SIBUM
Siwon X Kibum
I dont have anything i just have the plot
Wellcome for all people...
.
.
.
Terima kasih semua yang telah melihat bakhan jika itu silent readers sekalipun
^^!
.
.
Selamat Menikmati!
...Crush...
Kibum menarik selimutnya, semakin dalam dan menutup seluruh tubuhnya. Rasanya matahari selalu menganggu setiap pagi. Ingin sekali suatu hari nanti matahari akan terlambat untuk bersinar atau tidak akan bersinar lagi. Smartphonenya terus berdering, berdering sepanjang pagi ini. Kibum sendiri tipe orang yang akan mudah terbangun bahkan hanya dengan sebuah gesekkan dari daun pintu sekalipun.
"Ya.." Dengan susah payah kibum menyentuh layar smartphonenya.
"Kibum, kau disana sayang?"
"Ya.."
"Apa yang sedang kau lakukan?"
"Tidur." Jawab kibum datar sambil berusaha menarik tubuhnya dan menyederkan tubuh itu pada kepala tempat tidur. Kamarnya nyaris gelap jika tidak ada beberapa cahaya matahari yang masuk dari celah-celah tirai jendela. "Aniya, hanya baru bangun tidur." Kibum memperbaiki kata-katanya. "Sudah appa. Email?
"Bisa tolong antarkan?"
"Harusnya, appa saja yang langsung mengirim emailnya ke kantor. Kenapa harus melalui aku? Itukan sama saja seperti membuat ku susah." Kibum menghela napasnya panjang. Liburan kali ini sepertinya tidak akan begitu menyenangkan. "Atau kirim assisten appa kesini."
"Sudah.. Cepat bangun, mandi, lalu pergi kesana antar semua laporan itu. Kau sudah janji akan mengurus perusahaan setelah ini. Kim Kibum!"
"Ya, ya, ya... Terserah!" Dengan setengah hati kibum bangun dari tempat tidur nyamannya. Benar-benar merasa frustasi dia membuka email dan menguduhnya, meninggalkan benda itu bekerja, kibum duduk dengan nyaman diatas kursi dengan segelas teh, pie bawaan siwon tadi pagi, dan musik kelasik yang mengalun. Siwon sempat datang sebentar dengan pakaian kantor, sepaket pie, dan kecupan. Siwon hanya mengecek keadaan kibum baru benar-benar akan pergi kerja dengan damai, karena dulu saat bulan-bulan pertama mereka bersama kibum pernah sakit dipagi buta akibat alergi. Tubuhnya menggigil, kepala pusing, mual, dan bercak merah. Tiga puluh panggilan tepat jam 10 pagi tertera di smartphone siwon tapi dia lebih sibuk dengan urusan yang melilitnya dikantor sampai melupakan benda pintar itu dan berakhir dengan kibum yang tertatih-tatih ke rumah sakit. Semua orang juga tahu, kau tidak boleh atau dilarang keras untuk sakit jika hidup sendirian dan sialnya makanan lezat dari sistem dilevery yang menggungah selera menyebabkan kibum terdampar dirumah sakit.
Dengan senyum diwajah, satu stell jas lengkap, dan berkendara dengan subway. Kini kibum sedang duduk nyamn diruangan salah satu direktur perusahaan yang sedang membaca tumpukkan kertas yang tadi dibawanya dengan map coklat. "Jadi perusahaan kami akan sangat merasa tersanjung karena perusahaan kelurga kim."
"Kami juga berasa berterima kasih atas kerja sama ini. Presdir bisa langsung membubuhkan tanda tangan diatas berkas itu dan saya akan mengirimkan salinannya nanti pada sekertaris presdir."
"Kenapa presdir kim langsung mengirim anggota keluraganya dan bukan assisten pribadinya atau bagian dari perusahaan?" Kemudian sang presdir memberikan coretan pada kertas putih yang ada diatas mejanya.
Dengan senyum yang menawan diwajahnya. "Memang seperti itu dan sudah menjadi seperti sebuah kebiasaan. Kata appa untuk melatih diri berinteraksi dengan oranglain agar tidak canggung dan anak lebih bisa dipercaya melebihi siapapun didunia ini. Hanya sebuah pemikiran simpel seorang appa saja." Kibum tidak melebih-lebihkan tapi appanya memang terlihat aneh kadang dalam bersikap.
"Kami harap kita akan menjadi sebuah kelurga dalam membangun bisnis dan bukan hanya sekedar patner kerja yang akan saling menjatuhkan satu sama lain di akhir."
"Saya harap juga begitu." Kibum merapikan berkas-berkasnya lalu memohon diri untuk pergi. Dia masih perlu menyalin berkas-berkas ini dan mengirimkannya. Harus ke supermarket untuk membeli kelangsungan hidup, harus makan siang karena sudah menujukkan hampir pukul 12, dan harus kembali lagi ke rumah karena rumahnya seperti kapal pecah tadi saat ditinggalkan.
-O.o-
Siwon meminum coffenya perlahan setelah merenggangkan otot-ototnya, perutnya lapar tapi sama sekali tidak ingin untuk makan sendirian. Siwon benci makan sendirian, itu kenapa dia selalu menempatkan dirinya bersama kibum karena dia tidak akan pernah melakukan apapun sendirian jika bersama kibum.
Dengan setelah jas lengkap dan menenteng makan malam hari ini, siwon mendorong pintu rumah kecil kibum yang selalu terasa nyaman untuknya, dan mengunci pintu itu kembali. "Kau datang?" Kibum menjulurkan kepalanya dari balik sofa yang ia duduki. Rumahnya kecil namun nayaman tidak terlalu besar karena semua tempat terhubung menjadi satu dengan halaman dan garasi yang lebar melebihi rumahnya sendiri. Ada sebuah pohon besar dihalaman namun setiap ranting-rantingnya akan selalu dipotong jika terasa menganggu, ada satu set bangku dan kursi dibawahnya, bunga-bunga pada pot dan rumput yang hijau serta batu kerikil. "Aku akan memanaskannya dan kau bisa mandi."
Siwon bergegas menyerahkan bungkusannya pada kibum, berjalan ke arah kamar, melepas semua yang melekat pada tubuhnya dan menaruh semua pakaian kotor itu pada tempatnya. Kibum nanti yang akan mengurusnya. Bukankah mereka seperti pasangan normal yang sudah menikah jika seperti ini.
Kibum bersenandung kecil sementara tangannya menyusun makanan yang siwon bawa tadi kedalam piring setelah dipanaskan terlebih dahulu. Meletakkan piringnya diatas meja didepan televisi yang menanyakan sebuah film tentang ruang angkasa. Kibum duduk diatas sofa, sofa paling bersejarah untuk dirinya dan siwon. Kibum selalu merona jika mengingat hal itu kembali dan sayangnya semua itu selalu terputar dengan baik didalam kepalanya seperti sebuah kaset.
"Apa yang sedang kau lihat,bummie?" Siwon memeluk leher jenjeng kibum, tubuh mereka terhalang oleh sofa. Siwon bisa menghirup aroma sampho yang sama seperti yang baru saja digunakan dan aroma khas tubuh kibum yang wangi penuh dengan hal-hal yang memabukan untuknya.
"Film tentang ruang angkasa. Star trek mungkin judulnya." Jawab kibum yang masih fokus menonton. "Kita ingin makan atau seperti ini terus?" Siwon langsung melepaskan pelukannya dari kibum dan duduk disamping meja kecil dengan hidangan makan makan diatasnya. Sup daging, nasi putih, dan sayuran. Keduanya makan dalam diam kali ini. Mungkin karena memang lelah dengan rutinitas hari ini. Selesai makan siwon yang mencuci semua peralatan makannnya. Siwon bersama dengan kibum sungguh berbeda dengan siwon di kelurga choi. "Apa yang kau lakukan besok, wonnie?" Kibum sedikit meninggikan suaranya agar siwon mendengarnya.
"Aku tidak sekolah. Aku sudah mengikuti ujian kelulusan mendahului yang lain sama seperti mu. Besok juga tidak akan ke kantor karena appa sedang di korea. Mungkin tidak melakukan apapun. Kenapa bummie?" Siwon mengelap tangannya dan berjalan kembali ke sofa. Mengusik kibum dengan cara menjadikan paha kibum sebagai bantal tidurnya. Siwon itu pria manja yang bagaikan bayi besar jika saat-saat tertentu, pemakasa, tidak mau mengalah, dan overprotektif.
Kibum mengelus surai hitam siwon dengan jari-jarinya. "Tidak ada tapi dua hari lagi appa meminta untuk bertemu dengan colegannya jadi jika tidak ada acara. Kau harus menemani ku wonnie." Itu bukan sebuah permohonan tapi seperti sebuah perintah.
"Kau harus memberiku sebuah hadiah untuk itu."
"Mana ada yang seperti itu dan lagi kau tidak boleh perhitungan dengan pacarmu sendiri."
"Aku tidak pernah perhitungan denganmu. Kau bebas untuk hal apapun yang berhungan denganku. Apapun itu. Kau bahkan berhak atas segala hal tentang ku,bummie."
"Anak yang baik." Kibum memberikan kecupan pada pipi siwon tapi siwon langsung menarik kibum untuk mengecup kedua belah bibir merah kibum dengan lembut dan memabukkan. Bohong jika kibum adalah pacar pertama siwon sebelum bersama dengan kibum siwon selalu menikmati hari-harinya dengan orang yang berbeda, mendapatkan kontak fisik yang cukup untuknya dengan sedikit membelikan barang bagus, dan membuangnya jika bosan. Dia ahli jika hanya untuk mengoda dan membawa pasangannya terbuai tapi pengalamannya pertama hanya dengan kibum dan itu menakjubkan melebihi apa yang dibayangkanya. Kini siwon tidak akan pernah bisa untuk mencium atau bahkan mengoda oranglain yang tidak dicintainya seperti dulu.
Siwon suka jika kibum duduk diberalaskan kedua pahanya seakan kibum mendominasi tapi sebenarnya tidak. Siwon suka menggoda kibum dengan bibirnya, jari-jarinya, dan tatapannya. Memberikan sentuhan yang memabukkan dengan kesan pemujaan didalamnya. Kibum seperti sebuah kanvas dan siwon sang pelukisnya. Setiap tanda akan terasa indah disana.
-O.o-
"Siwon tidak pulang lagi?" Mr. Choi melepaskan kaca matanya dan duduk unjung ranjangnya memperhatikan wanita yang selama ini bersama dan memberikan siwon sebagai sebuah kelengkapan didalam kelurga mereka. "Dia perlu untuk diingatkan."
"Apa susahnya membiarkannya memilih apa yang menurutnya baik. Kau jangan terlalu mengekangnya atau kita akan menyesal di akhir. Wonnie sudah besar dan lagi selama ini hanya pacarnya yang selalu menemaninya. Wonnie juga terlihat lebih perduli akan masa depannya untuk lebih sukses."
"Aku tahu, kita terlalu sibuk dan sering meninggalkannya sendiri dan lagi aku sebagai appanya sama sekali tidak suka jika dia selalu berganti pacar dan menghambur-hamburkan uang." Mr. Choi menghembuskan napasnya lelah. "Tapi aku juga tidak suka jika harus memiliki menantu pria. Bagaimanapun menjodohkanya dengan eunhye itu pilihan terbaik."
Mrs. Choi membalikkan tubuhnya setelah membersihkan makeup yang sepanjang hari harus menempel diwajah cantiknya. "Tidak ada salahnya menerima. Apa yang menurut kita baik belum tentu selamanya benar. Eunhye mungkin wanita yang pas tapi jika siwon tidak menginginkannya kita juga tidak bisa memaksa. Kau harus belajar banyak dari adikmu, dia bahkan tidak pernah mempermasalahkan tentang jaejoong dan yunho." Kata Mrs. Choi dengan penuh pengertiaan. Wanita ini hanya ingin buah hatinya bahagia walau bagaimanapun itu. "Terima lah dan kita semua bisa hidup dengan lebih baik serta bahagia. Apa kau ingin siwon melarikan diri darimu?"
Mr. Choi tidak pernah membayangkan jika anak kebanggaanya pergi dari sisinya atau membencinya. Sekeras apapun dia pada siwon tetap saja rasa cinta pada seorang anak tidak akan pernah terhapuskan atau terganti dengan apapun. "Aku hanya ingin kelangsungan keluarga choi tetap untuh untuk seterusnya. Aku tidak ingin berakhir sampai disini hanya karena cinta remaja yang masih labil. Mungkin saja siwon akan meninggalkan pacarnya itu jika dia bosan."
"Berdamailah dengan dirimu sendiri lalu berdamailah dengan siwon. Kau tahu dia ibaratkan copyan darimu dan diriku, sayang." Mrs. Choi duduk disamping suaminya yang masih terlihat muda walaupun usianya sudah melebihi setengan abad. "Manja, keras kepala, dan tidak bisa patuh. Kita berdua tahu apa akhir dari semua ini jika kita menenteng hubungan mereka dan kita juga tahu apa yang akan terjadi jika kita membiarkan hubungan mereka. Ku mohon kali ini saja, aku tidak akan pernah bisa untuk memilih antara dirimu atau siwon jika kau terus mengekangnya. Dan lagi kelurga eunhye juga sudah membatalkan pertunangan itu." Mrs. Choi tahu apa yang akan terjadi begitu juga suaminya. Mereka tidak akan pernah bisa memisahkan kibum dan siwon jika ingin siwon selalu bersama dengan mereka.
"Aku tahu tapi biarkan aku mencobanya. Agar aku tidak menyesalinya sama sekali." Akan butuh sedikit air mata mungkin. "Kau tahu jika aku selalu mencintai kalian berdua."
"Ya, aku tahu itu."
-O.o-
"Kau serius ingin bertunangan denganya,hyung?" Tanya siwon pada salah satu dari kedua pria yang duduk dihadapannya saat ini. Keduanya terlihat serasi satu sama lain walau usia mereka terpaut sedikit lebih banyak. Salah satunya yang memakai kemeja dengan kancing yang sedikit terbuka atasnya menatap siwon dengan pandangan membunuh.
Ia tersenyum ramah dengan struktur wajah sempurna dan rahang yang tegas. "Kau harusnya mengucapkan selamat,siwon. Bukan malah bertanya hal-hal yang tidak-tidak seperti itu. Memangnya ada yang salah jika aku bertunangan dengan sepupumu ini?"
Siwon memasang wajah malaikatnya saat sepupunya mengirimkan sinyal kebencian dan rasa ingin membunuh yang terkesan lucu dimata siwon. "Tidak ada yang salah. Hanya hyung harus bekerja lebih keras dan harus lebih sabar lagi. Dia ini sosok yang manja, pemboros, dan cerwet. Tapi selain sifat buruk itu, jaejoong sosok yang keibuan, ramah, dan terkesana bodoh. Kau beruntung bisa memiliknya,hyung." Siwon berkata dengan tulus dan dengan rasa bahagia disana.
"Terima kasih."
"Wonnie, ku dengar dari bibi jika kau membuat pertunaganmu gagal karena kibum." Jaejoong ingin sekali menanyakan hal ini dari beberapa hari yang lalu tapi pertunagannya sendiri yang mengikatnya hingga sulit bergerak dan memikirkan hal lain. "Kau benar-benar sudah masuk ke dalam kubangan itu dan tidak bisa kembali lagi. Selamat siwon kau berhasil." Jaejoong ikut bahagia untuk kemajuan siwon. Dia menyukai kibum karena kibum banyak merubah siwon.
"Hanya appa sepertinya tidak menyukai hal ini terjadi,hyung." Siwon menatap sedih gelas coffenya yang kini tinggal sedikit. Jika bisa ia ingin hidupnya terasa seperti coffe yang diminumnya terkesan pahit namun ada rasa lain bersamanya bukan pahit itu yang mendominasinya. "Aku ingin seperti kalian jika aku bisa."
"Kau masih terlalu muda dan memiliki banyak waktu. Nikmatilah semuanya dengan segala prosesnya,siwon." Tunangan jaejoong yang terkenal tampan, sukses, dan berpikir terbuka itu benar-benar bisa menangkan siwon dengan caranya sendiri. "Jika kau gagal berusahalah lebih keras dan lebih dari biasanya. Jika terasa menyakitkan diam dan nikmatilah semua rasa sakit itu jadi kau akan terbiasa. Semua akan dijawab olah waktu tergantung bagaimana caramu untuk mendapatkannya dan apa yang kau korbankan."
"Terima kasih,hyung. Kau benar-benar jung yunho yang tersohor itu. Aku tidak akan meragukannya lagi."
"Kau berani meragukan pria yang akan menjadi calon suami ku, choi siwon?"
"Aniya... Kadang hanya beberapa orang terlalu melebih-lebihkan yunho hyung tapi sepertinya apa yang mereka katakan itu benar. Aku hanya merasa yunho hyung terlalu sial jika menikah denganmu." Mereka berdua tertawa sejenak karena candaan siwon.
"Ku pikir eunhye hanya kurang beruntung. Gadis cantik itu terlalu datang lama jika tidak kau mungkin akan bersama eunhye sekarang."
"Tapi jika aku crushnya dengan kibum apa yang bisa mereka lakukan"
"Mereka hanya bisa berdoa. Mungkin!"
Yunho tersenyum simpul mendengar ucapan siwon dan jaejoong. Apa benar keduanya itu pintar dan jenius dengan sifak aneh seperti itu. Mungkin keluarga punya setiap cara berbeda dalam menghadapi masalah. Contohnya kelurga kim yang tidak mempermasalahkan sama sekali dengan siapa dan bagaimana hubungan percintaan jaejoong. Kelurganya terlalu menarik dan nyaman. Sementara keluarga choi lebih mementingkan masa depan siwon dan ribuan karyawan mereka, semua yang dilakukan untuk kebaikan masing-masing menurut mereka sendiri. Semua orang bebas berpendapat dan melakukan yang mereka mau selama tidak mengusik oranglain dan yunho tahu benar aturan itu berlaku dimanapun jadi dia hanya bisa berdoa semoga calon sepupunya itu dapat bahagai seperti dirinya.
-O.o-
Sorry kalau alurnya terasa lama... Bingung mau melanjutkannya seperti apa...
Benar-benar ingin liburan kembali seminggu itu kurang,,
Berencana untuk mencari pekerjaan sepertinya
Bosan jadi pengangguran bersahaja tp udah banyak ditolak perusahaan
RnR ^^
