"Ada apa? Ada yang salah?"

"Apa aku pernah kehilangan sesuatu yang begitu berharga?"

"Maksudmu?"

"Aku rasa aku kehilangannya."

.

JiminxYoongi | boy x boy | chapter | other members appear!

Do not plagiarize

.

Why you don't use your imagination?

.

Enjoy!

.

Jungkook melebarkan kedua bola matanya, saat tahu siapa yang menekan bel pintu rumahnya dan mengetuk pintu beberapa kali dengan lemah dan pelan. "Yoongi-Hyung?!" pekik Jungkook terkejut, melihat kakak sepupunya itu kini berdiri di teras rumah dengan wajahnya yang pucat dan tubuh mungilnya yang basah karena terkena terpaan air hujan itu.

"Hyung, kau—"

Perkataan Jungkook terhenti, saat Yoongi segera memeluknya dengan erat, dan menangis dengan pelan. Suara tangisan lelaki itu tertutup oleh suara deras air hujan yang menerpa bumi. Tetesan-tetesan air hujan itu seakan-akan mengerti bagaimana perasaan Yoongi.

"Dia…" Yoongi terisak. "Aku…"

"Hyung," Jungkook membalas pelukan Yoongi lebih erat. "Ayo masuk, dan ceritakan semuanya padaku, ya?

.

.

Jimin memilih mengabaikan bunyi nyaring jam bekernya, dan kembali masuk ke dalam kukungan selimutnya. Ia tidak tahu ada apa dengan dirinya hari ini. hanya saja, ia tidak ingin pergi kemanapun. Ia hanya ingin di rumah, berbaring di atas ranjang kamarnya tanpa melakukan hal apapun. Ia tidak mengerti, mengapa semuanya terasa begitu berat baginya saat ini. Jimin merasa seperti ada beban yang begitu menumpuk dalam dirinya, namun ia sendiri tidak tahu beban apa yang membuatnya seperti itu.

"Jimin! Kau tidak kuliah, Sayang?" suara Ibunya mulai terdengar dari depan pintu kamarnya.

"Tidak, Eomma! Hari ini tidak ada kelas!" balas Jimin tak kalah keras.

Jimin menatap kenop pintu kamarnya, Ibunya berusaha membuka pintu kamarnya dari luar. Namun, Jimin ingat tadi malam ia mengunci pintu kamarnya. "Sayang, ada apa sebenarnya? Kau benar-benar tidak ada jam kuliah?"

Kedua tangan Jimin mengepal. Ia merasa bersalah pada Ibunya, karena telah berbohong pada wanita yang telah begitu menyayanginya. Berbohong memang hal sepele bagi beberapa orang, namun, bagi Jimin, berbohong terutama pada Ibunya adalah hal yang benar-benar membuatnya merasa tidak baik-baik saja.

"Aku hanya merasa tidak enak badan saja, Eomma!" balas Jimin sedikit berteriak.

"Baiklah, kalau kau ingin sarapan segera turun ke bawah."

"Ne!"

Lelaki itu mendudukkan dirinya di atas ranjang. Menyandarkan punggungnya. Matanya menatap pintu kaca balkonnya yang masih tertutup oleh tirai lebar berwarna coklat pekat. "Min Yoongi." gumamnya. Jimin melangkah turun dari ranjangnya, dan beranjak menuju balkon kamarnya.

Mata Jimin semakin menyipit, saat ia membuka tirai lebar itu dan cahaya matahari langsung menyapa kedua penglihatannya. Ia mengerang kecil. Kakinya berjalan menuju balkon, dan memandangi semua bunga matahari yang Ibunya itu tanami.

"Min Yoongi." gumamnya lagi. Entah sudah keberapa kali, ia mengucapkan nama itu, sampai-sampai ia tidak bisa tidur. Jimin menopang dagu, dan menatap bunga matahari yang mengikuti arah matahari berada.

Lamunannya buyar, saat ponselnya berbunyi tanda panggilan masuk. Ia terpaksa harus kembali ke kamarnya, dan mengangkat panggilan dari Hoseok itu.

"Jim, kau dimana?"

"Aku di rumah, Jung. Hari ini aku tidak masuk."

"Ada apa? Masih terpikir tentang lelaki kemarin?"

Jimin terdiam.

"Tidak."

"Lalu?"

"Hanya saja, aku sedang tidak enak badan."

"Oh, oke. Baiklah. Apa nanti sore—"

"Tidak, tidak! Kalian berdua tidak perlu datang."

"Siapa? Apa katamu? Datang? Maksudmu menjengukmu?"

Jimin mengangguk kecil. Walaupun ia tahu, Hoseok tidak akan melihatnya.

"Ya."

"Yang benar saja, bung! Siapa yang ingin menjengukmu memangnya, huh? Aku hanya ingin bertanya, apa perlu aku menanyakan mengapa lelaki yang ada di taman itu berlari saat hujan kemarin."

"Ti—Tidak perlu!"

Jimin menjawabnya begitu cepat.

"Oke, oke, baiklah. Kau tidak perlu panik begitu, Jim."

"Aku bukan panik, hanya saja…"

"Hanya saja?"

"Ti—Tidak. Aku tutup telponnya ya? Aku harus tidur kembali. Kepalaku benar-benar pusing."

"Baiklah, semoga lekas sembuh."

"Ya, terima kasih."

Jimin menghempaskan tubuhnya dengan kasar ke atas tubuhnya. Nama yang sedari tadi dia rapalkan berkali-kali, begitu aneh dan membawanya ke dalam perasaan yang ia sendiri tidak mengerti perasaan apa itu.

Ia teringat sesuatu. Tubuhnya kembali berdiri, dan berjalan menuju rak bukunya. Membuka lembaran-lembaran kertas itu dengan sedikit kasar. Mencoba mencari halaman terakhir yang ia baca. Ia lupa menandainya ketika terakhir kali membaca novel tersebut.

Jimin berjalan menuju ranjangnya, mendudukkan dirinya di pinggir ranjang dan mulai membaca.

Apa yang harus aku katakan tentangnya?

Memikat?

Kurasa itu tidak cukup bagiku untuk menyebutnya seperti itu. Ia terlalu sempurna bagiku, memperlakukan dengan manis, memelukku ketika aku sedih, bernyanyi untukku ketika kami hanya berdua. Karena kami selalu berdua, karena tidak akan ada orang lain yang menganggu kami, ia selalu memelukku saat tidur, memberikanku ciuman kecil yang manis. Membuatku tahu bagaimana rasanya bahagia.

Dan ia memberikan lebih dari sekedar kata bahagia.

Ia selalu berjanji padaku jika dia akan selalu bersamaku.

Dia akan selalu bernyanyi untukku,

Dia akan selalu memelukku ketika aku bersedih,

Dia akan selalu datang menyembuhkan kesendirianku saat aku kesepian,

Dan ia juga berjanji, jika tidak akan ada yang lain untuk menjadi penyegarnya selain diriku.

Dia PeterPanku, yang selalu mengajakku ke berbagai khayalan indah dan menyenangkan.

Dia penenangku,

Obatku,

Matahariku,

Senyumku,

Nafasku,

Tubuhku,

Ragaku.

Jika ia menghilang, apa yang harus aku lakukan?

Jika ia melanggar semua janji manisnya, apa yang harus aku katakan?

Karena bagiku, semua janji manis yang ia berikan padaku begitu berharga. Seperti seorang anak yang selalu mendambakan untuk mendapat sekaleng penuh cokelat manis. Dan ia…

Lebih berharga dari itu.

Degup jantung Jimin kembali tidak beraturan. Ia menutup novel itu, dan berjalan menuju pintu kamarnya.

"Eomma…Ya, Eomma…Aku harus bertanya padanya." Ucap Jimin dengan nafas yang tersenggal. Entah mengapa, semua udara semua tersedot keluar dan dirinya begitu merasakan sesak ketika ia merasakan seperti ada asap yang begitu tebal menggantikan semua oksigen yang seharusnya mengisi paru-parunya.

Jimin melangkahkan kakinya dengan perlahan, menuruni anak tangga rumhanya satu persatu. "Eomma…" panggilnya pelan.

Nyonya Park yang merasa mendengar dirinya dipanggil oleh suara anaknya, segera menoleh ke arah tangga dimana Jimin berdiri di anak tangga terakhir. "Astaga, Jimin! Kau kenapa?!" pekik Nyonya Park dengan panik. Ia segera membantu Jimin untuk berjalan menuruni anak tangga dan berbaring di sofa berbahan beludru mahal di rumahnya itu.

"Astaga, Sayang. Wajahmu pucat sekali," ucap Nyonya Park dengan panik. Namun ia terus berusaha untuk meredam semua kepanikannya itu. Ia mengusap wajah Jimin yang begitu berkeringat. "Sebentar, akan Eomma ambilkan air minum untukmu, ya?"

Baru saja wanita paruh baya itu akan beranjak dari sana, Jimin menahan pergelangan tangan Ibunya. "Eomma…Ada yang ingin aku…"

"Jimin!"

Dan semua pandangan menjadi gelap.

.

"Jimin, hai Jimin!"

Jimin membuka kedua kelopak matanya, saat ia mendengar suara seseorang yang memanggilnya begitu bersemangat. Ketika membuka matanya, ia sadar jika ia bukan di kamarnya. Ia sedang berbaring di atas rumput hijau segar, bertudungkan pohon ek tua yang besar dan rindang.

"Jimin! Ayo main!"

Ia mendudukkan tubuhnya, dan menyandarkan di batang pohon ek yang besar dan kokoh itu. Pandangannya sedikit buram, ketika melihat ke arah depan. Mencoba untuk melihat seseorang yang memanggilnya begitu bersamangat. Tangannya bergerak untuk mengusap kedua matanya, agar pandangannya semakin jelas.

"Jimin, ayo main lagi!"

Suara tawa yang merdu memenuhi gendang telinga Jimin. Kini pandangannya sudah sangat jelas. Ia dapat melihat, jika yang memanggilnya adalah seorang lelaki bertubuh mungil dan berkulit putih. Tangan lelaki itu melambai padanya, mengajaknya untuk bermain.

Jimin mendongakkan kepalanya ke atas, lalu menatap ke sekeliling. Ia pernah melihat tempat ini sebelumnya.

"Jimin, ayo!"

"Yoongi-Hyung?"

.

"Jim, Jimin, Sayang, bangunlah."

Kedua pipinya ditepuk dengan pelan, berusaha menyadarkan dirinya. Ia membuka matanya, dan wajah ibunya yang menjadi pandangan pertama yang ia lihat.

"Eomma,"

"Oh, astaga, Jimin akhirnya kau sadar." Ibunya tiba-tiba saja segera memeluk Jimin dengan erat. Wanita paruh baya itu benar-benar mengkhawatirkan dirinya. "Akan Eomma ambilkan teh hangat dulu, kau berbaringlah dulu."

"Tidak, Eomma." Wanita itu kembali menahan langkahnya, saat pergelangan tangannya ditahan oleh Jimin. "Aku ingin menanyakan sesuatu padamu."

"Sesuatu?"

Jimin mengangguk. Nyonya Park membantu Jimin untuk duduk. Seketika rasa pening menghantam kepalanya untuk beberapa saat, sampai rasa pening itu hilang.

"Eomma, aku ingin bertanya sesuatu dan aku mohon kau menjawabnya dengan jujur."

"Akan Eomma pastikan hal itu."

"Eomma, apa mengenal dengan seseorang yang bernama Min Yoongi?" Jimin melihat perubahan ekspresi yang terlihat begitu jelas di wajah ibunya. "Eomma."

"Untuk apa kau menanyakannya lagi, Jimin?" nada suara yang wanita itu cetuskan begitu dingin dan menusuk. Jimin tidak pernah tahu jika ibunya yang begitu lembut, sabar dan penyayang dapat berkata dengan nada yang begitu dingin.

"Jadi…Eomma mengenalnya?"

"Tidak. Tidak, Jimin! Eomma tidak mengenalnya!" suara Nyonya Kim meninggi, dan kini justru membentak Jimin.

"Eomma…"

Wanita paruh baya itu menstabilkan deru nafasnya yang tidak beraturan. "Aku…Aku tidak mengenalnya. Jangan pernah tanyakan hal yang tidak pernah aku ketahui. Aku membenci itu."

"Aku lebih membenci tidak mengetahui jawaban dari pertanyaan yang tidak aku ketahui." Jimin membalasnya dengan nada yang tidak kalah datar dan menusuk.

Nyonya Kim memandang Jimin dengan tegas, namun perlahan pandangannya melembut. Ia mengusap wajah Jimin dengan begitu lembut dan penuh rasa sayang. Ia menyibakkan rambut Jimin yang jatuh ke dahi lelaki itu, dan mengusap sisi kiri dari kening Jimin, lalu bagian alis mata sebelah kanan milik Jimin.

"Eomma, ada apa sebenarnya?"

Nyonya Kim menangis begitu saja, dan membawa Jimin ke dalam pelukannya. Ia menangis begitu pilu, membuat Jimin merasa begitu bersalah pada wanita yang sudah melahirkannya itu.

"Jimin, tidak ada seorang wanita yang sudah mengandung, melahirkan, dan merawat anaknya yang dikandung selama sembilan bulan, akan merelakan anaknya begitu saja. Tidak ada, Jim."

.

.

TBC

.

.

BUAHAHAHA /TAWA SETAN/ SIAPA YANG NUNGGUIN INI FF BULUK KUADRAT UPDATE? SIAPA COBA? ANGKAT KAKINYA! YOYOYO!

BERNIAT UNTUK TIDAK UPDATE, NAMUN JUSTRU UPDATE KARENA IDE-IDE YANG BERKELIARAN TIDAK KARUAN DI OTAK SAYA PAS LAGI MENGERJAKAN TO MAUPUN SEDANG LES PRIVATE. BUAHAHA MAAFKANLAH SAYA YANG TIDAK KONSISTEN INGIN HIATUS UNTUK UN, PADAHAL BENTAR LAGI UDAH MAU UN ;_; /NANGIS UNYU/ TETAP DOAKAN VOODOO YAAA (;_;)

OKE, MUNGKIN KALIAN PIKIR INI CERITA MAKIN GA JELAS, TAPI BEGITULAH ADANYA, SEPERTI VOODOO YANG KEREN INI. SILAHKAN MENEBAK ALUR CERITA SELANJUTNYA CHINGUDEUL - )/

OKEFIX! VOODOO TETEP BUTUH FAV, FOLLOW, REVIEW DARI KALIAN SEBANYAK-BANYAKNYA! DARIPADA SAYA BANYAK BACOT DAN MAKIN GAJELAS. SAYA SUDAHI SAJA PESAN-PESAN KEREN INI. BUBAY'^')7

P.S. : Sorry kalo mata sakit gegara capslock jebol ._.

P.S.S. : Bisa PM-PM kalo mau kenalan sama voodoo /kedip unyu/

P.S.S.S. : Psst! Jangan bilang-bilang ya, voodoo sebel deh sama PHYLINDAN UNNIE yang bilang voodoo anak liar, padahal vooodoo anak baik-baik gini! Sumpah!

P.S.S.S.S. : Selamat berkeporia! Kkkkkkkkk~~~~