"Apa mencari sesuatu yang hilang itu begitu sulit?"

"Tidak semuanya. Tergantung apa yang hilang, dan dimana hilangnya."

"Bagaimana jika yang hilang itu rasa percaya orang pada diri kita?"

"Itu…Benar-benar sulit."

.

Jimin x Yoongi | boy x boy | chapter | other members appear!

.

a/n : Kalo kalian sadar, sebenarnya percakapan yang ada di atas itu, semuanya saling berkaitan satu sama lain di setiap chapternya lho~ kkk~. Dan maafkan voodoo kalo misalnya jalan ceritanya makin enggak banget:")

.

Do not plagiarize

.

Why you don't use your imagination?

.

Enjoy!

.

"Eomma, jelaskan padaku sebenarnya apa yang terjadi? Siapa Min Yoongi itu sebenarnya?" tanya Jimin dengan emosinya yang tertahan. Ia menatap ibunya yang sudah menangis kembali.

"Kenapa kau masih saja dapat mengingat anak pembawa bencana sepertinya, hah?! Eomma tidak ingin kau mengingatnya lebih jauh! Cukup, Park Jimin. Jangan tanyakan apapun lagi tentangnya."

Jimin berdiri dari duduknya, walaupun kepalanya sedikit berdenyut. "Baik, jika itu mau Eomma. Aku yang akan mencari tahu sendiri tentang siapa itu Min Yoongi." Jimin berlari naik ke kamarnya, dan membanting pintu kamarnya dengan keras. Menimbulkan suara berdebam yang kasar.

Nyonya Park yang tersentak karena suara bantingan pintu itu, kembali menangis. "Jimin, tidak, Sayang. Eomma hanya ingin memberikan yang terbaik untukmu…"

.

.

"Hyung, Yoongi-Hyung."

Yoongi yang sedang melipat kertas origami berwarna-warni menjadi berbagai macam bentuk, menyahut dari dalam. "Masuklah."

Suara pintu yang terbuka, menampakkan Jungkook yang masuk ke dalam kamar Yoongi dengan baki kecil berisi dua mangkuk keramik berukuran sedang yang mengepulkan asap dari makanan yang ada di dalamnya. Lelaki bergigi kelinci itu tersenyum lebar, pada Yoongi yang kini menatapnya. "Kau memasak?"

Jungkook mengangguk kecil, dan segera masuk. "Cobalah, Hyung. Ini resepku yang lainnya."

Yoongi menatap mangkuk berisi sup krim dengan taburan seledri, wortel yang dipotong tipis-tipis dan saus. "Hanya ini isi dari supnya?"

"Tidak." Jungkook memberikan sendok ke Yoongi dengan senyum sumringahnya. "Irisan daging, sosis, parutan halus keju dan beberapa bahan lainnya ada di dalam supnya jika kau mengaduknya, Hyung." Jelas Jungkook.

Yoongi tersenyum tipis. Ia bersyukur, memiliki adik sepupu seperti Jungkook yang selalu menemani dan merawatnya dengan begitu sabar. Ia mulai mengaduk sup krim itu, dan memasukkan ke dalam mulutnya. "Bagaimana, Hyung?" tanya Jungkook dengan antusias.

Dengan sengaja Yoongi menggeleng-gelengkan kepalanya. Membuat lelaki bergigi kelinci itu melengkungkan garis bibinya ke bawah. "Tidak enak? Apa aku gagal lagi?"

Yoongi tertawa kecil. "Tidak, ini benar-benar enak, sungguh."

"Hyung! Kau menyebalkan!"

Yoongi hanya membalasnya dengan suara tawanya. Masing-masing sibuk dengan pikirannya sendiri, dengann mulut yang asyik mengunyah makanan di tangan mereka masing-masing.

"Oh ya, Hyung." Jungkook meletakkan mangkuknya yang sudah kosong, dan terus menatap ke arah luar kamar Yoongi dari pintu kaca balkon yang lebar itu. "Tadi, saat kau tidur, Samchon menelpon kesini. Ia bertanya lagi, apa kau—"

"Belum." Yoongi menggelengkan kepalanya pelan. "Aku belum siap,"

Lelaki yang lebih muda menghela nafasnya, mengerti pasti akan kembali menerima jawaban yang sama setelah bertahun-tahun lewat. "Ya, benar. Kau pasti belum siap, Hyung. Jadi, aku menjawab memang belum siap."

"Terima kasih, sudah menjawab sesuai permintaanku."

"Hyung, sebenarnya…ada yang ingin kutanyakan padamu."

"Tanyakan saja." Yoongi kembali melipat-lipat kertas origami miliknya yang sebelumnya terbengkalai begitu saja. "Aku pasti aku menjawabnya."

"Hyung, sebenarnya…sampai kapan kau akan siap?"

.

.

Taehyung menatap langit malam yang kosong tanpa hiasan langit seperti bintang sedikitpun. Hanya ada bulan yang menggantung di tengah langit malam yang gelap. Pandangannya menatap dengan lekat bulan yang mengambang di antara lautan langit malam.

Ia membaringkan tubuhnya, dan terus menatap bulan dengan pandangan sendu. Earphone yang menyumpal di kedua telinganya, menyenandungkan lagu-lagu yang sudah ia susun menjadi sebuah playlist khusus di ponselnya.

Ingatannya kembali berputar pada kejadian siang tadi saat di kantin kampusnya.

Taehyung dan Hoseok duduk bersama untuk membicarakan sesuatu tentang tugas mereka. Jimin sebenarnya juga harus ikut duduk bersama mereka, namun Jimin harus segera pergi karena ibunya sudah menelpon dengan alasan urusan genting.

Keduanya diam, dan mengerjakan bagian mereka masing-masing ketika pembagian tugas sudah ditentukan. Hoseok tidak ingin terlalu banyak mendekat atau menyentuh Taehyung, karena dia tahu, kapan saja seorang Kim Seokjin, kekasih Taehyung bisa datang ke kantin dan menghajarnya karena menuduh terlalu dekat dengann Taehyung, walaupun faktanya seharusnya itu bisa diwajarkan mengingat mereka sudah bersahabat sejak lama.

"Akhir-akhir ini kau terlihat menghindariku," ucap Taehyung pelan membuka pembicaraan. Tangannya masih sibuk dengan keyboard laptop miliknya.

Hoseok yang sedang menulis, menghentikan kegiatannya sebentar, sebelum menjawab. "Tidak. Mungkin itu hanya perasaanmu saja."

"Benarkah? Tapi akhir-akhir ini, hanya Jimin saja yang menghubungiku."

"Kau sudah punya kekasih, Taehyung-ah. Aku pikir, hubungan kita yang terlalu dekat justru bisa merusak hubunganmu dengan Seokjin-Hyung."

"Aku tidak berpikir seperti itu."

"Seokjin-Hyung mungkin iya."

Taehyung menghela nafas panjang. "Aku—"

"Kau tahu? Sepertinya aku sedang menyukai seseorang saat ini."

"Apa?"

"Menyukai seseorang. Dia junior kita. Aku menyukainya karena senyumnya yang manis dan sangat ramah pada semua orang."

"Apa kau pikir aku tidak ramah dengan senyumanku?"

Hoseok benar-benar berhenti menulis, dan menatap Taehyung. Ia tersenyum manis. "Dan karena itu Seokjin-Hyung beruntung sudah mendapatkanmu."

Taehyung menangis. Tanpa sadar ia menangis. "Bodoh…" ia mengusap matanya dengan kasar dan memukuli kepalanya dengan tangannya. "Bodoh! Kenapa menangis?! Bodoh!" air matanya semakin keluar dari kedua bola matanya yang bening.

Pada akhirnya ia menyerah. Ia membiarkan dirinya menangis. Ia mungkin bodoh dan memang benar-benar bodoh. Ia sudah menyukai Hoseok sejak lama dan itu menjadi rahasia kecilnya, tidak ada siapapun yang tahu kecuali dirinya sendiri dan teman-teman bisunya yang ada di kamarnya.

"Hoseok bodoh!" makinya di sela isak tangisnya. Ia menangis semakin keras dengan alunan musik yang semakin menambah sakit hatinya. "Jika tahu begini, lebih baik aku tidak pernah menyukaimu!"

.

Hoseok menghela nafas panjang. Ia menghempaskan tubuhnya begitu saja ke atas ranjang besar miliknya. Ia tahu, hari ini ia sudah berbohong pada Taehyung. Kenyataannya, ia sama sekali tidak sedang menyukai siapapun, walaupun memang ada seorang junior yang menarik perhatiannya. Semua itu karena Kim Taehyung. Seorang Jung Hoseok masih terus berputar, berotasi di sekitar seorang Kim Taehyung.

"Ini terlalu menyedihkan." Matanya menatap langit-langit kamarnya yang kosong. Ia memejamkan matanya, dan membiarkan semua peristiwa-peristiwa manis bersama sahabatnya itu terputar di dalam rekaman memorinya. Untuk saat ini, ia hanya ingin itu saja yang terjadi. Ia berharap, jika ia membuka mata, semua masalah hilang begitu saja.

.

.

Jimin sudah berjanji dengan Hoseok, jika mereka akan berlatih skateboard, dan tanpa Taehyung lagi. Keduanya berjalan memasuki taman, dimana tempat biasa mereka berlatih. Satu yang berbeda disana. Tidak ada seorang lelaki manis yang duduk di bawah pohon ek tua, atau ayunan.

Jimin menghela nafas kecewa, dan itu semua membuat perhatian Hoseok tertuju padanya. "Ada apa? Kau mencarinya?"

"Entahlah," Jimin mendudukkan dirinya di atas area latihan beralaskan skateboard mahalnya. Hoseok mengikutinya, dan menatap ke tempat dimana lelaki manis berkulit pucat itu biasa duduk.

"Ini pertama kalinya dia tidak ada disana."

"Benarkah?" respon Jimin dengan begitu cepat. Ia menatap Hoseok meminta penjelasan, jika lelaki itu tidak benar-benar berbohong. "Kau—"

"Sungguh, Jim. Aku tidak berbohong, ini untuk pertama kalinya dia tidak ada disana. Ini begitu aneh."

"Aneh?"

"Ya, terutama setelah kejadian hujan waktu itu."

Keduanya terdiam beberapa saat. Sampai, Hoseok melanjutkannya kembali.

"Apa ia mengatakan sesuatu padamu?"

"Tidak." Jimin berbohong dengan begitu pandai. Walaupun kenyataannya, lelaki itu memberitahukan namanya. "Ia tidak berkata apa-apa padaku."

Hoseok mengangguk-anggukkan kepalanya mengerti. "Hei, besok hari Sabtu, sudah lama kau tidak menginap di rumahku. Mau menginap?" tawar Hoseok.

Jimin memamerkan senyum lebarnya. Ia segera saja mengangguk tanpa berpikir. "Setuju! Benar sekali, aku sudah lama tidak bermain ke rumahmu."

"Jim,"

"Ya?"

"Apa perlu kita mengajak Taehyung juga?"

.

Jimin dan Hoseok berdiri di depan pagar rumah Hoseok, dan ikut mengantarkan kepergian Seokjin yang baru saja mengantarkan Taehyung sampai ke rumah Hoseok. Taehyung hanya menyapa seadanya, sebelum Hoseok mengajak keduanya masuk.

Jimin yang berada di antara keduanya, merasa ada hal yang aneh terjadi di antara dua sahabatnya tersebut. Ia menghentikan langkahnya, dan mundur. Membuat dua orang lainnya ikut menghentikan langkah mereka lalu menoleh ke arah Jimin.

"Ada apa?" tanya keduanya bersamaan.

Jimin menatap keduanya dengan pandangan penuh curiga. "Oke. Aku ingatkan disini. Aku ingin bersenang-senang disini, bersama kalian dua sahabat terbaikku."

Keduanya merasa tersindir oleh perkataan Jimin. Taehyung segera saja tertawa lebar, dan merangkul Hoseok untuk mendekat ke arahnya. "Jim, lihatlah, kami baik-baik saja."

Jimin mengangkat sebelah alis matanya. Masih menatap lekat keduanya dengan manik mata curiga. Ia melipat kedua tangannya di depan dadanya. "Jim, ayolah, kami benar-benar baik-baik saja, bung!" Hoseok membalas rangkulan Taehyung.

"Baiklah, aku percaya." Jimin kembali melangkah, namun kini mengekori keduanya. Jimin tahu, ada yang tidak beres dari keduanya. Ia menatap keduanya, yang kini justru saling tertawa dan bercanda. "Aku tidak mengerti," desisnya.

.

Setelah makan malam bersama, menonton film bersama, bermain games bersama -hingga Hana-Nuna, kakak perempuan Hoseok yang kamarnya bersebelahan dengan mereka memukul keras pintu kamar Hoseok untuk memberi peringatan jika mereka bertiga terlalu berisik-, dan kini setelah cukup lelah bermain, ketiganya berbaring di atas ranjang milik Hoseok yang besar dan cukup menampung ketiganya.

Jam sudah menunjukkan pukul satu dini hari, namun Jimin bangun karena merasa tenggorokannya begitu kering dan gatal. Ia pikir, dengan minum segelas air, tenggorokannya akan jauh lebih baik.

Dengan perlahan, ia bangun dari ranjang, dan keluar dari kamar Hoseok perlahan tanpa menimbulkan suara apapun karena tidak berniat untuk membangunkan kedua sahabatnya. Ia berjalan menuruni anak tangga, menuju dapur, dan ia sadar jika lampu ruang tengah masih menyala.

Ia mengintip, dan mendapati seorang wanita dengan laptop miliknya duduk disana, dengan ekspresi wajah yang serius, dan sesekali bunyi keyboard laptop yang ditekan dengan begitu cepat. Jung Hana.

Jimin memilih untuk melakukan niatan pertamanya untuk meminum segelas air. Ketika ia meletakkan gelas bekas miliknya ke wastafel pencuci piring, ia ingat sesuatu. Ia harus menanyakan sesuatu dengan Hana.

"Nuna…"

Suara panggilan Jimin membuyarkan Hana, dan membuat gadis itu menghentikan kegiatannya mengetik di laptop miliknya. Ia membalikkan tubuhnya, mendapati Jimin yang berdiri di belakangnya.

"Ya, Jimin? Ada apa?"

"Ada yang ingin kutanyakan." Jimin berjalan mendekat ke arah Hana. Lalu mendudukkan dirinya, berhadapan dengan gadis itu.

"Apa yang ingin kau tanyakan?"

Jimin berdengung sebentar. "Tentang sebuah novel sebenarnya."

Wajah Hana berbinar begitu bersemangat, mendengar kata 'novel' dari mulut Jimin. Seakan-akan, novel adalah sesuatu yang begitu berharga baginya. "Ya, silahkan saja."

"Hoseok memberitahuku beberapa waktu yang lalu, jika Nuna yang menjadi penulis dari novel berjudul Sweet Promises, ya? Novel yang hanya dicetak tiga belas ekslempar itu."

Hana mengangguk kecil. "Ya, aku yang menjadi penulisnya."

"Lalu kenapa bukan nama Hana-Nuna yang ada disana? Justru disana tertulis 'Min'."

Gadis itu menghela nafas kecil. "Aku yang menginginkannya. Lagipula, tugasku hanya membantunya untuk menulis. Aku tidak mengeluarkan ide apapun, semua yang tertulis disana adalah hasil dari pemikirannya. Ide dirinya sendiri."

"Aku sudah membacanya,"

"Sudah selesai?"

Jimin menggelengkan kepalanya. "Belum. Mungkin sebentar lagi."

"Lalu, apa yang ingin kau tanyakan, hmm?"

"Tentang sang pengarang. Dia lelaki bukan?"

Hana terkejut, kedua bolamatanya melebar. "Bagaimana kau bisa tahu?" tanya Hana dengan aneh.

"Apa dia berkulit pucat?"

"Ya. Dia memang putih, dan terlampau…pucat."

"Apa nama lengkapnya Min Yoongi?"

"Maaf, Jim." Hana meminum kopi dari cangkir bercorak yang ada di dekat gadis itu. "Aku tidak bisa memberitahu soal itu." matanya bergerak menghindari pandangan mata Jimin yang sedari tadi terus menatapnya begitu lekat.

"Nuna…"

"Sorry." Jawabnya cepat, matanya masih memandang ke arah lain, dan Jimin tahu ada yang salah dengan hal itu.

"Aku benar-benar butuh bantuanmu."

"Jim—"

"Ini menyangkut semua tentang masalaluku."

"Maksudmu?"

"Akan aku jelaskan, jika semuanya sudah terkuak nantinya. Kau tahu, Nuna? Bahkan aku sendiripun tidak mengerti bagaimana dulunya aku!" Jimin mengusak rambutnya dengan kasar.

"Dari dulu, hingga sekarang kau masih tetap sama, Jim." Jawab Hana dengan senyum manisnya. "Tidak ada yang berbeda darimu sebelumnya hingga saat ini. Tidak ada yang berbeda dari kau sebelum pergi ke Amerika dan kembali lagi kesini."

"Nuna," Jimin mengucap lirih. "Perkataan Eomma membuat semuanya terasa begitu mencurigakan. Apa yang sebenarnya terjadi padaku sebelum pergi ke Amerika, aku tidak mengerti."

Hana tidak mengerti, mengapa perasaannya ikut terbawa saat ini. Ia merasakan, jika lelaki yang ada di hadapannya itu memang sedang berada dalam fase frustasi dan bingung luar biasa. "Baiklah," Hana menghela nafas pendek. "Aku akan membantumu."

"Benarkah?!" Jimin hampir saja memekik kencang, karena terlampau senang. Dan ia ingat, jika ini bukan rumahnya. Ia berdeham pelan. "Oh, Nuna. Terimakasih. Apa yang harus aku lakukan untuk berterimakasih?"

"Akan aku pikirkan untuk itu." Hana tersenyum tipis, dan Jimin terkekeh kecil. "Tapi sebelumnya, bacalah novel itu hingga selesai. Kau bisa menghubungiku."

"Baik!" jawab Jimin dengan begitu antusias. "Terimakasih, Nuna. Selamat dinihari." Jimin tertawa kecil. Baru saja ia melangkah dari sana, suara Hana kembali menahannya.

"Bacalah dengan baik-baik dan pahami. Tidak perlu terburu-buru. Dan...jangan kecewa jika hasilnya bukan seperti apa yang kau harapkan, Jim."

.

.

Taehyung harus segera pergi dari rumah Hoseok, karena ia sudah dihubungi oleh kedua orangtuanya untuk membicarakan sesuatu. Lagi, Seokjin yang menjemput lelaki itu tepat di depan rumah Hoseok.

"Bye! Sampai bertemu di kampus!" Taehyung berteriak dan melambaikan tangannya dari dalam mobil, melalui kaca jendela mobil Seokjin yang ia turunkan.

"Bye!" balas keduanya dengan juga melambaikan tangan. Setelah mobil Seokjin hilang di ujung jalan, Hoseok menghembuskan nafasnya pelan. Jimin meliriknya kecil.

"Apa yang kau pikirkan, huh?" Jimin merangkul erat Hoseok. "Ini masih terlalu pagi untuk memikirkan hal yang membuat pikiranmu suram, bung."

"Aku tidak memikirkan apapun, Jim. Sungguh." Hoseok memaksakan senyumnya. Mencoba mengelabui Jimin. "Bukankah aku terlihat baik-baik saja?"

"Tidak. Kau terlihat tidak baik-baik saja." Mereka berjalan beriringan menuju halaman depan rumah Hoseok, untuk sekedar duduk di teras depan sembari menikmati suasana pagi. "Kau tahu dimana kau bisa bercerita, Hoseok-ah."

"Ya, aku tahu." Jimin tersenyum kecil mendengar jawaban Hoseok. "Tapi aku tidak tahu harus memulai darimana." Sambung lelaki itu.

"Bagaimana dengan intinya?"

"Intinya?" Hoseok berdengung sebentar. "Aku sedang berusaha menjauhkan diriku dari Taehyung."

"Kurasa lebih tepatnya perasaanmu."

"Yeah, semacam itu." Hoseok menyilangkan tangannya di depan dadanya. "Aku hanya tidak tahu apa yang harus aku lakukan, Jim. Bagian yang tersulit adalah dia selalu berada di sekitarku."

.

.

Kedua mata lelaki itu menatap bangunan sederhana namun terlihat elegan yang ada di depannya itu. Ia mengeratkan sweater yang ia kenakan, untuk menghangatkan tubuhnya dari terpaan angin pagi yang cukup dingin. Giginya sedikit bergemeretuk menahan angin dingin yang menyapa.

Bibirnya tersenyum tipis menatap bangunan itu. Matanya memancarkan kesenangan tersendiri, yang mungkin saja hanya dirinya saja yang dapat mengerti, dimana letak kesenangan menatap bangunan itu bagi dirinya.

"Seandainya kau tahu…"

Kedua kelopak mata itu sedikit berair, atau mungkin sudah menahan air mata. Sekali berkedip, air yang sudah menggenang itu akan meluncur ke kedua belah pipinya.

"I miss you," matanya mengedip, dan air mata meluncur jatuh begitu saja. "Do you?"

.

.

TBC.

Mungkin kalian bakalan nanya, "Ini ff aneh banget sih, kok pairnya MinYoon, eksistensinya si Yoongi dikit amat." Jika ya, aku bener-bener minta maaf banget, karena setiap author punya jalan cerita dan pemikirannya masing-masing untuk menyampaikan sebuah jalan cerita. Jadi, kalian harus sedikit bersabar buat ngeliat kelanjutannya mengenai eksistensinya si Min Yoongi ini, ok? Kalo gamau sih juga gapapa ;"""). Oh ya, voodoo mau bikin kuis nih /ceileh berasa yang baca+review ffnya banyak aja/ yaah, berhubung karena aku bingung buat nama chara yang aku butuhin dan kebetulan yang aku butuhin itu cewe…jadi, kali aja kalian tertarik gitchu yaa~ tulis aja nama korea kalian di bawah komen+jawaban kalian. Ok? Ga tertarik juga gapapa sih._. Kalo voodoo sih bakalan ikut /preet/ biar berasa kaya ikut dalam ffnya gitchu dewh~ oke, kalo kalian tertarik silahkan jawab :

Q1 : Taehyung bakal jadian sama Seokjin atau Hoseok?
Q2 : Jimin bakalan bener-bener ketemu sama si Yoongi kira-kira dimana dan lagi ngapain, dan prediksi kalian di chapter berapa?
Q3 : Yang dimaksud dengan kata 'siap' di atas percakapan antara Yoongi sama Jungkook itu merujuk kemana?

Ok, terserah sih bakal mau jawab apa enggak hehehe:") I still need your review, guys. Mungkin kalian ga pengen tau atau semacemnya, tapi review itu bener-bener pendorong banget loh buat seorang author, jangan cuma fav and follow aja ya :") apalagi kalo dibikinnya ditengah-tengah kesibukan lagi ulangan gini. Oksip, saya terlalu banyak curhat sepertinya. REVIEW JUSEYO~