"Sepertinya aku terlalu mencintainya."
"Apa?"
"Aku terlalu mencintainya."
"Bukankah itu sudah sejak dulu?"
.
Jimin x Yoongi | boy x boy | chapter | other members appear!
.
a/n : Kalo kalian sadar, sebenarnya percakapan yang ada di atas itu, semuanya saling berkaitan satu sama lain di setiap chapternya lho~ kkk~. Dan maafkan voodoo kalo misalnya jalan ceritanya makin enggak banget:")
.
Do not plagiarize
.
Why don't use your imagination?
.
Enjoy!
.
.
Baiklah, Jimin benar-benar membutuhkan pengertian dari kedua orangtuanya saat ini, terutama ibunya. Ia membutuhkan ibunya yang justru kini sedang berada di Amerika sampai minggu depan. Ini begitu menyebalkan.
Kakinya membawa dirinya untuk berlari menuju kamarnya, dan segera mengambil ponselnya dengan begitu kasar. Tidak sabar untuk menghubungi ibunya. Ia semakin heran. Ia tidak mengerti. Mengapa begitu banyak hal yang tidak dia ketahui, dan mengapa ada orang-orang yang begitu membuatnya semakin terpuruk dalam suatu ingatan yang hilang entah kemana.
Ia mengetuk-ngetukkan kakinya dengan tidak sabaran. Matanya sesekali menatap suasana di luar sana yang mulai menggelap. "Aish! Ayolah, ibu! Angkat!" Ia menghempaskan tubuhnya dengan kasar ke atas ranjangnya.
.
Yoongi segera menampilkan senyum manisnya yang begitu tulus saat kedua orangtua Jungkook, yang notabene adalah paman dan bibinya itu, sudah datang tepat setelah semua makanan dan peralatan makan tertata rapi di atas meja makan.
"Apa kabarmu, Sayang?" tanya Nyonya Jeon. Ia memeluk tubuh Yoongi dengan sedikit erat. Terselubung rasa khawatir yang begitu mendalam untuk pengertian pelukannya pada Yoongi. Ia mengendurkan pelukannya, dan menatap wajah Yoongi. "Kau semakin kurus."
Lelaki manis itu tertawa kecil. "Bibi tidak perlu khawatir. Aku tidak semakin kurus, sungguh. Mungkin itu hanya perasaan bibi saja." Yoongi mengenggam kedua tangan bibinya yang begitu ia sayangi itu dengan erat. "Ayo, kita makan malam." Ajak Yoongi.
Setelah semuanya duduk di tempat mereka masing-masing, Tuan Jeon memecah heningnya suasana makan malam. "Yoongi-ya, kapan kau akan merasa siap? Kedua orangtuamu bahkan sudah bertanya-tanya padaku."
Jungkook yang mendengar pertanyaan ayahnya, segera menendang pelan kaki lelaki paruh baya itu dan mempelototinya. Ia menggelengkan kepalanya pada ayahnya, saat melihat Yoongi yang sebelumnya asyik dengan makan malamnya, menghentikan suapannya.
Yoongi mendongak, menatap Tuan Jeon. "Mungkin sebentar lagi, Paman." Jawab Yoongi dengan senyum hambarnya yang begitu dipaksakan. Semua yang ada disana tahu, jika sinar mata Yoongi meredup saat pertanyaan Tuan Jeon terlontarkan. Keadaan makan malam tiba-tiba saja menjadi canggung.
"Ah! Appa dan Eomma akan menginap disini bukan?" tanya Jungkook dengan ceria. Ia memberi kode dengan senyuman dan kedua matanya, pada kedua orangtuanya untuk segera menjawab saat matanya melirik jika Yoongi juga ikut menanti jawaban.
Nyonya Jeon menepuk tangannya sekali. "Tentu saja! Eomma dan Appa sudah membawa pakaian ganti!" jawab wanita itu dengan gembira tanpa ada keraguan di setiap perkataannya. Membuat Yoongi ikut tersenyum, dan percaya.
"Ya, tentu saja kami akan menginap disini." Sahut Tuan Jeon dengan seulas senyumnya yang begitu tenang.
"Terima kasih." Ucap Yoongi pelan.
.
Jimin terbangun begitu saja. Matanya mendapati ruangan kamarnya begitu gelap. Hanya cahaya dari bulan saja yang terpantul akibat pintu kaca balkon di kamarnya belum ia tutup. Ia tertidur rupanya.
Ia segera bangkit dari tidurnya, untuk membereskan kamarnya dan menyalakan semua lampu yang memang harus dinyalakan di rumahnya. Ia sempat melirik ponselnya sebentar. Berharap jika selama ia tertidur, ibunya mengirimkan pesan, e-mail, atau bahkan menghubunginya kembali. Tapi nihil. Begitu juga dengan ayahnya.
"Sialan." Rutuknya kecil.
Jam di dinding kamarnya sudah menunjukkan pukul delapan malam. Ia memegangi perutnya yang tiba-tiba saja terasa lapar. Jimin menuruni tangga rumahnya, dan segera membereskan segala sesuatu hal yang memang harus dibereskan disana.
Setelahnya, ia beranjak ke dapur. Ia membuka kulkas. Matanya mencari-cari, apakah ada makanan beku yang ditinggalkan ibunya atau tidak. Ternyata tidak ada sama sekali. "Ah, sial." Desisnya pelan. Jimin tiba-tiba saja berlari kembali ke kamarnya, dan menghubungi seseorang dengan ponselnya.
.
Disinilah keduanya berada. Di restoran rumahan kesukaan Jimin. Ia hanya datang berdua bersama Hoseok. Karena Taehyung ternyata memiliki acara pribadi bersama Seokjin.
"Hana Nuna benar-benar akan kembali ke Korea lusa nanti?" tanya Jimin di sela-sela kunyahannya.
Hoseok mengangguk setelah menegak air miliknya. "Ada apa? Kau benar-benar terlihat begitu memaksa untuk menemui Nunaku." Hoseok menunjuk-nunjuk wajah Jimin dengan sumpit yang ada di tangannya, sebelum kembali mengapit sepotong bulgogi.
"Aku benar-benar membutuhkannya, bodoh."
"Mengenai apa?" Hoseok benar-benar penasaran kali ini. Ia memandang Jimin sejenak. "Katakan saja. Jika aku tahu, aku akan memberitahumu dan membantumu sebisaku." Jimin menatap Hoseok dengan pandangan ragu. "Kau meragukanku?!" pekik Hoseok tidak percaya saat mendapati tatapan sahabatnya itu.
Jimin terkekeh. "Ya. Aku meragukanmu. Bagaimana bisa kau membantuku, sementara kau tidak bisa membantu dirimu sendiri, huh?"
"Uhuk!" Hoseok menepuk dadanya saat ia tersedak kuah sup yang baru saja ia minum. Dengan panik, Jimin segera memberikan segelas air yang ada di hadapannya. "Bodoh!" rutuk Hoseok saat napasnya sudah kembali stabil. "Akan ku bunuh kau jika berbicara seperti itu lagi."
"Benarkah?"
"Aku serius."
"Baik kalau begitu." Jimin mengulum tawanya mendapati Hoseok yang menatapnya dengan jengkel.
"Lalu apa yang bisa ku bantu?" ulang Hoseok kembali.
Jimin berdengung untuk beberapa saat. "Kau mengenal seseorang yang bernama Min Yoongi?" ucapan Jimin terlontar begitu saja.
Hoseok menghentikan suapannya. Menatap sahabatnya itu selama beberapa detik. "Min Yoongi…" gumam Hoseok seraya menampilkan wajah berpikirnya. Jimin menunggunya dengan begitu sabar. "Sepertinya aku pernah mendengar nama itu."
"Benarkah?!"
Hoseok mengangguk. "Kenapa? Tapi aku sedikit tidak yakin sebenarnya."
"Apa Hana Nuna benar-benar tidak bisa menggunakan ponsel?"
"Tidak, Park Jimin. Iya seperti sedang berada di asrama, jadi tidak bisa."
Jimin menghembuskan napasnya begitu kasar. Ia lelah sebenarnya dengan jalan pikirannya sendiri. "Oh ya, Jung."
"Heung?"
"Sebenarnya, apa yang terjadi?"
"Apa?"
"Aku bertanya padamu. Apa yang terjadi. Apa aku dulu pernah dekat dengan seseorang?"
"Hanya kami yang selalu menjadi teman bermainmu." Jimin menatap Hoseok dengan tatapan menyudutkan. Mencari sebuah kebohongan yang mungkin saja, sahabatnya itu lontarkan. Nihil. Jimin tidak mendapatinya. "Hei, hei, hei. Ada apa dengan pertanyaan dan tatapan matamu itu?" Hoseok meletakkan sumpitnya di bibir mangkuk nasi keramik yang ada di depannya.
Jimin menggelengkan kepalanya pelan. "Tidak ada." Ia kembali menatap Hoseok saat sebuah pertanyaan lain melintas. "Kau tahu apa alasanku pindah ke Amerika?"
.
.
Jungkook membuka pintu kamarnya dengan perlahan. Ia memutar kenop pintu kamar seseorang yang ada di sebelahnya itu dengan begitu pelan. Matanya hanya mendapati suasana lampu kamar kecil, dan menyebabkan suasana kamar tersebut menjadi remang.
Ia mendekati Yoongi yang tertidur dengan pulas di atas ranjang. Jungkook memperhatikan wajah sepupunya itu dengan sendu. "Hyung, tidurlah dengan nyenyak. Aku harap setiap malamnya kau selalu bermimpi indah." Bisiknya pelan. Dengan lembut, Jungkook mengusap rambut Yoongi dan mengecup kening lelaki itu.
Jungkook segera keluar dari kamar Yoongi, dan mendapati jika kedua orangtuanya sudah duduk di ruang tamu. Ia mendudukkan dirinya di sofa yang berada di dekat orangtuanya. "Appa dan Eomma akan berangkat malam ini juga?"
Nyonya Jeon mengangguk kecil. "Iya, Sayang. Maafkan kami. Lain kali kami akan sempatkan untuk benar-benar menginap disini."
Jungkook mengangguk mengerti. Ia menatap ayahnya. "Appa," panggil Jungkook pelan. "Aku mohon, jangan pernah membahas soal hal itu pada Yoongi Hyung. Jika ia sudah siap, kami berdua pasti akan segera pergi."
Tuan Jeon menghela napasnya pendek. "Appa tahu, Jungkook. Hanya saja, ia terlalu larut dalam kesedihannya."
"Appa—"
"Ia tidak boleh seperti itu, Jungkook."
Nyonya Jeon berdeham kecil. "Sayang," Wanita paruh baya itu meremas pundak suaminya. "Jangan berkata seperti itu. Lagipula, Jungkook sama sekali tidak keberatan untuk menemani Yoongi disini." Jungkook mengangguk, menyetujui perkataan ibunya.
"Aku tidak pernah bermasalah dengan itu,"
"Lalu?"
"Kau tidak memikirkan keadaan Yoonjae Hyung?" Nyonya Jeon terdiam saat suaminya menyebutkan nama kakak kandungnya. Ayah Yoongi. "Mereka seharusnya satu keluarga yang utuh. Hanya karena Yoongi, keluarga mereka jadi terpencar. Sudah berapa tahun Yoongi berada disini, dan belum juga kembali? Ia anak yang cerdas. Sudah seharusnya ia memimpin perusahaan milik keluarganya."
"Aku akan berbicara dengan Yoongi Hyung," sela Jungkook. "Akan aku hubungi kalian saat Yoongi Hyung menetapkan waktunya."
"Jungkook—"
"Eomma, aku mengenal siapa Yoongi Hyung. Ia seseorang yang tidak akan mengingkari janjinya."
.
.
"Selamat pagi, Hyung."
Yoongi yang masih mengantuk, menidurkan kembali kepalanya ke atas meja makan. Jungkook yang melihatnya terkekeh kecil. "Selamat pagi, Jungkook-ah." Balas Yoongi dengan khas suara orang bangun tidur. "Dimana paman dan bibi?"
Jungkook meletakkan dua mangkuk sup, nasi, air mineral, serta susu. Ia mendudukkan dirinya di depan Yoongi. "Tadi pagi-pagi sekali, mereka harus kembali ke Busan. Ada masalah penting di perusahaan."
"Hah?!" Yoongi mengangkat kepalanya. "Kenapa kau tidak membangunkanku?!" Jungkook tertawa melihat lelaki yang lebih tua itu merengut kesal. "Lagipula, kemarin kau terlihat sangat pucat, Hyung."
"Heung," Yoongi mengambil sendoknya. "Aku akan menghubungi mereka nanti." Jungkook mengangguk-angguk kecil. "Tidak ada kelas hari ini?"
"Jam satu siang, Hyung." Jawab Jungkook setelah mengunyah makanannya. Ia sebenarnya sedang berpikir. Apa ia perlu menanyakan hal itu atau tidak. Tetapi, ia lebih memilih menahannya, mengingat jika Yoongi bisa kapan saja menghentikan acara makannya jika mendengar pertanyaan atau perkataan yang menjadi pikirannya selama ini.
Setelah menghabiskan sarapan pagi, Jungkook segera mencuci piring-piring kotor dan menyuruh Yoongi segera mandi dengan air hangat. Jungkook sedang berpikir. Bagaimana caranya menyampaikan sebuah pertanyaan yang bisa kapan saja menyinggung perasaan sepupunya itu.
Jungkook segera tersadar dari lamunannya saat langkah kaki Yoongi yang menuruni tangga, mendekat ke arahnya. Lelaki itu membawa laptop miliknya dan membukanya setelah mendudukkan diri di sebelah Jungkook.
"Ada pekerjaan yang belum selesai, Hyung?"
Yoongi mengangguk. Ya. Yoongi ikut membantu perusahaan milik ayahnya yang berada di luar negeri secara online. Yoongi anak yang cerdas. Ia bahkan sudah lulus S2 saat masih menginjak umur yang begitu muda.
"Sepertinya ada yang kau pikirkan, Jeon Jungkook." Ucap Yoongi lebih dulu. Mata dan jemarinya tetap fokus pada pekerjaan miliknya. "Katakan saja."
Lelaki yang lebih muda berdengung. "Aku tidak tahu harus bertanya atau tidak."
Yoongi mendongak. Menatap Jungkook sebentar, lalu terkekeh. "Ada hal apa sebenarnya?"
"Hyung,"
"Hmm?"
"Samchon menghubungiku tadi pagi. Samchon bertanya—"
"Jungkook, aku belum siap."
"Samchon bertanya. Berapa lama lagi kau membutuhkan waktu untuk pindah dari sini."
.
Jimin menyibakkan selimutnya dengan kasar. Ia bermimpi buruk. Sangat buruk. Ia bahkan bermandikan keringat. Jimin mencoba untuk mengatur napasnya agar lebih teratur kembali. Matanya menatap kosong ke arah depan kamarnya.
Ia masih begitu ingat bagaimana suara-suara di dalam mimpinya begitu terdengar nyata. Seorang anak lelaki yang memegangi setangkai bunga matahari, memanggil-manggil namanya secara terus-menerus. Yang Jimin tidak mengerti adalah…
"Mengapa ia meminta tolong aku untuk mengingatnya…" tanya Jimin pada dirinya sendiri.
Jimin masih bisa merasakan suara tersebut. Bagaimana lelaki kecil berkulit pucat yang memegangi bunga matahari tersebut, menyebutkan namanya dengan begitu bahagia pada awalnya. Lalu berteriak dengan begitu perih 'Park Jimin, tolong ingat aku…tolong ingat aku…'
.
.
TBC
.
.
BUAHAHAHA. MAKIN GAK ELIT YA? INI SUDAH BERUSAHA FAST UPDATE NIH ;_; AYO, KALIAN~ CEPAT TEBAK BAGAIMANA ALUR CERITANYA! CEPAT~ KKK~
SEMAKIN BANYAK YANG REVIEW, SEMAKIN SEMANGAT NULIS NIH/)9.
Maafkanlah diriku sebagai author paling kece jika membuat jalur fic ini semakin ngawur dan diluar kendali. Serta feelnya sudah tidak ada dan tidak ada banget/?/ Okelah, jangan lupa abis dibaca direview/difav/difollow. Anggep aja kalian abis boker terus nyebok .-.
© cute voodoo
p.s : ayo, ayo~ yang mau kenalan sama aku. Jangan invite doang ih. Kenalan dong di bbm. Kkk~
