THE GIFT

.

.

.

.

.

All Characters Belongs To J.

.

.

Pair : Draco Malfoy X Hermione Granger

( 7 tahun setelah kejatuhan Voldemort )

WARNING : EYD berantakan, typos everywhere, alur kecepetan, OOC, geje. My First Fic.

.

.

"Tidak seharusnya kita bersama, Draco."

"Cukup, Hermione! Aku tak ingin mendengar kau membantah lagi. AKU MENCINTAIMU."

.

.

Chapter 6

Sinar matahari menerobos masuk melalui celah jendela di kamar Hermione. Gadis itu menggeliat di balik selimutnya. Memicingkan manik cokelat madunya. Ia menoleh ke arah nakas di samping tempat tidurnya. Jam menunjukkan pukul tujuh pagi. Ia mengerjap-ngerjapkan matanya beberapa saat. Ia bangkit dari tidurnya dan meregangkan tangannya. Sesaat pikirannya menerawang kembali kejadian saat ia dan Draco hendak makan malam bersama Malfoy senior yang berujung dengan penolakan Lucius. Hermione menghela napas. Ia merasa hubungan yang dijalinnya dengan Draco begitu berat. Perbedaan status diantara keduanya seakan menjadi jurang. Hermione menggelengkan kepalanya untuk mengusir pikirannya tentang hal itu dan kemudian memilih untuk melangkah ke kamar mandi.

.

.

.

.

.

oOo

Zabini Mansion

Pemuda berkulit eksotis itu tengah bergelung di ranjangnya dengan seorang gadis ketika Draco dan Theo tiba-tiba menerobos masuk ke kamarnya.

"Zabini! Cepat angkat bokongmu dari tempat tidurmu sekarang juga!", Draco menginterupsi tidur Blaise dengan nada menuntut. Gadis dalam dekapan Blaise menjerit seketika. Ia menarik selimut dengan cepat untuk menutupi tubuhnya. Blaise membuka matanya perlahan. Ia melirik gadis disampingnya yang menatap takut-takut pada Draco. Sedangkan Theo hanya menyeringai.

"Pulanglah. Aku akan menemuimu lagi nanti.", ujar Blaise kemudian mencium cepat bibir gadis itu. Setelah gadis itu selesai berganti baju di kamar mandi dan keluar dari kamarnya, Blaise menoleh kembali pada dua orang yang telah mengganggu paginya.

"Terima kasih sudah mengganggu pagi indahku dan membuatku kehilangan morning sex-ku", ujar Blaise dengan nada sarkastik. Theo lagi-lagi hanya menyeringai mendengar perkataan Blaise. Sedangkan Draco bersandar pada dinding kamar Blaise sambil menyilangkan tangan di dada. Blaise menaikkan sebelah alisnya. "Ada apa?", ia bertanya pada Draco. Tepat ketika Draco membuka mulutnya untuk menjawab pertanyaan Blaise, Theo lebih dulu menjawabnya.

"Draco sedang dalam masalah.", jawab Theo sambil menyeringai. Blaise mengernyit. Ia bangkit dari ranjang dan memakai cepat bajunya.

"Ceritakan.", ucap Blaise singkat setelah selesai memakai bajunya. Draco menghela napas sejenak.

"Ayahku.",jawab Draco singkat.

"Ada apa dengan ayahmu?"

"Ia tak menyetujui hubunganku dengan Granger."

"WHAT?!", seru Blaise terkejut. Mulutnya menganga ketika Draco menyebut nama Granger. Theo langsung terbahak-bahak melihat ekpresi Blaise.

"Berhenti tertawa,Nott!", desis Draco. Blaise melempar bantalnya tepat di wajah Theo dan pemuda itu langsung menghentikan tawanya.

"Sorry, mate! Aku tak bisa menahan tawaku ketika melihat ekspresi Blaise.",Theo meringis.

"Lanjutkan, Draco!", Blaise meminta Draco melanjutkan ceritanya. Draco pun mulai melanjutkan ceritanya. Ia menceritakan mulai awal hingga saat ayahnya menolak hubungannya. Blaise menggelengkan kepalanya ketika Draco sudah selesai bercerita.

"Unbelieveable. Kurasa Salazar dan Godric baru saja bangkit dari kubur dan tersenyum melihat kau bersama Granger.", ujar Blaise dengan nada tak percaya. Draco hanya mendengus. Theo beranjak mendekati meja di salah sudut kamar Blaise.

"Fire-Whiskey, mate?", tawar Theo sambil mengangkat sebotol Fire-Whiskey.

"Nott, jika aku tak salah ingat ini masih rumahku.", sindir Blaise. Theo hanya tertawa dan menuangkan isi dari botol yang dipegangnya ke dalam 1 sloki dan menenggaknya cepat.

"Masih terlalu pagi untuk fire-whiskey, Theo.", ujar Draco. Theo hanya menyeringai dan mengedikkan bahu.

"Jadi, Blaise, apa saranmu untuk masalah Draco?",Theo bertanya pada Blaise. Draco menaikkan sebelah alisnya. Blaise tampak berpikir sejenak.

"Well, aku ada sebuah ide. Tapi mungkin ini sedikit gila.", Blaise menyeringai. Draco merasa mendapat firasat buruk melihatnya.

"Apa?", tanya Theo dan Draco bebarengan. Blaise menjentikkan jarinya.

"Hamili saja Granger. Kurasa ayahmu mungkin akan luluh dengan hadirnya seorang cucu.", Draco dan Theo menjitak kepala Blaise secara bersamaan. "APA-APAAN KALIAN?!", Blaise berteriak sambil mengelus kepalanya yang terasa sedikit benjol.

"KAU GILA! AKU BELUM SIAP UNTUK PUNYA ANAK!", bentak Draco. Blaise menutup telinganya.

"Aku kan sudah katakan kalau ideku sedikit gila.", Blaise mendengus. Theo hanya menggelengkan kepalanya.

"Lagipula, Granger masih perawan. Kurasa tak semudah itu Draco bisa membuatnya mau dihamili.", ujar Theo sambil lalu. Draco mendelik pada Theo.

"Dari mana kau tahu dia masih perawan?!", tanya Draco dengan nada menuntut penjelasan. Theo tergagap sesaat.

"Err—Well, aku sebenarnya pernah tak sengaja bertemu dengannya di Florean Fortescue. Dan dia menceritakan tentangmu. Saat itu ia masih ragu padamu ketika mengetahui hubunganmu dan Astoria telah cukup jauh. Dan ketika aku mengatakan bahwa hal seperti itu merupakan hal yang wajar dalam sebuah hubungan berpacaran, dia terlihat risih. Dan aku langsung bisa menebak bahwa selama ini dia masih perawan.", jelas Theo panjang lebar. Blaise membulatkan matanya tak percaya. Draco hanya diam tanpa ekspresi.

"Bahkan dengan Weasley pun tidak?", tanya Blaise tak percaya. Theo dan Draco bersamaan menggelengkan kepala. Blaise menepuk dahinya dan menoleh pada Draco. "Kau bajingan yang beruntung jika bisa mendapatkannya,mate!". Draco menyeringai lebar mendengar ucapan Blaise.

"Maka dari itu, kalian berdua...", Draco menunjuk ke arah Blaise dan Theo, "...harus membantuku menemukan cara agar ayahku mau merestuiku. Ibuku telah menyetujuinya. Dan sebenarnya aku tak peduli dengan restu ayahku. Hanya saja aku tak ingin melihat kesedihan ibuku karena ayahku tak memberikan restunya." Theo dan Blaise saling berpandangan.

"Sudahlah, lakukan saja ideku tadi.", celetuk Blaise yang langsung disambut jitakan Theo di kepalanya sekali lagi. Blaise merengut kesal. Draco hanya mendengus melihat kelakuan dua sahabatnya itu.

"Aku lapar. Peri rumahmu masak apa hari ini?", tanya Theo tiba-tiba.

"Entahlah. Kenapa kau tidak turun saja ke ruang makan dan melihatnya sendiri.", jawab Blaise.

"Oke.", sahut Theo singkat dan melenggang keluar dari kamar Blaise diikuti Draco di belakangnya. Blaise sendiri bergegas ke kamar mandi.

.

.

.

oOo

Daily Prophet Office

Hermione sibuk mengedit artikel berita yang akan menjadi headline esok pagi. Jabatannya sebagai kepala editor terkadang membuatnya harus lembur. Seperti malam ini. Setelah sebelumnya memeriksa pekerjaan staf bawahannya, kini ia memutuskan untuk turun tangan sendiri mengerjakan tugasnya. Ia ingin artikel yang menjadi headline news besok sempurna. Di tengah – tengah kesibukannya mengetik tiba-tiba ia dikejutkan oleh sebuah suara yang menginterupsinya.

"Kurasa ini sudah bukan lagi jam kerja, Miss Granger." , Hermione terkejut dan menengadahkan kepalanya.

"Draco?", tanyanya dengan nada terkejut. Gadis itu benar-benar tak menyangka Draco Malfoy muncul di hadapannya saat ini.

"Tak perlu terkejut seperti itu.", Draco beringsut ke sisi kursi Hermione, "Ayo, pulang.", ujar pemuda berambut pirang platina itu sambil menggenggam pergelangan tangan Hermione.

"Ta-tapi... Tunggu, pekerjaanku belum beres.", sergah Hermione sambil menarik kembali tangannya dari Draco. Ia mulai membereskan sisa-sisa pekerjaannya yang masih berserakan di atas mejanya.

"Cepatlah. Aku tak suka menunggu." Ujar Draco dengan nada datar yang khas. Hermione memutar matanya dengan bosan. "Jangan memutar mata padaku, Granger." Gadis itu mendengus.

"Selesai." Hermione selesai memasukkan perkamen terakhir ke dalam tasnya dan bersiap mengenakan mantelnya. Draco meliriknya sesaat lalu beranjak menuju ke pintu tanpa suara. Hermione mengikuti dibelakangnya. Mereka pun meninggalkan tempat itu. Sesampainya di luar gedung, Hermione menoleh pada Draco dan bertanya, "Kita akan kemana?"

"Apartemenku.", jawab Draco singkat dan langsung menggamit lengan Hermione tanpa memberi kesempatan gadis itu untuk menjawab dan langsung ber-apparate menuju ke tempat yang dituju.

.

.

.

PLOP!. Mereka muncul tepat di depat pintu apartemen Draco. Hermione langsung membebaskan diri dari pegangan Draco. "Mengapa kita harus kesini?", tanya gadis itu sambil berkacak pinggang. Raut wajahnya menampakkan kekesalan pada pemuda dihadapannya itu. Draco hanya menyeringai melihat ekspresi Hermione. Ia tidak menjawab pertanyaan gadis itu dan merogoh saku mantelnya untuk mengambil kunci apartemen dan membuka pintunya. Ia meraih pinggang gadis itu dan menariknya untuk mendekat ke arahnya.

"Karena aku merindukanmu.", ucap Draco sambil mengecup pelan bibir Hermione. Ia masih mencium Hermione dan menendang pintu hingga terbuka. Hermione yang awalnya terkejut dengan ciuman Draco yang tiba-tiba akhirnya terbuai juga dan mengalungkan kedua lengannya di leher pemuda itu. Draco menyeringai sesaat dalam ciuman mereka. Ia mendorong pintu agar tertutup dengan kakinya lagi.

"I will never get enough of this", Draco melepas ciumannya sesaat dan membelai bibir Hermione dengan ibu jarinya. Hermione menahan senyum dengan pipi yang bersemu merah.

"Mungkin aku sudah gila saat ini, tapi Draco, aku ..."

"Ssstt...", Draco menahan Hermione melanjutkan kalimatnya dengan telunjuknya, "Jangan bicara lagi." Detik berikutnya Draco mengangkat pinggul Hermione dan mendorongnya ke dinding. Gadis itu memekik tertahan. Draco kembali menyeringai dan memposisikan tubuhnya diantara kaki Hermione yang kini melingkar di tubuhnya. "Kau bisa rasakan itu? Kau memang menggairahkan...", Draco kembali melumat bibir Hermione, kali ini lebih ganas. Hermione melenguh tertahan saat merasakan ciuman Draco yang selalu bergairah. Tangan Draco yang awalnya di pinggang Hermione mulai merambat naik dan membuka kancing mantel gadis itu. Hermione menarik napas cepat dan mencengkeram bahu Draco.

"Relax, dear...", Draco berbisik dalam ciuman mereka saat merasakan cengkeraman Hermione di bahunya dan kembali melanjutkan aksinya.

"Uhhmm... Draco..", desah pelan Hermione terdengar menggema di apartemen itu. Tangan Draco sudah berhasil membuka kancing mantel Hermione dan kini ia tengah berusaha membuka kancing kemeja gadis itu. Ciumannya kini turun ke leher Hermione dan membuat gadis itu menengadahkan kepalanya dengan mata terpejam. Seolah-olah memberikan akses yang lebih lagi pada Draco. Sesaat Draco meremas dada Hermione dan membuat gadis itu semakin mengeratkan kakinya yang melingkar di tubuh Draco.

"Draco... mmhhh...", Hermione kembali mendesah menahan nikmat akan aksi Draco yang tak bisa dicegahnya. Karena dalam hati ia juga menginginkannya. Tangan Draco menyusup ke balik kemeja Hermione dan menemukan apa yang dicarinya. Ia mulai mempermainkan puncak dada gadis itu dan membuat Hermione semakin blingsatan menahan gairah.

"Draco?!", suara Astoria menghentikan kegiatan Draco dan Hermione. Ia muncul dari balik pintu kamar Draco dengan hanya berselimutkan selimut Draco. Hermione terkejut bukan main dan langsung menurunkan kakinya. Ia memandang marah pada Draco dan cepat-cepat mengancingkan kembali kemejanya.

PLAK! Sebuah tamparan keras dari Hermione mendarat di pipi kiri Draco. Gadis bersurai cokelat itu menyipitkan mata memandang Astoria yang kini tersenyum licik penuh kemenangan dan langsung berbalik meninggalkan apartemen itu. Draco yang belum habis keterkejutannya akan kehadiran Astoria disana berusaha menahan sakit akibat tamparan Hermione. Ia menoleh ke arah Astoria. "KAU!" tuding Draco marah pada Astoria yang hanya disambut dengan senyuman. Ia lupa jika gadis itu masih memiliki duplikat kunci apartemennya. Astoria mendekat ke arah Draco.

"Ayolah, aku tahu kau butuh pelepasan, Sayang. Aku bisa menyelesaikannya untukmu", Astoria bergelayut mesra di lengan Draco. Draco menatap benci pada gadis itu dan menghempaskan lengannya. Ia keluar dari apartemennya tanpa bicara lagi dan bermaksud menyusul Hermione. Sedangkan Astoria masih tinggal disana menatap kepergian Draco dengan senyuman licik.

"Kau tak bisa semudah itu lepas dariku, Draco Malfoy..."

.

.

.

[ To be continued ]

.

.

.

.

Haaaiiiiii... Maafkan saya karena telat mengupdate cerita ini _ kesibukan saya di kantor dan di rumah sebagai ibu membuat saya hampir tak ada waktu untuk melanjutkan. Mohon kritik dan sarannya untuk Chapter 6 ini. Maaf jika terlalu pendek. Jeda waktu 1 tahun dari chapter 5 membuat chapter 6 ini mungkin sedikit membingungkan.. Sekali lagi maafkan... dan terima kasih untuk yang sudah membaca dan review. Minta reviewnya lagi untuk chapter 6 ini. ^^

Thank you...

.

.

.

Vy Clearwater