"Aku memutuskan untuk menyerah."
"Apa kau yakin?"
"Sangat yakin."
"Dan kau membohongi dirimu sendiri."
.
Jimin x Yoongi | boy x boy | chapter | other members appear!
.
.
Your Name
Story by
chriseume
.
Do not Plagiarize
.
Enjoy!
.
.
Jimin menghempaskan tubuhnya dengan kasar ke atas ranjang miliknya. Pikirannya terlalu penuh dengan hal-hal di sekitar kehidupannya. Kedua orangtuanya baru saja kembali dari Amerika. Ia baru saja akan 'menyerang' ibunya, namun ibunya ternyata mengalami demam tinggi karena kelelahan.
Matanya menatap langit-langit kamarnya. Mengawang. Memikirkan sesuatu yang menganggu pikirannya. Termasuk, bagaimana caranya mengetahui semua kebenaran-kebenaran yang ada dan terkesan semuanya menyembunyikan dari dirinya.
Jimin tidak tahu mengapa dirinya berpikir sedemikian rupa. Namun ia merasa, jika semua orang yang mengetahui hal yang sebenarnya seakan-akan menutupi dan tidak membiarkan ia mengetahui apa yang sebenarnya terjadi.
Lamunannya buyar ketika ponselnya berdering nyaring tanda panggilan masuk dari Hoseok.
"Halo?"
"Jim—"
"Soal Jin Hyung?"
"Hmm,"
"Aku sudah mengurusnya. Namun kurasa Taehyung ada dalam daftar pencarian paling atas,"
Keduanya terdiam.
"Kalian berdua sudah menyelesaikannya?"
Terdengar suara hembusan napas kasar dari Hoseok.
"Aku akan menghubungimu lagi, Jim."
Pip.
Jimin menatap layar ponselnya yang diputuskan sepihak oleh Hoseok. "Ada apa dengannya?" Gumamnya. Baru saja ia akan melempar kembali ponselnya. Ia mengingat sesuatu.
"Mungkin namanya ada di SNS?"
Jimin segera membuka halaman SNS miliknya dan mengetikkan nama seseorang di kolom pencarian.
'Min Yoongi'
"Shit!"
500 accounts for your result.
"Ah! Benar juga. Kurangi pencariannya dengan mempersempit wilayah pencarian."
'Min Yoongi'
Location : Seoul
200 accounts for your result.
"Sial, masih saja harus dipersempit lokasinya." Jimin menatap dengan serius layar ponselnya tanpa melakukan apapun. Ia hanya tidak tahu harus melakukan apa selanjutnya. "Ah! Aku tahu!"
'Min Yoongi'
Location : Gangnam-gu – Yeoksam-dong.
Jimin membulatkan matanya pada hasil pencariannya. Ia sendiri tidak mengerti mengapa ia menuliskan distrik dan nama lingkungan tempat ia tinggal.
25 accounts for your result.
Matanya kembali membulat, saat ia melihat pada daftar pencarian nama untuk 'Min Yoongi' di bagian paling akhir. Foto seorang anak lelaki berkulit pucat yang sedang tertawa lebar dan tangannya memegang satu tangkai bunga matahari berukuran sedang.
Jemarinya menekan akun itu untuk melihat profile keseluruhannya.
Min Yoongi.
March 09, 1993.
Seoul National University.
"Hanya itu?" Jimin kemudian memilih tab 'photos'
100 photos.
Cheese cake.
Teh hijau.
Bunga matahari.
Saputangan bergambar super hero.
Mobil mainan.
Lembaran kertas penuh dengan tulisan tangan yang tak terbaca.
Foto-foto anak kecil.
Jimin kembali merasakan pening yang menghantam kepalanya. "Kenapa sebagian besar hanya ada foto-foto anak kecil?" Jemarinya menekan salah satu foto yang ada disana untuk diperbesar.
Entah pada foto yang keberapa, Jimin seakan menyadari jika ia mengingat sesuatu. "Tunggu dulu… bukankah…"
Jimin kembali teringat pada mimpinya tempo lalu yang memanggil seorang bocah lelaki berkulit pucat dengan panggilan 'Yoongi Hyung'.
Namun, dari sekian banyak fakta yang mulai ia ketahui perlahan. Ada satu yang membuatnya paling terkejut.
Foto dua bocah lelaki yang saling berpelukan dengan senyum lebar mereka.
"Bukankah ini foto diriku?!"
.
.
.
"Seharusnya kau menjaga kesehatan, Yoongi-ya."
Yoongi mengangguk kecil dengan ulasan senyum tipis di bibir pucatnya. "Terima kasih sudah mau datang menjengukku."
Gadis itu tertawa kecil. "Kau temanku. Kenapa tidak?" Ia mendudukkan dirinya di pinggir ranjang Yoongi. "Sebenarnya aku khawatir padamu semenjak pertemuan kita yang terakhir kali di rumahmu."
"Khawatir?"
"Setelah aku menceritakan semuanya… wajahmu terlihat sangat pucat."
Keduanya terdiam. Hana memandang lurus ke depan.
"Yoongi, kenapa kau tidak mengakui dirimu saja padanya? Semua penantianmu akan selesai jika kau segera mengakuinya."
Yoongi menunduk. "Aku… aku tidak bisa…" Ia mengambil jeda dengan tarikan napasnya yang pelan. "Kau tahu? Semua ini tidak semudah kelihatannya."
"Apalagi yang kau tunggu? Jimin juga mencari tahu mengenai semua hal yang berhubungan dengamu seperti orang tidak waras! Dia bahkan menerorku berulang kali ketika aku sedang di Jepang!" Hana menjelaskannya dengan sekali tarikan napas. "Yoongi, kau menyakiti dirimu sendiri…"
"Aku… aku tidak bisa Hana…"
"Kalian berdua sebenarnya saling mencari. Setelah semua kejadian yang terus berlangsung seperti ini kau masih saja meragukan Jimin? Si Park bodoh itu juga mencintaimu, Yoongi!"
Lelaki berkulit pucat itu mengangkat kepalanya. "Bukankah aku hanya cinta masa kecilnya yang terlupakan?"
.
.
.
"Taehyung, tidak seharusnya kita melakukan ini."
Taehyung menatap punggung telanjang Hoseok yang duduk membelakanginya. Ia kembali menenggelamkan dirinya ke atas kasur yang mereka berdua tempati, dan menarik selimut tebal itu untuk menutupi dirinya.
"Besok kita pulang." Ucap Taehyung final dari dalam kukungan selimut. "Kita sama-sama saling tersakiti, Hoseok-ah. Bukan kau saja."
Hoseok menoleh ke gundukan selimut yang berisi Taehyung. "Kita tidak menjaga batasan kita sebagai…" Hoseok menjeda. "Sahabat." Satu kata itu seperti pisau yang membelah kerongkongannya.
Taehyung menyembulkan kepalanya dari dalam kukungan selimut. Menatap Hoseok. Keduanya saling bertatapan dalam diam. Taehyung keluar dari selimutnya, dan merangkak menghampiri sahabatnya itu.
"Aku hanya berharap jika kita tidak pernah ditakdirkan sebagai sepasang sahabat," Ucap Taehyung. Ia menempelkan keningnya ke kening Hoseok.
"Taehyung, aku merasa bersalah pada Seokjin Hyung."
"Persetan dengan semua orang yang ada disana, Hoseok. Besok kita pulang dan semuanya akan kembali menjadi neraka." Ucapan Taehyung diakhiri dengan sebuah ciuman dari Hoseok.
Ciuman terakhir?
Dan Hoseok sadar, jika Taehyung menangis.
.
.
.
"Hyung!"
Yoongi yang sibuk melipat origami menatap ke arah pintu, dimana Jungkook tersenyum dengan cerahnya. "Hyung, cuaca sedang cerah! Ayo kita jalan-jalan ke taman!"
"Huh?"
"Ayolah, Hyung. Aku sudah meminjam kursi roda dari ahjumma di depan rumah kita. Kau tidak perlu berjalan kaki. Sebelumnya kau harus ganti baju dulu." Jungkook tidak perlu menunggu jawaban dari Yoongi. Ia segera masuk ke dalam kamar, dan membuka lemari pakaian milik Yoongi.
"Kenapa tiba-tiba sekali, Jungkook?"
Jungkook yang sudah mengambil kaus polos tipis dan sweater berwarna biru muda, menghampiri Yoongi dengan senyum lebarnya. "Aku rasa kau butuh udara segar dan matahari sore, Hyung." Tangan Jungkook merapikan rambut Yoongi. "Kulitmu terlihat begitu pucat, Hyung."
"Jungkook, kau tidak ingin jalan-jalan bersama teman-temanmu?" Yoongi mendongak, menatap Jungkook yang baru saja selesai menyemprotkan parfum di sweater milik Yoongi. "Kau terlalu sering menghabiskan waktu bersamaku."
Jungkook kembali duduk di ranjang Yoongi. "Kau ini berbicara apa, Hyung? Aku tidak ingin mendengar perkataanmu yang aneh-aneh. Cepat, Hyung. Ayo ganti baju. Aku akan membereskan origami mlikmu."
"Jungkook-ah," Yang lebih muda menoleh ke arah Yoongi. "Terima kasih."
Jungkook tersenyum manis. Ia mendekatkan wajahnya, dan mencium kening Yoongi selama beberapa saat. "Tidak masalah, Hyung. Apapun untukmu."
Apapun untukmu, Yoongi Hyung. Apapun.
.
Yoongi duduk dengan tenang di pinggir lapangan bola basket. Memperhatikan Jungkook yang sedang bermain bola basket dengan beberapa temannya yang ternyata sedang berkumpul disana.
Ia menatap buku catatan kecil yang ada di tangannya, lalu membukanya. Menarik pena yang sudah ia selipkan di antara lembaran buku catatan kecil, tebal, dan lusuh itu.
'Tidak berhasil?'
Hanya itu yang ia tuliskan. Ia menatap tulisannya di atas kertas yang mulai menguning itu. Jemarinya bergerak ke arah halaman belakang buku tersebut. Ia menarik selembar foto yang ia masukkan ke kantung kecil yang menyatu dengan halaman akhir buku catatannya.
"Aku rasa aku akan gagal…" Ia menatap foto dua anak laki-laki yang sedang berpelukan itu. "Untuk membuatmu mengingat kembali semua tentangku. Ya. Aku akan gagal."
Yoongi terus menatap foto tersebut, sampai suara Jungkook yang nyaring terdengar. Sehingga ia segera menyelipkan kembali foto itu dengan terburu-buru.
"Yoongi Hyung!"
.
.
.
Matahari semakin menenggelamkan dirinya. Kembali ke peraduannya, untuk beristirahat. Namun, Jimin baru saja datang ke taman. Ia tidak mengerti, mengapa ia ingin ke sini.
Lampu-lampu taman mulai menyala satu persatu. Membuat suasana taman menjadi remang-remang. Ia mendudukkan dirinya di atas kursi kayu yang ada di sebelah lampu taman.
"Tidak ada apapun di sana," ia menatap kakinya. Ia baru saja menelusuri bagian taman yang biasa lelaki pucat itu duduki. Namun tidak ada apapun. "Apa lagi yang harus aku lakukan, Yoongi Hyung?"
Jimin terdiam. Ia menyadari sesuatu, dan ia tidak begitu mengerti dengan semua ini. Mengapa ia begitu tertarik dengan lelaki bernama Min Yoongi yang jelas-jelas hanya seorang lelaki pucat yang pernah ia anggap 'gila' dan pernah ia tolong saat hujan deras tempo lalu.
"Kenapa ia hanya memberitahukan namanya padaku? Kenapa ia tidak memberitahukan namanya pada Hoseok? Ini lucu sekali."
Jimin menatap lurus ke depan. "Tapi kenapa seakan-akan ibu mengetahui tentangnya dan semua orang seakan-akan menyembunyikan fakta yang seharusnya aku ketahui. Apa ada sesuatu yang buruk sebelum semua ini terjadi?"
Sebelum ke taman tadi, Jimin sempat berpikir untuk memaksa ibunya agar memberitahu semua hal yang menurutnya 'aneh' dan 'membingungkan' namun kondisi ibunya belum pulih sama sekali.
Ia menunduk. "Aku rasa aku butuh istirahat." Jimin berdiri dari duduknya, tetap dalam posisi menunduk. Ia benar-benar merasakan dirinya putus asa karena tidak ada yang bisa ia dapatkan sedikitpun mengenai semua hal yang membuatnya gila.
"Kenapa—eh?" ia menghentikan langkahnya, ketika sandal yang ia pakai, menginjak sesuatu dan menempel pada bagian bawah sandal yang ia kenakan. "Apa itu?" ia membungkuk, menarik benda itu dari kakinya.
"Kertas foto?" Jimin menggendikkan kedua bahunya. Jangan panggil dia sebagai 'Park Jimin' jika rasa ingin tahunya tidak tinggi. Ia membalikkan kertas foto tersebut. Dan ia tersedak.
"Ini…" Jimin masih ingat foto pada bagian belakang album miliknya yang ibunya simpan. Foto itu benar-benar sama. "Jimin dan Yoongi?" desisnya membaca tulisan hangeul yang sedikit berantakan di atas bagian foto.
.
.
"Makan malam hari ini apa, Jungkook-ah?"
Jungkook yang sebelumnya sedang membereskan selimut untuk Yoongi, menoleh untuk menatap Yoongi. "Sup ayam, Hyung." Jungkook mencium kening Yoongi. "Ada hal lain yang ingin kau makan? Tunggu sebentar disini. Aku akan mengambilkan makan malammu."
Sebelum Yoongi menjawab, Jungkook sudah berjalan keluar dari kamarnya. Ia menatap punggung sepupunya itu. Jauh lebih kuat dari apa yang ia bayangkan. Yoongi kadang berpikir, apa ia terlalu merepotkan semua orang dengan keegoisannya menunggu Jimin?
Jimin. Park Jimin.
Bagian belakang retina Yoongi seakan-akan tertusuk, dan air matanya berusaha melesak keluar saat mengingat lelaki itu lagi. Ia menggeleng-gelengkan kepalanya pelan. Menahan air matanya. Ia sudah terlalu sering menangis.
"Kau itu bodoh, Min Yoongi." ia menarik napasnya dalam-dalam. "Kau terlalu mengharapkan Jimin untuk mengingatmu." matanya memandang gambar bunga matahari dan dua orang anak lelaki yang bergandengan di dinding gambarnya.
"Sebentar lagi semuanya akan berakhir." Yoongi mengambil buku catatan lusuhnya, dan membuka bagian belakang buku itu. "Fotonya? Di—dimana fotonya?!"
Fotonya hilang. Satu-satunya foto dengan tulisan milik Jimin yang ada disana.
Yoongi membulatkan matanya ketika ia mengingat kejadian beberapa jam yang lalu, saat Jungkook memanggil namanya, ia terkejut dan dengan asal ia menyelipkan foto itu.
"Fo—fotonya…"
Baru saja Yoongi membuka selimutnya, untuk mencari foto miliknya yang mungkin saja tercecer entah dimana, Jungkook membuka pintu kamarnya dengan nampan berisi makan malam.
"Hyung?"
"A—ah… Jungkook." Yoongi kembali merapikan selimutnya, dan duduk bersandar di ranjangnya. "Aku sudah lapar."
Jungkook bukanlah seseorang yang mudah percaya begitu saja. Ia menahan langkahnya, dan menatapi Yoongi dengan serius. "Kau mencari sesuatu? Ada yang hilang?"
"Ti—tidak ada!" Yoongi menggelengkan kepalanya dengan cepat. 'Aku terlalu banyak merepotkan Jungkook jika aku bilang foto itu hilang.' "Aku pikir…" Yoongi menarik napasnya cepat. "Aku pikir kau masih lama di dapur, jadi aku memutuskan untuk menghampirimu."
"Benarkah?" Jungkook kini memasuki kamar Yoongi. "Makanlah, Hyung." ia meletakkan nampan itu ke atas pangkuan Yoongi. "Ada makanan lain yang kau butuhkan, Hyung?"
"Tidak. Terima kasih, Jungkook."
Jungkook tersenyum manis. "Nevermind, Hyung." Ia terkekeh kecil. "Aku mandi dulu ya, Hyung. Sehabis makan kau bisa mandi. Aku akan menyiapkan air hangat."
Yoongi hanya mengangguk menurut. Ia terus menatap Jungkook hingga lelaki itu keluar dari kamarnya. Yoongi menatap nampan makanannya dan segera meletakkannya di atas meja nakasnya.
"A—Aku harus menemukan foto itu," desisnya.
.
TBC
.
a/n : hai semuanya makasih banget udah mau terus baca dan nungguin fic yang gak mutu ini dan terlalu mendayu ini/? Makasih juga buat semua dukungannya. Aku bener-bener sayang banget sama kalian para readers dan siders aku yang gak bisa aku sebutin satu-satu. Ada satu hal yang mau aku kasitau lewat author's note ini. Mungkin 'Your Name' bakal di-longhiatus-kan atau mungkin discontinue dan ini jadi part terakhir yang aku update. Entah dari dua pilihan itu mana yang bakalan aku pilih. I have too many reasons to do this, guys hehehe. But, kalau suatu saat kalian masih liat Your Name update di fav stories kalian, berarti aku resmi mengembalikan fanfic ini dan bakal meneruskannya hingga selesai dengan segala penjelasannya yang bikin kalian pusing/? Makasih banyak buat semua readers yang gak review tapi tetep fav/follow. Makasih juga buat siders dari fic ini hehehe.
Kalau ada yang gak terima silahkan terror saya aja muehehe bisa diliat di bio /yes modus/
Okaay. See you in Lovers High dan fic baru saya (kalo saya bikin itu juga/?). Love you!
