"Aku mencintainya."
"Salah."
"Lalu?"
"Kau terlalu mencintainya."
.
Jimin x Yoongi | boy x boy | chapter | other members appear!
.
a/n : Kalo kalian sadar, sebenarnya percakapan yang ada di atas itu, semuanya saling berkaitan satu sama lain di setiap chapternya lho~ kkk~. Dan maafkan baby chris yang unyu ini kalo misalnya jalan ceritanya makin enggak banget:")
.
.
Your Name
Story by
chriseume
.
Do not Plagiarize
.
Enjoy!
.
.
Waktu satu bulan mungkin bukanlah waktu yang lama jika dipikirkan oleh Yoongi. Sekarang, ia menyesal, mengapa ia bisa begitu dengan bodohnya berkata jika selama satu bulan ke depan usahanya dan pangeran masa kecilnya tidak juga mengingatnya.
Ia memutuskan sebuah pilihan yang menurutnya benar.
Ia akan menyerah…
.
.
Waktunya masih tersisa tiga minggu lagi untuk mengingatkan pangerannya jika ia, Min Yoongi, merindukannya selama bertahun-tahun dan berharap jika pangerannya yang sudah beranjak dewasa itu akan mengingatnya dan menariknya dalam rengkuhan hangatnya seperti dulu saat mereka masih anak-anak dan belum terpisahkan oleh jurang lebar tak kasat mata.
Yoongi menatap sendu awan cerah yang begitu berlawanan dengan suasana hatinya. Ia kini mengalihkan pandangannya pada buket bunga yang berisi tiga belas tangkai bunga matahari. Jam sudah menunjukkan waktu lima sore. Ia menghela napasnya pelan.
"Kenapa ini begitu menyedihkan?"
Ia berdiri dari posisi duduknya yang sebelumnya duduk di bawah pohon besar, dimana ia biasa berada di taman tersebut. "Semoga kau mengerti." Yoongi meletakkan buket bunga matahari itu di atas meja piknik yang ada di sana dan meninggalkannya begitu saja. Berharap jika yang menemukannya adalah pangerannya… seseorang yang begitu membuatnya frustasi selama bertahun-tahun.
.
.
"Jadi, kapan Hana Nuna datang?" Jimin menutup pintu mobil miliknya dan menatap Hoseok serius.
Hoseok melirik jam tangannya. "Jam delapan malam nanti mungkin ia sudah berada di rumah."
"Bagus jika begitu." Jimin mengangguk-angguk kecil.
Keduanya kembali sibuk dengan pikirannya masing-masing. Tidak begitu mengerti apa yang mereka pikirkan di pikiran mereka masing-masing, mereka hanya ingin memendamnya tanpa ingin menceritakannya.
"Park."
Pada akhirnya Hoseok bersuara.
"Hmm?"
Keduanya sepertinya akan membatalkan latihan skateboard mereka hari ini. "Ada yang ingin ku tanyakan."
"Perihal?"
"Taehyung."
"Ada apa dengannya?"
Hoseok menghela napas panjang. "Aku tidak ingin merusak hubungannya dengan Seokjin Hyung." Ia mengusap wajahnya pelan. "Kau tahu bukan jika sebentar lagi mereka akan segera bertunangan." Jimin mengangguk. "Aku tidak mengerti harus bagaimana." Ia mendesah frustasi dan menyembunyikan wajahnya di sela lipatan lengannya yang ditumpukan di atas lutut.
"Menurutku, hal pertama yang harus kau lakukan adalah untuk mengakui perasaanmu dengan jelas pada Taehyung."
Hoseok mengangkat wajahnya. "Apa kau gila?! Itu akan semakin mempersulit hubungan kami!"
Jimin hanya tersenyum tipis. Ia memang tidak pernah tahu bagaimana rumitnya kedua sahabatnya itu. Tapi Jimin tahu, jika Hoseok begitu mencintai Taehyung semenjak mereka resmi menjadi sahabat yang tidak terpisahkan.
"Jika kau merelakan Taehyung dengan Seokjin Hyung. Kau harus bisa melakukannya."
"Lalu?" tanya Hoseok frustasi.
"Kau harus menjelaskannya jika itu semua akan baik-baik saja seiring berjalannya waktu, jika Taehyung akan bertunangan dan menikah dengan Seokjin Hyung. Bagaimana? Apa kau sanggup melakukannya sendiri? Setuju dengan usulanku?"
"Lebih baik aku bunuh diri saja, Park."
Jimin tertawa kecil, lalu merengkuh pundak Hoseok. "Jangan menyerah begitu, bung. Aku akan mendukungmu."
"Entahlah, akan aku pikirkan lagi."
Jimin menepuk-nepuk pundak Hoseok, berusaha menyemangatinya sampai matanya bertabrakan dengan sesuatu yang ada di atas meja piknik kayu panjang yang ada di dekat mereka. "Tunggu sebentar." Ia segera berlari dari duduknya, dan membulatkan kedua bola matanya sebelum ada debaran yang begitu keras di jantungnya.
"Bunga matahari…" desisnya. Jimin mengambil buket bunga itu dan menemukan secarik surat kecil yang terselip di antara bunga-bunga tersebut.
'I love you, Park Jimin.'
.
Pukul sembilan malam, dan kini Jimin akan segera 'menyerang' kakak perempuan Hoseok dengan berbagai pertanyaan setelah berhari-hari ia menunggu Hana untuk segera pulang ke Korea.
"Jadi, Park. Apa yang ingin kau tanyakan dengan begitu bersemangat, huh?" Hana terkekeh kecil. Ia sudah duduk berhadapan dengan Jimin di meja makan.
Jimin melirik Hoseok yang juga ikut duduk disana. Hoseok yang mengerti lirikan dari Jimin, menggerutu.
"Sahabat seperti apa kau?!"
Jimin terkekeh. "Sorry, man. Jika aku sudah menyelesaikan semuanya, aku akan memberitahukan semuanya padamu. Aku berjanji." Jimin menunjukkan tanda 'peace' sebagai janjinya.
"Baiklah, baiklah. Kau berhutang janji akan itu, Park."
"Siap bos!"
Setelah Hoseok beranjak naik ke kamarnya, Jimin segera menatap Hana dengan serius. "Nuna, sebenarnya siapa Min yang ada di novel 'Sweet Promises' itu?"
"Uhuk!" Hana yang sedang memakan keripik, segera saja tersedak dan menepuk-nepuk dadanya setelah Jimin memberikannya air mineral dan ia meminumnya. Setelah napasnya stabil, ia menatap Jimin. "To the point sekali!" gerutunya.
"Jangan menyembunyikan sesuatu apapun lagi dariku, Nuna."
Hana menatap kedua bola mata itu. Ada tanda kepedihan dan luka yang begitu dalam, serta kebingungan yang begitu menusuk. Jimin seperti kehilangan arah akan sesuatu pada dirinya.
Wanita itu menghembuskan napasnya pelan-pelan. "Aku hanya bisa memberitahukan sedikit hal saja tentangnya."
"Tidak apa. Ku pastikan itu akan berguna."
"Ia teman masa sekolahku dulu. Ia lelaki berkulit putih pucat dengan mata sayu. Aku memanggilnya Yoongi. Min Yoongi."
"MIN YOONGI?!" Tanya Jimin terkejut. Ia meneguk salivanya dengan kasar. Bayang-bayang lelaki yang ada di taman itu segera menghantuinya. "Ugh," Kepalanya kembali pusing saat beberapa peristiwa lama yang mulai ia lupakan kembali teringat seperti flashback kilat yang begitu samar di ingatannya.
"Jim? Are you alright?" Tanya Hana khawatir.
"Ye—Yeah." Jimin memukuli kepalanya sendiri, dan rasa pusingnya sedikit demi sedikit menghilang. Ia tersenyum kaku pada Hana. "Biasanya reaksinya lebih parah dari ini."
"Jim…"
"Tolong lanjutkan segala sesuatu yang kau tahu, Nuna."
"Saat itu aku tidak sengaja bertemu dengannya saat di kafe. Ia duduk sendirian di kafe itu dengan secangkir teh hijau dan potongan cheese cake di atas mejanya. Ia tidak terlalu banyak bicara. Namun, saat ia mengetahui aku seorang penulis novel sekaligus editor, ia segera memohon padaku untuk membantunya menulis novel yang pernah kau baca itu, Jim."
Jimin tercekat. "A—Apa kau tahu siapa lelaki yang ia rindukan di novel itu?"
Hana menggelengkan kepalanya. "Maaf, aku tidak tahu perihal itu, Jim."
Jimin menjambak rambutnya frustasi.
Dan Hana…
Wanita itu menyilangkan kedua jari telunjuk dan tengahnya di balik punggungnya…
.
.
T B C!
.
.
Yeay! Siapa yang nunggu fic abal-abal ini? makasih banyak yang udah review sebelumnya. Maaf aku gak bisa bales satu persatu :""") tapi aku sayang banget sama kalian! Muah! Maaf ya kalo kesannya di chapter ini buru-buru banget dan terlalu pendek :" dan makin mendayu-dayu sok sedih galau gimana gitu padahal bikin mual :")
Yuk, temenan sama aku di bbm (289db505) ngobrol juga yuk disana, jangan di invite doang tapi gak pernah di ajak chat akunya :"D
AND YEAH! LIKE ALWAYS. AKU BUTUH KRITIK DAN SARAN KALIAN, JANGAN LUPA PAKE SEMANGAT YA:") ATAU GAK AKU GALAU LAGI KAYA WAKTU ITU/?
LOVE YOU AND SEE YOU!
