"Aku tidak tahu jika merindukan seseorang sebegini menyakitkannya."
"Aku juga tidak tahu. Seberapa besar sakitnya?"
"Sangat sakit. Sampai-sampai kau sendiri tidak bisa menggambarkannya."
"Benarkah?"
.
Jimin x Yoongi | boy x boy | chapter | other members appear!
.
a/n : Kalo kalian sadar, sebenarnya percakapan yang ada di atas itu, semuanya saling berkaitan satu sama lain di setiap chapternya lho~ kkk~. Dan maafkan voodoo kalo misalnya jalan ceritanya makin enggak banget:")
.
Do not plagiarize
.
Why you don't use your imagination?
.
Enjoy!
.
Tuan Park yang baru saja kembali dari Jepang menatap istri dan anaknya dengan ekspresi heran dari balik korannya. Tidak biasanya acara sarapan pagi mereka akan semuram dan semurung ini.
Istrinya hanya diam saja menyiapkan susu serta roti panggang milik Jimin dan juga miliknya. Lalu, Jimin yang biasanya akan berceloteh tentang apa saja yang ada di otaknya kini hanya diam. Mulutnya tertutup rapat. Hanya tangannya saja yang sibuk mengoleskan selai ke atas roti panggangnya.
Tuan Park yang jengah melihat keadaan itu, menurunkan koran paginya. "Jimin, sore ini kau sibuk?"
"Sangat." Jawab Jimin singkat.
"Lalu bagaimana—"
"Aku sangat sibuk. Tidak bisa diganggu." Jimin menggigit roti panggangnya dan beranjak dari kursinya.
"Kau mau kemana?"
"Ke kamar. Aku lupa ada tugas yang harus dikumpulkan di kelas siang ini." jawab Jimin lagi tanpa menatap wajah ayahnya. Lelaki itu beranjak pergi dari sana menuju kamarnya dengan langkah yang besar-besar.
Kini ia menatap wajah istrinya. "Ada apa, Sayang? Apa ada sesuatu yang terjadi selama aku di Jepang?" tanyanya lembut pada istrinya yang kini hanya diam menatap roti panggang yang ada di atas piring keramik di depannya. "Sayang?"
Suara isak tangis kecil yang mulai terdengar milik wanita itu membuat Tuan Park berdiri dari duduknya, lalu menenangkan istrinya. Ia sendiri tidak mengerti mengapa istrinya menangis begitu saja. "Sayang, sebenarnya ada apa?"
"Jimin…Jimin…"
"Ya?"
"Jimin menanyakan soal Yoongi,"
.
.
"Ada apa, Jim?" tanya Hoseok. Ia menatap raut yang benar-benar tidak mengenakkan dari wajah Jimin.
"Entah aku ingin memberitahumu atau tidak."
Hoseok menatap Jimin tidak mengerti. "Maksudmu?"
"Lupakan. Dimana Taehyung?"
"Sebentar lagi dia datang," sahut Hoseok. Ia masih menatap Jimin yang kini sedang sibuk membolak-balikkan halaman novel yang terakhir kali masih ia lihat. "Belum selesai juga membacanya?"
Jimin menggelengkan kepalanya. "Masih ada sekitar lima puluhan halaman lagi yang belum selesai dibaca."
Aku tidak tahu bagaimana dia bisa melakukan semua ini padaku
Apa dia mempunyai sihir?
Apa dia memiliki suatu keajaiban?
Aku tidak mengerti mengapa aku bisa terpuruk seperti ini pada pesonanya.
Aku tidak bisa menghindari kenyataan yang ada karena memang seperti itu adanya.
Ia begitu mempesona dan memabukkan.
Ketika aku tidak bertemu dengannya untuk sehari saja, aku ingin menangis.
Dia selalu berjanji padaku, jika ia akan selalu ada untukku.
"Jangan membaca dengan ekspresi seperti itu, Park."
Konsentrasi Jimin pecah saat suara berat Taehyung terdengar di telinganya. Ia mendongak, menatap wajah Taehyung yang sudah memberikan cengiran lebarnya. "Dasar penganggu." Dengus Jimin.
"Jim, kau tidak lupa kita kesini untuk menyelesaikan tugas-tugas kita, bukan?" timpal Hoseok. Lelaki itu bahkan sudah sibuk mengeluarkan beberapa kertas dari dalam tas punggungnya.
Jimin mengangguk-angguk dari balik novelnya. Ia menutup bacaannya itu setelah membatasinya dengan pembatas buku khusus yang tersedia dari novel tersebut. Mereka kini sudah sibuk dengan tugas mereka masing-masing.
Sesekali ujung mata Hoseok melirik Taehyung. Begitu juga sebaliknya. Sampai pada satu waktu yang bersamaan. Dua orang tersebut saling bertemu tatap. Hoseok segera membuang wajahnya dan berpura-pura sibuk kembali dengan tulisan-tulisan yang ada di depannya.
'Tidak. Tidak boleh berdetak lebih lagi.' Ucap Hoseok pada dirinya sendiri. Ia marah pada dirinya sendiri saat mata mereka bersitatap. Rasa detak jantung dan menyenangkan itu masih ada padanya. Rasanya ia ingin merobek dadanya dan membuang jantungnya agar ia tidak merasakan detak jantung yang menyakitkan itu.
Sementara Taehyung sendiri segera mengambil ponsel miliknya dan mengetikkan pesan pada seseorang.
To : Hosiki
Hari ini aku ingin pulang bersamamu. Tidak ada penolakan.
Hoseok yang merasakan ponselnya bergetar. Membuka pesan masuk yang ada. Ia sedikit meremas ponselnya setelah membaca pesan tersebut. Ia dengan cepat membalasnya.
To : Tae
Maaf, aku tidak bisa.
Beberapa detik setelahnya, ia sudah mendapat balasan pesan dari Taehyung.
From : Tae
Aku merindukanmu.
Sial. Jantung Hoseok berdetak lebih dari kata normal lagi.
.
Keduanya hanya duduk diam di dalam mobil selama perjalanan berlangsung. Tidak ada satupun dari mereka yang berusaha untuk membuka percakapan. Sambil Hoseok yang pada akhirnya jengah lebih dulu, memutuskan untuk merobek suasana canggung itu. "Bagaimana kabar Seokjin Hyung?"
"Baik." Jawaban Taehyung yang begitu singkat membuat keduanya kembali terjebak dalam suasana hening, di tengah suara hiruk pikuk jalanan yang padat di Seoul. Hoseok melirik dari ujung matanya dimana Taehyung yang terus berfokus ke arah luar jendela. Ia menghela napas kecil. Sejujurnya, keadaan ini benar-benar terasa begitu canggung.
"Hoseok,"
"Ya?"
"Apa kau benar-benar sudah menyukai seseorang?"
Hoseok terdiam. Ia bahkan sedikit kehilangan fokusnya pada jalan raya saat pertanyaan Taehyung terlontar keluar. Butuh beberapa waktu bagi Hoseok untuk menjawab pertanyaan itu. "Bagaimana menurutmu?"
"Entahlah," ucap Taehyung pelan. Lelaki tersebut bahkan tidak menatap wajah Hoseok sama sekali atau melihat ke arah lelaki tersebut sedikitpun. Jemari telunjuknya sibuk menggambarkan sesuatu atau mungkin saja itu tulisan yang tidak terlihat di atas jendela mobil.
"Maaf,"
Taehyung menoleh sebentar, dan kembali ke posisinya. "Kau tidak salah apapun. Aku yang salah."
Keduanya kembali terdiam. Mereka tahu, mereka sedang menyalahkan diri mereka masing-masing. Keduanya saling membohongi diri mereka masing-masing jika mereka saling menyukai satu sama lain. Menyakiti satu sama lain dengan bilah pisau tajam yang tak terlihat dan menusuk perasaan mereka sendiri.
Mobil Hoseok berhenti di depan rumah bercat biru pastel yang begitu lembut dilihat. Keduanya masih terdiam di posisi mereka masing-masing. Deru napas dan detak jantung mereka sedikit terdengar mengisi ruang atmosfer yang begitu sempit di antara mereka.
"Taehyung—"
"Ya. Aku tahu." Sela Taehyung cepat. Ia membuka sabuk pengaman yang melingkar di tubuhnya, lalu membuka pintu mobil. Taehyung membatalkan niatnya untuk menutup pintu mobil saat suara Hoseok menyela.
Lelaki itu berlari keluar dari mobil, dan menghampiri Taehyung yang masih berdiri di tempatnya. Keduanya berdiri berhadapan. "Maafkan aku,"
"Kau tidak salah apa-apa." Taehyung tersenyum masam. "Aku yang salah." Tangan Hoseok terulur untuk merapikan rambut Taehyung. Membuat lelaki tersebut mendongak, dan menatap wajah sahabat yang ia cintai itu begitu dekat. "Kau selalu berhasil membuatnya berdetak, Jung Hoseok." Taehyung terkekeh hambar. Ia mendorong dada Hoseok. Memotong jarak yang terlampau dekat.
"Kim Taehyung—"
"Aku ingin tidur."
Sebelum Taehyung benar-benar membuka pagar rumahnya, Hoseok menarik Taehyung dan menciumnya. Lelaki itu sedikit memberi lumatan dan hisapan kecil di bibir Taehyung.
"Mianhae." Ucap Hoseok pelan setelah memutuskan ciuman menyedihkan di antara mereka.
Tanpa mengucapkan sepatah kata apapun, Taehyung segera masuk ke dalam rumahnya. Meninggalkan Hoseok yang masih berdiri menatap balkon kamar Taehyung.
.
Jimin mengistirahatkan dirinya di bawah pohon ek tua yang ada di sana. Tidak. Ia tidak berlatih skateboard. Ia sendiri tidak tahu ada apa dengan dirinya, mengapa ia ingin beristirahat disana ketimbang kamarnya yang begitu nyaman.
"Min Yoongi," desis Jimin pelan. Bayangan dan suara lelaki berkulit pucat yang selalu duduk di tempat ia sekarang ini, masih teringat dan tercetak jelas di ingatan dan pendengarannya. Jimin tahu ada yang salah dengan dirinya, saat pandangannya selalu jatuh pada sosok misterius itu.
"Siapa kau sebenarnya, Min Yoongi?" Jimin menatap dedaunan dan ranting-ranting pohon ek yang begitu lebat. "Mengapa sepertinya kau itu tidak begitu asing lagi?"
Min Yoongi, novel, foto dirinya dan seorang lelaki ketika kanak-kanak, bunga matahari, ayunan, dan pohon ek. Seharusnya Jimin tahu, jika semua itu pasti ada keterkaitannya satu sama lain. Terlebih, ibunya yang menangis dan marah saat dirinya bertanya mengenai seseorang, yang bahkan baru saja ia temui di taman.
Jimin terus berusaha mengorek dan mengingat apa yang sebenarnya terjadi. Ia bahkan terkadang terbangun di tengah malam, karena dengungan suara lelaki pucat itu yang mengenalkan namanya.
Ia memejamkan matanya. Angin sore yang berhembus begitu lembut dan menenangkan, membuat dirinya sedikit mengantuk. Ia hampir saja tertidur, jika saja suara ringisan seseorang yang terjatuh tidak terdengar.
Jimin membuka matanya. Ia mendapati seseorang yang kini memunggungi dirinya itu, sudah kembali berdiri dengan baik dan berlari menuju pintu keluar taman. Ia menautkan kedua alisnya bingung. Baiklah, ia semakin tidak mengerti apa yang sebenarnya terjadi pada dirinya sendiri.
.
.
Yoongi menyirami semua bunga matahari yang ada di taman kecilnya, dengan dengungan lagu kesukaannya. "Teruslah berbunga dan bertumbuh tinggi, cantik." Yoongi melirik kecil ke arah matahari yang sudah mulai meninggi, sebelum meletakkan selang airnya dan mengambil sekop kecil serta sekantung pupuk kompos.
"Oh astaga, ada rumput liar." Dengan cepat lelaki itu menarik rumput-rumput liar dan tumbuhan hama lainnya, yang tumbuhan di sekitaran bunga-bunga matahari miliknya. "Tidak. Tidak. Tidak. Aku tidak akan membiarkan rumput-rumput ini tumbuh di dekat bunga-bunga cantik kesayanganku." Setelahnya, Yoongi segera menambahkan pupuk pada setiap tumbuhannya.
"Hyung," suara Jungkook mengintrupsi kegiatan menyenangkan Yoongi. Lelaki itu mendongak. Jungkook ikut berjongkok di sebelah Yoongi. "Hari ini ingin jalan-jalan ke taman?"
Untuk beberapa detik, Yoongi terdiam sebelum menjawabnya. Ia meringis kecil. "Sepertinya tidak. Aku…Aku…Aku masih takut jika ia ada disana seperti kemarin." Yoongi menunduk. Ia menatap Jungkook dengan hidungnya yang sudah memerah menahan tangis.
Jungkook sedikit merasa bersalah. Ia merutuki dirinya karena sudah membahas suatu hal yang seharusnya tidak perlu dibicarakan sama sekali. "Hyung,"
"Ti—Tidak apa-apa!" Yoongi kembali menyibukkan dirinya dengan kegiatannya yang sempat terhenti beberapa belas menit.
"Hyung, mungkin semuanya akan menjadi jelas nantinya."
Yoongi terdiam. Ia menatap Jungkook sebentar. Suara tawa hambar Yoongi terdengar. Senyuman manisnya juga terlihat begitu memaksa. "Mungkin. Tapi tidak tahu kapan,"
"Ya, kau tidak tahu kapan semua ini akan jelas sampai kau sendiri benar-benar bertemu dengannya."
"Aku…"
"Belum siap?"
"Aku hanya ingin…"
"Dia yang mengingatmu lebih dulu? Bagaimana jika dia tidak mengingatmu sama sekali, Hyung!"
"Setidaknya aku tahu. Jika ia sudah melupakanku."
"Dan setidaknya kau tahu, jika kau sudah terlalu bodoh untuk menunggunya sementara kau menyakiti dirimu sendiri, Hyung."
Keduanya terdiam. Yoongi tahu ia salah. Jika sudah seperti ini, Jungkook memang akan bersikap lebih dewasa dibandingkan dirinya. Yoongi mulai merasa bersalah pada sepupunya yang sudah benar-benar menjaga dan merawatnya.
"Hyung, biarkan aku membantumu."
"Jungkook, aku—"
"Biarkan aku membantumu. Aku tahu, kau sudah lelah berjalan sendirian."
"Jungkook, untuknya aku tidak akan pernah merasa lelah."
"Walaupun?"
"Walaupun ia tidak tahu…"
.
.
.
T
B
C
.
.
.
So, Your Name is back guys! Ada yang seneng? Ada yang enggak? Ada yang mual? Ada yang biasa aja? Ada yang kesel? Ada yang marah? Ada yang gak ada? Okfine.
Maafkanlah diriku sebagai author paling kece jika membuat jalur fic ini semakin ngawur dan diluar kendali. Serta feelnya sudah tidak ada dan tidak ada banget/?/ Okelah, jangan lupa abis dibaca direview/difav/difollow. Anggep aja kalian abis boker terus nyebok .-.
© cute voodoo
