Hai Daddy Long Legs, bukan Grandma Long Legs atau Mommy Long Legs, hehehe. ^_^

Semua berjalan dengan baik akhir-akhir ini. Akhirnya semua harapanku bisa terwujud. Aku yakin ini semua berkat Daddy yang selalu mengawasiku. Aku sebenarnya tidak tahu Daddy Long Legs itu kakek atau nenek atau ibu yang baik hati, tapi aku mau menyampaikan sesuatu.

Terima kasih Daddy Long Legs-ku. Terima kasih untuk segalanya.


Diadaptasi dari kisah drama Daddy Long Legs

Cattleya mempersembahkan

"The Tale of Daddy Long Legs"

Naruto by Kishimoto Masashi
Daddy Long Legs by Jean Webster


"Itulah kisah unik tentang seorang Daddy Long Legs. Dan mari kita dengarkan lagu terakhir yang dipersembahkan oleh Haruno Sakura yang tinggal di Konoha untuk Daddy Long Legsnya," sebuah lagu diputar setelah Hinata selesai membacakan naskahnya. Aku menuliskan kisahku untuk siaran radio hari ini. Ini adalah satu-satunya cara yang kuanggap spesial untuk berterima kasih pada Daddy setelah semua yang ia berikan untukku.

-

Hari ini pun pekerjaan selesai dengan baik.

Aku melewati jalan yang biasa kulalui untuk menuju ke rumah. Sebuah jalan yang lumayan sepi dengan deretan pohon maple di kedua sisinya, sehingga cahaya matahari yang berhasil menembus dedaunan terlihat seperti sorot lampu. Aku mampir ke sebuah toko makanan untuk membelikan makan malam untukku dan Ino.

Ia masih berkutat dengan penyakit lambungnya, bahkan sudah sekitar dua minggu kartu pegawainya tidak menyentuh alat absen otomatis milik kantor. Namun yang kusukai dari Ino adalah walau ia tidak masuk kerja, pekerjaan rumah tetap beres. Ia adalah tipe pekerja keras. Malahan, menurutku ia terlalu keras pada dirinya sendiri sehingga meningkatkan produksi asam dalam lambungnya dengan cepat.

Setelah urusanku dengan kasir toko daging itu beres, aku keluar untuk melanjutkan perjalananku ke rumah. Saat itulah, aku mendapati seorang lelaki yang kukenal lewat di hadapanku. Dia tampaknya tidak sadar kalau aku di sana. Ini kesempatan bagus, pikirku. Sudah lama aku tidak sedikit berbuat jahil.

Aku berjalan mengendap di belakangnya. Aku menjulurkan tanganku perlahan, sambil mengira-ira di mana posisi matanya. Saat aku merasa ini waktu yang tepat, aku dengan sigap menutup kedua mata lelaki itu dari belakang. Ia kontan tersentak yang mana dengan kata lain aku sukses besar.

"Ayo tebak, siapa!" seruku padanya. Aku bisa merasakan ketegangannya sedikit berkurang setelah aku berkata.

"Sakura," ia menyebutkan namaku dengan tegas dan penuh keyakinan. Aku melepaskan tanganku karena kegiatan ini membuat ujung kakiku lelah. Dia tinggi benar sih, bahkan aku nyaris tak bisa menjangkau letak matanya walau aku sudah berjinjit.

"Bingo!" aku berseru lagi padanya, membenarkan. Aku lantas membuat diriku sejajar di sampingnya. Ia sempat berkata bahwa aku seperti anak kecil iseng, yang kemudian hanya kubalas dengan tawa ringan. Kami pun melanjutkan perjalanan.

Sudah beberapa minggu ini aku jadi dekat dengan lelaki tampan itu, semenjak acara jalan-jalan dadakan kami dulu. Aku dan Sasuke mulai sering jalan bersama dan juga mengobrol tentang banyak hal. Memang butuh waktu untuk menyesuaikan diri dengan Sasuke, namun aku selalu merasa nyaman berada di sampingnya. Semua hal tentang Sasuke terasa tidak asing bagiku. Gaya berbicara, imej serta wajahnya seperti sering kulihat di suatu tempat. De Javu, jika mengutip istilah Sasuke tentang apa yang aku rasakan.

Entahlah, pikirku. Aku lebih mengartikan perasaan ini kepada sebuah ketertarikan. Tapi aku belum bisa memastikan apakah ini sekedar rasa sebagai teman, atau –

"Baiklah kita berpisah di sini." Tiba-tiba ia berkata. Kami terus berbicara sepanjang perjalanan hingga tak terasa kami sudah tiba di depan rumahku. Kemudian walau aku tahu ia tak akan membalasnya, tapi nyatanya aku tetap melambaikan tangan dan menatap Sasuke pergi hingga sosoknya menghilang di ujung jalan.

"Hihihi..." Aku tertawa kecil pada diriku sendiri. Senang sekali bisa bertemu dengan Sasuke hari ini. Aku sendiri juga tidak tahu mengapa aku bisa sesenang ini.

Aku pun masuk ke dalam rumah dan meletakkan sepatu di rak sepatu. Aku berencana naik ke atas untuk membawakan Ino makanan yang kubeli di jalan tadi. Tapi ternyata tak usah susah-susah mencarinya karena ia sudah berada di dekat anak tangga, dengan pose -aku siap mendengar gosip terbaru lho-.

"Wah, wah, wah! Mesra sekali pasangan satu ini!" Ino berkata saat aku menghampirinya. Tuh kan, aku benar.

"E-e kami bukan pasangan kok!" sanggahku.

"Lalu apa?" tanyanya lagi. Kali ini ditambah bonus tatapan menyelidik.

"Cuma melakukan hal-hal seperti layaknya pasangan," aku berkelit dari pandangan matanya.

"Sama saja!" Ino menampik kepalaku dengan lemah. Sulit untuk tidak tertawa pada saat seperti ini.

Tak sengaja mataku tertaut pada lukisan yang terpajang dengan indah di atas perapian yang sudah lama terbengkelai semenjak Ino dan aku membeli penghangat listrik dan meninggalkan cara tradisional untuk menghindari musim dingin yang membekukan.

"Ino, apa kau sudah menemukannya?" tanyaku tanpa beralih pandangan dari lukisan itu.

"Menemukan apa?" Ino yang tidak mengerti arah pembicaraan ini, bertanya.

"Orang yang dicintai nona itu," kataku. Aku lantas mengedikkan kepala ke arah lukisan. Sejenak aku melirik Ino yang sudah melafalkan huruf O tanpa suara.

"Selain dia seorang pegawai di kantor kita, aku sama sekali tidak punya petunjuk apapun." Ujarnya.

"Begitukah?" aku bergumam. Ada sedikit kekecewaan di hatiku karena kami tidak juga mendapatkan petunjuk mengenai orang yang dicintai si pemilik rumah sejak kami memutuskan untuk mencarinya. Beberapa minggu berlalu dan kami belum mendapatkan apapun walau sudah lumayan berusaha.

"Ngomong-ngomong kita kan belum pernah ke lantai tiga, mungkin saja di sana ada petunjuk lain?" usul Ino. Seketika mataku terbelalak.

Benar juga! Aku belum pernah sekalipun menginjak lantai tiga sejak aku datang ke rumah ini. Mungkin di sana terdapat banyak petunjuk, syukur jika ada nama orang yang dicintai sang pemilik rumah ini. Begitu Ino memberi usul, aku langsung bergegas ke atas seakan-akan terlambat naik kereta ataupun semacam itu.

Aku tiba duluan di lantai tiga. Setelah menaikki tangga, di sana hanya ada satu ruangan yang pintunya tertutup. Aku, dengan hati berdegub kencang, memutar kenop pintu disaksikan oleh Ino yang baru saja tiba beberapa saat setelah aku.

Dan ternyata pintu itu terkunci.

"Yaah, dikunci! Apa kita dobrak saja ya?" seru Ino, sedikit kesal. Aku tidak bisa memungkiri kalau aku juga kecewa tapi aku spontan berseru saat Ino berusaha mendobraknya.

"Jangan!" cegahku, "Pemilik rumah ini pasti punya alasan kuat untuk menyegel ruangan ini. Kita tidak boleh sembarangan merusaknya,"

Itu yang aku katakan pada Ino.

Tapi jujur, aku sangat ingin tahu.


Tempat favoritku di kantor masih tetap anak tangga di ujung koridor lantai dua, selain ruang data yang akhir-akhir ini selalu menjadi tempat transitku jika aku butuh inspirasi. Aku masih sama seperti sebelumnya, duduk di anak tangga itu.

Ino mengumpulkan daftar nama karyawan di kantor yang memungkinkan menjadi orang yang disukai pemilik rumah. Dalam bayanganku pria itu pasti keren hingga orang-orang tak bisa lepas menatapnya walau baru pertama kali bertemu. Tugasku di sini adalah memutuskan orang mana yang akan kuselidiki hari ini. Aku memilah daftar orang yang tidak masuk dalam ciri-ciri yang disebutkan dalam surat.

Tampaknya ini akan memakan waktu lama karena tak satupun ciri-ciri yang terpenuhi. Mungkin juga karena ciri-ciri yang disebutkan dalam surat terlalu abstrak dan subyektif. Aku yang sedikit bosan pada akhirnya memutar-mutar kalung yang kukenakan. Itu adalah kalung yang diberikan Daddy untukku.

"Kali ini masalah kantor atau urusan pribadi?" tegur seseorang dari balik pungungku. Aku berpaling pada sumber suara.

Dan jantungku nyaris copot melihat siapa di sana.

Pak Direktur. Mendapatiku tengah membuang-buang waktu perusahaan yang sangat berharga. Untuk yang kedua kalinya.

"M-maafkan saya!" aku berdiri dan membungkuk secara spontan. Orang dihadapanku ini benar-benar berwibawa sampai-sampai aku tidak berani menatap matanya untuk mengetahui ia marah padaku atau tidak.

"Sudahlah," katanya dengan nada yang menurutku cukup ramah untuk ukuran Pak Direktur. Aku menarik nafas lega melihatnya tidak begitu memperhatikanku. Tandanya ia tidak sedang dalam kondidi emosi. "Lalu apa masalahmu? Sama seperti sebelumnya?" ia bertanya lagi. Tampaknya Pak Direktur sudah hapal benar kebiasaanku duduk di sini jika ada masalah.

"Tidak kok. Ini agak sedikit berbeda dari sebelumnya." Sahutku.

"Baguslah," katanya, "Aku pikir kau duduk di sini karena masih memusingkan perkara surat yang disiarkan itu." Setelah berkata, kemudian Pak Direktur beranjak meninggalkan aku yang malu karena ketahuan suka bengong di sana. Tuh kan, dia memang hapal mati dengan kebiasaanku satu itu. Aduh malunya!

-

-

-

Tunggu sebentar!

Satu-satunya tempatku mengeluhkan kebingunganku soal surat itu hanya seorang...

-

-

-

yaitu Daddy Long Legs.

-

-

-

...Mungkinkah?


Aku menatap gerbang rumahku dengan pandangan takjub.

Sungguh. Pikiranku buntu. Aku sedikit limbung setelah kejadian tadi. Aku tidak sadar kalau aku sudah berjalan keluar dari kantor untuk menuju rumah. Aku bahkan tidak sadar kapan dan bagaimana caraku bisa pulang. Tahu-tahu saja aku ada di depan rumah.

Kemudian aku coba merangkai kembali semua kejadian yang terjadi padaku.

Aku berada di ruang data siang ini seusai jam kantor. Aku menghampiri Sasuke untuk meminjam sebuah lagu yang kuperlukan untuk materi tulisanku.

-

"Aku butuh lagu ini," aku berkata pada Sasuke yang berdiri di balik meja pustakawan.. Hari ini Sasuke masih setampan sebelumnya, hanya saja kalau wajahnya terlihat sedikit lebih berseri. Ia tampak pucat. Katanya sih karena kurang tidur.

"Kalungmu bagus," pujinya merujuk pada sebuang liontin yang kukalungkan di leherku.

"Terima kasih. Ini pemberian seseorang yang penting," jawabku sekalian menerangkan.

"Kekasih?" tanyanya.

"A-a! Tidak!" sangkalku gugup. Seketika itu jantungku berpacu kencang dan aku merasa panas di mana-mana. Aku benar-benar tidak ingin orang ini salah paham. "Hanya seseorang yang penting," terangku lagi berharap tidak timbul paradigma yang keliru darinya.

"Baiklah, tunggu sebentar. Akan kuambilkan ini." katanya lalu ia menuju ke rak tempat menyimpan kaset lagu yang kucari. Sepertinya itu lumayan jauh karena sosoknya menghilang di balik jajaran lemari yang sangat besar.

Suasana mendadak sunyi.

PLUK!

Suara benda jatuh memecahkan keheningan. Aku kontan melihat pada sumber suara tersebut. Liontinku tersungkur di lantai, mungkin aku tadi tidak mengikatnya kencang. Aku pun membungkuk untuk mengambilnya.

Tak disangka ada benda lain yang juga berada di lantai. Sebuah jam pasir. Aku mengambil jam itu kemudian membalik posisinya agar pasir dalam jam itu berjatuhan ke dasar. Tapi tidak ada sebutir pasir pun yang jatuh. Lubangnya tersumbat.

Seketika aku teringat pada surat-surat cinta nona pemilik rumah.

Aku yakin ada bagian yang menyebutkan soal jam pasir itu.

Sasuke memenuhi semua ciri-ciri yang disebutkan dalam surat. Ia adalah karyawan di kantor ini. Ia berusia sepantaranku dan sangat tampan. Terlebih ia memiliki jam pasir itu.

Tidak.

Tidak.

Tidak.

Aku pasti sedang bermimpi.

Kalau tidak bermimpi, ini pasti hanya kebetulan.

-tapi..

Bagaimana jika itu benar?

-

Nah, sampai di bagian ini aku masih mengingat dengan jelas. Namun kejadian setelahnya benar-benar terasa samar. Aku sama sekali tidak ingat pintu kantor mana yang kulalui. Aku pun hanya sekelebatan ingat pada ambulans di tengah perjalanan, cukup lama setelah aku meninggalkan kantor. Satu-satunya hal yang mengingatkanku pada ambulans itu adalah sirinenya yang memekakkan telinga. Dan ingatan selain itu benar-benar lenyap, tak bersisa karena dalam kepalaku hanya terngiang satu hal yang benar-benar mengganggu.

Aku masuk ke dalam rumah dan tidak kuasa untuk melakukan hal lain selain memandangi lukisan yang tergantung di atas perapian. Melihat lukisan itu, pertanyaan yang merisaukanku kembali muncul.

Bagaimana kalau Sasuke benar adalah orang yang dicintai nona dalam lukisan itu...?

Aku memandangi lukisan itu tanpa berkedip. "Bagaimana ini nona..." gumamku,

-

-

-

"...kurasa kira mencintai orang yang sama..."


Setelah kenyataan yang kuketahui kemarin, rasanya berat untuk memandang wajah Sasuke. Hari ini aku terus menghindarinya saat kami kebetulan bertemu di kantor. Aku tidak sanggup berpura-pura tidak terjadi sesuatu.

Kuakui aku memang aneh. Sebelumnya aku begitu menggebu ingin menemukan orang yang dicintai pemilik rumah. Namun setelah aku menemukannya, duniaku serasa berputar terbalik.

"Sakura..." panggil seseorang padaku. Dari suaranya pun aku tahu dia adalah orang yang paling tidak ingin kutemui hari ini. Sasuke.

"Ada apa?" kataku dengan suara ceria yang dibuat-buat. Aku memang payah dalam berakting.

"Kemarin kau pulang begitu saja. Aku mencarimu,"

"Oh! Ah, itu.. Aku lupa kalau aku harus memberi makan anjingku..." aku gugup dan memberikan alasan sekenanya.

"Kau kenapa?"

"Aku tidak apa-apa, sungguh."

"Lalu kenapa hari ini kau menghindariku?"

"Sudah kubilang tidak ada apa-apa!" aku tidak sengaja meninggikan suara. Aku melihat raut terperangahnya dan menjadi sulit berkata-kata. Aku tidak tahu harus mulai dari mana untuk menjelaskan semuanya. Akhirnya aku pun memilih untuk tidak mengakui apa-apa. "Sudahlah, kau tidak akan mengerti."

Aku membalikkan tubuh dan menjauh darinya. Dari sudut mataku aku melihat Sasuke berpaling dengan tatapan sendu. Seketika hatiku mencelos.

-

-

-

-

Maaf.

Maafkan aku.


Pak Direktur mengajak seluruh kru program yang ditangani PD Uzumaki makan malam di sebuah hotel karena acara kami menuai rating tertinggi di antara program acara radio siang yang lain. Beberapa kru termasuk PD Uzumaki langsung melonjak mendengar ajakan Pak Direktur untuk pesta dengan makanan mewah. Aku juga ikut.

Hanya saja aku tiba-tiba rindu pada toilet. Karena itulah saat ini aku di sini.

Setelah melakukan ritual kecil yang hanya bisa dilakukan di toilet, aku membuka keran wastafel untuk mengalirkan airnya. Kemudian aku bertemu beberapa kru wanita yang sedang membenahi dandanan mereka.

"Wah, penulis Haruno di sini. Kau tidak ikut pestanya? Kau kan salah satu bintang pesta kali ini." Katanya salah seorang yang berambut merah dengan nada menghina.

"Eh yah, aku segera kembali kok." Sahutku.

"Enak betul jadi kau, ya." Wanita berambut merah itu mengoleskan lipstick ke bibirnya sambil bercermin.

"M-maksudnya?" tanyaku tidak begitu menangkap arah pembicaraan ini.

"Direkomendasikan dan diberi rumah oleh Pak Direktur seperti ini." Katanya yang membuat teka-teki terbesar dalam hidupku menjadi semakin jelas, "Sudahlah! Tidak usah berpura-pura bodoh! Bagaimana caramu membujuk Pak Direktur..."

Aku tidak mendengar lanjutannya karena aku sudah berlari keluar. Aku segera menemui PD Uzumaki untuk menuntut beberapa keterangan.

"Pak..." kusapa dia yang sedang mnghabiskan gelas anggur keduanya.

"Hya?" ia tampak setengah sadar. Kudengar ia tak terlalu kuat untuk minum. Ini kesempatan bagus untuk meginterogasinya.

"Pak Direktur itu baik sekali, ya!" pancingku.

"Mmm... itu benar... Kak Itachi sangat keren..." jawabnya. Bagus! Umpan telah ditangkap dengan baik. Sekarang tinggal caraku mengarahkannya pada gol yang kutuju. Oke, selangkah lagi maka semuanya akan jelas.

"Dia bahkan mencarikan pekerjaan untukku dan memberi rumah." Lanjutku lagi.

"Ya, benar. Dia baik sekali karena memberimu rumah sebagus itu..."

BINGO!

Ternyata benar.

Pak Direktur adalah Daddy Long Legs.

-

Tak sesulit biasanya untuk menemui Pak Direktur kali ini karena kami kebetulan bertemu di depan restaurant hotel berbintang lima itu. Bertahun-tahun aku menunggu saat ini tiba di mana aku bisa bertemu dengan orang yang telah membantuku selama ini. Dan saat ini ia tengah ada di hadapanku. Aku ingin menyampaikan semua hal padanya. Kehidupanku, pekerjaanku dan terima kasihu.

Aku jadi bingung harus mulai darimana.

"Terima kasih," akhirnya justru klimaks pembicaraan yang kusampaikan lebih dulu. Dia tampak bingung. Jangankan dia, aku saja bingung.

"Mm.. soal acara ini, sangat menyenangkan..."

Dia mengangguk paham. Kemudian karena kehabisan kata-kata aku pun permisi untuk beranjak dari sana.

"Tunggu!" ia berseru dengan suara rendahnya yang langsung menghentikan langkahku, "Aku mau mengakui sesuatu..."


TBC


AN:

Chapter kemarin Sasuke OOC ya? Maaf, maaf, soalnya susah banget bikin dia. Sasuke mah gerak dikit aja udah OOC *ngeles*

MzProngs: Makasih udah nyempetin baca. Aa~ Catt juga mau nontooon! Di sini nggak ada filmnya. Nonton dari internet lama, bikin frustasi.

Furukara Kyu: Karena udah apdet, maka kamu wajib review. Oke, dear?

Hiryuka Nishimori: Ryuka-chaan, *ikutan sok akrab* Iya, kalau penasaran jangan sampe putus baca ya? Jangan lupa review! –dikemplang-

Kakoii-chan: *sembah sujud* maaf, Sasuke jadi OOC. Salahkan aja author bego.

Cherry89: Nungguin Serenada ya, dear? –catt ngaciiir- Sementara ini sabar sama fic ini dulu ya, soalnya Serenada masih macet plotnya. TT-TT

Sabaku no panda-kun: Sekali-kali Sasuke jadi cutie ga papa kan? Yayayay... ^0^

Kawaii-haruna : Iya deh, saya ngaku kalo..... abis jajan pake duit kas! Tunggu chapter terakhir ya dear~

Kosuke Maeda: ;[+] Arigatoo...

Miyu201: Miyu-chaaaan!!! Chapter ini jangan lupa RnR juga ya!

Eniwei minna, walaupun ending chapter ini seperti itu tapi belum tentu berjalan seperti apa yang terlihat. ^^ Wait for the last chapter!!