Disclaimer: Kishimoto Masashi.
Langit sangat biru dan cerah tanpa awan tatkala angin nyaris tak berhembus. Matahari bersinar lumayan menyilaukan, bahkan ia sudah meninggi sejak pagi-pagi benar, membuat banyak insan memulai hari mereka lebih awal daripada minggu-minggu sebelumnya. Musim panas memang identik dengan cuacanya yang terik. Tak hanya itu, kedatangan musim panas juga ditandai dengan dimulainya parade musik dari para serangga.
Ya, musik. Hal yang juga dilakukan para murid Akademi Seni Konoha program musik siang dan malam sepanjang tujuh hari dalam seminggu. Atau dengan kata lain -setiap hari karena walau sedang libur, mereka tak pernah absen dalam bermusik atau minimal menyentuh alat musik mereka. Tapi mereka melakukannya dengan senang hati karena musik merupakan pilihan hidup mereka.
Dan dua orang sahabat yaitu Uzumaki Naruto juga Uchiha Sasuke tercatat sebagai murid program musik di sekolah itu pada tahun ke tiga mereka atau setingkat dengan kelas 3 SMA.
-
-
Sebuah kertas terpampang lebar di papan pengumuman di koridor gedung program musik. Kertas yang sangat lebar dan berwarna putih itu langsung menjadi populer di kalangan para murid tak lama setelah ia ditempelkan. Bukan karena harganya yang membuat kertas itu langsung menyedot perhatian, namun lebih merujuk pada sesuatu yang tertulis di dalamnya. Sesuatu yang menjadi tolak ukur kesuksesan para murid dalam menangkap materi pelajaran selama ini, yaitu pengumuman hasil ujian praktek musik yang diadakan beberapa hari lalu. Sontak lembaran itu dikerumuni oleh siswa dan siswi program musik bahkan mereka rela berdesak-desakan untuk membacanya.
Keramaian serupa juga bisa ditemukan di kantin Akademi Seni Konoha yang selalu menjadi sangat populer waktu istirahat siang. Di sana para murid yang berasal dari segala jurusan bersaing ketat untuk mendapatkan makanan secepat mungkin. Sebenarnya stok makanan di kantin sekolah tidak akan habis hanya dengan sekali serbuan tiga ribu murid akademi itu. Sehingga mereka tidak perlu terburu-buru membeli seakan dunia akan kiamat esok hari. Namun yang membuat terjadi persaingan ketat adalah rintihan perut mereka yang menuntut untuk buru-buru diisi.
Pemuda berambut pirang bernama Uzumaki Naruto, berjuang menembus kerumunan murid di kantin itu sambil berusaha agar ramen ukuran jumbo yang ia bawa tidak tumpah. Ia tengah menuju pada sebuah meja panjang yang ada di ujung jalan. Di mana kawannya yang berambut hitam, Uchiha Sasuke sedang makan bersama para siswa dari program musik. Mereka terdiri dari seorang siswa dengan rambut cokelat dan gigi taring yang menonjol bernama Inuzuka Kiba; seorang siswa bertubuh besar –karena ia tidak suka dibilang gendut- bernama Akimichi Chouji; dan yang terakhir siswa yang terlihat loyo dengan rambut diikat tinggi, Nara Shikamaru.
"Aaah…!! Akhirnya bisa juga aku dapat yang ini!" seru Naruto setibanya ia di meja itu. Ia menciumi aroma lezat makanan itu sebelum kemudian duduk di kursi yang masih kosong untuk menyantapnya.
"Apa yang akhirnya? Bukankah itu mangkuk keduamu, Naruto?" timpal Kiba sambil menatap ngeri kawannya yang langsung memasukkan bulat-bulat semua ramen yang berhasil ia jepit dengan sumpit.
"Hiar haja. Haku mafih halam maha perhumbuhan, hadhi hutuh hanyak hasupan nuthrisi!!" tukas Naruto dengan mulut penuh makanan kesukaannya itu.
"Hei, contohlah Chouji sedikit. Biar dia makan terus, tapi menunya berganti-ganti. Kadang keripik kentang, kadang daging bakar..."
"Tapi dia tetap saja gen–"
Shikamaru langsung membekap mulut Naruto sebelum pemuda itu meneruskan kalimatnya, karena Chouji terlihat sudah hampir meledak karena ranjaunya nyaris terinjak. "Lagipula tidak ada nutrisi yang kau dapatkan dari makanan itu!" kata pemuda yang sangat ahli bermain catur, seraya mengelap tangannya yang berminyak setelah membungkam Naruto.
"Ada kok! " elak si pemuda berambut pirang dan berwarna mata langit pagi, "Vitamin R!" lanjutnya.
"Vitamin R?!" seru Kiba dengan tatapan aneh seolah tengah berhadapan dengan makhluk asing yang mengunjungi bumi.
"Vitamin Ramen! Hahaha!!"
"Sudahlah, candaanmu garing tahu!" potong Sasuke.
"Ngomong-ngomong apa kalian sudah melihat pengumuman nilai ujian praktek kemarin?" Chouji mengalihkan topik sambil terus mengunyah makanan di hadapannya yang agaknya tidak akan habis untuk sepuluh menit ke depan. Kegemaran pemuda ini terhadap makanan sama dengan obsesi Naruto terhadap ramen. Oleh karena itu, mereka hampir setiap hari menjadi orang pertama dan terakhir yang berada di kantin. Bahkan jika Naruto tidak populer-populer amat, beberapa siswa akan menganggap mereka salah satu penjaga kantin yang tidak pernah ada kerjaan. Untung saja karena sifatnya yang mudah bergaul, pemuda itu menjadi cukup populer hampir di seluruh jurusan yang ada di akademi. Namun agaknya motif itu sedikit berbeda dengan yang terjadi di kalangan siswa program musik.
"Belum tuh!! Tapi aku yakin aku jadi nomor satu lagi, kan? Haha! Aku ini memang benar-benar hebat!" jawab Naruto sambil membanggakan diri. Sedikit menyombong, tapi itu memang benar. Pemuda berambut pirang itu tidak pernah menyerahkan peringkat pertama pada siapapun setidaknya lebih dari empat semester. Hanya saja, hal itu khusus berlaku pada ujian praktek. Sementara peringkat umum paralel selalu diraih oleh kawannya, Uchiha Sasuke. Tak ada cela bagi Naruto untuk melakukan intervensi.
"Kau melemparkan umpan yang salah, Chouji." keluh pemuda bernama Shikamaru yang tengah mengaduk-aduk malas minumannya menggunakan sedotan.
"Hei!!" protes Naruto, "Bilang saja kalau kalian iri denganku, yaa-!"
"Bilang begitu kalau kau sudah mengalahkanku dalam ujian umum, dobe." tukas Sasuke.
"Ah! Kita ini kan murid program musik! Kenapa juga harus belajar matematika payah?!!" keluhnya.
"Bukan matematika yang payah, tapi kau." kata pemuda Uchiha lagi.
"Sialan kau, teme!" Naruto lantas mengambil seiris tomat yang ada di hadapannya kemudian melemparnya ke arah Sasuke. Sayang tidak kena karena reflek pemuda Uchiha itu termasuk yang paling cepat. Ia lantas ganti melempari sahabatnya dengan benda apapun yang bisa cepat diraihnya yang ternyata adalah remah dari keripik kentang milik Chouji.
"Mulai lagi deh. Kurasa kali ini bakal jadi masalah. Merepotkan," keluh Shikamaru yang setidaknya telah memprediksi apa yang akan terjadi.
Dan rentetan amukan kecil itu meluas setelah benda yang tak sengaja dilempar Naruto mengenai Kiba. Kiba lantas berseru –hei sebelum ia membalas lemparan Naruto karena merasa sudah diseret dalam acara lempar-melempar itu. Beberapa siswa melihat itu sebagai kejadian yang menyenangkan sehingga mereka pun berpartisipasi dalam kegiatan tersebut. Kemudian terjadilah perang makanan di kantin yang melibatkan nyaris seluruh siswa yang ada di sana, kecuali Shikamaru yang terlalu malas untuk bergabung dan Chouji yang masih asyik dengan makanannya.
Mereka berlindung di bawah meja, kemudian mengambil apa saja di hadapan mereka untuk dilemparkan. Potongan timun, remah roti, saus tomat, mayonaise dan naruto –bukan Naruto Uzumaki, namun naruto yang ada dalam mangkuk ramen. Bahkan sasaran yang sebenarnya diabaikan, sekarang yang terpenting adalah lemparan mereka kena. Siapapun dengan apapun karena semua adalah musuh.
Ini benar-benar perang makanan kolosal.
"Jadi, apa pembelaan kalian?" selidik seorang guru bernama Ibiki Morino kepada puluhan murid yang tengah berdiri di hadapannya. Mereka berdiri mematung ketika sang guru mengitari dan menatap mereka satu-persatu sambil berjalan perlahan.
"Tidak... ada... sensei!" kata beberapa murid, sementara yang lainnya hanya menenggak ludah. Mereka tak berani menjawab apalagi melakukan pembelaan atas keributan yang telah mereka ciptakan di kantin.
"Kalian sadar konsekuensinya, bukan?" tanya sang guru menekankan, yang mana lebih terdengar seperti –jadi kalian minta dihukum, bukan?.
"Ya.. sensei!"
"Bagus. Nanti siang seusai sekolah, kalian semua dihukum membersihkan kantin dan mencuci semua peralatan makan sampai bersih." Pria menakutkan itu menopangkan sebelah tangannya di meja sementara yang satu ditopangkan ke pinggang, "Dan kalau aku berkata sampai bersih itu berarti aku tidak ingin ada noda setitik pun tertinggal, mengerti?" ia menekankan.
"Mengerti.. sensei!"
"Kalau begitu tinggalkan ruangan, segera!"
Segera setelah perintah diberikan, para murid menghambur keluar. Selain tak mau berlama-lama berhadapan dengan guru super menyeramkan itu, mereka juga tak mau menambah lagi hukuman mereka.
"Haah..." Naruto menghembuskan nafas panjang setelah berada di luar ruang kesiswaan bersama para murid lain yang ikut dihukum bersamanya, "Padahal nanti ada janji dengan Hinata!" keluhnya kesal.
"Ini semua gara-gara kau," kata Sasuke.
"Benar! Ini kan salah Uzumaki!" kata seorang murid dari jurusan sinema.
"Harusnya kau saja yang kena hukuman!" beberapa murid lain yang turut terkena hukuman itu, ikut menimpali.
"Enak saja! Kalian yang seenaknya ikut-ikutan, tahu!!" tukas Naruto.
"Tapi kami senang kok!" ujar seorang gadis dari jurusan tari.
"Kenapa malah senang?" tanya Naruto tidak mengerti.
"Soalnya kami bisa bareng dengan kalian, siswa paling populer dari program musik." terang siswi lainnya, dari jurusan berbeda. Kemudian mereka berteriak dengan teriakan ala gadis.
Dasar cewek, batin Sasuke.
"Oh begitu ya?!" seru Naruto girang, "Hahaha!! Memang beginilah takdir orang ngetop!!" katanya, membuat Sasuke memutar bola matanya sementara murid lelaki lainnya menyorakinya –bhuu!
"Memangnya kau yang mereka maksud?" tukas Sasuke sambil menyeringai kecil.
"Dasar Sasuke-teme!!"
"Hei, hei. Ngomong-ngomong bagaimana dengan nasib tuan putri? Bukankah dia selalu bersama kalian waktu pulang?" tanya Kiba pada Sasuke.
"Aku sudah mengiriminya SMS."
"Benarkah? Kenapa tidak bilang sih! Padahal aku mau mengabarinya tadi!" Naruto kembali berseru.
"Sudahlah, yang mana saja tidak masalah kan?" kata si pemuda Uchiha lagi.
Akademi Seni Konoha adalah sebuah sekolah swasta elit kejuruan yang terdiri atas beberapa program seni; yaitu program musik, lukis, tari, seni rupa, dan sinematografi. Masing-masing program tersebut menempati gedung yang berbeda, yang mana masing-masing gedung terdiri atas banya ragam ruangan. Untuk program lukis sendiri terbagi atas tiga macam ruangan; yaitu ruang kelas standar, studio lukis dan juga galeri. Ruang kelas digunakan untuk kegiatan belajar mengajar biasa. Studio lukis adalah ruangan yang digunakan sebagai tempat melukis.
Program lukis memiliki banyak studio, sehingga setiap sepuluh siswa akan mendapatkan satu ruangan. Namun, jika ruang kelas sifatnya tetap hingga kelulusan dan dibagi per angkatan, maka lain halnya dengan studio. Setiap studio terdiri atas kelas satu, dua dan tiga serta seorang tutor yang biasanya adalah alumnus Akademi. Hal ini dimaksudkan agar terjadi regenerasi yang baik karena murid senior bisa mengajari juniornya. Sementara itu, galeri adalah ruangan yang digunakan untuk memajang karya-karya yang mendapat penghargaan.
-
-
Seorang siswi berambut indigo memasuki sebuah ruangan besar dengan bertuliskan Galeri III di papan pintunya. Ruangan yang didominasi warna krem itu sangat gelap. Tirai-tirai hijau yang besar tebal menutup seluruh permukaan kaca jendela sehingga tak ada setitik sinar pun yang masuk, membuat kesan seolah ruangan itu adalah sebuah dimensi lain yang jauh dari dunia ini. Di seluruh penjuru ruangan, terpajang berbagai lukisan indah yang disinari sebuah lampu –spotlight, membuat kesan lukisan-lukisan itu menjadi semakin dalam dan menonjol.
Hyuga Hinata, siswi kelas dua program lukis, meletakkan kanvasnya di lantai yang seluruhnya tertutup oleh karpet. Ia kemudian memasang lukisan itu di ruang kosong di dinding yang sudah dipersiapkan untuk lukisannya. Beberapa waktu lalu, lukisannya meraih penghargaan tingkat kota sehingga ia diwajibkan untuk memajang karyanya di ruangan ini. Hari ini petugas yang biasanya mengurusi galeri sedang berhalangan datang, mau tidak mau ia harus mengurusinya sendiri. Untunglah ia hanya tinggal membawa lukisannya dan menggantungnya, tanpa harus berkawan dengan palu untuk menancapkan paku di dinding.
Sesaat kemudian, ponselnya berbunyi. Ia lantas membuka pesan yang ternyata dikirim oleh Sasuke, lalu terkikik kecil saat membaca pesan tersebut. Dalam pesannya, Sasuke berkata kalau ia dan Naruto dihukum membersihkan kantin setelah membuat keributan kecil disana waktu istirahat tadi. Ia tak habis pikir, kedua sahabatnya itu sudah tahun terakhir namun masih saja berbuat kekanakan seperti ini sehingga mendapat hukuman dari guru bagian kesiswaan yang terkenal killer.
"Kalau dipajang semakin terlihat bagus," kata seseorang dari balik punggung Hinata, membuat gadis itu agaknya tersentak kaget. Hinata kemudian menoleh pada sumber suara. Seorang senior program lukis yang juga merupakan teman satu studio Hinata, sedang berjalan ke arahnya. Alih-alih malu karena dipuji, gadis itu buru-buru membungkukkan tubuh sebagai pengganti salam kepada pemuda berambut hitam yang selalu tersenyum itu. Hinata kemudian mengeluarkan catatan dan menuliskan sesuatu, lantas memberikannya pada seniornya.
Ini juga berkat arahan senpai.
Pemuda itu kembali tersenyum simpul, "Apa aku sudah bilang, aku lebih suka caramu mengeja namaku daripada memanggilku senpai. Bagaimana caranya?" tanyanya.
Hinata kemudian dengan lincah memainkan tangannya, membentuk simpul-simpul yang hanya bisa dipahami oleh kalangan tertentu. Ia melakukan hal yang diminta seniornya, yaitu mengeja nama pemuda tersebut. S-A-I. Sai.
"Begitu lebih baik." timpal pemuda yang dipanggil Sai itu, kemudian ia sibuk membereskan beberapa lukisan yang ia bawa.
Hinata kemudian memalingkan pandangan pada lukisan orang yang ia kenal cukup akrab. Sebuah lukisan seorang wanita yang duduk di sebuah bangku taman, mendekap bayinya sambil tersenyum penuh kasih. Menyadarkan bahwa betapa sebenarnya banyak hal-hal kecil yang biasa ditemui dalam keseharian, bisa menjadi hal yang sangat luar biasa jika kita menyadarinya.
Makna yang indah. Selain itu penggarapannya artistik, komposisinya sempurna juga pengenalan warna yang nyaris mendekati aslinya. Dan setiap garis dalam lukisan itu tampak benar-benar hidup.
"Pelukisnya bernama Uchiha Itachi." ujar Sai memecah keheningan, "Kudengar kau mengenalnya secara pribadi?" tanyanya.
Hinata mengangguk.
"Dia hebat sekali,"
Hinata mengangguk lagi. Memang begitulah yang dikatakan semua orang mengenai Itachi sang jenius. Ia mampu menangkap sebuah fenomena kehidupan dan menuangkannya ke dalam kanvas dengan sempurna dan detil yang mengagumkan, serta mengandung makna yang dalam. Hinata selalu terkagum-kagum dengan kemampuan kakak sahabatnya itu. Ia jugalah yang sedikit banyak mempengaruhi kecintaan Hinata terhadap dunia lukis. Kemudian Hinata berpaling pada lukisan yang tengah dipajang oleh Sai. Detik pertama Hinata melihat lukisan itu, ada sesuatu yang tiba-tiba membuat suatu sentakan timbul di jantungnya.
Lukisan beberapa tangkai bunga putih dengan latar hujan salju. Lukisan yang tidak biasa, karena tidak saljunya tidak murni berwarna putih melainkan bergradasi biru. Bunga itu juga tak indah sempurna, ada beberapa bagian rumpang di mahkota bunganya serta ada beberapa bagian yang robek. Ia tampak begitu kepayahan dan nyaris mati, namun berusaha tegar di tengah dingin dunia. Itu terlihat dari siluetnya yang seakan tengah mendongak ke arah langit. Pasti ada sesuatu hal yang membuatnya masih bisa kuat seperti itu. Sesuatu yang mungkin, diharapkannya muncul dari arah langit kelam tak terbatas.
Walau teknik yang digunakan masih kalah dengan milik Itachi, namun ada yang membuat lukisan tersebut terasa sangat menarik. Ia menawarkan estetika yang bertolak belakang dengan milik Itachi. Jika lukisan pemuda itu terkesan cerdas dan membuat orang awan sekalipun dapat menangkap keindahannya, lukisan ini cenderung misterius. Tapi justru inilah yang membuat pandangan Hinata semakin lekat tertuju pada lukisan itu. Diperhatikannya setiap goresan dalam lukisan itu untuk menelaah tiap kata yang ingin disampaikan sang pelukis. Lukisan itu benar-benar membuat rasa ingin tahunya menyeruak muncul. Tanpa ia sadari, jemarinya sudah menjelajah tiap goresan yang ada dalam lukisan tersebut.
"Camelia Putih. Apa lukisan ini sebagus itu?" tegur Sai.
Hinata sontak mengangguk sangat cepat menanggapi pertanyaan itu, bahkan sebagian tubuhnya pun ikut berguncang.
"Yah, karena itulah lukisan ini dipajang di sini. Bahkan para juri galak itu pun luluh melihatnya," timpal Sai sementara Hinata mendengarkan dengan seksama. "Padahal si jelek itu sering meninjuku, tak sangka bisa membuat gambar sebagus ini. Haah, aku benar-benar tidak habis pikir tentang wanita." gumamnya.
Hinata terkikik kecil ketika teringat Men are from Mars. Senpainya itu memang seperti makhluk Mars. Yang benar saja, perempuan manapun tidak akan sudi dikatai jelek. Walaupun jago melukis, tapi Sai memang benar-benar payah dalam mengerti hati wanita.
Hinata lantas membaca papan keterangan yang ada di bawah lukisan bunga tersebut. Di sana tertulis Artist: Haruno Sakura. Grade III-Class 1. Kelas 3- 1 program lukis, kelas yang sama dengan Sai. Sayang sekali senpai bernama Haruno itu tidak ditempatkan di studio yang sama dengannya.
Kemudian mata Hinata kembali menyusuri lukisan yang sangat menarik perhatiannya itu.
TBC
AN:
Rada lebay ya chapter ini. (Bukan rada, tapi sangat!) Dan deskripsi kedua lukisan membuat Itachi dan Sakura jadi OOC parah. Harusnya gambar Itachi yang lebih kompleks, bukan Sakura. Kesannya, Itachi justru lugas dan apa adanya. Jadi deskripsi seperti ini kayaknya bakal jadi masalah besar. Aaah!! Seni itu benar-benar rumit! *Jeduk-jedukin kepala* Yah ini kan salahku juga. Tapi toh mereka di canon nggak bisa nggambar, jadi otomatis fic ini memang asli OOC. Haha, biarlah.
Menurut kalian?
