Disclaimer: Kishimoto Masashi.


DRAP! DRAP! DRAP!

"Yang kanan atau yang kiri?"

"Yang kiri saja."

.

DRAP! DRAP! DRAP!

"Yang biru atau merah?"

"Biru–"

.

DRAP! DRAP! DRAP!

"Paspormu?"

"Ada di tasku."

.

DRAP! DRAP! DRAP!

"Kau yakin semua sudah dibawa?"

"Sudah."

.

"Kau..."

"Sasuke, sini sebentar," potong Itachi Uchiha untuk mengintervensi kesibukan adiknya. Ia yang baru saja selesai mengikat tali sepatu kemudian berdiri dan merapikan pakaiannya yang sedikit kusut. Sementara itu, Sasuke dengan patuh lalu mendekat pada kakaknya. Ketika jarak mereka hanya sejauh jangkauan tangan, Itachi lantas merapatkankan jari telunjuk serta jari tengahnya kemudian menggunakan mereka untuk mengetuk dahi sang adik.

"Itte!" seru Sasuke yang wajahnya berkerut, sambil mengusap bagian yang disentil kakaknya.

"Hmph!" Itachi menahan tawanya melihat wajah sang adik.

"Apa?"

"Aku yang mau pergi kenapa kau yang repot?" tanyanya.

Hari ini Itachi akan berangkat dengan penerbangan tujuan New York pukul 12.00 setelah menunda keberangkatannya sehari karena penerbangan kemarin ditunda akibat cuaca buruk. Dan entah mengapa Sasuke seketika berubah jadi adik bawel yang ingin memastikan bahwa keberangkatan kakaknya kali ini akan berjalan dengan lancar. Jadi sedari pagi ia memastikan bahwa tak ada satu hal pun yang mungkin terlewatkan oleh kakaknya dan itu sedikit banyak membuat Itachi geli melihat adiknya yang sibuk sendiri.

Ah. Rasanya dulu sering juga terjadi hal-hal seperti ini. Dulu sekali, Sasuke adalah adik manis yang selalu mengekor pada kakaknya. Kalau tidak salah, ketika Itachi akan berdarmawisata waktu kelas empat sekolah dasar, Sasuke yang waktu itu belum sekolah akan meributinya seharian. Hampir-hampir saja Itachi tidak jadi mengikuti acara itu kalau ayah dan ibu mereka tidak berhasil membujuk Sasuke dengan mengundang Naruto dan Hinata untuk main ke rumah agar perhatiannya teralih. Tapi itu benar-benar cerita zaman dulu.

Seiring usianya bertambah, Sasuke menjadi seseorang yang mandiri dan terampil. Ia sudah tak bergantung pada Itachi lagi. Malahan sebaliknya, Sasuke menjadi orang yang kompetitif. Ia ingin mengungguli kakaknya di semua bidang. Oleh karena itu, hal-hal kecil seperti ini seringkali membuat Itachi sangat rindu. Dan ia senang masih bisa mendapati sosok adik manis pada Sasuke, yang akhir-akhir ini hanya berkata dan berhubungan dengan orang lain seperlunya saja.

"Bantu aku mengangkut semuanya ke mobil!" perintah Itachi sambil menarik gagang sebuah koper berwarna cokelat yang paling besar. Ia lalu menggeretnya melewati pintu rumah, diikuti Sasuke yang membawa koper lain yang lebih kecil. Setelah meletakkan semua barang di bagasi, Sasuke mengunci pintu dan menyembunyikan kuncinya di bawah pot agar bibi pembantunya bisa masuk kalau sudah datang nanti.

Kemudian Itachi menancapkan gas saat Sasuke sudah selesai memasang sabuk pengamannya.

-

-

Menurut siaran radio yang mengabarkan kondisi jalan, akan terjadi kemacetan di beberapa ruas, terutama di jalan utama yang menuju bandara setidaknya untuk satu jam ke depan. Sementara itu dua pemuda Uchiha, walau tampang mereka kalem dan sikap mereka selalu tampak cool, tapi keduanya adalah orang yang tidak suka menunggu terlalu lama. Untuk menghindarinya, Itachi lantas membanting setir untuk mengambil jalan alternatif.

Ferarri sport berwarna hitam itu menyusuri jalan raya yang lumayan ramai. Itachi mengendarai mobil perlahan agar tak menabrak mobil di depannya yang hanya berselang jarak sekitar tiga meter. Walaupun ia sudah berusaha mengambil jalan memutar tapi tetap saja jalan yang diambilnya dalam kondisi padat merayap. Bagaimanapun ini adalah hari Minggu dan mereka sedang berada di waktu-waktu sibuk. Jadi mau tidak mau mereka harus sabar dan memaklumi kemacetan yang terjadi.

"Ah, itu kan..." gumam Itachi sambil memandang keluar mobil melalui kaca jendela di samping Sasuke. Sasuke yang penasaran ikut memperhatikan apapun yang kira-kira sedang diperhatikan kakaknya. Tapi ia tak melihat sesuatu yang janggal atau menarik di luar. Hanya ada pertokoan biasa.

"Ada apa?" tanyanya. Namun Itachi tidak lantas menjawab dan malah meminggirkan mobilnya ke kiri, kemudian berhenti setelah mundur beberapa meter tepat di depan kedai ramen yang bertuliskan Ichiraku di luarnya. Ia lantas memarkir mobil secara paralel lalu menurunkan kaca jendela miliknya. Sasuke baru berusaha memikirkan apa yang tengah dilakukan kakaknya sebelum Itachi berseru,

"Hei, adik kelas!!"

Kemudian seorang pelayan kedai itu menoleh dan menyahut dengan terkejut, "Itachi-senpai!!"

Sasuke baru bisa memahami semuanya ketika ia melihat seseorang yang tadi dipanggil kakaknya mendekat ke mobil mereka. Seseorang dengan mata hijau dan rambut merah muda sebahu.

"Apa yang kau lakukan di sini?" tanya Itachi pada adik kelasnya yang tak lain adalah Haruno Sakura. Gadis itu menunduk agar wajahnya sejajar dengan kaca mobil kemudian menjawab,

"Kalau hari Minggu, aku kerja di sini." Ujarnya sebelum ia memperhatikan keberadaan Sasuke di mobil itu, "Ah, ohayou!" sapanya ramah pada pemuda itu. Sasuke mengangguk kecil sebagai ganti balasannya.

"Lalu cafenya? Kau masih kerja di sana?" tanya Itachi.

"Masih. Hanya saja karena aku diberi libur setiap hari Minggu jadi aku kerja di sini," terang Sakura, "Ngomong-ngomong apa kalian sudah sarapan?" ia ganti bertanya.

"Belum," jawab Itachi yang kontan membuat alis Sasuke berkerut,

"Kak, bukannya tadi... itte!" timpal Sasuke sebelum pahanya diam-diam dicubit oleh Itachi yang hanya bisa diartikan bahwa kakaknya menyuruhnya diam mengenai hal itu.

"Aku rasa di depan masih ada tempat. Bagaimana kalau kalian mencoba menu super lezat kedai kami?" tawar Sakura.

"Ide yang bagus," jawab Itachi yang lantas memalingkan wajah pada adiknya, "–ayo, Sasuke!" ajaknya sambil memasang sebuah senyum yang Sasuke tahu bahwa itu menandakan kakaknya sedang tidak minta untuk dilawan. Sasuke menelan ludahnya. Sudah lama ia tak melihat Itachi seseram ini. Kemudian ia patuh saja dengan apa yang diperintahkan kakaknya. Hari itu kedai ramen sangat ramai. Pemiliknya terpaksa menggelar tenda di luar karena tempat di dalam sudah penuh dengan orang. Jadi, kedua pemuda Uchiha lantas duduk di kursi panjang yang berada di hadapan meja panjang bersama orang-orang lain yang juga tidak kebagian tempat di dalam.

"Hai, silahkan duduk." Kata Sakura. "Kalian mau pesan apa?" tanya gadis itu.

"Apa saja yang kau rekomendasikan untuk kami," jawab pemuda Uchiha yang lebih tua.

"Minumnya?"

"Teh saja."

"Dan..." Sakura menoleh ke arah Sasuke yang tampak kesal sambil berkata lirih.

"...jus tomat." Potong Sasuke sebelum gadis itu melanjutkan kalimatnya.

"Baiklah. Akan kupastikan yang terbaik untuk pelanggan yang baik," kata gadis itu kemudian ia masuk ke dalam kedai.

Setelah memastikan bahwa jarak gadis itu sudah cukup jauh untuk mendengar pembicaraan mereka, Sasuke akhirnya buka suara. "Kak, kau ini apa-apaan sih?! Pesawatmu– "

"Tenang saja. Kita masih punya tiga jam sebelum pesawatku berangkat. Itu waktu yang cukup." Sahut Itachi santai sambil melihat ke arah jam tangannya. Tak lama berselang gadis itu membawakan nampan yang berisi dua buah mangkuk berisi ramen, secangkir teh dan jus tomat. Sasuke agak terperangah melihat jus tomat yang ada di nampan itu. Dia tak menyangka akan bisa memesan jus tomat di kedai ramen. Padahal ia kira gadis itu akan datang dan meminta maaf karena tidak bisa menyediakan pesanannya, kemudian Sasuke punya cukup alasan meninggalkan tempat itu. Ini benar-benar mengagetkan.

"Ini dia, ramen kebanggaan kami!" seru gadis itu sambil menata bawaannya di meja. Kemudian Itachi mulai menyantap hidangan tersebut. Sasuke hanya terdiam menatap kakaknya yang terus makan dengan lahap setelah itu ia memutar kedua bola matanya.

Ooh. Siapa yang tadi pagi baru menghabiskan dua tangkap sandwich tuna ukuran besar ya?

Dilihatnya Itachi sedang melirik –melotot tepatnya, bergantian antara Sasuke dan mangkuk milik Sasuke. Sasuke mendesah paham, kemudian ia mulai mengambil sumpit dan dengan malas menjejalkan makanan itu ke dalam mulutnya.

Eh? Ini tidak buruk juga, pikir Sasuke. Pantas Naruto begitu menyukainya.

"Hei seniman rapi, sebenarnya kau mau pergi kemana?" Sakura yang menopangkan dagu, bertanya pada kakak kelas yang tengah sibuk dengan mienya.

"Amerika." Jawab Itachi.

"Seberapa lama?"

"Cukup lama, sepertinya."

"Ooo," Sakura membulatkan mulutnya.

"Hanya 'oo' saja?" protes Itachi.

"Memang kau berharap aku bagaimana?" tanya gadis itu sambil memasang cengiran iseng di wajahnya.

Sasuke memperhatikan ekspresi lain dari gadis itu sambil terus makan. Entah di bagian mana, gadis itu terasa sama sekali tak asing baginya. Meskipun hanya sepintas, tapi Sasuke yakin merasakan sesuatu yang bergejolak dalam memorinya saat ia melihat gadis itu. Seperti pernah bertemu jauh sebelum ini. Tapi itu hal yang mustahil, mengingat mereka baru berkenalan dan bertemu beberapa kali.

Terbersit pemikiran kalau ia pernah bertemu gadis yang merupakan adik kelas kakaknya itu secara tak sengaja di suatu tempat yang ia lupa. Kalau begitu, kemungkinannya besar bukan? Ya. Ini adalah hal yang masuk akal. Tapi sepertinya bukan begitu, karena hatinya langsung menyangkal teori tersebut. Gejolak yang ia rasakan melibatkan perasaan yang lebih kompleks. Tak sekedar seperti pernah melihat bertemu di suatu tempat secara tak sengaja. Gejolak itu lebih seperti menemukan sesuatu yang telah lama dicari. Apa ya?

Ah, mungkin inilah yang disebut orang-orang dengan istilah deja vu. Seperti pernah melihat sesuatu yang belum pernah dilihat sebelumnya. Atau mungkin gadis itu hanya mengingatkannya pada Naruto karena sifat mereka sedikit memiliki kemiripan. Terutama ekspresi isengnya barusan, yang kalau diperhatikan malah jadi semakin mirip. Walau tentu saja, kalau Naruto tidak sekedar berwajah iseng, tapi juga disertai dengan ulah iseng. Bagaimanapun dia adalah rajanya bikin onar. Sasuke kemudian tertawa di dalam hati mengingat kelakuan-kelakuan konyol yang pernah diperbuat Naruto.

"Sedikit terkejut atau bagaimanalah. Amerika itu sangat jauh, lho!" kata Itachi, langsung membuyarkan lamunan Sasuke yang semakin melantur.

"Aku tidak akan rindu padamu juga," sahut Sakura sambil memainkan kukunya.

"Lalu siapa yang dulu menangis seperti perempuan di hari terakhir bimbinganku?" Itachi melancarkan serangan yang menjatuhkan.

"Aku memang perempuan!" sahut Sakura.

"Sekarang berani bilang kau tidak rindu, hee? Kau pasti akan menyesal nanti." kata Itachi lagi.

"Baiklah kakak kelas, aku mengaku kalah. Kurasa aku akan sedikiiiit kangen padamu suatu saat nanti."

"Aku tahu aku selalu menang,"

"Wee.." Sakura menjulurkan lidahnya ke arah kakak kelasnya saat Itachi sudah bersiap untuk mengambil gambar gadis itu melalui kamera ponselnya dan, JEPRET!

"2-0!" kata pemuda itu dengan mata terpicing dan seringai penuh kemenangan.

"HIIIAAA!" seru gadis itu dengan suara yang melengking tinggi, "Kau curang! Berikan padaku!! Ayo hapus cepat!!" ia berusaha merebut ponsel Itachi untuk menghapus gambarnya tapi tidak berhasil.

"Tidak akan." Sahut Itachi. Kemudian Sakura yang kehabisan akal lantas berpaling pada Sasuke.

Sasuke yang sedang menyuap mienya, seketika terhenti saat menyadari tatapan memelas Sakura yang ditujukan padanya.

"Tolong aku..." pinta gadis itu.

Sasuke meletakkan garpunya dan menghela nafas, "Kak, berikan itu. Kau seperti anak SD, tahu!"

"Baiklah, baik..." Itachi memberikan ponselnya pada Sasuke kemudian Sasuke menghapuskan foto Sakura tadi. Setelah itu ia menunjukkannya pada Sakura agar gadis itu bisa tenang. Sasuke lantas mengembalikannya pada Itachi.

"Ngomong-ngomong, berapa nomor ponselmu? Aku belum punya," tanya pemuda Uchiha berambut panjang.

"0902-280392." Dikte Sakura sementara Itachi memasukkannya dalam contact list di ponselnya, "Aku memesan yang sama dengan tanggal lahirku." Lanjutnya lagi.

Uchiha Itachi lantas mencoba menelepon nomor itu untuk menguji apakah dia sudah memasukkannya dengan benar. Dan ponsel Sakura berbunyi. "Sepertinya sudah benar," gumamnya. Itachi kemudian melihat jam tangannya. Waktu menunjukkan bahwa penerbangannya kurang lebih satu jam lagi, "Oh! Sudah saatnya aku pergi. Kasir?"

"Sudahlah aku yang traktir. Jarang-jarang kita bertemu seperti ini, dan setelah bertemu kau malah pergi jauh." ujar Sakura.

"Tidak ada yang seperti itu dalam kamusku, nona."

"Oh baiklah Mr. Gentleman," Sakura mengedikkan kepalanya ke arah kedai, "Bayar saja pada kakak cantik yang ada di dalam."

Itachi pun masuk untuk membayar makanannya, meninggalkan Uchiha Sasuke dengan Sakura di luar. Suasanapun mendadak canggung. Tak ada yang berusaha untuk memulai percakapan. Sakura yang ikut kikuk menyibukkan dirinya dengan membereskan meja, sementara Sasuke berulang kali melirik ke jam tangannya. Tak lama Itachi keluar, membuat mereka tanpa sadar menghembuskan nafas lega.

"Kita berpisah di sini," Kata Itachi sebagai tanda perpisahan mereka. Setelah berjabat tangan, ia lantas beranjak sementara Sasuke masih berdiri di tempatnya untuk menunggu Itachi mengeluarkan mobil dari tempat parkir.

"Um..." gumam Sasuke tiba-tiba, "... terima kasih untuk yang waktu itu. Di toko," katanya pada gadis yang berdiri di sampingnya.

"Ah, lupakan saja yang seperti itu. Hal kecil juga..." sahut Sakura sambil menyelipkan rambut ke belakang telinga.

"Hei, Sasuke!" panggil Itachi pada adiknya. Sasuke beranjak ke mobil.

Sebelum ia berbalik meninggalkan gadis itu, tanpa sengaja pandangan mereka bertemu dalam satu garis lurus. Pemuda itu menarik sedikit salah satu ujung bibirnya ke atas. Memberikan seringai misterius yang mampu membuat gadis manapun lemas, termasuk Haruno Sakura.

"Sepertinya kita akan sering ketemu seperti ini," kata pemuda itu kemudian ia masuk ke mobil, "Ja ne."

Gadis itu mengangguk perlahan tanpa sanggup menatap ke arah si pemuda lagi. Kemudian kakak beradik Uchiha yang tampan itu pun berlalu.

.

.

.

"Apa aku boleh berharap...?"


TBC


AN:

Sekarang Itachi yang OOC. Kapan aku bisa bikin dengan becus ya?!! *merajam diri sendiri*

Halo minna, lama nggak ketemu. Maaf karena apdetnya lama. Alasan klasik, WB. Daaan... setelah kembali dari hiatus yang pajang, pertama aku memutuskan untuk sedikit merombak chapter sebelumnya dan mengurangi kadar OOC para karakter (terutama sekali Sasuke). Tapi apa aku sudah melakukan dengan benar? Kayaknya sih belum.

Btw, ada yang masih berminat baca fic ini nggak ya? *pesimis*