Disclaimer: Always belong to Masashi Kishimoto
Character: Karin Uzumaki, Suigetsu Hozuki
Canon
Saya harap karakter di sini sudah IC
Maaf jika ada kekeliruan tentang tetek bengek dunia shinobi *nyengir*
Selamat membaca dan semoga terhibur ^^
5
Aku terdiam. Suigetsu mendudukan dirinya di sampingku. Rasanya kami duduk lama sekali hingga hari semakin gelap dan bintang sudah nampak bermunculan, tapi kami masih belum berniat beranjak dari tempat kami untuk kembali ke markas. Entahlah, aku masih ingin di sini dan aku berharap Suigetsu juga merasakan yang sama. Huh, otakku mulai tidak waras lagi. Tapi, tak bisa dipercaya, aku menikmati kegilaan ini. Apa Suigetsu juga begitu?
"Seharusnya aku yang minta maaf," kataku tiba-tiba. Yah, aku rasa ini saat yang tepat untuk meminta maaf atas segalanya. "Aku minta maaf untuk yang tadi dan ... ke-kejadian tempo hari."
Dia menyeringai. Seringaian yang biasa ia tunjukkan, tapi kali ini–sekali lagi–tak bisa dipercaya, aku tidak sebal melihatnya. "Rasanya aneh mendengarmu minta maaf–apalagi padaku."
"Mungkin ini untuk yang pertama dan terakhir kalinya," jawabku sambil mendengus.
"Heh, kau bicara begitu aku jadi ragu kau tulus atau tidak minta maafnya," katanya yang membuatku mendelik padanya.
"Kalau aku tidak sungguh-sungguh, mana sudi aku mengucapkannya padamu. Dasar, bodoh."
"Ah, jadi ketulusanmu seperti itu, ya," katanya lagi. "Yah, mau bagaimana lagi. Kau memang harus minta maaf padaku karena pukulanmu itu membuat badanku pegal-pegal sampai dua hari."
"Ja-jangan bercanda!" kataku kaget. "Kau, kan bisa meleleh–yah, wa-walaupun saat itu kau tidak seluruhnya meleleh."
"Aku terlalu kacau untuk meleleh saat itu," jawab Suigetsu.
Aku terdiam. Mengingat bagaimana aku memukulinya dengan ganas waktu itu membuatku meringis. Kemudian aku merasa marah terhadap siapapun yang tega melakukan ini kepada kami. Ketidak-tahuan Sakura tentang kue-kuenya yang disabotase membuatku kepikiran lagi tentang siapa pelaku sebenarnya dan apa motifnya.
"Omong-omong, apa kau sudah mengetahui siapa yang ..."
"Tidak. Aku tidak tahu," jawabnya cepat sebelum aku sempat menyelesaikan kalimatku, nampaknya dia tahu apa yang kumaksud. Entah bagaimana, jawabannya tak lantas membuatku kecewa. Yah, aku memang masih penasaran tentang siapa orang itu, tapi ... "Kau masih ingin tahu siapa dia?" aku ingin menjawab 'aku tidak tahu', namun kata-kata itu tertahan di tenggorokanku.
Kami terdiam lagi. Situasi ini membuatku sedikit canggung. Tolonglah, Suigetsu, kembalilah ke dirimu yang cerewet seperti biasa! Aku tidak bisa menemukan topik yang normal untuk kami bicarakan. Pikiranku selalu jatuh pada hal-hal yang sebenarnya aku malu membicarakannya. Hal-hal tentang 'perubahan' kami antara satu sama lain. Oh, ayolah, aku tidak seagresif itu untuk memulai pembicaraan seperti ini! Kumohon, Suigetsu, setidaknya keluarkanlah kata-kata menyebalkanmu tentang aku daripada hanya diam seperti ini!
"Kau menyesal?" pertanyaan aneh secara tiba-tiba Suigetsu lemparkan padaku. Menyesali apa yang dia maksud? "Kau menyesali kejadian itu, Karin?" ia melanjutkan seakan ia tahu apa yang kupikirkan.
Tunggu, menyesali kejadian itu? Apa dia membicarakan hal yang sedari tadi mengganggu pikiranku? Dia bertanya apakah aku menyesal melakukan itu dengannya. Aku harus jawab apa? Aku sendiri tidak tahu apakah aku menyesal atau tidak. Aku tidak tahu, Suigetsu, aku tidak tahu!
"Sepertinya kau memang menyesalinya," apa dia bilang? Dia menyimpulkan seenaknya tanpa mendengar jawabanku! "Kalau begitu, akan kucari pelakunya sampai dapat." Tidak, Suigetsu, bukan begitu! Aku bahkan tidak peduli siapa yang melakukan itu pada kita! Ya, aku tidak peduli lagi siapapun itu!
"Hentikan!" aku berseru seraya menatapnya di sampingku. "Jangan membuat kesimpulan seenak jidatmu."
Suigetsu balik menatapku dengan pandangan bertanya-tanya. Kemudian, tatapannya berubah menjadi lebih ... cerah? "Ka-kau ..."
"A-aku ..." aku ingin mengatakan bahwa mungkin aku tidak menyesal–atau tidak terlalu menyesal, tetapi aku malah berkata, "tidak peduli lagi siapa pelaku sebenarnya."
Suigetsu kini nampak tidak sabar, ia berkata, "Katakan yang jelas, Karin. Kau menyesal atau tidak?"
Sial, aku jadi gugup begini. Maksdumu apa sih bertanya seperti itu, Suigetsu bodoh? Lidahku kelu untuk menjawab. Aku tidak tahu aku menyesal atau tidak! Atau sebenarnya aku hanya menyangkal bahwa aku ternyata sama sekali tidak menyesal atas apa yang telah terjadi pada kami malam itu? Sial, sial, sial! Aku sendiri bahkan tak mengerti aku mengumpat untuk apa.
"A-aku ... ti-tidak tahu, Suigetsu," kataku pelan, dan semakin pelan hingga nyaris terdengar seperti bisikan ketika aku melanjutkan, "mu-mungkin aku ti-tidak terlalu menyesal ..."
"Mari membuat semuanya jelas, Karin," Suigetsu memantapkan duduknya untuk menghadapku. "Apa yang kau pikirkan jika aku bilang bahwa aku melihatmu sebagai ... wanita yang ingin aku lindungi?"
Aku tertegun atas perkataannya. Dia bilang dia ingin melindungiku? Se-sebagai wanita? Apakah itu sama artinya seperti yang aku pikirkan ketika dia mengajakku pergi dari markas Tuan Orochimaru?
Aku melirik Suigetsu penuh keraguan. Jujur saja, aku malu sekali. Aku benar-benar pengecut sebagai wanita! Apa aku mengaku saja sekarang? Hidupku terlalu dipenuhi dengan penyangkalan. Aku menyangkal kalau aku peduli pada Tuan Orochimaru. Aku menyangkal pada semua orang kalau aku menyukai Sasuke. Aku menyangkal kalau aku peduli dan ingin melindungi rekan-rekanku di Tim Taka. Apakah sekarang saatnya untuk aku jujur pada diriku sendiri bahwa perasaanku pada Suigetsu telah berubah?
"Se-sejak kapan kau ...?" lidahku yang kelu membuatku mengeluarkan kata-kata lain. Yah, sedikitnya aku penasaran sejak kapan Suigetsu mulai melihatku dengan cara 'berbeda'.
Suigetsu menggaruk belakang kepalanya. Ia nyengir sejenak, lalu berkata, "Tidak tahu. Mungkin sejak malam itu."
Malam itu. Perbuatan kami waktu itu memunculkan perasaan baru dalam hati Suigetsu terhadapku. Mungkinkah itu sama seperti yang kualami? Aku mulai merasa aneh karena ramuan yang membuatku mengingat kejadian malam itu, ditambah dengan sikap Suigetsu.
Tunggu, bukankah Suigetsu sama-sama tidak sadar malam itu? Mengapa dia berkata seakan-akan dia melakukannya dengan seluruh kesadarannya? I-ini aneh.
"Malam itu?" aku memberinya tatapan menyelidik. "Kau menyadari perasaanmu malam itu? Kau menyadarinya?" kataku dengan penuh penekanan, biar dia mengerti maksudku. Dan bingo! Dia mulai bereaksi, dia terkejut. Aku mencium ada rahasia di sini. "Katakan padaku yang sebenarnya, Suigetsu."
Ia kelihatan bingung menjawab. Matanya memandang ke bawah. Aku yakin ada yang ia sembunyikan tentang malam itu. Aku tidak tahu kenyataan yang sebentar lagi kudengar ini akan membuatku kembali membencinya atau tidak.
"Maafkan aku, Karin. Aku memang pecundang brengsek," katanya yang membuatku terkejut. "Aku akan terima jika kau semakin membenciku, aku akan jelaskan yang sebenarnya sekarang."
Aku semakin penasaran dan ketakutan menghujamku. Namun aku tetap memasang telingaku baik-baik. Ia mulai berkata, "Sebenarnya aku sedikit berbohong tentang kejadian malam itu. Aku mabuk, yah, benar aku memang mabuk karena kue-kue itu, tapi aku masih cukup sadar untuk bisa menolakmu," menolakku? Apa yang sebenarnya terjadi?
"Kau mabuk berat dan kau sedang patah hati, kau butuh seseorang untuk menemanimu dan aku melakukannya. Aku menemanimu sesuai permintaanmu, di kamar yang kupesan untukmu. Kau mengeluarkan semua keluh-kesahmu dan aku hanya mendengarkanmu meracau sampai ketika kupikir kau sudah lelah dan jatuh tertidur. Aku berniat pergi mencari kamar lain untuk tempatku menginap setelah menutupi tubuhmu dengan selimut, tetapi kau malah menahan tanganku agar aku tidak pergi.
"Kau berkata bahwa kau sangat merasa kesepian sejak dulu, meskipun ada Sasuke yang sangat kau sukai. Kau memintaku untuk tidak meninggalkanmu–aku tahu apa yang kau maksud. Tapi aku segera sadar jika pagi sudah tiba, kau akan sadar dan melupakan permintaanmu itu sehingga aku hanya menganggapnya sebagai permintaan orang mabuk. Jadi, aku tetap diam di sana, menunggumu pulas agar aku bisa pergi dan berlagak kau tak pernah mengatakan apapun. Tetapi kau malah menyerangku dengan sentuhan-sentuhan yang tidak bisa kutolak. Aku tidak bisa melawan karena ... jujur saja, aku juga menginginkannya. Dan terjadilah ...
"Maka dari itu, aku bilang bahwa aku tidak memperkosamu karena kita melakukannya suka sama suka, meskipun kau dalam keadaan mabuk. Aku memang brengsek, Karin. Maafkan aku. Bencilah aku seumur hidupmu."
Aku ternganga mendengar penuturannya. Benarkah itu yang sebenarnya terjadi? Mengapa aku tidak mengingatnya sama sekali meski sudah meminum ramuan? Aku tidak tahu apa yang kurasakan sekarang. Aku hanya ... terkejut dan tidak tahu harus berkata apa. Aku tidak marah–aku memang tidak merasa harus marah karena ini semua memang aku yang memulai. Dan kurasa Suigetsu tidak menyesal atas apa yang terjadi di antara kami. Sekali kulihat ia marah waktu menanyakan tentang sabotase kue-kue yang kumakan kepada Sasuke, kurasa itu bukan karena ia menyesal, tetapi ia marah karena ia berpikir aku yang menyesalinya. Suigetsu hanya ingin melindungiku. Ia tidak berbohong dengan kata-katanya.
Kami-sama, sekarang aku merasa ...
Aku memeluk Suigetsu dengan air mataku yang mengalir. Suigetsu, sekarang aku tahu kalau kau memang memedulikanku. Akulah yang bodoh karena tidak menghiraukannya.
"Maafkan aku," gumamku. Aku melanggar perkataanku tentang terakhir kalinya minta maaf kepada Suigetsu. "Aku bodoh sekali. Maafkan aku, Suigetsu."
Aku merasakan tangan Suigetsu balik memelukku. Ia berkata, "Aku menyayangimu, Karin."
Setelahnya kami melepas pelukan. Suigetsu membantuku menghapus air mataku. Ia terkekeh pelan dan aku membalasnya dengan mendengus. Kemudian ia berkata, "Aku berbohong lagi tentang satu hal."
Apalagi ini? Kenapa dia banyak sekali berbohong, sih? "Apalagi?" tanyaku menantang.
"Sebenarnya aku sudah tahu siapa pelakunya."
Aku tersenyum meremehkan, "Aku sudah tidak peduli lagi. Simpan saja untuk dirimu sendiri."
"Kabuto, Juugo, dan Naruto, didukung oleh Orochimaru-sama."
"Mereka?" aku membelalak terkejut. "Jadi, kue-kue itu benar-benar ditujukan untuk kita? Benar-benar, mereka! Kenapa mereka melakukannya?"
"Orochimaru-sama bilang, ia dan yang lainnya sudah bosan melihat kita bertengkar terus," jawabnya. Apa? Hanya masalah seperti itu sampai harus membuatku terjebak di situasi menyusahkan ini?
"Jangan berbohong lagi padaku, Suigetsu!" kataku garang. Aku tahu bahwa alasan yang dia bilang tadi itu sangat tidak masuk akal!
"Aku tidak bohong, Karin. Sumpah!" jawab Suigetsu sedikit beringsut menjauhiku. Mungkin dia takut aku akan memukulnya. Tenang saja, Suigetsu, aku tidak akan melakukannya. "Err–tapi sebenarnya itu juga karena ... Juugo tahu aku mulai menyukaimu."
"Tuh, kan!" seruku yang memberikan efek mengejutkan bagi Suigetsu. "Tapi sebelumnya kau bilang kau menyukaiku sejak malam itu. Kau bohong lagi padaku!"
"E-eh, aku benar-benar tidak bohong soal itu! Ma-maksudku, malam itu aku baru sadar kalau aku menyukaimu! Ya, itu yang sebenarnya!" tukas Suigetsu. "Ba-bagaimana denganmu?"
Aku menghela napas, lalu terdiam sejenak. Sepertinya ini memang saatnya. Lagipula, Suigetsu sudah mengaku, kalau aku tidak melakukannya juga, itu sangat tidak adil.
"A-aku ..." lagi-lagi aku menggantung kalimatku dan lagi-lagi aku gugup. Aku harus buang jauh-jauh sifat pengecut ini. Aku hanya ingin membuat semuanya menjadi jelas. "Mu-mungkin aku memang tidak benar-benar membencimu, Suigetsu. Kurasa aku juga ... merasakan hal yang sama denganmu ..."
Suigetsu memandangku dengan tatapan terlembut yang pernah ia tunjukkan. Aku merasakan pipiku memanas. Yah, mungkin ini terlalu cepat, tapi perasaanku pada Sasuke hanya akan menjadi masa laluku. Sasuke sudah punya masa depannya sendiri dan aku kini sudah mendapatkannya juga. Dan untuk orang-orang yang sudah menjebakku, Tuan Orochimaru, Juugo, Kabuto, dan Naruto, mungkin aku harus sedikit berterimakasih pada mereka, tapi tunggulah pembalasanku!
END
Terima kasih karena telah mengikuti kisah ini sampai tamat, juga kritik dan sarannya ^^ Love you, readers~ *tebar kiss*
Marhaban, ya Ramadhan~
Mohon maaf lahir dn batin :")
