"Apa yang kau ketahui tentang kenangan?"

"Kenangan?"

"Hmm."

"Rentetan peristiwa menyedihkan?"

.

JiminxYoongi | boy x boy | chapter | other members appear!

Do not plagiarize

.

Why you don't use your imagination?

.

Enjoy!

.

Jimin merutuki dirinya sendiri, mengapa ia bisa begitu ceroboh dengan lupa menyalakan alarm di jam beker besarnya. Ia terlambat bangun! Ia harus memulai kelas kuliah pukul delapan pagi, dan ia bangun baru saja lima belas menit yang lalu.

"Eomma!" teriak lelaki bermarga Park itu. Ia baru saja ingin menyalahkan Ibunya, sampai beberapa saat ia mengingat sesuatu. "Astaga! Eomma sedang ke Busan bersama Appa!" Ia menepuk keningnya sendiri begitu keras. Kembali merutuki dirinya sendiri.

Jadi, saat ini, ia tidak tahu lagi siapa yang harus disalahkan. Ini memang salahnya juga karena bermain game komputer hingga larut malam. Ia kembali merebahkan dirinya di atas ranjang. Sudah terlalu malas untuk pergi ke kampusnya. "Lebih baik aku kembali tidur."

Baru saja beberapa detik ia menutup kedua kelopak matanya, ia membukanya kembali. Ia menuruni ranjangnya, dan berlari ke balkon kamarnya. Menatap ke seluruh lahan yang cukup luas untuk taman belakang rumahnya itu. Menatapi semua bunga-bunga hias yang ditanami Ibunya begitu banyak dan rapi. Sangat cantik di mata Jimin.

"Lebih baik aku menyiram tanaman."

.

Lelaki berkulit pucat itu, masih setia tertidur di atas ranjangnya. Selalu seperti ini selama hampir dua belas tahun. Tidurnya tidak pernah nyenyak. Semua pikirannya kacau balau. Hancur, dan ia tidak mengerti bagaimana cara mengobati semuanya. Ia ingin menangis, namun baginya percuma.

Kelopak mata itu terbuka, menampakkan netra lembut dan sendu yang menatap ke arah tembok di sisi ranjangnya. Menatap gambar bunga matahari yang begitu besar, dan gambar dua orang anak laki-laki yang saling berpegangan tangan yang berantakan. Lelaki itu tersenyum. Hanya itu yang mampu membuatnya tersenyum. Setidaknya, untuk beberapa saat.

.

Jimin menyirami seluruh tanaman milik Ibunya itu dengan begitu antusias. Sesekali ia bersiul dan menyenandungkan lagu-lagu kesukaannya. Sampai akhirnya, ia sampai di deretan bunga terakhir yang sejajar dengan balkon kamarnya. Bunga matahari.

Ia memandangi bunga itu, lalu memandangi matahari yang saat ini sedang menyiramkan cahayanya ke atas permukaan bumi. Jimin melakukan itu beberapa kali. Ia mengernyitkan keningnya.

"Ada apa?" tanya Jimin pada sekumpulan bunga-bunga matahari itu. Ia berjongkok, dan memandangi mereka dengan penuh arti. "Ada yang salah?" tanyanya lagi.

Kepalanya berdenyut sekali lagi, dan kali ini denyutan itu terasa begitu menyakitkan. "Argh!" Jimin memegangi kepalanya. Ia melempar selang air yang sebelumnya ada di tangannya itu ke tanah. Dengan cepat, ia melepaskan sarung tangan karetnya yang ia pakai dan berlari dengan cepat masuk ke dalam rumahnya. Ia benar-benar butuh obat pereda rasa nyeri.

.

.

Jika cinta itu begitu rumit,

Kenapa Tuhan tega untuk menciptakannya?

Jika cinta itu ada karena kerumitan,

Apa cinta yang kau berikan padaku harus serumit ini?

Mata Jimin bergerak mengikuti tulisan yang begitu rapi tertata di atas kertas putih itu. "Park Jimin!" Jimin segera mengalihkan pandangannya dari sebuah novel berjudul 'Sweet Promises' ke sumber suara yang memanggilnya.

Hoseok berlari dan segera menghampiri Jimin yang duduk sendirian di meja kafetaria kampus mereka. "Kau sendirian saja?"

"Seperti yang kau lihat." Tangan Jimin bergerak untuk menutup novel yang ada di tangannya itu, dan memasukkannya ke dalam tas selempangnya.

"Novel? Kau membaca novel?" tanya Hoseok.

Jimin menghentikan tangannya yang semula akan memasukkan novel bersampul putih polos dengan tulisan hitam itu. Ia mengangguk, dan memberikannya pada Hoseok. "Kau ingin membacanya juga? Tapi aku belum selesai."

Hoseok menggelengkan kepalanya. "Tidak, aku tidak berminat untuk membaca novel. Terlalu dramatis. Kau seperti Nuna ku saja. Bahkan, hampir setengah isi kamarnya dipenuhi novel-novel!"

Jimin memutar bola matanya malas. Ia pikir, sikap Hoseok sudah terlalu berlebihan menanggapi novel sebagai bahan bacaan. "Kau berlebihan, kau tahu? Kau memandang seperti novel itu adalah sebuah dosa dan kesalahan besar kau tahu?"

"Memang."

"Hiperbolis sekali. Lagipula, Hana-Nuna itu penulis novel, bodoh! Kau melupakan tentang pekerjaannya."

Hoseok mengangguk-angguk kecil. "Ya, aku tahu dia memang penulis novel. Hidupnya begitu dramatis. Terlalu mendrama dengan pikiran-pikirannya yang segera saja ia tulis di atas lembaran-lembaran di laptop miliknya."

"Kupikir kau yang terlalu mendrama." Jimin meneguk kopi kalengnya. Hoseok menatapnya tidak mengerti. "Ya, kau bahkan tidak sadar jika kau sudah terlalu banyak hidup berdrama. Katakan saja jika kau sudah menyukai, ah salah, mencintai seorang anak alien bernama Kim Taehyung!" Jimin tertawa.

"Sialan! Itu bukan drama!"

"Bukan? Lalu apa? Menyedihkan sekali!" Jimin kembali tertawa. Ia bahkan hampir terjatuh dari kursinya, jika saja ia tidak mengingat semua perjuangan temannya itu untuk memberitahu Taehyung jika Hoseok menyukainya. "Oh astaga, perutku sakit sekali!" ucap Jimin, sebelum kembali tertawa kecil dan mulai meredakan tawanya sedikit.

"Tertawa saja sampai kau mati, bodoh. Kau benar-benar bukan temanku." Jawab Hoseok kesal. Matanya melirik ke arah novel milik Jimin yang masih ada di atas meja. Tangannya terjulur untuk mengambil buku tersebut. "Sweet Promises?"

"Yeah. Kenapa? Ada yang salah dengan novel itu?"

Wajah Hoseok nampak berpikir sebentar. Mencoba mengingat sesuatu. "Sepertinya Hana-Nuna memiliki novel seperti ini juga." Tangannya membolak-balikkan novel yang berisi seratus lima puluh halaman itu.

"Tentu saja. Siapa saja dapat memiliki novel ini. Kau ingin mencoba guyonan baru, huh?"

"Tidak, tidak. Tidak semua orang dapat memiliki novel ini. Kau salah satu yang beruntung bisa mendapatkan novel ini."

"Maksudmu? Aku diberikan oleh sepupuku yang ada di Ilsan dua bulan yang lalu."

"Hana-Nuna memberitahuku, jika sang pengarang hanya menginginkan novel ini dicetak tiga belas ekslempar. Kalau begitu, kau beruntung. Novel ini cetakan tahun lalu."

"Apa? Tiga belas ekslempar?"

Hoseok mengangguk. "Hana-Nuna salah satu yang mendapatkannya, karena ia yang membantu sang pengarang untuk menulis novel ini. Lagipula, di bagian belakang novel ini, ia memberitahukannya."

Dengan cepat, Jimin menyambar kembali novelnya. Dan membuka halaman terakhir.

Karena aku menyukainya,

Karena aku mencintainya,

Karena aku menyayanginya.

Aku berterimakasih pada Ibunya, yang sudah melahirkannya dengan senyum yang begitu mempesona dan mampu membuatku terjerat dalam pesonanya. Dan aku sulit terlepas dari itu semua.

Karena aku begitu menyukai bagaimana cara tawanya,

Karena aku begitu mencintai suaranya yang menenangkanku,

Karena aku begitu menyayangi apapun segala tentang dirinya.

Dan semua itu harus hilang begitu saja. Namun tidak dengan perasaan ini.

Karena ia datang ke dunia ini pada tanggal tiga belas, dan aku begitu mencintainya. Aku hanya mencetak novel yang begitu menyedihkan ini ke dalam tiga belas ekslempar. Disaat semua orang menganggap tiga belas begitu angker. Bagiku tidak, angka tiga belas justru begitu indah bagiku. Terima kasih untuk semua. Siapapun tiga belas orang yang berhasil mendapatkan buku ini, aku sangat berterimakasih karena sudah meluangkan waktu kalian untuk membacanya.

Dan untukmu, aku harap kau membacanya, walau aku tidak tahu kau berada dimana, berada di waktu seperti apa, aku harap kau masih sama seperti dulu.

Entah mengapa, dada Jimin terasa begitu sesak saat membaca serentetan tulisan yang ada di halaman terakhir itu. Ia ingin menangis, namun ia tidak mengerti mengapa. Hoseok memanggil-manggil Jimin. Namun, Jimin mengabaikan semua itu, semua suara yang ada di sekitarnya seakan-akan menghilang dan hanya ada suara tawa yang begitu ceria di pendengarannya. Kepalanya kembali berdenyut. Ia memegangi kepalanya.

Hoseok panik saat melihat Jimin yang begitu kesakitan. "Jimin! Ya! Park Jimin! Jangan bercanda! Kau baik-baik saja?!" Hoseok berdiri, dan menghampiri sahabatnya itu. "Jim, tolong jangan membuatku panik. Aku tidak benar-benar menginginkanmu mati! Sungguh!" Hoseok semakin panik. Beberapa orang memperhatikan keduanya.

Jimin mencengkram untaian surai hitam miliknya saat sebuah suara sendu tangis milik seseorang terdengar di pendengarannya. Ia tidak tahu siapa pemilik suara-suara itu, namun itu begitu menyakitkan baginya.

.

.

Sudah tiga hari ini, Jimin dan yang lainnya tidak berlatih skateboard karena sibuk dengan tugas-tugas yang diberikan. Dan akhirnya, hari ini, mereka memiliki kesempatan untuk berlatih lagi.

"Taehyung tidak bisa berlatih?"

Hoseok mengangguk.

"Lagi?"

Hoseok hanya mengangguk kembali. "Biarkan saja. Ia sedang bersenang-senang dengan kekasihnya itu."

Jimin menyeringai kecil, seraya tangannya mengikat tali sepatunya. "Pembohong."

Hoseok mendongak, dan menatap Jimin. "Jangan memulainya, Park Jimin. Aku sedang malas membahasnya."

Tangan Jimin menepuk pundak temannya itu dengan cukup keras. Membuat Hoseok meringis kesal, menyingkirkan tangan Jimin dari pundaknya. "Park Sialan!" Carci Hoseok. "Aku memang tidak ingin membahasnya."

"Oke, oke. Tidak perlu marah padaku, Jung. Kau sedang bertengkar dengannya?"

Hoseok menggelengkan kepalanya. "Tidak. Hanya berusaha melupakannya." Sahut Hoseok pelan.

Mata Jimin memandang Hoseok dari samping dengan sedikit kasihan. Seandainya Taehyung tahu bagaimana perjuangan Hoseok selama bertahun-tahun untuk mendapatkan lelaki aneh itu. Jimin menghela nafas panjang. Ia mendongakkan kepalanya, memandang langit sore yang cerah. Tiba-tiba saja pikirannya melayang pada sosok lelaki manis berkulit pucat yang ada di taman.

.

Hoseok menertawai Jimin, ketika lelaki itu terjatuh karena terjungkal kakinya sendiri saat melakukan gaya yang paling mudah. "Kau ini kenapa?" Tanyanya di sela suara tawanya.

Jimin mendengus kesal, dan mendudukkan dirinya di atas lapangan semen itu. Ia merebahkan tubuhnya, matanya menatap langit yang tiba-tiba saja begitu gelap, menghalangi matahari yang sebelumnya sangat terik. "Sepertinya ini akan jadi hujan pertama di musim panas ini." Gumam Jimin.

Hoseok yang mendengarnya hanya bergumam, dan mengangguk setuju. Ia ikut mendongak, menatap langit yang mendung dengan awan-awan hitam yang terjajar rapi seperti karpet bulu yang begitu panjang, lebar dan rapi.

"Pulang?"

Jimin menggelengkan kepalanya. "Aku ingin berlatih sebentar lagi."

"Baiklah."

Keduanya kembali berlatih, dan menghiraukan gerimis yang begitu tipis menerpa mereka. Sampai lima belas menit kemudian, hujan deras turun tiba-tiba. Mereka segera saja dengan tergesa-gesa membereskan semua peralatan mereka. Jimin menoleh ke belakang, ia masih menatap lelaki itu duduk diam di tempatnya. Menghiraukan terpaan air hujan yang begitu keras menghantam.

.

Ketiganya masih diam di dalam mobil milik Jimin. Tubuh ketiganya basah, terlebih Jimin dan Yoongi, lelaki yang pada akhirnya mengatakan namanya pada Jimin.

Tubuh Yoongi menggigil. Lelaki itu memang tidak tahan dengan dingin. Jimin meliriknya dari kaca spion tengah. Ia ingat, jika di bagian belakang mobilnya ada kotak P3K dan selimut, serta handuk juga kaus bersih. Jimin membalikkan tubuhnya, dan pindah ke belakang. Ia segera mengambil semuanya yang ia butuhkan.

Yoongi masih sibuk memeluki dirinya, untuk menghilangkan rasa dingin yang menerpa. "Hoseok, jalankan saja mobilnya. Kita ke rumahmu, aku harus mengantarnya pulang."

Hoseok tidak menjawab. Ia hanya mengangguk mengerti, dan menyalakan mobil Jimin menuju jalan ke rumahnya.

"Buka bajumu, ini pakai bajuku dan handuk. Serta kantung penghangat ini." Jimin menyerahkan semuanya ke hadapan Yoongi. Lelaki itu hanya diam, tidak bergeming. "Kau baik-baik saja? Ada yang salah?"

Mata lelaki itu menatap mata milik Jimin lurus. Seakan-akan mencoba untuk menyampaikan sesuatu pada Jimin. Namun, Jimin tidak dapat menangkapnya. Kepalanya mulai berdenyut kembali.

Ketika mobil milik Jimin berhenti karena sesuatu di depan mobil mereka, Yoongi dengan cepat membuka pintu mobil Jimin dan berlari keluar.

Hoseok menolehkan kepalanya. Ia melebarkan kedua matanya. Ia terkejut. Begitu juga dengan Jimin, namun lelaki itu hanya diam saja. Membiarkan pintu mobilnya terbuka dan menampilkan tetesan air hujan yang menerpa aspal begitu keras.

"Jim—"

"Biarkan."

.

TBC

.

Gimana? Feelnya masih tetep enggak dapet? Lah emang saya ga bisa bikin kaya gitu -3-) maklum, masih amatiran~. Ada yang bisa nebak selanjutnya gimana? Kkk~. Saya gatau, ini bakal jadi chapter yang terakhir saya update apa enggak, dikarenakan voodoo harus fokus UN ;_; voodoo bentar lagi kuliah! Bayangkan! /curhat/ sebenernya voodoo ga ada niatan update chapter dua, tapi jalan ceritanya lewat mulu pas voodoo belajar -_- jadilah jalan cerita seperti ini. kkk~

Ok, voodoo gamau banyak cingcongcongcing dulay. Mind to review, fav, and follow, please?

P.S : Don't be a siders, juseyo!

P.S.S : Jangan panggil voodoo 'thor' -_-)/

P.S.S.S : Kalo misalnya ini chapter terakhir, berarti kalian harus nunggu beberapa bulan sampe voodoo selesai ujian! Wkwkwk. Doain ya, biar voodoo bisa lolos dari salah satu beasiswa yang voodoo kirim ke beberapa negara;") karena, semakin banyak doa. Semakin manjur /katanya/ ㅋㅋㅋ ok!

P.S.S.S.S : Selamat berkeporia! ㅋㅋㅋ

cute voodoo