Disclaimer : Tite Kubo
Author :
Chap 2: Blood Axe
Kami semua sangat terpukul akibat kejadian ini. Mimpi itu, mimpi buruk itu. Apa akan jadi kenyataan? Hei tunggu, hanya Yamamoto yang tidak ada di sini. Dimana dia? Kapak itu, kapak milik Yamamoto.
"Hei, lihat kapak itu! Kita tahu milik siapa itu. Dimana Yamamoto sekarang? Apa dia melarikan diri?", tanyaku curiga.
"Apa maksudmu Renji? Kau pikir Yamamoto yang dengan keji membunuh Rangiku?", tegas Rukia yang sedikit membela Yamamoto.
"Kita memang tidak memiliki bukti yang cukup untuk bilang Yamamoto adalah pelaku semua ini.", sambut Ichigo.
"Kapak itu. Kalian tahu itu adalah miliknya. Dan dimana dia sekarang? Pasti dia melarikan diri. Sebaiknya kita lapor polisi sebelum pelakunya jauh dari sini." Aku bermaksud untuk melaporkan semua ini kepada pihak yang berwajib.
Tiba-tiba suara berat dan rada serak seperti kakek-kakek itu muncul di tengah kegalauan kami.
"Ada apa ini? Mengapa malam-malam kalian semua malah berkeliaran di luar?" Grimmjow yang paling tidak bisa terima semua ini langsung saja menghampiri Yamamoto dan langsung memukulnya hingga dia tersungkur.
"Kenapa kau bunuh pacarku kakek tua?!", dengan lantang kalimat itu keluar dari mulut Grimmjow.
"Hei, joker! Apa-apaan kau main pukul saja? Aku tahu kau sangat terpukul. Kami semua terpukul akibat kejadian ini. Tapi kita tidak ada bukti yang cukup untuk menuduh siapa pelakunya.". Rukia menghampiri Yamamoto yang tersungkur akibat pukulan telak dari Grimmjow.
Untungnya dia laki-laki tua yang kuat hingga tidak terlalu parah akibat pukulan itu. Dengan bantuan Rukia dia berdiri dengan sedikit darah yang keluar dari hidungnya. Aku masuk ke dalam vila bermaksud melaporkan kejahatan ini kepada polisi. Tapi yang terjadi hanya sia-sia. Karena telepon yang ada di vila tidak bisa digunakan akibat ulah pembunuh itu juga yang dengan sengaja merusak telepon di vila. Vila ini terlalu jauh dari pusat kota. Apalagi tempatnya di pedalaman yang terpencil. Sial, sungguh sial kami terjebak di sini dengan pembunuh kejam. Tapi siapa, siapa yang tega membunuh Rangiku? Apa benar Yamamoto? Kalau benar, atas alasan apa dia membunuh Rangiku? Apa dia punya dendam dengan Rangiku? Tunggu, kejadian tadi sore saat Yamamoto menegur Rangiku, ia dimaki-maki oleh Rangiku. Apa mungkin karena kejadian itu? Aku harus menyelidikinya.
"Hei, semua. Telepon vila rusak. Sepertinya sngaja dirusak oleh pembunuh itu." Kalimatku membuat mereka semakin panik.
Ku lihat Orihime hanya bisa menangis. Aku ingin aku yang dipeluk Orihime, bukan Ishida. Sial, kenapa aku ini? Di tengah kegalauan ini aku masih saja cemburu begitu.
"Siaaalllll!! Sialll sekali kita. Tidak ada yang bisa kita lakukan.", penyesalan itu keluar dari mulut Toshirou.
"Hei, diam kau! Jangan membuat kita semua tambah panik. Pasti ada cara untuk keluar dari semua ini.", Ikakku coba membuat keadaan sedikit tenang.
"Sebaiknya kita semua masuk dulu ke dalam vila.", ajak Ichigo.
"Kita harus pergi secepatnya dari tempat ini.", ucap Toshirou memulai pembicaraan.
"Sebentar lagi sang fajar akan menuju ufuk timur. Kita bisa langsung pergi dari sini.", lanjut Toshirou.
"Kau ingin merusak rencana liburan kita? Apa maksudmu vila ini tidak aman?", sahut Rukia yang tersinggung akibat ucapan Toshirou.
"Kalau mau pergi, pergi saja sendiri.", ucap Rukia dengan kesal.
"Baik, pagi ini juga aku akan pergi dari tempat ini. Mungkin pembunuhnya sudah memutuskan giliran siapa berikutnya di antara kalian. ", ucap Toshirou.
"Siapa yang mau ikut aku?", lanjutnya.
"Hei, kau tidak bisa pergi begitu saja bodoh!", Ikakku mencegah Toshirou.
"kenapa? Aku sudah muak dengan ini semua? Kenapa kau tidak ikut denganku?", sahut Toshirou.
"Kita tidak bisa berpencar intuk saat ini. Kita harus bersama-sama sampaiā¦", belum selesai kalimat Ikakku terucap, Toshirou memotongnya "Sampai kita semua mati begitu?" Tinju kerasku mendarat di muka Toshirou.
"Apa-apaan kau Renji main pukul wajahku? Sakit tau."
"Benar apa kata Ikakku. Kita harus terus bersama-sama sampai pulang nanti." Aku mencoba menahan Toshirou.
"Untuk apa lagi kita menunggu? Untuk melihat korban berikutnya?".
"Tentu saja untuk mengetahui siapa pelaku semua ini", tegasku.
"Aku akan tetap pergi. Jadi kalian tidak usah lagi melarangku.", sambil berlalu ia mengucapkan kalimat itu.
"Hei, Rukia. Dimana Yamamoto?", tanyaku untuk memastikan dia tidak berkeliaraan, karena sampai saat ini aku memang curiga dengannya.
"Dia di kamarnya. Aku kasihan melihat luka memar di wajahnya akibat pukulan Grimmjow. Jadi ku biarkan di istirahat.", jawab Rukia.
"Ya, sebaiknya kita istirahat saja.", ajak Ikakku.
Saat kami mulai sedikit tenang dan beranjak ke kamar, lagi-lagi terdengar jeritan panjang. Kami semua keluar dan berlari ke tengah hutan dimana sumber jeritan panjang itu terdengar. Ternyata itu jeritan kematian dari Toshirou. Lagi-lagi kapak itu. Kapak yang digunakan untuk membunuh Rangiku. Luka yang sama pada tubuh Toshirou. Darah yang melumuri sekujur tubuhnya. Dimana Yamamoto? Itu yang terlintas di benakku pertama kali. Karena saat itu memang Yamamoto tidak ada di tempat ini. Tapi kenapa? Apa alasan dia membunuh Toshirou. Apa dia takut Toshirou akan melaporkan kejadian ini ke polisi begitu sampai di kota? Aku segera berlari ke vila, ke tempat Yamamoto istirahat tadi.
"Hei Renji! Mau kemana kau?", tanya Ichigo.
"Aku ingin mencari Yamamoto di kamarnya.", jawabku.
"Tunggu, biar aku ikut!", pinta Ichigo.
Aku dan korosaki segera berlari ke tempat dimana Yamamoto beristirahat. Kapak itu, bagaimana bisa digunakan lagi untuk membunuh Toshirou? Saat tiba di kamar Yamamoto, kami tidak dapati dia ada di kamarnya. Dimana Yamamoto? Memang dia pelaku pembunuhan ini.
"Dimana Yamamoto?", tanyaku heran pada Ichigo.
"Hei, ada apa kalian mencariku?", sahut Yamamoto yang tiba-tiba entah dari mana.
"Darimana kau, kakek tua?", tanyaku kesal.
"Aku dari belakang.", jawabnya.
Gila. Semakin gila saja keadaan ini. Rangiku dan Toshirou telah dibunuh dengan cara yang sama. Siapa lagi yang menjadi korban berikutnya.
"Hei, Ichigo. Sebaiknya kau awasi kakek tua ini. Aku ingin meyusul yang lain. Aku tidak mau ada korban ke-tiga dan seterusnya." , segera ku susul mereka di tengah hutan.
Mentari sudah menunjukan jati dirinya. Kini mulai terlihat indahnya vila itu dengan jelas di bawah sinar mentari. Kami semua masuk ke vila. Pembunuh itu tidak mungkin melakukan aksinya saat matahari bersandar di langit. Kami tidak tahu apa yang harus kami lakukan. Tidak mungkin pulang hari ini. Karena kotak berjalan yang mengantar kami kemarin baru tiba lagi besok siang. Jadi hari ini kami harus tetap di vila untuk menunggu saatnya pulang. Mudah-mudahan tidak ada lagi pembunuhan. Dan hari ini aku akan mengawasi sepenuhnya si kakek tua itu. Sepanjang hari hanya kesunyian yang terlihat dalam vila itu. Ikakku yang menyusul Grimmjow untuk menenangkan diri dengan berburu binatang. Ichigo dan Ishida entah kemana. Karena mereka tidak bersama kekasihnya yang dari tadi hanya di vila karena masih teringat pembunuhan itu. Sedangkan aku, aku malah sibuk mengawasi si kakek tua ini. Sungguh membosankan mengawasi kakek tua ini. Karena kebiasaan-kebiasaan anehnya yang sering membuatku bosan. Beginikah kehidupan kakek tua? Tentunya mungkin selain membunuh. Tapi aku harus tetap mengawasi si kakek tua ini agar tidak ada lagi pembunuhan. Mentari sudah tergelincir ke ufuk barat. Langit senja semakin indah warna orangenya. Tapi tidak ada kelakuan aneh dari si kakek tua ini. Apa karena dia tahu sedang ku awasi? Sudah sore begini kenapa yang lain belum kelihatan ya? Dimana Grimmjow dan Ikakku? Sedangkan Ichigo dan Ishida baru saja pulang entah dari mana.
Malam sudah mulai larut. Grimmjow dan Ikakku belum juga pulang. Kami mulai khawatir pada mereka. Kami sengaja menunggu mereka pulang di ruang tengah. Karena kami harus terus bersama-sama. Karena hanya sebentar lagi mungkin pembunuh itu melakukan aksinya. Tidak, aku harus mengawasi Yamamoto.
"Hei, aku ke belakang sebentar ya. Ada orang yang harus ku awasi.", ucapku pada mereka.
"Mau kemana kau Renji?", tanya Ichigo. Belum sempat menjawab, "aku ikut ya.", lanjutnya.
"kalian tetap bersama kemana-mana sendiri.", tegasku pada Orihime, Rukia dan Ishida.
Tapi kali ini kami tidak susah mencari Yamamoto. Karena memang ada di kamarnya. Apa dia pura-pura tidur karena dia tahu sedang diawasi? Terdengar suara benda jatuh dengan keras dari depan vila. Aku pastikan Yamamoto ada di tempat. Aku dan Ichigo langsung berlari ke ruang tengah.
"Dimana Orihime?", tanyaku panik.
"Dia ke kamar mandi.", jawab Rukia.
Aku menyusul Ichigo yang lebih dulu ke depan vila. Sekarang kami tahu bunyi benda yang terjatuh keras tadi. Pembunuhan yang entah kapan berlangsungnya. Mayat Ikakku dan Grimmjow yang jatuh dari pohon. Jasadnya yang sengaja diikatkan di batang pohon besar depan vila. Tidak mungkin Yamamoto. Karena daritadi aku terus mengawasi dia dan ku pastikan dia berada di kamarnya. Sial. Dugaanku selama ini salah. Aku mengawasi orang yang salah. Siapa pelakunya? Siapa sebenarnya pembunuhnya? Apa benar orang yang sama dengan pembunuh Rangiku dan Toshirou? Sial. Siaaal. Orihime.. Orihime tadi ke kamar mandi. Aku berlari ke belakang, ke kamar mandi belakang. Pintu kamar mandi tertutup. Ku panggil Orihime yang ku yakin ada di dalam. Tak ada suara yang menjawab. Ku dapati darah mengalir dari bawah pintu dan berasal dari dalam kamar mandi. Perasaanku semakin galau. Aku takut jika benar-benar harus kehilangan Orihime. Langsung saja ku dobrak pintu kamar mandi tanpa permisi lagi. Badanku lemas rasanya. Sekujur tubuh serasa kaku. Aku menangis. Mimpiku, mimpi burukku benar-benar terjadi.
To Be Continue
Makasih buat yang udah R&R. Mudah-mudahan lebih baik ceritanya.
