"Mengapa melupakan seseorang begitu sulit?"
"Aku tidak tahu."
"Apa mungkin karena kita terlalu memikirkannya?"
"Kemungkinan besar seperti itu."
.
Jimin x Yoongi | boy x boy | chapter | other members appear!
.
a/n : Kalo kalian sadar, sebenarnya percakapan yang ada di atas itu, semuanya saling berkaitan satu sama lain di setiap chapternya lho~ kkk~. Dan maafkan baby chris yang unyu ini kalo misalnya jalan ceritanya makin enggak banget:")
.
.
Your Name
Story by
chriseume
.
Do not Plagiarize
.
Enjoy!
.
.
"Hei, ada apa kenapa menangis?"
Seorang bocah lelaki dengan rambut hitam legamnya itu, menghampiri seorang bocah lelaki lainnya, yang terduduk sendirian di bawah pohon dan menangis tersedu-sedu.
"Hai, aku Park Jimin. Kenapa kau menangis? Apa ada yang menganggumu?"
Bocah bernama Park Jimin itu menerima gelengan kepala dari bocah lainnya itu. Bocah yang berkulit lebih putih dan mendekati pucat dari Jimin itu, tetap tidak mau mengangkat kepalanya untuk sekedar menatap Jimin yang sudah berjongkok di depannya.
"Lalu kenapa menangis? Eomma bilang, kalau kita sering menangis, kita tidak boleh makan permen lagi, loh."
"Benarkah?" Pada akhirnya, bocah itu, mengeluarkan suaranya. Suara yang begitu pelan dan terdengar begitu lirih. Perlahan, ia mengangkat wajahnya. Menunjukkan wajahnya yang sehabis menangis. Menatap Jimin, bocah lelaki yang baru saja dikenalnya itu dengan mata sayunya dan jejak-jejak air mata di pipi gembilnya.
Jimin mengangguk antusias. "Tunggu sebentar!" seru Jimin heboh. Ia berdiri, lalu mengeluarkan sesuatu dari kantung celana yang ia pakai. Sapu tangan bergambar superman. "Eomma selalu membawakan ini untukku. Sekarang, aku memberikan ini untukmu. Jangan menangis lagi."
Jimin mengulurkan tangannya ke hadapan anak lelaki yang sedari tadi belum mau mengenalkan namanya itu. "Terima kasih."
"Sama-sama!" seru Jimin lagi dengan riang. "Lalu, siapa namamu? Kata Eomma, kita harus saling berkenalan agar bisa saling mengenal satu sama lain!"
Setelah mengusap-usap kedua belah matanya dengan saputangan milik Jimin, anak lelaki itu menatapnya. "Namaku Min Yoongi."
Jimin bertepuk tangan kecil, lalu mengulurkan tangannya. "Mulai saat ini, ayo kita berteman!"
.
.
.
.
"Satu bulan lagi." Jawab Min Yoongi.
"Satu bulan? Kau yakin, Hyung?" tanya Jungkook dengan sedikit khawatir. Yoongi mengangguk. "Apa satu bulan tidak terlalu cepat?"
Yoongi menggelengkan kepalanya dengan senyum tipis dan manis di wajahnya, walaupun terlihat ia sedang menyembunyikan suatu luka dari dirinya. "Sudah seharusnya aku melupakannya."
"Hyung—"
"Kau benar. Hal bertahun-tahun yang selama ini aku lakukan untuk bertemu dengannya, adalah hal yang percuma. Ia tidak akan pernah menyadari diriku."
"Yoongi Hyung, jangan—"
"Ini menyedihkan. Namun sekaligus menyenangkan."
"Hyung!"
"Aku akan menghubungi Appa. Mulai sekarang, kita harus bersiap-siap."
.
.
Taehyung dan Hoseok hanya duduk berdampingan tanpa ada satupun dari mereka yang mencoba untuk membuka percakapan.
"Aku tidak mengerti…"
Ucapan Hoseok membuat Taehyung menoleh ke arahnya, dan menatapnya dengan begitu lekat. Jantung Taehyung berdegup halus. Selalu seperti ini.
"Soal apa?"
"Hubungan kita berdua."
Taehyung terdiam mendengar jawaban Hoseok. Ya. Benar. Taehyung sendiri juga tidak mengerti dengan hubungan apa yang sebenarnya terjadi di antara mereka.
Hoseok tertawa hambar dan mengusak rambutnya dengan kasar. "Aku lupa! Bukankah kita hanya bersahabat? Ya! Hanya bersahabat!" Hoseok kembali tertawa dan bertepuk tangan sendiri.
Mencoba menutup lukanya akibat perkataannya sendiri.
"Jangan seperti ini…aku mohon…" Taehyung mulai terisak. "Hentikan, Hoseok. Aku mohon…"
Hoseok yang mendengar suara isak tangis Taehyung, hanya terdiam. Ia menghela napas pelan, dan menarik kepala Taehyung agar bersandar di pundaknya. Tangannya mengusap rambut Taehyung dengan lembut. "Maafkan aku."
"Hoseok, aku…" Taehyung mengumpulkan keberaniannya. Ia menahan napasnya sebentar. "Aku mencintaimu…"
.
.
Yoongi bersandar di kerangka jendela kamarnya yang besar. Menatap ke luar kamarnya. Pemandangan langit sore yang begitu indah, membuatnya tersenyum. Pandangannya beralih pada sebuah kain persegi berukuran kecil berwarna putih dengan gambar salah satu superhero yang terkenal di kalangan anak-anak.
Tiba-tiba saja, ia ingin sekali ke taman kota dimana ia selalu menunggu seseorang yang begitu ia rindukan. Ia sudah cukup lama tidak ke taman itu lagi. Yoongi menghela napas kecil.
"Apa memang harus sesulit ini untuk bersama denganmu?"
.
.
Jimin kembali mendial nomor ponsel ibunya. Berharap agar ibunya, menjawab panggilannya. Ia kembali bergerak gelisah di atas sofa yang sedang ia duduki.
"Oh, astaga! Ayo angkat teleponku!"
Jimin hampir saja melempar remote televisi yang ada di tangannya, jika saja ibunya yang ada di belahan dunia lain, segera mengangkat teleponnya.
"Halo? Jimin? Ada apa, Sayang?"
"Eomma!"
"Ya? Ada apa?"
"Aku ingin bertanya satu hal saja. Err…mungkin beberapa hal?"
"Silahkan."
Jimin menggigit bibir bawahnya. Entah kenapa ia tiba-tiba gugup.
"Eomma, sebenarnya alasan kita pindah ke Amerika itu apa?"
Hening.
"Eomma?"
"Ah, iya, Sayang?"
"Eomma tidak mendengarkanku?"
"Tentu saja mendengar, Sayang. Ya tentu saja, alasannya adalah karena saat itu perusahaan keluarga kita yang berada di Amerika mengalami kejatuhan saham besar-besaran. Jadi, Appa dan Eomma memutuskan untuk pindah ke Amerika. Lagipula, kami juga menginginkan kau mengenyam pendidikan yang bermutu di Amerika, Sayang."
"Benarkah seperti itu?"
"Ya. Tentu saja."
"Untuk kali ini aku percaya."
"Kau memang harus percaya, Jimin."
"Entahlah. Dan siapa itu Jina?"
Hening.
"Eomma?"
Tetap tidak ada jawaban dari seberang sana.
"Halo? Eomma?"
"Huh?" Jimin menatap ponselnya saat panggilan terputus secara sepihak. "Ada apa sebenarnya?"
.
Yoongi kembali duduk sendirian disini. Di ayunan taman kota, yang sudah beberapa waktu ia tinggalkan. Ia tersenyum kecil walaupun matanya memancarkan kesedihan dan luka yang begitu dalam.
"Park Jimin…" gumamnya pelan. "Park Jimin…" gumamnya lagi. "Park…Jimin…" gumamnya diikuti dengan isak tangis yang tertahan. "Park Jimin…"
Yoongi menundukkan kepalanya, dan mengusap kasar kedua matanya dengan lengan panjang dari baju yang ia kenakan. Ia menangis. Lagi. Entah yang sudah keberapa kalinya hanya karena seseorang dari masa kecilnya. Cinta pertamanya. Yang bahkan, ia sendiri tidak tahu jika cinta pertamanya itu mengingatnya atau tidak.
"Park Jimin, kau dimana?" tanyanya pada dirinya sendiri di sela isak tangis. "Aku merindukanmu, Park Jimin…"
Yoongi juga sadar, jika ia pasti melupakan beberapa hal dalam hidupnya.
Atau.
Orang-orang yang mengetahuinya berusaha menyembunyikannya.
.
Jimin memasukkan nasi ke dalam mulutnya dengan begitu malas. Jika saja perutnya tidak berbunyi untuk meminta makan, mungkin saat ini ia tidak akan makan malam. Pikirannya terus berpikir mengenai begitu banyak hal.
"Sebenarnya siapa itu Jina? Apa yang disembunyikan dari ku sebenarnya?"
Lelaki itu meminum kuah supnya, sampai ia tersadar sesuatu dan segera menghabiskan makan malamnya dengan cepat. Setelah menghabiskannya dalam hitungan menit, ia segera mencuci piring kotor dan berlari ke lantai atas. Ke kamar kedua orangtuanya.
Klek. Klek. Klek.
"Sial! Kenapa dikunci?!" Jimin terus berusaha memutar kenop bulat pintu kamar tersebut dan bahkan menendangnya. "Sial! Brengsek!"
Ia memundurkan tubuhnya, dan bersandar pada dinding yang ada disana. Menatap dengan serius pintu kamar kayu bercat hitam itu dengan pandangan ingin tahu. Sampai matanya mendapati sesuatu yang ada di atas ventilasi kamar kedua orangtuanya.
Dengan cepat, ia mengambil kursi belajar miliknya, menempatkan pada depan pintu kamar orangtuanya dan mengambil sesuatu yang berkilau kecil.
Kunci cadangan.
Jimin menyeringai.
"Oh, Eomma, aku sudah besar dan tidak sebodoh itu." ucap Jimin bangga. Segera, ia memasukkan kunci itu dan memutarnya. "Oh yeah, berhasil." Jimin dengan bangga, memasuki kamar kedua orangtuanya dan menatap kamar yang begitu luas itu. "Hmm. Dimana kira-kira Eomma menyembunyikan semua album-album foto masa kecilku."
.
"Shit!" Jimin berteriak frustasi.
Usahanya gagal. Semua lemari yang ada terkunci begitu rapi dan tidak dapat dibuka.
"Oh astaga, sebenarnya ada apa semua ini?!"
.
.
TBC
.
.
Hai, semuanya, makasih loh yang masih setia nungguin ini fic yang tidak bermutu dan makin gak jelas ini. Oh, kemarin saya liat salah satu review yang bilang fic ini bagus dan menarik (sebelumnya, saya makasih banget :**) tapi sayangnya, pereview itu bilang kalo lebih bagus GS. Buat kamu, yang ngerasa 'pereview' yang saya maksud. Maaf ya, sayang. Saya gak pernah ada minat sama sekali buat ngebuat semua fic saya GS. Karena menurut saya, itu sama aja baca fic normal/straight. Kalo kamu mau baca fic saya yang straight, itu udah beda urusan akun lagi ya^^
Satu lagi, sebelumnya, saya sebenarnya gak tau kenapa akhir-akhir ini pengen hapus akun saya sebagai author dan hidup hanya sebagai reader aktif saja. Mungkin salah satu alasannya, karena saya masih stress mikirin kegagalan saya buat ujian seleksi tahap kedua buat beasiswa di Korea. Dan masih banyak alasan lagi sebenarnya. Tapi disatu sisi, saya juga gak mau ngebiarin fic saya yang belum selesai, terbengkalai begitu aja dan saya discontinue terutama kalo respon kalian bagus semua terhadap fic saya. Maaf, mungkin saya terlalu berlebihan tapi jujur aja, akhir-akhir ini saya kepikiran banget pengen rehat dari dunia ffn tapi ide malah muncul terus -_-.
Yaudah, daripada banyak saya kebanyakan bacot. TOLONG APRESIASINYA DENGAN CARA REVIEW YA. KALIAN PASTI MASIH BISA LIAT KAN KOTAK REVIEW DI BAWAH^^. Thank you:^). See you :D
P.S : Ayo berteman sama aku di bbm dan jadi partner in crime aku. Kkk~
P.S.S : Aku gak gigit kok. Percayalah.
