Disclaimer: Always belong to Masashi Kishimoto
Character: Karin Uzumaki, Suigetsu Hōzuki
Canon
Saya harap karakter di sini sudah IC.
Btw, fanfic ini hanya 5 bab saja.
Maaf jika ada kekeliruan tentang tetek bengek dunia shinobi *nyengir*.
Update rutin perbulannya saya batalkan (karena laptop mau dibawa adek). Saya usahakan selesai sebelum bulan puasa :D
Selamat membaca dan semoga terhibur ^^
2
"Aku hanya ingin penjelasan, tapi kau bahkan tidak mau memberiku kesempatan."
Suigetsu menggerutu dengan tangan dilipat di dadanya. Minta penjelasan, katanya? Cih!
Saat ini kami tengah duduk di sofa yang tersedia dalam kamar ini. Aku sudah memakai bajuku kembali, meskipun dengan perasaan tidak enak mengingat bahwa aku mengenakan baju yang sama sejak kemarin. Suigetsu mengatakan bahwa kami masih di Konoha.
"Hei, seharusnya aku yang bertanya, bodoh! Bagaimana aku bisa ada di sini? Bersamamu? Dengan keadaan ... err–seperti ini?" aku tidak berani mengungkapkannya secara eksplisit.
"Aku juga tidak tahu sebetulnya," jawabnya pelan. "Aku agak mabuk tadi malam."
"Apa?" mabuk, katanya? Aku tak percaya ini. "Jadi, bagaimana? Aku tidak sadar semalam, tahu!"
"Kita sama-sama mabuk semalam, tahu."
"Apa? Enak saja! Aku pingsan! Aku ingat sekali kesadaranku hilang waktu kau menahan badanku!"
"Kau mabuk berat, bukan pingsan, Karin."
"Tidak mungkin! Bahkan aku belum pernah merasakan sake setetes pun!"
"Memangnya aku pernah!" Suigetsu mulai kelihatan kesal. "Aku ingat semalam kau berjalan sempoyongan sampai aku kesusahan membawamu."
Aku menegakkan dudukku sambil menunjuk-nunjuk wajah Suigetsu, "Kau membawaku ke mana? Ke kamar ini, kan? Ngaku saja kau sengaja melakukannya karena sebal padaku! Iya, kan?"
"Jangan sembarangan!" sembur Suigetsu. "Kubilang kita sama-sama mabuk semalam! Dan yang seharusnya kita pikirkan adalah siapa yang mencampurkan alkohol ke dalam makanan dan minuman kita sampai kita jadi begini!"
Aku tercenung. Sial, Suigetsu benar. Namun aku sendiri masih bingung apa tepatnya yang membuatku ma–ugh, aku masih belum mau mengakuinya–hilang kesadaran. Antara kue pemberian Naruto dan kue-kue lain yang ada di atas meja itu. Kemudian aku segera tersadar.
"Apa kau diberi kue oleh Naruto?" tanyaku.
"Tidak," jawabnya.
Yeah! Tak salah lagi! Kue-kue di atas meja itu yang membuatku mabuk! Tapi, siapa yang mencampurkan alkohol ke dalam kue-kue itu? Bukankah akan sangat berisiko jika sewaktu-waktu orang lain memakannya? Akh, apa yang kupikirkan? Mungkin saja sebetulnya kue-kue itu memang bukan ditujukan untukku, tapi untuk orang lain dan aku tidak sengaja memakannya.
"Apa kau memakan salah satu kue yang ada di atas meja itu?" tanyaku lagi. Memastikan bahwa hipotesaku tidak salah.
"Tidak."
"Apa kau tidak makan apapun di pesta semalam?" tanyaku dengan jengkel.
"Tidak."
"LALU, BAGAIMANA KAU BISA MABUK, BODOH? KAU JANGAN MENCOBA MENIPUKU! MENGAKU SAJA, KAU MEMANG MEMPERKOSAKU SEMALAM! IYA, KAN? KATAKAN YANG SEBENARNYA!"
Aku bisa merasakan tempat di sekitarku bergetar. Apa ini karena chakra-ku? Atau suaraku yang terlalu keras? Suigetsu meringkuk di depanku dengan kedua tangan melindungi kepalanya, tubuhnya sedikit meleleh–yah, dia selalu melakukannya. Aku bisa menebak wajahnya pasti sangat ketakutan. Aku yakin pasti dia hanya berdalih saja kalau dia mabuk, padahal jelas-jelas dia memang punya dendam kesumat terhadapku. Kau memang bajingan, Suigetsu!
"Mulai detik ini, kau tidak akan bisa hidup tenang, Suigetsu!" aku mendesis berbahaya. Suigetsu masih bertahan di posisinya.
"A-aku tidak bohong, Karin. Sumpah!" Cih, masih tetap mengelak rupanya kau, Suigetsu. "Aku masih sadar sampai saat aku membawamu di koridor hotel dan setelahnya kepalaku sudah pusing! Aku tidak berbohong!"
"Mengelak lagi, kubunuh kau saat ini juga, Suigetsu!"
"Tidak! Kau harus percaya padaku! Aku bisa buktikan!"
"DIAM!" bersamaan dengan itu aku mulai menduduki badannya dan menghujaninya dengan pukulan-pukulan sadis. Suigetsu meraung kesakitan, tapi aku tetap tak peduli. Lelehan tubuh Suigetsu berceceran di sekitar kami karena aku terus memukulinya dengan ganas. Rasakan itu, Gigi Hiu brengsek! Suigetsu mengeluarkan suara-suara tidak jelas. Nampaknya dia masih berusaha mengelak setelah semua bukti terungkap.
"Kubilang diam!"
Bersamaan dengan itu, aku meninju mulutnya yang tidak mau diam. Itu juga untuk kelancanganmu karena telah berani menggerayangi tubuhku dengan bibir sialanmu, Suigetsu! Kenapa dia tidak mengaku saja sih? Aku benar-benar muak dengan orang ini, bahkan sejak pertama kali bertemu dengannya.
Suara ketukan pintu menghentikan serangan-seranganku. Aku langsung memberikan pandangan mematikan ketika Suigetsu berusaha melepaskan diri. Mau kabur rupanya? Cih, enak saja. Aku mengancamnya untuk tak bergerak sedikitpun melalui mataku. Aku menghampiri pintu, lalu membukanya dan tubuh besar Juugo muncul, hampir memenuhi lebar lubang pintu. Juugo nampak keheranan melihat kami berdua.
"Loh, Karin?" katanya bingung. "Ada apa ini? Kenapa kalian tampak habis berkelahi?"
"Katakan apa maumu, dan cepat pergi," kataku dingin dengan napas terengah-engah. "Aku harus menyelesaikan sesuatu dengan Si Bodoh ini."
Juugo nampak penasaran. Matanya berulangkali melihatku, lalu Suigetsu yang berwajah tegang. Kemudian matanya melirik ke belakangku, sepertinya ke arah ranjang hotel. Ranjang itu kini tidak beraturan; bantal di mana-mana, sedangkan sprei kuning itu sengaja aku bundel supaya noda menyebalkan itu tidak kelihatan.
"Apa? Cepat! Jangan lirik sana, lirik sini!" tukasku bertambah ketus.
Juugo kembali fokus menatapku, dia berkata, "Orochimaru-sama memanggil kalian. Kita akan pulang satu jam lagi, jadi sebaiknya kalian sarapan dulu. Aku pikir di kamar ini hanya ada Suigetsu, ternyata ..."
Urat di dahiku berdenyut lagi.
"Apa kalian menghabiskan malam bersama?" pertanyaan Juugo membuat urat dahiku hampir pecah. Argh, bagian terburuk adalah jika semua orang tahu apa yang kami lakukan semalam!
"Diam! Jika urusanmu telah selesai, pergi sana!" dan aku menutup pintu di depan wajahnya dengan sangat keras. Aku berpaling ke Suigetsu lagi. Aku menghampirinya dengan langkah pelan penuh tekanan. Suigetsu kini nampak sedikit lebih tenang. Nampaknya ia sudah menyiapkan ancang-ancang untuk memberi penjelasan.
"Karin, kau bisa membawaku ke kantor interogator Konoha. Aku bisa buktikan kalau aku tidak bohong. Aku tidak memper–akh, pokoknya aku tidak melakukannya!"
"Aku tidak peduli! Bagiku kau tetap brengsek, Suigetsu! Aku membencimu! Aku tidak akan melepaskanmu! Lihat saja nanti saat kita sudah sampai markas!"
Kemudian aku meninggalkannya sendiri untuk sarapan. Memukulinya ternyata menguras tenaga juga. Aku tidak tahu dengan kemarahanku ini apakah aku masih bisa sarapan atau tidak. Tapi, jujur saja, aku sangat lapar. Biasanya aku rela melewatkan sarapan agar bisa berduaan dengan Sasuke, tapi–akh, kenapa aku jadi memikirkan dia lagi? Dia sudah jadi milik orang lain! Aku tiba-tiba merasakan chakra Sasuke yang sekarang sudah berubah menjadi lebih hangat. Ugh, bahkan chakra-nya jadi lebih menggiurkan dibanding dulu! Tunggu dulu, apa dia ada di dekat sini?
"Karin, kau agak terlambat," perkataan Tuan Orochimaru menyapaku ketika aku sampai di restoran. "Di mana Suigetsu?"
Ugh, kenapa harus menyebutnya sih? "Dia akan menyusul nanti."
Kemudian aku benar-benar bisa melahap sarapanku sebanyak tiga suap sampai kedatangan Suigetsu kembali membuatku muak. Meskipun aku merasakan chakra Sasuke semakin mendekat, tetapi tetap saja ...
"Suigetsu, kau sangat terlambat," kalimat yang hampir sama dilontarkan Tuan Orochimaru. Ya ampun, apakah terlambat sarapan itu sesuatu yang melanggar norma?
"Maaf, aku ada sedikit urusan tadi," jawabnya. Aku mendadak ingin muntah. Tak lama kemudian sarapan kami selesai. Meskipun hanya aku dan Suigetsu yang tidak menghabiskan sarapan kami. Cih, apa dia merasa bersalah?
"Wah, ada apa ini? Kalian kompak sekali tidak menghabiskan sarapan. Apakah momen semalam membuat kalian jadi sehati-sehidup-semati? Hahaha!" sungguh lelucon Kabuto sangat garing! Apalagi dengan wajah penuh sisik beserta tanduknya itu, ketika dia tertawa benar-benar sangat menjijikan. Argh, jangan-jangan Juugo menceritakan tentang kami kepada Tuan Orochimaru dan Kabuto. Juugo, sialan!
"Aku sedang diet," jawabku acuh tak acuh. Anehnya Suigetsu tidak ikut menjawab, padahal biasanya dia selalu mengomentari apapun. Huh, kenapa aku jadi memerhatikannya sih?
Chakra Sasuke semakin mendekat ke sini. Apa dia benar-benar datang? Asyiikk! "Orochimaru-sama, apa Sasuke akan datang? Aku merasakan chakra-nya," kataku.
"Ya, katanya dia akan mengantar kita sampai ke gerbang Konoha," jawabnya.
"Ah, sōka."
Sasuke datang~ Sasuke datang~ Sa~suke datang~
Aku bersenandung senang dalam hati. Siapa peduli dengan istrinya. Aku bisa kok jadi penggemar rahasianya. Tidak melanggar hukum, kan? Huhuhu~
Aku selalu menyukai gaya berjalannya. Wajah tampan dan tenangnya, lalu matanya yang menurutku semakin seksi ketika Sharingan-nya aktif–oh, dan sekarang dia juga punya Rinnegan–kyaaa! Aku suka suaranya, rambutnya, tubuhnya–akh, aku suka semuanya! Usianya yang semakin matang membuatnya terlihat lebih tampan. Terlebih chakra-nya yang sekarang. Kami-sama, adakah Sasuke lain di dunia ini yang bisa kujadikan suami?
"Karin, kenapa ekspresimu begitu? Wajahmu merah. Apa kau sakit?" tanya Juugo yang membuatku sedikit terkejut. Aduh, aku hampir ketahuan lagi.
"A-aku tidak apa-apa," aku berlagak cuek. Entah mengapa aku tidak pernah mau mengaku pada orang-orang kalau aku menyukai Sasuke.
"Sekali lagi, aku berterimakasih atas kedatangan kalian," kata Sasuke dengan suara seksinya. Ia berdiri di sisi lain meja, sementara kami belum ada yang bangun dari duduk. Ah, lihatah, dia tetap terlihat hot meski rambut mencuatnya sudah turun. Kalau begini terus, aku bisa gila karena dia!
"Tak perlu dipikirkan," ujar Tuan Orochimaru, lalu ia berdiri diikuti aku dan yang lain. "Selain itu, aku juga ingin sedikit memperbaiki hubunganku dengan Konoha. Acara tadi malam menurutku sangat membantu."
"Bisa kita pergi sekarang?" tawar Sasuke. Tuan Orochimaru segera menyetujui dan kami berjalan bersama menuju gerbang desa Konohagakure. Aku menahan diriku agar tidak terlalu dekat dengan Sasuke. Yah, bagaimanapun, dia sudah punya istri, aku tidak boleh mendekatinya sesuka hatiku seperti dulu.
"Kau tahu, Sasuke-kun," Kabuto bicara setelah setengah perjalanan. "Ada sesuatu di antara Suigetsu dan Karin. Juugo mendapati mereka tidur di kamar yang sama. Wah, ternyata tidak hanya kau dan Sakura-san saja yang menjalani malam pertama. Hahaha!"
Sial, kenapa Kabuto selalu membuat lelucon tentang itu sih? Membuatku benar-benar ingin muntah. Lagipula kapan Juugo melihat kami tidur? Huh, kami, kan sedang bertengkar tadi. Aku sedikit merasa menang karena Sasuke tidak menanggapinya secara antusias. Kemudian aku tidak sengaja melirik Suigetsu. Dia tampak biasa saja seperti biasanya. Tetapi aneh sekali, dia tetap tak berkomentar apapun, meskipun dua kali dirinya dijadikan bahan lelucon.
"Apa kalian sekarang menjalin hubungan?" pertanyaan Sasuke sontak mengejutkanku. Tak berbeda dengan Suigetsu.
"A-aku ti-tidak–"
"Apa kau menghidangkan sesuatu yang mengandung alkohol di pesta pernikahanmu semalam, Sasuke?" pertanyaan Suigetsu tak kalah mengejutkanku. Tidak, ini jauh lebih mengejutkan. Apa-apaan dia?
"Hei, Su–"
"Seingatku tidak," jawab Sasuke. "Lagipula aku tidak mengurus soal makanan. Sakura yang mengurusnya."
"Hah, benar juga. Kalau Sasuke-kun yang mengurusinya, pasti hanya akan ada makanan berbahan dasar tomat saja. Hahaha!" Kabuto menyambung dengan lelucon lagi. Kali ini tidak segaring tadi, meskipun aku tidak tertawa.
"Ya. Dan tidak akan ada cupcake-cupcake manis itu," Tuan Orochimaru ikut menyambung.
"Jadi, istrimu yang sengaja menyiapkan kue-kue beralkohol itu." Aku semakin khawatir. Mengutuk perkataan-perkataan Suigetsu, tetapi ditunjang penasaran yang tinggi, jadi aku hanya diam dan terus mendengarkan.
"Memang apa yang terjadi sebenarnya?" tanya Sasuke menjadi penasaran.
"Karin memakan kue-kue itu dan dia jadi mabuk berat semalam," jawab Suigetsu. "Dan meskipun aku tidak memakan kue itu sama sekali, tetapi saat aku membersihkan kekacauan itu dengan menyedot kembali air yang tergenang, termasuk air yang menyerap ke dalam kue-kue itu, alkohol itu sepertinya ikut terserap ke tubuhku sehingga aku jadi ikut mabuk."
Aku nyaris menganga. Ja-jadi, itu ...
Suigetsu tidak bohong.
"Aku tidak tahu kue-kue beralkohol itu ditujukan untuk siapa, tetapi karenanya ... aku dan Karin melakukan sesuatu yang tidak benar," kata Suigetsu sambil menghentikan langkahnya. Matanya menatap Sasuke; nampak memancarkan kemurkaan.
Kenapa aku tidak berpikir tentang Suigetsu sama sekali? Bodohnya aku! Suigetsu pasti juga merasa terpukul. Dengan kemarahan itu, aku tahu bahwa Suigetsu benar-benar membenciku. Dia bahkan tidak ingin terlibat kecelakaan seperti ini denganku–apalagi disengaja?
Kami-sama, saat ini dia pasti semakin membenciku.
"Suigetsu," ucap Sasuke, "aku sama sekali tidak mengetahui apa yang Sakura rencanakan, tetapi jika masalahnya sampai seperti ini, aku akan meminta Sakura untuk memohon maaf pada kalian dan menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi. Hanya itu yang bisa kulakukan."
"Baiklah, kau bisa, kan panggil istrimu ke sini?" kata Suigetsu dengan nada terdingin yang pernah kudengar. Sasuke segera melesat pergi menggunakan Shunshin no Jutsu-nya. Agak lama menunggu, aku melirik Suigetsu sedikit-sedikit. Aku benar-benar bersalah karena telah menuduhnya dengan kejam. Tak lama kemudian, Sasuke tiba bersama Sakura yang berekspresi kebingungan.
"Ada apa ini, Sasuke-kun? Kenapa aku dibawa ke sini?" tanya Sakura. Ia memakai celemek dan kain yang diikat di kepalanya, tangannya menggenggam kemoceng. Ya ampun, Sasuke langsung membawanya ke sini, sedangkan ia nampak sedang sibuk bersih-bersih rumah. "Ada rombongan Orochimaru-san juga. Ada apa sebenarnya?"
"Kau mengurus hidangan di pesta semalam, kan?" tanya Sasuke, Sakura mengangguk. "Jelaskan kepada mereka tentang kue-kue beralkohol itu."
"A-apa? Alkohol? Apa yang kau bicarakan, Sasuke-kun?" Sakura nampak tidak tahu apa-apa.
"Kau tidak tahu?" tanya Sasuke heran. "Bagaimana mungkin kau tidak tahu?"
"Aku tidak pernah memasukkan sesuatu yang aneh ke dalam hidangan semalam," jawab Sakura, dia nampak mengatakan yang sebenarnya. "Semua kue-kue itu aku yang buat–yah, dengan sedikit bantuan ibuku, Ino, dan Hinata. Dan mereka juga tidak mungkin melakukan sesuatu terhadap kue-kue itu. Aku memercayai mereka."
"Lalu, siapa pelaku sesungguhnya?" Kabuto berkata setelah hening beberapa lama.
"Memang apa yang terjadi?" tanya Sakura.
"Suigetsu dan Karin mengalami hal yang tidak diinginkan karena kue-kuemu," jawab Sasuke. Sakura membelalak terkejut.
"Sudahlah," Suigetsu bersuara tiba-tiba. Aneh sekali ia kini nampak santai, nada dan gaya bicara kembali lagi seperti biasanya–menyebalkan. "Kalau memang istrimu tidak tahu apa-apa. Aku bisa menyelidikinya sendiri. Tidak perlu minta maaf."
"Tidak bisa begitu!" seru Sakura. "Bagaimanapun aku tetap harus bertanggungjawab atas apa yang terjadi denganmu dan Karin karena kue-kueku. Aku benar-benar minta maaf, Suigetsu-san, Karin-san." Sakura membungkuk dalam, tampak penuh penyesalah. "Aku akan menyelidikinya sampai pelakunya tertangkap. Aku memang tidak tahu kekacauan apa yang kalian alami karena makananku, tetapi aku akan berusaha sekuat tenagaku. Kumohon, sekali lagi, maafkan aku."
"Yah, terserah kau saja," komentarnya.
Aku tidak tahu harus berkata apa. Apakah aku harus minta maaf atau apa? Aku tak tahu harus bagaimana. Sejenak aku sedikit merasa lega melihat Suigetsu kembali santai dengan cepat setelah beberapa jam yang lalu aku memarahinya dengan sangat tidak berperikemanusiaan, tetapi ketika kami melanjutkan perjalanan setelah melewati gerbang Konoha, aku menjadi tidak tenang lagi karena Suigetsu mendadak jadi pendiam. Kenapa lagi dia? Aku tidak mengerti dengan perubahan suasana hatinya.
Apa aku memang harus melakukannya?
Balasan review:
marciana: Hai ^^ Masa sweet sih? :D Alhamdulillah kalo feel-nya dan IC-nya dapet :) Terima kasih banyak, ya atas read dan review-nya ;)
SuiKa: Hai ^^ Ini udah update ;) Terima kasih banyak atas read dan review-nya ^^
