"Apa yang harus kita lupakan? Kenangannya atau seseorang pemberi kenangan?"
"Kurasa keduanya saling berkaitan. Maksudku, keduanya saling berhubungan."
"Bagaimana jika harus memilih satu diantaranya? Apa yang akan kau pilih?"
"Kenangannya."
.
Jimin x Yoongi | boy x boy | chapter | other members appear!
.
a/n : Kalo kalian sadar, sebenarnya percakapan yang ada di atas itu, semuanya saling berkaitan satu sama lain di setiap chapternya lho~ kkk~. Dan maafkan voodoo kalo misalnya jalan ceritanya makin enggak banget:")
.
Do not plagiarize
.
Why don't use your imagination?
.
Enjoy!
.
Awan hitam yang bergelung dan saling berhimpitan di langit, tidak membuat suasana hati seorang Min Yoongi membatalkan niatannya untuk mengunjungi salah satu kafe kesukaannya di sekitaran daerah Hongdae.
Jungkook yang sudah bersiap di teras rumah, menunggu Yoongi yang sedang memakai sepatu. Ia memandang langit yang begitu gelap di atas sana. "Hyung, kau yakin ingin pergi ke kafe itu?"
Yoongi yang awalnya sibuk dengan sepatunya, mendongak sebentar ke arah Jungkook. Ia mengangguk-angguk kecil dengan senyumnya yang bersemangat. "Tentu saja. Ada apa? Ada yang salah?"
"Tidak, tapi kurasa hujan akan turun begitu deras nantinya."
Ikatan terakhir dari sepatu Yoongi, membuat lelaki itu berdiri. Ia keluar rumah dan mengunci pintu rumahnya. Ia menepuk pundak Jungkook. "Tenang saja. Aku berani memberikan jaminan, jika kita akan sampai di Hongdae dengan keadaan kering."
"Lalu bagaimana dengan pulang?"
"Jungkook, bahkan kita belum berangkat!"
.
Jimin mendatangi kafe tua itu untuk yang kesekian kalinya. Segera, ketika ia masuk ke dalam kafe tersebut, seorang pelayan mengantarkannya ke kursi kosong untuk satu orang. Dengan meja panjang seperti di bar-bar yang tertempel ke perpaduan bangunan antara dinding dan kaca tersebut. Pemandangan jalan yang cukup sepi terlihat dari dalam kafe, karena meja khusus satu orang tersebut dihadapkan langsung ke arah jalan.
Namun itu bukan satu masalah bagi Jimin karena, kafe tersebut berada di daerah yang cukup sepi, jadi tidak terlalu banyak orang yang berlalu-lalang. Jimin mengeluarkan novel dari dalam tasnya yang belum sempat ia baca, karena sudah terlalu sibuk dengan tugas yang merajalela.
Tidak harus menunggu waktu yang lama untuk menunggu sebuah pesanan di kafe tua yang menenangkan dan nyaman itu. "Terima kasih,"Ucap Jimin setelah salah satu pelayan yang ada disana, memberika pesanannya.
"Sama-sama. Ada pesanan lagi yang kau butuhkan, Tuan?"
"Tidak. Terima kasih."
Pelayan tersebut pergi beranjak dari sana. Aroma menenangkan dari teh hijau yang dipesannya, membuatnya menatap cangkir berwarna hijau dengan corak daun ginko. Tanpa ia sadari, bibirnya menyunggingkan senyuman yang begitu lembut. Jimin menatap jalanan yang ada di luar sana. Ia sedikit menerawang. Ada alasan apa sebenarnya yang membuatnya begitu menyukai teh hijau. Ia sendiri tidak mengerti.
"Baiklah, aku harus menyelesaikan novel ini."
Jimin membuku novelnya, dan membaca halaman yang terakhir kali ia baca. Tidak butuh lama untuk seorang Park Jimin tenggelam dalam larutan tulisan-tulisan yang begitu membuatnya tenggelam.
"Aku tidak tahu harus berbuat apa saat ia berpikir untuk meninggalkanku,"
"Ia bilang ia begitu menyayangiku dan tidak akan pergi,"
"Tapi kenapa? Kenapa ia meninggalkanku begitu saja?"
"Aku bahkan tidak mengerti apapun saat itu."
"Di saat ia memeluk diriku begitu erat, dan kami berdua tertidur berpelukan di rerumputan."
.
Yoongi bersenandung begitu ceria. Jungkook yang berjalan di sampingnya tersenyum samar. Semenjak kejadian itu, ia belum pernah tersenyum secerah ini, walaupun Jungkook tahu dari tatapan Yoongi jika lelaki itu belum sepenuhnya keluar dari masa lalunya.
Bunyi kerincing bel bergema saat Yoongi membuka pintu kafe dan segera mendapat sambutan hangat dari pelayan kafe, yang sudah bersiap mengantarkan keduanya ke meja khusus dua orang.
"Ingin memesan apa, Tuan?" sang pelayan mengeluarkan catatan kecilnya. Bersiap untuk mencatat apa-apa saja yang akan dipesan oleh Jungkook dan Yoongi.
"Aku ingin cheese cake dan teh hijau." Ucap Yoongi dengan senyumnya.
"Macchiato dan tiramisu."
Sang pelayan mencatatnya dan menyebutkan ulang pesanan keduanya. "Tunggu sebentar. Pesanan akan segera datang, Tuan-Tuan."
Jungkook baru saja ingin melayangkan pembicaraan saat deru hujan yang begitu deras tiba-tiba saja terdengar. Yoongi ikut menoleh ke arah kaca besar yang ada disana. Ia tersenyum manis menatap Jungkook. "Lihat, benar bukan seperti dugaanku? Tapi setidaknya, kita sudah sampai dengan keadaan yang kering."
Lelaki yang lebih muda mengangguk setuju. "Hyung, aku tidak tahu jika kafe ini masih sama saja seperti dulu."
"Ya, begitulah." Yoongi mengedarkan pandangan matanya. "Hanya ada sedikit saja yang berubah. Sejak kita kecil, kita pasti akan selalu meminta kesini."
Jungkook terkekeh kecil mendengarnya. "Ya, itu karena kafe ini dulu memberikan pelayanan yang begitu menarik untuk para tamu-tamu cilik."
"Ya, kita pasti akan selalu kesini." Cahaya mata Yoongi sedikit meredup. "Kita bertiga. Kau, aku dan—"
"Maaf, pesanan kalian."
"Ah, iya. Terima kasih." Ucap Jungkook dan Yoongi bersamaan. Pelayan tersebut tersenyum kecil dan mengangguk. Setelahnya, pelayan itu pergi beranjak dari meja tersebut.
"Aku ragu, apa dia masih suka meminum teh hijau."
Jungkook menatap sepupunya itu dalam diam. Ia sebenarnya sudah lelah dan ikut sedih melihat bagaimana keadaan hyung kesayangannya itu. Sebenarnya, Jungkook tahu segalanya karena ia diceritakan oleh kedua orangtuanya yang saat itu masih tinggal bersebelahan dengan rumah yang mereka tempati saat ini, sampai kedua orangtuanya pindah ke Busan dan memintanya untuk tinggal bersama Yoongi.
Jungkook sendiri tidak tahu, dimana seseorang yang dulu sering bersama mereka itu berada saat ini. Masih banyak hal yang perlu ia korek dari Yoongi untuk membantu Yoongi menyelesaikan semuanya.
"Ini menyedihkan sebenarnya,"
"Ya. Ini menyedihkan, Hyung."
Yoongi mendongak. Ia menusuk cheese cake miliknya dengan garpu kecil yang sudah disediakan. "Sangat menyedihkan. Aku bahkan terus mengingat apapun soal dirinya sampai saat ini."
"Hyung,"
Lelaki berkulit pucat itu bergumam kecil saat manisnya cheese cake, meluap di dalam rongga mulutnya. "Aku bahkan masih mengingat wajahnya yang kesal karena aku tidak memberikan bagian cheese cake milikku padanya." Yoongi terkekeh. Hambar. Seketika memori masa lalunya datang dan rasa manis yang seharusnya masih berbekas, menghilang begitu saja.
"Hyung,"
"Ya?"
"Pertemukan aku dengannya. Aku juga ingin bertemu dengannya. Aku tahu kau sudah beberapa kali bertemu dengannya."
Yoongi menggelengkan kepalanya pelan dan lemah. Jemarinya kini sudah mengapit sendok kecil pengaduk teh. "Entahlah." Ia menghembuskan napasnya pelan. "Aku sendiri tidak begitu yakin jika itu dirinya…"
.
"Dan aku tahu semuanya berubah saat ia pergi."
"Aku kembali sendirian disini tanpanya."
"Seseorang yang selalu menjanjikan hal-hal yang begitu manis pada diriku,"
"Ini memang menyedihkan."
"Tapi aku harus menerimanya."
"Setidaknya, sampai saat ini, aku masih terus berharap dapat bertemu dengan dirinya tanpa kurang suatu apapun seperti terakhir kalinya kami berdua bertemu dalam senyuman lembut dan cuaca ramah yang hangat."
"Aku hanya ingin bertemu dengannya. Seseorang yang selalu menjanjikan hal-hal manis. Dan aku hanya ingin mengatakan padanya, jika ia adalah cinta pertamaku sejak hari itu hingga hari ini. Akan selalu begitu. Selamanya. Aku mencintainya."
Jimin mendongak, mengalihkan tatapannya pada novel yang sudah selesai ia baca itu. "Oh," Jemarinya menyentuh permukaan kaca yang sedikit berembun karena udara dingin dari hujan deras yang datang. "Sepertinya aku terlalu asyik membaca sampai tidak sadar jika sedang hujan."
Ia menutup bukunya dan menggeser cangkir teh hijaunya yang sudah dingin. Ia terlalu asyik membaca. Matanya menatap novel tersebut dengan seksama. Ia tidak mengerti, mengapa ia begitu penasaran dengan siapa sebenarnya pengarang novel ini. Ia sudah membacanya sampai selesai. Ia tidak menemukan petunjuk apapun, walaupun terkadang ada beberapa bagian dimana ia seperti terhenyak jatuh ke dalam lubang memori yang tidak dapat ia ingat. Jikapun ingat, hanya begitu samar saja yang dapat ia ingat, dan itu benar-benar percuma.
"Aku yakin, seharusnya aku dapat menemukan sesuatu yang spesial disini."
.
Hujan sudah semakin reda. Dan kini hanya berupa rintik-rintik saja. Jungkook dan Yoongi berdiri dari meja mereka. Keduanya harus segera pulang, karena orangtua Jungkook bilang, mereka berdua akan datang malam hari untuk makan malam bersama.
"Ayo, Hyung."
"Ayo, sebelum hujan datang lagi."
Mereka berjalan beriringan dari sana. Meninggalkan kafe yang setidaknya, sudah memberikan Yoongi pelampiasan untuk rasa rindunya pada seseorang yang begitu meluap.
.
Jimin menatap jendela. Sekarang, hanya rintik-rintik kecil saja yang membasahi bumi. Ia menatap novel tersebut, dan membalik-balikkan lembaran novel itu, berharap mendapatkan sesuatu yang ia lewatkan.
"Huh?"
Pembatas buku. Jimin selama ini tidak tahu jika pembatas buku tersebut memiliki gambar lain di belakangnya. Ia mengambilnya, dan mendapati gambar setangkai bunga matahari, dengan kertas kecil yang menggelantung seperti price tag, namun kertas itu bertuliskan 'Park.'
"Ayo, sebelum hujan datang lagi."
Jimin terdiam. Hujan. Teh hijau. Bunga matahari dengan bernamakan Park. Dan wangi tubuh seseorang yang lewat di belakangnya tadi, mengingatkan ia pada seseorang. Jimin tersadar saat gema lonceng terdengar.
Ia segera saja menolehkan pandangannya pada dua orang lelaki yang baru saja keluar dari kafe yang sama dengannya. Ia tidak dapat melihat dengan begitu jelas karena keduanya menutupi kepala mereka dengan jaket dan berlarian.
"Astaga. Apa ini sebenarnya?" gumamnya. "Aku harus menemui Hana Nuna." Lelaki itu merapikan semua barang miliknya. Setelah beranjak pergi dan membayar, ia sibuk berlarian menuju halte bis, mengingat ia tidak membawa mobil pribadinya.
.
"Argh! Sial!" Jimin melempar tasnya ke sembarang arah dan terlempar hingga ke dekat pintu kaca balkon kamarnya. Dengan kasar, ia menghempaskan tubuhnya sendiri ke atas ranjang nyaman miliknya. "Sial! Sial! Sial!"
Ya, kesialan yang Jimin maksud adalah, mengapa seorang Jung Hana harus pergi ke Jepang sampai lusa nanti disaat dirinya sedang membutuhkan bantuan. Dan hal lainnya adalah, di kafe tadi. Kenapa ia tidak segera mengejar dua orang lelaki yang keluar dari kafe sebelum dirinya.
Ia menjambak rambutnya sendiri. "Sial! Aku yakin ini pasti ada hubungannya!" Jimin berdiri dari posisi tidurnya. Ia menghampiri lemari lamanya dan memeriksa semua dengan telaten, tanpa suatu hal kecil yang tertinggal. Nihil. Semua barang-barangnya yang ada disana, adalah barang-barang baru.
Ia lalu menghampiri dua lemari lainnya yang hasilnya sama dengan sebelumnya. Jimin berjalan mengelilingi kamarnya dengan begitu gelisah. "Apa ini sebenarnya? Ada apa?! Mengapa aku tidak dapat mengingatnya?!" dengan amarah bercampur rasa gelisah dan jengkel. Ia memukuli kepalanya sendiri. "Ayolah, ayo! Ingat sesuatu! Ayo! Brengsek! Dasar otak brengsek dan tidak berguna!"
Jimin lupa. Masih ada tempat yang belum ia periksa. Gudang kecil di rumahnya. Tempat penyimpanan barang-barang yang hanya terpakai sesekali dan terkadang tidak dipakai. Ia segera keluar dari kamarnya dan berjalan menuruni anak tangga dengan tidak sabaran. Ia ingat jika disana ada box mainannya. Ia berharap, jika box itu masih berada disana dan tertata rapi.
Benar saja. Box mainannya masih berada disana. Dengan cepat, Jimin menghampiri box mainan itu. Ia sedikit terkejut sebenarnya. Karena semua barang-barang semasa kecilnya, entah kemana. Ia hanya mendapati sebuah buku cerita mengenai seekor kodok dan seorang putri, dengan ujung kertas yang mengintip di bagian atas buku tersebut.
Jimin mengangkat buku tersebut. Ia menatapinya dengan seksama. Berharap jika ia mengingat sesuatu mengenai buku dongeng yang ada di tangannya saat ini. Nihil. Ia benar-benar tidak dapat mengingat apapun. Seberapa besar ia mencoba mengingatnya, hanya semakin membuat kepalanya pusing dan terasa penuh.
Ia memilih untuk menarik kertas yang menyelip di antara lembaran buku-buku itu. Ia membaca tulisan yang cukup berantakan di atas kertas yang sudah cukup kuning dan lusuh itu.
Untuk Jimin :
Jangan lupa untuk terus belajar membaca, agar Jimin dapat membaca buku ini sendirian.
Jimin sudah besar dan pintar. Semangat!
Love,
Jina.
"Hah?"
.
.
TBC
.
Hai~ siapa yang nungguin fic ini balik angkat kakinyaaaa! Yeaah! Kkk~. Oke. Voodoo mau curhat sebentar disini. Sebenernya, voodoo pengen banget ngelanjutin sampe tuntas ini fic, tapi karena ada review yang bikin voodoo kesel, voodoo jadi pengen discontinued fic ini. Kalo kalian gak suka sama fic voodoo, silahkan kalian gak usah baca, daripada review tapi bikin saya sakit hati. Saya kasitau, setiap orang itu beda-beda dalam ngambil tanggepan, dan kalian gak tau 'kan, kalo orang itu gampang sakit hati atau enggak? Jadi, tolong hati-hati dalam mereview apapun dan untuk siapapun, dalam segala hal. Apa perlu voodoo sebutin pennamenya? Gak kan? Voodoo juga bukannya gak mau balesin review kalian. Voodoo aja, fic ini numpang update sama phylindan unnie. Jadi, harap dimaklumin kalo review gak bisa dibales satu-satu. Untuk selanjutnya, voodoo usahakan untuk mereply review di bagian bawah chap selanjutnya.
Oh ya, dan tolong BAGI YANG MERASA GAK NGERTI SAMA INI FIC TOLONG GAK USAH BACA DARIPADA ANDA REVIEW DENGAN KALIMAT 'GAK NGERTI' DENGAN FIC INI. KALO KALIAN GAK NGERTI, TINGGAL TANYA DI KOTAK REVIEW ATAU DI PM, DAN AKAN SAYA BALES/JELASKAN DI CHAPTER SELANJUTNYA. DAN KALO BISA, TOLONG, USAHAKAN REVIEW DI SETIAP CHAPTER. JANGAN CUMA BISA REVIEW YANG KESANNYA NGELEDEK SAYA TERUS GAK REVIEW LAGI DI CHAPTER SELANJUTNYA. THX.
