SIBUM
Siwon X Kibum
I dont have anything i just have the plot
Wellcome for all people...
.
.
.
Terima kasih semua yang telah melihat bakhan jika itu silent readers sekalipun
^^!
.
.
Selamat Menikmati!
Dari banyak hal yang ditakuti di dunia ini selain mati adalah kesepian namun dirimu berada di kerumunan orang banyak tapi tidak tampak satu orangpun membuatmu merasa nyaman dan sadar jika kamu tidak pernah sendiri.
Kibum pernah mengalaminya ketika appanya sakit dan dirinya sama sekali tidak bisa melakukan apapun. Untuk anak umur 5 tahun itu seperti momok yang selalu menghantuinya. Mungkin ada sisi dibagian saraf yang menyimpan dengan baik sisi trauma yang menghantui dan sulit dilupakan.
Kibum benci rasa bersalah karena terkadang dia bisa menjadi orang yang terlalu sensitif melebihi orang pada umumnya dan membawa rasa bersalah itu hingga akhir napas. Dirinya memang pemaaf dan mudah melupakan segala masalah orang lain yang berdampak pada hidupnya tapi tidak begitu sebaliknya.
Aromanya terasa begitu mengoda. Kibum pernah bercita-cita untuk menjadi chef jika tidak ingat dirinya adalah seorang pewaris tunggal. Menciptakan sesuatu dan membuat oranglain lebih bahagia menjadi bagian passion hidupnya. Makanan menjadi jalan yang lain tapi sayang ia hidup di dunia nyata dimana semua hal hanya bisa kau inginkan dan belum tentu kau miliki.
Welcome to the real world,babe!
"Suka dengan hidangannya?"
"Lezat. Aku bahkan tidak pernah tahu jika ada resataurant itali yang begitu enak didalam gang sempit seperti ini."
"Aku senang kau menyukainya."
"Terima kasih, kibum." Eunhye tidak pernah tahu jika kibum adalah pasangan yang selalu menyanjung pasangannya dan membuat pasangannya merasa dibutuhkan setiap saat. Dia sosok pasangan yang selalu diidamkan. Baik, ramah, sopan, sedikit posesif, dan berjiwa sehat. "Sekarang aku tahu kenapa siwon selalu memujamu."
Kibum mengerutkan keningnya berlipat-lipat. "Kenapa?"
"Karena kau sempurna."
"Kalian saja yang aneh. Mana ada yang sempurna di dunia."
"Ada."
"Hanya tuhan yang sempurna. Sisanya hanya ketidakadaan,saja."
Eunhye terdiam sesaat memikirkan jika kibum menjadi pemuka agama pasti lucu. "Kau harusnya menjadi pemuka agama jika ingin mengatakan kata-kata yang menjijikan seperti itu."
"Kau juga seharusnya menjadi nenek sihir jika selalu suka menghancurkan kehidupan oranglain."
"Maaf untuk yang satu itu, aku hanya akan menjadi cinderella yang licik."
"Ya, kau cocok dengan kata licik."
"Terima kasih." Eunhye akan menjadi orang yang licik untuk mendapatkan semuanya yang dirinya inginkan karena kebahagiannya adalah nomor satu dan sisanya ia tak perduli. Bahkan jika bumi terbelah dia akan mengusahakan untuk lenyap dari bumi sebelumnya. "Apa yang akan terjadi jika siwon tahu pacarnya yang tersayang sedang makan malam denganku?"
"Dia pasti marah." Jawab kibum dengan tepat. Siwon pasti marah jika tahu hal yang terjadi pada kibum hari ini tapi sebelum siwon marah kibum akan membuatnya untuk sulit berbicara dan hanya dapat memaki di dalam kepalanya. "Tapi dia tidak akan pernah marah lebih dari lima menit."
"Kenapa begitu?" eunhye tahu siwon manusia yang seperti apa. Si bayi besar di keluarganya.
"Karena dia siwon tidak akan pernah menemukan alasan untuk marah."
"Kau terlalu nyakin kibum?"
Kibum berdiri dari duduknya, mendekat pada eunhye dan melakukan sama seperti terakhir kali mereka bertemu. "Kau harusnya tahu eunhye bagaimana cara kedua orangtua aku membersarkan diriku." Kibum meletakkan dagunya diatas pundak eunhye, hingga membuat wanita itu merinding. "Mereka begitu menyanyangi diriku melebihi diri mereka sendiri. Kau juga harusnya tahu bagaimana siwon memperlakukan ku,sayang." Kibum merapatkan kepala mereka berdua. "Dia bahkan rela mengemis di kaki ku untuk semua rasa cintanya dan jangan pernah berpikir di dalam kepala kecil mu ini jika aku tidak pernah serius dengan pria itu, karena jika hal itu terjadi maka aku tidak akan dengan begitu bodohnya untuk menerima kelainan yang ada pada siwon."
"Kau yang membuatnya seperti itu?"
"Dan hal itu juga berlaku padamu. Kau menyukai ku." Kibum membelai tubuh eunhye yang bergetar didalam dekapannya. "Kau mau yang bagaimana? Aku bisa melakukannya."
"Aku tidak mau apapun."
"Bukankah kau menginginkan diriku?" Kibum tersenyum senang. Ini pertama kalinya dia menunjukkan sisi piciknya yang sama seperti eunhye inginkan. Siwon akan selalu menjadi miliknya dan jangan berharap sedikitpun dia akan berbagi dengan yang lain karena siwon juga akan selalu menginginkan kibum untuk dirinya sendiri. "Aku tidak mengatakan padanya jika aku makan malam denganmu. Kau tahu eunhye jika siwon sedang berada di kamar ku saat aku pergi dengan wajah damainya. Bagaimana jika siwon tahu kau mengancam diriku. Dia bisa melakukan hal-hal bodoh untuk balas dendam."
"Dia tidak akan melakukannya untukmu."
"Jika begitu mari kita lihat apa yang akan siwon lakukan padamu dan padaku, eunhye sayang." Kibum menyelesaikan kata-katanya dan mengakhiri pertemuan itu dengan sebuah ciuman di pipi eunhye.
Kibum tahu eunhye telah hancur sedikit demi sedikit dan jika eunhye ingin menambahkan rasa bersalah diri kibum untuk semua perlakuannya pada siwon maka eunhye telah berhasil melakukannya. Kibum tahu dia sudah terlalu banyak memupuk rasa sakit pada siwon. Begitu banyak hal yang dipertaruhkan siwon untuk dirinya. Bahkan jika dunia mengabaikannya siwon akan tetap berada disana mendukungnya dan memberikan tempat terhangat untuknya. Jika besok siwon bangun dan meninggalkannya kibum tidak akan pernah tahu apa yang akan terjadi pada dirinya.
Dia bukan pengemis tapi dia rela menyerahka semuanya pada siwon. Dia memang berengsek. Dia ingin meninggalkan siwon tapi tidak ingin siwon meninggakannya. Dia tahu sepicik apa dirinya yang selalu mengambil keuntungan dari siwon dan kibum sudah menentukan langkahnya sekarang, dia tidak akan lagi mundur untuk mempertahankan siwon ditempatnya. Dia akan melakukan apa saja agar siwon tetap berada disisinya, bahkan jika harus menjadi licik, penjilat, atau bahkan serakah sekalipun dia tidak akan pernah perduli. Karena siwon akan menjadi penyelamat bagi keluarganya dan menjadi pelindung baginya.
****** . ******
Kibum mendekap tubuh yang selalu membuatnya nyaman, aroma yang selalu menenangkan hari beratnya, dan rasa aman yang tersedia setiap saat untuknya. "Kau pergi kemana kemarin?" Siwon menatap langit-langit kamar yang gelap. Sepertinya hujan diluar karena rasa dingin menusuk lebih dalam.
"Makan malam dengan eunhye." Kibum tidak akan berbohong kali ini. "Aku hanya ingin dia berhenti melakukan semua hal bodoh yang terus menarik kita berdua tanpa henti."
"Aku seharusnya melakukan hal yang baik untuknya."
"Menggangunya bukan pilihan yang bijak,siwon. Dan berhentilah mengkhawatirkan hal yang tidak berdampak setikitpun padamu." Mungkin semua ini akan berakhir dengan pertengkaran antara keduanya atau yang lebih buruk adalah saling diam untuk kebaikan satu sama lain tapi kibum tidak ingin jika semua hanya selalu kembali seperti biasa. "Termasuk mengkhawatirkan diriku."
"Kau ingin aku seperti apa?" Siwon merasa frustasi tanpa sebab. "Dia bahkan tidak pernah melihatku lagi sejak kalian bertemu. Dia bukan gadis bodoh yang tidak dendam ketika menemukan sainganya dan aku menyakitinya lebih karena mu."
"Aku hanya ingin kau fokus dengan masa depanmu dan bukan tentang ku."
"Karena kau merasa jika kau bukan bagian dari masa depan ku, kim kibum?"
Kibum membuka kedua matanya yang langsung mengarah pada wajah siwon yang menahan marah. Siwon tidak akan melakukan apapun, siwon akan mengikutinya hingga akhir, dan kibum percaya semua itu. "Tapi kau bagian dari masa depan ku." Kibum mengatakannya dengan satu tarikan napas. Kibum melepaskan pelukannya dari tubuh siwon dan memilih duduk diatas kasurnya yang kusut. Seharusnya dia ingat jika dia tidak tinggal sendiri lagi. "Aku hanya ingin kita berdua untuk berhenti egois, termasuk sikap ku yang tidak pernah benar." Siwon mengikuti kibum untuk duduk dan melipat kedua kakinya dengan tubuh yang bersender pada kepala kasur. Dia akan mendengarkannya dengan baik seperti murid sekolahan. "Dan aku tahu. Aku akan terus menyakitimu walapun aku tidak pernah berniat melakukannya. Aku mungkin brengsek dalam kasus ini. Aku selalu melakukan apa yang ku mau tanpa memikirkan bagaimana efeknya terhadapmu. Aku tahu jika aku salah dan aku akan berusaha memperbaikinya walau aku tidak nyakin akan hal itu."
"Kibum. Apa yang sebenarnya kau inginkan. Mengakhiri semua ini atau melanjutkannya. Aku hanya ingin tahu tanpa perduli siapa yang akan menyakiti siapa. Itu adalah bagian dari semua ini. Aku hanya ingin kita beranjak dewasa dan menua secara bersama." Siwon bukan pria yang suka mengukir kata-kata dengan indah karena jika hal itu terjadi dia sudah menjadi penulis sekarang bukan pria yang sedang duduk dengan pikiran kacau bersama pacarnya yang mungkin sedang mestruasi.
"Kau harus mendengar apa yang ku katakan dan berjanji akan mengabulkan semuanya jika tidak aku lebih baik diam dan kembali melakukan apa yang ku suka lalu kita akan hancur bersama-sama. Kau ingin yang mana?"
"Baiklah." Siwon menyerah dengan kibum dia selalu menyerah dan menjadi anak baik karena jika dia mengikat kibum akan meninggalkannya dan jika dia diam kibum akan mengejarnya. Jadi diam dan mengikuti adalah pilihan terbaik. Dia memeng bodoh.
"Pertama aku akan meneruskan pendidikan ku ke london dan kau harus tetap disini mengurus perusahaan karena aku bukan salah satu alasan untuk membuat ribuan orang menderita dengan keegoisanmu." Siwon ingin menyela tapi pandangan kibum seperti mengikatnya. "Kita akan bertemu setiap tiga bulan selama seminggu dan itu hanya berlaku hingga aku selesai mengurus kuliah dan bisa membantu diperusahaan keluarga ku."
"Seharusnya seminggu untuk setiap bulannya. Aku tidak masalah untuk ke london setiap minggu. Tiga bulan terlalu lama dan soal masalah perusahaan kita bisa bersama-sama membangunnya."
Kibum meraih jari-jari siwon membuat tautan diantaranya. "Aku hanya ingin mencoba menjadi lebih baik untukmu. Sama seperti dirimu yang selalu menjadi terbaik untukku."
"Dan berjanjilah kau tidak akan kabur atau bahkan berpikiran untuk meninggalkan ku." Siwon hanya berharap hal sekecil itu untuk masa depannya yang tidak pernah ingin dipikirkan lebih jauh karena seperti ini sudah cukup untuknya.
Karena sejauh apapun aku berlari aku akan kembali disini.
"Ya."
"Terima kasih."
Siwon memeluknya sebagai tanda jika dirinya akan bersabar lebih untuk kibum dan untuk dirinya sendiri. Dan balas dari kibum akan selalu menjadi sebuah bentuk kebahagian yang tidak sulit untuk didapat. Bukankah cinta berarti pengorbanan, kebodohan, dan keingkaran dalam arti lainnya.
"Aku tidak ingin mendengan kau meneuinya lagi. Kau harusnya tetap diam dan melihat saja, kibum. Jangan habiskan waktumu untuk sesuatu yang membuat ku terluka."
"Mian."
****** . ******
Siwon duduk dalam diam sementara kibum dengan santainya menidurkan dirinya disamping siwon membiarkan kakinya mengantung di sofa dan membuat kedua paha siwon yang terbungkus katun menjadi bantalnya yang paling nyaman didunia.
Dia ingin seperti ini setiap harinya. Menikmati sedikit waktu dengan bersantai dan menonton hal-hal bodoh, melakukan sesuatu yang normal, tertawa setiap saat, bahkan bertengkar karena hal-hal yang tidak penting. Keduanya menginginkannya.
"Kau tahu jika eunhye menyukaiku?"
"Ya."
"Bagaimana bisa tahu. Aku bahkan tidak pernah membayangkan jika eunhye akan menyukai ku."
Siwon melirik kibum sekilas lalu kembali lagi menonton filmnya tanpa minat karena semua rasa penasarannya telah kibum ambil sejak pria itu berada disampingnya. Poros dunianya harus kembali ketempatnya apapun yang terjadi. "Dia mengatakan jika aku memilki orang yang ku suka maka aku harus memilih dan ketika dia pertama kali melihatmu ada sesuatu dimatanya yang terlihat berbeda ketika melihatku. Aku pikir dia hanya bercanda tapi setiap saat dia selalu menganggu ku dengan bertanya semua hal tentangmu."
"Kau terganggu?"
"Sangat jika kau ingin tahu,kibum!" Kata siwon lalu mengecup bibir kibum sekilas dengan jari-jari panjangnya yang sekarang memaikan helaian rambut kibum. "Kapan kembali ke london?"
Kibum menarik napas panjang seakan ada puluhan beban yang harus dipikulnya. Membayangkan harus ke london membuatnya merasa sedih dan kini mulai terbebani tapi kibum tetap harus melakukannya. "Dua minggu lagi,mungkin. Kau pasti akan merindukan ku."
"Sangat."
"Memang seharusnya seperti itu. Kau harus sangat merindukan ku karena aku juga merasakan hal yang sama tentangmu. Tiga tahun pasti akan berlalu sangat lambat."
"Ya, begitu lambat hingga terasa akan sedikit membunuh." Ada nada sedih disetiap kata-katanya. Perpisahan seharusnya bukan bagian dari kisahnya.
"Kau boleh ke london jika merindukan ku dan berjanjilah untuk lebih banyak menghabiskan waktu dengan orangtuamu karena aku pasti terlihat buruk bagi keduanya sekarang."
Siwon sendiri sudah lupa berapa lama dirinya tidak pulang ke rumah. Seharusnya siwon menghabiskan waktunya lebih banyak untuk keluarganya jika saja dia dan kibum seperti pasangan diluar yang normal dan tidak terlalu sering bersikap egois. Jika kibum kembali ke london siwon pasti akan menghabiskan seluruh waktunya untuk kelurganya, perusahaan, dan rasa sepinya. Membayangkannya saja membuatnya sedih. Tidak ada pilihan untuk mundur yang ada hanya maju ke depan. Tapi karena tuhan selalu memberikan hal-hal yang tidak pernah kita inginkan dengan hal itu dia jadi tahu bagaimana kesedihan mengantikan sebuah senyum, pengorbanan untuk hal yang sia-sia, ketidakadilan, serakah, dan rasa kesepian.
Dia tidak akan marah lagi jika dia mengingat ibunya yang telah tidur dengan tenang untuk selamanya dan digantikan dengan sosok lain yang menyayanginya seperti anaknya sendiri. Kali ini, tuhan begitu baik padanya karena memberikn dia seorang pasangan yang ada disampingnya menemaninya melewati detik yang terus beganti tanpa rasa sepi karena penyakit yang paling menyedihkan itu adalah rasa sepi bukan ketidakadilan.
"Love you."
"Love you,too."
****** . ******
