Disclaimer: Always belong to Masashi Kishimoto
Character: Karin Uzumaki, Suigetsu Hozuki
Canon
Saya harap karakter di sini sudah IC.
Maaf jika ada kekeliruan tentang tetek bengek dunia shinobi *nyengir*.
Hanya fiksi ringan yang berakhir dalam 5 bab.
Selamat membaca dan semoga terhibur ^^
3
Aku tengah duduk di bawah pohon, menikmati angin yang bertiup di sore hari. Ah, di luar memang selalu menyenangkan daripada di dalam tanah yang gelap, dingin, dan suram. Aku selalu heran, kenapa suasana di markas tidak pernah berubah meski Tuan Orochimaru sudah tidak jahat lagi. Apa Tuan Orochimaru tidak menyukai rumah di atas tanah? Tidakkah akan terasa lebih segar dan hangat daripada di dalam tanah yang sumpek? Di antara aku dan semuanya, memang Tuan Orochimaru yang paling aneh.
"Karin Sensei, ayo ajarkan aku ninjutsu medis! Kau, kan sudah janji!"
Aku menoleh pada sumber suara itu. Memutar bola mataku malas ketika lagi-lagi muridku yang satu itu meneriakkan kalimat yang sama sejak tadi. Huh, harusnya aku tidak usah memberinya janji palsu waktu itu. Kalau tahu begini, membuatku repot saja.
"Nanti saja, Taka! Aku sudah bilang, kan pengendalian chakra-mu masih kurang. Jadi, jangan memaksaku terus," kataku sedikit membohonginya. Sungguh, aku belum punya niat mengajarkan jutsu medis padanya.
"Sensei, bohong! Kemarin kau bilang kalau aku yang terbaik di antara kami bertiga! Aku memang masih kecil, tapi aku tidak sebodoh itu, ya!"
Ya ampun, menyusahkan sekali. Ah, omong-omong aku belum memberitahu siapa muridku, ya? Baiklah, namanya Taka (ah, mengingatkanku pada pada masa lalu). Dia berusia sepuluh tahun, lebih muda di antara kedua rekannya yang sama-sama aku bimbing, Anju dan Shinichi.
Pertama kali aku bertemu dengan Taka adalah ketika setahun yang lalu aku diperintahkan Tuan Orochimaru untuk mendampingi Kabuto menjelajahi hutan di Desa Bunga (desa kecil yang baru berdiri setelah perang berakhir) untuk mencari suatu tanaman obat yang sangat langka. Saat itu ketika sibuk menyusuri lahan hutan yang cukup lebat hingga membuat pinggangku sakit karena kelamaan membungkuk, aku mendengar seseorang menangis histeris diikuti suara raungan entah serigala atau beruang. Seketika itu juga aku dan Kabuto langsung meninggalkan pekerjaan kami dan mencari suara itu. Aku bisa merasakan chakra-nya yang tak beraturan semakin melemah, dan dari situ pula aku menyimpulkan bahwa dia bukanlah seorang shinobi. Akhirnya kami menemukannya terpojok di pinggir jurang sambil menangis ketakutan menatap beruang besar yang hendak memangsanya. Kabuto langsung melancarkan serangan pada beruang itu dengan pisau bedah chakra-nya hingga beruang itu tumbang. Setelahnya, Kabuto menyarankan untuk membawa anak itu bersama kami ke markas Tuan Orochimaru, meskipun pada awalnya aku kurang setuju. Anak itu ternyata yatim-piatu, ia telah bertahan hidup di hutan sendirian hampir satu tahun, tanpa uang dan tempat tinggal. Keadaan sebatang kara yang membuatku mengingat masa laluku dan jalan terbaik yang bisa dilakukan untuk menolongnya adalah membawanya bersamaku dan Kabuto. Kemudian ia menjadi muridku sampai sekarang.
Ah, kalau kalian ingin tahu juga, Tuan Orochimaru sudah tidak terlalu berambisi untuk mendapatkan tubuh-tubuh shinobi hebat untuk dijadikan sebagai wadah. Ia kini lebih suka menampung anak-anak terlantar dan yatim-piatu korban perang dua tahun yang lalu untuk diajarkan menjadi shinobi yang tangguh. Maka dari itu, beliau juga menjadikanku salah satu guru yang membimbing anak-anak itu. Soal tubuh pengganti, nampaknya ia masih menerima jika ada seseorang yang bersedia–tanpa paksaan–mengorbankan dirinya untuk menjadi wadah baru Tuan Orochimaru. Apabila sudah sampai batas waktu tubuhnya membusuk dan tidak ada seorang pun yang bersedia memberikan tubuhnya, maka saat itu pula Tuan Orochimaru menyerahkan dirinya pada takdir kematian. Ah, mengingat perkataan beliau tentang hal itu membuatku mendadak jadi tambah sayang padanya. Tunggu, apa aku baru saja bilang kalau aku menyayanginya? Ah, sudahlah, apapun itu, aku tidak pernah berniat meninggalkannya. Beliau menyelamatkanku dulu dan aku sudah bersumpah mendedikasikan hidupku untuk mengabdi padanya.
"Ssshh, berisik sekali," gumamku menggerutu. "Baiklah, tapi apa kau sudah bisa melempar shuriken dengan benar? Apa kau sudah mahir membuat bunshin, hm? Kalau kedua teknik itu saja kau masih payah, mana bisa kau menguasai ninjutsu medis."
Mata Taka mendadak berbinar-binar. "Benarkah, Sensei mau mengajariku? Tentu saja, aku sudah bisa melempar kunai dan shuriken tepat sasaran, dan bunshin no jutsu adalah keahlianku!" katanya berapi-api. "Mau kubuktikan?"
Anak itu mulai membuat segel tangan dan 'POOFF!'
"Lihat, kan?" katanya dengan menyunggingkan senyum bangga bersama bayangan yang telah terbentuk di sampingnya.
"Ya, ya, ya," kataku dengan malas-malasan. "Tapi sayangnya, aku sedang tidak ingin melatihmu, apalagi ini hari libur. Maaf, ya, lain kali saja." Kemudian aku berjalan pergi meninggalkannya.
Aku mulai mendengar Taka berteriak-teriak tidak terima. "Sensei, kau sudah janji! Kau bilang kalau aku sudah menguasai teknik tadi, kau mau mengajarkanku! Tidak adil!"
Aku terus menjauh tak memedulikannya. Maaf, ya, Taka kecilku, aku benar-benar sedang tidak dalam mood mengajar. Namun perkataan anak itu selanjutnya membuatku berhenti melangkah.
"Kalau boleh aku memilih, aku lebih suka Suigetsu Sensei yang menjadi guruku daripada kau, Karin Sensei! Kau tahu, aku pandai melakukan bunshin no jutsu karena belajar darinya!"
Aku tiba-tiba merasa marah. Jadi, Suigetsu yang mencuri muridku? Beberapa hari ini Taka sering menghilang saat latihan itu karena dia? Teme! Aku berbalik menghadap Taka dengan mata berkilat berbahaya.
"Kalau kau lebih senang diajar olehnya, pergi saja padanya! Belajar ninjutsu medis padanya sana!" setelah berkata begitu, aku kembali melanjutkan langkahku menuruni tangga menuju kamarku dengan langkah menghentak-hentak. Ugh, benar-benar menyebalkan! Dan lebih menyebalkan lagi bahwa aku bertemu sumber kekesalanku, Si Gigi Hiu, di perjalananku.
"Hei, Karin, kau tampak sedang kesal," katanya. "Ada apa?"
"Jangan sok memedulikanku!" jawabku ketus sekali. "Urus saja urusanmu sendiri! Dasar, pencuri!" aku meninggalkannya yang berekspresi kebingungan. Ya, pikir saja sendiri seumur hidupmu, brengsek!
Aku akhirnya berhasil menemukan kamarku setelah melewati lorong yang berkelok-kelok membingungkan. Jujur saja, meskipun sudah dua tahun lebih aku tinggal di sini, tetapi aku masih suka tersesat saat mencari kamarku sendiri. Ugh, maka dari itu aku selalu berusaha bicara pada Tuan Orochimaru untuk membuat rumah di atas tanah saja. Aku duduk di tepi ranjangku, memandangi pola dinding kamarku yang berwarna merah kecokelatan karena cahaya lilin. Aku tidak tahu apa yang ingin kupikirkan untuk mengisi keheninganku.
Bosan. Tapi aku sedang tidak ingin melakukan sesuatu yang menyusahkan. Kalau dulu, aku pasti selalu punya kegiatan, yang tidak menyusahkan, yang bisa kulakukan. Menonton Sasuke berlatih, misalnya. Akh, aku sadar bahwa saat-saat itu tak akan datang lagi. Bahkan untuk bertatap muka dengannya sekali lagi saja rasanya mustahil. Lalu, aku harus bagaimana?
"Hei, Karin," aku menoleh mendengarnya. Suigetsu. Mau apa dia ke sini?
"Apa?" kataku tidak seketus sebelumnya.
"Tadi kau mengataiku pencuri. Apa maksudnya itu?" kata-katanya seperti sedang melabrak orang, tetapi mendengar nada bicaranya tidak seperti itu.
"Aku tahu kau itu bodoh, jadi jangan pura-pura bodoh," aku mengatakannya sambil mendengus.
"Cih, makanya aku tanya padamu. Dasar, emosian," katanya malas.
Dia bilang apa tadi? Aku mengepalkan tanganku, berusaha menahan amarah. Aku berdiri, lalu berjalan mendekatinya, tapi tidak sampai tepat di depannya, hanya sekitar satu setengah meter. "Kau melatih muridku diam-diam di belakangku. Ya, kan?"
Loh, kok dia terkejut? "Diam-diam? Aku tidak begitu kok," jawabnya.
Apa-apaan dia? Aku hampir saja ingin melontarkan tuntutan-tuntutanku secara kejam lagi sebelum aku ingat insiden tak mengenakkan yang pernah kami alami sebelumnya. "Taka bilang padaku kalau dia lebih senang berlatih denganmu daripada denganku. Kenapa kau melakukan itu, hah? Kau, kan punya murid sendiri!"
Alis Suigetsu berkerut bingung. "Aku melakukannya karena dia memintaku."
"Ya, seharusnya kau menolaknya!"
"Awalnya aku juga ingin, tapi dia bilang dia sudah minta izin padamu. Jadi, aku tidak punya alasan untuk menolak."
"Dia tidak pernah minta izin padaku! Dia menghilang begitu saja saat kami latihan!"
"Berarti kau jangan sepenuhnya menyalahkanku, kalau begitu. Mungkin saja Taka memang merasa kurang puas dilatih olehmu."
Aku tertegun. Apa-apaan dia? Mengapa dia berkata seperti itu? Suigetsu berjalan pelan mendekatiku memasuki kamarku. Tatapan matanya berubah. Ada apa ini? Mengapa aku merasa aneh? Ini seperti ... déja vu.
"Kau pasti bosan sekali, ya, tinggal di sini," kata Suigetsu sambil matanya melihat-lihat ke sekeliling ruangan. Kenapa dia mengalihkan pembicaraan? "Aku yakin kau lebih suka tidur di hutan daripada di sini."
Aku baru ingat, ini sudah sebulan berlalu sejak aku mendapati diriku berada satu ranjang dengannya. Aku juga ingat, ini adalah pertama kalinya kami bicara berdua setelah kejadian itu. Dan aku baru ingat, sampai saat ini aku belum minta maaf padanya. Bukannya aku lupa, hanya saja–ah, aku tidak punya cukup keberanian untuk melakukannya. Aku memang payah.
Kini dia menatapku–terasa déja vu lagi, "Kalau aku pergi dari sini, kau mau ikut denganku?" aku tercengang dengan pertanyaannya. Bukan–bukan karena prospek bahwa meninggalkan markas bawah tanah yang pengap ini begitu menggiurkan, tetapi–Suigetsu mengajakku. Suigetsu mengajakku pergi bersamanya. Itu terdengar seperti ... Suigetsu ingin bersamaku ...
Sial, apa yang salah, sih, dengan otaknya? Bukannya dia membenciku setengah mati?
Aku memutuskan untuk keluar dari topik ini. "Aku minta kau berhenti melatih Taka karena dia muridku." Setelahnya aku pergi keluar dari ruang tidurku. Lebih tepatnya menjauh dari Si Gigi Hiu bodoh itu. Karena dia membuat pikiranku kacau.
Apa otaknya yang gesrek itu menular padaku?
Aku memutuskan mencari kamar mandi terjauh yang bisa kutemukan. Mengucilkan diri di sana sampai aku merasa lebih baik. Sampai jantungku tidak terasa ingin meledak lagi. Setelah melepas dan menaruh–nyaris membanting–kacamataku di tepi westafel, aku membasuh wajahku dengan air secara sadis. Aku tak peduli bahkan jika hidungku pindah ke jidat karena usapanku yang sangat tidak manusiawi.
Sudah sebulan sejak saat itu. Hubunganku dengan Suigetsu berubah–yah, itu yang kurasakan. Sebenarnya aku sudah bisa mengingat sedikit-sedikit kejadian malam itu (berkat ramuan yang kutemukan–dan kucuri–di lab milik Kabuto). Ingatan-ingatan itulah yang membuatku merasa aneh jika Suigetsu berada di dekatku. Aku merasa takut dan gugup di saat yang bersamaan. Dan segera saja aku mengingatnya; tatapan tadi–tatapan yang terasa déja vu itu adalah tatapannya malam itu.
Dan itu sama seperti beberapa menit yang lalu, di kamarku, saat Suigetsu mengajakku pergi bersamanya.
Desa Bunga itu ngarang banget loh XD
Balasan review:
shiori sophi: Terima kasih atas read dan review-nya ^^
