Disclaimer: Kishimoto Masashi.
Untuk mempermudah pembaca dalam membaca, berikut keterangannya: Font normal untuk yang sedang terjadi saat ini alias present. Font Italic berarti sudah lewat alias flash back. Sedangkan Italic Bold adalah monolog Sasuke waktu main piano, waktunya juga present.
Grand piano itu terletak di sebelah jendela sebesar dinding yang menghadap timur. Dari balik kaca jendela bersinar terang bulan purnama, kemudian terpantul pada sebuah sungai yang membelah Kota Konoha dengan airnya yang beriak.
Pemuda berambut hitam itu duduk di hadapan grand piano miliknya. Ia membuka tutupnya kemudian menekan sebuah tuts secara sembarang. Ia merasakan bunyi piano tersebut mengalun indah di ruangan itu. Pemuda itu lantas mengedarkan pandangan ke sekeliling. Tanpa sengaja ia melihat kepada pemandangan yang ada di luar jendela. Pemandangan itu mirip seperti yang sering dilukiskan dalam buku-buku yang ia baca. Tentang sebuah sonata bernama Moonlight.
Kemudian pemuda itu memosisikan kesepuluh jarinya lalu menyentuhkan mereka kepada puluhan tuts melodi yang ada di hadapannya.
-
Piano Sonata No. 14 in C-sharp minor Op. 27, No. 2.
Sonata yang diciptakan Beethoven tahun 1801 untuk muridnya, Countess Giulietta Guicciardi.
First movement: Adagio Sostenuto. Puisi yang tak terbahasakan.
-
"Itu observasi untuk rencana pindah jurusanmu, ya?" tegur pemuda berambut hitam sambil menyeringai pada seorang siswi yang tengah memanjat tangga untuk mengambil beberapa buku di perpustakaan yang letaknya lumayan tinggi.
"Hiia!" seru gadis itu terkejut karena ditegur tiba-tiba. Iapun menjatuhkan buku-buku yang diambilnya sehingga menimbulkan bunyi berdebam.
"Tolong jangan berisik!" kata penjaga perpustakaan pada mereka berdua yang dianggap sebagai biang keributan kecil itu.
"Ah, ini gara-gara kau," kata gadis itu mendesis, "Dan kau menjiplak kata-kataku!"
"Aku kan hanya bertanya," pemuda itu berdalih sambil mengangkat bahunya santai.
"Bicaranya di luar saja deh," kata gadis itu sambil mengumpulkan buku yang tercecer di lantai. Ia lantas pergi ke pustakawan untuk mencatatkan buku-buku yang ia pinjam. Pemuda itu pun melakukan hal serupa pada buku yang ia bawa. Setelah proses peminjaman beres, kedua murid itu kemudian melangkah keluar gedung perpustakaan sekolah.
Angin musim panas menerbangkan beberapa helai daun kering serta membuat rambut merah muda itu sedikit berkibar. Gadis itu menahan rambut menggunakan jemarinya sambil terus berjalan menuju sebuah kursi panjang yang ada di bawah pepohonan. Untung saja pepohonan itu tidak keburu gugur daunnya akibat penguapan, jadi setidaknya masih ada tempat bagi para murid yang lelah dengan hidup seperti dirinya untuk sekedar bernafas. Tanpa pikir panjang, ia menjatuhkan dirinya untuk duduk di tempat itu.
"Mau menjadi detektif atau sutradara yang membuat film detektif?" pemuda bermata onyx berjalan menghampiri dengan sebuah buku yang diapit di bawah lengan, sementara kedua tangannya dimasukkan ke dalam saku celana. Ia lantas duduk di samping gadis itu seraya menatap biru langit. Akhir-akhir ini frekuensi pertemuan mereka entah bagaimana menjadi cukup tinggi, baik itu di lorong, kantin, halaman sekolah, ataupun di jalan. Bahkan keduanya pernah terlambat pada hari yang sama. Karena itu sudah tidak terasa aneh lagi jika ia terlebih dulu menghampiri gadis itu ataupun sebaliknya.
"Lucu sekali. Siapa yang mau pindah jurusan?" Haruno Sakura membantah, "Ini kupinjam untuk tugas melukis." Katanya seraya menatap buku-buku novel edisi terjemahan yang ia pinjam dari perpustakaan. Sebuah karya fenomenal dari Sir Arthur Conan Doyle yang berjudul 'Sherlock Holmes'.
Uchiha Sasuke tidak perlu repot-repot bertanya lebih lanjut karena gadis itu sendiri yang bersedia menerangkan tanpa diminta, "Sensei-ku menyuruh kami untuk membuat sebuah ilustrasi dari karya lain yang sudah terkenal untuk tugas minggu ini. Dan aku memutuskan untuk mengilustrasikan sebuah adegan dari Sherlock Holmes."
"Sebuah adegan saja? Lalu kenapa kau meminjam sebanyak itu?" tanya Sasuke.
Sakura terkikik kecil kemudian menatap Sasuke, "Kurasa alasannya hampir sama denganmu bukan?" sahutnya membuat Sasuke menautkan kedua alisnya. "Itu tuh!" Sakura mengerling pada buku yang dibawa pemuda itu untuk menghapuskan kebingungannya. Sasuke ikut menatap buku yang ia bawa, yang mana tertulis Biografi Ludwig Van Beethoven (17 Desember 1770 – 26 Maret 1827).
Sekejab Sasuke dapat menarik kesimpulan bahwa gadis itu cerdas.
Second movement : Allegreto.
Suara yang cukup ganjil pada delapan bar pertama, yang dimulai dari 'kunci yang salah' A-flat major. Sonata ini diubah ke bentuk D-flat hanya pada frase ke dua, bar 5-10.
Franz Lizst menjelaskannya sebagai 'setangkai bunga di antara dua jurang'.
Sebenarnya apa yang coba diungkapkan Beethoven kepada Giulietta Guicciardi dengan bunyi yang terdengar ganjil ini?
"Aku meminjam sebanyak ini supaya aku bisa melukis dengan benar. Misalnya saja siapa sebenarnya Holmes itu, siapa orang yang selalu bersamanya, bagaimana lingkungan tempat tinggalnya, bagaimana dunia dalam sudut pandangnya, bahkan sampai detail terkecil seperti bagaimana cara ia memegang cerutu atau bagaimana caranya memegang dagu saat hampir memecahkan kasus. Aku harus tahu semua itu baru bisa melukiskan adegan yang kupilih semirip mungkin dengan deskripsi Conan Doyle. Dan yang terbaik tidak akan kudapatkan kalau hanya mendalaminya sepotong-sepotong. Aku belajar kalau melukis tidak harus seperti harapan kita. Terkadang harus memperhatikan juga apa yang ada, terutama dalam kehidupan ini." Terang gadis bermata zamrud panjang lebar.
"Menurutmu bagaimana kehidupan itu?"
"Pertanyaan yang sulit. Hm– Aku pernah makan strawberry yang masam, pernah terjatuh di ujung jalan yang berlubang dan juga menemukan anak kucing yang mati kelaparan. Padahal yang kita umumnya harapkan adalah strawberry rasanya sangat enak dan manis, jalan yang kita lalui lancar dan akan selalu ada yang memungut anak kucing yang lucu. Tapi persepsi itu ternyata salah, jadi aku mulai melihat dari sisi yang lainnya. Aku mencoba untuk lebih realistis,"
Dari penjelasan panjang gadis itu, Sasuke tahu bahwa penilaiannya tidak salah. Sementara berpikir begitu, ia terus memperhatikan gadis itu bicara.
" Dan ketika aku memperhatikan lebih banyak lagi, aku menemukan sebuah fakta yang mencengangkan."
"Apa itu?" tanya Sasuke penasaran.
"Kelopak mataku yang kanan dan kiri ternyata tidak seratus persen sama! Ini membuatku sangat terkejut lho!" kata Sakura dengan ekspresi yang lucu, membuat Sasuke tak bisa menahan tawa karena topik yang tiba-tiba melenceng.
"Kau orang yang aneh!" Kata Sasuke setelah ia merasa cukup dengan tawanya.
"Aku tidak aneh. Kehidupanlah yang aneh." Tukas gadis itu.
"Benar. Itu juga aneh."
"Iya kan?"
"Tapi kau lebih aneh."
"TIDAK! Pokoknya aku tidak aneh!"
Thrid movement: Presto Agitato. In C-sharp minor.
Merupakan klimaks dari Sonata ini. Bagian yang paling emosional dan tak terkendali. Terdapat banyak arpeggio dan notasi yang memiliki tekanan bunyi yang kuat.
"Aku hanya merasakan apa sesungguhnya kehidupan itu." Gadis berambut merah muda itu berkata lagi setelah jeda yang lumayan lama, "Kupikir kehidupanku akan menjadi biasa seperti yang lain, tapi setelah kujalani ternyata itu di luar dugaanku."
"Apa hidupmu sulit?" tanya Sasuke menyelidik.
"Lumayan juga." Jawab Sakura enteng membuat Sasuke agak menyangsikan jawaban itu, "Kurasa kami memiliki cukup banyak persamaan."
"Kami?"
"Aku dan Beethoven." Sakura mengerling sekejap pada pemuda itu sambil melanjutkan kalimatnya, "Dalam beberapa poin kami memiliki kesulitan yang sama, walaupun kuakui hidupnya jauh lebih susah dariku." kata Sakura yang masih menerangkannya dengan intonasi ringan, seolah tak ada apa-apa. "Kau tahu apa yang paling mirip di antara kami?" Ia memalingkan pandangan pada pemuda yang duduk di sampingnya.
Sasuke menggeleng perlahan
"Quasi una fantasia," jawab gadis itu dengan pandangan menerawang ke angkasa.
.
'Quasi una fantasia'
Apa maksudnya Beethoven mencantumkan frasa ini pada Moonlight?
Sebenarnya apa yang kau rasakan ketika itu –hei, Beethoven?
Apa kau marah pada Giulietta? Atau merasa kecewa?
Atau – ah entahlah, aku tidak begitu mengerti perasaaan yang seperti itu.
Mungkin dia akan lebih mengerti kau daripada aku.
Tapi sebenarnya yang paling tidak bisa kupahami adalah dia.
"Mungkin benar aku harus lebih banyak melihat," gumam Sasuke setelah memainkan melodi terakhir dari Sonata yang ia mainkan sambil menatap langit-langit.
"Melihat apa?"
"Bukan melihat sih, tepatnya memperhatikan." Kata Sasuke meralat kalimatnya agar terdengar seperti yang dikatakan Sakura kepadanya siang tadi. Namun sekejap kemudian lamunannya buyar karena menyadari ada yang mengajaknya bicara barusan. Saking terkejutnya, pemuda itupun terjungkal ke belakang sambil berseru, "Huwa!"
Setelah berusaha memosisikan tubuhnya dengan benar, dilihatnya seorang pemuda berambut pirang yang sudah duduk dengan nyaman di sofa dekat piano sambil membawa sebuah bungkusan besar, "Naruto, kapan kau datang?!" seru Sasuke pada sahabatnya itu.
"Barusan ketika kau selesai main. Pintu tidak dikunci jadi aku masuk saja," sahut Naruto ringan, sama sekali tidak merasa bersalah karena pemunculannya yang tiba-tiba membuat jantung Sasuke seperti akan meloncat keluar.
"Apa bel rumahku bermasalah? Kau membuatku kaget tahu!" tegur Sasuke sambil berusaha membuat jantungnya berdetak selambat sebelumnya.
"Bukan belnya yang bermasalah tapi kau! Aku sudah menekannya berkali-kali tapi kau tidak dengar!" tukas Naruto.
"Oh," timpal Sasuke cepat. Ia memang sering tidak dengar yang lain jika sudah berhadapan dengan piano, "Apa itu yang kau bawa?" ia lantas mengalihkan topik.
"Dulu aku janji mentraktirmu ramen, jadi aku membeli ini di warung ramen langgananku. Aku jamin ini enak sekali lho! Lagipula kau pasti belum makan, bukan?" kata Naruto yang kemudian duduk di lantai untuk menuangkan ramen ke dalam mangkuk plastik.
"Memang belum sih," sahut Sasuke yang lantas beranjak meninggalkan pianonya dan duduk di samping Naruto. Dan kedua pemuda itupun menutup hari mereka dengan dua mangkuk ramen.
"Ah! Ramen Ichiraku memang yang paling lezat!" seru Naruto sambil terus menyuap.
"Sebentar, kau beli di Ichiraku?" tanya Sasuke.
"Iya. Aku lumayan sering ke sana."
"Apa… di sana kau bertemu seseorang?"
"Tentu saja! Seorang paman dan kakak berambut cokelat yang sangat cantik. Juga pengunjung yang lain. Memangnya kenapa?"
"Ah tidak." Elak Sasuke. Benar juga, ini kan bukan hari Minggu. Dia tidak sedang kerja di sana, kata Sasuke dalam hati. Eh, tunggu! Buat apa aku memikirkan hal itu? Kemudian ia mempercepat makannya untuk mengenyahkan pikiran yang menurutnya semakin melantur.
Namun ternyata secepat apapun ia, tetap saja kalah cepat dengan Naruto. Pemuda bermata biru itu bahkan sudah membuang mangkuknya di tempat sampah dan kembali untuk tiduran di lantai. Naruto memperhatikan beberapa buku yang tergeletak di atas meja. Ia lantas mengambil semuanya.
"Buku apa ini? Biografi Beethoven, Mozart, Liszt, Chopin…" gumamnya sambil melihat semua judul buku-buku itu.
"Walau tulisannya Chopin tapi cara bacanya Syopang." Potong Sasuke membenahi lafal Naruto yang keliru.
"Kau juga mempelajari yang seperti ini? Ini kan sama saja seperti belajar sejarah! Membosankan,"
"Kau tahu Sonata Beethoven yang berjudul Fur Elise?" tanya Sasuke pada Naruto, sementara pemuda berambut pirang itu mengangguk. "Kau tahu tidak siapa Elise yang dimaksud?"
"Kekasihnya, mungkin!" jawab Naruto sekenanya.
"Sebenarnya tidak ada yang tahu siapa Elise yang dimaksud Beethoven. Tapi para ahli menduga kalau judul asli lagu itu adalah Fur Therese, merujuk pada seorang wanita bernama Therese yang dicintai oleh Beethoven. Perubahan kunci dalam Sonata dari E –Eb –E, yang mana juga dibaca E – Es –E. Ini kemungkinan semacam kode dalam nama ThErESE. Atau juga EliSE. Ketika kita bisa mendalami komposisi yang kita mainkan, maka tidak akan ada kesalahan dalam menginterpretasi lagu. Mempelajari itu bukankah sesuatu hal yang menarik?"
"Memang menarik!" sahut Naruto, "…tapi aku tidak begitu mengerti." Lanjutnya dengan jawaban yang membuat pelipis Sasuke berdenyut.
"Sebenarnya apa sih arti musik buatmu?" Sasuke menghela nafas panjang.
"Hm– aku tidak pernah memikirkan hal yang serumit itu…" jawab Naruto.
"Begini…" Sasuke mengedarkan pandangan untuk mengambil contoh termudah yang bisa dimengerti oleh Naruto. Pandangannya tak sengaja tertuju pada mangkuk ramennya. Ramen, itu dia… "Naruto, ramen ini lezat bukan?"
"Tentu saja! Ini karena paman Ichiraku adalah koki ramen yang terhebat!" timpal Naruto bangga.
"Apa paman cuma bisa membuat satu jenis ini saja yang enak?" Sasuke semakin mengarahkan pertanyaan.
"Tidak! Paman bisa membuat yang lain sama enaknya dengan yang ini!" tukas Naruto.
"Lalu apa paman tidak pernah salah waktu membuat campuran ramen?" Sasuke melemparkan umpan dengan hati-hati.
"Tidak pernah! Kan sudah kubilang kalau paman Ichiraku itu koki ramen yang paling hebat!" jawab Naruto yang mulai terpancing.
"Mengapa dia yang paling hebat?"
"Soalnya paman itu tahu segalanya soal ramen!!! Arrrgh!!!" Naruto menjawab sambil berteriak frustasi karena pertanyaan Sasuke yang semakin tidak ia mengerti.
"Itu dia!! Itu dia!!" seru Sasuke seolah baru memenangkan undian berhadiah, "Apa kau mengerti sekarang?"
"Mengerti apa?"
"Untuk membuat ramen yang lezat kau harus tahu segalanya tentang ramen, bukan?!" kata Sasuke berapi-api sementara Naruto mengangguk-angguk, "Begitu juga dengan musik! Ini sebenarnya hal sesederhana itu!" lanjut Sasuke lagi membuat Naruto menyadari sesuatu.
"Benar juga! Paman tidak mencampurkan natto ke dalam ramen karena dia tahu itu tidak mungkin. Itu karena dia tahu Sasuke, dia tahu!" Naruto menjerit tidak percaya sambil mengambil permisalan yang ekstrem, kemudian ia mengguncang-guncang tubuh Sasuke, "Musik juga –kalau aku belajar semuanya maka aku akan tahu kenapa Beethoven lebih memilih Elise daripada Therese yang jelas-jelas ia cintai!"
"Ng… sebenarnya kau ini memakai pendekatan apa sih?" komentar Sasuke, tapi Naruto tidak mendengarkan. Ia terlampau senang karena telah menemukan sesuatu yang menurutnya sangat luar biasa. Ia langsung berkutat pada buku-buku yang ia pegang.
Sasuke langsung menjatuhkan tubuhnya ke sofa. Lelah sekali rasanya berusaha membuat Naruto memahami yang ia katakan. Bagaimana tidak? Uchiha Sasuke adalah seorang jenius yang terbiasa dengan pola berpikir cepat dan kompleks. Tapi ia harus menempuh jalan terpanjang dan harus mengubah hal yang paling rumit menjadi hal paling sederhana hanya demi menerangkan suatu hal pada Naruto. Ia yang biasanya bersikap tenang pun bisa menjadi lepas kendali seperti barusan.
"Ah iya. Akhir pekan ini ada festival musim panas di Konoha Central Park. Hinata-chan mau kita bertiga pergi kesana," kata Naruto.
"Hn."
"Yah, keluar lagi Hn menyebalkanmu itu. Padahal akhir-akhir ini sudah jarang begitu."
"Hn," sahut Sasuke lagi.
"Ngomong-ngomong soal festival, kenapa waktu musim panas sekolah kita tidak ada libur ya? Dasar pelit!" oceh Naruto asal yang tanpa disangka akan ditimpali Sasuke,
"Sekolah musim panas bagus juga." Kata pemuda berambut hitam itu membuat rasa ingin tahu Naruto tergelitik.
"Hei, apa ada yang membuatmu senang akhir-akhir ini?" goda Naruto dengan cengiran isengnya sambil menyolek pipi Sasuke, "Sepertinya wajahmu jadi lebih sedikit niat,"
Sasuke yang merasa terganggu dengan ulah dan terutama wajah menyebalkan Naruto, memukulnya dengan bantal sofa. "Hentikan!"
"Apa ini? Ini pemberontakan! Tidak bisa dimaafkan!" seru Naruto yang kemudian membalas pukulan Sasuke dengan perlakuan serupa, yang dibalas lagi oleh Sasuke kemudian dikembalikan lagi oleh Naruto. Dan acara saling serang itupun berlangsung hingga mereka jatuh tertidur.
Malam itu langit sangat cerah. Bulan melingkar dengan sempurna di atas sungai yang membelah kota Konoha. Bulan itu mungkin tidak seperti yang terlihat dari Swiss, dan sungai Konoha juga bukanlah Danau Lucerne. Namun persamaan dari kedua tempat itu adalah fenomena sinar bulan yang terpantul pada riak-riak air.
TBC
Adagio: slow and stately (literally, "at ease") (66–76 bpm)
Sostenuto: sustained, sometimes with a slackening of tempo
Allegreto: moderately fast
Presto: very fast (168–200 bpm)
Agitato: agitated, with implied quickness
Arpeggio: broken chord where the notes are played or sung in sequence, one after the other, rather than ringing out simultaneously
Bpm: beats per minute
Quasi una fantasia : Almost a fantasy
-
AN:
Bagi yang tidak tahu, Beethoven ditolak oleh Giulietta, jadi silahkan rangkai sendiri kalimat-kalimat di atas *dibantai*. Fiuh! Chapter yang membingungkan. Alurnya maju-mundur nggak jelas. Aku juga nggak begitu jelas dengan paragraf terakhir. Dan yang terpenting adalah buku catatan musikku hilang entah kemana sehingga aku nggak bisa memberi keterangan seperti seharusnya. Jadi supaya penjelasannya tidak ada kesalahan, aku ambil dari wikipedia sama seperti aslinya. Tapi kalau masih ada salah-salah tolong dikoreksi.
