"Ia seperti memililki daya magnet."
"Maksudmu, kau tertarik dengannya?"
"Kurasa."
"Kau gila! Bahkan kau tidak mengenalnya!"
JiminxYoongi | boy x boy | chapter | other members appear!
Do not plagiarize
.
Why you don't use your imagination?
.
Enjoy!
.
Bagi Jimin, bermain skateboard sudah menjadi salah satu bagian hidupnya. Kemana ia pergi, sebisa mungkin ia akan membawa papan luncur bergambar dan bertuliskan namanya itu. Seperti sore ini, ia sudah berjanji dengan salah satu teman lamanya, Jung Hoseok. Mereka berdua akan berlatih skateboar di taman kota di bagian timur dari taman itu, yang cukup sepi. Kebetulan, hanya bagian daerah taman itu saja yang dibuatkan khusus untuk lapangan semen yang cocok untuk berlatih skateboard.
Hoseok segera saja berdiri dari posisi duduknya di pinggir lapangan, ketika mendengar suara Jimin memanggilnya dari kejauhan yang sudah berlari-lari dengan tangannya yang membawa papan luncur.
"Sudah lama?" tanya Jimin. Ia mendudukkan dirinya, dan meminum air mineral dingin yang sudah dibelikan oleh Hoseok sebelumnya.
"Lima belas menit."
Jimin mengangguk-angguk. "Jadi, kita akan kembali memulainya darimana?" tanya Jimin setelah meletakkan kembali botol air mineral itu.
"Flip?"
"Ya Tuhan, Jung Hoseok. Sudah berapa kali kita melakukan gaya itu, huh?"
"Kau bisa lihat? Di lapangan ini bahkan tidak dibuat tanjakan atau tempat kita untuk meloncat, dan melakukan berbagai macam gaya." Keduanya menatap ke seluruh lapangan. Mengedarkan pandangan mereka, dan benar saja, semuanya hanya lapangan beralaskan semen.
Jimin berdecak. "Kau memilih tempat yang salah Jung Hoseok." Hoseok mendengus kesal mendengarnya. "Kau tahu? Saat aku di Amerika, banyak sekali tempat-tempat untuk berlatih skateboard."
Lelaki berkulit coklat itu, memang baru saja kembali dari Amerika satu minggu yang lalu, setelah meninggalkan Korea selama dua belas tahun. Hoseok memukul kepala teman lamanya itu.
"Jangan menyamakan Korea dengan Amerika!"
"Ouch!" Jimin meringgis menatap Hoseok kesal. "Aku hanya memberitahu!"
Keduanya diam dengan pikiran masing-masing. Jimin masih sibuk dengan kepalanya yang masih berdenyut karena pukulan Hoseok yang cukup keras. Matanya menatap ke sekeliling, ia memang baru pertama kali ke taman ini. Tidak begitu ramai. Bisa dikatakan sepi.
Matanya membulat, sedikit terkejut, ketika mendapati seorang lelaki dengan kaus putih polos dan celana jins berwarna hitam pekat, duduk di bawah kursi yang ada di bawah pohon ek tua besar yang tidak begitu jauh dari mereka.
"Astaga!" pekik Jimin kecil.
"Ada apa?" Hoseok segera saja menoleh pada Jimin, dan mengikuti arah jemari telunjuk Jimin. "Oh, dia."
"Kau mengenalnya?" tanya Jimin, masih dengan matanya menatap lelaki dengan pandangan kosong itu.
Hoseok menggelengkan kepalanya. "Ia sudah seperti itu mungkin sejak lama. Bahkan saat aku menemukan tempat ini bersama Taehyung dua tahun yang lalu, ia sudah duduk diam disana. Jika tidak ada di bawah pohon ek, ia akan duduk di ayunan kayu itu. setiap hari."
"Setiap hari?"
"Maksudku, setiap kami berlatih."
"Berapa kali dalam seminggu?"
"Hampir setiap hari."
.
.
Ia merebahkan tubuhnya ke atas ranjang empuk miliknya. Menatap langit-langit kamarnya. Pikirannya melayang, pada lelaki yang baru saja ia temui tadi sore.
Mata sayunya, rambutnya yang tertiup angin, bibir pinknya yang sedikit pucat, kulit putihnya yang pucat, dan pandangan kosong itu.
"Ah!" kepala Jimin tiba-tiba saja berdenyut sakit. Ia memejamkan matanya, dan menghentakkan kepalanya ke belakang, untuk menghilangkan rasa sakit yang berdenyut di kepalanya, yang datang begitu saja.
Ia bahkan memukuli kepalanya sendiri, berharap rasa sakit itu menghilang dari kepalanya. "Sial!" desisnya. Rasa sakit itu menghantarkan dirinya, untuk berpikir mencoba tidur agar rasa sakitnya hilang. "Tidur akan lebih baik."
.
.
"Jimin! Hoseok sudah datang, Sayang!" suara teriakan Ibunya segera membuat Jimin berlari dengan tergesa, menyambar jaket dan papan luncurnya untuk turun ke lantai bawah. Dimana, Hoseok sudah menunggunya di ruang tamu.
"Ayo!" ajak Jimin segera. "Ibu! Kami pergi dulu!" Jimin berteriak cukup keras, agar Ibunya yang berada di dapur dapat mendengar suaranya.
"Taehyung mana? Tidak ikut?"
Hoseok melemparkan ponselnya ke atas dashboard mobil milik Jimin. "Tidak. Ia bilang hari ini ia akan ada kencan."
Jimin tertawa kecil. "Jadi, Taehyung sudah mendapatkan seorang pujaan hati? Begitu?"
"Begitulah."
"Jim, kurasa kita belum bisa mengganti tempat latihan kita. Aku belum menemukan lagi dimana tempat untuk berlatih skateboard."
"Ya, mau bagaimana? Mungkin saja kita dapat membuat rintangan-rintangan kecil disana menggunakan benda-benda yang ada di sekitar?"
"Mungkin."
Jimin memarkirkan mobil hitamnya ke area parkir khusus pengunjung taman. Keduanya harus berjalan beberapa meter, untuk memasuki area taman bagian luar yang kedua. Jimin segera saja mengedarkan pandangannya, dan benar saja.
Pemuda manis itu sudah duduk di bawah pohon ek tua, dengan tatapan kosongnya melalui matanya yang sayu. Mengisyaratkan kesenduan yang begitu dalam dan sulit dipahami.
"Kau lihat, bukan? Ia sudah ada disana. Bahkan lebih dulu dari kita."
"Mungkin ia memang senang untuk duduk disana?"
"Entah."
.
Jujur saja, Jimin tidak benar-benar fokus pada latihannya. Sesekali matanya melirik lelaki tersebut, yang memang hanya berjarak beberapa meter dari mereka. Jimin tidak habis pikir, bagaimana caranya lelaki itu bisa duduk diam disana, tanpa berbicara sedikitpun, dan hanya bergerak sesekali saja.
Setelah lelah berlatih, Jimin mendudukkan dirinya di atas lapangan semen itu. ia membuka botol air mineral miliknya. "Antara kau dan Taehyung, siapa yang sudah berbicara dengannya? Siapa namanya?"
"Kau gila, Park Jimin? Satupun dari kami tidak ada pernah yang ingin berbicara dengannya. Sungguh. Lagipula, untuk apa menanyakannya?"
"Tidak." Jimin menghembuskan nafasnya pelan. "Aku hanya ingin mengetahui namanya saja."
.
.
Ini sudah bulan kelima Jimin berlatih cukup rutin di taman itu, selama cuaca masih memungkinkan dirinya untuk berlatih, walaupun terkadang ia berlatih sendirian, tanpa siapapun yang menemani, kecuali lelaki manis yang duduk dalam diam seperti patung.
Jimin tidak mengerti dengan lelaki itu. Apa sebenarnya lelaki itu memiliki gangguan kejiwaan sehingga ia hanya bisa berlaku seperti itu? Bukankah melakukan semua hal itu hanya membuang-buang waktunya saja? Bagi Jimin, lelaki itu memiliki pesona tersendiri yang berhasil menangkapnya dan sulit untuk melepaskan diri dari lelaki itu.
Seperti hari ini, Jimin berlatih sendirian setelah sepulang dari kuliahnya, karena Hoseok dan Taehyung sudah memiliki janji dengan orangtua mereka masing-masing. Jimin menenteng masuk papan luncurnya, matanya menangkap lelaki itu sudah duduk diam disana. Dengan kaus putih bersih polos, dan celana denim biru gelap.
Jimin pernah berpikir untuk menghampiri lelaki itu, dan berbicara dengannya. Namun, Jimin selalu mengurungkan niatannya itu. Ia pikir, mungkin waktunya belum tepat untuk berbicara dengan lelaki manis yang berhasil menjeratnya itu.
Lelaki itu melakukan pemanasan sebentar, sebelum memulai permainannya. Sama seperti hari-hari sebelumnya, matanya sesekali melirik ke arah lelaki yang tidak ia ketahui namanya itu. Dan sama juga seperti hari-hari sebelumnya, Jimin selalu berpikir. Apa yang membuat lelaki itu begitu menarik?
.
.
Sesuatu yang tidak mungkin, bisa saja menjadi mungkin.
Dan,
Sesuatu yang mungkin, bisa saja menjadi tidak mungkin.
Mata kecil lelaki itu, menatap kertas lusuh yang ada di atas meja belajarnya. Kertas itu selalu ia baca setiap saat. Karena, memang hanya akan ada dua kemungkinan yang terjadi di dunia ini, dan itu sudah tertulis semua di atas kertas lusuh itu.
Pelupuk matanya menampung air mata yang siap meluncur jatuh kapan saja. Namun ia lebih memilih untuk menahannya, daripada untuk berkedip dan menjatuhkan air mata itu dan membasahi pipinya.
"Aku merindukanmu." Gumamnya sangat pelan.
.
.
Jimin menuruni anak tangga rumahnya. Perutnya benar-benar sangat lapar. Sebelum ia pergi melewati ruang tamu, matanya menangkap beberapa tumpuk album foto yang tertutup, dan beberapa album lainnya terbuka. Ia berpikir, mungkin Ibunya sedang merapikan foto-foto, dan album keluarganya.
Ia sedikit tertarik dengan semua foto-foto yang ada di dalam album. Ia mencari keberadaan Ibunya, dan mendapati jika wanita paruh baya itu sedang berbincang dengan tetangga mereka di depan rumah.
Jimin mendudukkan tubuhnya di atas sofa, dan mengambil salah satu album yang terbuka disana. Menatap foto laki-laki kecil dengan pipi yang begitu besar. Jimin tertawa. Itu dirinya saat masih kecil. Ia kembali tertawa, melihat semua foto-fotonya semasa kecil.
Tangannya kini sudah mengambil album yang kesepuluh dari atas meja. Ia melupakan rasa laparnya, dan Nyonya Park masih saja berbincang dengan tetangganya di depan rumah, tanpa berniat masuk ke dalam.
Matanya dengan serius, menatapi foto-foto yang ada di album tersebut. tidak ada foto Jimin sendirian disana. Foto-foto yang ada di dalam album itu, menunjukkan dirinya bersama teman-teman semasa kecilnya. Ia bahkan mendapati fotonya bersama kedua sahabat karibnya, Hoseok dan Taehyung yang sedang bermain di kolam renang plastik.
Di beberapa lembar terakhir, Jimin mengernyitkan keningnya tidak mengerti. Beberapa foto di album itu hilang. Dan pada lembar terakhir, di bagian belakang. Ada fotonya bersama seorang anak laki-laki kecil asing yang sedang berpelukan dengan erat, menatap ke arah kamera dengan senyum yang begitu lebar.
"Aku seperti pernah melihatnya."
.
.
TBC
Siapa yang nunggu chapter pertama?! Angkat keteknya yo! Voodoo gamau banyak cingcong dulu nih~ terima kasih banyak yang udah review, fav and follow buat prolog Your Name. review kalian bener-benar bikin saya bersemangat:D. oh ya, jangan panggil saya 'thor' dong, gue kan bukan superhero yang bawa-bawa palu raksasa itu-_-). Terima kasih juga buat yang udah review dengan kalimat paling mainstream di dunia, yaitu 'lanjukan' ya, masih mendinglah daripada siders.
Ok! See you in chapter two! Mind to review, fav, and follow? Don't be a siders, please^^)/
cute voodoo and phylindan
