagi," aku tergagap, tidak bisa jauh dari tatapannya. Matanya begitu mengagumkan. Bulu mata hitam tebal yang membingkai hampir terlihat seperti garis mata. Dia memiliki semua yang hal alami di sekeliling matanya. Itu sangat tidak adil. Meski semua orang yang mengenalku selalu bilang doe eyes milikku selalu membuat mereka terpesona, tapi mata musang itu membuatku iri.

"Ah,bagus, kau menghentikannya. Aku memberimu lima menit dan kemudian keluar untuk memastikan kau tidak kehilangannya."

Suara akrab Changmin mengagetkanku dari kebingunganku dan aku berbalik untuk berterima kasih atas interupsinya. Aku telah menatap Yunho seperti orang bodoh. Aku terkejut dia tidak melemparku dengan tas lagi.

"Dia akan memakai kamar Bibi Hwang sampai aku bisa menghubungi Appanya dan mencari tahu sesuatu." Yunho seolah terganggu. Dia berjalan ke sampingku dan memberikan kopernya pada Changmin." Ini, tolong antarkan dia ke kamarnya. Aku harus kembali."

Yunho berjalan tanpa menatap ke belakang. Diperlukan seluruh tekadku untuk tidak melihatnya pergi. Terutama sejak melihat belakang jeansnya yang sangat menggoda. Dia bukanlah orang yang harus kusukai.

"Dia adalah seorang yang pemurung," kata Changmin, menggelengkan kepalanya dan menatap padaku. Aku setuju dengannya.

"Kau tidak perlu membawa koperku masuk lagi," aku berkata sambil meraih koper.

Changmin menjauhkannya dari jangkauanku. "Aku bersikap seperti Oppa yang tidak akan membiarkanmu membawa koper ini saat aku dua kali lebih kuat darimu untuk membawanya."

Aku ingin tersenyum jika saja satu kata yang baru saja membuatku kaget. "Oppa?" aku mengulangi.

Changmin tersenyum tapi senyum itu tidak mencapai matanya. "Kupikir aku lupa bilang kalau aku anak dari suami Heechul yang ke dua. Dia menikah dengan appaku saat aku berusia tiga tahun dan Yunho empat tahun, mereka menikah hingga aku berusia lima belas. Sejak saat itu Yunho dan aku bersaudara. Hanya karena appaku bercerai dari eommanya tidak mengubah apa pun antara kami. Kami pergi sekolah bersama dan bergabung di perkumpulan yang sama."

Oh. Oke. Aku tidak menduganya. "Berapa banyak suami yang dimiliki Heechul?"

Changmin tertawa pendek kemudian berjalan menuju pintu. "Appamu suami nomor empat."

Appaku adalah orang bodoh. Yeoja seperti dia kelihatannya mudah berganti suami seperti dia berganti celana dalam. Berapa lama dia melupakan para namja itu dan membuka hati lagi?

Changmin berjalan di belakang dan tidak berkata apa-apa padaku saat kami menuju dapur. Dapur itu besar dengan meja batu pualam hitam dan peralatan rumah tangga yang banyak. Mengingatkanku pada sesuatu dari majalah dekorasi rumah. Kemudian dia membuka pintu yang terlihat seperti jalan lebar di pantry. Bingung, aku melihat sekelilingku kemudian mengikutinya masuk ke dalam. Dia berjalan ke belakang ruangan itu dan membuka pintu lain.

Dia punya cukup ruang untuk masuk dan meletakkan koperku di ranjang. Aku mengikutinya dan berputar di sekitar ranjang ukuran kecil yang hanya meninggalkan jarak beberapa inci antara ranjang dan pintu. Aku benar-benar ada di bawah tangga. Sebuah meja kecil ada diantara ranjang dan itu, tidak ada apa-apa lagi.

"Aku tidak tahu di mana kau akan menyimpan kopermu. Kamar ini kecil. Aku sebenarnya tidak pernah kesini." Changmin menggelengkan kepalanya dan kemudian mendesah.

"Dengar, jika kau ingin tinggal di apartemenku kau bisa. Paling tidak aku akan memberimu kamar yang bisa membuatmu bergerak di dalamnya."

Ucapan Changmin yang manis membuatku tidak ingin menolak tidak membutuhkan tamu tak diundang untuk menempati salah satu tidak disini aku bisa menyembunyikan diri jadi tidak ada seorang pun yang akan bisa membersihkan sekitar rumah dan mendapatkan kerja di suatu tempat. Mungkin Yunho akan membiarkanku tidur di kamar kecil yang tak terpakai ini sampai aku punya cukup uang untuk tidak merasa seolah aku terpukau ada akan mencari toko bahan makanan besok dan memakai dua puluh ribu wonku untuk membeli makanan. Selai kacang dan roti akan menjadi makananku selama seminggu atau lebih.

"Di sini sempurna. Aku akan baik-baik saja itu,Yunho akan menelpon Appaku besok dan mencari tahu kapan dia akan kembali. Mungkin Appaku sudah punya tidak sekali lagi gomapta, aku sangat menghargai tawaranmu."

Changmin melihat sekeliling kamar sekali lagi dan tidak senang pada kamar ini tapi aku menyukainya. Dia sangat perhatian.

"Aku tidak suka meninggalkanmu salah." Dia menatapku sekarang dengan suara memohon.

"Ini hebat. Lebih baik daripada trukku."

Changmin mengerutkan dahi,"Truk? Kau berencana tidur di truk?"

"Ya, Kamar ini,bagaimana pun juga,memberikan aku sedikit waktu untuk mencari tahu apa yang akan kulakukan selanjutnya."

Changmin menjalankan tangannya ke rambutnya. "Maukah kau berjanji sesuatu?" tanyanya.

Aku bukan orang yang suka aku tahu dari janji adalah mereka mudah mengangkat bahu. Hal terbaik yang bisa kulakukan.

"Jika Yunho menyuruhmu pergi, telpon aku."

Aku akan menyetujui dan tahu jika aku tidak punya nomor telponnya.

"Dimana ponselmu jadi aku bisa memasukkan nomorku?" tanyanya.

Hal ini akan membuatku terdengar makin menyedihkan. "Aku tidak punya."

Changmin menganga padaku," Kau tidak punya ponsel? Tak heran kau punya senjata."

Changmin meraih ke sakunya dan mengeluarkan sesuatu yang mirip kuitansi."Kau punya pulpen?"

Aku mengeluarkan pulpen dari dompetku dan memberikannya padanya.

Dia dengan cepat menuliskan nomornya dan memberikan kertas dan pulpen padaku. "Telpon aku. Aku serius."

Aku tidak akan pernah menelponnya tapi dia baik sekali dengan tawarannya. Aku mengangguk. Aku tidak menjanjikan apa-apa.

"Kuharap kau tidur nyenyak disini Jae." Dia melihat sekeliling kamar kecil itu dengan rasa khawatir di matanya. Aku akan tidur dengan nyenyak.

"Tentu," aku menyakinkan dia.

Dia mengangguk dan keluar dari kamar menutup pintu dibelakangnya. Aku menunggu hingga aku mendengar dia menutup pintu pantry sebelum aku duduk di ranjang di samping koperku. Ini akan baik-baik saja. Aku bisa menjalaninya.

.

.

.

To Be Continue

Teruntuk Mrs Kim,

Saki buat surat cinta ini buat kamu ya be?

Seingetku dulu km udah pernah komen yg isinya mungkin hampir sama dg yg km tulis skrg, Saki pos FF ini disini bukan krn blog Saki sepi ya? toh perhari nya rata2 yg ngunjungi blog Saki ada 300an pengunjung. Jadi ngapain Saki nulis disini buat narik pengunjung?

selama ini Saki juga gak pernah tuh ngemis buat dikasih review, kalo emang mau review, Saki makasih banget, kalo gak, ya gpp.

Oh ya beb, lain kali pake akun resmi ya?

Love you mrs. kim