SIBUM

Siwon X Kibum

I dont have anything i just have the plot
Wellcome for all people...
.

.

.

Terima kasih semua yang telah melihat bakhan jika itu silent readers sekalipun

^^!

.

.

Selamat Menikmati!

...On you...

Kibum mengeratkan syalnya dengan coat coklat yang membungkus tubuhnya. Siwon sudah berdiri terlalu lama hanya untuk coffe yang ada digengamannya. Keduanya baru saja selesai menonton film, udara sudah mulai dingin musim gugur sudah mulai memasuki dan udara sudah mulai menurun. Beberapa hari yang lalu ujian sudah berakhir dan keduanya akan melangkah kesuatu sisi yang lebih baik lagi.

"Kita mau makan malam apa?"

"Pizza." Jawab kibum lalu meneguk coffenya yang memberikan sedikit rasa nyaman bagi tubuhnya. "Kita bisa beli dulu sebelum pulang. Disini dingin."

"Aku ingin sup,bummie."

"Sup dan pizza tidak terlalu buruk sepertinya." Kibum menarik paksa siwon yang masih nyaman berdiri didepan etalase coffe shop. "atau jika kita cepat sampai rumah aku bisa membuat sup kimchi, telur dadar, daging panggang, dan dua kaleng jus jeruk. Tapi kita tetap harus beli pizza dulu."

"Kita pesan saja. Delivery?"

"Oke."

.

.

.

Kibum terlihat sangat indah ketika bangun tidur, memasak, belajar, dan berpikir untuk memecahkan suatu masalah. Bagi siwon, kibum ribuan kali menarik saat mereka bersama dan menghabiskan waktu yang lebih banyak untuk bersamanya di atas tempat tidur.

"Jangan mendekat dan tetap duduk disitu. Jangan menganggu ku!" Kibum memanggang daging perlahan, membaliknya ketika hal itu perlu dan meletakkannya di piring jika telah terpanggang. "Jangan berpikir untuk memakannya sekarang!"

"Baiklah." Siwon mematung menatap daging panggang yang aromanya memenuhi dapur kecil kibum. Dia berharap jika pizza itu datang secepat mungkin. "Perlu dibantu?" Siwon berniat untuk turun dari tempatnya duduk.

"Tidak. Duduk lah atau menonton film atau lakukan sesuatu. Aku tidak ingin makanan ini habis jika belum siap semua dengan lengkap,wonnie." Kibum hanya perlu memeriksa supnya sebentar lagi kemudian mengoreng telur dan setelah itu siwon bisa memakannya. Kibum jarang memasak bukan karena dia tidak bisa. Hanya saja, kadang lebih nyaman untuk memasan makanan atau meminta siwon untuk mengantar makanannya dari pada harus mengotori dapur kecilnya. Kibum bisa mendengarkan kursi yang berderit saat bergesekkan dengan lantai dan juga bisa melihat jika siwon berjalan kearah ruangan lain. Mungkin ke ruang tamu duduk di atas karpet sambil mulai menonton karena terdengan suara dari sana. "Dia marah?"

"Dia galak sekali jika sudah mulai memasak." Siwon menghidupkan televisi layar datar kibum dan mulai menekan-nekan remote dengan asal. Mencari siaran yang menarik dan berakhir dengan tampilan kucing dan tikus yang saling berkejaran. "Membosankan..."

Dan pizzanya datang setelah siwon merasa beberapa belasan menit yang berlalu menjadi belasan jam lamanya karena bosan. Siwon duduk di kursi dekat meja makan dengan mandang kibum yang sedang menata masakkanya diatas meja makan. "Bummie, tidak makan nasi?"

"Aku ingin pizza,saja."

Siwon mengangguk dan mulai memakan makananya. Masakan kibum selalu yang terbaik setiap saat dan tidak pernah untuk diragukan. Selesai makan, keduanya hanya duduk dan saling berpelukan diatas karpet dengan alas tumpukkan bantal serta selimut dan film. Semuanya terasa sempurna.

"Aku ingin seperti ini setiap saat. Jika bisa." Siwon tersenyum simpul sementara kibum nyaris tertidur karena kelelahan. "Aku ingin kau menyambutku ketika aku pulang kerja dan membuatkan masakan untuk setiap hari. Kita akan melewati pagi dan malam bersama dan aku harap suatu hari nanti akan ada kaki kecil dan pipi yang lucu mengelilingi didalam rumah."

-O.o-

"Bummie, sayang. Aku harus pergi." Siwon sudah berpakaian rapi dan duduk dipinggiran ranjang kibum dengan pelan mengucangkan bahu kibum untuk membuatnya bangun.

Kibum membuka sedikit matanya. "Ya, hati-hati." Jawabnya pelan lalu siwon memberikannya sebuah kecupan hangat. "Jangan lupa, kita bertemu saat makan siang dan kembalilah tidur." Sebuah kecupan di kening kibum untuk bonus dipagi ini.

..****..

Kibum mungkin tidak pernah ingin siwon menyukainya atau menjadi stalkernya. Dia ingin hidup normal jika ia bisa. Ingin sama seperti orang-orang pada umumnya tapi sialnya hal itu hanya ada didalam mimpinya. Dan karena ini dunia nyata bukan mimpi semata jadi mari jalanin semua dengan lebih tersenyum saja. Tidak usah terlalu memikirkan apa yang tidak penting. Kibum juga merupakan orang yang terlalu gampang menghilangkan semua hal-hal yang tidak penting dari ingatannya.

Jadi, Kibum duduk dengan tenang di depan kolegan appanya. Dia mengingkari janji dengan siwon untuk makan siang karena hal ini lebih penting dan karena appanya memaksa. Bukan karena dia ingin. Di dunia ini ia hanya memeliki appa, seorang ibu tiri yang mencintainya dan siwon. Sayangnya, ibu tirinya tidak dapat memiliki anak dari ayahnya ataupun pria lain. Itu sebuah derita yang harus di syukuri.

"Kalian saling mengenal?"

Kibum melirik sekilas wanita yang duduk didepanya lalu terseyum ramah pada kolegan appanya. Wanita itu tetap terlihat sama seperti terakhir kali kibum melihatnya. Tidak ada yang berubah sedikitpun. "Eunhye, apa kabar?" Kibum harus bersikap sopan dengan kolegan appanya dan ingatkan jika ini demi appanya karena sejujurnya kibum muak.

Eunhye tersenyum indah di depan kibum. Senyum yang hanya ditampakkannya dengan keluarganya dan eunhye menyesal untuk ikut dengan appanya jika ia tahu kibum yang akan ditemuinya. "Baik." Katanya ramah. "Bagaimana dengan hubungan dirimu dan siwon oppa?"

"Kami baik dan seperti biasa. Mungkin, tidak akan pernah ada yang berubah."

Kibum bahkan tidak perduli dengan reaksi dari orangtua unhye. Jika mereka ingin membatalkan kerjasama ini, maka batalkan saja. Kibum sendiri tidak akan pernah tahu apa yang terbaik untuknya dan siwon. Dia sendiri bisa meninggalkan siwon atau menyimpan siwon hanya untuk dirinya seorang diri tapi ia tidak bisa mengabaikan appanya dan ratusan keluarga yang harus terluka. Dia tetaplah kim kibum penerus dari A&J Company apapun yang terjadi. Banyak hal yang harus diperjuangkannya dan kibum tidak bisa begitu egois untuk dirinya sendiri.

"Kalian berdua terlihat serasi bersama." Eunhye tersenyum dengan kata-katanya sendiri. Dia benci pria yang ada didepannya ini. Pria yang menjijikan untuk bisa berada dimana seharusnya posisinya berada. Pria yang sudah merebut hal yang terindah didalam hidupnya. Eunhye bahkan rela berbagi jika pria ini mau. Dia tidak akan pernah marah jika dirinya hanya akan menjadi pajangan bagi siwon didalam hidupnya dan semua itu sekarang hanya bagai sebuah mimpi untuknya. Dia membenci kibum. Membenci kibum yang telah hadir di dalam hidupnya. "Tapi serasi hanya sebagai teman. Dan kalian berdua terlihat menyedihkan."

"Terima kasih." Kibum marah. Sangat marah tapi kemarahannya hanya akan menjadi hal yang tidak baik untuknya. Ini tidak akan sesulit yang ia bayangkan. Mereka berhak untuk mencaci - makinya namun siwon juga akan berada disisinya untuk setiap luka dan duri yang tertanam. Dirinya dan siwon akan terluka bersama selamanya atau berbahagia selamanya. Itu bukan hak bagi oranglain untuk memutuskannya dan keduanya akan melaluinya. "Tapi tetap saja dia lebih memilihku dibandingkan dirimu. Eunhye yang malang!"

"Dia tidak akan memilihmu jika kau seorang wanita sama seperti ku. Kau seharusnya sadar betapa menjijikanya kalian berdua."

"Ya, aku sadar. Namun, kau juga seharusnya sadar seberapa tidak pernahnya siwon sedetikpun untuk memilihmu. Bahkan dihari dimana kalian seharusnya bertunangan siwon tidak akan pernah ada disana,eunhye. Dalam mimpimu sekalipun siwon tidak akan pernah ada bersamamu." Kibum hanya ingin mengingatkan kembali wanita ini dimana seharusnya ia berada.

Wajah eunhye memerah karena menahan seluruh rasa sesalnya. Dia benci untuk mengakui jika dirinya tidak akan pernah menang melawan kibum yang selalu diperjuangkan oleh siwon yang seharusnya menjadi tunangannya. "Ya, aku tahu jika siwon oppa akan hanya selalu memikirkan dirimu yang merusak segalanya."

"Aku merusak?" Kata-kata itu begitu menyakitkan bagi kibum. "Kau yang merusaknya. Kau yang datang tiba-tiba diantara kami. Kau harusnya bersyukur jika aku tidak pernah berkeinginan untuk menhancurkan dirimu hingga berkeping-keping. Dan kau harus ingat didalam otak kecilmu itu jika aku tidak akan menyerahkannya untukmu."

"Saya rasa anda sudah cukup menyakiti anak sama kibum." Untuk pertama kalinya setelah perselisihan panjang itu appa eunhye berbicara lagi. "Saya awalnya terkesan dengan kepribadianmu kibum tapi setalah semua ini. Banyak hal yang merubahnya."

Kibum terdiam disana dan rasa egoisnya menghancurkan segalanya. Seharusnya ia tahu apa yang akan terjadi jika dirinya bersikap kekanak-kanakan seperti ini. "Maafkan, saya."

"Kau tidak perlu meminta maaf kibum. Karena setelah ini saya nyakin untuk tidak akan pernah ingin berkerja sama dengan perusahaan yang sudah merusak mimpi indah anak saya." Kibum diam membisu dia ingat dengan jelas berapa nilai investasi yang akan ditanamkan diperusahaan appanya dan jika ini semua berakhir begitu saja. Kibum tidak bisa sama sekali membayangkannya. "Saya tidak perduli siapa yang benar karena dimata saya eunhye yang akan selalu benar." Appa eunhye berdiri setelah menyelesaikan kalimat ultimatumnya. "Kita pulang eunhye." Pria tua itu akan selalu menjadi pelindung terbaik bagi eunhye.

"Baik appa." Eunhye berdiri dari duduknya ketika appanya sudah meninggalkan dirinya dan kibum berdua. "Kau harusnya tahu sejak awal dimana tempatmu, kibumshi yang tampan." Eunhye memeluk kibum yang masih duduk dikursinya. "Aku tidak ingin siwon ketika aku melihatmu. Aku lebih tertarik padamu. Kau ingin nilai investasi itu tetap ada atau hilang seperti itu?" Eunhye tersenyum penuh kemenangan sekarang. Dia tidak akan pernah mennyesal untuk mempertaruhkan segalanya jika ia bisa mendapatkan kibum karena keduanya harus sama-sama menderita seperti dirinya. Mereka harus tahu rasa sakit hatinya dan siwon harus yang paling terluka.

"Apa yang kau inginkan, eunhye?"

"Aku?" Eunhye tahu kibum tidak akan menyakitin keluarganya. Kibum terlalu naif. "Aku ingin dirimu bersamaku. Appa ku akan melajutkan investasinya jika kau mau bersama ku, kibum."

"Kau gila,eunhye."

"Ya, aku gila sejak pertama kali melihatmu."

Kibum melepaskan pelukan eunhye dari tubuhnya dan membuatnya terjatuh. "Aku tidak akan pernah ingin bersama mu. Bahkan, jika aku harus mati sekalipun."

Eunhye tertawa mendengar kata-kata kibum. "Kau mati kibum?" Dia berdiri lagi tepat dihadapan kibum. Kibum si naif yang picik. Eunhye akan lebih picik untuk semua hal yang akan diinginkannya dengan perusahaan appanya ia bisa mendapatkan apa saja KECUALI SIWON. "Jika aku mau aku lebih baik menghancurkan appamu yang tersayang itu dari pada harus membunuhmu. Kau seharusnya lebih bijak dan bisa menerima ku untuk berbagi siwon tapi kau si naif yang picik,kibum. Siwon tidak akan mendapatkan salah satu dari kita. Dia akan menderita untuk kita berdua. Aku, kau dan siwon harus terluka sama banyaknya." Eunhye terluka dan itu sebagiannya salah kibum, kibum terluka itu juga sebagian salah eunhye, dan siwon melengkapi semuanya. Ketiga akan terluka dan sama-sama hancur.

"Jika kau menginginkan nilai investasi itu. Kau harus menemuiku dan menuruti semua keinginan ku. Tapi jangan berharap jika aku akan memintamu untuk pergi dari kehidupan siwon."

"Aku tidak akan pernah menemuimu."

"Kau akan mengemis di kakiku dan sampai jumpa lagi." Eunhye pergi meninggalkan kibum yang mematung ditempatnya sekarang.

-O.o-

Kibum mendengarkan dengan baik segala hal yang disampaikan appanya. Dia hanya diam duduk diatas kursi dengan helaian angin yang bertiup pelan memainkan dedaunan serta helaian rambutnya tanpa perduli.

"Separah itu?"

"Appa tahu ini menyakitkan tapi jika mereka menarik nilai investasinya maka kita bisa rugi dan itu dengan jumlah yang lumayan banyak." Mr. Kim tidak akan pernah menyalahkan kibum. Anaknya sudah dewasa dan berhak memutusakan apapun yang terbaik baginya. Menjadi penerus perusahaan bisa menjadi bukan pilihan kibum. "Appa mungkin bisa menarik investor yang lain tapi biaya yang kita keluarkan selama ini akan menjadi pengeluaran yang sia-sia. Mereka sudah menandatangani kontrak untuk investasi dan tidak bisa berkelit menarik investasi tersebut secara tiba-tiba. Tapi kan kita juga tetap harus memikirkan jika hal buruk terjadi."

"Ya, kibum mengerti appa."

"Appa tidak katakan jika dirimu salah nak... Hanya saja kau harus tahu bagaimana cara orang-orang tamak dan menggilai uang memainkan dunia ini."

"Ya."

"Appa akan mengurusnya. Jika memang menurut mu mereka bukan investor yang baik dan lebih menginginkan keuntungan pribadi dari kita. Appa akan coba menekan mereka kembali."

"Mereka bukan satu-satunya perusahaan yang bisa berinvestasi kan appa?"

Mr. Kim tersenyum disana. Kibumnya menjadi sedikit lebih dewasa. "Appa bisa menanganinya. Belajarlah yang baik disana serta cepat kembali kesini kibum."

"Baik appa."

"Annyeong."

Kibum meletakkan smartphonenya diatas meja bundar kecil yang ada tepat disampingnya duduk. Untuk kali ini dirinya akan melihat seperti apa eunhye yang sebenarnya. Dia yang picik dan naif atau wanita itu yang tolol serta dungu?

Perusahaannya tidak sebesar perusahaan keluarga eunhye atau siwon. Perusahaan itu hanya bergerak pada bidang property dengan skala yang cukup menjamin dan kemajuan yang pesat. Kemungkinan perusahaan itu untuk hancur pasti selalu ada tapi appanya adalah pria yang selalu memikirkan segala resiko yang dapat terjadi sebelum mengambil suatu keputusan. Jatuh dan bangkit lagi adalah hal yang biasa karena jika tidak seperti itu perusahaan keluarga kibum takkan pernah ada.

"Kau melamun?" Siwon duduk disamping kibum yang terpisahkan oleh meja bundarnya.

"Hanya tiba-tiba aku memikirkan kembali soal pertunangan mu dan eunhye yang batal. Apa yang kau lakukan hingga pertunangan itu batal,wonnie?"

"Tidak ada."

"Kau pasti berbohong."

Siwon tersenyum "Jika keluarga mu memberika begitu banyak fasilitas dan uang yang tiada henti untuk mengalir kedalam rekening pribadi dengan anggka nol yang berjejal sesak didalamnya pasti kau bisa melakukan apa saja." Siwon benar. Mungkin kau tidak bisa membeli dunia dengan uang tapi ingat ada hal-hal yang hanya bisa didapat jika kau memiliki uang dan kekuasaan. "Kenapa bertanya seperti itu?"

"Aku hanya merasa bodoh karena terlalu mengkhawatirkan hal-hal yang tidak penting sama sekali."

"Seperti?"

"Seperti mengkhawatirkan dirimu."

"Kau harusnya mengkhaawatirkan aku lebih banyak lagi.." Siwon mengacak-acak rambut kibum kemudian mengecup sekilas bibir merah yang selalu mengodanya.

Apapun yang terjadi kibum tidak perlu takut karena siwon akan selalu bersamanya dan karena siwon bisa melakukan apa saja untuknya tapi bukan kah lebih menarik untuk bermain sebentar sebelum benar-benar membuatnya menari diatas tumpukkan kaca.

-O.o-