Aku berkali-kali berdoa agar waktuku juga terhenti seperti jam pasir yang tersumbat itu… namun harapan sederhanaku ternyata hanya sebatas angan saja.

Aku sudah kehilangan cahayaku. Aku tidak bisa melihat wajahnya. Penyakit ini semakin lama semakin menggerogoti tubuhku. Dokter mengatakan ingatanku tak akan bertahan lebih dari setahun. Jalur operasi pun hanya akan membantu sedikit. Tak ada jalan lain untuk keluar dari belenggu ini.

Kau tahu? Yang aku takutkan bukanlah fakta bahwa aku tak bisa berlama-lama lagi berada di dunia ini. Kuingatkan, aku tidak takut mati. Yang kutakuti justru karena aku akan semakin lupa padanya. Bayangan dirinya memudar seiring nafas yang kuhela. Aku takut melupakannya. Aku takut aku lupa bahwa aku mencintainya.


Diadaptasi dari kisah drama Daddy Long Legs

Cattleya mempersembahkan

"The Tale of Daddy Long Legs"

NarutoKishimoto Masashi
Daddy Long LegsJean Webster


"Aku sungguh mencintainya." Suara merdu Hinata yang terdengar sendu mengakhiri kisah cinta yang hari ini disiarkan ke seluruh penjuru negeri. Ini adalah klimaks kisah 'Cinta Terpendam' si pemilik rumah dengan lelaki yang sangat ia cintai. Beberapa bagian sebelumnya telah disiarkan akhir-akhir ini dan mendapat respon yang luar biasa besar dari para pendengar karena ceritanya sangat menyentuh hati.

"Selamat!!" Pak PD bertepuk tangan dengan semangatnya setelah siaran berakhir. Ia kemudian menyalami semua orang termasuk aku. "Good Job!" katanya padaku.

"Ternyata kura-kura pun bisa berlari," Nona Anko berkata, yang menurutku itu adalah sebuah pujian walau terdengar kurang tulus. Ino menoleh padaku. Ia mengacungkan jempolnya sambil tersenyum padaku dan membuat wajah -kau harus berterima kasih banyak padaku lho-. Aku nyengir kecil padanya karena kami sedikit bertengkar mengenai menyiarkan cerita itu di radio.

Awalnya sih, aku tidak setuju untuk menyiarkan surat pribadi itu namun Ino sudah kepalang basah menyerahkan naskahnya untuk siaran. Dan tanpa diduga cerita tersebut mendapat respon yang bagus dari para pendengar. Pak PD pun tidak berniat menghentikan siaran tentang kisah itu. Jadilah kisah tersebut disiarkan dalam beberapa hari. Yah, apa boleh buat. Aku hanya bisa berharap agar pemilik rumah tidak akan marah padaku dan semoga si lelaki mendengarnya dari suatu tempat.


"Haa…" lagi-lagi menghela nafas panjang. Aku duduk terdiam di anak tangga menuju ke ruang data sembari menopangkan dagu dengan kedua telapak tanganku. Aku sudah sekitar setengah jam berada di sana untuk mengintrospeksi diri semenjak siaran acara yang dibawakan Hinata usai. Mungkin tidak banyak pegawai yang tahu mengenai anak tangga yang terletak di ujung barat koridor lantai dua ini, karena fungsinya sudah tergantikan oleh tehnologi baru yang bernama lift. Oleh karena itu tempat itu sering kugunakan untuk mengasingkan diri.

"Merenungkan sesuatu?" suara yang rendah dan berat menyapaku yang sedang khusyuk memusingkan hal yang mungkin dipikirkan oleh si pemilik rumah. Aku terperangah mendengar teguran itu. Aku menoleh kemudian tambah terkejut lagi melihat siapa yang barusan menyapaku. Pak Direktur! Ini bukan pertama kalinya ia muncul mendadak seperti ini. Heran deh. Aku tidak habis pikir kenapa ia suka muncul tiba-tiba dan mengejutkanku.

"Kau seharusnya senang acaramu berjalan dengan sukses," Direktur berambut panjang yang diikat ekor kuda itu berkata lagi. Mata hitamnya yang menatapku terlihat teduh namun menyelidik, tatapan yang biasa dimiliki oleh para pebisnis ulung. Tak terkecuali direktur muda itu rupanya. Mata itu seolah bisa membaca pikiranku. Bukan seolah, memang tebakan Pak Direktur mengenai masalah yang kuhadapi sangat tepat sasaran.

Di sudut bibirnya yang tertarik ke atas terlihat senyum simpul yang misterius. Hari ini pun ia tetap tampan seperti biasa dalam balutan jas berwarna hijau lumut yang melekat dengan bagus di tubuh jangkungnya. Aku sempat ragu untuk berkata –bukan, lebih tepatnya sungkan. Bagaimana pun dia kan atasanku?

"T-tidak kok, bukannya aku tidak senang. Hanya saja– " aku sedang mencari kata-kata yang tepat ketika aku dikejutkan lagi karena Pak Direktur turut duduk di anak tangga sama seperti yang kulakukan. Ia menaikkan sebelah alis, seperti menungguku berbicara. Baiklah Pak Direktur yang terhormat, kau yang menginginkanku untuk memosisikan dirimu sebagai tempat pembuangan curhat!

"Umm –begini. Aku telah membuat kesalahan yang bodoh dan mungkin itu sudah menyakiti perasaan seseorang," kataku. Pak Direktur tak mengatakan apapun untuk sejenak. Aku tidak bisa menerka apa gerangan yang tengah ia pikirkan. Sulit untuk menyelami ekspresi yang ia munculkan pada wajahnya –hei! Aku kan hanya seorang penulis.

"Kita hanya manusia, bukan dewa," ujar Pak Direktur pada akhirnya. Ia berdiri lalu membenahi bajunya. "Baiklah. Aku bisa dituntut jika memberi kelonggaran lebih dari ini. Kembalilah bekerja!" Ia memerintahku. Aku mengangguk kecil dan berlalu dari Pak Direktur.


To: Daddy Long Legs

Cc: -

Subject: Hal yang membuatku bingung

Dad, apakah daddy mendengar siaran siang tadi? Aku rasa dengan menyiarkan surat-surat itu adalah sebuah kesalahan. Kalau aku jadi si pemilik rumah, aku tidak akan suka jika surat-surat pribadiku dipublikasikan seperti ini. Tapi kalau aku adalah dia, aku akan menyesal jika orang yang kucintai tidak pernah tahu isi hatiku. Adakah hal lain yang bisa kulakukan untuk pemilik rumah itu?


Dengan ini berarti sudah yang ketiga kalinya untuk hari ini.

Pertama di ruang data. Tentu saja aku akan bertemu dengannya jika aku pergi ke ruang data kantor. Tapi aku cukup terkejut untuk bertemu dengannya di ruang data karena aku sebelumnya tidak memperhatikan kalau ialah pustakawan di ruang data itu.

Lalu selanjutnya di toko kaset. Aku sedang memilih kaset untuk imej siaran minggu depan karena ia berkata kaset yang kubutuhkan tidak ada di ruang data kantor. Kemudian aku mendapatinya sedang mencari kaset lagu yang sama dengan yang kucari. Untuk kelengkapan arsip kantor, katanya. Walau begitu aku merasa sungkan untuk mengatakan bahwa aku sudah mendapatkannya.

Dan betapa dunia ini begitu sempit.

Saat ini, di jalan sepi ini, aku mendapatinya sedang menguntitku. Maksudku, tadinya kukira begitu. Tapi ia hanya kebetulan saja lewat karena jalan ini. Kontan aku malu karena sudah mengiranya yang tidak-tidak. Aku kembali minta maaf padanya, namun ia hanya tersenyum kecil. Senyum yang misterius dan rasanya akan melelehkan sekujur tubuhku.

"Sasuke." Ia berkata setelah memberikan senyumannya.

"A-ano, aku Sakura!" seruku gugup karena berpikir, ah! Akhirnya tahu juga aku nama pustakawan yang tampan luar biasa ini.

"Aku rasa ini bukan suatu kebetulan kita bertemu tiga kali dalam sehari," katanya. "Bagaimana kalau kita jalan-jalan?" ia bertanya.

Kepalaku rasanya dihantam meteor tiba-tiba. Aku tidak bisa mencerna apa yang ditawarkannya padaku. Sederhana sebenarnya. Acara jalan-jalan untuk mengakrabkan diri karena kebetulan yang aneh. Tapi bagaimana jika yang mengajakmu berwajah setampan selebriti Hollywood? Bahkan aku ragu Leonardo Dicaprio lebih tampan darinya. Kemudian dengan jantung yang berdegub kencang, aku mengangguk sambil memohon agar ini bukan merupakan bagian dari mimpi konyolku. Hei! Gadis manapun pasti bermimpi jadi cinderella bukan?

Ia menawariku makan siang di Evergreen Cafe. Kebetulan aku suka sekali tempat itu. Sejak SMA, aku sering makan siang sambil menulis di sana. Di Evergreen Sasuke memesan salah satu makanan favoritku, seporsi selada bangkok. Sejenis salad yang menggunakan saus kacang. Kami makan sambil mengobrol tentang banyak hal. Well, sebagian besar aku yang berbicara sementara ia mendengarkan.

Lalu kami pergi dengan bus. Aku duduk di dekat jendela sementara ia duduk di tempat duduk satunya, tepat di sampingku. Bus yang kami tumpangi menuju ke kota bagian atas. Dari jendelaku terlihat pertokoan-pertokoan mewah pada mulanya. Namun seiring perjalanan, pemandangan berganti menjadi pepohonan yang sudah berubah warna menjadi kuning dan merah. Beberapa helai daun beterbangan di sekitar jendela karena tertiup angin musim gugur. Sepertinya di luar sangat berangin karena orang-orang yang berada di luar tampak mengenakan syal dan sweater berwarna-warni.

Perhatianku teralih pada orang di sebelahku yang sudah berganti menjadi seorang nenek-nenek. Kontan aku langsung mencari sosok yang kukenali tadi duduk di sampingku. Kemudian aku lega melihatnya berdiri sambil satu tangan mengangkat untuk berpegangan. Biar kutebak apa yang barusan terjadi. Pemuda itu tidak hanya tampan, ia juga baik hati. Rupanya harga dirinya juga tidak mengijinkannya membiarkan seorang nenek berdiri dalam bus. Tersentuh oleh tindakannya, aku tersenyum lebar saat ia memutar bola mata padaku.

Kami lantas turun di sebuah pemberhentian di dekat taman. Angin benar-benar kencang seperti dugaanku. Aku menggosokkan kedua telapak tanganku agar tidak begitu dingin. Sebentar lagi musim akan berganti sesuai siklus. Tampaknya aku harus menyiapkan banyak mantel tebal.

"Ini." Sasuke menempelkan gelas plastik berisi minuman pada pipiku. Aku tahu ia langsung membelinya dari pedagang keliling yang kebetulan lewat begitu turun dari bus.

"Terima kasih!" aku menerima gelas itu kemudian menggenggamnya.

Kami duduk di sebuah bangku panjang yang berada di bawah lampu taman. Dari balik bangku itu terlihat panorama kota bawah secara keseluruhan.

"Pemandangan yang indah..." ujarku. Ia hanya menyeringai kecil.

"Tunggu sampai kau melihat ini," ia mengeluarkan biji jagung yang entah didapatkannya darimana lalu menyebarkannya ke tanah. Beberapa detik alisku berkerut karena heran, namun beberapa detik berikutnya keduanya terangkat tinggi penuh ketakjuban.

Burung-burung putih langsung terbang berdatangan. Kemudian dengan perlahan mengepakkan sayap mereka dan mendarat untuk mematuki jagung yang berserakan di tanah. Beberapa masih beterbangan di sekitar kami dan salah satunya hinggap di tanganku saat aku mengangkat lengan. Aku tidak bisa menahan tawa renyah keluar dariku. Aku kemudian berpaling pada Sasuke untuk menanyaan jenis burung cantik itu. Namun yang kudapati Sasuke tengah duduk di bangku sambil memandangiku.

"A-ada yang salah denganku?" tanyaku gugup. Ia menggelengkan kepalanya kemudian tersenyum dan berkata,

"Aku suka melihatmu tertawa." Katanya. Seketika aku merasa seluruh wajahku panas. Pasti wajahku seperti kepiting rebus saat ini. Oke Sakura, tenanglah. Kalimat itu bisa diartikan dia hanya menyukai tawamu. Mungkin karena lucu, aneh atau sebagainya. Bukan menyukai dirimu secara keseluruhan. Aku kembali pada burung yang masih berada di sana. Aku kembali menebarkan biji yang ternyata bisa didapat di sebuah kotak dekat air mancur taman itu. Oh, aku lupa bertanya pada Sasuke soal jenis burung ini.

"Sasuke," panggilku, namun aku terhenti begitu melihatnya menyandarkan kepala pada tiang lampu. "Sasuke... kau tertidur?" tanyaku memastikan. Tidak ada jawaban darinya. "Sepertinya benar."

Aku duduk di sampingnya, kemudian aku mengamatinya dalam-dalam. Ia memiliki wajah yang sangat tampan. Yang ini sih, aku tahu dari pertama bertemu dengannya. Tapi ia sangat menarik. Ia sangat tenang dan dingin karena tidak banyak berkata-kata, namun sebenarnya perhatian dan baik hati. Dan manis. Melihatnya tertidur seperti ini membuat suasana terasa begitu damai.

Aku memandang langit sore yang berwarna kemerahan. "Kenapa ya aku langsung merasa nyaman denganmu?" Aku menggumamkan apa yang terlintas di benakku. Aku juga tidak tahu mengapa aku merasa demikian.


Berapa orang di usia ke dua puluh satu menerima bingkisan superbesar yang ternyata berisi boneka Teddy Bear raksasa? Di antara semua prediksi, jangan lupa sertakan aku dalam daftar itu.

Itu karena aku menerimanya pagi ini di kantor, di letakkan di meja kerjaku. Hal itu mengundang perhatian banyak orang. PD Uzumaki misalnya, dengan gayanya yang kocak mengomentari betapa besar Teddy Bear itu sambil mengukurnya menggunakan penggaris. Kami semua terbahak-bahak melihat kelakuan konyolnya. Namun anehnya tidak satupun orang yang tahu siapa yang meletakkan benda itu di sana.

Tapi aku tahu kok. Teddy Bear itu pemberian Daddy Long Legs-ku. Aku yakin karena bersama bingkisan itu ada sebuah kartu yang bertuliskan, 'lakukan yang menurutmu benar lalu tersenyumlah'.

Begitulah. Jadi yang kupikirkan sekarang ini bukan tentang siapa yang memberiku ini, tapi bagaimana cara aku membawanya pulang? Boneka ini sangat besar, tingginya saja sekitar satu meter. Aku mencoba menjunjungnya, tapi tidak bisa. Lalu aku berganti pose dengan mendekapnya hingga aku sendiri nyaris tidak kelihatan. Cara kedua lumayan berhasil, tapi aku jadi seperti Teddy berjalan.

Aku melihat Sasuke melintasi koridor. Aku menggoyangkan tangan Teddy ke atas dan ke bawah saat memanggilnya,

"Sasukee!!" seruku. Ia kaget pada mulanya, tapi terkikik setelah melihatku di balik Teddy itu.

"Mencolok," Ia berkata.

"Jangan diam saja, ayo bantu aku!" ujarku. Sasuke terdiam sejenak sambil memandangi Teddy-ku.

"Ikut aku." ia mengajakku ke sebuah ruangan, kemudian ia mengambil beberapa peralatan yang ada di sana. Sasuke lantas mengikatkan tali pada boneka itu sehingga aku bisa menggendongnya di punggung sama seperti ketika aku menggendong sebuah tas ransel.

"Jenius!!" aku berseru. Ia menarik ujung bibirnya. "Terima kasih ya, Sasuke!"

"Tidak masalah."


"Whoa!! Besar sekali!" seru Ino saat melihat boneka yang ku gendong. Ia hari ini tidak masuk, jadi Ino adalah orang terakhir yang melihat boneka super besar itu. "Dari siapa?" tanyanya sambil beranjak dari ranjang dan meninggalkan buku yang ia baca.

"Daddy Long Legs." Jawabku.

"Daddy Long Legs? Novel?" Ino bertanya lagi. Lalu aku ceritakan tentang Daddy Long Legs-ku itu. Bagian tentang pertemuan pertama kami. Bagian ia terus membantuku selama ini. Bagian aku hanya bisa mengontaknya via e-mail. Bagian ia menghilang setahun dan muncul baru-baru ini dan yang terakhir tentang boneka ini yang ia berikan tadi pagi.

"Hebat sekali..." ujar Ino penuh kekaguman. Aku mengangguk cepat untuk membenarkan.

"Aku rela melakukan apa saja untuk berterima kasih padanya" kataku.

"Hei! Bagaimana kalau dia ternyata seorang kakek tua yang memintamu jadi istrinya?"

"Ya aku turuti saja!" jawabku, "Tapi dia pasti seorang pria yang kaya."

"Bagaimana kau bisa yakin? Bisa saja dia itu seorang ibu-ibu atau nenek-nenek bukan?"

"Lho, tapi kan biasanya di novel romantis..." Ino melemparku bantal sebelum aku menyelesaikan kalimatku.

"Hei, kurasa dia adalah seorang yang bekerja di kantor kita." Kata Ino tiba-tiba.

"Ha?"

"Begini, kau bilang dia selalu membantumu saat ada masalah di kantor. Jadi pasti dia berada tidak jauh agar bisa selalu mengawasimu. Iya kan?" lanjut Ino lagi.

Aku mengangkat bahu. Aku berharap itu benar, karena aku selalu berharap untuk bisa bertemu dengannya sejak dulu.

-

-

-

Tapi siapa –?


AN:

Ya ya ya. Satu chapter membosankan lainnya. Ngomong-ngomong maaf atas beberapa mis di chapter sebelum ini. Waktunya membalas review:

Kakkoii-chan: Daddy Long Legs itu makhluk apa ya? Rahasia! ^_^

Sabaku no panda-kun:Ini sudah apdet lho!! ;D

Kosuke Gege: *duduk bersimpuh* maaf atas diksi saya yang kurang baik. Sebagai gantinya terma sujud saya ini..

Inuzumaki Helen: Iya, ini dari Daddy Long Legs versi drama Korea, bukan versi aslinya. Ceritanya kuueren banget!

Miyu201: Makasih, baca terus ya!!! XD

Kawaii-Haruna: Hehehe.... rahasia dapur! ^_^

Furukara Kyu: Silahkan baca, silahkan baca!!

Badboy sheva18: Di Indonesia belum ada dramanya, tapi komiknya udah ada dengan judul sama. XD!

Myuuga Arai: Wohoho... terima kasih, terima kasih!

Sekian. Sampai jumpa di chapter depan!! Jangan lupa REVIEW!!