"Aku lelah."

"Kau bisa mengakhirinya."

"Namun aku belum ingin menyerah."

"Perjuangkanlah…"

.

Jimin x Yoongi | boy x boy | chapter | other members appear!

.

a/n : Kalo kalian sadar, sebenarnya percakapan yang ada di atas itu, semuanya saling berkaitan satu sama lain di setiap chapternya lho~ kkk~. Dan maafkan baby chris yang unyu ini kalo misalnya jalan ceritanya makin enggak banget:")

.

.

Your Name

Story by

chriseume

.

Do not Plagiarize

.

Enjoy!

.

.

"Halo?"

"Yoongi…"

"Ya?"

"Bisa kita bertemu hari ini?"

"Bisa. Kau ingin kita bertemu dimana?"

"Di rumahmu saja. Bagaimana?"

"Baiklah. Aku tunggu jam dua siang nanti."

.

.

Jimin memandangi bukunya dengan pandangan kosong. Jika sekilas, ia terlihat seperti orang sedang membaca. Namun pada kenyataannya, ia tidak sedang membaca. Semua kalimat-kalimat yang tercetak di atas buku tersebut seperti tidak terlihat di pandangannya.

"Hei."

"Oh," Jimin sedikit terkejut mendapati seseorang yang menyapanya itu. "Seokjin Hyung?"

"Kenapa kau sendirian? Dimana Taehyung dan Hoseok? Taehyung tidak menjawab telponku sejak pagi tadi." Tanyanya setelah mendudukin bangku kosong yang berhadapan dengan Jimin.

"Mereka berdua…" Jimin berhenti selama beberapa detik. "Sedang menyelesaikan urusan mereka."

Seokjin yang mendengarnya sedikit terkejut. "Mereka bertengkar?! Dimana mereka sekarang?!" Lelaki itu mendorong kasar kursi yang ia duduki, dan menatap Jimin tidak sabaran.

Jimin yang juga terkejut atas reaksi yang Seokjin berikan, ikut berdiri dan mencoba menenangkan calon tunangan sahabatnya tersebut. "Hyung—" Jimin melihat ke seluruh area kantin yang memperhatikan mereka. Jimin tersenyum kikuk meminta maaf. "Duduk, Hyung. Bukan. Mereka tidak bertengkar."

"Lalu?"

"Lebih baik duduk dulu, hyung."

"Oke." Seokjin menarik napasnya dalam-dalam, dan kembali duduk di kursinya. "Jelaskan padaku."

Jimin tersenyum, "Seperti ini lebih baik, Hyung. Jadi, mereka berdua sudah pergi lebih dulu. Profesor Lee menyuruh mereka membeli sesuatu untuk memperbaiki kesalahan mereka."

"Aish! Taehyung semakin nakal saja." Ia mengusak rambutnya. "Aku sudah sering memberitahunya jika mengerjakan tugas atau apapun itu jangan sampai membuat kesalahan."

Jimin hanya tertawa. "Hal seperti itu biasa terjadi di kelas kami, Hyung."

"Baiklah, kalau begitu aku pergi lebih dulu. Annyeong."

"Annyeong."

Jimin menghembuskan napasnya lega saat Seokjin sudah keluar dari area kantin. Ia baru saja menyelamatkan dua sahabatnya. Ya… Jimin berbohong demi dua sahabatnya.

"Kalian berdua berhutang banyak padaku."

.

Mereka sengaja mematikan lampunya, dan menutup semua tirai untuk menghalangi semua cahaya yang bisa masuk ke kamar motel kecil yang mereka sewa di pinggiran Seoul.

Mereka dengan sengaja membuat ruangan itu menjadi remang dan samar. Mereka juga tidak mengerti, mengapa mereka melakukan semua ini.

"Mmh!"

"Hoseok—akh!"

.

Jungkook memandangi wajah Yoongi yang sedang tertidur pulas. Sudah dua jam Yoongi tertidur dengan pulas. Wajah pucatnya begitu terlihat menyedihkan di mata Jungkook. Tangannya mengambil kain yang ada di atas kening Yoongi dan kembali menggantinya dengan yang baru.

"Hyung…" Dengan lembut Jungkook mengusap pipi Yoongi yang semakin tirus. "Kenapa kau harus seperti ini, Hyung?"

Jemarinya mengusapi setiap jengkal wajah Yoongi dengan begitu lembut.

"Hyung, kenapa kau harus terus mengharapkannya?"

Dan malam itu. Entah untuk yang keberapa kalinya.

Jungkook menangis untuk Yoongi

.

Hana menatap ke luar jendela kamarnya. Ia menatap langit malam yang ditaburi begitu banyak bintang. Menurutnya, langit malam ini begitu cerah.

"Sepertinya aku harus menikmati malam ini." Matanya melirik laptop yang menyala di hadapannnya. "Tidak akan lama, oke. Setelah menikmati malam yang cerah ini, aku akan segera melanjutkanmu."

Jemarinya segera mengarahkan kursos untuk membuat laptopnya dalam mode 'sleep'. Ia mengambil cangkir berisi kopi miliknya yang memang sudah ia siapkan sejak lima belas menit yang lalu.

Tangannya melingkari cangkir yang hangat itu. Ia duduk bersandar pada rangka jendelanya yang lebar, setelah membuka kedua kacanya. "Langit malam, katakan pada temanku yang bodoh itu. Untuk apa begitu takut menyatakan perasaannya pada seorang lelaki yang sudah begitu ia pastikan jika itu adalah pangerannya?"

Hana menghela napas pendek. "Dan sampaikan juga padanya. Mengapa aku harus terlibat dalam cerita mereka yang begitu rumit? Kenapa harus aku? Seseorang yang sebenarnya sudah tidak tahan melihat keadaan mereka? Apa mereka tidak sadar jika sebenarnya mereka menyakiti diri mereka sendiri?"

.

.

TBC

.

.

Buahaha. Haiii~ maap ya! Pasti kalian udah nunggu lama banget buat ini ff ehehe. Kayanya udah ada sebulan lebih ya? Hwhwhw~ maafkan daku yang membuat kalian lama nunggu fic yang jeleknya gak ketulungan begini btw… aku update segini dulu ya! Nanti dilanjut lagi secepatnya dan sebanyak-banyaknya! Kiwkiw~ oh ya, jangan lupa isi kotak review ya~ dan… ANGKAT TANGAN KALIAN YANG KANGEN SAMA DIRIKU~~ HWHWHW~ /G. LOVE YOU DIUDARA BUAT KALIAN YANG MASIH SETIA BACA INI FIC YA :"))

P.S : Reinvite pin aku dong! Yuk jadi partner in crime aku kkk~ bisa diliat di bio ffn aku ya^^

P.S.S. : Oh ya, dari antara kalian ada yang pake iphone gak terus kartunya tri? Kalo ada, pliseuuu kasitau aku gimana caranya akses ffn (tanpa rethering ataupun pake wi-fi) ya T-T udah segala cara aku coba nih… tapi gak berhasil… :-(

P.S.S.S. : Oh, satu lagi! Abis diinvite ayo chat aku yukyukyuk~~