Disclaimer: Kishimoto Masashi.


"Hei Naruto," Seorang pemuda dengan mata onyx, memanggil sahabatnya. Dialah Uzumaki Naruto yang sedang terkapar di karpet ruang tengah rumah keluarga Uzumaki sejak kurang lebih setengah jam lalu.

Sudah berkali-kali Sasuke memanggil, namun sama sekali tidak ada jawaban dari bocah berambut pirang itu. Mulanya sih Naruto cuma tidur-tiduran saja, dan mereka masih sedikit banyak mendiskusikan sesuatu mengenai pelajaran. Tapi lama kelamaan suaranya semakin tidak terdengar sebelum akhirnya Sasuke mendapati bocah itu sudah tertidur di lantai.

"Hei, dobe!" Kali ini Sasuke menggunakan ujung kakinya untuk sedikit menendang Naruto. Akan tetapi sama saja seperti sebelumnya. Tak ada jawaban. Alis Sasuke membentuk kurva. Ia lumayan kesal karena tak kunjung bisa membangunkan bocah itu. Kemudian ia coba mengguncang-guncangkan tubuh pemuda berambut pirang itu dengan kedua tangannya disertai dengan usaha yang sedikit lebih keras, "Hei, dobe. Bangun!"

Naruto bergeming. Hanya sedikit gerakan tak berarti pada bibirnya dan itu membuat kekesalan Sasuke berlipat, "Bangun kau, usurantonkachi!"

"Mmmm…" kali ini Naruto bergumam kecil kemudian hening lagi.

Sasuke memandangi Naruto yang masih tertidur pulas. Semua cara yang ia punya sudah ia coba, tetapi tetap saja hasilnya nihil. Dan Naruto masih terus berbaring di lantai yang dingin dan keras itu.

Pemuda berambut hitam menghela nafas, menandakan bahwa ia sudah tak sanggup lagi dengan acara ini. Terima kasih untuk kakaknya yang selalu bisa membuatnya bangun tiap pagi. Ternyata kegiatan ini cukup menguras energi juga. Beneran deh! Lebih baik ia diberi setumpuk pekerjaan rumah untuk dikerjakan daripada harus berusaha lebih keras daripada ini untuk membuat Naruto bangun.

Oh iya. Saat ini ia kan memang sudah berada di antara tumpukan pekerjaan rumah. Lihat kumpulan score book yang berceceran di sekitar mereka. Menyalin beberapa komposisi yang sudah ditentukan oleh sensei adalah pekerjaan rumah yang harus dikumpulkan besok. Oke, itu sebenarnya punya Naruto semua dan Sasuke tidak harus mengerjakannya. Tapi ini sudah menjadi kebiasaan bahwa dalam semua PR Naruto, pasti Sasuke ikut andil di dalamnya. Mungkin malah mengambil alih.

"Kau harus sering-sering berterima kasih padaku." gumam Sasuke yang kembali memfokuskan diri pada sebuah komposisi untuk wind kuintet di hadapannya. Kemudian matanya menelusuri kumpulan not itu untuk mencari not terakhir yang ia tulis. Lalu ia menyalin kelanjutannya di buku Naruto.

Senja sudah berada di depan mata. Seluruh benda yang berada di bawah naungan angkasa menjadi berwarna orange kemerahan, tersinari oleh mentari sore. Tak terkecuali pemuda yang masih terpejam di lantai, kali ini dengan selembar selimut membungkus tubuhnya. Semburat sinar yang menusuk kelopak matanya, tampaknya sudah membuat alam bawah sadar pemuda itu bergeser.

Naruto membuka mata dengan perlahan lalu mengerjap sesekali. Ia menatap sekeliling yang sudah beranjak gelap. Kemudian ia terbelalak seketika karena teringat sesuatu. "AAAH!! PR-KUUU!!" Naruto bangun dan menjerit dengan keras, menyadari bahwa ia baru sebentar menyentuh PR sebelum tertidur tadi.

"Tidak usah teriak begitu kenapa?" Sasuke yang sedang bersantai sambil membaca buku di sofa berwarna kuning yang ada di ruang itu, menimpali teriakan keras Naruto. Naruto memalingkan wajah pada Sasuke dengan ekspresi bingung tidak karuan.

"Sasuke!! Bagaimana ini!? Aku pasti mati besok! Ibiki-sensei pasti akan mencekikku!" seru Naruto gelagapan, sementara Sasuke tidak mengatakan apapun. Ia hanya mengarahkan ibu jari tangan kanannya ke belakang. Merujuk ke arah meja yang membelakangi sofa.

Naruto kemudian ganti memandang ke arah yang ditunjukkan Sasuke. Dilihatnya ada tumpukan buku yang sudah tersusun rapi di atas meja. Tanpa pikir panjang ia pun menghambur kesana dan mengambil sebuah dari tumpukan buku tersebut. Ia membolak-balik halaman buku PRnya dan ia menemukan tugasnya sudah selesai.

Kemudian ia berpaling pada Sasuke dengan sebuah cengiran di wajahnya. Sasuke menyeringai kecil, "Kau berani membayarku berapa?" tanyanya.

"Warung ramen masih belum tutup, kok!" timpal Naruto sambil cengengesan. Ia membolak-balik lagi halaman buku itu dan melihat tulisan yang ternyata luar biasa banyak."Hu-uh! Entah kenapa guru-guru hobi menindasku dengan tugas menyalin ini. Memang mereka pikir aku tidak lulus TK apa?" is menggerutu, "Untung aku punya asisten sepraktis kau, yang apa-apa bisa. Haha!" Kemudian ia sedang akan meletakan buku yang dibawanya kembali ke atas meja, saat Sasuke tiba-tiba berkata,

"Hei Naruto,"

"Apa?"

"Jangan-jangan kau belum lancar sight reading ya?" Sasuke menyatakan dugaannya. Sementara itu Naruto yang bingung atas pertanyaan tiba-tiba Sasuke hanya berkata,

"Memang kenapa?"

Sasuke mendesah. "Pantas para guru menjadi suka memberimu tugas seperti ini. Yah, ini cukup efektif untuk membiasakan mata dengan not balok, sih!"

"Telingaku ini masih bisa mengingat nada dengan baik, kok! Harusnya guru-guru tidak usah sengotot ini memberikan pelajaran itu padaku!" sahut Naruto.

"Kurasa, baru kali ini pemegang peringkat lima besar program musik tidak bisa sight reading. Mereka itu mengkhawatirkan masa depanmu, lho!" timpal Sasuke.

"Eeh? Apa iya?" Naruto mengerutkan bibir dan berpikir dengan mata terpejam, yang mana membuat wajahnya tampak lucu. "Ah, tapi sebelum ensembel nanti pasti aku sudah bisa menguasainya kok," tukasnya, "Yang penting aku memainkan musik dengan caraku sendiri dan aku yakin tidak akan kalah dari siapapun!" lanjutnya penuh percaya diri.

Seperti tergelitik oleh kepercayaan diri Naruto, Sasuke pun menjadi tidak mau kalah. Kemudian ia berkata "Baik! Aku anggap itu tantangan untukku."


"Akh!" Sasuke membenamkan diri pada ranjang yang empuk. Hari ini benar-benar hari yang melelahkan. Membantu Naruto adalah suatu perjuangan yang membutuhkan tenaga ekstra keras. Bayangkan saja, sebuah buku paranada yang masih kosong tak cukup untuk menyalin semua tugas-tugas Naruto.

Beruntung para sensei killer tak ada dalam daftar pembimbing seluruh kelas yang diambilnya. Yah, Anko-sensei pengecualian karena dia mengajar kelas wajib bagi seluruh siswa kelas tiga program musik. Walau demikian belum pernah ia melakukan sesuatu yang bisa membuatnya dihujani berbagai PR seperti itu, bahkan oleh Anko-sensei yang terkenal paling sensitif sekalipun.

Tok! Tok! Tok!

"Un?"

"Ini aku!" seseorang berseru dari balik pintu.

"Tidak dikunci." Sahut Sasuke. Kemudian terdengar suara kenop yang diputar, dilanjutkan suara berdecit dari pintu. Setelah itu pemuda Uchiha yang mirip dengannya namun lebih tua, masuk ke dalam. Rambutnya yang sangat panjang untuk ukuran lelaki diikat rapi ke belakang. Lalu ia duduk di kursi depan meja belajar yang terletak di sebelah tempat tidur persis.

"Kau kelihatan payah," kata Itachi melihat adiknya yang sudah merebah di ranjang walau petang belum ada sejam.

"Berisik… Apa maumu?" sahut Sasuke dengan nada datar. Itachi mengangkat bahunya.

"Tidak banyak," ia menjawab dengan diselingi sebuah jeda singkat, "Aku hanya ingin kau menyampaikan terima kasihku untuk juniorku yang manis." Lanjut Itachi.

"Haruno Sakura?" terka Sasuke seraya menatap kakaknya. Itachi mengangguk. "Sampaikan sendiri." Sasuke lalu mengalihkan pandangan dari pemuda yang berambut panjang.

"Aku tidak bisa. Aku harus pergi membantu ayah mengurusi perusahaan di New York mulai besok, sekalian mengumpulkan bahan untuk skripsiku."

"Besok?!" Sasuke agak terperangah dengan pengumuman tiba-tiba ini. Ia sama sekali tak diberi tahu atau bahkan mendengar rencana ini sebelumnya, "Mendadak sekali.." lanjutnya.

"Aku tahu. Tapi beberapa hari lalu ayah tiba-tiba meneleponku dan menyuruhku ke sana segera. Katanya desainer perusahaan baru saja mengundurkan diri karena pindah ke luar negeri. Padahal seharusnya imaje produk baru yang akan diluncurkan tahun depan harus jadi akhir bulan ini. Karena itu aku diminta menjadi kepala proyek untuk urusan itu." terang Itachi.

Sasuke mengangguk paham. Setahunya, membuat logo bagi sebuah produk komersil adalah bukan pekerjaan yang ringan. Selain nantinya dipatenkan, logo itu harus yang menarik dan mudah diingat oleh konsumen. Apalagi dengan perusahaan sebesar milik keluarganya, logo itu harus benar-benar bermutu. Pantas saja ayah yang harusnya tidak panikan itu sampai mengimpor calon desainer jenius langsung dari sini. Lama tak bertemu ayah ternyata belum berubah, masih saja hanya mempercayai Itachi untuk segala urusan yang penting yang sifatnya mendesak seperti ini.

Iri? Tentu saja. Ia kan orang yang kompetitif. Tapi walau begitu ia tahu bahwa urusan ini bukan bidangnya, jadi ia tak bisa sok ikut campur. Lain kali saja kalau perusahaan membutuhkan BGM untuk iklan produk.

"Ngomong-ngomong kau tidak takut atau kesepian karena tidak ada aku bukan?" celetuk Itachi, "Lagipula masih ada bibi yang mengurusimu."

"Tentu aku akan baik-baik saja, baka aniki!" jawab Sasuke sewot.

"Bagus kalau begitu." Itachi sedang akan beranjak ketika tiba-tiba Sasuke berkata "Ngomong-ngomong…"

Gerakan Itachi terhenti, kemudian mengalihkan pandangan kepada adiknya. "Apa?" tanyanya.

"Ah, tidak. Tidak begitu penting." Sasuke melambaikan sebelah tangannya. Tapi Itachi tidak terus pergi. Ia masih menanti kata-kata Sasuke karena adiknya itu doyan membuatnya penasaran. Ia berdiri di sana hingga Sasuke menyerah. "Baik, baik. Aku cuma mau tanya…"

"Bagaimana aku mengenal Sakura-kohai?" potong Itachi. Sasuke menaik turunkan sebelah alisnya, menandakan bahwa dugaan Itachi tepat.

"Well, aku sering diminta oleh sekolah untuk memberi bimbingan kalau aku sedang luang. Kemudian dia dipercayakan padaku untuk dibimbing sebelum ikut kompetisi melukis tingkat nasional tahun lalu. Setelah itu kami jadi akrab," terang Itachi.

Sasuke mengangguk kecil lalu membenamkan wajahnya di bantal lagi, mengira Itachi akan pergi setelah itu. Tapi tidak, pemuda Uchiha yang lebih tua itu justru menarik sebuah kursi dan mendudukinya dengan posisi berkebalikan, agar menghadap ke tempat tidur Sasuke. Kemudian ia menopangkan dagu di sebelah tangannya pada punggung kursi. "Hei, kau mau dengar ceritaku soal Sakura-kohai?" Itachi berkata.

"Tidak, terima kasih!" potong Sasuke tanpa berpikir dua kali. Tapi Itachi tak acuh dan terus melanjutkan,

"Dia benar-benar anak yang lucu, lho! Tahu tidak? Dia sering tertidur saat bimbinganku. Tapi karena sangat pintar, aku jadi susah memarahinya. Bahkan guru-guru pun mengaku kewalahan kalau harus adu argumen dengannya. Dia pintar sekali ngeles."

"Lalu?" Sasuke memotong ocehan kakaknya tumben-tumbenan lumayan panjang.

"Lalu ia juga susah dicari. Selalu datang dan pergi dengan cepat. Tak bertahan lama-lama di suatu tempat dan cuma muncul kalau ada perlu saja." terang Itachi lagi. Sementara itu Sasuke, walaupun tampak tak antusias mendengarkan, tapi dalam hati ia membenarkan perkataan kakaknya itu. Menurutnya Haruno Sakura memang memiliki ritmik yang agak cepat. Buktinya tempo lalu ketika di toko alat lukis, gadis itu berlalu dengan cepat bagai angin.

Kemudian terbentuk seringai yang benar-benar tipis di wajah pemuda itu, menunjukkan bahwa ia menjadi sedikit lebih memperhatikan pembicaraan itu daripada sebelumnya. Sedikit, sih. "Jadi?" lanjutnya bertanya.

"Siap-siap statusmu tergusur olehnya, ya!" sahut Itachi iseng. Wajah Sasuke berkerut.

"Ya, ya. Buang saja aku dan ambil anak itu sebagai adik barumu. Aku tidak keberatan kok!" balas Sasuke yang tensinya turun berkat guyonan tidak lucu kakaknya. Itachi yang gemas, mengacak-acak rambut adik satu-satunya itu. Sasuke yang risih membentak kesal, "Apaan sih!"

Itachi dengan senyum tertahan, kemudian meninggalkan tempat duduk dan adiknya yang merebah di ranjang. Saat ia mencapai ambang pintu Itachi berkata lagi, "Ah, jangan lupa ajak dia makan sebagai tanda terima kasihku. Kalau tidak, awas kau!"

"Hn.!" Sasuke mengerang kecil.


TBC


Score Book : buku partitur.

Wind kuintet : lima instrumen tiup dimainkan bersama-sama.

Sight Reading: memainkan komposisi langsung dengan membaca spontan.

BGM : Background Music.