SIBUM
Siwon X Kibum
I dont have anything i just have the plot
Wellcome for all people...
.
.
.
Terima kasih semua yang telah meliat bakhan jika itu silent readers sekalipun
^^!
.
.
Selamat Menikmatin!
I dont know but dont look back...
Kibum duduk disamping siwon dan menghadap pada layar televisi walaupun tidak benar-benar fokus menonton. Siwon diam-diam mengikis jarak mereka dan menyadarkan tubuhnya pada tubuh mungil kibum. "Kau marah padaku, bummie?"
"Kalau aku bilang tidak. Apa kau percaya?"
"Tidak."
"Kalau begitu untuk apa bertanya?" Jawab kibum kesal. Masih ada rasa kecewa karena siwon lebih memilih tidur di sofa dari pada bergerak ke kamar untuk membuat kibum tenang, walaupun resikonya siwon akan dipukul kibum. "Pulang sana. Jangan setiap hari menginap disini."
Alis siwon bertaut satu sama lain mendengar untaian kata yang keluar kedua belah bibir dari kibum. Ini pertama kalinya kibum mengusirnya untuk pulang. Rasanya seperti terabaikan. "Kau mengusir ku?" Siwon membisikkan kata-katanya. "Mungkin." Balas kibum ketus.
Siwon bergerak dari posisinya dan kibum pikir dia sedikit kasar kali ini. Jika siwon benar-benar pergi. Mungkin saja, kibum akan menangis seperti orang bodoh sepanjang malam ini. Tapi siwon hanya berdiri dari duduknya ingin melangkahkan kaki. "Apa kau benar-benar ingin aku pergi seperti ini. Hanya karena eunhye?" Kakinya terpaku.
"Apa aku harus mengatakan dengan langsung padamu jangan pergi, jangan tinggalkan aku, tetap disini, lupakan dia, dan sebagainya. Baru kau mengerti!" Kibum menundukkan wajahnya. Kali ini egonya terbuang karena si bodoh ini.
Siwon tersenyum menang. Untuk kesekian kalinya dia tahu apa yang dipilihnya tidak pernah salah sedikitpun. "Tentu saja! Kau harus mengatakannya. Jika tidak bagaimana aku tahu apa yang kau inginkan. Aku bukan cenayang yang bisa membaca hati atau pikiran seseorang." Ingin sekali kibum menjintak kepala siwon dengan penuh rasa cinta tapi siwon malah memelukanya dengan erat. "Aku mencintaimu."
"Ya, aku tahu."
"Aku milikmu."
"Aku juga tahu itu."
"Terima kasih untuk mecintaiku kembali." Siwon mengerakkan lengan kanannya, membuat gerakan yang akhirnya mempersatukan kedua belah bibir mereka. Hanya sebuah ciuman yang tanpa satupun mencoba untuk mendominasi. Semua gerakan terasa seperti membakar, semua pola-pola yang terbentuk seperti memberikan sengatan yang mematikan. Helaan hapas terasa membunuh untuk satu sama lain. Tidak butuh pembuktian karena semua terasa begitu memiliki semesti apa yang ditakdirkan untuk satu sama lainnya.
Satu memacu dan satu lagi siap meledak seketika. Satu persatu berjatuhan karena terlepas dengan terburu-buru. Tenggelam. Kibum tenggelam dan siwon kehilangan akal. Kedua hanya mencari-cari mengikuti insting mereka masing-masing.
Salah satunya membuat tanda dan yang lain sibuk menikmati seperti sebuah kanvas putih yang terlukis. Saat tautan terlepas akan ada tanpa baru yang tercipta, berwarna merah dan akan menjadi ungu pada saat berikutnya. Saat tempat itu terasa begitu sempit, hal itu menjadi faktor pendukung untuk saling memiliki satu sama lain dan saling berusaha untuk tidak melepaskan. Ketika tautan itu terbentuk untuk pertama kalinya kedunya merasa saling memuja melebihi yang mereka rasakan selama ini. Diantara keduanya, salah satunya mancari dan yang lain mencapai titik tertingginya setiap bagain itu bertemu dengan sentuhan yang tepat.
"Hmm..." Suara itu seperti sebuah melodi dan setiap panggilan karena hentakkan terasa memabukkan penuh dengan pemujaan. Melodi terindah sepanjang ekstitensi kehidupan salah satunya. Kumpulan bintang-bintang itu kembali datang untuk kali ketiganya, terasa terdampar, penuh dan kosong seketika. Tidak ada kata-kata yang dapat menggambarkan.
Peluh mungkin memenuhi dan ujian di hari esok mungkin akan terasa membunuh tapi kali ini saja, keduanya hanya ingin membuktikan jika mereka akan saling memiliki untuk selamanya. Ketika salah satunya mendominasi permainan dan yang lain mencoba mengimbangi. Untuk setiap gerakan, rasa memiliki, bahkan kepuasan tersendiri untuk masing-masing, semuanya terasa seperti sebuah candu yang baru. Morfin yang akan selalu menjadi bentuk pembuktian atas kepemilikan dan dimiliki.
Siwon menarik T-shirtnya dan memakaikannya pada kibum setelah memakai boxernya dengan asal. Siwon kembali mengecup kibum untuk waktu yang lama sebelum membagi sebisa mungkin sofa kecil itu untuk mereka berdua. Tubuhnya terasa lengket dan lemas. Ini yang pertama dan akan menjadi sebuah kenangan yang indah selamanya. "Jika besok aku tidak bisa menjawab soal-soal itu dengan benar. Aku anak membunuhmu, choi siwon." Kata kibum setelah sesi panjang yang menguras seluruh tenagannya. Seluruh otaknya terisi oleh siwon dan itu membuatnya semakin kacau serta kecanduan.
Siwon tersenyum tampan. "Tidak bisakah setelah sesi panjang pembuktian itu kita terlihat lebih romantis lagi?"
"Jika besok adalah hari minggu mungkin bisa tapi besok kita ujian dan aku belum menyelesaikan pelajaranku." Kibum hanya mencoba untuk mengalihkan pikirannya dari tubuh siwon yang terlihat ribuan kali lebih sexy dengan peluh ditubuhnya. "Dan aku lelah."
Siwon mengambar pola-pola yang aneh di atas punggung kibum yang tertutup t-shirtnya berwarna abu-abu. Siwon berpikir seharusnya ia dan kibum mencoba hal ini dari dulu pasti hubungan mereka akan lebih baik lagi dan saling ketergantungan parah. "Kau ingin tidur dikamar?"
"Aku terlalu lelah bahkan hanya untuk mengerakan tangan." Kibum terlalu berlebihan kali ini. Ia hanya ingin bermanja-manja dan menggoda. "Dan ini karena mu."
"Tidurlah." Kata siwon dengan gerakkan lengannya yang kini berubah menjadi mengelus-ngelus punggung kibum. "Mengeluh tidak akan menghilangkan rasa lelah. Jika kau mengeluh lagi bummie aku akan membawamu ke kamar dan membuatmu terjaga sepanjang malam. Ini bukan sebuah ancaman, sayang."
Kibum mengeliat untuk menyamankan posisinya sebelum benar-benar mencoba untuk tidur. Siwon sendiri sudah mulai berjalan kealam mimpinya. Biar saja jika besok salah satu dari mereka akan terkena flu karena tidur tanpa selimut dan diruangan terbuka seperti ini atau jika sial keduanya akan sakit secara bersamaan.
-O.o-
Siwon memakai setelah jasnya, duduk dengan santai disalah satu restaurant ternama, tapi pikirannya melayang ntah kemana. Setahunya appanya mengatakan jika mereka akan makan malam bersama dengan kolegan appanya. Hanya saja makan malam ini seperti sebuah perjodohan karena eunhye lengkap dengan kedua orangtuanya sedang duduk bersama keluarga siwon di satu meja yang sama. Semua hanya berfokus pada eunhye. Apa yang unhye suka, apa yang menarik untuk eunhye, apa yang unhye inginkan jika menikah dengan siwon, dan siwon menjadi pihak yang terabaikan.
"Jadi apa yang akan kamu lakukan selanjutnya siwon jika studymu sudah selesai?" Tanya ayah eunhye dengan penuh minat. Sebagai seorang appa ia harus merasa harus tahu sejauh apa kemampuan calon menantunya.
"Saya ingin melanjutkan study saya ke london, selesai itu saya ingin mengembangkan perusahaan appa saya karena bagaimanapun hanya saya yang dimiliki oleh kedua orangtua saya. Saya sama sekali tidak ingin mengecewakan keduanya dan saya juga berharap keduanya tidak akan pernah mengecewakan saya, paman." Jawab siwon ramah namun penuh penekanan.
"Ya, itu planning yang baik untuk masa depan. Bagaimanapun kau satu-satunya penerus kerajaan choi. Paman harap kau akan sukses seperti appamu,siwon."
"Terima kasih untuk dukungannya, paman."
Eunhye merasa bahagia karena siwon bisa dekat dengan appanya. Appanya termasuk pria dingin yang sulit bergaul karena itu eunhye sempat berpikir jika tidak akan ada pria yang bisa menjadi menantu idaman appanya, tapi sepertinya siwon menghapus semua kekhawatir berlebih itu. Kelurga choi juga kelurga yang ramah dan hangat. Selama berada di rumah keluarga choi eunhye merasa itu seperti rumahnya sendiri. Hanya saja siwon terlalu jarang berada dirumah dan itu terasa menyakitkan.
"Apa kau menyukai eunhye?"
Eunhye menatap appanya dan siwon bergantian. Ada senyum di wajah siwon dan itu membuatnya ribuan kali lipat lebih tampan. "Eunhye cantik dan dia juga menarik. Benar-benar seorang istri idaman." Eunhye merasa begitu senang mendengarnya, seakan dirinya memiliki dua sayap, dan siap membawanya terbang ke angkasa. "Tapi aku memiliki seseorang yang bahkan tidak ada apa-apanya jika dibandingkan eunhye. Hanya saja aku yang terlalu bodoh karena mencintai orang itu sampai tidak bisa melihat eunhye. Eunhye pantas untuk mendapatkan pria yang lebih baik." Siwon tahu jika suatu saat ia akan berada diposisi dimana untuk bernapas akan terasa sulit.
"Apa-apaan ini,choi?" Raut wajah appa eunhye mengeras dan amarahnya tersulut seketika. Anak muda didepannya ini berani sekali menolak anaknya secara langsung dan apa yang terjadi selama ini. Kenapa dengan bodohnya anaknya tidak mengatakan apapun tentang siwon yang tidak menyukainya. "Ini sungguh mengecewakan." Appa eunhye berdiri dari duduknya, sementara eomma eunhye masih shock di kursinya.
"Maafkan, anak ku. Dia masih terlalu muda dan tidak mengerti apapun." Mr. Choi menatap siwon dengan mata tajamnya seperti ingin menguliti siwon saat itu juga. Ini seperti sebuah penghinaan untuk dirinya dan kelurga eunhye. "Appa, aku berhak menentukan masa depanku. Bahkan dengan siapa nanti aku menghabiskan seluruh sisa hidupku, appa." Kali ini biarkan siwon sendiri yang menentukan dan biarkan dia egois untuk kali ini saja.
Appa eunhye, menarik eunhye dan eomma eunhye. Mengajak keduanya untuk pergi dari tempat sialan yang merusak nama kelurganya. "Kau akan menyesal karena ini choi."
"Kau! Apa yang kau pikirkan,choi siwon?" Kali ini Mr. Choi benar-benar tidak bisa mentolerir sikap anaknya yang kurang ajar. "Apa kurangnya eunhye,hah? Dia gadis yang baik dan dari kelurga terpandang. Apa kau harus melihat ku mati dulu untuk bisa meninggalkan pacarmu itu?" Kecewa itu yang terlihat jelas di kedua mata kepala kelurga choi yang biasanya terlihat penuh wibawa.
"Maafkan aku appa.." Rasanya ia ingin menangis sejadi-jadinya.
"Sudahlah, terserah padamu. Aku tidak perduli lagi!" Mr. Choi pergi meninggalkan istrinya dan siwon yang masih mematung disana. Sepanjang hidupnya baru kali ini siwon merasa menjadi anak yang tidak berguna dan mengecewakan orang yang paling dicintainya.
"Gwenchana?" Eomma siwom berdiri dan memeluk anak sematawayangnya. "Appa hanya kesal. Kau harusnya mengerti wonnie jika appa hanya ingin melakukan dan memberikan yang terbaik untukmu."
"Eomma." Siwon memeluk erat eommanya. "Apa aku salah?"
Mrs. Choi mengelus punggung siwon, memberikan ketenangan pada anaknya. "Tidak sayang. Hanya saja butuh waktu untuk membuat semuanya saling memahami satu sama lain. Kau tidak bisa memaksakan sesuatu kesesuai keinginanmu." Mrs. Choi bahkan tidak ingat kapan terakhir kali siwon mengadu dan memeluknya seperti ini, rasanya sungguh lama sekali. Ia akan berterima kasih pada pacar siwon karena memberikan moment seperti ini. "Appa juga butuh waktu untuk menyesuaikan dan kau butuh waktu untuk membuktikan jika pilihanmu itu tidak salah sama sekali."
"Aku hanya berjuang atas apa yang ku pilih."
"Dan buktikan jika yang kau pilih itu tidak salah. Eomma akan selalu ada untukmu, wonnie ku sayang." Mrs. Choi mencoba memberitahukan jika walaupun pilihan siwon salah kedua orangtuanya akan tetap akan selalu ada untuknya. "Lakukanlah yang terbaik."
"Eomma, saranghae..."
"Nado..."
-O.o-
Hari ke sepuluh dan ini membuat frustasi sungguhan. Kibum mengacak rambutnya yang tadinya rapi menjadi tidak jelas berbentuk apa. Sepanjang dirinya mengenal siwon dan memutuskan untuk berpacaran, ini hari terlama siwon tidak muncul ke hadapannya. Bahkan setelah kejadian menandai dan ditandai itu terjadi. 'Aku akan menghajarnya jika dia berani muncul dihadapanku. Seharusnya aku tahu siwon itu bajingan berengsek yang tidak tahu diri. Dia bahkan sudah menandaiku dan kini dia menghilang. Oh, tuhan. Apa yang harus aku lakukan?' Kibum membenamkan wajahnya diatas meja dengan bertumpuh kepada kedua lengannya. 'Kemana dia? Aku bahkan merindukan wajah pabonya.' Rasa frustasinya semakin menjadi-jadi. Terakhir kali kibum melihat siwon saat pria brengsek itu menjadi alas tidur kibum dan membuat tubuh siwon kram parah. Karena malu kibum langsung melarikan diri begitu bangun dari tidur dan meninggalkan siwon begitu saja. Siwon tidak mungkin sakit hati karena saat bangun setelah sesi panjang pertengkaran bodoh yang diakhiri dengan bercinta ia tidak melihat kibum, kalaupun harus sakit hati harusnya kibum karena siwon mengajar kibum habis-habisan malam itu yang membuat nilai kibum terjun bebas. 'ini menyakitkan dan melelahkan.' Kibum mengakhiri sesi depresinya, membersihkan meja yang berserakan karena alat tulis, menenteng ranselnya di pundak, dan berjalan pulang ke rumah seperti yang lainnya. Ini sudah terlalu sore hingga semua sudah kosong dan dia kesepian.
Siwon disana. Dibalik kemudi mobil eommanya. Wajahnya sudah terlihat membaik daripada beberapa hari yang lalu, tidak bertemu kibum membuatnya seperti kehabisan oksigen di rumah dan di kantor. Dia tetap melakukan rutinitas yang sama hanya saja mencoba mengurangi intesitas bertemu kibum untuk masa depan mereka berdua. Membuktikan jika pilihannya itu tidak salah, lebih baik dari pada harus menyeret-nyeret kibum kedalam masalah yang lebih rumit lagi. "Itu dia." Siwon dapat mellihat kibum diujung lorong dari pintu gerbang dan secepatnya ia keluar dari mobil untuk menghampiri kibum.
"Aku pikir kau pria yang baik."
Kibum menghentikan langkahnya. Wanita yang menjadi bahan pertengkarannya dengan siwon kini muncul tepat didepan kibum. "Hah?" Kibum memasang wajah bodohnya hampir sama bohonnya jika ada seseorang yang mengatakan aku hamil karena perbuatanmu.
"Kau yang membuat pertunanganku dengan siwon oppa gagal. Kau pria jahat, kibumshi." Eunhye tahu dia salah karena melimpahkan semua ini pada kibum tapi rasa kecewa, frustasi, dan kehilangan menghatamnya dengan begitu menyakitkan. "Aku membencimu."
Kibum merasa sakit. Siwon menyukainya bukan salahnya. Siwon memujanya juga bukan salahnya dan jika siwon ingin ikut mati bersamanya maka ia akan membiarkannya. "Seharusnya aku yang membencimu,eunhye. Kau yang merusak hubunganku dengan siwon. Kau yang tiba-tiba ada diantara kami. Aku hanya menjaga apa yang menjadi milik ku."
"Kau perusak kibumshi. Aku bahkan sudah menyukai siwon sejak aku berumur tujuh tahun dan karena orang seperti mu, aku harus kehilangan dirinya." Eunhye disana melampiaskan semuanya pada kibum. Maafkan dia tapi cinta memang membuat kita semua merasa sakit di suatu saat dan senang di saat lainnya. "Aku tidak akan mnyerahkan dirinya padamu." Air mata eunhye mengenang di kedua pelupuk matanya. Eunhye mendekat dan menarik kibum dengan cepat hingga kini bibir mereka berdua bertemu dan ia memeluk kibum.
Siwon disana, hanya beberapa langkah dan kejadian itu membekukannya seketika. Apa yang mantan tunangannya lakukan sekarang membuatnya pusing, jika eunhye sebenarnya menyukai kibum. Apa yang harus dia lakukan? Siwon belum siap untuk opsi terburuk lainnya dan kibum terlihat tidak menolak atas kontak fisik yang terjadi.
Kibum mendorongnya namun menahan agar gadis yang kehilangan harapan itu tidak jatuh. Kibum tahu siwon disana, berdiri tegak tanpa melakukan apapun jadi kibum akan membuatnya bergerak seketika. "Aku tahu kau sedih eunhye tapi maaf aku sendiri tidak bisa berbuat apapun karena kau tahu jika siwon dan aku sudah melakukan hal yang lebih dari di sebuah hubungan, eunhye. Aku tidak ingin kau terluka lebih jauh dari ini karena aku menyanyangimu tapi aku juga tidak suka kau menciumku hanya untuk membuat siwon berpikir aku sama berengseknya dengan dia karena itu aku akan mengambil apa yang telah kau ambil dari ku." Kibum meletakkan kedua lengannya pada bahu eunhye, menarik gadis itu, memerengkan kepalanya, dan mennyesap bibir merah yang tadi baru saja menyesap miliknya.
Siwon melangkahkan kaki jenjangnya dengan langkah lebar, menarik kibum dengan paksa hingga tautannya dengan eunhye terlepas, lalu menyeret kibum tanpa memperdulikan kibum yang kesulitan mengimbangi langkah siwon. Siwon mendorong kibum kedalam mobilnya lalu menyetir dengan gila-gilaan hingga mereka sampai di kediaman kibum. Kibum disana duduk diatas sofanya dengan siwon yang duduk disampingnya dan menghadap pada kibum. "Apa yang kau lakukan barusan? Aku ingin berselingkuh dibelakang ku, begitu kibumshi?"
Kibum tahu siwon marah tapi apa perdulinya. Dia yang harusnya marah karena siwon menghilang selama sepuluh hari dan jika pria itu ingin mangamuk maka dia harus menunggu giliran setelah kibum. "Aku hanya mencium eunhye dan apa yang kau lakukan selama ini, hah? Kau yang pergi ntah kemana tanpa mengatakan satu hal pun dan membuatku frustasi. Kau pria brengsek yang hilang kesetika setelah mengambil semua yang kumiliki tanpa tersisa. Kau berengsek, choi." Rasa lega menderanya hingga lelehan bening itu jatuh begitu saja. Kibum bukan pria lemah, dia bahkan jarang menangis apa lagi untuk hal-hal bodoh semacam ini tapi kasus dengan siwon berbeda karena siwon membawa semua bersamanya. "Maafkan aku.." Siwon menarik kibum dalam dekapannya membiarkan pria cantiknya menangis didadanya. "Kau bodoh.. Choi siwon Bodoh!"
.
.
.
.
-TBC-
Kasih review boleh, saran juga boleh asal membangun...
Jadi silent readers juga gpp,kok...
Hidupkan bagian memilih n ada atau gk reviewnya cerita akan tetap berlanjut...
Ini bagian dari hobi
Semoga berguna suatu saat nanti ^^
