Disclaimer: Always belong to Masashi Kishimoto
Character: Karin Uzumaki, Suigetsu Hozuki
Canon
Saya harap karakter di sini sudah IC.
Maaf jika ada kekeliruan tentang tetek bengek dunia shinobi *nyengir*.
Selamat membaca dan semoga terhibur ^^
4
Sebuah kunai menancap di salah satu ranting pohon dan tiga yang lain menancap tepat di batang pohon yang dipasang papan sasaran. Kemudian aku mendengar suara laki-laki berteriak. "Hei, kenapa masih ada yang meleset? Ini sudah dua bulan sejak kau pertama kali berlatih!"
Laki-laki yang berteriak itu–ternyata Suigetsu–berjalan menghampiri murid perempuannya yang kuketahui bernama Saki. Ia berlutut di hadapan gadis kecil itu, sementara Saki nampak takut-takut memandang gurunya. Suigetsu menaruh telapak tangannya di pucuk kepala gadis itu.
"Katakan padaku apa kau tidak menyukai senjata-senjata itu?" tanyanya pelan. Aku tak menyangka Suigetsu bisa selembut ini pada anak kecil.
Saki mengangguk dengan takut. Tangannya meremas bajunya. Aku tidak begitu memerhatikan Saki saat dia pertama kali tiba di sini beberapa bulan yang lalu, jadi aku bertanya-tanya apakah dia begitu pemalu?
Suigetsu menghela napas, "Baiklah, lakukan apa yang kau sukai setelah ini, tapi kau harus bisa melempar senjata-senjata itu tepat sasaran. Ini adalah teknik dasar yang harus dikuasai shinobi, bahkan ninja medis pun wajib menguasainya. Kau mengerti, kan maksudku?"
Saki kelihatan takut untuk menjawab, tetapi akhirnya dia mulai memberanikan diri, "A-aku ... aku takut dengan benda itu ... Ayahku meninggal ka-karena menyelamatkanku dari benda itu ..."
Suigetsu tampak kelelahan. Mungkin dia lelah melatih anak itu. Sudah kuduga, dia itu memang tidak becus mengajar. Tapi, mengapa Taka malah senang berlatih dengannya? Suigetsu berkata, "Yah, aku tahu menghilangkan ketakutan terhadap sesuatu memang tidak mudah, tapi seorang shinobi tidak boleh membiarkan ketakutan itu menguasainya. Pikirkanlah, jika suatu hari nanti kau mempunyai seorang anak atau seorang murid, dan mereka berada dalam bahaya musuh, apa hanya karena ketakutanmu terhadap senjata lantas kau akan lari meninggalkan orang-orang yang menjadi tanggungjawabmu? Ah, kau mengerti maksudku, kan?"
Saki terdiam. Entah dia tidak mengerti ucapan Suigetsu yang menurutku terlalu berat untuk dicerna anak berusia sembilan tahun, atau dia tengah berusaha mencerna dan merenungi perkataan itu. Namun aku berani bertaruh, Saki tidak sebodoh itu untuk mengerti kata-kata Suigetsu.
"Jadi, aku harus berani ... seperti Ayahku?" kata Saki setelah beberapa lama.
"Yah, begitulah," Suigetsu menjawab dengan lega. Benar, kan dugaanku, dia memang guru yang tidak becus. Dia berharap Saki cepat tanggap terhadap apa yang dia bicarakan agar dia bisa cepat terbebas dari situasi menyusahkan seperti ini. Dan harapannya terkabul. Cih.
"Sensei!" aku terkejut dengan panggilan itu. Aku menoleh ke belakang dan tiga muridku menghampiriku dengan napas terengah-engah. "Kami mencarimu sedari tadi, tahu! Ternyata kau di sini."
Tunggu dulu, bukankah aku memang sedang mengajar? Lalu, kenapa aku ada di sini? Kenapa aku jadi bingung begini?
"Halo, anak-anak!" aku mendengar Suigetsu menyapa kami dari kejauhan. Kemudian ia menghampiri kami bersama Saki di belakangnya, sementara dua murid Suigetsu lainnya masih sibuk berlatih sendiri. "Kalian kok ada di sini?"
"Kami ke sini karena mencari Karin Sensei," jawab Shinichi. "Eh, ternyata dia ada di sini."
Suigetsu nampak heran sekarang, "Jadi, merah-merah tadi itu rambutmu? Aku kira apa. Kenapa kau di sini? Anak muridmu sampai mencarimu begitu. Guru macam apa kau?"
Huh, dia mulai menyebalkan lagi, "A-aku ..." ah, aku jadi bingung mau jawab apa. Aku sendiri saja tidak sadar kalau sejak tadi aku ada di sini.
"Apa kau mulai frustrasi lagi karena sesuatu, hm?" tanya Suigetsu. Aku tidak mengerti apa maksudnya. "Ah, iya. Sini kau, Taka!"
Taka menghampiri Suigetsu dengan raut bertanya-tanya. Apa yang mau dia lakukan terhadap muridku?
"Kau sudah jelaskan pada Sensei-mu ini?" tanya Suigetsu pada anak berambut coklat itu. Jelaskan apa?
Taka nampak terkejut dan ragu-ragu. Memang apa sih yang mereka bicarakan? Aku gurunya, tapi kenapa aku jadi tampak paling bodoh di sini? Taka melirik Suigetsu, lalu kepadaku, ia menelan ludah. Kemudian ia berjalan ke arahku perlahan, saat tiba di depanku ia menengadahkan kepalanya menatapku.
"Se-Sensei," katanya pelan.
"Ada apa?" dalam hati aku semakin penasaran. Taka kembali menoleh ke belakang, menatap Suigetsu yang dibalas anggukan olehnya.
Taka berpaling lagi kepadaku dan berkata, "Ma-maafkan aku, Sensei." Ah, sekarang aku mengerti. "Aku ... aku berbohong padamu dan Suigetsu Sensei juga. Aku minta maaf."
Aku menatap Suigetsu sejenak. Ia balik menatapku dengan pandangan seolah berkata 'maafkanlah dia'. Ah, sudahlah, aku pusing. Sepertinya aku memang harus mengampuninya. Taka juga kelihatan menyesal sekali. Permintaan maafnya tulus, meskipun diselubungi ketakutan bahwa aku akan menghukumnya.
"Ya, aku memaafkanmu," tepat setelahnya, Taka memandangku dengan senyum senang di wajahnya. "Jangan ulangi lagi. Kalau kau memang tidak puas dan menginginkan guru lain, bilang saja padaku. Tidak usah menusukku dari belakang segala, itu menyakitkan, tahu."
"Iya, aku janji! Terima kasih, Sensei!" katanya senang. "Lagipula, menurutku kau adalah guru terbaik yang kumiliki."
"Cih, anak ini," gumamku meremehkan, tetapi aku merasakan wajahku memanas. Dalam hati aku merasa sangat lega dan ... damai. Murid-muridku ternyata menyayangiku dan Suigetsu ... dia tidak seburuk yang kubayangkan.
"Baiklah, baiklah," suara Suigetsu bergema di dalam hutan. Suaranya pula menghentikan latihan kedua muridnya di kejauhan sana. "Kemari, kalian berdua!" kedua anak itu berlari menghampiri gurunya. "Sepertinya sekarang sudah waktunya makan siang. Bagaimana kalau kita makan bersama?"
"Wah, ide bagus! Aku juga sudah lapar, Sensei," kata salah satu murid Suigetsu yang berbadan gemuk.
"Apa kita akan ke pusat kota? Asyiikk!"
"Makan di restoran? Yes!"
"Ah, lagipula aku sudah bosan sekali dengan pemandangan di sini."
"Tidak," ucapan Suigetsu segera saja melenyapkan ekspektasi anak-anak. "Kita akan memasak di sini!"
"Nani?" kataku kaget. "Kau bercanda?"
"Loh, memangnya kenapa?" tanya Suigetsu keheranan. "Kita akan cari ikan di sungai, sayuran di hutan, dan memasak dengan api unggun! Bukankah menyenangkan?"
"Itu tidak menyenangkan sama sekali, tahu!" seruku galak. "Kau ini pelit sekali sih sampai kita harus cari makan di sini seperti gelandangan saja!"
Suigetsu langsung merengut, "Tapi simpananku sudah menipis. Aku, kan harus berhemat dengan panggilan misi yang makin hari makin berkurang saja."
"Ck, ya sudah, biar aku yang bayar. Beres, kan?" ucapanku sontak membuat semua orang memandangku seakan aku adalah Dewi Keberuntungan yang jatuh dari langit (catat. Jatuh, bukan turun). Termasuk Suigetsu. Cih, dia memang payah.
"Baiklah, karena sudah diputuskan kita akan makan di restoran di pusat kota!" ucap Suigetsu penuh semangat. Kami segera melesat keluar hutan dengan otakku memikirkan skenario-skenario brilian untuk membuat Suigetsu bangkrut. Hahaha! Enak saja, masa hanya aku yang tekor? Suigetsu, tunggu pembalasanku!
Kami sampai setelah satu setengah jam melewati hutan. Suasana ramai yang jarang sekali kami rasakan ketika di markas. Ah, rasanya seperti bertemu oase di padang pasir. Keramaian di sini membuatku ingat pada Konoha. Padahal aku hanya sebentar di sana, tetapi sensasinya selalu melekat di pikiran dan hatiku. Ah, Sasuke~
Kami berdiskusi–berdebat sebenarnya–tentang restoran mana yang akan menjadi tempat kami makan. Terlalu banyak pilihan yang menggiurkanku. Anak-anak kebanyakan ingin yakiniku, tapi yakiniku itu mahal! Aku tidak yakin uangku akan cukup atau tidak.
"Ehem, anak-anak, bagaimana kalau ramen saja, ne?" tanyaku sambil berharap-harap cemas. Semoga mereka mau. Semoga mereka mau!
"Ya ampun, Karin," suara menyebalkan Suigetsu terdengar. Sial, pasti dia mau memprovokasi anak-anak. "Kita sudah jauh-jauh ke sini–dan jarang-jarang pula kita ke sini, masa kita hanya makan ramen?"
Rrrrr! Ingin sekali aku menjambak rambutnya! Sialnya lagi, anak-anak malah manggut-manggut dan menatapku penuh harap. Argh, jangan-jangan mereka sudah bersekongkol sebelumnya. Tapi, kalau aku menolaknya, anak-anak pasti kecewa. Yah, kalau diingat-ingat, makanan di markas itu terlalu menyedihkan untuk disebut makanan manusia. Tuan Orochimaru, Anda harus tanggungjawab!
"Huh, ya sudahlah, lakukan sesuka kalian," aku hanya bisa meratap dalam hati setelahnya.
Suigetsu dan anak-anak begitu senang saat yakiniku porsi jumbo telah tiba di meja kami. Bahuku turun, kepalaku tertunduk, memikirkan berapa uang yang harus aku keluarkan untuk semuanya. Aku nyaris kehilangan rasa laparku jika mengingat dompetku akan kempis setelah keluar dari restoran ini.
"Jangan sedih begitu, Karin," kata Suigetsu. Aku tidak butuh kata-kata penyemangatmu itu, bodoh! "Ini saatnya menikmati kebebasan kita! Uang bisa dicari lagi, kok. Ayo, makan yang banyak!" apa katanya tadi? Uang bisa dicari lagi? Cih, omong kosong dari seseorang yang tak mau mengeluarkan uangnya sepeser pun.
Aku mengunyah daging di mulutku dengan perasaan berat. Tapi, daging ini begitu lezat. Apalagi melihat anak-anak yang makan dengan lahap penuh kebahagiaan, aku pikir ini cukup setimpal.
"Sensei, ini enak sekali!" kata Anju, muridku yang paling besar di antara mereka bertiga. "Terima kasih sudah mentraktir kami!"
Aku mau tak mau membalas senyumnya, "Ya, makanlah yang banyak. Kalian juga, Shinichi, Taka."
"Hai', Sensei!"
Kami melanjutkan makan hingga remah terakhir lenyap. Kami semua benar-benar lapar ternyata. Meskipun aku sedikit meringis ketika murid Suigetsu yang bertubuh gemuk, Ryuji, meminta porsi tambahan. Aku bersumpah Suigetsu yang akan membayar porsi tambahan itu! Ketika kami selesai, aku mulai menjalankan tipu muslihatku. Aku memisahkan beberapa ribu uangku ke dalam sandal shinobi-ku secara diam-diam. Aku harap uang yang kubayarkan ini kurang agar Suigetsu tak punya pilihan lain selain ikut membayar. Hahaha! Lagi-lagi aku tertawa dalam hati.
"Semuanya dua puluh ribu."
Aku tak mencegah mataku untuk membelalak. Tuh, kan! Bahkan jika aku tidak menyembunyikan sebagian uangku, tetap saja kurang! Huh, kenapa makanan di sini begitu mahal? Baiklah, skenario dimulai!
"Ya ampun, bagaimana ini?" gumamku putus asa, berusaha agar Suigetsu mendengarnya. Hahaha, Suigetsu bereaksi! "Maaf, Pak, saya hanya punya sembilan ribu saja," aku mencoba memasang raut wajah semenyedihkan mungkin. Ugh, kalau ada Sasuke, aku tidak akan sudi berekspresi seperti ini.
"Maafkan aku, tapi itu sangat kurang, Nona. Anda harus membayar setidaknya delapan belas ribu," kata bapak pemilik restoran. Baiklah, ini saatnya Suigetsu dilibatkan!
"Suigetsu, bagaimana ini? Uangku kurang," kataku. "Kau bisa, kan membayar sisanya?"
Suigetsu kebingungan. "Karin, tidak mungkin uangmu hanya segitu," dia berbisik padaku.
"Kau tidak percaya? Lihat saja sendiri!" aku balik berbisik padanya sambil memperlihatkan isi dompetku yang sudah kosong. Makan tuh!
Suigetsu menatapku horor. Hahaha, rasakan! Dia akhirnya dengan terpaksa mengeluarkan dompetnya, lalu mengeluarkan beberapa lembar dari sana. Dia berkata kepada bapak pemilik restoran, "Mmm, berapa sisa yang harus saya bayar?"
"Sebelas ribu," jawab bapak itu. Hahaha, bahkan dia membayar lebih banyak dariku.
Suigetsu menghitung kembali lembaran uang di tangannya, lalu menyerahkan semuanya pada bapak pemilik restoran dengan raut penuh ketidak-relaan. Rencanaku berhasil! Kemudian kami semua keluar restoran setelah berterimakasih pada bapak itu. Suigetsu berjalan dengan lemas sambil memandangi isi dompetnya. Huh, dia bilang uang bisa dicari, tapi sikapnya itu seolah-olah hidupnya tergantung pada isi dompetnya.
"Jangan sedih begitu, Suigetsu. Uang bisa dicari lagi, kok," kataku mengulang kata-katanya dengan ekspresi sok bersimpati.
"Pasti kau sudah merencanakan ini, kan, Karin?" tanyanya dengan kesal. Cih, dia marah hanya karena uangnya menghilang sedikit.
"Uangku memang kurang, kok," kataku. Memang benar uangku tetap kurang meski aku tidak menyembunyikan sebagiannya.
"Kalau kau tidak tulus ingin mentraktirku dan anak-anak, bilang saja! Tidak usah sok berlagak seperti guru yang baik, tapi menusukku diam-diam!" dia berkata lebih keras sambil menunjuk-nunjuk ke arahku.
Loh, kenapa dia jadi lebay begini, sih? Terus, dia berpikir kalau aku tidak tulus? Tidak ikhlas? Bukankah ini juga gara-gara kepelitannya itu? Kali ini kau benar-benar membuatku marah, Suigetsu!
Aku mengambil uang yang kusembunyikan di dalam sandalku dan melemparkannya ke wajah Suigetsu dengan berang. "Itu, kukembalikan!" setelahnya aku berlari menjauhinya menuju ke arah hutan.
Ya, aku ingin pulang sendiri saja. Aku terlalu marah hingga tak ingat bahwa murid-muridku kini memanggil-manggil dan mengikutiku ke dalam hutan. Dasar, Suigetsu pelit! Bodoh! Aku baru sadar bahwa aku menangis ketika air mata itu menetes-netes ke tanganku. Aku melompati dahan-dahan pohon dengan perasaan marah. Marah pada Suigetsu dan marah karena aku menangis gara-gara dia. Apa-apaan sih aku ini? Mengapa aku jadi cengeng begini? Apalagi hanya karena Si Gigi Hiu itu? Ya ampun, dunia pasti mau kiamat.
Murid-muridku masih memanggil di belakang sana, sementara aku sedang berusaha menghentikan tangisanku. Aku tidak boleh memperlihatkan ini pada mereka. Tidak boleh! Tidak terasa aku sudah sampai di area markas. Untungnya tangisanku sudah berhenti sehingga aku bisa menghadapi murid-muridku dan siapapun. Aku memilih duduk bawah pohon yang biasa aku tempati ketika sedang bersantai dan berlatih dengan murid-muridku. Tak ada yang mengetahui tempat ini selain aku dan mereka.
"Sensei," panggil Anju, ia menghampiriku dan ikut duduk di dekatku. "Kau tidak apa-apa?"
"Aku baik-baik saja, Anju," kataku. Berusaha agar membuat dia berhenti bertanya. "Kalian bisa tinggalkan aku sendiri?"
"Sensei yakin tidak apa-apa?" tanya Anju lagi. Shinichi dan Taka memandangiku dengan khawatir.
"Aku tidak apa-apa. Sekarang turuti gurumu," kataku lebih tegas dan mereka akhirnya menurut.
Aku yakin dengan sendirian seperti ini akan berangsur-angsur membuat pikiranku lebih jernih. Aku memikirkan lagi segala hal yang membuatku dan Suigetsu berada di situasi seperti ini. Pagi itu, di mana diketahui bahwa aku dan Suigetsu berada di satu ranjang adalah mimpi buruk yang tak pernah kubayangkan akan terjadi. Dia membenciku dan aku membencinya. Peristiwa itu adalah hal yang sama-sama paling tidak kami inginkan terjadi satu sama lain.
Tetapi, aku merasa semuanya mulai berubah, semua yang ada di antara kami tampak berbeda dan itu nampak jelas–bagiku–ketika aku mulai mengingat sedikit kejadian malam itu, ditambah dengan ajakannya padaku untuk pergi dari markas ini. Sikap Suigetsu sekarang yang ... aku tak bisa menjelaskan secara tepat perubahan sikap Suigetsu terhadapku. Kemudian tadi siang, aku tidak sadar bahwa aku tengah memerhatikannya latihan bersama murid-muridnya. Aku tidak mengerti mengapa aku melakukan itu, rasanya sangat mustahil, semustahil aku menangis karena dia.
Apa yang terjadi padaku dan dia sebenarnya? Kenapa aku sekarang tiba-tiba berpikir kalau aku tidak benar-benar membencinya seperti apa yang sering aku ucapkan padanya, pada semua orang, dan diriku sendiri?
Pemikiranku tersapu ke belakang otakku ketika melihat sosok yang berdiri tak jauh di depanku. Suigetsu. Kok, dia bisa tahu tempat ini? "Mau apa kau?"
Ia berjalan pelan mendatangiku. Raut wajahnya tak bisa kuprediksi. Aku memalingkan mukaku, enggan melihatnya karena masih ada kemarahan di dadaku. Ia berhenti setelah berdiri cukup dekat. Kemudian ia berkata, "Maaf, ya, Karin."
Aku menatapnya dengan alis berkerut. Aku tidak berniat menjawab apapun. Lebih kepada bingung ingin menjawab apa. Diamku ini membuatnya kembali berkata, "Aku terlalu keras padamu tadi. Ini uangmu," ia menyodorkan beberapa lembar uang padaku.
"Ck, ambil saja," kataku malas. "Sisanya akan kulunasi nanti."
"Baiklah, aku ambil seribu saja. Jadi, kita impas," katanya, lalu semakin mendekatiku dan ia mengambil tanganku, menaruh uang di atasnya.
"Kubilang ambil saja!" anehnya aku merasa ingin menangis lagi ketika mengatakannya. Sial!
"Kali ini saja," kata Suigetsu tegas, "jangan membantahku, Karin."
See you two or four days later ^^
