Disclaimer : Masashi Kishimoto.
Seorang pemuda kecil berusia 8 tahun berlari-lari kecil diantara kerumunan orang dengan yukata yang tengah menikmati hingar bingar festival musim panas. Ia sedang mencari seorang yang dikenalnya karena saat itu ia sedang tersesat, terpisah dari teman-temannya. Ia sudah mencari sekitar setengah jam namun ia belum bertemu siapapun yang ia kenal.
"Aniki-chaan!!" Sasuke kecil berlari sembari memanggil kakaknya, "Itachi nii-chaan, kau dimana!!!" tapi diantara kerumunan orang itu tak ada satupun yang menoleh padanya."Hinata!! Naruto!!" panggilnya pada sahabatnya namun mereka juga tidak menjawab panggilan Sasuke.
Tiba-tiba ia melihat gadis cilik berambut hitam dengan yukata merah muda, lalu tanpa ragu ia menepuk orang itu. Gadis cilik itu menoleh pada Sasuke.
"Siapa kau?" orang itu yang ternyata bukan Hinata, bertanya. Sasuke yang terkejut karena itu bukan sahabatnya kemudian menggeleng dengan kecewa.
Ia berlari lagi kali ini dengan hati yang semakin cemas, takut jika ia tak menemukan kakak atau kedua sahabatnya. "Aniki-ch- Aaa!!" ia terantuk batu ketika berlari dan kini bocah kecil itu tersungkur di tengah jalan.
Ia bangkit dengan menahan sakit di badannya dan airmata yang sebentar lagi akan keluar dari mata bulatnya. "Hiks.. hiks.." isak bocah itu. Tiba-tiba ia mendengar jeritan yang melengking, "Awaaaas!!"
Sasuke menoleh ke arah samping. Matanya melebar seketika melihat sebuah mobil dengan kecepatan tinggi meluncur ke arahnya. Ia tak bisa bergerak. Namun sesaat sebelum ia tertabrak, lengannya ditarik dengan kencang oleh seseorang keluar dari jalur mobil itu.
Dia, dan seseorang yang menolongnya kemudian jatuh terguling dan berhenti di rerumputan di tepi jalan. Tubuh mereka berdua terlentang menghadap langit diantara rerumputan itu sambil mengatur nafas mereka yang tersengal-sengal.
"Langit… ternyata sangat biru..." ujar seorang gadis cilik yang terbaring di samping Sasuke.
Sasuke menatap kepada gadis kecil yang terlihat sepantaran dengannya dengan pandangan yang kabur. Entah mengapa ia merasa pandangannya berat, hingga hanya warna mencolok yang tampak dimatanya. Merah muda dan hitam.
Siapa?
Hinata ya?
Samar-samar ia mendengar gadis cilik itu melanjutkan kalimatnya, "Lain kali kau harus lebih hati-hati!"
Kemudian suara dan semua hal menjadi sangat kabur dan sedikit demi sedikit menghilang dari pandangan Sasuke. Dan tepat sebelum gadis itu menyelesaikan kalimatnya, bocah berambut hitam itu sudah kembali ditarik ke alam sadarnya.
Sasuke Uchiha terbangun dari tidurnya kemudian melihat sekeliling ruangan. Saat ini ia tengah berada di ranjang dalam kamarnya."Mimpi…" gumamnya.
Rasanya sudah lama sekali ia tak mengingat kejadian itu. Kejadian sepuluh tahun lalu dimana ia nyaris tertabrak mobil. Bukannya lupa, hanya saja ia tak begitu ingat dalam beberapa tahun ini. Entah angin apa yang membuatnya teringat kembali pada kejadian itu hingga terbawa mimpi. Sedikit bernostalgia, ia menyusun lagi ingatannya mengenai kejadian tersebut.
Kejadian itu membuat Hinata menjadi sahabat yang paling berharga baginya. Yang kemudian berubah menjadi orang yang menempati tempat spesial di hati pemuda itu.
Tapi-
Rasanya ada yang berbeda dari mimpi barusan. Ia pun mulai meragukan ingatannya sendiri.
Gadis berambut hitam dengan yukata merah muda atau…
"Aaah!! Aku benar-benar tidak puas dengan pelajaran barusan!!" Naruto berseru seusai pelajaran pada teman-temannya. Baru saja mereka memainkan sebuah komposisi di depan kelas satu persatu, namun Naruto banyak dimarahi sewaktu gilirannya bermain.
"Tempomu berantakan dari awal sampai akhir. Pantas saja Anko-sensei marah-marah terus, dasar bodoh!" cela pemuda dengan gigi taring menonjol, Inuzuka Kiba.
"Apa! Kau bilang aku bodoh?!!"
"Memang. Kita sudah kelas tiga tapi kau masih melakukan kesalahan seperti itu!" sahut Kiba.
"Memangnya kau lebih baik dariku? Kau juga dari tadi cuma main forte(1)!!" balas Naruto.
"Naruto!!" geram Kiba.
"Kiba!!" Naruto juga.
"Hei-hei kalian berdua hentikan…" potong siswa dengan rambut dikucir tinggi, Nara Shikamaru. Ia kemudian menoleh pada temannya yang sedang memandang keluar jendela, "...Sasuke, daripada bengong di situ bantu aku melerai mereka."
"Hn..." jawab Sasuke.
"Haa, mereka semua benar-benar merepotkan-" komentar Shikamaru sementara Kiba dan Naruto masih saja terlibat cekcok.
"Sudahlah Shikamaru, biarkan saja mereka." pemuda bertubuh besar berkata, kemudian menawarkan keripik kentang pada sahabatnya itu.
"Kurasa kau benar, Chouji!" Shikamaru akhirnya masa bodoh dengan pertengkaran itu, mengacuhkan usulan sahabatnya Akimichi Chouji.
"O ya, ngomong-ngomong apa kalian sudah mempersiapkan diri untuk ensembel bulan februari nanti?" tanya Chouji polos.
"Benar juga ya!" seru Naruto dan Kiba bersamaan dan pertengkaran mereka selesai seketika.
Ensembel adalah istilah yang populer diantara murid program musik untuk menyebut konser akhir tahun mereka. Kelas tiga akan menampilkan permainan mereka baik solo maupun chamber(2), pada pada hadirin yang terdiri dari orang tua, guru, kepala sekolah, dan orang umum. Disana juga akan hadir tamu kehormatan dari berbagai universitas musik di dunia yang mungkin tertarik merekrut salah satu diantara mereka. Jadi konser ini sangat penting bagi kelanjutan studi musik mereka sebagai ajang promosi individual.
"Aku sama sekali belum persiapan!" kata Naruto.
"Aku juga" Shikamaru menimpali.
"Kalau kau, Sasuke?" tanya Kiba.
"Yah… Cuma sebatas mempersiapkan temanya" sahut Sasuke membuat yang lainnya menatapnya hingga rasanya bola mata mereka akan keluar dari sana..
"Sialan kau teme!!!" Naruto berteriak kesal.
"Apa salahku, dobe?"
"Kau mengkhianati kami!!" Naruto dengan suara nyaring. "Dia benar. Kau mencuri start duluan, dasar tidak setia kawan." tambah Kiba. Sasuke hanya mengangkat bahu, melihat teman-temannya yang pergi ke dimensi lain karena baru kehilangan partner in crime mereka.
"Aku pulang duluan, deh. Aku mau beli titipan kakakku," kata Sasuke pada akhirnya sambil membawa tas sekolah dan beberapa buah partitur.
"Lalu Hinata-chan?!" tanya Naruto yang emosinya sudah menurun.
"Berdua saja memang tidak cukup?"
"Ya sudah!! Hati-hati di jalan!!!" kata Naruto.
Tidak beranjak.
Itulah yang sedari tadi dilakukan Uchiha Sasuke di depan peralatan melukis yang menghampar di hadapannya. Dalam diamnya ia mengutuki dirinya sendiri karena ia tidak menanyakan informasi secara detil atas barang yang Itachi titipkan kepadanya.
Ada banyak sekali kuas dihadapannya dan ia tidak tahu harus membeli yang mana. Ia segan untuk kembali ke pelayan toko karena mereka sangat genit. Terlebih ia paling benci menunjukkan ketidaktahuannya. Ini sama saja seperti memperlihatkan kelemahan pada orang lain dan ini merupakan hal tabu bagi seorang Uchiha. Begitulah cara ia dididik. Tapi ia harus membeli kuas untuk Itachi kalau ia tidak mau melewatkan makan malam hari ini.
"Haaa…" desah pemuda jangkung yang tampan itu.
"Sedang apa?" tiba-tiba ada suara yang menegurnya. Spontan ia menoleh. Di hadapannya saat ini berdiri seorang gadis memakai seragam yang sama dengannya dengan rambut merah muda yang menyentuh bahu. "…masih ingat aku?" tanya gadis itu lagi.
Sasuke mengangguk perlahan, "Tentu. Haruno Sakura kelas 3 program lukis," katanya.
Sakura tersenyum ramah, "Apa yang dicari siswa program musik di toko alat melukis? Jangan-jangan kau melakukan observasi untuk rencana pindah jurusanmu, ya?" gurau Sakura.
"Tidak. Tentu tidak." jawab Sasuke.
"Lalu apa kau mencari sesuatu?" tanya gadis itu lebih lanjut. Walaupun mereka sudah berkenalan namun Sasuke ragu untuk meminta tolong padanya atau tidak. Lagipula mereka masih asing.
"Tidak ada." jawab Sasuke membuat Sakura menautkan alisnya, lalu gadis itu mengambil beberapa cat yang ia butuhkan.
"Kau ini aneh. Tidak ada urusan kok kemari!" ujar Sakura, "Eh, iya. Ngomong-ngomong aku baru menyadari sesuatu! Margamu Uchiha, bukan? Apa kau punya hubungan dengan Uchiha Itachi yang alumnus program lukis?" gadis itu melanjutkan pembicaraan dengan topik berbeda.
"Dia kakakku,"
"Benarkah?! Ternyata dunia sempit sekali ya!!" seru Sakura girang.
"Kau kenal kakakku?" tanya pemuda bermata onyx.
"Hanya kohai bodoh yang tidak mengenal Itachi-senpai! Galeri kami nyaris tidak muat menampung lukisannya. Dia sangat jenius dalam melukis dan lagi orangnya baik hati!" puji Sakura.
"Begitukah?" Sasuke menarik ujung bibirnya ke atas melihat reaksi gadis itu yang menurutnya berlebihan karena Itachi di rumah terkadang bisa kejam juga.
"Lalu, apa yang diminta Itachi-senpai? Dia menitip sesuatu, bukan?"
"Kenapa kau bisa tahu?" Sasuke agak tekejut.
"Jangan menganggapku bodoh, ya! Tak mungkin kau kemari hanya dengan alasan untuk cuci mata." gerutu Sakura.
"Oke, kau benar. Aku harus membeli kuas tapi aku benar-benar buta soal ini. Bisa kau rekomendasikan beberapa untukku?" Sasuke menyerah lalu menjelaskan kondisinya. Gadis itu menebak terlalu jauh dan ini lebih buruk daripada kalau ia sendiri yang harus mengatakannya.
"Baiklah, karena aku sedang baik hati aku akan membantumu. Apa yang dibutuhkan Itachi-senpai?" interogasi Sakura.
"Tiga kuas cat minyak dengan ukuran berbeda. Dia hanya bilang seperti itu." terang Sasuke. Sakura mengangguk paham lalu matanya menyusuri beragai macam kuas yang ada disana. Tak seberapa lama gadis lincah itu mengambil kuas yang ujung bulu kuasnya rata dan kaku dengan ukuran yang tidak urut melainkan memiliki selisih.
"Ini dia!" Sakura menyodorkannya pada Sasuke, "Nah, karena aku harus pergi sekarang aku duluan ya!! Salam untuk Itachi-senpai!" Lalu Sakurapun pergi dari hadapan pemuda itu seketika.
"Orang aneh…" Sasuke menyeringai setelah kepergian Sakura. Gadis itu berlalu bagaikan angin meninggalkan Sasuke yang masih terdiam di sana. Bahkan ia belum sempat berkata apapun setelah gadis itu memberi bantuan, "…lain kali sajalah." gumam Sasuke dan ia menuju kasir untuk membayar belanjaannya.
TBC
