I'm Sorry and I love you, Papa |Last Chap
Disclaimer : Masashi Kishimoto. Main Chara : Hanami and NaruSaku. Warning : OOC. AU. Mainstream theme. Rated : T-M. Genre : Romance and family
Story by Hikari Cherry Blossom24
.
.
Don't like? DON'T READ!
.
o.O.o.O.o.O.o.O.o.O.o.O
.
Enjoy It!
Sebuah pintu bercat putih polos dibuka oleh seseorang dari arah dalam. Sentuhan— genggeman kokohnya masih bertahan di kenop, hingga kemudian dilepaskan begitu pintu kamar mandi tersebut telah ditutup kembali.
Tatapan iris blue safir yang berkilat tajam itu meneduh, tatkala mendapati punggung ramping dengan pemilik bersurai merah muda, yang nampak sedang sibuk memberesi kasur tempat tidur.
Naruto tersenyum tipis. Melangkah kesana, kemudian langsung memeluk pinggang ramping tersebut dari arah belakang setibanya ia disana.
Sakura tersentak kecil. Buru-buru ia menegakan tubuh, lantas berbalik— menghadap kearah si pemeluk pinggangnya. "Anata..!" Berseru pelan, dengan nada khas miliknya.
Naruto menarik tangan mungil Sakura, mengajaknya duduk dipinggiran ranjang. "Bagaimana? Apa, 'kah kau sudah bicara dengan Hanami?" Tangan sang Istri ia genggam, dan sesekali mengecup punggung mulusnya.
Sakura menggeleng pelan. "Tadi aku pergi ke kamar Hanami untuk bicara, tapi ternyata dia sudah tidur.." Kali ini giliran Sakura yang mengecupi punggung tangan Naruto dengan bibir peach miliknya. "Kurasa dia kelelahan.. mungkin karena menangis."
Satu tangan kokoh Naruto terjulur, menangkup pipi mulus Sakura dengan telapak lebarnya. "Tak apa, kita masih punya banyak waktu untuk menyelesaikan masalah ini..." Ia mengecup dahi lebar Sakura, lalu saling menyentuhkan ujung hidung— beserta kening mereka.
Nafas segar Naruto berhembus hangat, dan menerpa permukaan bibir Sakura. Geli yang menggelitik ia rasakan.
"Aku merindukanmu.."
Sakura terkikik geli. "Aku juga rindu padamu.. sangaaat rindu, Naruto-kun."
Naruto ikut tertawa. Menjauhkan wajah mereka, dan menciptakan jarak. "Sayang.. bagaimana kalau kita..." Ia menunjukan senyum mesum, yang menurut Sakura malah terlihat lucu dan sangat menggemaskan.
Perempuan itu terkikik— lagi. Pipi berkumis sang Suami ia sentuh, lalu meninggalkan kecupannya disana. "Kau belum makan, untuk itu makanlah dulu.." Ucapnya setelah itu, membuat Naruto mendesah kecewa.
"Nanti saja.. yang aku inginkan saat ini hanya dirimu, Sakura." Tangan Naruto memanjang, meraih pinggang kecil Sakura untuk mendekatkannya.
Sakura tersipu. "Sungguh ?"
Pria itu mengangguk bersama dengan senyum tipisnya...
Sakura bergerak, membuka tali handuk dari bagian pinggang Naruto. Kerah handuk kimono tersebut ia turunkan dari leher kokoh si pemakai, namun dengan tuntunan lembut dan senyumnya yang merekah manis.
"Aku juga menginginkanmu.. sekarang juga.. detik ini juga."
Kali ini Naruto menyeringai. Segera ia menuntun Sakura, membaringkannya diatas kasur lalu mengungkung tubuh mungil tersebut. "Miss you.. miss you so much." Ujung hidung mungil di bawahnya ia beri kecupan, dan setelah itu menyatukan sesama kening mereka.
"Miss you too, My love.."
Sakura bahkan tak sempat bersiap-siap, kala Naruto langsung menyerang bibirnya. Disela kecupan mereka, ia tak henti-hentinya tersenyum. Meraih sisi wajah Naruto, lantas mendongak untuk menyamankan pagutan bibir mereka.
Naruto mengangkat satu kaki jenjang Sakura, membuka selangkangan wanita itu untuk menyusupkan tangannya ke bawah sana. Lumatannya kian membara, membagi hasrat 'keinginan' terbesarnya kepada sang Istri tercinta.
Sakura bahkan tak mampu menahan erangannya, begitu ia merasakan telapak kasar milik Naruto mengelus paha bagian dalamnya. Rasa hangat dan getaran bak— sentruman listrik terasa begitu ketara dalam mengaliri seluruh tubuhnya, ketika ciuman mereka kian mendalam.
Lelaki pirang itu menurunkan 'sesuatu' dari selangkangan Sakura. Meninggalkan wajah bersemu wanitanya, bangkit lalu duduk, dan menatap lekat pinggang bagian bawah Sakura yang masih tertutupi oleh rok mini— biru.
Wanita merah muda itu menggigit bibir, sesekali jade terang miliknya menatap wajah tampan Naruto dengan malu-malu. Membiarkan celana dalamnya dilucuti, ia lalu hanya menurut— saja ketika kedua kakinya dituntun untuk diangkat.
Menurut Naruto.. tiada hal yang paling membanggakan untuknya, selain bisa membuat Sakura terbuai dengan semua sentuhan-setuhan hangat darinya. Mendengarkan wanita merah mudanya itu terus melenguh— tertahan, dan berkali-kali melepaskan— cairan cinta dengan wajah merah— menyeluruh.
Melihat paras cantik sang Istri yang bersemu padam, dan sesekali memberinya kecupan disetiap tempat yang bisa ia jangku ditengah 'membasahinya'.
.
o.O.o.O.o.O.o.O.o.O.o.O
.
Tak pernah ada lelahnya untuk Naruto, ketika mengamati rupa menggoda Sakura yang tengah menggeliat— gelisah di bawah tindihannya. Ia menjilat bibir bawah, memerhatikan wajah berpeluh Sakura dengan adanya rona pekat dikulit putih mulus tersebut.
Pria itu merunduk, mendekat pada wajah Sakura lalu mengecupi bagian kulitnya yang tengah diterangi oleh semu padam. Senyum— bangga tertera di parasnya yang tampan, tak ayal, membuat kelopak lentik di bawahnya itu terbuka dengan perlahan.
Begitu kelopak lentik Sakura terbuka— sepenuhnya, sepasang iris blue safir yang pertama kali menyapanya. Ia terkikik pelan, lalu segera menarik selimut dibagian pinggang Naruto untuk menutup tubuh mereka yang sedang— telanjang.
"Kau sangat cantik, manis, dan menggoda, sayang.." Tangan kokoh Naruto bergerak, bergeser dan berpindah kungkungan tepat disamping wajah Sakura. Ia lekas melepaskan 'penyatuan' mereka, dan tak ayal membuat erangan— manis tertangkap oleh pendengarannya.
"Eenghh—" Kembali Sakura menggigit bibir, menahan rasa— sedikit perih dibagian selangkangannya. "A–apa secepat i–ini, Anata ?" Kepala merah mudanya bergeser, sedikit berpindah dari letak bantalnya.
Naruto hanya tersenyum simpul saat mendengarnya. "Iya. Kenapa? Mau tambah 'ronde' lagi?" Tanyanya, sedikit menggoda sang Istri.
Sakura mengangguk pelan. "T–tentu saja.. aku masih merindukan dirimu, Anata." Jawabnya, sambil menahan malu. Menyembunyikan rasa malunya dibalik pipinya yang kian memerah pekat.
Naruto menyeringai, dan kembali mendekati wajah Sakura. "Jika kau yang meminta, maka aku tak akan pernah bisa menolaknya..." Ia membisikan kalimat seduktifnya di dekat telinga Sakura, membuat kelopak empunya terpejam untuk menikmati sesuatu yang menggelitik dalam tubuhnya.
"Sshhh!" Naruto berdesis, merasakan tangan mungil wanita itu menggenggam dirinya dibalik selimut. "Aku menginginkannya, Sakura.." Jempolnya mengelus bibir peach Sakura, menatapnya dengan sorot— bergairah.
Tak bersuara, Sakura bergegas bangun. Meninggalkan tempatnya merebahkan diri, kemudian mendorong dada Naruto yang bidang. Ia menukar posisi mereka, duduk diatas perut berotot Naruto, lalu menelusupkan diri ke dalam selimut.
Lelaki itu memejamkan mata, begitu mendapat sentuhan menggoda terhadapnya. Membiarkan Sakura berada di bawahnya, dan memilih untuk menikmati belaian— manja terhadap dirinya. Merasakan dengan seksama kuluman— rakus di bawah sana, dan sesekali mengumpat geram sambil mengelus surai merah muda milik Sakura.
Malam yang indah...
Pas sekali untuk menghabiskan waktu bersama pasangan yang sudah sah dalam ikatan benang merah...
.
o.O.o.O.o.O.o.O.o.O.o.O
.
Dengan sangat perlahannya Sakura membuka pintu kamar, menggigit bibir sebagai pelampiasan untuk menahan agar pintu tak bersuara. Kepala merah mudanya langsung melongok begitu pintu coklat polos tersebut sudah terbuka sepenuhnya, lantas matanya bergerak— mengamati seisi ruang kamar Hanami.
Temaram...
Cahaya pagi yang kini menerangi ruang kamar bernuansa biru lembut tersebut. Angin— embun berhembus dengan begitu lembutnya, menerbangkan— pelan tirai jendela.
Sakura masuk, lalu menutup pintu. Kakinya melangkah dengan pelan, hingga tak menimbulkan bunyi derap. Ia langsung tersenyum, begitu tiba di dekat ranjang Queen Size dan mendapati putri merah mudanya sedang terlelap disana.
Perempuan itu duduk dipinggiran ranjang, dan berderit pelan karenanya. Surai yang sama seperti miliknya itu ia sentuh.. ia elus dengan rasa sayang.
Mendapat sentuhan lembut, sedikit mengganggu Hanami dalam tidurnya. Gadis kecil itu terusik, badannya bergerak— meleok. Racauan halus lolos dari bibir mungilnya, hingga tak lama kemudian sepasang blue safir dibalik kelopak lentiknya tertampil, memancarkan kilau indahnya.
Mata Hanami menyipit, menjelasi sosok wanita yang kini tengah mengurai senyum manis kepadanya. Kali ini tangannya terangkat, lalu bergegas mengucak kedua matanya yang masih terasa— lengket saat dibuka.
Sepasang zambrud terang menyapa pagi hari Hanami...
"Mama...!"
Sakura masih tersenyum. Menyelipkan anak rambut ke belakang telinga, ia lalu merunduk dan memberi kecupan pada kening Hanami. "Selamat pagi sayang.."
Hanami ikut tersenyum— juga bahagia. Tak segera bangun, ia malah berpindah kemudian menjadikan sebelah paha Sakura sebagai bantal untuk menyanggah kepalanya. Matanya terpejam, menikmati belaian terhadap kepalanya.
"Ini hari minggu, hari aku libur sekolah."
Terdengar suara tawa lembut khas Sakura. "Iya sayang, Mama tahu kok..." Ia menyentuh pipi mulus Hanami, membawa— pejaman mata sang putri untuk mengarah padanya. "Mama hanya ingin melihatmu saja. Maaf ya, kalau kedatangan Mama malah mengganggu tidurmu."
Spontan, kelopak lentik Hanami terbuka begitu cepat. Melirik Sakura melalui ekor mata, dan memanyunkan bibirnya yang peach. "Apa-apaan ucapan Mama itu !" Sungutnya, terdengar mengambek.
Sakura terkikik geli. "Itu memang benar, bukan ?" Ujarnya, sukses mendenguskan sang putri dipangkuan pahanya.
"Aku tak mengatakannya, hanya Mama saja yang langsung berpendapat sendiri.." Papar bocah itu, lalu bersedekap ditengah berbaring telentangnya. Menatap sang Mama dari bawah, namun dengan pandangan sinis.
Kali ini Sakura tertawa. Hatinya berdesir hangat, kala mendapat tatapan seperti itu dari sang putri yang benar-benar serupa dengan pandangan sinis Sumainya. Keduanya bagaikan buah pinang yang dibelah dua, benar-benar sama peris dari segi paras maupun sifat— watak.
"Sudah cukup ngomelnya ?" Hanami kembali mendengus. "Ya sudah.. kalau begitu cepatlah bangun, lalu turun dan sarapan bersama Papa." Sakura menurunkan kepala pink Hanami. Ia bangkit— berdiri, mengambil selimut lalu melipatnya.
"Mama, aku tidak mau turun..."
Gerakan Sakura terhenti. "Kenapa ?" Tatapan herannya mengarah tepat pada Hanami. Kembali duduk, lantas saling mempertemukan pandangan mata mereka.
Hanami bersedekap— lagi. "Aku masih marah kepada Papa." Matanya terpejam, menirukan dengan sama persisnya sifat angkuh Naruto disaat masih remaja dulu.
Puncak kepala Hanami mendapat sentuhan, dan selanjutnya kacakan gemas. Sakura yang melakukannya malah tertawa, tak sadar bahwa perlakuannya membuat putri merah muda itu mencemberutkan wajah jelitanya.
Titisan dari peri bunga khas Jepang itu menggembungkan pipinya yang chubby dan merona, juga memanyunkan bibir bagian bawahnya...
"Ayo, ikut Mama turun..."
Keangkuhan Hanami lenyap. "Mamaaa~" Ia merengek manja. Memegang lengan Sakura, sambil menunjukan wajah memelas.
Sakura menggeleng. "Tidak sayang.. kau harus turun dan minta maaf kepada Papa."
Hanami berdecak, lalu mendesah frustasi. "Tapi Ma—"
"Hana sayang..." Sakura bergegas menyentuh pipi Hanami, dan menangkupnya. Membawa pandangan gadis itu agar mengarah tepat padanya. "Jangan begitu kepada Papa. Dia adalah tulang punggung keluarga kita, dia pria yang menafkahi kita berdua.."
"Iya, aku ta—
"Dengarkan Mama dulu sayang !"
Hanami nampak tertegun kala mendapat teguran sigap tersebut...
"Dia Papamu, Suamiku.. kepala keluarga yang membahagiakan kita. Mencukupi semua kebutuhan kita, menuruti apa keinginan kita, dan dia juga yang membuatmu terlahir di dunia ini."
Kini bocah merah muda itu terhenyak mendengarnya...
Sakura menyentuh dagu lancip Hanami, sambil menyingkirkan beberapa helai poni gadis cilik itu kebelakang telinga. "Papa yang sudah mengenalkanmu kepada dunia, dan karena Papa juga-lah kau bisa mempunyai banyak teman. Kau harus tahu itu sayang, untuk itu kau harus bisa menghargai semua usaha Papa untuk membahagiakan kita semampunya."
Hanami tertunduk dalam kebisuan. Benar apa yang dikatakan Sakura. Tak sepantasnya ia memperlakukan Papanya sekejam itu, tak seharusnya pula ia berlaku egois. Malah seharusnya ia berterimakasih kepada Tuhan, karena Tuhan-lah yang sudah mengutus Papa pirangnya itu untuk menjadi Ayahandanya.
Penyesalan mulai menghantui perasaan gadis polos tersebut...
Kedua sisi wajah putrinya Sakura tangkup, membawanya— menengadah kearahnya. "Mengerti, Hana putriku sayang.." Ajunya kemudian, dan menatap bersungguh-sungguh biru samudera dihadapannya.
Dengan pelannya Hanami menganggukan kepala. Parasnya yang cantik itu nampak sedih, lengkungan di bibir tipisnya tertera ke bawah. Tak tahu kenapa, setelah mendengar kata-kata dari sang Ibunda, hatinya serasa menclos, ditambah lagi dengan sosok Papa tercintanya yang membayangi benaknya.
"Ma.. aku ingin bertemu dengan Papa."
Senyum terkembang, lalu menghiasi wajah jelita Sakura. "Boleh saja.. tapi Papa belum bangun." Hanami nampak tersentak begitu mendengar jawaban darinya. Ia hanya tertawa, dan menampilkan wajah— sok polos.
"Dari ucapan Mama, membuat aku mengira kalau Papa sudah bangun sejak tadi, dan sekarang sedang sarapan..." Papar bocah itu, lalu tertawa pelan. Melupakan kesedihannya— sebentar, dan menggoyahkan kekerasan hatinya untuk mengakui kesalahan yang sudah ia perbuat kepada Papa tercintanya.
"Mamaa~" Putri Namikaze itu bergegas menghambur ke dalam pelukan hangat Sakura, yang terasa begitu nyaman dan menenangkan baginya.
"Iya sayang..." Sahut Nyonya Namikaze, sembari mengelus puncak kepala Hanami.
"Aku sayang Mama, dan aku juga sayang Papa. Aku sayang kalian berdua, aku juga sangat mencintai kalian berdua..." Wajah cantik Hanami bersembunyi, tenggelam dibalik dada Sakura. Lingkaran tangannya kian— mengerat, melilit bagian pinggang kecil Sakura.
"Bukan hanya kau saja. Kami juga menyayangi dan mencintaimu.. Kakek, Nenek, Mama dan Papa. Kami semua sangat menyangimu nak.. lebih dari apapun..." Kecupan— demi kecupan mendarat dipuncak kepala Hanami.
"Mama.. aku ingin minta maaf kepada Papa."
Sakura melepaskan pelukan mereka. Menciptakan jarak, mempertemukam tatapan, dan tak lupa dengan seulas senyum manisnya. "Tentu sayang. Itu memang sudah seharusnya kau lakukan, karena bukan hanya Papamu saja yang bersalah dalam hal ini."
Gadis jelita itu mengangguk paham. "Boleh aku menemui Papa sekarang ?" Tangan sang Ibunda ia genggan erat, sembari memelaskan wajah.
"Boleh, asal jangan sampai membangunkan Papa..." Lagi-lagi Hanami mengangguk, namun kali ini terlihat begitu riang. "Tapi tak apalah, kalau Papa terbangun tanpa sengaja."
Sakura terkikik— geli. Ahh! Rasanya, ia jadi malu gara-gara keplin-planannya sendiri...
Hanami turun, lalu berdiri disamping Sakura duduk. "Ayo Ma..." Ia raih tangan wanita itu, dan bergegas menariknya keluar meninggalkan kamar.
Disela langkah mereka, tawa riang berhambur— meluncur secara manis dari mulut kedua Ibu dan anak tersebut. Mereka keluar meninggalkan kamar tersebut, dan selanjutnya, terdengar bunyi derap langkah tergesa diluar sana.
Hanami berlari kecil...
.
o.O.o.O.o.O.o.O.o.O.o.O
.
Begitu pintu terbuka, Hanami langsung berlari masuk menerjang ranjang— tempat dimana Naruto masih tidur. Ia naik, dan merebahkan diri disamping Naruto. Memeluk tubuh kekar itu, dan menjadikan lengan kokohnya untuk menyanggah kepala.
Sakura mendudukan diri di dekat Naruto. Duduk tenang disana, seraya terus memerhatikan wajah tampan Naruto yang sedang terlelap.
"Tidur Papa nyenyak sekali..." Hanami berujar pelan, merendahkan nadanya saat berkata demikian. "Aku sayang Papa." Gumamnya, lantas mendaratkan kecupan sayangnya dikulit pipi halus Naruto.
"Papa juga sayang Hana..."
Hanami tersentak. Buru-buru ia mengangkat kepala, melongok ke dekat wajah Naruto. Sakura tertawa melihatnya, membekap— pelan bibir mungilnya dengan mata menyipit.
"Papa sudah bangun ?" Gadis itu duduk, menatap Naruto dengan kedua mata bulatnya yang nampak polos. Ia mengerjap, dan bibir mungilnya terbuka kecil.
"Hnn.. menurut Hana." Tangan Naruto terjulur, menyentuh puncak kepala Hanami dan mengelusnya. "Maafkan Papa atas kejadian semalam, ya sayang..." Ucapnya, sambil tersenyum lebar hingga sudut matanya mengerut.
Hanami menggeleng. "Tidak Pa.. seharusnya aku yang minta maaf." Berujar demikian, ia lantas merebahkan kepala merah mudanya di dada telanjang Naruto. Memejamkan mata, menyesap wangi maskulin dari kulit hangat Naruto. "Aku yang bersalah disini, bukan Papa."
Sakura meraih lengan kokoh Naruto. Menjulurkannya di bawah bantal, dan ia jadikan tempat untuk merebahkan kepalanya.
Naruto masih setia mengelus surai sutra Hanami. Bahkan, terkadang mengecupnya. Tak lupa ia juga mengecup puncak kepala Istri pinky-nya. "Aku sayang kalian berdua, wanita merah mudaku..."
Senyum bahagia terpatri, dan menghiasi paras jelita dua Namikaze merah muda tersebut. Hanami menyelipkan batang hidung mancungnya di dada Naruto yang bidang, dan Sakura kian mengeratkan pelukannya kepada dua orang yang sangat ia cintai dalam hidupnya.
Kelopak sipit Naruto terkatup, menikmati dekapan hangat dari kedua wanita pinkish tercintanya..
"Terimakasih, Sakura..."
.
o.O.o.O.o.O.o.O.o.O.o.O
.
"Neneeeekk...!"
"Aahh! Cucuku sayang.." Kushina berjongkok, merentangkan kedua tangan untuk menyambut kedatangan sang Cucu. Hanami berlari kecil, mendatangi Kushina yang tengah bersiap memeluknya.
Ditengah memeluk lengan kekar Naruto, senyum Sakura merekah lebar. Gemuruh dalam hatinya berdesir hangat, melihat keluarganya yang tak lagi dilanda dengan hawa panas dan aura gelap.
"Aku kangen Nenek..." Pelukan terhadap leher Kushina mengerat, membuat tawanya terdengar riang ditelinga. Ia balas memeluk sang Cucu, melingkari pinggang mungilnya sambil sesekali mencium rambut atasnya yang be-semerbak aroma cherry.
"Nenek juga kangen Hana.."
Minato yang sedari tadi hanya berdiri, kini ikut berjongkok di dekat sang Istri. Mendaratkan telapak tangannya diatas kepala Hanami, juga ikut tertawa bersama keduanya.
"Hana sayang, sekarang sudah besar ya..." Lelaki setengah baya itu mengacak surai gulali milik Hanami, membuat tataannya tak serapi diawal.
Hanami melepaskan pelukannya bersama Kushina. Ia kembali berdiri, dan menatap kakek pirangnya dengan mata bergetar. "Kakek..." Panggilnya terdengar— seperti sedang menahan sesuatu.
Ialah rindu...
"Aku juga kangen kakek..."
Dan selanjutnya, tubuh tegap Minato mendapat terjangan gesit. Ia sedikit terhuyung kebelakang dibuatnya, namun dengan sigap tangan kokohnya melingkari pinggang ramping sang Cucu, membuatnya urung terhuyung lebih jauh.
"Kakek juga kangen dengan Hanami.. kangeeen sekali.."
Sakura terkikik geli, mengundang tolehan kepala Naruto mengarah padanya. "Bahagianya.." Pria itu tersenyum begitu mendengar gumaman halus tersebut, membuat sudut bibirnya terangkat tinggi— keatas.
"Sekali lagi.. terimakasih, Sakura."
Sakura melirik Naruto, lalu mengedipkan sebelah mata kepadanya...
Bukan ide yang buruk, di hari libur ini Sakura mengusulkan untuk pergi mengujungi tempat tinggal Kakek dan Nenek Hanami. Ia tahu, kedua mertuanya itu pasti juga sangat merindukan Cucu semata wayang mereka.
Dan nyatanya, memang benar apa yang Sakura fikirkan...
.
o.O.o.O.o.O.o.O.o.O.o.O
.
Kembali kecupan mendarat di dahi Sakura yang lebar, membuatnya kian merona kala itu juga. Ia mengulum senyum, dan menyisir kearah belakang poni pirang Naruto dari dahinya. Dan selanjutnya, bergegas ia berikan kecupan disana.
"Terimakasih untuk semuanya..." Dahi keduanya saling bersentuhan, ujung hidung mereka— juga saling bersahutan. "Terimakasih karena sudah mau menjadi Istriku.. terimakasih karena telah melahirkan anakku, sekaligus menjadi Ibu dari anakku.. terimakasih untuk cinta dan kasih sayangmu, dan terimakasih juga untuk semua ketulusanmu kepadaku."
Wanita itu bergerak kecil, mengelus rambut lembut Naruto. "Tak hanya dirimu saja, Naruto-kun. Aku juga berterimakasih.. kau yang sudah mau memberikan cinta dan kasih sayangmu kepadaku, dan kau juga yang sudah bersedia menjadi pendamping hidupku untuk selamanya..."
Mata Naruto terpejam, kemudian tersenyum. "Kaulah sumber kebahagiaan dalam hidupku. Tak ada satu-pun orang yang bisa menggantikan posisimu dari letak hatiku, dan hanya kau satu-satunya wanita yang sangat aku cintai di dunia ini melebihi apapun."
Kepala Sakura terangkat, lalu bibirnya menyentuh permukaan bibir Naruto. Meninggalkannya setelah itu, dan kembali saling mempertemukan tatapan mata mereka. "Naruto-kun adalah hidupku.. nyawaku.. jantungku.. hatiku.. kebahagiaanku.. dan tuntunan arah jalanku menuju surga."
"..." Naruto diam sambil mendengarkan.
"Aishiteru, Anata."
"Aishiteru yo, Tsuma.."
Naruto bangkit, melepaskan kungkungannya pada Sakura. Bergeming hanya untuk menarik selimut, lalu digunakan untuk membungkus tubuh mereka. Ia membuka kemeja putih dari tubuh atletisnya, dan melemparkan begitu saja kemeja ditangannya ke lantai.
"Sayang, aku menginginkan dirimu lagi.. detik ini juga." Pria itu membuka balutan piayama daster dari tubuh ramping Sakura. Menatap lekat wajah merona wanitanya, dan menjilat bibir tatkala mendapati kulit mulus Sakura yang terekspos dengan jelas di depan matanya.
"T–tentu.. silahkan. Naruto-kun boleh mengambil 'jatah' dariku malam ini."
Naruto merunduk— kian mendekat pada wajah Sakura. Sedetik kemudian, dapat ia rasakan betapa lembut dan nikmatnya bibir ranum Sakura. Ia memagutnya, sembari mengelus kulit pipi Sakura.
Tokk.. tokk!
Dengan berat hati Naruto melepaskan bibir kenyal Sakura darinya. Decakan jengkel tak dapat terelakan, membuat Sakura yang mendengarnya terkekeh karenanya.
"Sebentar ya, Anata.."
Anggukan pelan mewakili jawaban Naruto...
Sakura bangun, duduk sejenak lalu turun dan memungut kemeja putih yang Naruto lemparkan tadi. Ia mengenakannya, dan menghiraukan tubuh mungilnya yang terlihat kedodoran dibalik balutan kemeja berlengan panjang tersebut.
Perempuan itu menghampiri letak pintu...
Cklekk...
"Maaf Nyonya.. ini pesanan Anda." Seorang bell-boy menyerahkan sebuah bingkisan dengan sopan kepada Sakura. Senyum ramah terpatri di wajah tan-nya, menunjukan kesopanan dan keramahannya terhadap tamu.
Sakura merogoh saku kemejanya, dan kebetulan pula ia mendapat uang lembar di dalam sana. Ia langsung menyerahkan uangnya kepada bell-boy tersebut, dan sedemikian pula berucap. "Terimakasih."
Bell-boy tersebut menyahut— masih dengan nada sopannya. Menerima uang tip pemberian dari Sakura, ia lalu membungkuk sopan dan selanjutnya pergi meninggalkan kamar hotel tersebut.
Sakura memasang DND Card di kenop, dan setelah itu pintu tersebut ditutup. Ia berbalik, meletakan bingkisan ditangannya keatas meja.
"Tsuma.. cepatlah kemari !" Naruto berseru dari ranjang— tempatnya berbaring tanpa pakaian atas. Matanya menyipit, menatap 'tak sabar' Sakura yang nampak begitu menggoda di depan matanya.
Wanita musim semi itu mengulum senyum, dan bergegas menyusul Naruto yang sedang menunggu dirinya.
"Iya, aku datang.. Anata..."
.
o.O.o.O.o.O.o.O.o.O.o.O
.
–The End–
Terimakasih
.
.
.
Wkwkwk... Saya yg nulis sendiri, kok malah jadi kayak orang gila yah? Ketawa-ketiwi(?), dan merona sendiri pas ngebayangin setiap scene dalam fic ini.. terutama saat terkena scene NaruSaku..
Manis bangeett atuhhh...! *^_^* Ampe Diabetes dibuatnya :D
