Hai semuanya… saya kembali! (saya Aleunaf -/-)
Terimakasih ya kritik-kritikny yang membangun! YEAH!
(aslinya saya malu sekali, tapi karena masih pemula jadi….saya…)
Hm, saya balas-balas dulu ya reviewnya
YEAH!
Maharu P Natsuzawa : Saya memang masih baru, hehe. Terimakasih ya saran-saranya! Saya jadi malu -/-. Nanti saya perbaiki, terimakasih banyak!
Fitria-AlyssCrimsonCamelia : Wah, ini memang baru pembukaannya hehe. Terimakasih ya sarannya. Kalau saya sukanya Shin&Diri saya! *ditabok* ^^. Tidak apa-apa kok kalau anda jadi guru saya, ya!
Chizuru Honsho : Hehe, terimakasih ya sarannya tentang angka 2. Saya memang kebiasaan nulis sama-sama jadi sama2 *anak pemalas*. Kesalahan yang lain (yang banyak banget) pasti saya perbaiki! Terimakasih banyak ya! ^^
undine-yaha : Wahai! Undine-san! Soal summary itu saya baru sadar malam-malam, haha! Berhubung internet di rumah saya lagi lemot banget jadi saya betulinya susah, maaf ya! -/-. Apdet santai = Siap! ^^. Terimakasih ya.
Kazeyana Fami : Wah, ShinxWaka juga ya? Saya sepertinya sudah baca punya anda, tapi yang mana ya? *diggampar* ^^. Batesan =Siiiiiaaap! Terimakasih banyak ya…
Kita mulai saja ya!
LineBacker Has a…
Chapter 1
When the Necklace is Returned
Disclaimer : Inagaki Riichiro and Murata Yuusuke
"Hiruma-kun, sepertinya dia marah.", Mamori terlihat khawatir.
"Tidak akan manager sialan! Justru dia akan memberikan kita cerita yang menarik. Kekeke... Suzuna! Manager sialan! Kalian terus awasi gerak-gerik Riku! Dan juga...Shin"
"HEEE?"
"Kenapa aku dan Suzuna sampai harus mengawasi Shin segala?", Mamori bertanya dengan wajah yang panik.
"Sudah! Tidak usah membantah! Lakukan saja perintahku! Cepat berangkat!"
Suzuna tidak terima dengan perintah Hiruma yang belum tentu menguntungkan mereka berdua, "Huh! Dasar raja setan! BWEEEK!"
"Sudahlah Suzuna, daripada kita mendapatkan masalah yang lebih besar lebih baik kita laksanakan saja perintahnya.", Mamori berusaha menenangkan.
"Huh! Baiklah!"
(***)
Riku menyusuri jalan dengan sepedanya sambil merenung, tiba-tiba dia melihat seseorang berlari menggunakan jaket biru. Orang itu juga mengenakan sarung tangan.
Rikupun menyadari kalau itu adalah pria yang ia pakaikan kalung kemarin, karena dia belum tau siapa namanya iapun bertanya, "Hai! Kau kan yang kemarin, kita belum saling kenal. Namaku Riku Asakura, namamu?"
"Shin"
Riku tersenyum mendengar jawaban Shin yang dingin. Riku semakin tersenyum ketika ia menyadari Shin masih memakai kalung yang diberikannya.
"Aku senang sekali...kau masih memakainya...Shin."
"Mmm.. terimakasih kalungnya, cukup bagus. Aku tidak suka membuang-buang pemberian orang, jadi tetap kupakai."
Riku kembali tersenyum dan berkata, "Kau orang yang sangat baik, Shin. Kau berbeda dari 4 orang lain yang...ups!", Riku langsung menutup mulutnya.
"4 orang?", Shin agak penasaran dengan 4 orang yang disebutkan Riku.
"Ah, tidak usah dipikirkan.."
(***)
"APA? Ternyata selama ini Riku berteman dengan Shin?", Mamori berteriak tidak percaya.
"Shh...Mamo-nee, jangan keras-keras nanti kita ketahuan."
"Huft..baik Suzuna, maafkan aku."
SREK SREK SREK
Mamori dan Suzuna yang mengintai di depan sebuah toko tiba-tiba didatangi oleh Sena, "Ano...Mamori-neechan, Suzuna apa yang sedang kalian lakukan disini?"
"Kami sedang mengawasi Riku dan Shin. Tadi kan sudah diberitahukan oleh Hiruma.", jawab Mamori.
"I-i-i iya sih, tapi kenapa kalian sampai harus mengenakan pakaian tentara dan juga menggunakan semak-semak untuk menutupi tubuh kalian? Bukankah itu justru sangat mencolok?"
"Benar juga sih...kalau begitu kami berdua pergi dulu deh..", Suzuna berusaha menghindari Riku dan Shin yang nyaris melihat.
Tapi, semua usaha pelarian Mamori dan Suzuna sudah terlambat... =.="
"...Siapa itu Asakura-san?", tanya Shin yang mukanya sudah kebingungan.
"Um...eh, i..itu sepertinya Mamori, dia sekelas denganku. Tapi, yang dua orang lagi aku tidak mengenalnya. Hm, mereka sedang apa ya? Ah, sudahlah tidak usah dipikirkan. Aku akan pulang, kau akan kemana Shin?"
"Aku akan berlari."
"Waow! Kau pasti sangat sehat ya! Kalau begitu sampai jumpa!"
Shin hanya terdiam dan kembali melanjutkan latihan larinya.
(***)
Akhirnya Riku sampai di rumahnya, tetapi ia merasakan ada kejanggalan di bagian pagar rumahnya, ia tidak pernah memasang semak-semak di pagar rumahnya, tetapi sekarang tiba-tiba muncul dua semak-semak yang bergoyang.
"Aneh...", pikir Riku.
Tiba-tiba...
"YA!"
"HA~" =.="
"Mamori-san! Dan um... temannya...Sedang apa kalian disini?", Riku tentu saja kaget dengan kehadiran Mamori dan Suzuna.
"Kami ingin menanyakan sesuatu kepadamu, Riku Asakura!", Suzuna dengan semangat melontarkan kata-kata itu.
"Silahkan..tapi maaf, namamu siapa ya?"
"Namaku Suzuna dan ini Mamo-nee", Suzuna semakin semangat berkata-kata.
"Suzuna, dia sudah tau namaku. Kami sekelas.", Mamori memberitahu Suzuna.
"Um... jadi kalian mau bertanya tentang apa?"
CREK CREK
Suzuna mengarahkan senapan kepada Riku dan mulai bertanya, "Apa hubunganmu dengan LineBacker Ojo, Shin Seijuro?"
"Shin? Oh, aku dan dia baru kenal tadi. Memangnya kenapa?"
"Um... begini Riku... kami..."
SET!
Belum selesai Mamori berbicara Suzuna sudah menariknya pergi dari rumah Riku. Riku hanya memperhatikan mereka berdua yang semakin menjauh dengan tatapan bingung, setelah itu dia masuk ke dalam rumahnya.
-Keesokan harinya...masih di ruang Klub Amefuto-
Tok Tok Tok, "Permisi! Hiruma-san! Mamori-san! Boleh aku masuk?".
*perhatian : dia tidak memanggil Kurita karena tidak dekat*
Mamori menyambut Riku dengan ramah, "Silahkan Riku! Masuk saja!".
"Ada perlu apa cewek berotot?", Hiruma menyambut Riku dengan sebutan barunya yang membuat Riku kesal.
"Hei! Apa-apaan nama itu?"
"Maafkan dia ya Riku, dia memang suka menghina orang", Mamori berusaha menjelaskan.
"Baiklah..aku ingin kau menunjukan kepadaku dimana sekolah Shin berada Hiruma-san"
Semua yang ada di ruang klub Amefuto itu langsung kaget.
"Kekeke... sudah kuduga, kau pasti akan menanyakannya cewek berotot! Ini! Jalan menuju sekolah Shin ada di kertas ini, semuanya lengkap, jadi kau tidak perlu bertanya-tanya lagi kepada orang-orang sekitar.."
"Baiklah, terimakasih Hiruma-san."
Riku pergi tanpa pamit dan langsung meluncur dengan sepedanya. Semua yang ada di ruangan itu masih bengong dan tidak percaya dengan apa yang dikatakan Riku. Mereka sangat penasaran tentang hubungan Riku dengan Shin. Apakah mereka...kita lihat saja nanti ^^
(***)
Riku terus melajukan sepedanya sambil sesekali melihat ke kertas yang diberikan Hiruma. Akhirnya, Rikupun menemukan sebuah bangunan besar yang cukup mengerikan, ditambah lagi dia menemukan bangunan itu pada malam hari. Di kertas yang diberikan Hiruma terdapat gambar bangunan besar yang seram dengan petir diatasnya. Rikupun langsung yakin kalau bangunan mengerikan yang ditemukannya malam itu adalah sekolahnya Shin, iapun memberanikan diri masuk kedalam sekolah itu. Lalu ia menemukan sebuah ruangan yang lampunya masih menyala dan banyak orang di dalamnya, ia mencoba masuk ke ruangan itu.
Riku langsung membuka pintu ruangan itu tanpa basa basi, "Permisi...apakah Shin ada disini?"
Ternyata di ruangan itu Shin sedang latihan dengan barbelnya. Dia terdiam sebentar, memakai bajunya, lalu keluar bersama Riku.
Anggota tim Amefuto yang lain masih bingung dengan kehadiran seorang perempuan dari sekolah Deimon. Mereka semuapun mempunyai jalan pikiran yang sama…
Mengintip
(***)
"Ada apa Asakura-san?"
"Um…aku hanya ingin menceritakan kepadamu tentang 4 orang yang sempat kusebutkan kemarin."
Hening~~~
"Jadi begini Shin, 4 orang itu adalah pria yang pernah kupakaikan kalung salib yang sekarang kau pakai. Mereka semua langsung senang ketika kupakaikan kalung salib itu, tapi, tidak sampai sehari mereka semua sudah melepasnya. Hanya kau yang tidak melepaskan kalung itu sampai sekarang Shin."
Hening...
"Kau tau...kau berbeda dari 4 orang itu..dan kurasa...aku...mencintaimu. Aku bukan hanya sekedar suka padamu karena kau baik mau menolong adikku. Tapi, aku benar-benar mencintaimu...Shin."
Shin sangat kaget. Dia terdiam sesaat, lalu ia melepas kalung salib yang dipakainya. Ia memegang tangan Riku, dan meletakan kalung itu di tangan Riku yang terbuka.
Mata Riku megarah kepada kalung itu, dia tidak percaya dengan apa yang terjadi.
"Terimakasih karena sudah mencintaiku, tapi aku tidak bisa...aku menyukai wanita mungil yang ada di Timku, Wakana..."
Riku semakin tidak percaya dengan apa yang dikatakan Shin, "Siapa itu Wakana?"
"Dia adalah manager Timku, aku sudah menyukainya dari dulu"
Semua anggota tim yang mengintip termasuk Wakana langsung kaget mendengar ucapan Shin yang begitu serius. Wajah Wakana memerah, ia tidak menyangka karena selama ini Shin menyukainya.
"Shin...", Riku masih tidak percaya.
Angin yang berhembus kencang membuat rambut Riku yang agak ikal menutupi wajahnya, perlahan air mata mengalir ke pipinya. Shin mengarah pergi untuk kembali ke ruang latihannya, tapi...
"Shin!", Riku memanggil.
(***)
Fyuh...
Sekian dulu ya...
Bagaimana menarik tidak? Hehhe.. kalau masih banyak kesalahan silakan kritiknya! Terimakasih!
Yang sudah review terimakasih banyak ya! Saya terharu *lebai* ^^
Saran juga boleh lho…
