Coffe, love, tea,
Semua bisa saja berganti setiap saat, termasuk rasa cinta atau kesediahan. Coffe bisa berganti dengan teh untuk menu sarapan pagi. Roti bisa berganti dengan pie. Tapi kibum belum tentu bisa berganti dengan yang lain tanpa menyoba pun siwon tahu, dia terlalu takut untuk melakukannnya. Siwon merapikan tumpukkan kertas yang sejak tadi pagi memenuhi meja kerjanya. Dia sudah terbiasa untuk melakukan tugas sebagai karyawan di kantor appanya. Appanya pernah bilang ini untuk menjadi awal agar siwon memahami cara bekerja. Awalnya terasa menarik pada akhirnya malah menjadi sedikit beban untuknya.
Siwon merenggangkan otot-ototnya perlahan saat pintu ruangannya terbuka. Eommanya disana, berjalan masuk lalu duduk didepan meja siwon dengan elegan, wanita yang menjadi satu-satunya yang siwon puja sepanjang hidup. "Kenapa eomma kemari?"
"Ani, Cuma ingin saja. Punya waktu tidak untuk eomma?"
"Heh?" Tanya siwon tanpa minat.
"Eomma ingin berbelanja tapi tidak enak jika sendirian, wonnie bisa menemani?"
"Sebentar eomma. Aku harus membereskan kekacauan ini dulu." Siwon mulai mematikan computer dan merapikam semua kertas yang berserakan, mengumpulkannya menjadi satu bagian dan menyusunnya dengan rapi diatas meja kerjanya. Setelah semuanya terlihat sedikit lebih rapi, siwon mengambil tasnya yang tadi diletakkannya menggantung dibalik kursi, memakainya, lalu berjalan menuju eommanya. "Kajja, eomma." Siwon membiarkan eommanya merangkul tangannya, seperti seorang pangeran yang menggandeng tangan sang putri itu lah yang siwon rasakan.
Siwon mengikuti dengan patuh kemana saja eommanya berjalan dari satu toko ke toko lain, membawa paperbag ditangan kirinya dan tangan kanan yang dirangkul eommanya. Memberikan kometar jika ditanya, memasang senyum ramah tamahnya, dan memperhatikan setiap gerakan eommanya. Ia hanya tidak ingin terjadi sesuatu disana. "Kenapa berbelanja seperti ini. Eomma sedang kesal?" Siwon hanya mengira-ngira saja, setelah meletakkan tumpukkan paperbag pada kursi yang kosong dan menyusun rapi disampingnya. Memesan makanan karena tenaganya sudah habis terkuras dan duduk dengan nyaman.
"Hanya bosan jadi berbelanja dan hanya ingin berjalan-jalan dengan anak eomma yang kini sudah tumbuh dengan baik." Mrs. Choi masih ingat dengan jelas bagaimana siwon kecilnya merengek untuk sebuah mainan, menangis untuk sebuah hal kecil, tertawa riang karena diajak pergi, atau merajuk ketika keinginannya tidak terpenuhi tapi kini anak kecilnya itu sudah berubah menjadi pria dewasa, namun bagi Mrs. Choi siwon tetaplah anak kecil yang selalu merengek setiap saat dan selalu menjadi kesayangannya.
Siwon menunjukkan wajah sedikit bingung, "Biasanya eomma selalu pergi dengan teman-teman eomma atau appa."
"Apa jika ingin pergi dengan anak eomma harus menentukan jadwal dan memberitahukannya lebih dahulu?" Mrs. Choi ingin sekali memukul kepala siwon sekarang. "Eomma hanya merasa wonnie sedikit menjauh mungkin karena sikap appa atau karena seseorang yang eomma dengar jika anak eomma ini sangat memujanya."
"Bukankah, sudah pernah ku katakan jika eomma tidak perlu membuatku menemukan siapa yang ku suka tapi eomma langsung mengirimkan siapa namanya aku lupa." Bukan lupa siwon hanya tidak ingin mengingatnya sama sekali. "Aku sama sekali tidak cocok dengannya."
Mrs. Choi tidak marah, ia hanya ingin yang terbaik untuk anaknya, ingin siwon memiliki seseorang yang memang terlihat pantas untuknya dan eunhye terlihat sempurna dengan siwon. "Eunhye,wonnie. Kau hanya tidak ingin mengingatnya wonnie bukan sengaja melupakan namanya." Siwon tersenyum kecil mendengar perkataan eommanya. "Cobalah untuk lebih dekat dengannya."
"Akan ku usahakan eomma tapi tidak janji ini akan menjadi lebih baik." Setelah ini siwon harus berbicara dengan kibum. Seharusnya mereka berdua bertemu lebih sering dan kenapa masa libur harus dihabiskan dengan tumpukkan pekerjaan di kantor yang membosankan.
Mrs. Choi mengucapkan terima kasih saat makanan yang mereka pesan telah terhidang di meja, menghirup sedikit anggurnya dan meminumnya perlahan sebelum mulai memakan daging steak yang terlihat begitu menarik dimata. Di dalam keluarga, choi siwon terbiasa dengan makan perlahan dan tanpa suara sementara jika dengan kibum siwon merasa menjadi lebih baik karena bisa melakukan hal-hal yang tidak pernah dilakukannya dirumah. "Eomma dengar dari appa wonnie memiliki seseorang yang wonnie sukai. Boleh eomma tahu bagaimana orang yang wonnie sukai itu?" Tanya Mrs. Choi setelah menyelesaikan makan siangnya.
Siwon meletakkan peralatan makannya, kemudian meminum air putih perlahan dan meletakkan gelas kosong diatas mejanya. "Jika eomma berhenti menjodohkan ku dengan eunhye aku mungkin akan mengenalkannya dengan eomma, jika tidak aku hanya akan menyimpannya untukku sendiri."
Mrs. Choi memasang senyum diwajahnya. "Eomma bisa mencarinya sendiri."
"Ha… Terserah." Jawab siwon cuek. "Lakukan semua yang eomma suka tapi jangan menganggunya, eomma."
-O.o-
Kibum merapikan semua berkasnya dan memasukkan kertas-kertas itu perlahan kedalam tasnya yang berwarna hitam. Meletakkan tali tas pada bahunya setelah memasang kembali sweeter yang menutupi kemeja putih dengan bentuk garis-garis disana. Semua aplikasinya sudah selesai, setelah lulus kibum bisa langsung pindah ke London. Rasanya begitu susah mengurus semuanya termasuk mengurus rumah yang harus kibum tepati selama di London.
Kibum mengenggam kopi panas ditangan kananya dan roti kecil pada tangan satunya lagi, berjalan pelan, dan memperhatikan sekelilingnya. 'Apa yang sedang siwon lakukan? Aku meridukannya.' Pikir kibum.
Mungkin kibum akan menumpahkan kopinya jika ia benar-benar melamun sepanjang kakinya melangkah, tapi seharusnya bukan kibum yang harus khawatir jika kopi itu terlepas dari genggaman tangannya dan mengenai sosok yang ada didepannya, kibum sama sekali tidak perduli. "Kau kibum kan?"
Kibum bisa melihat kedua mata itu seperti bersinar ketika melihatnya tapi ntah bagaimana rasanya sungguh menganggu untuk kibum dan kibum bukanlah sosok yang terlalu bisa menyembunyikan ketidaksukaannya terhadap sesuatu. "Ehm.." Jawab kibum tanpa minat dengan anggukan.
"Perkenalkan aku eunhye."
"Kau tunangan siwon itu,ya?"
"Ya, kau benar sekali." Ada rasa senang disana saat eunhye tahu jika kibum memperhatikannya dan mengingat dirinya sebagai tunangan siwon sedangkan kibum sendiri memiliki status sebagai kekasih siwon.
Kibum melangkah kan kakinya dengan langkah kecil, sama sekali tidak perduli jika eunhye mengikutinya atau tidak sama sekali. Tapi sayangnya eunhye mengikutinya sekarang dan wanita itu berjalan disamping kibum dengan santainya. "Apa yang kau inginkan?" Tanya kibum dengan pandangan lurus ke depan.
"Hanya ingin mengenalmu."
"Aku tidak tertarik mengenalmu."
"Tapi aku tertarik denganmu, aku tertarik untuk mengetahui apa yang membuat siwon oppa memujamu sampai seperti itu." Eunhye tersenyum.
Kibum menghentikan langkahnya dan memandang eunhye, "Kau bisa bertanya hal itu pada siwon. Jangan sangkut pautkan aku dengan dirimu atau pun dengan masalah siwon. Aku sama sekali tidak tertarik."
Eunhye menarik lengan kibum saat kibum ingin meninggalkannya. "Jika kau tidak tertarik sama sekali, kenapa kau selalu seperti memonopoli siwon oppa untuk dirimu sendiri?"
"Kenapa kau tidak tanyakan sendiri pada siwon. Tanyakan padanya kenapa dia mau ku monopoli sendiri dan menjadi pemuja ku yang setia?" Kibum menghela napasnya. Berbicara dengan wania ini menguras emosinya ditambah ia lelah beberapa hari mengurus semuanya sendirian.
"Kau sungguh egois, kim kibum."
Kibum tersenyum meremehkan. "Thanks, kau terlalu lama untuk mengetahuinya. Lain kali, cobalah untuk lebih cepat dan lebih pintarlah sedikit. Jangan lamban dan berhentilah mengejarnya, kau hanya menghabiskan waktumu untuk hal yang takkan pernah kau dapat, eunhye."
"Jika aku tidak bisa memilikinya kau juga tidak bisa. Akan ku pastikan itu." Eunhye kesal hingga wajahnya memerah menahan amarah yang sudah sampai ke ubun-ubun.
"Aku juga akan memastikan, jika dia tidak akan memandangmu walau satu milisenti sekalipun!" Kibum selalu melakukan setiap hal yang pernah diucapkannya dia buka pria dengan seribu kata dan nol perbuatan. "Kau menyebalkan." Itu kata terakhir yang kibum katakan sebelum meninggalkan eunhye yang sama kesalnya dengan kibum.
"Kau lebih menyebalkan, kim kibum!"
-O.o-
Ujian bukanlah suatu hal yang membuat kita untuk lebih rajin belajar tetapi ujian merupakan hal yang membuat kita untuk lebih giat dari hari-hari biasa. Kibum memiringkan wajahnya dari buku yang sejak tadi menjadi hal yang menarik darinya setalah sepiring spagethi buatan siwon diatas meja makan yang kini sudah kosong. Kibum bisa melihat siwon yang sedang asik memutar-mutarkan jarinya diatas smartphonenya. Siwon tidak pernah belajar namun selalu unggulan dan itu membuat kibum kesal karena dia harus belajar lebih dari siwon. Dia tidak bodoh hanya saja terlalu malas untuk lebih mengasah isi kepalanya.
Siwon memperhatikan kibum dari ujung matanya, dia tidak pernah tahu kenapa tapi bersama dengan kibum seperti sebuah hal yang menjadi kebutuhan tersendiri. Walaupun, mungkin saja ia akan menyetujuin ayahnya untuk menikah dengan wanita yang mereka jodohkan tapi hal itu tidak akan membuatnya untuk meninggalkan kibum. Dengan atau tanpa apapun dia mungkin akan menjadi pria bodoh yang rela menaruhkan semuanya untuk pria lain dan bodohnya lagi ia akan berjuang untuk menjadi penopang bagi orang yang dicintainya. "Ada yang ingin kau katakan padaku,bummie?" Siwon meletakkan smartphonenya diatas meja dan memilih untuk mulai memperhatikan kibum secara terang-terangan. "Atau ada soal yang tidak dimengerti?"
Kibum menutup bukunya, menyampingkan buku ini disisi kirinya. Lupakan soal belajar toh akhirnya dia tidak mungkin tidak bisa menjawab soal-soalnnya nanti. "Apa eunhye lebih menarik dari aku?" Shit, kibum ingin sekali mengubur dirinya sekarang juga. Kenapa kata-kata itu yang keluar dari kedua bibirnya.
"Apa perlu membahas hal ini?" Siwon memasukkan smartphonenya kedalam saku lalu perbindah tempat duduk menjadi disamping kibum. Selama ini mereka berdua tidak pernah membahas tentang eunhye, maksudnya masalah tentang eunhye adalah masalah paling terakhir yang harus mereka bahas dari segala banyak hal bermasalah didunia ini. "Jangan berpikir yang tidak penting dan lagi walaupun mungkin ada seseorang diluar sana yang ribuan kali lebih darimu. Aku akan tetap seperti ini. Tetap sama dengan perasaan yang sama. Jadi jangan pikirkan hal-hal yang tidak penting."
"Terima kasih tapi aku tidak tertarik dengan rayuanmu, sayang." Kibum tersenyum menang. Menang karena apapun mereka tetap akan seperti ini.
Siwon mengantukan lengannya pada pundak kibum dan memaksa kibum untuk bersentuhan dengannya, menempelkan tubuh mereka berdua hingga menciptakan sengatan tersendiri untuk masing-masing. Bukankah mereka sering tidur bersama maksudnya hanya tidur dan berpelukan tapi kenapa hal seperti ini selalu memberikan kesan tersendiri. "Aku tidak mencoba untuk merayu. Aku hanya mengatakan apa yang menjadi fakta dan lagi aku sudah memikirkannya dengan baik."
"Maksudnya?"
Siwon menghela napasnya. "Kau terlalu menggoda dan terlalu berkesan,kibummie."
"Aku tidak mengerti." Kibum memasang raut wajah bingung yang menggoda. Ayolah, setiap ekspresi terasa menggoda. "Ini membingungkan, wonnie."
Siwon suka saat kibum bermanja-manja padanya, merangkulnya, bahkan meminta segala hal pada siwon. Ada rasa bangga setiap kibum membutuhkannya melebihi eksitensi oranglain. "Jika kita sedang membahas eunhye sekarang seharusnya kau tahu kalau eunhye bukanlah saingan yang pantas untukmu. Mungkin jika suatu hari nanti kau melihat ku atau menemukan ku dengan keadaan yang menyakitkan hatimu, maka kembalilah disisiku dan tetap berada disana karena eunhye tidak akan pernah bisa mengantika seorang kim kibum."
"Kau tidak sedang berencana untuk berselingkuh atau untuk membuatku menjadi orang kesekian dalam hidupmu kan, siwonnie yang tampan?" Kibum memicingkan matanya, menatap siwon dengan pandangan membunuhnya yang terkesan lucu. Mereka mungkin sama-sama pria tapi kita tahu siapa yang lebih kuat disini dari segala sisinya.
"Itu hanya sebuah kemungkinan,bummie." Siwon memejamkan matanya sejenak dan membukanya kembali. "Kau juga berencana meninggalkan ku dan lagi segala hal bisa saja terjadi."
"Aku tidak meninggalkamu. Tidak secara langsung."
"Tapi pada akhirnya kau meninggalkanku."
"Tapi aku mengatakannya terlebih dahulu dan mengajakmu untuk ikut bersamaku."
"Tapi kau meninggalkanku sendiri."
"Terserah!" Kibum melepaskan tangan siwon yang sejak tadi mengukungnya. "Kalaupun aku meninggalkanmu, tapi aku tidak pernah sekalipun berpikir untuk mengantikanmu dengan oranglain." Kibum meninggalkan siwon, rasa kesalnya membuatnya menjadi menghentakan kakinya yang menimbukan bunyi pada lantai kayu, dan dengan kesal kibum membanting pintu kamarnya. Menenggelamkan dirinya dan menggulung tubuhnya dengan selimut. Ini pertama kalinya ia merasa bodoh, sakit, dan cemburu.
Siwon tidak datang. Kibum berharap pintu itu akan berdenyit menimbulkan suara yang menandakan siwon akan datang untuk membujukknya tapi setelah sekian lama, sama sekali tidak ada tanda jika siwon akan membujukkanya dan ini lebih mengesalkan lagi.
Sementara siwon hanya menyamankan dirinya diatas sofa dengan televisi yang memutar kan sebuah film yang sama sekali tidak menarik untuk siwon. Rasanya kepalanya mau pecah jika mamikirkan kibum, eunhye, pacar, calon tunangan, dan begitu banyak yang lainnya saling bertumpukkan satu sama lain. Jika kibum itu seorang wanita siwon akan memilih cara untuk menghamili kibum untuk menganggalkan rencana penyatuan dua keluarga yang dikatakan pertungana ini. Tapi kibum saja sama seperti dirinya jadi siwon sama sekali belum milikirkan cara lain seperti kabur dari rumah atau menikahi eunhye dan juga menikahi kibum. Kalau dia menikah dengan eunhye mereka harus memiliki anak tapi siwon sendiri tidak nyakin jika ia mampu membuatnya dengan eunhye. Kalaupun harus dengan kibum sampai sepanjang hidupnya tidak akan ada anak yang akan mereka hasilkan. "Rumit." Siwon menarik napasnya panjang.
Kibum melepaskan selimutnya, berdiri dan keluar dari kamar. Kibum terbiasa jalan dengan diam dan tanpa suara. "Apa yang kau lakukan disini,wonnie?" kibum berdiri dibalik sofa yang siwon tempati. "Menghidari amukan." Jawab siwon sambil menyamankan posisinya dengan duduk disana.
-O.o-
