THE GIFT

.

.

.

.

.

All Characters Belongs To J.K. Rowling

.

.

Pair : Draco Malfoy X Hermione Granger

( 7 tahun setelah kejatuhan Voldemort )

WARNING : EYD berantakan, typos everywhere, alur kecepetan, OOC, geje. My First Fic.

Di Chapter 5 ini lemon scene'nya cukup asem,untuk yang belum cukup umur mending di skip aja. ;)

"Selangkah lagi kau masuk ke perapian itu, maka aku akan bunuh diri!"

Draco menatap ngeri dan wajah pucatnya bertambah pucat...

Chapter 5

"Astoria, letakkan pisau itu.",pinta Draco dengan menatap horor gadis di hadapannya itu. Astoria yang masih saja bersimbah air mata menggelengkan kepalanya.

"Tidak, Draco! Kau tahu, aku sangat mencintaimu. Aku tak mau kehilanganmu.", Astoria terus saja terisak. Draco sebenarnya merasa ngeri bila nanti gadis itu benar-benar nekat menggoreskan pisau perak itu ke nadinya. Apa yang ia takutkan kembali terjadi. Untuk kesekian kalinya ia harus melihat aksi dramatis percobaan bunuh diri Astoria. Dulu saat pertama kali Draco berusaha memutuskan hubungan dengan Astoria, gadis itu mengancam akan bunuh diri dengan menenggak racun. Kali kedua, saat di apartemen Draco, Astoria mengancam akan terjun bebas dari balkon apartemen Draco yang terletak di lantai 17. Dan sekarang, gadis itu berniat menggores urat nadinya. Draco benar-benar frustasi. Tapi ia harus tegas dalam mengambil keputusan. Sampai kapan ia akan terus menerus diancam percobaan bunuh diri seperti ini. 'Demi Hermione aku harus melakukan ini.", batin Draco.

"Please! Jangan bertindak bodoh, Astoria!"

"Untuk apa aku hidup jika tak bisa bersamamu?!", raung Astoria semakin histeris. Draco berjalan mendekatinya. Astoria mundur selangkah.

"Berhenti disana,Draco! Jangan mendekat! Kalau kau tetap bersikeras akan meninggalkanku demi Granger, bersiaplah menghadiri pemakamanku esok hari!", lanjut Astoria. Draco yang agaknya lama kelamaan mulai jengah dan bosan dengan tindakan Astoria akhirnya menyuarakan apa yang ada di pikirannya.

"Oke. Silahkan saja bunuh diri. Dan tentu, aku akan menghadiri pemakamanmu. Aku tahu, selama ini kau hanya menggertakku saja.",ujar Draco yang kali ini sudah kembali ke tampang pucat sinisnya. Astoria terkesiap mendengar kata-kata Draco.

"Aku tidak main-main,Draco!", pisau perak itu masih menempel di pergelangan tangan kirinya.

"Aku juga tidak main-main,Astoria! Aku tak yakin kau mau benar-benar mengakhiri hidupmu. Sudahlah, cobalah menerima kenyataan ini. Kita tidak bisa bersama lagi."

"Tidak, Draco!", Astoria masih saja keras kepala. Draco kembali mendekatinya, berusaha menggapai tangan Astoria yang menggenggam pisau.

"Astoria, dengarkan aku! Aku mencintai Hermione Granger. Tidakkah kau mengerti? Jangan bertindak bodoh dengan mengakhiri hidupmu dengan cara konyol seperti ini. Kau berhak bahagia dengan pria lain. Bukan denganku.", tangan Draco berhasil memegang pergelangan tangan Astoria. Suara Astoria tercekat di tenggorokannya. Akhirnya ia menjatuhkan pisaunya. Masih tetap terisak. Draco segera memeluknya saat ia mulai merasa kakinya tak lagi kuat menopang tubuhnya. Ia membenamkan wajahnya di dada Draco.

"Benarkah ini semua berakhir?", Astoria terus mengusap rambutnya dan terdengar menghela napas.

"Iya. Semua sudah berakhir."

"Aku tak bisa mempercayainya."

"Inilah kenyataannya,Astoria.", gadis itu mengangkat kepalanya dari dada Draco.

"Draco?"

"Ya?"

"Maukah kau berjanji satu hal padaku untuk terakhir kalinya?", Draco mengrenyitkan alisnya.

"Apa itu?"

"Aku akan merelakanmu pergi,tapi dengan satu syarat."

"Katakanlah."

"Jangan pernah muncul di hadapanku bersama Granger. Sampai kapanpun aku tak akan pernah sanggup melihatmu bersama wanita lain.", Draco agak bingung. Bagaimana bisa ia menghindari hal itu sedangkan mereka tinggal di dunia yang sama. Dunia sihir. Bisa saja kan kelak tanpa sengaja mereka bertemu di suatu tempat dan Draco sedang menggandeng Hermione.

"Tapi, bagaimana bi-...", kalimat Draco terpotong oleh Astoria.

"Aku cuma meminta satu hal. Apakah terlalu sulit untukmu?", tersirat nada terluka dalam suara Astoria yang sesekali masih kembali menghela napas panjang.

"Hmm, baiklah.", jawab Draco. Astoria menutup matanya dan sekali lagi air mata mengalir dari sudut mata cantiknya. Draco memeluknya untuk terakhir kalinya. Menyusut air mata Astoria dengan kedua ibu jarinya, Draco mencium kening Astoria dan berkata, "Berbahagialah tanpa aku.", kemudian ia melepaskan pelukannya dan menuju perapian untuk menggunakan jaringan floo Greengrass Manor. Astoria hanya menatap nanar melihat sosok Draco menghilang bersama kepulan asap bewarna hijau.

OoO

I wanna believe in everything that you say

'Cause it sounds so good

But if you really want me, move slow

There's things about me you just have to know

Sometimes i run, sometimes i hide

Sometimes i'm scared of you

But all i really want is to hold you tight

Treat you right,be with you day and night

Baby, all i need is time

~ Britney Spears – Sometimes ~

Hermione sedang perjalanan menuju alam mimpinya ketika terdengar suara ketukan di pintu apartemennya. Awalnya ia menghiraukannya, karena matanya begitu berat untuk dibuka. Tapi suara ketukan di pintu terus saja terdengar. Menyibakkan selimut yang menutupi tubuhnya, Hermione bangkit dari tempat tidurnya, duduk melihat jam yang terletak di atas meja kecil di sampingnya. Pukul sebelas malam. 'Siapa sih yang bertamu larut malam begini?', batin Hermione kesal. Bangkit dari duduknya, ia berjalan menuju pintu untuk melihat siapa yang bertamu.

"Hermione...", begitu pintu terbuka tampak sosok Draco Malfoy dalam balutan mantel bepergian warna hijau tua, khas Slytherin. Rambut pirangnya sedikit acak-acakan dan poninya jatuh di depan dahinya dengan lembut. Membuat ia benar-benar terlihat menawan. Hermione terkejut mendapati sosok Draco kini berdiri di depan pintu apartemennya.

"Malf-..", belum sempat Hermione mengatasi keterkejutannya, Draco sudah merengkuh pinggangnya dan menariknya dalam ciuman. Draco begitu merindukan Hermione. Ia rindu mencium dan memeluk gadis itu. Hermione awalnya berusaha meronta melepaskan diri dari Draco. Tapi pelukan Draco malah semakin erat dan Draco mendorongnya perlahan untuk bisa masuk ke dalam apartemennya. Ciuman Draco terasa menuntut. Seolah melepaskan kerinduan yang beberapa hari ini dipendamnya.

"Aku merindukanmu.", bisik Draco di sela ciumannya. 'Aku juga',batin Hermione, tapi ia tak bisa menjawab karena kini lidah Draco tengah membelai lembut bibir bawahnya untuk meminta ijin masuk dan menari dengan lidahnya. Hermione terbuai oleh ciuman Draco. Secara refleks ia pun membuka mulut dan membiarkan Draco mengajak lidahnya bermain. Ciuman yang awalnya biasa kini berubah menjadi snogging session. Bibir Draco tegas dan mendesak. Dunia Hermione seakan digoncang hanya dengan ciuman itu. Tangannya meremas rambut pirang Draco. Membuat Draco semakin memperdalam ciumannya. Terkadang Draco menggigit kecil bibir bawah Hermione. Ujung lidah Draco membelai lidah Hermione membuat lututnya terasa lemas dan memberikan sensasi yang memabukkan. Tiba-tiba Draco mengangkat tubuh Hermione agar kakinya melingkar nyaman di pinggangnya. Hermione memekik kaget. Ciuman mereka terlepas. Draco menggendongnya menuju sofa ruang tamu. Membaringkan Hermione di sofa yang berukuran agak besar itu, Draco menatap intens ke dalam manik cokelat Hermione. Draco sudah tak ingat lagi berapa lama ia tak melihat mata cokelat indah itu. Rasanya sudah berabad lamanya. Tatapan intens Draco membuat debar jantung Hermione bergemuruh. Ia melihat kilatan nafsu dan gairah di mata kelabu putra Lucius Malfoy tersebut. Begitu panas dan menggoda. Saat Hermione membuka mulut untuk memanggil namanya, Draco telah lebih dulu menindihnya dan menyumbat bibir mungil gadis itu dengan bibir sensual nan memabukkan miliknya. Erangan rendah keluar dari bibir tipis Hermione. Draco beralih menuju leher jenjang Hermione. Menjilat perlahan naik hingga telinga gadis itu dan mulai menggelitiknya sambil sesekali menghisap daun telinga Hermione. Tak ayal lagi tindakan Draco membuat Hermione menggelinjang di bawahnya. Desahan gadis itu kembali terdengar.

"Uuhh..Malf-", Hermione mendesah sambil memejamkan mata. Ia tidak bisa memungkiri kalau tindakan Draco membuatnya kehilangan akal sehat. Lidah Draco yang membelai telinganya mulai membuatnya basah. Ia ingin Draco melakukan lebih.

"Ssh...sebut namaku, Dear.", bisik Draco yang masih mengubur wajahnya di leher Hermione. Membaui wangi parfum Hermione yang menguar disana. Ciuman Draco mulai beringsut turun ke dada Hermione. Tangan kiri Draco masih memegang pinggang Hermione. Sedangkan tangan kanannya mulai merayap naik ke arah dada Hermione. Malam ini Hermione mengenakan gaun tidur tipis warna pink pucat yang membuat Draco mati-matian menahan hasratnya untuk tidak langsung menyerang Hermione habis-habisan. Ia ingin menumpahkan segenap kerinduannya pada gadis itu dengan cara yang lembut.

"Dra- Draco...mmhh..", Hermione menyebut nama Draco dengan agak tersengal. Ia sudah tidak bisa berpikir jernih lagi. Birahinya mulai bangkit. Draco tersenyum mendengar Hermione menyebut namanya. Ia melirik sekilas memandang wajah Hermione yang mulai memerah karena terbawa nafsu. Matanya tampak sayu membuat Hermione tampak begitu seksi di mata Draco. Lidah Draco mulai menuruni dada Hermione. Mengecup dan menjilat puncaknya yang mulai menegang akibat perlakuannya. Tangan kanan Draco menangkup dada Hermione yang sebelah kiri dan mulai memainkan puncaknya. Sedangkan lidahnya masih terus bermain dengan yang sebelah kanan. Menghisap, menjilatinya dengan perlahan membuat Hermione semakin ingin menjerit.

"Draco...mmhh.."

"Ya, Dear?",Draco menyeringai mendengar Hermione kembali memanggil namanya. Ia meniupkan udara dingin di puting Hermione yang menegang kemudian menghisapnya lagi disertai gigitan-gigitan ringan yang cukup memberikan sedikit rasa sakit dan kenikmatan yang berbaur. Hermione menggelengkan kepalanya ke kiri dan kanan. Ia yakin celana dalamnya sudah sangat basah sekarang.

"Draco, please..."

"Hmm?", gumam Draco sambil tetap mengulum puting Hermione dan membuat gadis itu semakin menggila.

"Kumohon...", Hermione memandang Draco dengan sorot mata sayu namun penuh gairah yang terpancar disana. Seakan mengerti permintaan Hermione, Draco mulai memindahkan tangan kanannya yang tadi berada di dada Hermione menuruni tubuhnya dan perlahan naik kembali menyingkap gaun tidur gadis itu hingga ke paha. Perlahan namun pasti tangan Draco mulai membelai halus milik Hermione dari luar celana dalamnya yang sudah amat sangat basah. Sekali lagi Draco menyeringai mengetahui hal itu. Dalam sekali tarikan ia melepas celana dalam Hermione. Kemudian Draco mulai membelai lipatan lembut Hermione. Ia sendiri merasakan kejantanannya menegang di bawah sana. Draco menurunkan wajahnya tepat di pusat kewanitaan Hermione dan ia membawanya ke mulutnya, merasakan cairan yang keluar dari sana. Ia bisa mendengar rintihan pendek Hermione saat ia menggodanya. Dan ketika Draco menghisap tepat di klit-nya, Hermione menjerit. Tak disangka Draco bisa membuat Hermione mencapai kepuasannya hanya dengan seperti itu. Bahkan belum sampai Draco membenamkan dirinya ke dalam milik Hermione. Draco menyeringai penuh kemenangan. Hermione begitu responsif.

"Draco..mmh..ssh...", desah Hermione dengan terengah-engah karena sapuan gelombang gairah yang baru saja melandanya. Draco menghentikan kegiatannya dan kembali memandang wajah Hermione. Ia berpikir belum saatnya ia bercinta dengan Hermione setelah kejadian ia diusir dari apartemen ini tempo hari. Draco menarik bangun Hermione untuk dipeluknya dan memberikan ciuman lembut di bibir mungil cantik gadis itu. Hermione bisa merasakan sisa dirinya di mulut Draco. Tapi ia tak peduli. Draco benar-benar lihai memainkan perannya. Tak heran jika Draco digilai banyak wanita, juga Astoria Greengrass. Pemikiran tentang Astoria sontak membuat Hermione tersadar. Ia mendorong tubuh Draco lepas dari pelukannya. Draco terheran dengan tindakan Hermione yang tiba-tiba itu.

"Bagaimana dengan Greengrass?", tampaknya kesadaran Hermione sudah sepenuhnya kembali. Draco menaikkan sebelah alisnya.

"Sudah jelas , kan. Kalau sekarang aku ada disini berarti aku sudah tak lagi bersamanya.", jawab Draco datar. Hermione mengerutkan keningnya. Tampak tidak percaya mendengar apa yang diucapkan Draco. Draco mendengus memandang Hermione.

"Aku sudah berpisah dengan Astoria. Benar-benar berpisah akhirnya. Tapi ia mengajukan satu syarat padaku.", jelas Draco.

"Syarat apa?", tanya Hermione heran.

"Astoria memintaku untuk jangan pernah muncul di hadapannya bersamamu."

"Tapi, bagaimana bisa? Kalau tanpa sengaja ternyata kita bertemu dengannya?"

"Entahlah, yang penting pada akhirnya ia rela melepasku.", jawab Draco sambil mengedikkan bahu. Hermione menyilangkan tangan di depan dada, melepas senyum separuh. Draco meraih tangan Hermione dan menggenggamnya.

"Jadi, apakah sekarang kita resmi menjadi sepasang kekasih?", tanya Draco disertai dengan seringaian khasnya. Hermione tampak menggigit bibir bawahnya. Draco merasa gemas dibuatnya.

"Er-Malf-"

"Hey, bukannya tadi kau memanggilku Draco? Kenapa sekarang kau memanggil dengan nama keluarga lagi?", protes Draco.

"Oh,maaf! Draco.", Hermione bersemu merah ketika menyebutkan nama Draco. Ia teringat kejadian beberapa menit lalu yang membuatnya kehilangan kendali. Saat dimana ia memanggil nama Draco ketika dirinya meminta pangeran Slytherin itu untuk melakukan lebih dari sekedar mencumbunya.

"Kenapa wajahmu memerah? Kau belum menjawab pertanyaanku.", Draco menjawil hidung Hermione membuat gadis itu kembali menoleh padanya.

"Er-bisakah kita tidak terburu-buru? Nngg, maksudku kita jalani dulu hubungan ini hingga tak ada keraguan lagi.", Draco mengrenyitkan alis mendengar penuturan Hermione.

"Kau masih ragu? Masih belum percaya padaku?", terdengar nada kecewa dalam suara Draco, "Aku mencintaimu, Hermione."

"Aku tahu,Draco.", Hermione tersenyum. Tangannya terjulur menyentuh pipi Draco. Draco pun menggenggam tangan Hermione yang kini berada di pipinya.

"Aku tahu kau akan memilihku, Draco. Walaupun memang aku merasa sakit hati ketika tahu kau masih menjalin hubungan dengan Greengrass, tapi hati kecilku mengatakan kalau kau pasti memilihku.", Hermione kembali mengulas senyum tapi dibarengi dengan setetes air mata menuruni pipi mulusnya.

"Ssh...kenapa kau menangis, Dear?", jemari Draco menyusut kilau bening di pipi Hermione.

"Aku tak tahu. Tapi rasanya kejadian kemarin masih terasa menyakitkan."

"Sudah. Jangan diingat lagi. Aku disini bersamamu.", dan Draco kembali menarik Hermione ke dalam pelukannya. Hermione mengubur wajahnya di dada Draco. Membaui wangi tubuh Draco yang ia rindukan. Malam itu Draco tetap berada di apartemen Hermione. Tanpa melakukan apapun kecuali hanya memeluk gadis itu hingga ia sendiri pun tertidur di sofa.

OoO

Wangi aroma roti panggang tercium dari dapur Hermione. Draco mengerjapkan matanya. Ia mengedarkan pandangannya. Hermione sudah tidak berada dalam pelukannya. Ia beranjak bangun dari sofa dan berjalan menuju dapur. Dan disanalah Hermione berada. Mengenakan celana pendek warna biru tua sepaha dan camisole warna putih. Rambut cokelat ikalnya hanya digelung asal. Ia sedang mengoleskan mentega di roti panggangnya sambil bersenandung tak jelas. Ia tak menyadari Draco berdiri di belakangnya bersandar pada dinding sedang menyeringai menatapnya. Draco berjalan menghampiri Hermione dan memeluknya dari belakang, membuat Hermione terlonjak kaget.

"DRACO! Apa yang kau lakukan!", pekik Hermione terkejut. Ia bisa merasakan Draco menyeringai di balik punggungnya.

"Memelukmu.", jawab Draco datar sambil membenamkan wajahnya di leher Hermione, sesekali menggesekan hidungnya disana membuat gadis itu merasa geli.

"Aku menyukai penampilanmu pagi ini, Dear. Sensual dan menggoda.", lanjut Draco sembari bibirnya mengecup daun telinga Hermione sekilas. Sontak pipi Hermione bersemu merah. Ia pun membalikkan badannya dengan tangan Draco tetap menahan pinggangnya. Kini ia bertatap muka dengan Draco yang lagi-lagi memasang seringaian khasnya.

"Hentikan seringaian jelekmu itu!", Hermione merengut. Draco terkekeh.

"Akui sajalah, kalau aku tampan."

"Narsis sekali kau,huh!"

"Kalau aku tidak tampan mana mungkin kau mau kupeluk seperti ini, Berang-berang?"

"Uuh...Kau menyebalkan,Ferret!", Hermione mendorong tubuh Draco menjauh dan meninggalkannya menuju kamar. Draco hanya terkekeh melihat kelakuan Hermione. Senang rasanya bisa kembali menggoda gadis itu. Ia mencomot roti panggang yang tadi disiapkan Hermione dan menyusulnya ke kamar.

Sesampainya di depan pintu kamar Hermione yang ternyata tidak dikunci, Draco melangkah masuk. Tapi belum sampai dua langkah, teriakan Hermione kembali membahana.

"DRACO LUCIUS MALFOY! APA-APAAN KAU INI?! MASUK KAMARKU SEENAKNYA!", ternyata Hermione akan berganti pakaian. Ia akan melepas camisolenya tepat disaat Draco masuk.

"Bloody hell, Hermione! Kencang sekali teriakanmu."

"Apa yang kau lakukan disini?!", hardik Hermione kesal karena Draco seenaknya masuk ke kamarnya. Ia berkacak pinggang di hadapan Draco. Raut wajahnya yang kesal sungguh pemandangan yang mengasyikkan bagi Draco.

"Membantumu berganti pakaian, mungkin?", goda Draco. Wajah Hermione kembali memerah. Draco mati-matian menahan tawanya.

"Dasar mesum! Cepat keluar dulu dari sini! Biarkan aku berganti pakaian dahulu. Kalau kau ingin mandi, pakai saja kamar mandi yang di dekat dapur.",usir Hermione sambil mendorong tubuh Draco menjauh. Draco menaikkan sebelah alisnya.

"Setelah apa yang kita lakukan semalam kau masih malu terhadapku?", goda Draco lagi sambil menyeringai. Wajah Hermione kini menjelma bagaikan kepiting rebus. Bisa-bisanya Draco terus menggodanya seperti ini. Ia malu sekali. Kejadian semalam jelas saja bukan akal sehatnya yang bekerja. Tapi naluri dan birahinya yang memimpin. Hermione menggeleng-gelengkan kepalanya mencoba mengusir bayangan kejadian semalam.

"Kau benar-benar menyebalkan! Awas saj-"

CUUPP. Draco mengecup ringan bibir Hermione dan meninggalkan gadis itu mencak-mencak karena kelakuannya.

"DRACO MALFOY!", dan suara gelak tawa Draco terdengar dari balik pintu kamar Hermione.

OoO

"Ap-APA?! Uh-uhuk. Kau berpacaran dengan Malfoy?", Ginny tersedak butterbeernya saat Hermione menceritakan hubungannya dengan Draco. Mereka berdua kini tengah duduk bersantai di Three Broomsticks. Hermione memutar mata melihat keterkejutan Ginny.

"Well, aku sendiri belum bisa mendefinisikan seperti apa hubunganku dan Draco. Tapi, yah, kami memang dekat.", Hermione menyesap butterbeer miliknya.

"Tapi, kau bilang dia sudah mengatakan kalau mencintaimu. MENCINTAIMU, Mione!", Ginny menekankan intonasinya pada kata 'mencintai', "Dan kau bahkan sudah memanggilnya Draco! Oh, Mione! Ini benar-benar fantastis! Harry pasti kaget saat kuceritakan hal ini nanti", Ginny terkikik.

"Memang, dia mengatakan itu. Tapi aku ingin semua ini berjalan seperti ini dulu apa adanya. Aku tak ingin tergesa-gesa, mengingat kegagalanku tempo hari dalam menjalin hubungan dengan Ron."

"Hmm, apakah The Slytherins yang lain juga sudah mengetahuinya? Kemarin lusa aku sempat bertemu dengan Parkinson saat aku dan Harry berbelanja di Madam Malkins, kami sempat ngobrol sebentar, tapi tampaknya dia belum tahu berita ini. Yah, kau tahu kan, Parkinson itu cukup dekat dengan Malfoy ketika sekolah dulu." Sejak perang berakhir, baik geng Gryffindor ataupun Slytherin sudah tidak bersitegang lagi. Semua dinding pembatas dan status darah seolah runtuh. Dan tak jarang mereka hangout bersama.

"Nott tahu. Dia bertemu denganku di Florean Fortescue. Dan Draco menceritakan semuanya."

"Dan soal ceritamu tentang Greengrass –maksudku Astoria-, apakah Draco sudah benar-benar meninggalkannya?", tanya Ginny penasaran. Hermione menganggukkan kepalanya.

"Hmm,iya. Sebelumnya aku sudah mengultimatum Draco untuk tidak menemuiku sebelum dia menyelesaikan masalahnya dengan Greengrass."

"Bagaimana dengan Malfoy Senior? Lucius dan Narcissa?", kali ini Hermione menghela napas panjang mendengar pertanyaan yang dilontarkan Ginny. Kemarin sebelum meninggalkan apartemennya Draco sudah menceritakan padanya bahwa sebenarnya orang tua Draco sudah mulai menyiapkan pertunangannya dengan Astoria. Tapi karena sekarang mereka sudah berpisah, jadi Draco harus memberitahu kedua orang tuanya tentang hal itu. Dan ia berniat mengajak Hermione untuk menemui mereka. Draco benar-benar ingin menjalin hubungan serius dengan Hermione.

"Draco berniat mengajakku ke Malfoy Manor malam ini untuk bertemu Malfoy Senior. Maka dari itu aku memaksa bertemu denganmu sekarang,Gin. Aku gugup dan jujur agak sedikit takut untuk bertemu mereka. Aku tak sanggup membayangkan reaksi mereka ketika anaknya menjalin hubungan dengan Muggle-born sepertiku. Kau kan tahu, keluarga Malfoy termasuk keluarga pureblood yang selalu menjaga kemurnian darah dalam garis keturunan mereka.", jelas Hermione panjang lebar. Ia menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya. Ginny menepuk bahunya agak keras.

"Hei! Kemana jiwa Gryffindor-mu, Nona-Tahu-Segala? Kau berani menghadapi Voldemort beserta para pelahap mautnya, tapi malah takut untuk bertemu dengan Malfoy Senior. Dan, demi kolor Merlin! Bahkan kita pernah bertarung menghadapi Lucius Malfoy di Departemen Misteri. Harusnya kau sanggup menghadapinya, Mione!", Ginny kini menyilangkan tangan di dadanya menunggu respon Hermione.

"Ini berbeda,Gin. Mereka bahkan sudah mulai mempersiapkan pertunangan Draco dengan Greengrass. Dan sekarang, Draco memutuskan pertunangan itu demi aku. Tidakkah posisiku disini tampak seperti, -er-perebut tunangan orang?",Hermione menampakkan raut wajah gelisah.

"Tapi kan kau tidak mengetahui bahwa Malfoy sudah memiliki kekasih pada saat itu. Itu tidak bisa dikatakan langsung sebagai perebut tunangan orang. Yah, dalam hal ini memang Malfoy lah yang brengsek karena lambat mengambil keputusan.", Ginny mendengus kesal. Hermione melirik arloji yang melingkar di pergelangan tangan kirinya.

"Astaga, Gin! Sudah pukul lima sore. Draco berjanji akan menjemputku pukul 6 petang nanti. Aku harus bersiap. Kita bertemu lagi di lain hari, oke?", Hermione bangkit dari tempat duduknya untuk memberi Ginny pelukan singkat.

"Ceritakan padaku apa yang terjadi di Malfoy Manor setelah kau pulang dari sana.", Ginny membalas pelukan Hermione.

"Pasti, aku akan meneleponmu. Sampaikan salamku untuk Harry.", jawab Hermione tersenyum. Ginny mengangguk. Ia melambaikan tangan pada Ginny dan mereka pun berpisah untuk pulang kembali ke kediaman masing-masing.

OoO

"Bisakah kau segera menentukan gaun mana yang akan kau pakai, Dear? Karena kau tetap tampak menawan memakai gaun dengan warna maupun bentuk apapun.", ujar Draco saat ia melihat Hermione masih bingung akan pilihan gaun yang akan dipakainya ke Malfoy Manor. Draco berdiri tepat di pintu kamar Hermione, menyandarkan lengan kirinya disana. Malam ini ia memakai kemeja hijau gelap yang lengannya digulung sampai siku dipadu vest berwarna silver. Very Slytherin.

"Menurutmu sebaiknya aku memakai gaun yang mana, Draco?", tanya Hermione. Ia memegang sebuah gaun panjang berwarna peach di tangan kanannya. Sedangkan di tangan kirinya terdapat gaun berwarna hitam tanpa lengan dengan beberapa butiran kristal swarovski di bagian dada.

"Yang mana saja cocok. Tetap cantik. Yah, walaupun sejujurnya aku lebih suka kalau kau tak memakai apa-apa", Draco terkekeh. Hermione melotot mendengar ucapan Draco.

"Draco! Aku serius."

"Yang hitam saja. Terlihat elegan."

Hermione memasukkan gaun peach-nya kembali ke lemari. Kemudian, berbalik menghadap Draco.

"Bisakah kau keluar sebentar? Aku akan berganti baju.", Draco menaikkan sebelah alisnya.

"Ayolah, Hermione! Haruskah kau masih malu terhadapku setelah kemarin aku berhasil membuatmu klimaks hanya dengan belaian lidahku.", mata Draco berkilat nakal. Hermione langsung memerah. Draco senang sekali melihat reaksi Hermione.

"Uh- kenapa kau terus membahas hal itu terus, sih?!"

Draco berjalan mendekati Hermione. Menarik lengan gadis itu dan membawanya mendekat ke dalam pelukannya.

"Kau membuatku kecanduan, Sayang.", Draco berbisik di dekat telinga Hermione, "Dan tahukah kau? Berada di dekatmu selalu membuatku keras setiap saat.", Draco menjilat sekilas telinga Hermione, membuat gadis itu menegang, kemudian lebih merapatkan pelukannya. Hermione bisa merasakan sesuatu dari Draco yang mengeras menekan pahanya. Hermione yakin wajahnya kini pasti sudah mengeluarkan uap panas. Dia benar-benar merasa malu dan tak menyangka Draco akan berkata seperti itu. Walaupun dalam hati kecilnya ia mengakui sedikit bangga bisa membuat Draco turn on.

"Um, Dra-Draco, aku perlu mengganti pakaianku.", ujar Hermione agak tergagap. Draco menyeringai tipis. Mencium lembut bibir Hermione sekilas, ia melepaskan pelukannya.

"Kumohon, aku ingin melihatmu langsung ketika memakai gaun itu. Dan kurasa kau pasti memerlukan bantuanku untuk menarik resletingnya.", Draco yang menyunggingkan senyum angkuhnya. Hermione melirik gaunnya. Draco benar. Gaun itu memiliki resleting di bagian punggungnya yang mustahil dapat ia jangkau dengan tangannya saat memakainya. Tapi membayangkan Draco melihatnya saat berganti pakaian membuat wajahnya memerah lagi. Seolah membaca pikiran Hermione, Draco meraih dagu gadis itu agar menatap wajahnya.

"Sudah cukup. Lekaslah berganti pakaian. Kalau wajahmu terus memerah seperti ini aku tak tahu apakah aku sanggup untuk menahan diri lebih lama untuk tidak menyerangmu. Damn! Wajah meronamu itu benar-benar membuatku terangsang, Dear."

Hermione pun bergegas melepas pakaiannya dan menggantinya dengan gaun hitam yang dipilih Draco. Seketika mata Draco membulat ketika melihat Hermione melepas pakaiannya dan memperlihatkan pakaian dalam yang dikenakan Hermione saat ini. Bra berbahan sutra warna hitam dan celana dalam model thong yang juga berwarna senada.

"Holy Shit!", Draco mengumpat dan membalikkan badan memunggungi Hermione. Gadis itu mengernyit heran. Bukankah tadi Draco bersikeras ingin melihatnya berganti pakaian.

"Beritahu aku jika kau sudah selesai memakai gaunmu. Aku tak bisa melihatmu berganti pakaian disana dengan memakai pakaian dalam seksi seperti itu, sedangkan aku hanya diam berdiri disini tanpa menyentuhmu. Damn! Aku benar-benar ingin menerkammu, Hermione.", suara Draco terdengar serak dan berat karena menahan gairah yang tersulut dalam dirinya.

"Aku sudah selesai, Draco. Bisakah kau membantuku menarik resletingnya? Tolong.", suara lembut Hermione membuat Draco menoleh dan ia sekarang melihat Hermione memunggunginya. Resleting di gaunnya masih terbuka. Ia berjalan mendekat. Menggapai resleting itu dan menariknya ke atas. Draco tidak tahan untuk tidak menyentuh gadis itu. Menyibakkan rambut ikal Hermione yang tergerai cantik ke samping sehingga menampilkan lehernya yang mulus, Draco memeluk Hermione dari belakang. Melingkarkan tangan kokohnya di pinggang Hermione. Mencium leher Hermione dengan hidungnya, yang mana membuat gadis itu merinding seketika.

"Kau cantik. Aku mencintaimu, Hermione.", bisik Draco tepat di telinga Hermione. Tangan Hermione terjulur ke belakang untuk menyentuh pipi Draco.

"Aku tahu.", jawab Hermione tersenyum.

"Ayo, kita berangkat sekarang!", ajak Draco. Hermione mengangguk sekilas. Menyambar tas tangan dan juga mantelnya, ia segera menyusul Draco yang sudah siap berapparate di depan pintu apartemennya.

"Kau siap?", tanya Draco setelah Hermione mengunci pintu.

"Yup!", jawab Hermione. Dengan bergandengan tangan dan dalam sekali putaran kibasan jubah mereka menghilang.

Plop. Mereka tiba di halaman Malfoy Manor. Draco menggenggam tangan Hermione untuk mengajaknya masuk. Tapi langkahnya terhenti. Draco menoleh dan mendapati Hermione masih membeku di tempatnya.

"A-aku, sepertinya aku tak bisa masuk kesana, Draco.", Hermione menggeleng lemah. Wajahnya menampakkan rauh wajah trauma. Mengetahui dirinya kini berada di Malfoy Manor mengingatkannya akan siksaan kejam Bellatrix Lestrange tujuh tahun yang lalu. Draco tak perlu bertanya untuk mengetahui apa yang ada di pikiran Hermione.

"Tak apa, Dear. Semua sudah berlalu. Aku tahu kau pasti sanggup melawan kenangan buruk saat disiksa bibiku di dalam Manor dahulu. Sekarang kita cuma perlu menghadapi orang tuaku. Tak akan ada perang mantra kali ini. Aku membutuhkanmu di sampingku saat aku mengutarakan semuanya pada mereka.", Draco mengusap lembut punggung Hermione untuk menenangkannya. Hermione menatap ke dalam mata kelabu Draco dan melihat ada tatapan penuh cinta disana.

"Hei, kemana gadis Gryffindor-ku?", ujar Draco sambil mengelus puncak kepala Hermione. Perlakuan Draco mau tak mau membuatnya tersenyum.

"Mari kita masuk.", Hermione tersenyum mantap. Draco membalas senyumannya. Dengan tetap saling menautkan jemari mereka melangkah masuk ke dalam Manor.

Lucius dan Narcissa sudah siap di meja makan menanti putra tunggal mereka. Draco memang sudah meminta untuk makan malam bersama mereka. Tapi mereka tidak tahu bahwa Draco akan mengajak Hermione.

"Mom. Dad.", panggil Draco. Lucius dan Narcissa yang tadi tampak sedang berbincang langsung menoleh ke arah suara Draco berasal. Narcissa langsung tersenyum lembut melihat putra kesayangannya. Lucius tetap dengan wajah dinginnya.

"Kemarilah,Nak. Mari kita segera memulai acara makan malam kita.", ajak Narcissa lembut. Namun Draco masih belum beranjak dari tempatnya.

"Aku mengajak seseorang malam ini.", kata Draco.

"Astoria?", tanya Narcissa.

"Bukan."

"Lalu siapa?", kali ini suara dingin Lucius yang terdengar. Draco menghela napas.

"Hermione Granger.", dan saat itu juga Hermione muncul dari balik punggung Draco. Berusaha tersenyum kepada dua Malfoy Senior meskipun ia merasa gugup bukan main. Telapak tangannya mulai mengeluarkan keringat dingin. Tapi tangan Draco menggenggamnya erat seolah berkata jangan takut.

"Miss Granger?", kembali suara lembut Narcissa yang terdengar. Walaupun tak dapat menyembunyikan nada terkejut disana. Ekpresi Lucius begitu dingin.

"Iya, Mom.", Draco melangkah menuju meja makan dengan tetap menggandeng Hermione. Menarik satu kursi untuk Hermione dan kemudian ia pun duduk di kursinya sendiri.

"Jelaskan maksudmu membawa mud- Miss Granger kesini, Draco!", Lucius hampir saja menyebut Hermione dengan sebutan mudblood lagi. Tapi ia ingat gadis itu salah satu sahabat Harry Potter, sang pahlawan sihir. Jika bukan karena Harry, tentu dia dan keluarganya akan berakhir di Azkaban.

"Aku sudah berpisah dengan Astoria, Dad. Dan sekarang aku bersama Hermione.", Draco menjawab dengan dingin dan datar. Sama persis dengan intonasi suara Lucius saat berbicara.

"Ap-Apa maksudmu, Sayang?", Narcissa tampak bingung dan heran.

"Ya, Mom. Aku sudah putus dengan Astoria." Draco menjawab pertanyaan ibunya dengan jemari Hermione tetap dalam genggamannya. Ia membutuhkannya. Seolah tanpa Hermione di sisinya ia tak sanggup menghadapi ayah dan ibunya. Hermione sedari tadi diam mendengarkan dengan hati berdebar. Menanti kemungkinan apa yang akan terjadi dalam pertemuan ini.

"Kau tidak bisa seenaknya memutuskan hubungan dengan Astoria, Son. Tidak disaat kami dan keluarga Greengrass mulai mendiskusikan tentang pertunanganmu.", Lucius angkat bicara dan masih tetap dengan intonasi datar dan dinginnya.

"Tapi, Astoria menerima keputusanku, Dad.", bantah Draco, "Dia merelakanku pergi." lanjutnya.

"Dan kau lebih memilih muggle-born ketimbang pureblood?", sindir Lucius. Hermione merasa agak tersinggung. Seharusnya ia sudah tahu bahwa Lucius pasti akan berkata seperti itu. Tapi ia tetap diam saja. Bukan kapasitasnya untuk bicara saat ini.

"Persetan dengan status darah! Aku mencintainya, Dad. Aku mencintai Hermione."

"Jaga ucapanmu, Son! ", bentak Lucius. Ia tak terima putranya mengumpat di depannya demi membela seorang penyihir muggle-born, "Dan aku yakin maksud kedatanganmu malam ini adalah meminta restu dari kami untuk menjalin dengan Miss Granger, bukan?", lanjut Lucius.

"Ya, Dad. Aku meminta restumu dan Mom. Aku ingin menjalin hubungan serius dengan Hermione.", Draco menatap ayahnya yang mendengus tak senang.

"Jangan harap aku memberikan restuku untukmu jika kau memilih penyihir muggle-born seperti dia.", Lucius menunjuk tajam ke arah Hermione dan membuat gadis itu terkesiap, "Kau tidak akan kubiarkan mengotori silsilah keluarga kita dengan menjalin hubungan dengan darah lumpur sepertinya!",lanjut Lucius, mendesis murka. Emosi Draco mulai terpancing. Tapi sebelum Draco meneriakkan kemarahan pada ayahnya, suara lain lebih dulu menyelanya.

"CUKUP! Iya, aku memang darah lumpur. Dan kupastikan aku tidak akan mengotori silsilah keluargamu, Mr Malfoy. Terima kasih untuk waktu yang menyenangkan disini. Selamat tinggal.", Hermione bangkit dari duduknya. Merasa begitu terhina. Ia sadar tak seharusnya ia menjalin hubungan dengan Draco. Seharusnya sedari awal ia menyadari kalau keluarga Draco tak akan pernah menerimanya meskipun status darah tak lagi dipermasalahkan. Ia melangkah menuju pintu keluar. Tak mempedulikan teriakan Draco memanggil namanya.

"HERMIONE!", panggil Draco. Tapi gadis itu tak menoleh. Ia berpaling pada ayahnya.

"Dad! Kau sungguh keterlaluan! Bisa-bisanya kau masih terus mempermasalahkan soal status darah saat ini. Kau tahu, aku sudah muak mematuhi segala perintahmu! Aku sudah dewasa dan aku berhak menentukan pilihanku. Kau tak bisa membuat hidupku lebih menderita lagi setelah Voldemort tewas di tangan Potter.", Draco mengeluarkan segenap emosinya.

"Draco sayang...", suara lembut Narcissa yang menahan tangis terdengar. Ia sedih melihat suami dan putranya bertengkar.

"Maafkan aku, Mom. Tapi aku berhak mendapatkan kebahagiaanku. Aku mencintainya,Mom."

"Aku tak akan pernah mau mengakui kau sebagai anakku lagi jika kau tetap memilihnya, Draco Lucius Malfoy!", ancam Lucius. Draco tersenyum masam.

"Baik. Silahkan tak mengakuiku sebagai anakmu. Aku juga sudah muak dengan segala macam perintahmu.", jawab Draco. Kemudian ia berpaling pada ibunya.

"Mom, aku harus pergi. Aku harus mengejarnya. Dialah kebahagiaanku.", Narcissa meneteskan air mata dan menyentuh lembut pipi Draco. Ia mengangguk dalam diam. Draco tahu ibunya sudah memberikan restu. Itu sudah cukup baginya. Segera ia berlari mengejar Hermione. Tak menghiraukan ayah dan ibunya berargumen di belakangnya.

"HERMIONE!", seru Draco segera menggapai tangan Hermione tepat disaat gadis itu akan berapparate meninggalkan halaman Manor. Gadis itu menoleh. Air mata menggenang di matanya. Ia berusaha melepaskan pegangan Draco.

"Lepaskan aku.", pinta Hermione lirih menahan air matanya agar tidak jatuh.

"Tidak! Aku tak akan melepaskanmu."

"Seharusnya aku sadar sejak awal bahwa orang tuamu tak akan pernah bisa menerima jika kau menjalin hubungan dengan mudblood sepertiku.", tangis Hermione pecah. Draco merengkuhnya.

"Ssstt...jangan pernah menyebut dirimu sendiri dengan kata itu lagi. Dan aku koreksi, hanya ayahku yang tidak merestui kita. Ibuku sudah memberikan restunya dan itu sudah cukup bagiku. Aku tak peduli tentang apa kata ayahku atau apapun yang akan dilakukannya. Dia tak berhak mengatur hidupku sesuai kemauannya lagi."

"Aku hanya akan mengotori silsilah keluarga darah murnimu, Draco."

"Tidak. Jangan ungkit soal status darah lagi. Cukup. Aku sudah muak. Aku hanya ingin kau. Hanya bersamamu.", Draco menangkup pipi Hermione. Menyusut kristal bening yang meleleh disana.

"Tidak seharusnya kita bersama, Draco."

"Cukup, Hermione! Aku tak ingin mendengar kau membantah lagi. AKU MENCINTAIMU.", dan bibir Draco pun mengklaim bibir Hermione sebagai miliknya.

.

.

.

.

To be continued...

.

.

.

.

Yeah, akhirnya selesai juga Chapter 5. Jumlah words-nya udah dipanjangin nih. Semoga chapter ini cukup memuaskan kalian yang request perasan lemonnya dibanyakin,hehehe. :D. Untuk balasan reviewnya di next chapter yaa... saya cukup ngebut untuk nerusin chapter ini di sela-sela kesibukan sebagai new mommy ,agar readers tidak bertambah lama rasa penasarannya... :D Mohon reviewnya di chapter 5 ini yaa... Thanks before and after.

.

.

.

.

Vy Clearwater