Confused Heart
Part 2: Again
Bleach punya om Tite Kubo
Confused Heart punya aya^^
Pairing: HitsuRuki, HitsuHina, IchiRuki
Okkk..
Selamat membaca^^
R&R ya….
Confused Heart
Part 2: Again
Aku memandang kepergian Rukia. Kenapa ya, rasanya aku sudah lama mengenalnya? Ah, masa bodoh. Lagipula untuk apa memusingkan hal itu. Aku melirik novel di tanganku, 'Confused Heart'. Tidak ada salahnya aku meminjam novel ini. Aku menuju meja petugas perpustakaan untuk meminjam novel ini.
"Saya ingin meminjam novel ini, Pak," ucapku.
"Baik, kalau begitu tunjukkan kartu anggota Anda," ucap petugas perpus itu.
"Ini," ucapkan sambil menyerahkan kartu anggotaku.
"Baik, batas peminjamannya seminggu. Harap dijaga dengan baik ya," ucap petugas itu.
"Baik Pak," ucapku. Aku pun meninggalkan perpustakaan umum itu dan berjalan pulang.
Hah.. Bukannya berkencan dengan Momo, aku malah menghabiskan waktuku seharian di perpustakaan umum. Tapi aku senang bisa bertemu dengan Rukia. Apalagi melihat senyum dan tawanya. Tanpa sadar aku pun tersenyum saat mengingat hal itu.
Aduh! Aku ini apa-apaan sih!! Aku menepuk-nepuk kedua pipiku. Sadarlah Toushirou! Aku tidak boleh terus-terusan memikirkan Rukia!! Ingat, kau sudah punya Momo!! Tapi sekeras apa pun aku menepis bayangan Rukia, entah kenapa tawa dan senyumnya selalu berputar-putar di otakku. Arggghhh….!!
"Aku pulang," ucapku saat sampai di rumah.
"Loh Shirou, Momo mana?" tanya Rangiku nee padaku.
"Momo?" aku menaikkan sebelah alisku karena tidak mengerti maksud dari pertanyaannya.
"Iya, tadi Momo ke sini mencarimu. Ku bilang kau sudah pergi ke untuk berkencan dengannya. Lalu dia bilang, dia akan menyusulmu. Mmm.. ke Taman Bermain Karakura kalau tidak salah," ucap Rangiku nee yang sukses membuatku terkejut.
"Apa?! Jadi Momo menyusulku?! Sejak kapan?"
"Sejak 3 jam yang lalu kalau tidak salah," ucap Rangiku nee yang semakin membuatku terkejut.
"Aku pergi," seruku sambil langsung ke luar rumah dan menuju Taman Bermain Karakura.
"Hei, kau mau kemana lagi?" aku tidak memedulikan teriakan Rangiku nee. Aku terus berlari menuju Taman Bermain Karakura.
Bodoh! Aku sudah membiarkan Momo menunggu 3 jam! Pacar macam apa aku ini?! Sial! Kalau saja tadi aku langsung pulang ke rumah, pasti aku akan bertemu dengan Momo! Tapi itu berarti aku tidak akan bertemu dengan Rukia. Arghhh…!! Ini bukan saatnya memikirkan Rukia! Arghh.. kenapa Taman Bermain Karakura selalu terasa jauh sih, di saat aku benar-benar ingin ke sana?!
Akhirnya aku sampai di Taman Bermain Karakura, aku lalu berlari menuju Kincir Angin Cinta. Mataku langsung mencari sosok Momo. Ketemu! Aku melihat Momo sedang duduk di bangku yang tersedia di samping wahana Kincir Angin Cinta. Momo menyadari kedatanganku dan berdiri menyambutku. Aku langsung menujunya.
"Momo, maafkan aku," ucapku sambil menatap matanya. Mata hazel yang selama ini ku cintai.
"Shirou chan tidak salah, untuk apa meminta maaf?" tanya Momo sambil tersenyum.
"Maaf, kau jadi menungguku di sini," ucapku merasa bersalah.
"Tidak apa-apa ko, aku yakin pasti Shirou chan akan tetap ke sini. Makanya, aku terus menunggu sampai Shirou chan datang," ucap Momo. Cih, aku memang benar-benar bodoh! Membiarkan Momo menunggu sendirian di sini.
"Kau sudah menungguku berapa lama?" tanyaku.
"3 jam," ucap Momo sambil tersenyum.
"Momo, aku.." aku tidak tahu apa yang harus aku katakan. Aku telah mengecewakan Momo hari ini. Membiarkannya menunggu 3 jam. Arghhh.. aku memang bodoh!
"Sudah Shirou chan, aku tidak apa-apa. Kau datang saja, aku sudah sangat senang."
"Mmm.. maaf, saat kau bilang tidak bisa datang hari ini, aku memutuskan untuk pergi ke perpustakaan umum," ucapku jujur.
"Iya, aku tidak mempermasalahkan itu," ucap Momo.
"Oh iya Momo, bukankah tadi di telepon kau bilang akan menghadiri wisuda Tobiume nee?" tanyaku.
"Iya, tapi aku pulang duluan. Aku tidak ingin mengecewakanmu. Aku ingin menghabiskan hari ini denganmu, seperti janjiku minggu lalu," ucap Momo. Aku semakin merasa bersalah pada Momo.
Aku memandang Momo. Gadis yang membuatku jatuh hati di saat pertama kali aku melihatnya. Aku melihatnya pertama kali saat pementasan drama sekolah di awal tahun ajaran 3 tahun yang lalu. Perannya menjadi Cinderella begitu memukau, yang langsung menjadikannya primadona sekolah di tahun pertamanya. Dan sekarang, primadona itu adalah kekasihku.
Aku bersyukur memiliki kekasih sebaik, secantik, dan sepengertian Momo. Dia adalah permata terindah dari segala permata indah yang ada di bumi. Aku akan terus menjaganya.
"Nah, kalau begitu ayo!" ucapku sambil menarik tangannya.
"Mmm.. kita mau ke mana Shirou chan?" tanya Momo sambil mengikuti langkahku.
"Kau ingin menghaiskan waktu denganku kan? Ayo kita naik kincir angin itu!" seruku sambil menunjuk Kincir Angin Cinta yang berada di hadapan kami.
"Baik," ucap Momo sambil tersenyum. Memandang senyumnya adalah anugerah bagiku.
Kami lalu naik Kincir Angin Cinta. Aku menggenggam erat tangan Momo. Pemandangan dari atas benar-benar memukau. Semuanya tampak menjadi kecil saat aku memandangnya dari sini. Aku melirik ke arah Momo, dia tampak senang saat ini. Hal ini membuatku bahagia. Karena melihatnya senang sungguh merupakan kebahagiaan tersendiri bagiku.
Momo lalu berdiri dan memandang langit.
"Wah! Dari atas sini langit terasa sangat dekat ya?" ucap Momo sambil merentangkan kedua tangannya.
"Iya, bahkan bumi jadi terasa jauh saat kita berada di atas seperti ini," balasku sambil menatap ke bawah. Tunggu? Siapa gadis itu? Mataku menangkap sesosok gadis, gadis yang tadi siang aku temui di sini, di perpustakaan, dan gadis itu kembali berada di sini. Dia dikelilingi anak-anak kecil berusia kira-kira 5-10 tahun. Sepertinya dia sedang membacakan sesuatu pada anak-anak itu. "Itu.." tanpa sadar aku menggumamkan hal itu.
"Mmm.. Shirou chan, kau sedang melihat apa?" tanya Momo sambil mengikuti arah pandangku.
"Mmm.. tidak, aku tidak melihat apa-apa," ucapku lalu mengalihkan pandanganku dan menatap langit. Maafkan aku, Momo. Aku hanya tidak ingin kau salah paham bila aku menceritakan tentang pertemuanku dengan Rukia.
"Kau melihat anak-anak kecil itu ya?" tanya Momo sambil tersenyum.
"Eh..," aku pun kembali melihat ke bawah. Tunggu, ke mana Rukia? Aku tidak melihatnya lagi. Aku hanya melihat anak-anak kecil tadi yang perlahan-lahan membubarkan diri.
"Kau suka anak-anak ya Shirou chan?" tanya Momo.
"Mmm.. tidak juga. Anak kecil kadang sangat merepotkan," ucapku jujur. Ya, apalagi bila mengingat Yachiru,keponakanku.
"Hehehe.. Shirou chan lucu," ucap Momo lalu tertawa kecil.
"Hei, sudah jangan menertawakanku," ucapku gusar.
Setelah naik Kincir Angin Cinta, Momo mengajakku pulang. Aku pun lalu mengantarnya pulang ke rumahnya. Di perjalanan, Momo tampak senang sekali saat naik kincir angin. Dia tak henti-hentinya bergumam bahwa di kencan selanjutnya, ia ingin naik kincir angin itu lagi.
"Shirou chan, aku suka sekali naik kincir angin itu!" seru Momo.
"Iya, lain kali kita naik lagi," ucapku.
"Benar ya?! Di kencan berikutnya, aku ingin naik itu lagi!" ucap Momo.
"Baik," ucapku.
"Hatchii..," Momo bersin. Sepertinya angin malam ini terlalu dingin untuknya. Aku lalu membuka jaketku dan memakaikannya pada Momo.
"Ini, pakai jaketku," ucapku sambil memakaikannya pada Momo.
"Mmm.. terima kasih ya Shirou chan," ucap Momo sambil tersenyum.
"Mmm.. iya, sama-sama. Aku tidak ingin kau sakit," ucapku sambil tersenyum padanya. Hanya Momo lah yang sanggup membuatku tersenyum. Tunggu, bukankah tadi siang pun aku tersenyum karena Rukia? Arghhh.. sial! Kenapa aku terus memikirkan Rukia!?
Akhirnya kami sampai di depan rumah Momo. Momo lalu menghentikan langkahnya.
"Shirou chan.." ucap Momo sambil menghentikan langkahnya.
"Ya?"
"Tadi kau ke perpustakaan dengan siapa?" tanya Momo. Kenapa, kenapa Momo bertanya seperti ini?
"Sendiri," dustaku. Maaf Momo, aku hanya tidak ingin kau salah paham.
"Kau tidak akan pernah mengkhianatiku kan?" tanya Momo. Deg! Kenapa Momo bertanya seperti itu?
"Mmm.. tentu saja aku tidak akan mengkhianatimu. Kenapa kau bertanya seperti itu?" tanyaku. Entah kenapa aku menjadi merasa bersalah saat mengucapkan hal itu.
"Tidak, aku hanya ingin mendengar ucapanmu," ucap Momo.
"Tenanglah, aku akan menjaga hatiku hanya untukmu," ucapku. Walaupun entah kenapa hatiku sesaat ragu mengucapkan hal itu.
"Terima kasih, Shirou chan. Aku akan terus mengingat hal itu," ucap Momo sambil tersenyum. Momo lalu berbalik dan mulai memasuki rumahnya, "aku masuk Shirou chan, sampai jumpa di sekolah," ucap Momo.
"Ya!" ucapku lalu memandang Momo menghilang di balik pagar rumahnya. Aku sama sekali tidak tahu bahwa di balik pagar itu, Momo menangis. "Kenapa kau membohongiku, Shirou chan?"
To be continue
Akhirnya ay update juga.. Hehehe^^
Maaf ya, kalau ay malah apdet fic ini dulu. Soalnya lagi demen banget ama ...
Maaf kalau chap ini pendek, chap depan ay usahain lebih panjang..
Oiya, ada yang tau tidak, obat sakit perut yang ampuh ntu apa sih??
Ay dah beberapa hari ini sakit perut terus, napa ya?T.T
Kawand, kalian pernah ga ngerasa hidup ini ga adil?
Atau ngerasa sakit saat ngeliat orang yang kalian sayang terluka dan kita ga bisa ngelakuin apa-apa buat nolongin n ngeringanin beban dia??
Ay sedih kalo ingat hal itu. T.T
Hmm.. maaf, jadi gaje gini..
Special Thanks to
Tsuichi Yukiko
Zheone Quin
Haru Ai-Roku Byakuya Taicho
Hikaru Ryuuzuki
Yurisa-Shirany Kurosaki
Sora Chand
Namie Amalia
Yumemiru Reirin
Mii Saginomiya
Kodok Ngorek
Ninomiya Icha
Lacossu no ame2604
Rizu Auxe09
Hitsu
Zizi Kirahira Hibiki
Kikakikakika
Balasan ripiunya lewat PMs, ga papa kan?
Buat yg g login,
Mii Saginomiya.. Yapz.. ay juga HitsuRuki. Hehehe..^^ Arigatou ripiunya.
Hitsu.. Hoiii… senangnya!!*mata belekan, eh.. berbinar maksudnya*.. Makasih ya^^
Kikakikakika.. Neng, nyonya Grimm koi, ko g login?? Kumaha atuh uts na? Damang-damang wae nteu?? Mari kita lestarikan dodol Bandung!!*halahh~.. gaje* Makasih ya neng, ripiunya^^
Okelah kalo begitu, chap ini diripiu lagi ya..*puppy eyes*
Arigatou^^
